Anda di halaman 1dari 8

ADLN PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

ANALISIS FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KUALITAS


HIDUP PENDERITA OSTEOARTHRITIS

THE ANALYSIS OF FACTORS RELATED WITH QUALITY OF LIFE PATIENTS WITH


OSTEOARTHRITIS

Lailatul Isnaini*, Ira Suarilah*, Herdina Mariyanti

*Program Studi Pendidikan Ners, Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga


Jl. Mulyorejo Surabaya, Kampus C UNAIR Surabaya Telp. 031 5913754
Email: lailatul.isnaini-2015@fkp.unair.ac.id

Pendahuluan: Osteoathritis (OA) merupakan penyakit sendi yang paling banyak ditemui. OA adalah
gangguan persendian kronis dan akan mengakibatkan kecacatan jika tidak diobati. Kecacatan dapat
berpengaruh pada aktivitas, sosial, spiritual, dan psikologis yang berdampak pada kualitas hidup.
Pengukuran kualitas hidup pada penderita OA merupakan suatu hal yang penting untuk mengetahui hasil
dari pengobatan. Tujuan penelitian mengetahui faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup penderita
OA di Wilayah Kerja Puskesmas Kalijudan Surabaya. Metode: Penelitian ini menggunakan desain
deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Besar sampel sebanyak 46 responden. Variabel
independen adalah berat derajat penyakit, stres, usia, dan jenis kelamin, variabel dependen adalah kualitas
hidup penderita OA. Instrumen menggunakan kuesioner Arthritis Impact Measurement Scales 2 (AIMS2
SF), Perceived Stress Scale (PSS), dan Tegner Lysholm Knee Scoring Scale. Analisis data penelitian ini
menggunakan Spearmans rho. Hasil: terdapat hubungan yang signifikan pada faktor berat derajat penyakit
(p=0,000) dan stres (p=0,000) dengan kualitas hidup. Tidak ada hubungan yang signifikan antara usia
(p=0,207) dan jenis kelamin (p=0,238) dengan kualitas hidup. Diskusi: Kualitas hidup penderita
osteoarthritis sebagian besar dalam kategori sedang, faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup
penderita OA adalah faktor berat derajat penyakit dan stres, untuk faktor usia dan jenis kelamin tidak ada
hubungan dengan kualitas hidup.

Kata Kunci: Osteoarthritis, Kualitas Hidup, AIMS2 SF, PSS, Tegner Lysholm Knee Scoring Scale

Introduction: Osteoarthritis (OA) is the most common disease of the joints. OA was cronic joint disruption
and would cause disability if there no a medical treatment. Disability related to social activity, spiritual,
and psychological that impact to quality of life. Measuring of quality of life for OA patients were the
important things for detecting treatment outcomes. The study aimed to analyze factors related to quality of
life patients with OA at Kalijudan Surabaya Public Health. Method: This study used descriptive analytic
design with cross sectional approach. Sample were 46 respondents. Independent variable were serious
level of disease, stress, age, and gender, dependent variable was quality of life patient with OA. The
instruments used Arthritis Impact Measurement Scales 2 (AIMS2 SF), Perceived Stress Scale (PSS), and
Tegner Lysholm Knee Scoring Scale questionnaire. Data analyzed using Spearmans rho. Results: There
related significant on serious level of disease (p=0,001) and stress (p=0,000) with quality of life. Age and
gender variables have not significant related with Quality of life, age (p=0,234) and gender (p=0,119).
Discussion: Quality of life patients with OA the most have medium category, the factor to related quality of
life in patients with OA were serious level of disease and stress, the factor have not related with quality of
life patients with OA were age and gender.

Keywords : Osteoarthritis, Quality of Life, AIMS2 SF, PSS, Tegner Lysholm Knee Scoring Scale
questionnaire

dan akan mengakibatkan kecacatan jika tidak


PENDAHULUAN
diobati (Chacon 2004). Penderita OA dengan
Osteoathritis (OA) merupakan penyakit
kecacatan dapat berpengaruh pada aktivitas,
sendi yang paling banyak ditemui (Ignatavicius
sosial, spiritual, dan psikologis yang akan
2015). Data World Health Organization (WHO)
mengakibatkan penderita mengalami stres dan
tahun 2005 menyebutkan bahwa osteoarthritis
menyebabkan penurunan kualitas hidup
menjadi sepuluh besar daftar penyakit di dunia.
(Oktarina 2016). Kualitas hidup sangat penting
Osteoathritis adalah gangguan persendian kronis
SKRIPSI ANALISIS FAKTOR YANG.. LAILATUL
ADLN PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

