Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

RESIKO PERILAKU KEKERASAN


DI RUMAH SAKIT JIWA
Dr. RADJIMAN WEDIODININGRAT LAWANG

OLEH :
Nama : Tri Agung Wicaksono
NIM : 2016.04.114

PROGRAM STUDY NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BANYUWANGI
BANYUWANGI
TAHUN 2017
LEMBAR PENGESAHAN

Tugas ini telah disetujui pada : .

Mahasiswa

(Tri Agung Wicaksono)

Pembimbing Institusi Pembimbing Klinik

(.) (.)
1. Masalah Utama
Perilaku Kekerasan

2. Proses Terjadinya Masalah


a. Pengertian
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan
tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain
maupun lingkungan. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal
atau marah yang tidak konstruktif. Pengungkapkan kemarahan secara tidak langsung
dan konstrukstif pada waktu terjadi akan melegakan individu dan membantu orang
lain untuk mengerti perasaan yang sebenarnya. Kemarahan yang ditekan atau pura-
pura tidak marah akan mempersulit diri sendiri dan mengganggu hubungan
interpersonal. Sedangkan menurut Carpenito 2000, Perilaku kekerasan adalah
keadaan dimana individu-individu beresiko menimbulkan bahaya langsung pada
dirinya sendiri ataupun orang lain.
Individu melakukan kekerasan akibat adanya frustasi yang dirasakan sebagai
pemicu dan individu tidak mampu berpikir serta mengungkapkan secara verbal
sehingga mendemostrasikan pemecahan masalah dengan cara yang tidak adekuat
Sedangkan menurut Keliat (2005), perilaku kekerasan adalah perasaan marah dan
bermusuhan yang kuat disertai dengan hilangnya kontrol diri atau kendali diri.
b. Tanda dan gejala :
a) Muka merah dan tegang
b) Pandangan tajam
c) Mengatupkan rahang dengan kuat
d) Mengepalkan tangan
e) Jalan mondar-mandir
f) Bicara kasar
g) Suara tinggi, menjerit atau berteriak
h) Mengancam secara verbal atau fisik
i) Melempar atau memukul benda atua orang lain
j) Merusak barang atau benda
k) Tidak memiliki kemampuan mencegah atau mengendalikan oerilaku kekerasan

c. Rentang respon
d. Faktor Predisposisi dan Presipitasi
1) Faktor Predisposisi
Menurut Townsend (2006) terdapat beberapa teori yang dapat menjelaskan
tentang faktor predisposisi perilaku kekerasan, diantaranya adalah sebagai
berikut.
a) Teori Biologik
Berdasarkan teori biologik, ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi
seseorang melakukan perilaku kekerasan, yaitu sebagai berikut.
Pengaruh Neurofisiologik, beragam komponen neurologis mempunyai
implikasi dalam memfasilitasi dan menghambat impuls agresif. Sistem
limbik sengat terlibat dalam menstimulasi timbulnya perilaku bermusuhan
dan respon agresif.
Pengaruh Biokimia, menurut Goldsten dalam Townsend (2006)
menyatakan bahwa berbagai neurotransmiter (epinefrin, norepinefrin,
dopamin, asetilkolin dan serotonin) sangat berperan dalam memfasilitasi
dan menghambat impuls agresif. Peningkatan hormon androgen dan
norepinefrin serta penurunan serotinin danGABA (6 dan 7) pada cairan
serebrospinal merupakan faktor predisposisi penting yang dapat
menyebabkan timbulnya perilaku agresif pada seseorang.
Pengaruh Genetik, menurut penelitian perilaku agresif sangat erat
kaitannya dengan genetik termasuk genetik tipe kariotipe XYY, yang
umumnya dimiliki oleh penghuni penjara pelaku tindak kriminal
(narapidana).
Gangguan Otak, sindrom otak organik berhubungan dengan bernagai
gangguan serebral, tumor otak (khususnya pada limbik dan lobus
temporal), trauma otak, penyakit ensefalitis, epilepsi (epilepsi lobus
temporal) terbukti berpengaruh terhadap perilaku agresif dan tindak
kekerasan.
b) Teori Psikologik
Teori Psikoanalitik, teori ini menjelaskan bahwa tidak terpenuhinya
kepuasan dan rasa aman dapat mengakibatkan tidak berkembangnya ego
dan membuat konsep diri yang rendah. Agresi dan kekerasan dapat
memberikan kekuatan dan prestise yang dapat meningkatkan citra diri
serta memberikan arti dalam kehidupannya. Teori lainnya berasumsi
bahwa perilaku agresif dan tindak kekerasan merupakan pengeungkapan
secara terbuka terhadap rasa ketidakberdayaannya dan rendahnya harga
diri pelaku tindak kekerasan.

