Anda di halaman 1dari 16

TUGAS PAPER

PENGANTAR FISIKA ZAT PADAT


SIFAT DAN BAHAN MAGNET

Disusun oleh :

1. Melany Putri (140310130029)

2. Lisa Putri Kusuma (140310130039)

DEPARTEMEN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS PADJADJARAN

2016
Bahan-bahan yang ada di alam semesta masing-masing memiliki sifat-sifat yang khas
atau karekteristik yang dapat dimanfaatkan untuk proses industri. Perkembangan, penemuan
dan pemilihan bahan-bahan sangat menentukan proses dan hasil suatu industri, karena bahan-
bahan memiliki sifat dan karakteristik yang berbeda-beda dimana sifat dan karakteristik
bahan ditentukan oleh struktur intrinsik penyusun bahan tersebut. Salah satu jenis bahan di
alam yang banyak digunakan untuk proses industri adalah jenis bahan magnetik.

Magnet dapat dibuat dari bahan besi, baja, dan campuran logam serta telah banyak
dimanfaatkan untuk industri otomotif dan lainnya. Sebuah magnet terdiri atas magnet-magnet
kecil yang memiliki arah yang sama (tersusun teratur), magnet-magnet kecil ini disebut
magnet elementer. Pada logam yang bukan magnet, magnet elementernya mempunyai arah
sembarangan (tidak teratur) sehingga efeknya saling meniadakan, yang mengakibatkan tidak
adanya kutub-kutub magnet pada ujung logam. Setiap magnet memiliki dua kutub, yaitu:
utara dan selatan. Kutub magnet adalah daerah yang berada pada ujung-ujung magnet dengan
kekuatan magnet yang paling besar berada pada kutub-kutubnya. Berdasarkan sifat
kemagnetannya bahan magnet dikelompokkan menjadi tiga jenis yaitu : diamagnetik,
paramagnetik dan feromagnetik. Masing-masing jenis bahan tersebut memiliki sifat dan
karakteristik yang khas dan berbeda-beda.

1. Magnet
Magnet atau magnit adalah suatu obyek yang mempunyai suatu medan magnet. Asal
kata magnet diduga dari kata magnesia yaitu nama suatu daerah di Asia kecil. Menurut cerita
di daerah itu sekitar 4.000 tahun yang lalu telah ditemukan sejenis batu yang memiliki sifat
dapat menarik besi atau baja atau campuran logam lainnya. Pada awal abad ke-12, magnet
mulai digunakan sebagai kompas karena sifatnya yang selalu menunjuk arah utara dan selatan
bumi. Sifat kutub magnet mulai diselidiki oleh beberapa ilmuwan, diantaranya adalah:

Pierre de Maricourt (1269) menemukan garis medan magnet pada magnet


berbentuk bola.
William Gilbert (1600) menemukan sifat kemagnetan bumi.
John Michell (1750) menemukan hubungan gaya magnet dengan jarak antar
magnet.
HC. Oersted, Marie Ampere, Biot dan Savart (awal abad 19) menemukan
hubungan listrik dan magnetisme.

Paper Sifat dan Bahan Magnet


Disusun oleh Melany Putri (140310130029) dan Lisa Putri Kusuma (140310130039)
Departemen Fisika Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Padjadjaran
M. Faraday dan J. Henry (1830) menemukan hubungan medan magnet dengan
medan listrik.
J. C. Maxwell (1860) menyusun teori dan konsep elektromagnetik.

Benda yang dapat menarik besi atau baja inilah yang disebut magnet. Di dalam
kehidupan sehari-hari kata magnet sudah sangat familiar atau sering di dengar, namun
sering juga berpikir bahwa jika mendengar kata magnet selalu berkonotasi menarik benda.
Untuk bisa mengambil suatu barang dari logam (contoh obeng besi) hanya dengan sebuah
magnet, misalkan pada peralatan perbengkelan biasanya dilengkapi dengan sifat magnet
sehingga memudahkan untuk mengambil benda yang jatuh di tempat yang sulit dijangkau
oleh tangan secara langsung. Bahkan banyak peralatan yang sering digunakan, antara lain bel
listrik, telepon, dinamo, alat-alat ukur listrik, kompas yang semuanya menggunakan bahan
magnet.