untuk mendapatkan perhatian, karena kualitas keseimbangan otot yang akan mengakibatkan
hidup merupakan sesuatu hal yang berhubungan kesulitan bergerak dan beraktivitas (Amanda
erat dengan morbiditas dan morbilitas, hal yang 2015). Keadaan tersebut dapat mengakibatkan
berhubungan dengan kondisi kesehatan emosional tidak stabil yang akan menyebabkan
seseorang, berat ringannya penyakit, lama stres (Wiyono 2009). Perilaku koping stres yang
penyembuhan penyakit, dan dapat memperparah kurang baik dapat mempengaruhi kondisi
kondisi penyakit hingga kematian apabila penderita OA, seperti gelisah, mengalami
penderita memiliki kualitas hidup yang kurang gangguan dalam istirahat yang dapat
baik (Zainuddin 2015). mengakibatkan aktivitas sehari-hari terganggu,
Laporan WHO tahun 2003 dalam The sehingga terjadi penurunan kualitas hidup
Burden Of Musculoskeletal Conditions At The penderita OA (Ihdaniyati 2009).
Star Of The New Millenium menyatakan bahwa Kualitas hidup menjadi indeks kesehatan
gangguan muskuloskeletal, termasuk yang penting dan berperan dalam penilaian dari
osteoarthritis sebagai penyebab utama morbiditas penatalaksanaan pengobatan dan kebutuhan
di seluruh dunia. OA terjadi lebih dari 27 juta sosial penderita OA (Kusumawardana 2014).
pada penduduk Amerika (Arundhati & Abdullah Hasil penelitian Woo (2016) bahwa pengaruh
2013). Prevalensi osteoarthritis di Indonesia nyeri, kesehatan umum, kesehatan mental, usia,
mencapai 5% pada usia <40 tahun, 30% pada jenis kelamin dan penyakit serius mempengaruhi
usia 40-60 tahun, dan 65% pada usia >61 tahun kualitas hidup penderita OA. Penelitian yang
(Marlina 2015). dilakukan oleh Amanda tahun 2015 terdapat
Berdasarkan studi pendahuluan yang hubungan antara derajat nyeri dengan kualitas
dilakukan di Puskesmas Kalijudan pada tanggal hidup penderita OA. Penelitian Tarigan tahun
10 November 2016 didapatkan data jumlah 2014 menyatakan bahwa tidak ada hubungan
penderita OA sebesar 458 orang pada bulan antara indeks komorbiditas dengan komponen
Agustus - Oktober, dengan rata-rata penderita kualitas hidup terkait kesehatan, baik komponen
berusia diatas 45 tahun dan 303 orang berjenis fisik maupun mental pada penderita OA lutut
kelamin perempuan. Jumlah penderita baru lebih simptomatik. Penelitian Ismail tahun 2013 yang
besar daripada jumlah penderita lama, yaitu dilakukan menunjukkan bahwa terdapat pengaruh
sebesar 364 penderita baru dan 94 penderita usia, status pekerjaan, dan intensitas nyeri
lama. Terjadi peningkatan jumlah penderita OA terhadap kualitas hidup.
lebih dari tiga kali lipat dalam tiga bulan di
Puskesmas Kalijudan Surabaya. Hasil wawancara METODE
dari beberapa penderita yang berkunjung di poli Desain yang digunakan dalam penelitian ini
umum didapatkan 4 dari 6 penderita mengalami adalah deskriptif analitik dengan pendekatan
keterbatasan aktivitas, dan 2 penderita merasa cross-sectional. Jumlah penderita OA
gelisah karena tidak dapat melakukan aktivitas berdasarkan hasil studi pendahuluan pada tanggal
sehari-hari dengan baik (Data Puskesmas 10 November 2016 selama 3 bulan terakhir, yaitu
Kalijudan Surabaya 2016). bulan Agustus sampai dengan Oktober didapat
OA merupakan penyakit sendi kronik 458 penderita OA. Teknik sampling dalam
dengan kerusakan kartilago (Soeroso 2006). penelitian ini menggunakan nonprobability
Kartilago pada tulang akan menipis dalam sendi, sampling tipe purposive sampling. Jumlah
jika OA semakin memburuk, maka kartilago akan responden dalam penelitian ini adalah 46 orang
menghilang dan gesekan antar tulang akan terjadi penderita OA lutut dengan rentang usia 45-75
(Inawati 2010). Keadaan tersebut akan tahun.
menimbulkan gangguan gejala yang dapat Variabel independen penelitian ini adalah
berdampak pada perubahan fisik. Gejala tersebut derajat beratnya penyakit, stres, usia, dan jenis
dapat diukur dengan melihat angka derajat kelamin. Variabel dependen penelitian ini adalah
penyakit yang dialami penderita OA yaitu kualitas hidup penderita OA. Pengumpulan data
keluhan nyeri yang dirasakan, jarak tempuh pada penelitian ini dengan menggunakan lembar
maksimal saat berjalan, dan kemampuan kuesioner Tegner Lysholm Knee Scoring Scale
penderita saat beraktivitas sehari-hari. Derajat untuk mengukur derajat berat penyakit, kuesioner
penyakit OA ini akan diukur dengan kuesioner Perceived Stress Scale (PSS) untuk mengukur
Tegner Lysholm Knee Scoring Scale stress, kuesioner AIMS2-SF untuk mengukur
Penderita dengan nyeri OA terjadi disfungsi kualitas hidup. Hasil pengumpulan data akan
sendi dan otot sehingga akan mengalami dianalisis menggunakan uji Spearmans rho.
keterbatasan gerak, penurunan kekuatan dan
SKRIPSI ANALISIS FAKTOR YANG.. LAILATUL
ADLN PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