Teori Pembelajaran, perilaku kekerasan merupakan perilaku yang


dipelajari, individu yang memiliki pengaruh biologik terhadap perilaku
kekerasan lebih cenderung untuk dipengaruhi oleh contoh peran eksternal
dibandingkan anak-anak tanpa faktor predisposisi biologik.
c) Teori Sosiokultural
Kontrol masyarakat yang rendah dan kecenderungan menerima perilaku
kekerasan sebagai cara penyelesaian masalah dalam masyarakat merupakan
faktor predisposisi terjadinya perilaku kekerasan.

2) Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi dapat dibedakan menjadi faktor eksternal dan internal.
a) Internal adalah semua faktor yang dapat menimbulkan kelemahan,
menurunnya percaya diri, rasa takut sakit, hilang kontrol dan lain-lain.
b) Eksternal adalah penganiayaan fisik, kehilangan orang yng dicintai, krisis
dan lain-lain.
Menurut Shives (2008) hal-hal yang dapat menimbulkan perilaku
kekerasan atau penganiayaan antara lain sebagai berikut :
a) Kesulitan kondisi sosial ekonomi.
b) Kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuatu.
c) Ketidaksiapan seorang ibu dalam merawat anaknya dan ketidakmampuannya
dalam menempatkan diri sebagai orang yang dewasa.
d) Pelaku mungkin mempunyai riwayat antisosial seperti penyalahgunaan obat
dan alkohol serta tidak mampu mengontrol emosi pada saat menhadapi rasa
frustasi.
e) Kematian anggota keluarga yang terpenting, kehilangan pekerjaan perubahan
tahap perkembangan keluarga.

e. Akibat
Klien dengan perilaku kekerasan dapat melakukan tindakan-tindakan
berbahaya bagi dirinya, orang lain maupun lingkungannya, seperti menyerang orang
lain, memecahkan perabot, membakar rumah dll. Sehingga klien dengan perilaku
kekerasan beresiko untuk mencederai diri orang lain dan lingkungan.

f. Mekanisme Koping
Perawat perlu mengidentifikasi mekanisme koping klien, sehingga dapat
membantu klien untuk mengembangkan mekanisme koping yang kontruktif dalam
mengekspresikan kemarahannya. Mekanisme koping yang umum digunakan adalah
mekanisme pertahanan ego seperti displacement, sublimasi, proyeksi, represif, denial
dan reaksi formasi.
Perilaku kekerasan biasanya diawali dengan situasi berduka yang
berkepanjangan dari seseorang karena ditinggal oleh orang yang dianggap sangat
berpengaruh dalam hidupnya. Bila kondisi tersebut tidak teratasi, maka dapat
menyebabkan seseorang rendah diri (harga diri rendah), sehingga sulit untuk bergaul
dengan orang lain. Bila ketidakmampuan bergaul dengan orang lain ini tidak diatasi
akan memunculkan halusinasi berupa suara-suara atau bayangan yang meminta klien
untuk melakukan tindak kekerasan. Hal tersebut akan berdampak pada keselamatan
dirinya dan orang lain (resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungaN.
Selain diakibatkan berduka yang berkepanjangan, dukungan keluarga yang
kurang baik dalam menghadapi kondisi klien dapat mempengaruhi perkembangan
klien (koping keluarga tidak efektif). Hal ini tentunya menyebabkan klien sering
keluar masuk RS atau menimbulkan kekambuhan karena dukungan keluarga tidak
maksimal (regimen terapeutik inefektif).

