Anda di halaman 1dari 34

MODUL

BBLR dan HIPOTERMI


Pertolongan pertama kegawat daruratan obstetrikdan neonatal (PPGDON)

Dosen Pengampu Mata kuliah :


Ria Yulianti Triwahyuningsih,
SST.,M.Kes

Kelompook 4:
Dewi talia Johari
Ishe Fujianti
Linda Melani
Puspitasari Herdiyani
Wulan Ayu Sucianny
3-B
AKADEMI KEBIDANAN MUHAMMADIYAH CIREBON
20017/2018
Jl. Kalitanjung Timur No. 14/18 A Kec/Kel Harjamukti Kota Cirebon
Kelompok 4: Dewi Talia J HandOut
Mata kuliah : PPGDON

Dosen : Ria Yulianti,SST.,M.Kes

Topik/Subtopik : BBLR & Hipotermi

1. Pengertian
2. Batasan
3. Langkah Promotif/Preventif
4. Penyebab
5. Diagnosis
6. Komplikasi
7. Pemantauan

Objektif Perilaku Mahasiswa


Objektif Perilaku Mahasiswa
Setelah membaca handout ini diharapkan mahasiswa mampu memahami dan
ckkd tentang topik dan subtopik dari materi yang diuraikan.
menjelaskan

Objektif Perilaku Mahasiswa

Refrensi Materi
Objektif Perilaku Mahasiswa
Fraser, Diane, M. Dan Cooper, M. A.2009.Buku Ajar Bidan Myles.Edisi
ckkd
14.Jakarta:EGC

Nelson, Objektif
Behrman,Perilaku Mahasiswa
Kleigman, dkk. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Edisi 15 vol
1.Jakarta : EGC,2000

Karyuni, dkk.2008.Buku Saku Manajemen Masalah Bayi Baru Lahir Panduan


untuk Dokter,Perawat, & Bidan.Jakarta:EGC

Prawirohardjo.2014.Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan


Neonatal.Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

Cuningham, F.G.2005.Obstetri Williams.Jakarta: EGC


Pendahuluan
Objektif Perilaku Mahasiswa

ckkd
Saat ini diketahui bahwa BBLR (Berat Badan Bayi Lahir Rendah)
Objektif Perilaku Mahasiswa
diartikan sebagai bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram.
BBLR merupakan penyumbang angka kematian tertinggi pada bayi, BBLR
mempunyai risiko kematian 20 kali lebih besar di bandingkan dengan bayi yang
lahir dengan berat normal.

Lebih dari 20 juta bayi di seluruh dunia lahir dengan BBLR dan 95,6%
bayi BBLR lahir di negara berkembang, seperti Indonesia. Menurut Survey
Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2013 antar provinsi Indonesia berada
pada rentang 7,2-16,8% . Dan rata-rata kejadian BBLR secara nasional sebesar
10% balita Indonesia lahir dengan berat badan lahir rendah.

Dalam rangka mencapai target SDGs yang ketiga yaitu pada tahun 2030
adalah mengakhiri kematian bayi dan balita yang dapat dicegah, dengan seluruh
negara berusaha menurunkan angka kematian neonatal setidaknya hingga 12 per
1.000 KH, perlu dilakukan upaya pencegahan kejadian BBLR di masa depan.
URAIAN MATERI
Objektif Perilaku Mahasiswa

ckkd
BAYI BERAT LAHIR RENDAH
Objektif Perilaku Mahasiswa

A. Batasan BBLR
Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) adalah neonatus dengan
berat badan saat lahir kurang dari 2.500 gram (sampai 2.449 gram) tanpa
memandang masa kehamilan (berat lahir adalah berat bayi yang
ditimbang dalam 1 jam setelah lahir) (Sarwono Prawirohardjo, 2014).
BBLR adalah semua bayi yang lahir dalam keadaan apapun dengan berat
badan kurang dari 2500 gram (WHO, 1977).

B. Prinsip Dasar BBLR


BBLR penyebab tingginya angka morbiditas dan mortalitas pada masa
neonatal.
1. Klasifikasi bayi berdasarkan berat badan dan usia gestasi
Definisi berat badan lahir rendah didasarkan pada berat badan itu
sendiri dan tidak mempertimbangkan usia gestasi bayi. Demikian juga
definisi usia gestasi mengabaikan segala pertimbangan tentang berat
badan lahir.
a. Berat badan
Kategori berat badan lahir rendah adalah :
1) Bayi berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat
badan dibawah 2500 gram pada saat lahir.
2) Bayi berat badan lahir sangat rendah (BBLSR) adalah bayi
dengan berat badan dibawah 1500 gram.
3) Bayi dengan berat badan lahir ekstrem rendah (BBLER) adalah
bayi dengan berat badan dibawah 1000 gram pada saat lahir.
b. Usia gestasi
Minggu gestasi dihitung dari hari pertama haid terakhir (HPHT)
dan tidak berhubungan dengan berat badan bayi, panjang bayi,
lingkar kepala bayi, atau semua pengukuran pada janin atau
neonatus.
Yang terpenting adalah adanya hubungan antara dua hal yang
berbeda ini, yaitu berat badan (untuk pengkajian pertumbuhan)
dan usia gestasi (untuk pengkajian maturitas). Seperti yang
digambarkan pada grafik dibawah ini :

Gbr. 1.1 Grafik persentil, penilaian pertumbuhan dan usia gestasi


menurut Battaglia & Lubchenco (1967)

Grafik ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan bayi itu sesuai,


berlebih, atau kurang untuk masa kehamilan dan memperlihatkan
juga bahwa bayi prematur, aterm, atau post-term.
Berbagai tipe bayi BBLR dapat digambarkan :
1) Bayi dengan laju pertumbuhan intrauterin normal namun saat
lahir bayi tersebut kecil, karena persalinan dimulai sebelum
akhir 37 minggu kehamilan bayi ini disebut prematur dan
tumbuh sesuai masa kehamilan (SMK).
2) Bayi dengan laju pertumbuhan intrauterin lambat dan bayi ini
dilahirkan aterm atau post-term, namun pertumbuhannya
kurang untuk usia gestasi bayi ini kecil untuk masa
kehamilan (KMK).
3) Bayi dengan laju pertumbuhan intrauterin lambat dan
dilahirkan sebelum aterm: bayi prematur ini kecil, baik karena
persalinan dini maupun pertumbuhan intrauterin yang
terganggu bayi ini disebut bayi prematur dan kecil untuk
masa kehamilan.
4) Bayi dengan berat badan berapa saja bila mereka berada di atas
90 persentil bayi ini dianggap besar untuk masa
kehamilan (BMK/LGA).

