Anda di halaman 1dari 10

TUGAS PAPER

PENGANTAR FISIKA ZAT PADAT


DINAMIKA ELEKTRON DALAM LOGAM

Disusun oleh :

1. Melany Putri (140310130029)

2. Lisa Putri Kusuma (140310130039)

DEPARTEMEN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS PADJADJARAN

2016
Pada bab dinamika elektron dalam logam ini akan dibahas lebih detail batasan-
batasan kebebasan gerak elektron diantara atom-atom dalam logam. Seperti telah dijelaskan
pada bab sebelumnya, pada konduktor, pergerakan elektron terjadi karena hanya diperlukan
energi sedikit saja untuk mengaktifkan elektron yang terlokalisir pada pita valensi ke pita
konduksi. Sebaliknya, elektron memerlukan energi yang cukup besar untuk mengatasi energi
gap yang besar pada semikonduktor dan isolator.

1.1 Kombinasi Linier Orbital Atom


Pada bahasan sebelumnya, secara kuantum, konfigurasi elektron pada atom
digambarkan sebagai sebuah fungsi gelombang. Fungsi gelombang elektron dalam suatu
atom disebut orbital atom. Suatu fungsi gelombang mempunyai daerah dengan amplitudo
positif dan negatif. Jika terdapat lebih dari satu fungsi gelombang elektron atau terdapat lebih
dari satu atom dengan fungsi gelombang yang berbeda, maka daerah dengan amplitude
positif dari satu fungsi gelombang dapat terjadi tumpang tindih dengan daerah amplitude
positif dari fungsi gelombang lainnya. Begitu pula dengan daerah dengan amplitude negatif.
Daerah-daerah dengan amplitudo positif atau daerah-daerah dengan amplitudo negatif dalam
satu molekul akan saling memperkuat satu dengan lainnya membentuk satu ikatan. Namun
demikian, jika daerah dengan amplitudo positif mengalami tumpang tindih dengan daerah
dengan amplitudo negative, maka daerah tersebut akan saling meniadakan. Dalam molekul,
orbital atom yang bertumpang tindih menghasilkan orbital molekul yakni fungsi gelombang
elektron dalam molekul. Orbital molekul ini dapat diklasifikasikan menjadi orbital molekul
ikatan, non-ikatan, atau anti ikatan sesuai dengan besarnya partisipasi orbital itu dalam ikatan
antar atom. Tingkat energi orbital molekul ikatan lebih rendah, sementara tingkat energi
orbital molekul anti ikatan lebih tinggi dari tingkat energi orbital atom penyusunnya.
Semakin besar selisih energi orbital ikatan dan anti ikatan, semakin kuat ikatan.
Misal satu molekul terdiri dari dua atom A dan B. Bila tidak ada interaksi ikatan dan
anti ikatan antara A dan B, orbital molekul yang dihasilkan adalah orbital non ikatan.
Elektron menempati orbital molekul dari energi terendah ke energi yang tertinggi. Orbital
molekul terisi dan berenergi tertinggi disebut highest occupied molecular orbital (HOMO)
dan orbital molekul kosong berenergi terendah disebut lowest unoccupied molecular orbital
(LUMO). Bila dua fungsi gelombang dari dua atom dinyatakan dengan A dan B , orbital
molekul adalah kombinasi linier orbital atom atau dikenal dengan nama linear combination of

Paper Dinamika Elektron Dalam Logam


Disusun oleh Melany Putri (140310130029) dan Lisa Putri Kusuma (140310130039)
Departemen Fisika Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Padjadjaran
the atomic orbitals (LCAO). Kombinasi linier orbital atom ini diungkapkan dalam persamaan
berikut = C A A + C B B
Perumusan persamaan gelombang dengan metode LCAO ini membantu
menggambarkan pergerakan elektron elektron dalam logam yang sebelumnya hanya
digambarkan sebagai pergerakan elektron tunggal.

1.2 Dinamika Elektron dalam Logam


Pada pembahasan elektron bebas dalam logam, tinjauan pergerakan elektron hanya
ditinjau perilaku dari satu elektron saja. Pada bagian ini elektron-elektron tersebut
digambarkan memiliki perilaku yang berbeda-beda. Perilaku ini digambarkan sebagai fungsi-
fungsi gelombang. Fungsi-fungsi gelombang tersebut kemudian disederhanakan dengan
metode LCAO. Fungsi-fungsi gelombang tersebut bergerak dalam bentuk paket-paket
gelombang dengan kecepatan