3. Pohon Masalah

Resiko menciderai diri sendiri, orang lain


dan lingkungan

Perilaku kekerasan

Gangguan Konsep diri Harga Diri Rendah

4. Masalah Keperawatan yang mungkin muncul


a. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan
b. Perilaku kekerasan / amuk
c. Gangguan Harga Diri : Harga Diri Rendah
d. Koping Individu Tidak Efektif

5. Data yang Perlu Dikaji


a. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan
Data Subyektif :
- Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang.
- Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang
kesal atau marah.
- Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya.
Data Objektif :
- Mata merah, wajah agak merah.
- Nada suara tinggi dan keras, bicara menguasai: berteriak, menjerit, memukul diri
sendiri/orang lain.
- Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam.
- Merusak dan melempar barang-barang.
b. Perilaku kekerasan / amuk
Data Subyektif :
- Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang.
- Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang
kesal atau marah.
- Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya.
Data Obyektif ;
- Mata merah, wajah agak merah.
- Nada suara tinggi dan keras, bicara menguasai.
- Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam.
- Merusak dan melempar barang-barang.
c. Gangguan harga diri : harga diri rendah
Data subyektif:
- Klien mengatakan: saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh,
mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri.
Data obyektif:
- Klien tampak lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan,
ingin mencederai diri / ingin mengakhiri hidup.