C. Faktor Penyebab BBLR


1. Faktor Ibu/Maternal
a. Hipertensi akibat kehamilan, preeklampsia
b. Hipertensi kronis
c. Diabetes militus
d. Nutrisi tidak adekuat
e. Merokok, penyalahgunaan alkohol
f. Obat terapeutik (obat antikanker) dan adiktif (narkotik)
g. Penyakit ginjal, kelainan kolagen, anemia
h. Iradiasi
i. Ibu usia muda dan lansia
j. Paritas
k. Riwayat obstetrik buruk (riwayat BBLR)
l. Berat badan ibu terlalu ringan/postur kecil
2. Faktor Janin
a. Gestasi multipel (hamil kembar)
b. Kelainan kromosom/genetik (penyakit trisomi), kelainan
metabolisme bawaan, sindrom kerdil
c. Infeksi intrauterin-toksoplasmosis, rubela, sitomegalovirus, herpes
simpleks (TORCH), dan sifilis

3. Faktor Plasenta
a. Abrupsio plasenta
b. Plasenta previa
c. Korioamnionitis
d. Insersi tali pusat yang tidak normal
e. Arteri umbilikalis tunggal
(Anderson & Hay (1999), Blackburn & Loper (1992), Korones
(1986), Mupanemunda & Watkinson (1999) dikutip dari Buku Ajar
Bidan Myles oleh Fraser & Cooper, 2009).

D. Langkah Promotif & Preventif


1. Penyuluhan kesehtan tentang kehamilan, persalinan, pertumbuhan dan
perkembangan janin dalam rahim, tanda-tanda bahaya selama
kehamilan dan perawatan diri selama kehamilan agar ibu hamil dapat
menjaga kesehatannya dan janin yang dikandung dengan baik.
2. Meningkatkan pemeriksaan kehamilan secara rutin minimal 4 kali
selama hamil dan dimulai sejak pertama telat haid atau hamil muda.
Ibu hamil yang bepotensi dan berisiko yang mengarah melahirkan bayi
BBLR harus cepat dilaporkan, dipantau, dan dirujuk ke fasilitas
pelayanan kesehatan yang memadai.
3. Merencanakan persalinan pada kurun waktu reproduksi sehat yaitu
pada umur 20-35 tahun.
4. Meningkatkan pendidikan ibu dan status ekonomi keluarga agar dapat
meningkatkan akses terhadap pemanfaatan pelayanan antenatal dan
status gizi ibu hamil dalam hal menjaga gizi ibu hamil sehingga dapat
menurunkan kasus BBLR.
5. Sosialisasi wajib ASI ekslusif selama 6 bulan bagi ibu yang belum
melahirkan atau pun yang telah mempunyai balita untuk mencegah
terjadinya keparahan atas efek BBLR saat dilahirkan.

E. Diagnosis BBLR
1. Anamnesa

Menanyakan pada ibu riwayat kehamilan dan faktor-faktor


apa saja yang berpengaruh dengan kejadian BBLR, seperti umur ibu,
riwayat hari pertama haid terakhir, riwayat persalinan sebelumnya,
komplikasi obstetris yang didapat dan faktor lain yang berpengaruh.
Gejala yang dialami selama kehamilan seperti pembesaran uterus
yang tidak sesuai kehamilan, gerakan janin yang lambat, dan
pertambahan berat badan ibu yang lambat dan tidak sesuai menurut
yang seharusnya (Mochtar, 1998).

2. Pemeriksaan Fisik

Yang dapat dijumpai pada pemeriksaan fisik antara lain (


Usman, 2008 ; Depkes RI 2008) :
a) berat badan kurang dari 2.500 gram, panjang badan kurang dari
45 cm, lingkar dada kurang dari 30 cm, lingkar kepala kurang
dari 33 cm
b) kulit tipis dan keriput, mengkilap dan lemak dibawah tubuh sedikit

c) tulang rawan telinga masih lunak, karena belum terbentuk


sempurna
a b

Gambar 5. a. Telinga bayi kurang bulan : tulan rawan telinga masih


lunak, karena belum terbentuk sempurna. b. Telinga
kehamilan cukup bulan : daun telinga kaku, lengkung
terbentuk baik. (Sumber : Departemen Kesehatan RI,
2005. Buku Acuan Pelayanan Pelatihan
Kegawatdaruratan Obstetri Neonatal Essensal Dasar.
Jakarta.)

d) Jaringan payudara belum terlihat, biasanya hanya titik (gambar ?)

a b

Gambar 6. a. Payudara bayi kurang bulan : jaringan payudara


belum terlihat, biasanya hanya titik. b. Payudara
kehamilan cukup bulan : areola terlihat baik, tampak
jaringan payudara (Sumber: Departemen Kesehatan RI,
2005. Buku Acuan Pelayanan Pelatihan
Kegawatdaruratan Obstetri Neonatal Essensal Dasar.
Jakarta.)

e) genitalia laki-laki : skrotum belum banyak lipatan dan biasanya


testis belum turun ( gambar 7a)

a b

Gambar 7. a. Genitalia laki-laki bayi kurang bulan : skrotum belum


banyak lipatan, kadang testis belum turun b. Genitalia
laki-laki bayi cukup bulan : testis sudah turun dan
pigmentasi skrotum meningkat (Sumber : Departemen
Kesehatan RI, 2005. Buku Acuan Pelayanan Pelatihan
Kegawatdaruratan Obstetri Neonatal Essensal Dasar.
Jakarta.)