Sebuah magnet terdiri atas magnet-magnet kecil yang memiliki arah yang sama
(tersusun teratur), magnet-magnet kecil ini disebut magnet elementer. Pada logam yang
bukan magnet, magnet elementernya mempunyai arah sembarangan (tidak teratur) sehingga
efeknya saling meniadakan, yang mengakibatkan tidak adanya kutub-kutub magnet pada
ujung logam. Setiap magnet memiliki dua kutub, yaitu: utara dan selatan. Kutub magnet
adalah daerah yang berada pada ujung-ujung magnet dengan kekuatan magnet yang paling
besar berada pada kutub-kutubnya. Garis gaya magnet adalah garis yang berasal dari kutub
utara menuju kutub selatan. untuk menggambarkan dan mengetahui garis gaya ini,
sebarkanlah serbuk besi di atas sebuah kertas, di bawah kertas kita dekatkan sepotong
magnet, serbuk besi tersebut mengatur posisinya sendiri dengan jelas membentuk garis di
sekitar magnet yang menggambarkan garis gaya.

Gambar 2.1. Kutub magnet dan garis gaya magnet

Magnet dapat menarik benda lain, beberapa benda bahkan tertarik lebih kuat dari
yang lain, yaitu bahan logam. Namun tidak semua logam mempunyai daya tarik yang sama
terhadap magnet. Besi dan baja adalah dua contoh materi yang mempunyai daya tarik yang

Paper Sifat dan Bahan Magnet


Disusun oleh Melany Putri (140310130029) dan Lisa Putri Kusuma (140310130039)
Departemen Fisika Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Padjadjaran
tinggi oleh magnet. Sedangkan oksigen cair adalah contoh materi yang mempunyai daya tarik
yang rendah oleh magnet. Satuan intensitas magnet menurut sistem metrik Satuan
Internasional (SI) adalah Tesla dan SI unit untuk total fluks magnetik adalah weber (1
weber/m2 = 1 tesla) yang mempengaruhi luasan satu meter persegi.

2. Sifat Bahan Magnet


Tiga besaran penting dari sifat magnet adalah konsep medan magnet luar (H), konsep
induksi magnet (B) dan konsep magnetisasi (M).

Medan magnet adalah sebuah besaran yang muncul karena adanya pergerakan muatan
listrik (arus listrik) pada sebuah bahan magnetik. Hukum Biot-Savart dengan tepat
memperkirakan munculnya medan magnet di sekitar kawat berarus. Hukum Biot-Savart ini
memungkinkan kita untuk menghitung besarnya medan magnet H yang ditimbulkan oleh arus
listrik yang dapat dituliskan dengan persamaan:

adalah vektor medan magnet, i adalah arus, r adalah jarak antara kawat yang dialiri arus dengan

tempat perhitungan medan magnet vektor satuan arah radial dan adalah vektor yang
besarnya merupakan diferensial panjang dari kawat yang dialiri arus. Pengertian medan magnet
(H) dan induksi magnet (B) seringkali tertukar satu sama lain. Medan magnet H adalah sebuah
besaran yang muncul karena adanya pergerakan muatan listrik (arus listrik) pada sebuah bahan
magnetik (medium). Sedangkan respon dari bahan (medium) ketika pada bahan tersebut terdapat
medan magnet (H) yang ditimbulkan oleh arus listrik disebut induksi bagnet (B). Induksi magnet
ini menggmbarkan pula kerapatan fluks magnetik tiap satuan luas. Sehingga satuan untuk induksi
magnet ini adalah weber per meter persegi. Satu weber per meter persegi sama dengan 1 Tesla.
Setiap bahan magnet akan memiliki respon terhadap medan magnet yang dberikan. Respon
tersebut dijabarkan dalam sebuah besaran fisis yang disebut permeabilitas () yang secara
matematis dapat ditulis sebagai berikut:

Pada ruang bebas, nilai B akan sebanding dengan nilai H dengan satu konstanta pembanding
yaitu konstanta permeabilitas pada ruang hampa (0) yang nilainya 4 x 10-7 H m-1.