6. Diagnosa Keperawatan
1) Resiko Perilaku kekerasan
2) Gangguan konsep diri : harga diri rendah

7. Rencana Tindakan Keperawatan


Diagnosa 1 : Resiko Perilaku Kekerasan
TujuanUmum :
Klien terhindar dari mencederai diri, orang lain dan lingkungan.
Tujuan Khusus :
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya.
Tindakan:
1.1. Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, empati, sebut nama perawat
dan jelaskan tujuan interaksi.
1.2. Panggil klien dengan nama panggilan yang disukai.
1.3. Bicara dengan sikap tenang, rileks dan tidak menantang.
2. Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan.
Tindakan:
2.1. Beri kesempatan mengungkapkan perasaan.
2.2. Bantu klien mengungkapkan perasaan jengkel / kesal.
2.3. Dengarkan ungkapan rasa marah dan perasaan bermusuhan klien dengan sikap
tenang.
3. Klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan.
Tindakan :
4.1. Anjurkan klien mengungkapkan yang dialami dan dirasakan saat
jengkel/kesal.
4.2. Observasi tanda perilaku kekerasan.
4.3. Simpulkan bersama klien tanda-tanda jengkel / kesal yang dialami klien.
4. Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
Tindakan:
4.1. Anjurkan mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
4.2. Bantu bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
4.3. Tanyakan "apakah dengan cara yang dilakukan masalahnya selesai?"
5. Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.
Tindakan:
5.1. Bicarakan akibat/kerugian dari cara yang dilakukan.
5.2. Bersama klien menyimpulkan akibat dari cara yang digunakan.
5.3. Tanyakan apakah ingin mempelajari cara baru yang sehat.
6. Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam berespon terhadap kemarahan.
Tindakan :
6.1. Beri pujian jika mengetahui cara lain yang sehat.
6.2. Diskusikan cara lain yang sehat.Secara fisik : tarik nafas dalam jika sedang
kesal, berolah raga, memukul bantal / kasur.
6.3. Secara verbal : katakan bahwa anda sedang marah atau kesal / tersinggung
6.4. Secara spiritual : berdoa, sembahyang, memohon kepada Tuhan untuk diberi
kesabaran.
7. Klien dapat mengidentifikasi cara mengontrol perilaku kekerasan.
Tindakan:
7.1. Bantu memilih cara yang paling tepat.
7.2. Bantu mengidentifikasi manfaat cara yang telah dipilih.
7.3. Bantu mensimulasikan cara yang telah dipilih.
7.4. Beri reinforcement positif atas keberhasilan yang dicapai dalam simulasi.
7.5. Anjurkan menggunakan cara yang telah dipilih saat jengkel / marah.
8. Klien mendapat dukungan dari keluarga.
Tindakan :
8.1. Beri pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien melalui pertemuan
keluarga.
8.2. Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga.
9. Klien dapat menggunakan obat dengan benar (sesuai program).
Tindakan:
9.1. Diskusikan dengan klien tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan efek
samping).
9.2. Bantu klien mengunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama klien, obat, dosis,
cara dan waktu).
9.3. Anjurkan untuk membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan.
Diagnosa II : Gangguan konsep diri: harga diri rendah
Tujuan Umum :
Klien tidak melakukan kekerasan
Tujuan Khusus :
1. Klien dapat membina hubungan saling
percaya.
Tindakan:
1.4. Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, empati, sebut nama perawat
dan jelaskan tujuan interaksi.
1.5. Panggil klien dengan nama panggilan yang disukai.
1.6. Bicara dengan sikap tenang, rileks dan tidak menantang.
2. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan
aspek positif yang dimiliki.
Tindakan:
2.1 Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
2.2 Hindari penilaian negatif detiap pertemuan klien
2.3 Utamakan pemberian pujian yang realitas
3. Klien mampu menilai kemampuan yang dapat
digunakan untuk diri sendiri dan keluarga
Tindakan:
3.1 Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
3.2 Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah
4. Klien dapat merencanakan kegiatan yang
bermanfaat sesuai kemampuan yang dimiliki
Tindakan :
4.1. Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai
kemampuan.
4.2. Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang klien lakukan.
4.3. Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien
5. Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi
dan kemampuan
Tindakan :
5.1. Beri klien kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan
5.2. Beri pujian atas keberhasilan klien
5.3. Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah
6. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung
yang ada
Tindakan :
6.1 Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien
6.2 Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat
6.3 Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah
6.4 Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga
Diagnosa III : Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
Tujuan umum :
- Pasien tidak mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
Tujuan khusus :
1. Pasien mendapatkan perlindungan dari lingkungannya
2. Pasien mampu mengungkapkan perasaannya
3. Pasien mampu meningkatkan harga dirinya
4. Pasien mampu menggunakan cara penyelesaiaan masalah yang baik
Tindakan :
1. Mendikusikan cara mengatasi keinginan mencederai diri sendiri, orang laain dan
lingkungan
2. Meningkatkan harga diri pasien dengan cara :
a. Memberikan kesempatan pasien mengungkapkan perasaannya
b. Memberikan pujian jika pasien dapat mengatakan perasaan yang positif
c. Meyakinkan pasien bahawa dirinya penting
d. Mendiskusikan tentang keadaan yang sepatutnya disyukuri oleh pasien
e. Merencanakan yang dapat pasien lakukan
3. Tingkatkan kemampuan menyelesaikan masalah dengan cara :
a. Mendiskusikan dengan pasien cara menyelesaikan masalahnya
b. Mendiskusikan dengan pasien efektfitas masing-masing cara penyelesian
masalah
c. Mendiskusikan dengan pasien cara menyelesaikan masalah yang lebih
baik
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L.J. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta: EGC
Keliat Budi Ana, Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Edisi I, Jakarta : EGC, 1999
Stuart GW, Sundeen. 1998.Principles and Practice of Psykiatric Nursing (5 th ed.). St.Louis
Mosby Year Book
Tim Direktorat Keswa, Standar Asuhan Keperawatan Jiwa, Edisi 1, Bandung, RSJP Bandung,
2000
Townsend, M.C. 1998. Buku saku Diagnosa Keperawatan pada Keoerawatan Psikiatri, edisi 3.
Jakarta: EGC.

STRATEGI PELAKSANAAN (SP) TINDAKAN KEPERAWATAN


PERILAKU KEKERASAN

Pertemuan :I
Hari/tanggal :
Nama Klien : Tn. ..
Ruangan : .