f) genitalia perempuan : labia mayora belum menutupi labia minora


(gambar 8a)

a b
Gambar 8. a. Genitalia perempuan bayi kurang bulan : labia
mayora belum menutupi labia minora b. Genitalia
perempuan bayi cukup bulan : labia mayora menutupi
labia minora (Sumber : Departemen Kesehatan RI,
2005. Buku Acuan Pelayanan Pelatihan
Kegawatdaruratan Obstetri Neonatal Essensal Dasar.
Jakarta.)

g) rajah pada 1/3 anterior telapak kaki (gambar 9a)

a b

Gambar 9. a. Rajah Telapak Kaki bayi kurang bulan : rajah pada


1/3 anterior telapak kaki. b. Rajah Telapak Kaki bayi
cukup bulan : rajah pada seluruh telapak kaki (Sumber
: Departemen Kesehatan RI, 2005. Buku Acuan
Pelayanan Pelatihan Kegawatdaruratan Obstetri
Neonatal Essensal Dasar. Jakarta.)

h) pemeriksaan maturitas pada bayi baru lahir dengan menggunakan


Ballardscore (Gambar 10 dan 11), biasanya ditemukan tanda
imaturitas pada bayi.
Gambar 10. Dubowitz and Ballard Score (Maturitas Fisik) (Sumber : Mochtar,
Roestam, 1998, Sinopsis Obstetri. Jilid I. Edisi II. Penerbit Buku Kedokteran
EGC, Jakarta

Gambar 11. Dubowitz and Ballard Score (Maturitas Neuromuskular)


(Sumber : Mochtar, Roestam, 1998, Sinopsis Obstetri. Jilid I. Edisi II. Penerbit
Buku Kedokteran EGC, Jakarta.)

Setelah didapatkan jumlah skor dari pemeriksaan neuromuskuler dan


maturitas fisik, maka kedua skor tersebut dijumlahkan. Hasil penjumlahan
tersebut dicocokan dengan tabel kematangan, sehingga didapatkan usia
kehamilan dalam minggu.
F. Komplikasi BBLR
a. Sindroma Gangguan Pernafasan

Sindroma gangguan pernafasan pada bayi BBLR adalah


perkembangan imatur sistem pernafasan atau tidak adekuatnya
surfaktan pada paru-paru. Surfaktan adalah zat endogen yang terdiri
dari fosfolipid, neutral lipid dan protein yang membentuk lapisan di
antara permukaan alveolar dan mengurangi kolaps alveolar dengan
cara menurunkan tegangan permukaan di dalam alveoli (Usman,
2008). Secara garis besar, penyebab sesak nafas pada neonatus dapat
dibagi menjadi dua, yaitu kelainan medik, seperti hialin membran
disease, aspirasi mekonium, pneumonia, dan kelainan bedah seperti
choana atresia, fistula trachea oesephagus, empisema lobaris
kongenital. Gejala gangguan pada sistem pernafasan dapat dikenali
sebagai berikut (Kliegman et al., 2007 ; Proverawati, 2010) :

1) Frekuensi nafas takipneu (> 60 kali per menit)

2) Retraksi suprasternal dan substernal

3) Gerakan cuping hidung

4) Sianosis sekitar mulut dan ujung jari

5) Pucat dan kelelahan

6) Apneu dan pernafasan tidak teratur

7) Mendengkur

8) Pernafasan dangkal

9) Penurunan suhu tubuh


b. Asfiksia
Asfiksia adalah keadaan bayi yang tidak dapat bernafas
spontan dan teratur, sehingga dapat menurunkan oksigen dan
meningkatkan karbon dioksida yang dapat menimbulkan akibat buruk
dalam kehidupan yang lebih lanjut. Semua tipe BBLR bisa kurang,
cukup atau lebih bulan, semuanya berdampak pada proses adaptasi
pernafasan waktu lahir sehingga mengalami asfiksia lahir. Bayi BBLR
membutuhkan kecepatan dan keterampilan resusitasi (Manuaba,
2010).

c. Aspirasi Mekonium

Ini adalah penyakit paru yang berat yang ditandai dengan


pneumonitis kimiawi dan obstruksi mekanis jalan nafas. Penyakit ini
terjadi akibat inhalasi cairan amnion yang tercemar mekonium
peripartum sehingga terjadi peradangan jaringan paru dan hipoksia.
Pada keadaan yang lebih berat, proses patologis berkembang menjadi
hipertensi pulmonal persisten, morbiditas lain dan kematian. Bahkan
dengan terapi yang segera dan tepat, bayi yang parah sering kali
meninggal atau menderita kerusakan neurologis jangka panjang
(Cunningham et al., 2005).

d. Retrolental Fibroplasia

Penyakit ini ditemukan pada bayi prematur dimana disebabkan


oleh gangguan oksigen yang berlebihan. Pemberian oksigen dengan
konsentrasi tinggi (PaO2 lebih dari 115 mmHg) maka akan terjadi
vasokonstriksi pembuluh darah retina. Kemudian setelah bernafas
dengan udara biasa lagi, pembuluh darah akan mengalami vasodilatasi
yang selanjutnya akan diikuti dengan proliferasi kapiler secara tidak
teratur. Stadium akut dapat terlihat pada umur 3-6 minggu dalam
bentuk dilatasi arteri dan vena retina, kemudian diikuti pertumbuhan
kapiler secara teratur pada ujung vena yang terlihat seperti perdarahan
dan kapiler baru ini tumbuh ke arah korpus vitreus dan lensa sehingga
menyebabkan edema retina dan retina dapat terlepas dari dasarnya.
Keadaan ini dapat terjadi bilateral dengan tanda COA mengecil, pupil
mengecil dan tidak teratur dan visus menghilang. Pengobatan dengan
diberikan ACTH atau kortikosteroid. Tindakan pencegahan yang
dapat dilakukan untuk mencegah penyakit ini adalah sebagai berikut
(Cunningham et al., 2005 ; Proverawati, 2010) :
1) Oksigen yang diberikan tidak boleh lebih dari 40 %
2) Tidak menggunakan oksigen untuk pencegahan apnea dan sianosis
3) Pemberian oksigen pada bayi kurang dari 2.000 gram harus hati-
hati dan dimonitor selalu

