Anda di halaman 1dari 6

TUGAS PAPER

PENGANTAR FISIKA ZAT PADAT


ELEKTRON BEBAS

Disusun oleh :

1. Melany Putri (140310130029)

2. Lisa Putri Kusuma (140310130039)

DEPARTEMEN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS PADJADJARAN

2016
Secara umum setiap jenis atom mengandung elektron-elektron yang mengelilingi
sebuah inti seperti yang dijelaskan dalam model atom Bohr. Elektron-elektron tersebut dapat
dikatagorikan menjadi dua yaitu elektron yang terikat erat pada ikatan atom-atom dan
elektron bebas yang lebih dikenal dengan nama elektron valensi. Elektron bebas ini dapat
bergerak secara bebas di seluruh kristal. Elektron yang bebas bergerak tersebut dinamakan
elektron bebas. Sedangkan elektron yang tidak dapat bergerak bebas, yaitu elektron yang
terikat dalam atom maupun ikatan antar atom disebut elektron terikat atau elektron domestik.

Keberadaan elektron bebas pada sebuah kristal menjadi salah satu faktor yang harus
dipertimbangkan pada perhitungan kapasitas panas suatu zat padat. Teori-teori kapasitas
panas yang dibahas pada Bab 4 sesungguhnya membahas kapasitas panas zat padat yang
tergolong non logam dimana elektron-elektron yang menyusun atom-atomnya secara umum
tergolong ke dalam elektron domestik. Untuk golongan zat padat yang digolongkan sebagai
logam dimana elektron bebas sangat dominan sebagai penyusun kristal tersebut, teori
perhitungan kapasitas panasnya harus dirumuskan ulang dengan mempertimbangkan
keberadaan elektron bebas tersebut.

Seperti halnya pada pembahasan kapasitas panas pada Bab 4, keberadaan elektron
bebas yang mempengaruhi berbagai sifat suatu kristal akan ditinjau berdasarkan teori klasik
yang disebut elektron bebas klasik dan teori kuantum yang disebut elektron bebas
terkuantisasi.

5.1 Elektron Bebas Klasik

Besarnya kapasitas panas pada suhu tinggi atau suhu ruang yagn diungkapkan baik oleh
Dulong-Petit, Einstein maupun oleh Debye adalah Cv = 3R. Asumsi yang digunakan untuk
mendapatkan persamaan tersebut adalah bahwa getaran kisi dalam suatu krisal memiliki
energi termal tertentu. Paket energi dari getaran kisi yang terkuantisasi dikenal dengan nama
fonon. Nilai Cv yang dijabarkan oleh Dulong-Petit, Einstein dan Debye tersebut sebenarnya
belum memasukkan nilai energi termal yang tersimpan dalam gerak termal elektron bebas.
Atau dengan kata lain Cv tersebut hanya memperhitungkan kehadiran fonon sehingga
kapasitas panas logam dengan memperhitungkan kehadiran elektron dan fonon dapat ditulis
sebagai berikut : CV = CV_fonon + CV_elektron

Cv yang berasal dari kontribusi fonon pada suhu tinggi adalah CV_fonon = 3R.
Sedangkan Cv yang berasal dari kontribusi elektron dapat dijabarkan dari energi rata-rata
elektron pada suhu T dengan jumlah elektron valensi yang disumbangkan oleh satu atom
pada kristal dilambangkan oleh Zv dituliskan dengan persamaan sebagai berikut:
3 3
E = Zv NA k B T = Zv RT
2 2
dE 3
CV_elektron dapat dirumuskan sebagai berikut CV_elektron = dT = 2 Zv R.