Dalam molekul dua atom periode dua, dari litium Li2 sampai flourin F2, bila sumbu z
adalah sumbu ikatan, 1g dan 1u dibentuk oleh tumpang tindih orbital 2s dan 2g dan 2u
dari orbital 2pz dan 1u dan 1g dari 2px, dan 2py. Tingkat energi orbital molekul dari Li2
sampai N2 tersusun dalam urutan 1g < 1u < 1u < 2g < 1g < 2u dan elektron
menempati tingkat-tingkat ini berturut-turut dari dasar. Contoh untuk molekul N2 dengan 10
elektron valensi ditunjukkan di Gambar 2.19.
Karena urutan orbital agak berbeda di O2 dan F2, yakni orbital 2g lebih rendah dari
1u, orbital molekul untuk O2, diilustrasikan di Gambar 2.20. Elektron ke-11 dan 12 akan
mengisi orbital 1g yang terdegenerasi dalam keadaan dasar dan spinnya paralel sesuai aturan
Hund dan oleh karena itu oksigen memiliki dua elektron tidak berpasangan.
Orbital molekul dua atom yang berbeda dibentuk dengan tumpang tindih orbital atom
yang tingkat energinya berbeda. Tingkat energi atom yang lebih elektronegatif umumnya
lebih rendah, dan orbital molekul lebih dekat sifatnya pada orbital atom yang tingkat
energinya lebih dekat. Oleh karena itu, orbital ikatan mempunyai karakter atom dengan ke-

Paper Dinamika Elektron Dalam Logam


Disusun oleh Melany Putri (140310130029) dan Lisa Putri Kusuma (140310130039)
Departemen Fisika Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Padjadjaran
elektronegativan lebih besar, dan orbital anti ikatan mempunyai karakter atom dengan ke-
elektronegativan lebih kecil.
Misalnya, lima orbital molekul dalam hidrogen fluorida, HF, dibentuk dari orbital 1s
hidrogen dan orbital 2s dan 2p fluor, sebagaimana diperlihatkan dalam Gambar 2.21. Orbital
ikatan 1 mempunyai karakter fluorin, dan orbital 3 anti ikatan memiliki karakter 1s
hidrogen. Karena hidrogen hanya memiliki satu orbital 1s, tumpang tindih dengan orbital 2p
fluor dengan karakter tidak efektif, dan orbital 2p fluor menjadi orbital nonikatan. Karena
HF memiliki delapan elektron valensi, orbital nonikatan ini menjadi HOMO.
Dalam karbon monoksida, CO, karbon dan oksigen memiliki orbital 2s dan 2p yang
menghasilkan baik ikatan sigma dan pi, dan ikatan rangkap tiga dibentuk antar atomnya.
Walaupun 8 orbital molekulnya dalam kasus ini secara kualitatif sama dengan yang dimiliki
molekul yang isoelektronik yakni N2 dan 10 elektron menempati orbital sampai 3, tingkat
energi setiap orbital berbeda dari tingkat energi molekul nitrogen. Orbital ikatan 1 memiliki
karakter 2s oksigen sebab oksigen memiliki ke-elektronegativan lebih besar. Orbital
antiikatan 2 dan 4 memiliki karakter 2p karbon ( Gambar 2.22).
Metoda VB dikembangkan lebih lanjut oleh ilmuwan Amerika termasuk John Clarke
Slater (1900-1978) dan Linus Carl Pauling (1901-1994). Namun, kini metoda orbital molekul
(molecular orbital, MO) jauh lebih populer. Konsep dasar metoda MO dapat dijelaskan
dengan mudah dengan mempelajari molekul tersederhana, ion molekul H2+
Fungdi gelombang sistem ini didaptkan dengan mensubstitusi potensialnya kedalam
persamaan 2.21. Bila elektronnya di sekitar inti 1, pengaruh inti 2 dapat diabaikan, dan
orbitalnya dapat didekati dengan fungsi gelombang 1s hidrogen di sekitar inti 1. Demikian
pula, bila elektronnya di sekitar inti 2, pengaruh inti 1 dapat diabaikan, dan orbitalnya dapat
didekati dengan fungsi gelombang 1s hidrogen di sekitar inti 2.
Kemudian kombinasi linear dua fungsi gelombang 1s dikenalkan sebagai orbital
molekul pendekatan bagi orbital molekul H2. Untuk setiap elektron 1 dan 2, orbital berikut
didapatkan.
+(1) = a[1s1(1) + 1s2(1)]
+(2) = a[1s1(2) + 1s2(2)] (3.4)
Orbital untuk molekul hidrogen haruslah merupakan hasilkali kedua orbital atom ini.
Jadi,

+(1, 2) = +(1)+(2) = a[1s1(1) + 1s2(1)] x a[1s1(2) + 1s2(2)]

= a2[1s1(1) 1s1(2) + 1s1(1) 1s2(2) + 1s1(2)1s2(1) + 1s2(1) 1s2(2)] (3.5)

Paper Dinamika Elektron Dalam Logam


Disusun oleh Melany Putri (140310130029) dan Lisa Putri Kusuma (140310130039)
Departemen Fisika Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Padjadjaran
Orbital ini melingkupi seluruh molekul, dan disebut dengan fungsi orbital molekul,
atau secara singkat orbital molekul. Seperti juga, orbital satu elektron untuk atom disebut
dengan fungsi orbital atom atau secara singkat orbital atom. Metoda untuk memberikan
pendekatan orbital molekul dengan melakukan kombinasi linear orbital atom disebut dengan
kombinasi linear orbital atom (linear combination of atomic orbital, LCAO).