Magnetisasi adalah sebuah besaran fisika yang menggambarkan sifat magnetik dari
.
suatu material. Magnetisasi biasa dilambangkan dengan simbol merupakan sebuah

Paper Sifat dan Bahan Magnet


Disusun oleh Melany Putri (140310130029) dan Lisa Putri Kusuma (140310130039)
Departemen Fisika Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Padjadjaran
sebanding
vektor yang sangat erat berkaitan dengan induksi magnet. Secara matematis,
yang dituliskan :
dengan

Terlihat bahwa kontribusi dari magnetisasi dan medan magnet terhadap besarnya induksi
magnet memperlihatkan kesamaan. Hal tersebut kemudian dapat dijabarkan dalam bentuk
dan
persamaan sederhana yang menggambarkan kontribusi dari terhadap besarnya

sebagai berikut:

Besarnya M sebenarnya sangat tergantung dari sifat kemagnetan dari bahan yang disebut
momen magnetik. Arah momen magnetik dari atom bahan non magnetik adalah acak
sehingga momen magnetik resultannya menjadi nol. Sebaliknya di dalam bahan-bahan
magnetik, arah momen magnetik atom-atom bahan itu teratur sehingga momen magnetik
resultan tidak nol seperti ditampilkan pada gambar 2.2 berikut ini:

(a) (b)
Gambar 2.2. (a). Arah momen magnetik bahan non magnetik

(b). Arah momen magnetik bahan magnetik

Dalam kaitannya dengan momen magnetik ini, Magnetisasi dirumuskan sebagai


jumlah dari momen magnetik tiap unit volume. Berbeda dengan H yang dimuncukan oleh
arus listrik dari luar bahan, M di munculkan oleh resultan spin dan momentum orbital sudut
dari elektron yang ada pada bahan. Perbandingan antara besarnya M dan H didefinisikan
sebagai sebuah besaran fisis yang disebut suseptibilitas. Besarnya suseptibilitas
menggambarkan tipikal respon dari bahan magnetik terhadap medan magnet. Besaran ini
dapat mengelompokkan bahan magnet ke dalam beberapa kelompok bahan yaitu bahan
diamagnetik, paramagnetik, ferromagnetik, ferrimagnetik, antiferromagnetik, dan bahan
superkonduktor. Secara matematis, suseptibilitas dituliskan sebagai :

Paper Sifat dan Bahan Magnet


Disusun oleh Melany Putri (140310130029) dan Lisa Putri Kusuma (140310130039)
Departemen Fisika Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Padjadjaran
Berdasarkan tanda dan besar nilai suseptibilitas magnet suatu bahan dikelompokkan menjadi
sebagai berikut.

2.3. Klasifikasi Bahan Magnet

Bahan-bahan yang didekatkan dengan magnet memiliki respon yang berbeda. Ada
bahan yang ditarik oleh magnet dengan sangat kuat dan ada yang lemah, dan ada yang
ditolak.

Berdasarkan sifat kemagnetannya magnet dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

a. Magnet permanen. Magnet permanen adalah suatu bahan yang dapat menghasilkan
medan magnet yang besarnya tetap tanpa adanya pengaruh dari luar atau disebut
magnet alam karena memiliki sifat kemagnetan yang tetap. Magnet permanen dibuat
orang dalam berbagai bentuk dan dapat dibedakan menurut bentuknya menjadi :
Magnet batang
Magnet ladam (sepatu kuda)
Magnet jarum
Magnet silinder
Magnet lingkaran

b. Magnet remanen. Magnet remanen adalah suatu bahan yang hanya dapat
menghasilkan medan magnet yang bersifat sementara. Medan magnet remanen
dihasilkan dengan cara mengalirkan arus listrik atau digosok-gosokkan dengan
magnet alam. Bila suatu bahan pengantar dialiri arus listrik, besarnya medan magnet
yang dihasilkan tergantung pada besar arus listrik yang dialirkan. Medan magnet
remanen yang digunakan dalam praktek kebanyakan dihasilkan oleh arus dalam
kumparan yang berinti besi. Agar medan magnet yang dihasilkan cukup kuat,
kumparan diisi dengan besi atau bahan sejenis besi dan sistem ini dinamakan
elektromagnet. Keuntungan electromagnet adalah bahwa kemagnetannya dapat dibuat
sangat kuat, tergantung dengan arus yang dialirkan. Dan kemagnetannya dapat
dihilangkan dengan memutuskan arus listriknya.

