Anda di halaman 1dari 12

PENENTUAN KADAR IODIN DALAM URINE DENGAN

METODE MICROPLATE

Nurmayanti

260110140005

I. TUJUAN
Mampu menentukan iodine dalam urin dengan metode microplate.
II. PRINSIP
1.1 Iodin
Iodin merupakan suatu elemen penting dalam tubuh dan merupakan mikronutrien
yang penting yang diperlukan oleh tubuh untuk membentuk hormone tiroksin
(T4) dan hormone triiodotironin (T3). Iodin yang dibebaskan dapat dimanfaatkan
kembali oleh kelenjar toroid sementara sisanya yodium dieksresikan dalam urin
(IOM,2001).
1.2 Urine
Urine adalah cairan sisa yang dieksresikan oleh ginjal yang kemudian akan
dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinalisasi. Eksresi urine diperlukan
untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan
untuk menjaga homeostatis tubuh (Corwin,2000).
1.3 Reaksi Sandell-Kolthoff
Suatu metode untuk menganalisa suatu iodin dalam urin berdasarkan peranan
iodine sebagai katalisator reduksi ceric ammonium sulfat (berwarna kuning)
menjadi bentuk cerrous (tanpa warna) dengan adanya asam arsenic (Sartini,2012).

III. REAKSI
2Ce4+(aq) + As3+ [I-] 2Ce3+(aq) + As5+(aq)
(Sokolik et al,2011)
IV. TEORI DASAR

Iodin (I) diperlukan tubuh untuk membentuk tiroksin, suatu hormon dalam
kelenjar tiroid. Tiroksin merupakan hormon utama yang dikeluarkan oleh kelenjar
tiroid. Setiap molekul tiroksin mengandung empat atom iodine. Sebagian besar iodin
diserap melalui usus halus, dan sebagian kecil langsung masuk ke dalam saluran
darah melalui dinding lambung. Sebagian iodin masuk ke dalam kelenjar tiroid, yang
kadarnya 25 kali lebih tinggi dibanding yang ada dalam darah. Lebih dari setengah
iodin dalam tubuh terdapat pada kelenjar perisai (tiroid). Meskipun sebagian besar
iodin tubuh terdapat dalam kelenjar tiroid, iodin juga ditemukan dalam kelenjar
ludah, lambung, usus halus, kulit, rambut, kelenjar susu, plasenta, dan ovarium
(Stangl et al. 2000).

Bila asupan iodium dalam makanan turun dibawah 10 g/hari, maka sintesis
hormon thyroid tidak adekuat (cukup/optimal), sekresi menurun. Akibat peningkatan
TSH, terjadi hipertrofi tiroid, menimbulkan suatu gondok defisiensi iodium (Ganong,
2005).
Konsentrasi iodine dalam urin merupakan penanda biokimia yang baik untuk
mengontrol gangguan akibat kekurangan Iodin (GAKI). Terdapat beberapa metode
berdasarkan reaksi Sandell-Kothoff yang digunakan di laboratorium di seluruh dunia,
yaitu Metode Asam Klorida merupakan metode yang paling umum digunakan,
meskipun memberikan pengukuran yang akurat tetapi metode ini juga memiliki
kelemahan yaitu produksi limbah beracun, kebocoran gas selama digesti sampel
sehingga butuh penutup khusus. Selain itu terdapat Metode Alternatif yang
menggunakan Digesti Amonium Persulfat, metode ini dilaporkan tidak berbahaya,
non eksplosif, dan mudah digunakan (Ohasi,2000).
Sebagian besar metode analisis pada penentuan konsentrasi iodin dalam urin
didasarkan pada pengukuran spektrofotometri reaksi Sandell-Kolthoff. Prosedur ini,
mengukur jumlah iodin bergantung pada pengurangan iodin yang dikatalisasi dari
reaksi tetra-amonium cerium (IV) sulfat (warna kuning) ke bentuk arsenit (tidak
berwarna). Hal ini dapat dilakukan secara manual atau otomatis untuk derajat yang
berbeda, misalnya menggunakan metode microplate (Haap et al., 2017).
V. ALAT DAN BAHAN
5.1 Alat :
1. Erlenmeyer
2. Kaset stainless stell
3. Kulkas
4. Microplate
5. Microplate reader
6. Oven
7. Penyaring
8. Propilen 96-well microplate
9. Waterbath

5.2 Bahan
1. Amonium persulfat (NH4)2S2O8)
2. Arsen trioksida (As2O3)
3. Asam Perklorat
4. Asam sulfat (H2SO4)
6. Aquadest
7. Kalium Iodat (KIO3)
8. Natrium hidroksida (NaOH)
9. Natrium klorida (NaCl)
10. Sampel urin
11. Tetraamonium serium (IV) sulfat dihidrat ((NH4)4Ce(SO4)4.2H2O)