A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
S : Klien mengatakan dirinya marah dan kesal bila ada orang melihat ke arahnya dan
berbisik-bisik di depannya
O : Klien tampak berapi-api saat berinteraksi dengan perawat, intonasi bicara keras.
2. Diagnosa Keperawatan : Perilaku Kekerasan
3. Tujuan Keperawatan :
1). Membina hubungan saling percaya
2). Mengidentifikasi penyebab marah
4. Tindakan Keperawatan
- Bina hubungan saling percaya dengan teknik komunikasi terapeutik.
- SP 1 :
1) Identifikasi penyebab PK
2) Identifikasi tanda dan gejala PK
3) Identifikasi PK yang dilakukan
4) Identifikasi akibat PK
5) Ajarkan cara mengontrol PK
6) Bantu pasien mempraktekkan latihan cara mengontrol fisik I
7) Anjurkan pasien memasukkan dalam kegiatan harian

B. Strategi Komunikasi
1. Fase orientasi
a. Salam terapeutik :
Assalamu Alaikum, nama saya Bintang, saya mahasiswa Stikes Banyuwangi
yang akan merawat bapak selama seminggu mulai jam 7.30 s/d 14.00 setiap hari,
namanya siapa pak ?, senang dipanggil apa ?
b. Evaluasi/validasi :
Bagaimana perasaan bapak hari ini ? apa bapak sudah mandi ?

c. Kontrak
Topik : bagaimana kalau kita bincang-bincang tentang hal-hal yang
menyebabkan bapak marah
Tempat : mau dimana kita bercakap-cakap ? bagaimana kalau ruangan perawat ?
Waktu : Mau berapa lama pak ? bagaimana kalau 10 menit ?

2. Fase Kerja
1) Apakah ada yang membuat bapak kesal ?
2) Apakah sebelumnya bapak pernah marah ?
3) Apa yang menyebabkan bapak marah ? apakah sama dengan yang sekarang ?
4) Jika sedang marah apa yang bapak lakukan?
5) Apa yang bapak rasakan setelah bapak marah-marah? Apa yang terjadi setelah bapak
marah-marah?
6) Kali ini saya akan mengajarkan bapak cara mengontrol perilaku marah bapak, kita
mulai sekarang y pak?
7) Nahh itu tadi salah satu cara untuk mengontrol perilaku marah bapak, coba sekarang
bapak praktekkan.
8) Kita sudah belajar cara mengontrol perilaku marah bapak hari ini, sekarang mari kita
masukkan ke dalam jadwal kegiatan harian bapak.
3. Fase Terminasi
a. Evaluasi Subyektif
Bagaimana perasaan bapak setelah kita berbincang-bincang ?
b. Evaluasi Obyektif
Coba sebutkan 3 penyebab bapak marah-marah !
c. Rencana Tindak lanjut
Baiklah, waktu kita sudah habis, nanti bapak.coba lagi mengingat penyebab marah
yang belum kita bicarakan.
d. Kontrak
Topik : Nanti akan kita bicarakan perasaan bapak pada saat marah dan cara
marah yang biasa bapak lakukan.
Tempat : mau dimana kita diskusi ? bagaimana kalau di ruang tamu ? mau pak
ya?
Waktu : kira-kira 30 menit lagi dari sekarang, Ass. Alaikum Wr.Wb, Sampai
nanti.

STRATEGI PELAKSANAAN (SP) TINDAKAN KEPERAWATAN


PERILAKU KEKERASAN

Pertemuan : II
Hari/tanggal :
Nama Klien : Tn. ..
Ruangan : .

A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
S : Klien mengatakan dirinya masih marah dan kesal bila ada orang melihat ke arahnya
dan berbisik-bisik di depannya
O : Klien tampak berapi-api saat berinteraksi dengan perawat, intonasi bicara keras.
2. Diagnosa Keperawatan
Perilaku Kekerasan
3. TUK (Tujuan Khusus)
1) Mengevaluasi jadwal harian klien
2) Mengajarkan cara mengontrol marah dengan cara II
4. Tindakan Keperawatan
- Pertahankan hubungan saling percaya dengan klien
- SP II :
1) Evaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2) Latih pasien mengontrol PK dengan cara fisik II
3) Anjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