2. Gangguan Metabolik

a. Hipotermia

Bayi prematur dan BBLR akan dengan cepat kehilangan


panas tubuh dan menjadi hipotermia, karena pusat pengaturan
panas badan belum berfungsi dengan baik, metabolisme yang
rendah dan luas permukaan tubuh yang relatif luas dan lemak
masih sedikit (Depkes, 2008 ; Manuaba, 2010).

b. Hipoglikemia

Glukosa berfungsi sebagai makanan otak pada tahun


pertama kelahiran pertumbuhan otak sangat cepat sehingga
sebagian besar glukosa dalam darah digunakan untuk
metabolisme di otak. Jika asupan glukosa ini kurang, akibatnya
sel-sel saraf di otak mati dan mempengaruhi kecerdasan di masa
depan. Pada BBLR hipoglikemia terjadi karena cadangan glukosa
yang rendah dan aktivitas hormonal untuk glukoneogenesis yang
belum sempurna (Kliegman et al., 2007).
c. Masalah Pemberian ASI

Masalah pemberian ASI pada BBLR terjadi karena


ukuran tubuh bayi yang kecil, kurang energi, lemah dan
lambungnya kecil dan tidak dapat menghisap. Bayi dengan
BBLR sering mendapatkan ASI dengan bantuan, membutuhkan
pemberian ASI dalam jumlah yang lebih sedikit tapi sering, bayi
BBLR dengan kehamilan > 35 minggu dan berat lahir > 2.000
gram umumnya bisa langsung menyusui (Depkes RI, 2008).

3. Gangguan Imunitas

a. Gangguan Imunologik
Daya tahan tubuh berkurang karena rendahnya kadar
Imunoglobulin G (IgG) maupun gamma globulin. IgG pada saat
awal kelahiran sebagian besar didapat dari ibu dimulai sekitar
minggu ke-16 dan yang paling tinggi empat minggu sebelum
kelahiran. Dengan demikian, bayi BBLR relatif kurang mendapat
antibodi ibu belum sanggup membentuk antibodi dan daya
fagositosis serta reaksi terhadap infeksi belum baik, karena sistem
kekebalan tubuh bayi juga belum matang. Bayi juga dapat terkena
infeksi saat lahir. Keluarga dan tenaga kesehatan yang merawat bayi
harus melakukan tindakan pencegahan infeksi dengan menjaga
kebersihan dan cuci tangan dengan baik (Cunningham et al., 2005 ;
Proverawati, 2010).

b. Ikterus

Ikterus adalah menjadi kuningnya warna kulit, selaput lendir


dan berbagai jaringan karena tingginya zat warna empedu. Ikterus
neonatal adalah suatu gejala yang sering ditemukan pada bayi baru
lahir. Biasanya bersifat fisiologis, tapi dapat juga patologis,
dikarenakan fungsi hati yang belum matang (imatur) menyebabkan
gangguan pemecahan bilirubin dan menyebabkan
hiperbilirubinemia. Bayi yang mengalami ikterus patologis
memerlukan tindakan dan penanganan lebih lanjut. Ikterus yang
patologis ditandai sebagai berikut (Manuaba, 2010) :

1) Kuningnya timbul 24 jam pertama setelah lahir

2) Jika dalam sehari kadar bilirubin meningkat pesat dan progresif

3) Jika bayi tampak tidak aktif, tak mau menyusu

4) cenderung banyak tidur disertai suhu tubuh yang mungkin


meningkat atau malah turun
5) Air kencing gelap seperti teh

4. Gangguan SistemPeredaran Darah

a. Masalah Perdarahan

Perdarahan pada neonatus mungkin dapat disebabkan karena


kekurangan faktor pembekuan darah dan faktor fungsi pembekuan
darah yang abnormal karena imaturitas sel. Sebagai tindakan
pencegahan terhadap perdarahan otak dan saluran cerna pada bayi
BBLR diberikan injeksi vitamin K , yang sangat penting dalam
mekanisme pembekuan darah normal. Pemberian biasanya secara
parenteral, 0,5-1 mg IM dengan dosis satu kali segera setelah lahir
dilakukan pada paha kiri (Depkes RI, 2008).

b. Anemia
Anemia fisiologik pada bayi BBLR disebabkan oleh supresi
eritropoeisis pasca lahir, persediaan besi janin yang sedikit, serta
bertambah besarnya volume darah akibat pertumbuhan yang lebih
cepat. Oleh karena itu anemia pada bayi BBLR terjadi lebih dini dan
kehilangan darah pada janin atau neonatus akan memperberat
anemianya (Cunningham et al., 2005).

c. Gangguan Jantung

Patent Ductus Arteriosus (PDA) sejenis masalah jantung,


biasanya dicatat dalam beberapa minggu pertama atau bulan
kelahiran. PDA yang menetap sampai bayi berumur 3 hari sering
ditemui pada bayi BBLR, terutama pada bayi dengan penyakit
membran hialin. Defek septum ventrikel, frekuensi kejadiannya
paling tinggi pada bayi dengan berat kurang dari 2500 gram dan
masa gestasinya kurang dari 34 minggu dibandingkan dengan bayi
yang lebih besar dengan masa gestasi yang cukup ( Usman, 2008 ;
Proverawati, 2010).

d. Gangguan pada Otak

Intraventrikular hemorrhage, perdarahan intrakranial (otak)


pada neonatus. Bayi mengalami masalah neurologis, seperti
gangguan mengendalikan otot (cerebral palsy), keterlambatan
perkembangan dan kejang (Cunningham et al., 2005).