VI. PROSEDUR DAN HASIL


6.1 Pembuatan Larutan Reagen

No. Perlakuan Hasil


1. Larutan Ceric Amonium Sulfat 0,019 Reagen Ceric
mol/L Amonium Sulfat 0,019
Melarutkan 240 mg tetraamonium mol/L siap digunakan.
serium (IV) sulfat dihidrat dalam
1,75 mol/L asam sulfat.
Menambahkan hingga 20 mL
dengan larutan asam sulfat yang
sama.
2. Pengumpulan Sampel Urine Sampel urin
Melakukan pengumpulan urin didapatkan dari
oleh masing-masing subjek praktikan Shift A1
penelitian

6.2 Prosedur Pengujian Metode Alternative Project Delivery Method APDM :


Metode Microplate

No. Perlakuan Hasil


1. Memipet sebanyak 50 l kalibrator 50 l sampel urin
dan sampel urin ke dalam well dan 50 l kalibrator
polypropylene plate (PP) di dalam well.
Menambahkan larutan ammonium Masing-masing
persulfat sebanyak 0,87 mol/L bercampur dengan
ammonium
persulfat
Memasukkan dalam kaset lalu Well dimasukkan
tutup rapat kedalam kaset dan
tertutup rapat
Menyimpan selama 60 menit di Well yang berisi
dalam oven pada suhu 900C selama sampel urin dan
1,5 jam kalibrator
dipanaskan
Membuka tutup kaset dan Well yang berisi
mendinginkan kaset untuk sampel urin dan
menghindari kondensasi uap kalibrator dalam
dibagian atas well. keadaan dingin
Memindahkan kalibrator iodine 50 L sampel urin
(blanko) dan sampel urin masing- dan blanko didalam
masing 50 L kedalam well yang well yang baru
baru
Menambahkan Asam arsenat dan 50 L sampel urin
cerric ammonium sulfat dengan dan blanko
cepat. bercampur dengan
asam arsenat dan
ammonium sulfat
Larutan didiamkan selama 30 Larutan sampel urin
menit pada suhu 250C. bereaksi dengan
reagen
Lalu dilakukan pengukuran Didapatkan hasil
absorbansi pada panjang rata rata absorbansi
gelombang 405 nm sampel urin, dan
diketahui intensitas
warna urin.

VII. DATA PENGAMATAN


7.1 Pembuatan Larutan Ceric Ammonium Sulfat 0,019 mol/L
6
=
20 500
20 6
x =
500
120
x=
500
x = 0,24 gram =

7.2 Penentuan Kurva Kalibrasi


Tabel Absorbansi Larutan Baku
Konsentrasi Log Konsentrasi Absorbansi
1 2 Rata -rata
3,90625 0,5917 0,834 0,89 0,65707
7,8125 0,8927 0,831 0,712 0,62292
15,625 1,1938 0,688 0,786 0,5932
31,25 1,4948 0,803 0,754 0,55725
62,50 1,7958 0,517 0,441 0,4835
125 2,0969 0,549 0,469 0,48575
250 2,3979 0,485 0,44 0,4625

Gambar Kurva Baku Penentuan Iodin dalam Urin

Kurva Baku
0.7

0.6

0.5
Absorbansi

0.4 y = -0.1148x + 0.7234


R = 0.9588
0.3

0.2

0.1

0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3
Log Konsentrasi

Persamaan linear: y = -0.1148x + 0.7234

Penentuan Kadar Iodin dalam Sampel Urin


Untuk memperoleh kadar iodin dalam urin dilakukan dengan memasukkan nilai
absorbansi rata-rata sampel urin ke dalam persamaan linear.
Absorbansi Log Konsentrasi
Sampel Konsentrasi Iodin
I II III IV Rata-rata Iodin (mg/L)
1 0.815 0.526 0.725 0.482 0.637 0.7526 5.6572
2 0.48 0.814 0.41 0.911 0.65375 0.7483 5.6014
3 0.674 0.581 0.67 0.571 0.624 0.8659 7.3435
4 1.015 0.6 1.078 0.727 0.855 -1.1463 0.0714
5 0.401 0.622 0.42 0.423 0.4665 2.2378 172.902
6 0.931 0.617 1.051 0.666 0.81625 -0.8088 0.1553
7 0.66 0.463 0.609 0.376 0.527 1.7108 51.3807
8 0.71 0.759 0.594 0.78 0.71075 0.1102 1.2888
9 0.531 0.617 0.487 0.461 0.524 1.7369 54.5632
0.
10 0.376 0.411 0.475 0.46275 2.2705 186.4232
589
Perhitungan Kadar Iodin dalam Sampel Urin
Sampel 1
y = -0.1148x + 0.7234
0.637 = -0.1148x + 0.7234
0.7234 0.637
x = 0.1148

x = 0.7526 log kosentrasi


Konsentrasi = antilog 0.7526= 5.6572
Sampel 2
y = -0.1148x + 0.7234
0.65375= -0.1148x + 0.7234
0.72340.65375
x = 0.1148