B. Strategi Komunikasi
1. Fase orientasi
a. Salam terapeutik : Assalamu Alaikum, Bapak baru bangun ya?
b. Evaluasi/validasi : Bagaimana perasaan bapak saat ini ? Apakah masih ada
penyebab kemarahan lain yang bapak bisa ingat ?
c. Kontrak
Topik :Baiklah kita akan mempelajari cara mengontrol marah
Tempat : mau dimana kita bercakap-cakap ? bagaimana kalau ruangan tamu?
Waktu : Mau berapa lama pak ? bagaimana kalau 15 menit ?
2. Fase Kerja
1) Bagaimana keadaan bapak hari ini? Apa bapak masih marah-marah?
2) Apakah cara mengontrol marah yang kita praktikkan bersama sudah bapak
terapkan ketika bapak marah?
3) Bagus bapak sudah menerapkan cara itu, bagaimana marah-marah bapak setelah
mempraktikkan cara itu?
4) Hari ini saya akan mengajarkan cara mengontrol marah yang lain pak, apa bapak
bersedia?
5) Mari kita mulai sekarang pak.
6) Bagaimana pak, apa bapak bersedia mempraktikkannya? Coba bapak praktikkan
sekarang.
7) Nahhh.. sekarang kita sudah mempunyai 2 cara untuk mengontrol marah bapak,
ayo kita praktekkan mulai dari cara yang pertama hingga yang ke 2
8) Bagaimana pak, bapak bersedia mempraktekkan kedua cara ini bila rasa marah
bapak muncul?
9) Baiklah mari kita masukkan ke dalam kegiatan harian bapak

3. Fase Terminasi
a. Evaluasi Subyektif : bagaimana perasaan bapak setelah kita berbincang-
bincang ?
b. Evaluasi Obyektif : Apa saja tadi yang telah kita bicarakan ? Benar, perasaan saat
marah, apa saja tadi ? ya betul, lagi..lagi.oke.
c. Rencana Tindak lanjut :
Baiklah, sudah banyak yang telah kita bicarakan, nanti coba diingat-ingat lagi
perasaan bapak sewaktu marah, dan cara bapak bila marah serta akibat yang terjadi.
Coba Praktikkan kedua cara yang telah kita pelajari jika rasa marah bapak
muncul.
d. Kontrak
Waktu : Besok kita ketemu lagi, jam 09.00, bagaimana pak ?
Tempat : Bagaimana kalau disini lagi?
Topik : Besok kita latihan cara marah yang baik dan sehat yang lainnya, sampai
besok.

STRATEGI PELAKSANAAN (SP) TINDAKAN KEPERAWATAN


PERILAKU KEKERASAN

Pertemuan : III
Hari/tanggal :
Nama Klien : Tn. ..
Ruangan : .

A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
S : Klien mengatakan dirinya masih marah dan kesal bila ada orang melihat ke arahnya
dan berbisik-bisik di depannya
O : Klien tampak berapi-api saat berinteraksi dengan perawat, intonasi bicara keras.
2. Diagnosa Keperawatan
Perilaku Kekerasan
3. TUK (Tujuan Khusus)
1) Mengevaluasi jadwal harian klien
2) Mengajarkan cara mengontrol perilaku kekerasan dengan cara verbal
4. Tindakan Keperawatan
- Pertahankan hubungan saling percaya dengan klien
- SP III :
1) Evaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2) Latih pasien mengontrol PK dengan cara verbal
3) Anjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

B. Strategi Komunikasi
1. Fase orientasi
a. Salam terapeutik : Assalamu Alaikum, Bapak kita bertemu lagi kali ini.
b. Evaluasi/validasi : Bagaimana perasaan bapak saat ini ?
c. Kontrak
Topik :Hari ini kita akan mempelajari cara mengontrol marah dengan cara
verbal.
Tempat : Sesuai perjanjian kemarin, kita bercakap-kap di tempat yang sama
seperti kemarin y pak.
Waktu : Mau berapa lama pak ? bagaimana kalau 15 menit ?