Sehingga Cv yang berasal dari kontribusi fonon dan elektron adalah


3 3
CV = CV_fonon + CV_elektron = 3R + RZv = (3 + Zv ) R
2 2

Nilai Cv tersebut menunjukkan bahwa kapasitas panas suatu kristal yang memiliki elektron
bebas (yang dapat dikatagorikan sebagai logam) 50 % lebih tinggi dari kristal yang tidak
memiliki elektron bebas (yang dapat dikatagorikan sebagai isolator). Pada kenyataanya, pada
suhu tinggi atau suhu ruang, kapasitas panas suatu logam tidaklah berharga satu setengah kali
dari harga kapasitas panas bahan isolator melainkan hampir sama berharga 3R. Hal ini
menunjukkan bahwa kajian kapasitas panas klasik tersebut belum tepat menggambarkan
kontribusi dari elektron bebas terhadap kapasitas panas suatu logam.

5.2 Elektron Terkuantisasi

Untuk menjelaskan fenomena fisika khususnya konsep kapasitas panas yang dihubungkan
dengan keberadaan elektron bebas dalam kristal, konsep fisika kuantum sangat diperlukan
dijabarkan secara jelas dan terperinci. Dua konsep kuantum yang sangat penting dalam
pembahasan elektron bebas dalam suatu kristal atau zat padat adalah konsep kuantisasi energi
elektron bebas dan konsep larangan pauli yang dapat membedakan satu jenis elektron dengan
elektron lainnya berdasarkan bilangan kuantum yang melekat pada setiap elektron tersebut.

Elektron bebas yang secara kuantum dipandang memiliki sifat dualistic sebagai benda
dan gelombang dapat bebas bergerak dalam seluruh volume kristal sebagai gelombang
deBroglie. Syarat batas Born-von Karmann yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut:

eikx L + eiky L + eikz L = 1

L adalah rusuk kristal dan kx, ky, kz adalah vektor propagasi gelombang pada arah x, y
dan z. Masing-masing vektor propagasi tersebut dapat dijabarkan sebagai:
2 2 2
k x = nx , k y = ny , k z = nz , dengan nx , ny , nz adalah bilangan 0, 1, 2,
L L L

Energi elektron dalam ruang k dapat dituliskan sebagai:

2
En = (k 2 + k 2y + k 2z )
2m0 x

m0 adalah massa elektron bebas.

Jumlah keadaan elektron persatuan volume dengan energi antara E dan (E + E) adalah

1 2m0 3 1
g(E)E = ( )2 E 2 E
22 2

Jadi rapat keadaan elektron adalah


1 2m0 3 1
g(E) = ( )2 E 2
22 2

Konsep rapat elektron ini adalah salah satu konsep penting ketika akan merumuskan
kapasitas panas yang berasal dari kontribusi elektron bebas.

Larangan Pauli

Larangan Pauli menyatakan bahwa tidak ada dua atau lebih elektron dalam satu sistem
memiliki energi dan bilangan kuantum yang tepat sama. Larangan Pauli dapat dijabarkan
dengan tepat oleh statistic Fermi Dirac yaitu

1
f(E) =
E EF
1 + exp( )
kBT

Statistik Fermi Dirac ini memunculkan konsep energi Fermi yang merupakan jumlah energi
yang dimiliki suatu kristal pada keadaan 0 K.

Pada T = 0 K, f (E) = 1. Sedangkan pada T selain 0, nilai dapat ditutunkan dari persamaan di
atas.

Jumlah elektron per satuan volume pada T = 0 dituliskan sebagai

1 2m0 EF0 3
n= ( )2
32 2

Energi total yang dimiliki elektron pada T = 0 dapat dituliskan sebagai


Ek

E = g(E)f(E)dE
0

Karena
1 2m0 3 1
g(E)dE = ( )2 E2 dE,
22 2

Maka
Ek
1 2m0 3 1 1 2m0 3 52
E= ( )2 E 2 dE = ( )2 EF0
22 2 52 2
0

1 2m0 EF0 3 3
Dengan mensubstitusikan nilai n = 32 ( )2 maka akan diperoleh E = 5 nEF0
2