Paper Sifat dan Bahan Magnet


Disusun oleh Melany Putri (140310130029) dan Lisa Putri Kusuma (140310130039)
Departemen Fisika Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Padjadjaran
Jika diklasifikasikan berdasarkan respon bahan terhadap suatu gaya magnet, maka secara
garis besar bahan magnet dapat dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu bahan feromagnetik,
bahan paramagnetik, dan bahan diamagnetik.

a. Ferromagnetik merupakan bahan yang dapat termagnetisasi tanpa adanya medan


magnet aplikasi secara spontan. Feromagnetik terjadi ketika ion paramagnetik pada
padatan terkunci bersama dengan momen magnetik pada semua titik memiliki arah
yang sama. Bahan ferromagnetik mempunyai resultan medan magnet atomis besar,
hal ini disebabkan oleh momen magnetik spin elektron. Pada bahan ini banyak spin
elektron yang tidak berpasangan, masing-masing spin elektron yang tidak
berpasangan ini akan menimbulkan medan magnetik, sehingga medan magnet total
yang dihasilkan oleh satu atom menjadi lebih besar (Halliday & Resnick, 1989).
Medan magnet darimasing-masing atom dalam bahan ferromagnetik sangat kuat,
sehingga interaksi diantara atom-atom tetangganya menyebabkan sebagian besar atom
akan mensejajarkan diri membentuk kelompok-kelompok, kelompok inilah yang
dikenal dengan domain. Domain-domain dalam bahan ferromagnetik, dalam
ketiadaan medan eksternal, momen magnet dalam tiap domain akan paralel, tetapi
domain-domain diorientasikan secara acak, dan yang lain akan terdistorsi karena
pengaruh medan eksternal. Domain dengan momen magnet paralel terhadap medan
eksternal akan mengembang, sementara yang lain mengerut. Semua domain akan
menyebariskan diri dengan medan eksternal pada titik saturasi, artinya bahwa setelah
seluruh domain sudah terarahkan, penambahan medan magnet luar tidak memberi
pengaruh apa-apa karena tidak ada lagi domain yang perlu disearahkan, keadaan ini
disebut dengan penjenuhan (saturasi). Bahan ini juga mempunyai sifat remanensi,
artinya bahwa setelah medan magnet luar dihilangkan, akan tetap memiliki medan
magnet, karena itu bahan ini sangat baik sebagai sumber magnet permanen.Sifat
kemagnetan bahan ferromagnetik akan hilang pada temperatur Currie. Temperatur
Currie untuk besi lemah adalah 770oC dan untuk baja adalah 1043o C. Nilai
suseptibilitasnya adalah lebih besar dari nol (>0) dan nilai permeabilitasnya ()
sangat besar (berkisar antara 10 sampai 105 Wb/Am)3.

b. Paramagnetik adalah bahan yang memiliki nilai magnetisasi yang lemah dengan nilai
suseptibilitas bernilai sangat kecil namun tidak negatif seperti bahan diamagnetik.
Bahan paramagnetik adalah bahan yang resultan medan magnet atomis masing-
masing atom/ molekulnya tidak nol, tetapi resultan medan magnet atomis total seluruh
Paper Sifat dan Bahan Magnet
Disusun oleh Melany Putri (140310130029) dan Lisa Putri Kusuma (140310130039)
Departemen Fisika Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Padjadjaran
atom/ molekul dalam bahan nol, hal ini disebabkan karena gerakan atom/ molekul
acak, sehingga resultan medan magnet atomis masing-masing atom saling
meniadakan (Halliday & Resnick, 1989). Di bawah pengaruh medan eksternal,
mereka mensejajarkan diri karena torsi yang dihasilkan. Sifat paramagnetik
ditimbulkan oleh momen magnetik spin yang menjadi terarah oleh medan magnet
luar.Bahan paramagnetik memiliki suseptibilitas positif artinya magnetisasi akan
searah dengan arah medan magnet luar yang diberikan. Nilai suseptibilitas berkisar
antara 10-3 sampai dengan 10-5.