HASIL Kualitas hidup responden berdasarkan tabel


Berikut adalah hasil pengumpulan data dengan 4 adalah jumlah responden dengan domain fisik
kuesioner sesuai dengan jawaban responden. yang terbanyak masuk dalam kategori tinggi
Tabel 1 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis dengan jumlah 28 responden (60,9%), domain
Kelamin tanda gejala yang terbanyak masuk dalam
Variabel f % kategori rendah dengan jumlah 10 responden
Jenis kelamin (21,7%), dan domain peran yang terbanyak
Laki-laki 20 43%
Perempuan 26 57% dalam kategori sedang dengan jumlah 40
Total 46 100% responden (87%).
Usia 2. Stres
Middle Age 31 67,4%
Elderly 14 30,4% Tabel 1 Distribusi Responden Berdasarkan
Old 1 2,2% Domain Stres
Total 46 100%
Pekerjaan No Domain Ringan Sedang Berat
PNS 0 0% f % f % f %
Pegawai swasta 4 9% 1 Perasaan 13 28,3 32 69,6 1 2,2
Petani/kuli bangunan/buruh 31 67% tidak
Wiraswasta 11 24% terprediksi
Total 46 100% 2 Perasaan 20 43,5 26 56,5 0 0
tidak
Berdasarkan tabel 1 menunjukkan bahwa terkontrol
sebagian besar responden adalah perempuan 3 Perasaan 21 45,7 25 54,3 0 0
sebanyak 26 responden (57%). Sebagian besar tertekan
responden dalam rentang usia middle age Tingkat stres responden berdasarkan tabel 5
sebanyak 31 responden (67,4%). Jumlah sebagian adalah jumlah responden dengan domain
responden bekerja sebagai petani/kuli perasaan tidak terprediksi yang terbanyak masuk
bangunan/buruh sebanyak 31 responden (67%). dalam kategori sedang dengan jumlah 32
Responden sebagian besar bekerja sebagai buruh responden (69,6%) dan domain perasaan tertekan
(pembantu rumah tangga). yang terbanyak masuk dalam kategori ringan
Tabel 2 Distribusi Responden Berdasakan Lama dengan jumlah 21 responden (45,7%), namun ada
Menderita Penyakit 1 responden (2,2) masuk dalam kategori berat
Waktu f % pada domain perasaan tidak terprediksi.
1-6 bulan 8 17% 1. Hasil Uji Hubungan Berat Derajat
7-12 bulan 18 39%
> 12 bulan 20 44% Penyakit dengan Kualitas Hidup
Total 46 100% Tabel 2 Hubungan Berat Derajat Penyakit dengan
Jumlah responden berdasarkan tabel 5.2 Kualitas Hidup Penderita OA
menunjukkan bahwa sebagian besar responden Derajat Kualitas Hidup Total
Berat Tinggi Sedang Rendah
menderita OA selama > 12 bulan sebanyak 20 Penyakit f % f % f % N %
responden (44%). Sangat baik 1 2,2 0 0 0 0 1 2,2
Tabel 3 Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Baik 3 6,5 1 2,2 0 0 4 8,7
Sedang 8 17,4 19 41,3 1 2,2 28 60,9
Obat yang Dikonsumsi Buruk 0 0 12 26,1 1 2,2 13 28,3
Jenis Obat f % Total 12 26,1 32 69,6 2 4,3 46 100
Paracetamol 10 21,7% Signifikansi (p)=0,001
Asam propionat 14 30,4% Koefisien Korelasi Spearmans Rho (r)=0,484
Asam fenilasetat 22 47,8%
Total 46 100% Tabel 6 menunjukkan bahwa jumlah
Jumlah responden berdasarkan tabel 3 responden terbanyak pada penderita OA di
menunjukkan bahwa sebagian besar Puskesmas Kalijudan dengan derajat berat
penyakit kategori sedang dan memiliki kualitas
responden mendapat jenis obat NSAID
hidup kategori sedang sebanyak 19 responden
golongan asam fenilasetat (Na-diklofenak) (41,3%), namun ada 8 (17,4%) responden dengan
dengan jumlah 22 responden (47,8%). derajat berat penyakit sedang dan memiliki
1. Kualitas Hidup kualitas hidup tinggi, dan 1 (2,2%) responden
Tabel 4 Distribusi Responden Berdasarkan dengan derajat berat penyakit masuk dalam
Domain Kualiatas Hidup kategori kualitas hidup rendah.
No Domain Tinggi Sedang Rendah
f % f % f %
Hasil uji korelasi Spearmans rho (r) dengan
1. Fisik 28 60,9 17 37 1 2,2 tingkat kemaknaan p<0,05. Hasil analisis
2. Tanda gejala 1 2,2 35 76,1 10 21,7 menunjukkan nilai p=0,001, nilai p lebih kecil
3. Emosi/Perasaan 10 21,7 34 73,9 2 4,3 dari 0,05 yang berarti H1 diterima, yang artinya
4. Interaksi sosial 9 19,6 36 78,3 1 2,2 ada hubungan yang signifikan antara derajat berat
5. Peran 6 13 40 87 0 0 penyakit dengan kualitas hidup penderita OA di
SKRIPSI ANALISIS FAKTOR YANG.. LAILATUL
ADLN PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