4. Fase Kerja
1) Bagaimana keadaan bapak hari ini? Apa bapak sudah bixa mengontrol marah
bapak?
2) Apakah kedua cara mengontrol marah yang kita praktikkan bersama sudah bapak
terapkan ketika bapak marah?
3) Bagus bapak sudah menerapkan cara itu, bagaimana marah-marah bapak setelah
mempraktikkan cara itu?
4) Cara mana yang lebih sering bapak praktikkan?
5) Hari ini saya akan mengajarkan cara mengontrol marah yang lain pak, apa bapak
bersedia?
6) Mari kita mulai sekarang pak.
7) Bagaimana pak, mudahkan caranya?apa bapak bersedia mempraktikkannya? Coba
bapak praktikkan sekarang.
8) Nahhh.. sekarang kita sudah mempunyai 3 cara untuk mengontrol marah bapak, ayo
kita praktekkan mulai dari cara yang pertama hingga yang ke 3
9) Bagaimana pak, bapak bersedia mempraktekkan ketiga cara ini bila rasa marah
bapak muncul?
10) Baiklah mari kita masukkan ke dalam kegiatan harian bapak

5. Fase Terminasi
a. Evaluasi Subyektif : bagaimana perasaan bapak setelah kita berbincang-
bincang ?
b. Evaluasi Obyektif : Apa saja tadi yang telah kita bicarakan ? Coba bapak sebutkan
cara mengontrol marah yang sudah kita pelajari.
c. Rencana Tindak lanjut :
Baiklah, sudah banyak yang telah kita bicarakan.Coba Praktikkan ketiga cara yang
telah kita pelajari jika rasa marah bapak muncul.
d. Kontrak
Waktu : Besok kita ketemu lagi, jam 10.00, bagaimana pak ?
Tempat : Bagaimana kalau diteras depan?
Topik : Besok kita latihan cara yang lainnya lagi, sampai besok.

STRATEGI PELAKSANAAN (SP) TINDAKAN KEPERAWATAN


PERILAKU KEKERASAN

Pertemuan : IV
Hari/tanggal :
Nama Klien : Tn. ..
Ruangan : .

A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
S : Klien mengatakan dirinya masih marah dan kesal bila ada orang melihat ke arahnya
dan berbisik-bisik di depannya
O : Klien tampak berapi-api saat berinteraksi dengan perawat, intonasi bicara keras.
2. Diagnosa Keperawatan
Perilaku Kekerasan
3. TUK (Tujuan Khusus)
1) Mengevaluasi jadwal harian klien
2) Mengajarkan cara mengontrol perilaku kekerasan dengan cara spiritual
4. Tindakan Keperawatan
- Pertahankan hubungan saling percaya dengan klien
- SP IV :
1) Evaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2) Latih pasien mengontrol PK dengan cara spiritual
3) Anjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

B. Strategi Komunikasi
1. Fase orientasi
d. Salam terapeutik : Assalamu Alaikum, Bapak terlihat lebih segar hari ini.
e. Evaluasi/validasi : Bagaimana perasaan bapak saat ini ?
f. Kontrak
Topik :Kali ini kita akan mempelajari lagi cara memngontrol marah bapak
tetapi dengan cara yang berbeda dari sebelumnya
Tempat : Sesuai perjanjian kemarin, kita bercakap-kap di teras depan ya pak.
Waktu : Mau berapa lama pak ? bagaimana kalau 15 menit ?

2. Fase Kerja
1) Bagaimana keadaan bapak hari ini? Apa bapak sudah bisa mengontrol marah
bapak?
2) Apakah ketiga cara mengontrol marah yang kita praktikkan bersama sudah bapak
terapkan ketika bapak marah?
3) Bagus bapak sudah menerapkan cara itu, bagaimana marah-marah bapak setelah
mempraktikkan cara itu?
4) Cara mana yang lebih efektif mengontrol rasa marah bapak?
5) Hari ini saya akan mengajarkan cara mengontrol marah dengan cara spiritual pak,
apa bapak bersedia?
6) Mari kita mulai sekarang pak.
7) Agama bapak apa? Islam ya? Apakah bapak sering sholat? Jika rasa marah bapak
datang coba bapak mengucap Astagfirullahhaladzim kemudian bapak bergegas ke
kamar mandi untuk berwudhu.
8) Bagaimana pak, mudahkan caranya?apa bapak bersedia mempraktikkannya?
9) Nahhh.. sekarang kita sudah mempunyai 4 cara untuk mengontrol marah bapak, ayo
kita praktekkan mulai dari cara yang pertama hingga yang ke 3
10) Bagaimana pak, bapak bersedia mempraktekkan ketiga cara ini bila rasa marah
bapak muncul?
11) Baiklah mari kita masukkan ke dalam kegiatan harian bapak