c. Diamagnetik adalah bahan yang tidak memiliki total momen magnet permanen pada
tiap atomnya. Bahan diamagnetik adalah bahan yang resultan medan magnet atomis
masing-masing atom/ molekulya adalah nol, tetapi medan magnet akibat orbit dan
spin elektronnya tidak nol (Halliday & Resnick, 1989). Bahan diamagnetik tidak
mempunyai momen dipol magnet permanen. Jika bahan diamagnetik diberi medan
magnet luar, maka elektron-elektron dalam atom akan mengubah gerakannya
sedemikian rupa sehingga menghasilkan resultan medan magnet atomis yang arahnya
berlawanan dengan medan magnet luar tersebut. Sifat diamagnetik bahan ditimbulkan
oleh gerak orbital elektron. Karena atom mempunyai elektron orbital, maka semua
bahan bersifat diamagnetik. Suatu bahan dapat bersifat magnet apabila susunan atom
dalam bahan tersebut mempunyai spin elektron yang tidak berpasangan. Dalam bahan
diamagnetik hampir semua spin elektron berpasangan, akibatnya bahan ini tidak
menarik garis gaya.Hal ini disebabkan karena seluruh elektron saling berpasangan.
Kemagnetan yang dimiliki berasal dari medan magnet luar. Nilai suseptibilitasnya
adalah negatif (berkisar dari -10-5 sampai dengan -10-9 )3.

d. Antiferomagnetik Dalam bahan antiferomagnetik gaya antara atom-atom yang


bertetangga menyebabkan momen atomik berbasis dalam pasangan antisejajar ( anti
paralel). Momen magnetik netonya nol, dan bahan antiferomagnetik hanya
dipengaruhi sedikit oleh adanya medan magnetik eksternal. Efek seperti ini mula-
mula ditemukan dalam oksida mangan, kemudian beberapa ratus bahan
antiferomagnetik lainnya telah ditemukan. Banyak oksida, sulfida, dan klorida
termasuk dalam kelompok ini, misalnya oksida nikel (NiO), sulfida fero (FeS), dan
klorida kobalt (CoCl 2). Antiferomagnetisme hanya ada pada temperatur yang relatif
rendah, seringkali pada temperatur yang jauh lebih rendah dari temperatur kamar.

Paper Sifat dan Bahan Magnet


Disusun oleh Melany Putri (140310130029) dan Lisa Putri Kusuma (140310130039)
Departemen Fisika Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Padjadjaran
Efek ini belum termasuk efek yang penting dalam bidang keinsinyuran (teknik) pada
saat ini.

Bahan ferimagnetik juga menunjukkan arah yang antisejajar dari momen


atomik yang bertetangga, tetapi momennya tidak sama. Akibatnya ialah bahan ini
mempunyai tanggap (respons) yang besar terhadap medan magnetik eksternal,
walaupun tidak sebesar bahan feromagnetik. Kelompok terpenting bahan ferimagnetik
ialah ferit yang mempunyai konduktifitas yang rendah, beberapa orde lebih rendah
daripada semikonduktor. Kenyataan bahwa bahan ini mempunyai resistansi yang
lebih besar dari bahan feromgnetik mengakibatkan timbulnya arus induksi yang jauh
lebih kecil jika kita pasang medan bolak-balik (medan bersemilih) eperti dalam teras
transformator yang bekerja pada frekuensi tinggi. Arus yang tereduksi ini (arus eddy/
arus pusar) menghasilkan kerugian ohmik yang lebih kecil dalam teras trasformator.
Oksida besi magnetik (Fe3 o4), ferit nikel seng (Ni1/2 Zn1/2 Fe2 o4), dan ferit nikel (Ni
Fe2 o4) merupakan contoh bahan yang termasuk dalam kelas ini. Ferimagnetisme juga
hilang pada temperatur diatas temperatur Curie.

e. Superkonduktor Temperatur Rendah

Efek Meissner

Dalam tahun 1933 Meissner dan Ovhsenfeld menemukan bahwa


superkonduktor mengeluarkan flks magnetik selama superkonduktor itu
didinginkan di bawah Tc dalam medan magnet luar, yang berarti superkonduktor
ini berperilaku seperti bahan diamagnetik sempurna. Gejala ini dikenal sebagai
efek Meissner.