5. Gangguan Elektrolit

a. Gangguan Eliminasi
Kerja ginjal yang masih belum matang, kemampuan mengatur
pembuangan sisa metabolisme dan air masih belum sempurna, ginjal
imatur baik secara anatomis maupun fungsinya. Produksi urine yang
sedikit, urea clearance yang rendah, tidak sanggup mengurangi kelebihan
air tubuh dan elektrolit dari badan dengan akibat mudah terjadi edema dan
asidosis metabolik (Kliegman et al., 2007).
a. Distensi Abdomen
Yaitu kelainan yang berhubungan dengan usus bayi. Distensi
abdomen akibat motilitas usus berkurang, volume lambung kecil sehingga
waktu pengosongan lambung bertambah, daya untuk mencernakan dan
mengabsorbsi lemak berkurang. Kerja dari sfingter gastroesofagus yang
belum sempurna memudahkan terjadinya regurgitasi isi lambung ke
esofagus dan mudah terjadi aspirasi (Proverawati, 2010).

b. Gangguan Pencernaan
Saluran pencernaan yang belum berfungsi sempurna membuat
penyerapan makan lemah atau kurang baik. Aktifitas otot pencernaan
masih belum sempurna, mengakibatkan pengosongan lambung lambat.
Bayi BBLR mudah kembung, hal ini karena stenosis anorektal, atresia
ileum, peritonitis meconium (Kliegman et al., 2007).

c. Gangguan Elektrolit

Cairan yang diperlukan tergantung dari masa gestasi, keadaan


lingkungan dan penyakit bayi. Diduga kehilangan cairan melalui tinja dari
janin yang tidak mendapat makanan melaui mulut sangat sedikit.
Kebutuhan akan cairan sesuai dengan kehikangan cairan insensible, cairan
yang dikeluarkan ginjal dan pengeluaran cairan oleh sebab lainnya,
kehilangan cairan insensible meningkat di tempat udara panas, selama
terapi sinar, dan pada kenaikan suhu tubuh (Proverawati, 2010)
G. Penatalaksanaan Bayi BBLR
Karena kondisi bayi BBLR dan proses persalinan sulit diramalkan,
peran bidan di ruang persalinan adalah mempersiapkan dengan baik
lingkungan, staf, dan sarana prasarana untuk penanganan neonatus.
1. Prinsip Termoregulasi (mempertahankan suhu tubuh)
Termoregulasi adalah keseimbangan antara produksi panas dan
kehilangan panas. Pencegahan stres dingin, yang dapat menyebabkan
hipotermia (suhu tubuh <35oC), sangat penting untuk pertahanan utuh
bayi BBLR karena pusat pengaturan suhu tubuh belum berfungsi
dengan baik, sistem metabolisme yang rendah dan luas permukaan
tubuh yang relatif luas. Bayi yang baru lahir tidak dapat menunjukkan
situ asi yang mereka alami seperti halnya manusia dewasa yang
menunjukkan respon saat merasa kedinginan sehingga sangat
bergantung pada adaptasi fisik dimana saat suhu tubuh turun,
konsumsi oksigen jaringan meningkat karena bayi berusaha
meningkatkan laju metabolisme basalnya dengan membakar glukosa
untuk menghasilkan energi dan panas dan menggunakan cadangan
lemak cokelat yang ada. Oleh karena itu bayi dirawat di dalam
inkubator, inkubator dilengkapi dengan alat pengatur suhu dan
kelembapan agar bayi dapat menjaga mempertahankan suhu tubuhnya
yang normal, alat oksigen yang dapat diatur, serta kelengkapan lain
untuk mengurangi kontaminasi dengan lingkungan luar. Suhu
inkubator yang optimum diperlukan agar panas yng hilang dan
konsumsi oksigen cukup sehingga bayi dapat mempertahankan suhu
tubuhnya sekitar 36,5-37oC.
Gbr 1.2 Inkubator
(diambil dari : http:/img.medicalexpo.com/image_me/photo-m/77704-
10975995.jpg)

Alternatif lain dari penggunaan inkubator untuk membantu


mempertahankan suhu yaitu dengan menggunakan metode tepat guna
baru, perawatan metode kanguru. Perawatan metode kanguru (PMK)
adalah perawatan untuk BBLR dengan cara menghangatkan bayi
melalui penyaluran panas tubuh ibu, melakukan kontak langsung
antara kulit bayi dengan kulit ibu (skin to skin contact). Tubuh ibu dan
bayi harus berada dalam satu pakaian.
Gbr 1.3 Perawatan Metode Kanguru (diambil dari :
http://helid.digilibcollection.org/en/d/Js13431e/7.9.3.html)