x = 0.7483 log kosentrasi


Konsentrasi = antilog 0.7483= 5.6014
Sampel 3
y = -0.1148x + 0.7234
0.624 = -0.1148x + 0.7234
0.7234 0.624
x = 0.1148

x = 0.8659 log kosentrasi


Konsentrasi = antilog 0.8659= 7.3435

Sampel 4
y = -0.1148x + 0.7234
0.855 = -0.1148x + 0.7234
0.7234 0.855
x = 0.1148

x = -1.1463 log kosentrasi


Konsentrasi = antilog -1.1463= 0.0714
Sampel 5
y = -0.1148x + 0.7234
0.4665 = -0.1148x + 0.7234
0.7234 0.4665
x = 0.1148
x = 2.2378 log kosentrasi
Konsentrasi = antilog 2.2378= 172.902
Sampel 6
y = -0.1148x + 0.7234
0.81625= -0.1148x + 0.7234
0.7234 0.81625
x = 0.1148

x = -0.8088 log kosentrasi


Konsentrasi = antilog -0.8088= 0.1553
Sampel 7
y = -0.1148x + 0.7234
0.527 = -0.1148x + 0.7234
0.72340.527
x = 0.1148

x =1.7108 log kosentrasi


Konsentrasi = antilog 1.7108= 51.3807
Sampel 8
y = -0.1148x + 0.7234
0.71075= -0.1148x + 0.7234
0.72340.71075
x = 0.1148

x =0.1102 log kosentrasi


Konsentrasi = antilog 0.1102= 1.2888
Sampel 9
y = -0.1148x + 0.7234
0.524 = -0.1148x + 0.7234
0.72340.524
x = 0.1148

x =1.7369 log kosentrasi


Konsentrasi = antilog 1.7369= 54.5632
Sampel 10
y = -0.1148x + 0.7234
0.46275= -0.1148x + 0.7234
0.72340.46275
x = 0.1148

x =2.2705 log kosentrasi


Konsentrasi = antilog 2.2705= 186.4232

SIMPULAN

Dari 10 sampel dalam kelompok didapatkan rata-rata absorbansi, hasil rata-rata


absorbansi tertinggi yaitu pada sampel 4 dengan rata-rata absorbansi menunjukkan 0,855,
sedangkan absorbansi terendah yaitu pada sampel 10 dengan nilai rata-rata absorbansi
0,4627, sedangkan untuk hasil perhitungan konsentrasi iodine dalam urine didapatkan
konsentrasi tertinggi yaitu terdapat pada sampel 10 dengan nilai konsentrasi 186.4232 mg/L
dan konsentrasi iodin terendah terdapat pada sampel 4 dengan nilai konsentrasi 0.0714 mg/L.
Nilai normal dari iodine dalam urin yaitu 100-200 g/L atau sekitar 0,1-0,2mg/L, dari hasil
percobaan tersebut dapat diketahui jika keduanya melebihi dan kurang dari kadar normal
iodine. Namun hasil tersebut belum secara pasti akurat, karena dalam percobaan penggunaan
suhu yang diturunkan dari 1100C menjadi 900C bisa saja menjadi penyebab kurang akuratnya
hasil yang didapat.

DAFTAR PUSTAKA

Corwin,E.J. 2000. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC

Ganong, W.F. 2005. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Terjemahan oleh Novrianti
Andita. 2008. Jakarta : EGC
Haap, M., Roth, H., Huber, T., Dittmann., Wahl, R. 2017. Urinary Iodine :
Comparison of a Simple Method for Its Determination in Microplates with
Measurement by Inductively-Coupled Plasma Mass Spectrometry. Nature Sci Rep
Vol. 7 : 39835
IOM. 2001. Iodine in : Dietary Reference Intakes for Vitamin A, Vitamin K, Arsenic,Boron,
Chromium, Copper, Iodine, Iron, Manganese, Molybdenum, Nickel, Silicon,
Vanadium, and Zinc. Food and Nutrition Board. Washington DC : National Academy
Press.
Mann, S.T. 2012. Buku Ajar Ilmu Gizi Edisi IV. Jakarta : EGC.
Sartini. 2012. Hubungan Antara Eksresi Iodium Urin dan Eksresi Tiosianat Urin dengan
Total Goiter. Available at
http://eprints.undip.ac.id/46166/3/A.A._Gede_Suprihatin_Suputra_22010111120007_
Lap.KTI_Bab2.pdf [diakses pada tanggal 7 Maret 2017]

Stangl, G.L., F.J. Schwarz, H. Muller, and M.Kirchgessner. 2000. Evaluation of the cobalt
requirement of beef cattle based on vitamin B folate, homocysteine and
methylmalonic acid. Br. J. Nutr. 84: 645653.
Ohashi. T.,Yamaki. M., Chandrakant S.,Madhu G.,Minoru Irie. 2000. Simple Microplate
Method for Determination of Urinary Iodine. Clinical Chemistry. 46:4