Medan Kritis dan Temperatur Kritis

Dalam tahun 1913, Kamerlingh Onnes mengamati bahwa suatu


superkonduktor memperoleh kembali keadaan normalnya di bawah temperatur
kritis jika superkonduktor itu ditempatkan suatu medan magnet yang cukup kuat.
Nilai medan magnet pada suatu Superkonduktivitas hilang disebut medan ambang
atau medan kritis, Hc, yang mempunyai orde beberapa ratus oersted untuk
sebagian superkonduktor murni. Medan ini berubah terhadap temperatur, jadi kita
mendapatkan bahwa keadaan superkonduktor adalah stabil hanya dalam suatu
rentangan tertentu dari medan magnet dan temperatur.

Paper Sifat dan Bahan Magnet


Disusun oleh Melany Putri (140310130029) dan Lisa Putri Kusuma (140310130039)
Departemen Fisika Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Padjadjaran
Macam, karakteristik dan kaijan Teori superkonduktor

Superkonduktor dikelompokan menjadi tipe I dan Tipe II tergantung pada perilakunya


dalam medan magnet luar. Superkonduktor yang mengikuti efek meisser secara ketat
disebut superkonduktor tipe I. sebagai contoh superkonduktor tipe I adalah timbal, yang
mempunyai prilaku magnetik. Superkonduktor ini menunjukan diamagnetisme sempurna
dibawah medan kritis H yang mempunyai orde 0,1 tesla untuk sebagian besar kasus.
Superkonduktor Tipe II tidak mengikuti efek Meissner secara ketat,dalam arti bahwa
medan magnet tidak menembus bahan ini secara tiba-tiba pada medan kritis.

Karakteristik Superkonduktor

1. Kisi Kristal tetap tidak berubah selama transisi dari keadaan normal ke
keadaan semikonduktor. Hal ini disimpulkan dari pengamatan bahwa posisi
garis-garis difraksi sinar-x tetap tidak berubah di bawah dan di atas
temperature transisi. Tidak adanya perubahan yang berarti dari intensitas garis-
garis difraksi juga menunjukkan bahwa perubahan dalam struktur elektron,
jika ada, adalah sangat kecil
2. Beberapa sifat superkonduktor, berubah bilamana ukuran bahan dikurangi
kira-kira di bawah 10-14 cm. Sebagai contoh, permeabilitas magnetic dari
bahan yang sangat kecil tidak nol dan bertambah selama temperature
mendekati Tc.
3. Temperatur kritis dan medan magnet kritis suatu superkonduktor berubah
sedikit karena pengaruh tegangan yang dibeikan. Suatu tegangan yang
menambah ukuran bahan akan menaikkan temperature transisi dan
menghasilkan perubahan medan magnet kritis yang bersesuaian.
4. Pemasukan takmurnian kimia mengubah hamper semua sifat superkonduktor,
khususnya sifat-sifat magnetic.
5. Sifat=-sifat elastic dan koefisien muai termal tetap tidak terpengaruh di bawah
dan di atas Tc.
6. Konduktivitas termal bahan berubah secara tak kontinyu selama transisi dari
keadaan normal ke keadaan superhantaran dan sebaliknya. Perubahan ini kecil
di dalam keadaan superhantaran untuk logam murni tetapi besar untuk
beberapa lakur. Namun demikian, dalam masing-masing keadaan itu,
konduktivitas termal bertambah secara kontinu terhadap temperature sampai
temperature kritis.

Paper Sifat dan Bahan Magnet


Disusun oleh Melany Putri (140310130029) dan Lisa Putri Kusuma (140310130039)
Departemen Fisika Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Padjadjaran
7. Keadaan superhantaran tidak menunjukkan efek termolisrik
8. Tidak ada perubahan sifat fotolistrik yang teramati.
9. Tidak ada perubahan reflektivitas yang teramati dalam daerah tampak dan
daerah infrared
10. Resistansi nol dari superkonduktor sedikit berubah dari frekuensi tinggi arus
bolak-balik (diatas 10 MHz)

Kajian Teoritik Superkonduktor

1. Termodinamika Transisi Superhantaran


Transisi antara keadaan normal dan keadaan superhantaran adalah reversible
secara termodinamika, seperti halnya transisi fase cair dan fase uap suatu
bahan. Oleh karena itu kita bisa menerapkan termodinamika pada transisi itu
dan mencari ungkapan perbedaan entropi antara keadaan normal dan keadaan
superhantaran dalam kurva medan kritis Hc terhadap T.
2. Persamaan London