2. Mencegah Infeksi dengan ketat


Bayi BBLR sangat rentan akan infeksi karena proses adaptasi dari
kehidupan intrauterin ke kehidupan ekstrauterin, dimana saat sebelum
dilahirkan bayi mendapat imunitas atau kekebalan transplasenta
terhadap kuman yan berasal dari ibunya, sedangkan sesudah lahir bayi
terpapar dengan kuman yang berasal dari orang lain dan imunitas
mereka sudah tidak lagi dari ibu melainkan sistem imunologinya yang
mulai bekerja. Namun, karena bayi baru lahir sistem ini pada tubuh
belum berfungsi dengan baik.
Infeksi pada bayi baru lahir akan cepat menjalar dari infeksi lokal
dapat berubah menjadi infeksi umum. Diagnosis ini dapat ditegakkan
apabila cukup waspada terhadap kelainan tingkah laku bayi baru lahir
sebagai tanda awal infeksi umum di antaranya ialah malas minum,
gelisah atau tampak letargis, frekuensi pernafasan meningkat, berat
badan mendadak turun, muntah, dan diare (Prawirohardjo:388, 2014).
Fungsi perawatn disini ialah memberi perlindungan terhadap bayi
BBLR terhadap potensi infeksi. Oleh karena itu, bayi BBLR harus
dijaga agar tidak kontak langsung dengan sumber infeksi, salah satu
caranya yaitu selalu memperhatikan prinsip pencegahan infeksi
termasuk selalu mencuci tangan dan sesudah kontak dengan bayi
BBLR.
3. Pengawasan nutrisi/ASI
Refleks menelan BBLR belum sempurna, oleh sebab itu pemberian
nutrisi harus dilakukan dengan cermat yaitu dengan menentukan
pilihan susu, cara dan jadwal pemberian sesuai dengan kebutuhan
BBLR. Air Susu Ibu (ASI) adalah pilihan utama yang harus
didahulukan pemberiannya jika bayi bisa menghisap, jika bayi tidak
bisa menghisap maka ASI boleh di perah dan di tampung lalu
diberikan menggunakan sendok atau pemasangan sonde lambung bila
perlu. Jika ASI tidak keluar maka alternatif lain dengan memberikan
susu formula yang kandungnya mirip dengan ASI atau susu formula
khusus bayi BBLR (Prawirohardjo:377, 2014)(Proverawati, 2010).
Kebutuhan cairan untuk bayi baru lahir 120-150 ml/kg/hari atau
100-120 cal/kg/hari. Pemberian ini bertahap disesuaikan dengan
kemampuan bayi untuk sesegera mungkin mencukupi kebutuhan
cairan/kalori (Prawirohardjo:377, 2014).
4. Penimbangan berat badan ketat
Perubahan berat badan mencerminkan kondisi gizi atau nutrisi bayi
dan erat kaitannya dengan daya tahan tubuh, oleh sebab itu
penimbangan berat badan harus dilakukan dengan ketat
(Prawirohardjo:377, 2014). Berat badan bayi akan turun pada 7-10
hari pertama namun akan kembali seperti semula dalam 14 hari.
Setelah berat badan stabil, kemudian dipantau kenaikannya dalam tiga
bulan dengan perkiraan :
a. 150-200 gram seminggu untuk bayi <1.500 gram (20-30 gram per
hari)
b. 200-250 gram seminggu untuk bayi 1.500-2.500 gram (30-35
gram per hari)

H. Pemantauan BBLR
Saat dirawat :

1. Terapi pemberian terapi harus dipenuhi sesuai kondisi bayi BBLR


2. Tumbuh kembang
a. Pantau berat badan bayi secara periodik
b. Bayi akan mengalami penurunan berat badan selama 7-10 hari
pertama (sampai 10% pada bayi dengan BB >1500 gram dan 15%
untuk bayi BB <1500 gram)
c. Pemenuhan nutrisi
Bila bayi sudah mendapat ASI secara penuh (semua kategori
BBLR) dan telah berusia 7 hari :
1) Tingkatkan jumlah ASI dengan 20ml/kg/hari sampai mencapai
jumlah 180ml/kg/hari
2) Tingkatkan jumlah ASI sesuai dengan kenaikan berat badan
bayi agar jumlah pemberian ASI tetap 180ml/kg/hari
3) Apabila kenaikan BB tidak adekuat maka tingkatkan sampai
200ml/kg/hari.

Saat pulang :

1) Anjurkan ibu atau orangtua melanjutkan melakukan perawatan metode


kanguru (PMK) dirumah secara rutin selama 1 jam setiap harinya.
2) Pemberian ASI ekslusif
3) Pemantauan tumbuh kembang dengan rutin membawa ke Posyandu
atau unit pelayanan kesehatan lain.
HIPOTERMI

A. Prinsip dasar

Suhu normal bayi baru lahir berkisar 36,5C 37,5C (suhu ketiak).
Gejala awal hipotermia apabila suhu < 36C atau kedua kaki dan tangan teraba
dingin. Bila seluruh tubuh bayi teraba dingin, maka bayi sudah mengalami
hipotermia sedang (suhu 32C -36C). Disebut hipotermia kuat bila suhutubuh <
32C. Untuk mengukur suhu hipotermia diperlukan termometer ukuran rendah
(low reading thermometer) yang dapat mengukur sampai 25C. Di samping
sebagaia suatu gejala, hipotermia dapat merupakan awal penyakit yang berakhir
dengan kematian. Hipotermia menyebabkan terjadinya penyempiyan pembuluh
drah, yang mengakibatkan terjadinya metabolik anerobik, mengingkatkan
kebutuhan oksigen, mengakibatkan hipoksemia dan berlanjut dengan kematian.

B. Pengertian hipotermi

Bayi hipotermi adalah suhu tubuh (aksila) bayi turun dibawah 36C. Suhu
tubuh yang rebdah (hipotermi) dapat disebabkan oleh terpajan lingkungan yang
dingin (suhu lingkungan rendah, permukaan dingin, atau aliran udara), atau bayi
mungkin basah atau diberi baju yang tidak sesuai dengan usia dan ukurannya.

Hupotermi dibedakan atas :


a. Hipotermi sedang (32-36C)
b. Hipotermi berat (<32C)

C. Penyebab hipotermi
1. Ketika bayi baru lahir tidak segera dikeringkan

Bayi lahir dengan tubuh basah oleh air ketuban. Aliran udara melalui
jendela/pintu yang terbuka akan mempercepat terjadinya penguapan dan bayi
lebih cepat kehilangan panas tubuh. Akibatnya dapat timbul serangan dingin (cold
stress) yang merupakan gejala awal hipotermi. Bayi kedinginan biasanya tidak
memperlihatkan geja menggigil oleh karena kontrol suhunya belum sempurna.
Hail ini menyebabkan gejala awal hipotermia seringkali tidak terdeteksi oleh
ibu/keluarga bayi atau penolong persalinan.

Untuk mencegah terjadinya seangan dingin, setiap bayi lahir harus segera
dikeringkan dengan handuk yang kering dan bersih (sebaiknya handuk tersebut
dihangatkan terlebih dahulu). Mengeringkan tubuh bayi harus dilakukan dengan
cepat mulai kepala kemudian seluruh tubuh. Handuk yang basah harus diganti
dengan handuk yang lain yang kering dan hangat. Setelah tubuh bayi kering
segera dibungkus dengan selimut, diberi topi/tutup kepala, kaus tangan dan kaki.
Selanjutnya bayi diletakkan dengan telungkup diatas dada untuk mendapat
kehangatan dari dekapanibu. Penilainan derajay vatalitas bayi srgera lahir
hendaknya dilakukan dibawah lampu agar terang dan sinar lampu dapat memanasi
tubuh bayi.