wilayah kerja Puskesmas Kalijudan. Kekuatan memiliki kualitas hidup rendah, 1 responden
koefisien korelasi dalam kategori sedang (2,2%) usia old memiliki kualitas hidup sedang.
(r=0,484) dan positif yang artinya antara kedua Hasil uji korelasi Spearmans rho (r) dengan
variabel mempunyai nilai yang searah dan sama tingkat kemaknaan p<0,05. Hasil analisis
tinggi, semakin baik nilai derajat berat penyakit menunjukkan nilai p=0,140 dan r=0,355. Nilai p
maka nilai kualitas hidup responden semakin lebih besar dari 0,05 yang berarti H1 ditolak,
tinggi. artinya tidak ada hubungan yang signifikan
2. Hasil Uji Hubungan Stres dengan Kualitas antara usia dengan kualitas hidup penderita OA
Hidup di wilayah kerja Puskesmas Kalijudan.
Tabel 3 Hubungan Stres dengan Kualitas Hidup 4. Hasil Uji Hubungan Jenis Kelamin dengan
Penderita OA Kualitas Hidup
Stres Kualitas Hidup Total Tabel 9 Hubungan Jenis Kelamin dengan
Tinggi Sedang Rendah
Kualitas Hidup Penderita OA
f % f % f % N %
Jenis Kualitas Hidup Total
Ringan 5 10,9 0 0 0 0 5 10,9
Kelamin Tinggi Sedang Rendah
Sedang 7 15,2 31 67,4 1 2,2 39 84,8
f % f % f % N %
Berat 0 0 1 2,2 1 2,2 2 4,3
Laki-laki 4 8,7 15 32,6 1 2,2 20 43,5
Total 12 26,1 32 69,6 2 4,3 46 100
Perempuan 8 17,4 17 37,0 1 2,2 26 56,5
Signifikansi (p)=0,000
Koefisien Korelasi Spearmans Rho (r)=0,596 Total 1 26,1 32 69,6 2 4,3 46 100
2
Tabel 7 menunjukkan bahwa jumlah Signifikansi (p)=0,119
responden tertinggi pada penderita OA di Koefisien Korelasi Spearmans Rho (r)=0,430
Puskesmas Kalijudan dengan stres kategori Tabel 9 menunjukkan bahwa jumlah
sedang memiliki kualitas hidup kategori sedang responden terbanyak pada penderita OA di
sebanyak 31 responden (67,4%), 1 (2,2%) Puskesmas Kalijudan dengan jenis kelamin
responden dengan stres berat memiliki kualitas perempuan sebanyak 26 responden (56,5%)
hidup sedang. dengan kualitas hidup kategori sedang sebanyak
Hasil uji korelasi Spearmans rho (r) dengan 17 responden (37,0%).
tingkat kemaknaan p<0,05. Hasil analisis Hasil uji korelasi Spearmans rho (r) dengan
menunjukkan nilai p=0,000, nilai p lebih kecil tingkat kemaknaan p<0,05. Hasil analisis
dari 0,05 yang berarti H1 diterima, yang artinya menunjukkan nilai p=0,119 dan r=0,430. Nilai p
ada hubungan yang signifikan antara stres dengan lebih besar dari 0,05 yang berarti H1 ditolak,
kualitas hidup penderita OA di wilayah kerja artinya tidak ada hubungan yang signifikan
Puskesmas Kalijudan. Kekuatan koefisien antara jenis kelamin dengan kualitas hidup
korelasi dalam kategori sedang (r=0,596) dan penderita OA di wilayah kerja Puskesmas
positif yang artinya nilai antara kedua variabel Kalijudan.
mempunyai nilai yang searah dan sama tinggi,
jika semakin ringan nilai stres maka nilai kualitas DISKUSI
hidup responden juga semakin tinggi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada
3. Hasil Uji Hubungan Usia dengan Kualitas hubungan derajat berat penyakit dengan kualitas
Hidup hidup penderita OA. Derajat penyakit merupakan
Tabel 4 Hubungan Usia dengan Kualitas Hidup salah satu faktor yang mempengaruhi terhadap
Penderita OA keadaan fisik penderita OA. Perbedaan hasil
Usia Kualitas Hidup Total kualitas hidup responden jika dilihat dari berat
Tinggi Sedang Rendah derajat penyakit dapat dihubungkan dengan
f % f % f % N %
Middle 6 13 22 47,8 3 6,5 3 67, keragaman data demografi responden, terutama
age 1 4 jenis pekerjaan dan lama menderita penyakit
Elderl 5 10,9 8 17,4 1 2,2 1 30, beserta obat yang didapat responden. Wilayah
y 4 4
Old 0 0 1 2,2 0 0 1 2,2 kerja Puskesmas Kalijudan Surabaya merupakan
Total 11 23,9 31 67,4 4 8,7 4 10 wilayah perkotaan dengan dikelilingi oleh
6 0 bangunan perumahan dan padat penduduk,
Signifikansi (p)=0,140
Koefisien Korelasi Spearmans Rho (r)=0,355 sehingga sebagian besar penderita nyeri sendi
Tabel 8 menunjukkan bahwa jumlah yang datang ke Puskesmas adalah penduduk
responden tertinggi pada penderita OA di lansia dengan pekerjaan petani/kuli/ buruh atau
Puskesmas Kalijudan dengan middle age pembantu rumah tangga. Kondisi pekerjaan yang
memiliki kualitas hidup sedang sebanyak 22 berat dapat menjadi suatu faktor predisposisi
responden (47,8%) dan 3 responden (6,5%) semakin berat terjadinya OA (Toivanan 2009).
Fitria (2015) menyatakan bahwa semakin berat