Dalam keadaan superhantaran murni medan teredam secara eksponensial


selama kita berjalan dari suatu permukaan luar. Misalkan suatu
superkonduktor semi tak terhingga menempati ruang pada sisi positif sumbu x,
seperti dalam gambar (7.17) jika B(0) adalah medan pada batas bidang, maka
medan di dalam rendah. Dalam contoh ini medan magnet dianggap sejajar
dengan batas bidang tersebut. Jadi kita melihat bahwa L mengukur kedalaman
penembusan medan magnet dan besaran ini dikenal sebagai kedalaman
London. Kedalaman penembusan sesungguhnya tidak diberikan secara
seksama dengan L sendiri, karena persamaan London yang kita kenal
sekarang sangat disederhanakan.

3. Panjang Koherensi

Kedalaman penembusan London L merupakan panjang fundamental yang


mencirikan suatu superkonduktor. Suatu panjang yang bebas adalah panjang
koherensi . Panjang koheransi merupakan suatu ukuran jarak yang di
dalamnya konsentrasi elektron superhantaran tidak dapat berubah secara
drastis dalam medan magnet yang bervariasi dalam ruang.

Paper Sifat dan Bahan Magnet


Disusun oleh Melany Putri (140310130029) dan Lisa Putri Kusuma (140310130039)
Departemen Fisika Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Padjadjaran
4. Teori BCS

Keadaan superhantaran suatu logam bisa dipandang sebagai hasil perilaku


bersama elektron-elektron konduksi. Kerjasama atau koherensi elektron-
elektron terjadi bilaman sejumlah elektron menempati keadaan kuantum yang
sama. Namun demikian, hal ini tampaknya tidak mungkin menurut penalaran
statistik dan dinamik. Secara statistik, elektron-elektron adalah femion-femion,
sehingga menempati keadaan-keadaan kuantum tunggal. Kedua, gaya tolak
menolak elektron-elektron cenderung memisahkan mereka satu sama lain.
Tetapi, dalam logam gaya-gaya tolak itu tampaknya tidak sangat kuat untuk
melindungi. Menurut teori BCS dua kesukaran ini dapat diatasi dalam keadaan
tertentu.dalam kasus semacam itu, elektron-elektron tarik menarik satu sama
lain dalam jangkauan energi tertentu dan membentuk pasangan-pasangan.
5. Keadaan dasar BCS

Keadaan dasar BCS berbeda dengan keadaan dasar gas Fermi yang tidak
berinteraksi. dalam gas Fermi yang tidak berinteraksi, semua keadaan di
bawah permukaan Fermi ditempati dan semua berada diatas permukaan Fermi
adalah kosong.
6. Kuantitas fluks dalam cincin superkonduktor

Dalam keadaan-keadaan yang cocok kita mengamati efek-efek yang


menakjubkan berkaitan dengan penerobosan pasangan-pasangan elektron
superhantaran dari suatu superkonduktor melewati lapisan isolator ke dalam
sperkonduktor lainnya. Sambungan semacam itu disebut hubungan lemah.
Efek-efek penerobosan pasangan antara lain:

a. Efek Josephson arus searah. Arus searah mengalir melewati sambungan


tanpa adanya medan listrik atau medan magnet.
b. Efek Josephson arus bolak-balik. Tegangan serah yang diberikan pada
sambungan menyebabkan osilasi-osilasi arus pada sambungan itu. Efek ini
telah dimanfaatkan untuk menentukan secara seksama nilai h/e. selanjutnya
pemberian tegangan dengan frekuensi radio bersama-sama dengan tegangan
searah dapat menghasilkan arus searah yang melewati sambungan tersebut.
c. Interferensi kuantum makroskopik. Medan magnet searah yang diberikan
melalui rangkaian superhantaran yang mengandung dua sambungan
Paper Sifat dan Bahan Magnet
Disusun oleh Melany Putri (140310130029) dan Lisa Putri Kusuma (140310130039)
Departemen Fisika Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Padjadjaran
menyebabkan superarus maksimum memperlihatkan efek-efek interferensi
sebagai fungsi intensitas medan magnet. Efek ini dapat digunakan dalam
magnetometer yang peka. Adapun menjelaskan secara lebih rinci dari efek-
efek penerobosan pasangan tersebut akan dijelaskan berikut ini.