2. Memandikan bayi segera setelah lahir

Untuk mencegah terjadinya serangan dingin, ibu/keluarga dan penolong


persalinan menunda memandikan bayi.

a. Pada bayi baru lahir sehat yaitu lahir cukup bulan, berat > 2.500 gram,
langsung menagis kuat, maka memandikan bayi ditunda selama 24 jam
setelah kelahiran pada saat memandikan bayi gunakan air hangat.
b. Pada bayi dengan risiko (tudak termasuk kriteria diatas), keadaan umum
bayi lemah atau bayi dengan berat lahir <2.000 gram, sebaiknya bayi
jangan dimandikan, ditunda beberapa hari sampai keadaan umum
membaik yaitu bila suhu tubuh bayi stabil, bayi sudah lebih kuat dan
dapat menghisap ASI dengan baik.
3. Bayi berat lahir rendah
Berat badan bayi 1500-2.500 gram
4. Bayi lahir sakit seperti asfiksia, infeksi sepsis dan sakit berat.
D. Gejala hipotermia bayi baru lahir

1. Bayi tidak mau minum/menetek.


2. Bayi tampak lesu atau mengantuk saja.
3. Tubuh bayi teraba dingin.
4. Dalam keadaan berat, denyut jantung bayi menurun dan kulit tubuh bayi
megeras (sklerema).

E. Klasifikais hipotermia

1. Hipotermia sedang (stres dingin)


a. Aktivitas berkurang, letargis.
b. Tangisan lemah.
c. Kulit berwarna tidak rata (cutis marmorata.
d. Kemampuan menghisap lemah.
e. Kaki teraba dingin.
2. Hipotermia berat (cidera dingin)
a. sama dengan hipotermia sedang .
b. bibir dankuku kebiruan.
c. Pernafasan lambat.
d. Pernafasan tidak teratur.
e. Bunyi jantung lambat.
f. Selanjutnya mungkin timbul hipoglikemia dan asidosis metabolik.
3. Stadium lanjut hipotermia
a. Muka, ujung kakidan tangan berwarna merah terang.
b. Bagian tubuh lainnya pucat.
c. Kulit mengeras merah dan timbul edema terutama pada punggung,
kaki dan tangan (sklerema).
F. Proses terjadinya hipotermi

Penurunan suhu tubuh pada bayi terjadi melalui:

Radiasi Dari objek ke panas bayi.

Contoh: timbangan bayi dingin tanpa alas.

Evaporasi karena penguapan cairan yang melekat pada kulut.

Contoh: air ketuban pada tubuh bayi baru lahir, tidak cepat
dikeringkan.

Konduksi panas tubuh diambil oleh suatu permukaan yang melekat di


tubuh.

Contoh: pakaian bayi yang basah tidak cepat diganti.

Konveksi penguapan dari tubuh ke udara.

Contoh: angin disekitar tubuh bayi baru lahir.

Mekanisme kehilangan panas pada bayi baru lahir


G. Penatalaksanaan hipotermia

1. Hipotermia berat

1. Hangatkan bayi dengan segera menggunakan pemanas radian yang


telah dihangatkan. Gunakan metode lain penghangatan kembali, jika
diperlukan.
2. Lepaskan baju yang dingin atau basah, jika ada. Beri bayi baju hangat
dan topi, dan tutupi dengan selimut hangat.
3. Atasi sepsis dan pertahankan slang IV dibawah pemanas radian untuk
menghangatkan cairan
4. Ukur glukosa darah, jika glukosa darah kurang dari 45mg/dl (2,6
mmol/l), ayasi glukosa darah yang rendah
5. Kaji bayi:
a) Periksa adanya tanda-tanda kedaruratan (yaitu frekuensi pernafasan
kurang dari 20 kali per menit, bernafas terengah-engah, tidak
bernafas, atau syok) setiap jam;
b) Ukur suhu tubuh bayi setiap jam:
c) Jika suhu tubuh bayi meningkat 0,5C per jam selama tiga jam
terakhir, penghangatan kembali berhasil; lanjutkan mengukur suhu
tubuh bayi setiap dua jam;
d) Jika suhu tubuh bayi tidak meningkat atau meningkat lebih lambat
dari 0,5C per jam, pastikan bahwa suhualat penghangat diatur
denagn benar.
6. Jika frekuensi pernafasan bayi lebih dari60 kali per menit atau bayi
mengalami tarikan dinding dada kedalam atau grunting pada saat
ekspirasi, atasi kesulitan bernafas
7. Kaji kesiapan makan setiap empat jam sampai suhu tubuh bayi dalam
rentang normal.
8. Jika bayi menunjukan tanda-tanda kesiapan menyusu, izinkan bayi
mulai menyusu:
a) Jika bayi tidak dapat menyusu, berikan perasan ASI dengan
menggunakan metode pemberian makan alternatif.
b) Jika bayi tidak mampu menyusu saa sekali, berikan perasan ASI
melalui slang lambung, saat suhu tubuh bayi mencapai 35C.
c) Ketika suhu tubuh bayi normal, ukur suhu tubuh setiap tiga jam
selam 12 jam
d) Jika suhu tubuh bayi tetap dalam rentang normal, hentikan
pengukuran.
e) Jika bayi makan baik dan tidak terdapat masalah lain yang
membutuhkan hospitalisasi, pulangkan bayi. Beri saran kepada ibu
tentang cara menjaga bayi tetap hangat dirumah.