SKRIPSI ANALISIS FAKTOR YANG.. LAILATUL


ADLN PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

tanda OA dan gejala terutama nyeri yang lingkungan ini sangat mengganggu waktu
dirasakan, maka semakin berat derajat OA istirahat responden. Keadaan ini akan
penderita. Penderita dengan berat derajat meningkatkan efek negatif terhadap psikologis
penyakit yang buruk akan mengalami fungsi fisik jika penderita merasa terganggu dan
yang cenderung menurun (Amanda 2015). mengakibatkan stres, namun lain halnya dengan
Pekerjaan yang tidak maksimal akan penderita yang merasa bahwa keadaan ini
menghasilkan produktifitas rendah dan akan dianggap sebagai hiburan baginya.
mengakibatkan pendepatan berkurang. Rasmus (2011) menyatakan bahwa
Pendapatan yang kurang akan berdampak buruk dukungan lingkungan yang nyaman merupakan
pada keadaan sosial ekonomi penderita (Hasilbi salah satu faktor yang dapat mengurangi stres
2014). Hal ini akan memperlama rasa sakit yang yang berkepanjangan pada individu yang
diderita karena penderita cenderung untuk lebih menderita suatu penyakit. Stres yang
memenuhi kebutuhan pokok keluarga dibanding berkepanjangan dan tidak diatasi akan
kebutuhan kesehatan, sehingga pengobatan ke mengakibatkan depresi. Depresi akan berdampak
pelayanan kesehatan yang lebih baik tidak dapat pada penurunan daya tahan tubuh, sehingga
dipenuhi (Dalimi 2013). Penderita OA yang tidak kesehatan psikis dan fisik dapat menurun. Hal
mendapatkan pelayanan kesehatan yang sesuai tersebut dapat mengakibatkan penurunan fungsi
dengan kedaan yang dialaminya, akan kognitif, emosi, dan produktivitas pada penderita
menimbulkan kegelisahan. Hal ini terjadi karena (Bhat 2011).
OA merupakan suatu penyakit sendi yang Penurunan fungsi kognitif, emosi, dan
ditandai dengan nyeri kronis. produktivitas dapat mengakibatkan penurunan
Responden dalam penenlitian ini sebagian kemampuan pemenuhan kebutuhannya.
besar adalah bekerja sebagai petani/kuli Ketidakmampuan dalam beradaptasi terhadap
bangunan/buruh yang berpenghasilan dalam kondisinya, maka terjadilah ketergantungan
kategori menengah ke bawah. Perekonomian terhadap orang lain. Penderita membutuhkan
yang rendah dapat mempengaruhi pola konsumtif bantuan untuk memenuhi aktivitas kesehariannya
responden, terutama dalam hal pengobatan. (Bhat 2011). Penderita dengan OA akan
Kebanyakan dari mereka hanya mengkonsumsi meningkatkan kerentanan penderita terhadap
obat anti nyeri yang diberikan oleh dokter penurunan fungsional. Penelitian Community
Puskesmas tanpa pemeriksaan yang lebih lanjut. Health Care (2010) menjelaskan bahwa penderita
Pengelolaan suatu penyakit tidak hanya OA yang menjalani pengobatan secara terus
berasal dari pengobatan medis saja, namun menerus dapat mempengaruhi kesehatan
keadaan keluarga yang mendukung merupakan psikososial. Pengobatan yang berlangsung lama
hal yang penting yang dapat berpengaruh disebabkan karena OA merupakan penyakit
terhadap keadaan penyakit responden. Responden dengan nyeri kronis yang berlangsung lebih dari
yang masih tinggal bersama suami atau isteri 6 bulan. Hal ini sangat mengganggu kehidupan
beserta anak-anak akan merasakan lebih tenang. sehari-hari yang dapat mengakibatkan kemarahan
Hal ini bisa terjadi kerena peran keluarga dalam terhadap diri sendiri dan mengakibatkan stres
merawat anggota keluarga bisa terlaksana. (American Psychological Association 2011).
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya Penelitian yang dilakukan oleh Bhat (2011)
hubungan antara stres dengan kualitas hidup dengan responden yang menderita penyakit
penderita OA di wilayah kerja Puskesmas kronis menyatakan bahwa hasil evaluasi mereka
Kalijudan. Hasil dari wawancara dengan memburuk dalam hal stres, merasa tertekan, dan
responden, lingkungan rumah responden keterbatasan fisik, tidak bahagia, dan
sebagian besar adalah komplek perumahan yang pengurangan kontak dengan teman karena teman
padat penduduk. Diketahui bahwa pemukiman atau anggota keluarga sudah meninggal.
padat penduduk memiliki ruang gerak yang Penelitian ini menjelaskan bahwa stresor negatif
sempit, sehingga segala aktivitas dikerjakan dapat memperburuk keadaan penyakit yang
dalam tempat yang terbatas. Responden merasa dideritanya.
sering terganggu dengan suara-suara kebiasaan Keadaan emosional responden dalam
tetangga yang kurang memiliki toleransi dalam penelitian ini berbeda-beda. Kebanyakan dari
bertetangga, seperti menyalakan musik atau mereka bisa meredam kondisi tekanan yang
karaoke dengan suara yang keras, terkadang didapatkan, baik dari dalam lingkungan dan
suara keras orang bertengkar, anak bermain di keluarga maupun dari penyakit yang
depan rumah, dan suara-suara orang begadang dihadapinya. Hasil pengakajian yang telah
mengganggu saat malam tiba. Kondisi dilakukan bahwa sebagian besar responden
SKRIPSI ANALISIS FAKTOR YANG.. LAILATUL
ADLN PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