Aplikasi Bahan Magnet

Komponen magnet, khususnya keramik magnetik ferit merupakan komponen


yang sangat dibutuhkan dalam berbagai bidang, diantaranya adalah :

Bidang elektrik. Beberapa penggunaan ferit dibidang elektrik yaitu :

Pada sistem magnetik loudspeaker


Pada sistem eksitasi, kutub-kutub dan rotor multipolar motor listrik
Motor Horse Power Fractional
Motor DC
Loudspeaker

Bidang Instrumentasi Elektronika. Peralatan kontrol otomatis yang menggunakan


komponen keramik magnetik antara lain adalah :

Pengontrol temperatur : menggunakan transformator pulsa


Pagar elektronik (electric fence) : menggunakan transformator pulsa
Switch otomatis : reed relay, menggunakan inti ferit
Jam elektronik; menggunakan batang ferit dan kumparan untuk mengambil medan
magnet elektromagnetik jala-jala listrik. Tegangan induksi yang diperoleh digunakan
sebagai sumber tegangan roferens

Bidang Telekomunikasi. Dalam bidang telekomunikasi terutama telekomunikasi radio, ferit


frekuensi radio (R, F Ferrite) mempunyai aplikasi yang luas untuk peralatan telekomunikasi
radio, dari frekuensi audio sampai dengan frekuensi yang sangat tinggi (LF sampai dengan
VHF, UHF), adapun aplikasinya adalah:

Penerima radio (550 kHz-1600 kHz) : transformator IF dan penguat RF, inductor
isolator dan magnetik ferit.
Penerima radio HF : transformator dan magnetik filter (bandpass filter, choke),
transformator matching impedance.

Paper Sifat dan Bahan Magnet


Disusun oleh Melany Putri (140310130029) dan Lisa Putri Kusuma (140310130039)
Departemen Fisika Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Padjadjaran
Penerima TV : transformator tegangan tinggi Cahtode Ray Tube, deflection yoke
(untuk kumparan refleksi CRT), choke suppression TVI (Television Interference).
Penggeser gelombang radio (converter) dan penguat RF (RF Amplifier)
Penguat audio : RFI suppression choke, transformator frekuensi audio, magnetik
untuk kompensasi
Antenna
Jalur transmisi (transmission line)
RF wattmeter

Penggunaan keramik magnetik pada peralatan gelombang mikro adalah :

Isolator
Penggeser fasa (phase shiffer)
Circulator
Peralatan yang memanfaatkan efek faraday ; isolator dengan inti ferit berbentuk
silindris.
Rotater ferit ; gyrator yang terdiri atas suatu silinder ferit yang dikelilingi oleh magnet
permanen.
Jalur trasnmisi coaxial ; isolator frit digunakan dalam jalur transmisi ini dalam
kombinasi dengan bahan dielektrik.
Penguat ferrimagnetik/ferromagnetik : penguat menggunakan ferit.
Pembatas daya.
Isolator.

Ferit juga digunakan pada peralatan telekomunikasi yang lain, seperti pada telepon dan
telegrafi.

Bidang mekanik. Aplikasinya adalah sebagai berikut:

Pembuatan magnet untuk meteran air merupakan aplikasi komponen keramik


magnetik dalam bidang mekanik.
Untuk mainan.
Pemegang pada white board.

Paper Sifat dan Bahan Magnet


Disusun oleh Melany Putri (140310130029) dan Lisa Putri Kusuma (140310130039)
Departemen Fisika Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Padjadjaran
Daftar Putaka

Risdiana, Dr, M Eng. 2013. Diktat Fisika Zat Padat. Departemen Fisika Universitas
Padjadjaran. Jatinangor
E. Afza. 2011. Makalah Sifat dan bahan Magnet. Universitas Sumatera Utara

Paper Sifat dan Bahan Magnet


Disusun oleh Melany Putri (140310130029) dan Lisa Putri Kusuma (140310130039)
Departemen Fisika Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Padjadjaran
Paper Sifat dan Bahan Magnet
Disusun oleh Melany Putri (140310130029) dan Lisa Putri Kusuma (140310130039)
Departemen Fisika Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Padjadjaran