3. Fase Terminasi
a. Evaluasi Subyektif : bagaimana perasaan bapak setelah kita berbincang-
bincang ?
b. Evaluasi Obyektif : Apa saja tadi yang telah kita bicarakan ? Coba bapak sebutkan
cara mengontrol marah yang sudah kita pelajari.
c. Rencana Tindak lanjut :
i. Baiklah, sudah banyak yang telah kita bicarakan.Coba Praktikkan keempat cara
yang telah kita pelajari jika rasa marah bapak muncul.
d. Kontrak
Waktu : Besok kita ketemu lagi, jam 9, bagaimana pak ?
Tempat : Bagaimana kalau disini lagi?
Topik : Besok kita latihan cara yang lainnya lagi, sampai besok.

STRATEGI PELAKSANAAN (SP) TINDAKAN KEPERAWATAN


PERILAKU KEKERASAN

Pertemuan :V
Hari/tanggal :
Nama Klien : Tn. ..
Ruangan : .

A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
S : Klien mengatakan dirinya masih marah dan kesal bila ada orang melihat ke arahnya
dan berbisik-bisik di depannya
O : Klien tampak berapi-api saat berinteraksi dengan perawat, intonasi bicara keras.
2. Diagnosa Keperawatan
Perilaku Kekerasan
3. TUK (Tujuan Khusus)
1) Mengevaluasi jadwal harian klien
2) Mengajarkan cara mengontrol perilaku kekerasan dengan minum obat
4. Tindakan Keperawatan
- Pertahankan hubungan saling percaya dengan klien
- SP IV :
1) Evaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2) Latih pasien mengontrol PK dengan cara spiritual
3) Anjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian

B. Strategi Komunikasi
1. Fase orientasi
a. Salam terapeutik : Selamat pagi pak.
b. Evaluasi/validasi : Bagaimana perasaan bapak saat ini ?
c. Kontrak
Topik :Kali ini kita akan mempelajari lagi cara memngontrol marah bapak
tetapi dengan cara yang berbeda dari sebelumnya
Tempat : Sesuai perjanjian kemarin, kita bercakap-cakap di teras depan
ya pak.
Waktu : Mau berapa lama pak ? bagaimana kalau 15 menit ?

2. Fase Kerja
1) Bagaimana keadaan bapak hari ini? Apa bapak sudah bisa mengontrol marah
bapak?
2) Apakah keempat cara mengontrol marah yang kita praktikkan bersama sudah bapak
terapkan ketika bapak marah?
3) Bagus bapak sudah menerapkan cara itu, bagaimana marah-marah bapak setelah
mempraktikkan cara itu?
4) Cara mana yang lebih efektif mengontrol rasa marah bapak?
5) Hari ini saya akan mengajarkan cara mengontrol marah dengan minum obat, apa
bapak bersedia?
6) Mari kita mulai sekarang pak.
7) Bagaimana pak, mudahkan caranya?apa bapak bersedia mempraktikkannya?
8) Nahhh.. sekarang kita sudah mempunyai 4 cara untuk mengontrol marah bapak, ayo
kita praktekkan mulai dari cara yang pertama hingga yang ke 3
9) Bagaimana pak, bapak bersedia mempraktekkan klima cara ini bila rasa marah
bapak muncul?
10) Baiklah mari kita masukkan ke dalam kegiatan harian bapak
3. Fase Terminasi
a. Evaluasi Subyektif : bagaimana perasaan bapak setelah kita berbincang-bincang
?
b. Evaluasi Obyektif : Apa saja tadi yang telah kita bicarakan ? Coba bapak sebutkan
cara mengontrol marah yang sudah kita pelajari.
c. Rencana Tindak lanjut :
Baiklah, sudah banyak yang telah kita bicarakan. Coba Praktikkan kelima cara
yang telah kita pelajari jika rasa marah bapak muncul.
d. Kontrak
Waktu : Besok kita ketemu lagi, jam 10, bagaimana pak ?
Tempat : Bagaimana kalau di taman?
Topik : Besok kita latihan cara yang lainnya lagi, sampai besok.