menderita penyakit OA selama lebih dari 12 berinteraksi dengan tetangga dan masyarakat
bulan. Waktu menderita penyakit berpengaruh sekitar dan mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada
terhadap kualitas hidup penderita, karena selama di daerah tempat tinggal lansia. Interaksi sosial
waktu itu penderita akan terus mengkonsumsi yang terjadi merupakan suatu dukungan sosial
obat-obatan. Responden dalam penelitian ini yang baik bagi lansia. Penyesuaian diri lansia
memiliki koping yang cukup baik, hal ini berhubungan dengan dukungan sosial, sehingga
berdasarkan pengakuan sebagian besar respond berpengaruh terhadap kehidupan lansia baik
yang ingin sembuh atau bebas dari penyakitnya, kehidupan sekarang ataupun yang akan datang.
namun dengan biaya pengobatan yang kecil, Penyesuaian diri lansia juga dipengaruhi
sehingga penderita berobat ke Puskesmas. Pilihan oleh keluarga. Keluarga memiliki peran penting
pengobatan dengan biaya yang kecil karena untuk menyelesaikan masalah yang terjadi pada
sebagian besar responden merupakan pekerja anggota keluarga. Semakin baik keharmonisan
kasar atau berat, yaitu petani/kuli suatu keluarga, maka akan menimbulkan dampak
bangunan/buruh. Pekerja kasar atau berat baik pada kualitas hidup lansia. Kualitas hidup
merupakan pekerja dengan pendapatan menengah juga dipengaruhi oleh keadaan ekonomi.
kebawah, hal ini juga akan mempengaruhi Sebagian besar responden dalam penelitian ini
pemenuhan kebutuhan sehari-hari responden. adalah pekerja. Seseorang yang memiliki
Keadaan ekonomi yang rendah akan memberi penghasilan sendiri dapat memenuhi kebutuhan
stresor. Stres pada penderita OA dapat muncul hidup dengan hasil mereka sendiri, meskipun
akibat stresor-stresor yang terus menerus responden dengan penghasilan menengah
dihadapi oleh penderita, baik karena perubahan kebawah. Kualitas hidup akan buruk jika status
pola hidup dan pengobatan, terhadap penderita ekonomi tidak tercukupi, hal ini dapat
OA. menyebabkan hambatan untuk mencukupi
Faktor keluarga, aktivitas, dan sosial juga kebutuhan, seperti memperoleh makanan yang
mempengaruhi kualitas hidup mereka. perbedaan bergizi, tempat tinggal yang layak, serta
kondisi emosional yang tidak baik dan pelayanan dalam mengatasi masalah kesehatan
keterbatasan fisik mengakibatkan kualitas hidup yang optimal terganggu.
memburuk. Setiap individu memiliki persepsi Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
dan respon yang unik terhadap stres. Persepsi tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan
seseorang terhadap stresor didasarkan pada kualitas hidup penderita. Jumlah responden
keyakinan dan norma, pengalaman dan pola terbanyak adalah berjenis kelamin perempuan
hidup, faktor lingkungan, struktur dan fungsi dengan jumlah 26 responden, dibandingkan
keluarga, tahap perkembangan, pengalaman masa jumlah responden laki-laki dengan jumlah 20
lalu dengan stres, dan mekanisme koping yang responden. Jenis kelamin perempuan merupakan
dapat berpengaruh pada derajat kualitas hidup faktor risiko terjadinya OA (Pratiwi 2015).
responden yang berbeda-beda. Penelitian Zhang Fu-qianget (2013)
Responden dengan stres berat namun menunjukkan peningkatan prevalensi lebih tinggi
kualitas hidup sedang berjumlah satu responden. pada perempuan jika dibanding dengan laki-laki.
Kualitas hidup memiliki beberapa aspek yang Penelitian yang dilakukan oleh (Pradono
harus dinilai, diantaranya adalah aspek fisik. 2011) bahwa jenis kelamin tidak ada hubungan
tanda gejala, emosi/perasaan, interaksi sosial, dan dengan kualitas hidup. Beberapa aspek yang
peran. Dilihat dari kualitas hidup, responden dinilai dari penelitian ini adalah aspek kesehatan
memiliki kualitas hidup sedang. Domain fisik fisik, psikologis, hubungan sosial, dan
pada kualitas hidup responden masuk dalam lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kategori baik baik, selain itu responden bertempat aspek hubungan sosial dan lingkungan pada jenis
tinggal dengan keluarga yang selalu mendukung laki-laki dan perempuan tidak terdapat berbedaan
aktivitas dan kebutuhan yang diperlukan yang signifikan. Responden laki-laki dan
responden. perempuan memiliki dukungan sosial yang baik,
Hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada kondisi lingkungan rumah yang aman,
hubungan antara usia dengan kualitas hidup keselamatan fisik dan keamanan yang baik,
penderita OA. Lansia yang dapat menyesuaikan k3esehatan dan kepedulian sosial. Penelitian
diri yang baik dengan kondisinya memiliki Hafizh (2015) menjelaskan bahwa tidak ada
kondisi psikososial yang lebih baik daripada hubungan antara kualitas hidup dengan jenis
lansia yang menolak akan kondisi yang dialami kelamin. Setiap individu memiliki tugas dan
saat ini. Penyesuaian diri lansia dapat peran yang sama di dalam kehidupannya, yaitu
dipengaruhi oleh keadaan sosial seperti dapat mempertahankan status kesehatan, sosial
SKRIPSI ANALISIS FAKTOR YANG.. LAILATUL
ADLN PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