2. Hipotermi sedang

a. Lepaskan baju yang dingin atau basah, jika ada.


b. Jika ibu ada, minta ia menghangatkan kembali bayi melakukan
kontak langsung, jika bayi tidak mengalami masalah lain.
c. Jika ibu tidak ada atau kontak langsung tidaj dapat dilakukan:
Beri bayi baju hangat dan topi, dan tutupi dengan selimut hangat;
Hangatkan bayi dengan menggunakan pemanas radian. Gunakan
metode penghangatan kembali yang lain, jika diperlukan.
d. Dorong ibu menyusui lebih sering. Jika bayi tidak dapat menyusu,
berikan perasan ASI dengan menggunakan metode pemberian
makan alternatif
e. Ukur klukosa darah. Jika glukosa darah kurang dari 45 mg/dl (2,6
mmol/l), atasi glukosa darah yang rendah
f. Jika frekuensi pernafasan bayi lebih dari 60 kali per menit atau
bayi lebih dari 60 kali per menit atau bayi mengalami tarikan
dinding dada ke dalam atau grunting pada saat ekspirasi, atasi
kesulitan pernafasa.
g. Ukur suhu tubuh bayi setiap jam selama tiga jam:
Jika suhu tubuh bayi meninhkat minimal 0,5C per jam selama tiga
jam terakhir, penghangatan kembali berhasil; lanjutkan mengukur
suhu tubuh bayi stiap dua jam;
Jika suhu tubuh bayi tidakmeningkat atau meningkat lebih lambat
dari 0,5C per jam, periksa adanya tanda-tanda sepsis (mis., makan
denganburuk, muntah, kesulitan bernafas);
Ketika suhu tubuh bayi normal, ukur suhu tubuh setiap tiga
jamselama 12 jam;
Jika suhu tubuh bayi tetap dalam rentang normal, hentikan
pengukuran.
h. Jika bayi makan dengan baik dan tidak terdapat asalah lain yang
membutuhkan hospitalisasi, pulangkan bayi. Beri saran kepada ibu
tentang cara menjaga bayi tetap hangat di rumah.

5. DIAGNOSIS

Riwayat Pemeriksaan Kemungkinan


Diagnosis
Bayi terpajan Suhu tubuh Hipotermia berat
lingkungan yang kurang dari 32C
dingin Kesulitan bernafas
Waktu awitan Frekuensi jantung
hari ke-1 atau hari kurang dari 100
berikutnya kali per menit
Makan dengan
buruk atau tidak
makan
Letargi
Pengerasan kulit
Pernafasan lambat
dan dangkal
Bayi terpajan Suhu tubuh 32C Hipotermi sedang
lingkungan yang sampai 36,4C
dingin Kesulitan bernafas
Waktu awitan Frekuensi jantung
hari ke-1 atau hari kurang dari 100
berikutnya kali per menit
Makan dengan
buruk atau tidak
makan
letargi

Perawatan Bayi dalam Inkubator

Incubator yang canggih dilengkapi oleh alat pengatur suhu dan kelembaban
agar bayi dapat mempertahankan suhu tubuhnya yang normal, alat oksigen yang
dapat diatur, serta kelengkapan lain untuk mengurangi kontaminasi bila incubator
dibersihkan. Kemampuan bayi berat lahir rendah dan bayi sakit untuk hidup lebih
besar, bila mereka dira wat pada atau mendekati suhu lingkungan yang netral.
Suhu ini ditetapkan dengan mengatur suhu permukaan yang terpapar radiasi,
kelembaban yang relative, dan aliran udara sehingga produksi panas (yang diukur
dengan konsumsi oksigen) sendiri mungkin dan suhu tubuh bayi dapat
dipertahankan dalam batas normal. Bayi yang besar dan lebih tua memerlukan
suhu lingkungan yang lebih rendah dari bayi yang lebih kecil dan lebih muda.
Suhu incubator yang optimum diperlukan agar panas yang hilang dan konsumsi
oksigen terjadi minimal, sehingga bayi telanjang pun dapat mempertahankan suhu
tubuhnya sekitar 36,5oC-37oC. tingginya suhu lingkungan ini tergantung dari
besar dan kematangan bayi. Dalam keadaan tertentu, bayi yang sangat prematur
tidak hanya memerlukan incubator untuk mengatur suhu tubuhnya, tetapi juga
memerlukan pleksiglas penahan panas atau topi maupun pakaian.
Mempertahankan kelembaban nisbi 40-60% diperlukan dalam membantu
stabilisasi suhu tubuh, yaitu dengan cara sebagai berikut :
1. Mengurangi kehilangan panas pada suhu lingkungan yang rendah ,
2. Mencegah kekeringkan dan iritasi pada selaput lender jalan nafas,
terutama pada pemberian oksigen dan selama pemasangan intubasi
endotrakea atau nasotrakea, dan
3. Mengencerkan sekresi yang kental serta mengurangi kehilangan cairan
insensible dari paru.

Pemberian oksigen untuk mengurangi bahaya hipoksia dan sirkulasi yang


tidak memuaskan harus berhati-hati agar tidak terjadi hiperoksia yang dapat
menyebabkan fibroplasias retrorental dan fibroplasias paru. Bila mungkin
pemberian oksigen dilakukan melalui tudung kepala, dengan alat CPAP
(continous positive airway pressure), atau dengan pipa endotrakeal untuk
pemberian konsentrasi oksigen yang aman dan satbil. Pemantauan tekanan
oksigen (pO2) arteri pada bayi yang mendapat oksigen harus dilakukan terus-
menerus agar porsi oksigen dapat diatur dan disesuaikan, sehingga bayi terhindar
dari bahaya hipoksia maupun hiperoksia. Dalam pemantauan oksigen yang efektif
dapat pula digunakan elektroda oksigen melalui kulit secara rutin diklinik.
Analisis gas darah kapler tidak cukup untk menetapkan kadar oksigen dalam
pembuluh darah arteri. Seandainya tidak ada incubator, pengatturan suhu dan
kelembaban dapat diatur dengan memberikan sinar panas, selimut, lampu panas,
bantalan panas, dan botol air hangat, dosertai dengan pengaturan suhu dan
kelembaban ruangan. Mungkin pula diperlukan pemberian oksigen melalui topeng
atau pipa intubasi.

Bayi yang berumur beberapa hari/minggu harus dikeluarkan dari incubator


apabila keadaan bayi dalam ruangan biasa tidak mengalami perubahan suhu,
warna kulit, aktivitas, atau akibat buruk lainnya.
Ishe Fujianti
Linda Melani
Puspitasari Herdiyani
Wulan Ayu Suciani
3-B