Dari persamaan tersebut dapat terlihat bahan elektron dengan harga energi sekitar EF dapat
berperan pada analisis CV_elektron. Dalam analisis selanjutnya perlu tinjauan lebih detail
tentang fungsi Fermi-Dirac tentang energi. Hal ini disebabkan dalam bahasan energi kinetik
elektron bebas fungsi Fermi Dirac terdapat dalam persamaan energi kinetik yang dituliskan
dengan persamaan sebagai berikut:

Ek

Ee = (1 f(E))g(E)(EF E)dE + f(E)g(E)(EF E)dE


0 Ek

Ek
dEe dF dF
CV_elektron = = ( )g(E)(EF E)dE + g(E)(EF E)dE
dT dT dT
0 Ek


dF
CV_elektron = ( )g(E)(E EF )dE
dT
0

kB T 1
Pada suhu rendah m
EF

EEF
dF E EF e kB T
= EEF
dT kBT2
(1 + e kB T )2

EEF
Dengan memisalkan x = maka persamaan kapasitas panas hasil kontribusi elektron
kB T
bebas dapat disederhanakan menjadi

x2 ex 2 2 k 2
CV_elektron = g(E)k 2B T (ex +1)2 dx = g(E)k 2B T= 2E B T
3 F

Sehingga CV = CV_fonon + CV_elektron = BT 3 + AT,


dengan A dan B adalah konstanta yang diperoleh dari perumusan CV_elektron dan CV_fonon

5.3 Perilaku Elektron Bebas dalam Logam

Walaupun model elektron bebas klasik tidak dapat merumuskan dengan benar konsep
kapasitas panas, namun model ini berhasil menjelaskan pengaruh keberadaan elektron bebas
tersebut terhadap sifat listrik seperti nilai tahanan jenis listrik (konduktivias termal) dari
bahan yang memiliki elektron bebas di dalam kristal pembentuknya.

Elektron bebas yang bergerak sepanjang sebuah bahan yang memiliki panjang L dan luas
penampang A akan memunculkan konsep arus listrik (I). Dalam bahan yang mengalir alru
listrik akan timbul medan listrik E. Arus listik yang mengalir dalam suatu penampang
I
tersebut memunculkan nilai kerapatan yang dituliskan sebagai J = A

Hukum Ohm yang menyatakan memperlihatkan hubungan antara kerapatan arus listrik
dengan medan listrik yang timbul dituliskan dalam bentuk persamaan:

J = . E
adalah besaran yang menunjukkan konduktivitas dari bahan. Besarnya konduktivitas
1
adalah berbanding terbalik dengan nilai hambatan (resistivitas) : = .

Nilai hambatan suatu bahan sangat ditentukan geometri dari bahan itu sendiri. Resistivitas
merupakan besaran pembanding antara nilai resistansi dengan faktor geometri dari suatu
L
bahan. R = A

Resistivitas Listrik

Seperti telah dijelaskan pada bagian sebelumnya bahwa resistivitas listrik berbanding
terbalik dengan nilai konduktivitasnya. Hambatan yang memunculkan nilai resistivitas dapat
disebabkan oleh dua faktor yaitu pertama adanya vibrasi kisi yang menyebabkan tumbukan
antara elekton bebas dengan fonon, kedua adanya ketidakmurnian (impuritas). Jadi nilai
resistivitas dapat dituliskan sebagai penjumlahan antara kedua komponen tersebut.
= f + i

Pada suhu rendah (T<<) nilai resistivitas hanya bergantung pada nilai impuritas bahan.

Gambar 5.1 memperlihatkan grafik ketergantungan nilai resistivitas terhadap suhu untuk
bahan logam dengan tingkat ketidakmurnian tertentu. Resistivitas menurun seiring dengan
menurunnya suhu yang menunjukkan kontribusi dari fonon juga menurun. Pada suhu 0 K,
hanya kontribusi dari ketidakmurnian yang berpengeruh pada nilai resistivitas.

(Ohm.m)


Suhu (K)

Gambar 5.1. Grafik ketergantungan nilai resistivitas terhadap suhu untuk bahan logam
dengan tingkat ketidakmurnian tertentu.