ekonomi, dan psikologis dalam kondisi baik SIMPULAN DAN SARAN


tanpa melihat jenis kelamin seseorang (Hafizh Simpulan
2015). Penelitian yang dilakukan oleh (Peladeau Faktor berat derajat penyakit memiliki
1998) menyetakan bahwa jenis kelamin tidak hubungan yang signifikan dengan kualitas hidup
mempengaruhi keadaan kualitas hidup seseorang penderita OA. Semakin buruk berat derajat
yang menderita suatu penyakit. Dijelaskan daan penyakit penderita OA, maka semakin rendah
penelitian tersebut bahwa domain alat ukur untuk kualitas hidup yang dimiliki penderita OA.
kualitas hidup tidak ada perbedaan hasil yang Faktor stres ada hubungan yang signifikan
signifikan antara laki-laki dan perempuan. dengan kualitas hidup penderita OA. Mayoritas
Responden dalam penelitian ini baik laki- stres yang dialami penderita OA di wilayah kerja
laki maupun perempuan sama-sama memiliki Puskesmas Kalijudan merupakan stres sedang,
aktivitas sebagai pekerja. Responden dapat semakin ringan stres penderita, maka kualitas
beraktivitas sehari-hari seperti makan, mandi, hidup penderita semakin tinggi.
berpakaian, bergerak atau berpindah, dan Faktor jenis kelamin tidak memiliki
bersosialisasi dengan baik, namun sebagian hubungan yang signifikan dengan kualitas hidup
responden ada yang memiliki keterbatasan penderita OA. Kualitas hidup merupakan
bergerak atau berpindah. Keterbatasan yang penilaian seseorang secara subjektif. Banyak
dialami sebagian responden dapat teratasi karena faktor yang mempengaruhi, seperti jenis
sebagian besar responden masih bertempat pekerjaan, keadaan sosial ekonomi, keadaan
tinggal bersama keluarga, sehingga pemenuhan lingkungan sosial, dan keadaan keluarga sebagai
kebutuhan sehari-hari tetap terlaksana dengan faktor pendukung emosional. Faktor usia tidak
baik. Sebagian besar responden juga merupakan ada hubungan yang signifikan dengan kualitas
pekerja, sehingga dalam pemenuhan ekonomi, hidup penderita OA. Berapapun usia penderita
antara responden laki-laki dan perempuan sama- OA, akan tetap berusaha untuk memenuhi
sama memiliki penghasilan sendiri, sehingga kebutuhan individualnya secara maksimal sesuai
ketergantungan mereka kepada orang lain dalam kemampuannya.
hal ekonomi berkurang.
Banyak hal yang terdapat komponen di SARAN
dalamnya, yaitu dimensi fisik, tanda gejala, Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan
emosi/perasaan, interaksi sosial, dan peran. Petugas kesehatan diharapkan dapat melakukan
Komponen tersebut tidak dapat ditentukan oleh peningkatan upaya penyuluhan kepada
jenis kelamin penderita OA, sehingga dalam hal masyarakat tetutama pada penderita OA dan
ini kualitas hidup tidak dipengaruhi oleh jenis keluarga yang memiliki anggota keluarga dengan
kelamin. Penderita OA memiliki kualitas hidup OA untuk peningkatan derajat kesehatan dan
baik jika keadaan dalam lima komponen tersebut perawatan pada penderita OA. Keluarga
baik, begitu juga sebaliknya. penderita OA diharapkan untuk mendukung
Hasil penelitian sebagian besar responden penderita OA ke pelayanan kesehatan terdekat
memiliki kualitas hidup sedang. Hal ini sesuai dengan kondisi penderita, serta diharapkan
disebabkan karena faktor fisik, tanda gejala, keluarga selalu mencari informasi cara merawat
emosi/perasaan, interaksi sosial, dan peran penderita OA dengan baik dan benar, dukungan
responden belum mengarah optimal pada keluarga dalam emosional sangat penting untuk
keadaan sejahtera. Mereka belum memperoleh menjaga kesehatan emosianal penderita OA agar
nilai maksimal pada kelima faktor yang terhindar dari stres. Penelitian selanjutnya
mempengaruhi kualitas hidup menurut AIMS2 diharapkan dapat digunakan sebagai dasar untuk
SF. Kondisi ini masih memerlukan upaya penelitian lebih lanjut tentang faktor yang
peningkatan kualitas hidup dari sedang menjadi berhubungan dengan kualitas hidup penderita OA
tinggi untuk mencapai kehidupan yang sejahtera, dengan variabel yang berbeda, seperti tugas
karena kesejahteraan menjadi salah satu kesehatan keluarga, keadaan sosial ekonomi,
parameter tingginya kualitas hidup. Upaya budaya, penyakit penyerta, lingkungan tempat
menuju kesejahteraan harus dilakukan secara tinggal, dan menggunakan responden dengan
menyeluruh pada kelima faktor yang jumlah yang lebih besar.
mempengaruhi kualitas hidup.

SKRIPSI ANALISIS FAKTOR YANG.. LAILATUL


ADLN PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

DAFTAR PUSTAKA Pasien OA. Tesis Fakultas Farmasi


Ignatavicius, S. W., 2015. Medical-Surgical Universitas Gadjah Mada.
Nursing: Patien-Centered Collaborative
Care (8th ed.). Missouri: Elsevier.
Chacon, J. G., 2004. Effek of Knee Osteoarthritis
on the Perception of Quality of Life in
Venezuelan Patients. Arthritis &
Rheumatism, pp. 377-382.
Oktarina, I., 2016. Kualitas Hidup Lanjut Usia
yang Mengalami Sakit Di Desa Gumpang
Kecamatan Kartasura. Skripsi Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
Zainuddin, Utomo, Herlina, 2015. Hubungan
Stres dengan Kualitas Hidup Penderita
Diabetes Mellitus Tipe 2. JOM, vol. 2, no. 1,
pp. 890-898.
Arundhati, D., & Abdullah, A. Z., 2013.
Pengaruh Senam Tai Chi dan Senam Biasa
terhadap Reduksi Nyeri Osteoarthritis Lutut
pada Lansia Di Panti Sosial Tresna Werdha
"Gau Mabaji" Gowa . Masyarakat
Epidemiologi Indonesia, pp. 1-4.
Marlina, T. T., 2015. Efektivitas Latihan Lutut
Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Pasien
Osteoarhtritis Lutut Di Yogyakarta. Jurnal
Keperawatan Sriwijaya, vol. 2, no. 1.
Soeroso, S., 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam Jilid II Edisi IV. Jakarta: EGC.
Inawati, 2010. Osteoarthritis. Patologi Anatomi,
pp. 36-41.
Amanda, T. T., 2015. Hubungan derajat nyeri
dengan Kualitas Hidup Pasien Osteoarthritis
Di Poli syaraf Rumah Sakit Umum Daerah
DR Harjono Ponorogo. Skripsi Fakultas
Kedokteran Universitas Muhammadiyah.
Surakarta.
Wiyono, W., 2009. Hubungan antara Tingkat
Kecemasan dengan Kecenderungan Insomnia
pada Lansia Di Panti Wredha Dharma Bakti
Surakarta. Berita Ilmu Kperawatan, vol. 2,
no. 2, pp. 87-92.
Kusumawardana, F. D., 2014. Pengaruh Terapi
TENS dan Kompres Panas terhadap Kualitas
Hidup Lanjut Usia yang mengalami
Osteoarthritis Lutut. Skripsi Ilmu
Keperawatan Universitas Gadjah Mada.
Woo, J., 2016. Impact of Osteoarthritis on
Quality of Life in a Hongkong Chinese
population. Rheumatology.
Tarigan, S. M., 2014. Hubungan Indeks
Komorbiditas deng an Kualitas Hidup
Terkait Kesehatan pada Pasien Osteoarthritis
Lutut Simptomatik. Skripsi Universitas
Negeri Semarang.
Ismail, 2013. Pengaruh Usia, Status Pekerjaan,
dan Intensitas Nyeri terhadap Kualitas Hidup
SKRIPSI ANALISIS FAKTOR YANG.. LAILATUL