1.3 Elektron-elektron dalam kristal logam


Kalau kita membayangkan atom-atom dikumpulkan dan ditata membentuk struktur
kristal, maka ketika jarak antara atom-atom terdekat mendekati jarak antar atom yang khas
pada logam, elektron-elektron terluar tidak lagi mengacu ke atomnya masing-masing. Begitu
elektron-elektron terluar tidak lagi terikat ke atomnya masing-masing melainkan bergerak
bebas di seluruh logam, maka menurut Prinsip Kekecualian Pauli, elektron-elektron tadi tidak
dapat memprtahankan perangkat bilangan kuantum yang sama seperti masih merupakan
bagian dari atom-atom.
Akibatnya, elektron-elektron bebas tidak lagi bisa memiliki lebih dari dua elektron
dengan spin berlawanan untuk suatu energi tertentu. Energi-energi elektron bebas itu
didistribusikan ke suatu rentang yang terus meningkat sejalan proses pembentukan logam
oleh atom-atom. Jika atom-atom dimaksudkan untuk membentuk struktur logam yang
mantap, energi purata (mean energi) elektron-elektron bebas harus lebih rendah disbanding
energi tingkat elektron ketika atom-atom masih bebas. Gambar 2.4 memperlihatkan pelebaran
tingkat atomatik sejak atom-atom masih mulai berhimpun dengan yang lain, serta penurunan
energi elektron-elektron sebagai akibatnya.
Besar penurunan energi purata elektron-elektron terluar inilah yang menentuka
kemantapan logam. Dalam hal ini, yang disebut jarak keseimbangan (equilibrium spacing)
antara atom-atom dalam suatu logam adalah jarak yang apabila dikurangi lagi akan
menyebabkan bertambahnya gaya tolak-menolak ion-ion positif yang saling didekatkan itu,
sehingga gaya tolak-menolak tadi akan lebih besar dibanding penurunan energi elektron
purata yang disebabkannya.

Paper Dinamika Elektron Dalam Logam


Disusun oleh Melany Putri (140310130029) dan Lisa Putri Kusuma (140310130039)
Departemen Fisika Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Padjadjaran
1.4 Kecepatan berkelompok dan Massa Efektif.
Sesungguhnya baik massa elektron maupun massa hole dalam persamaan-persamaan
di atas adalah merupakan massa efektif untuk masing-masing partikel. Apakah massa efektif
itu ? Untuk menjawabnya marilah kita ikuti uraian di bawah ini. Kecepatan kelompok (group
velocity) biasa didefinisikan sebagai berikut:
vg = dw/dk, (1)
dimana w adalah frekuensi sudut, dan k adalah vektor gelombang. Kita mengetahui bahwa
frekuensi sudut yang dikaitkan dengan energi adalah sebagai berikut:
w = E/h (2)
dimana E merupakan fungsi k, sehingga kecepatan kelompok menjadi :
vg = (1/h) dE/dk (3)
Jika kita diferensialkan persamaan (3) terhadap waktu (t), kita akan memperoleh :

Kita dapat mengaitkan dk/dt dengan gaya listrik yang bekerja pada sebuah elektron bebas
sebagai berikut. Usaha yang dilakukan pada sebuah elektron oleh medan listrik dalam selang
waktu dt adalah:
dE = F. ds (6)
dimana dE adalah usaha, F = vektor gaya listrik yang berkerja pada elektron, dan ds adalah
vektor perpindahan dalam selang waktu dt. Gaya listrik F biasa ditulis sebagai berikut:

Paper Dinamika Elektron Dalam Logam


Disusun oleh Melany Putri (140310130029) dan Lisa Putri Kusuma (140310130039)
Departemen Fisika Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Padjadjaran
F = -e.e, (7)
dimana e adalah muatan listrik elektron, dan e adalah medan listrik, sehingga persamaan (6)
menjadi :
dE = -e. e . ds. (8)
Tetapi ds adalah sama dengan hasil kali antara kecepatan kelompok vg dengan selang waktu
dt.
Jadi usaha yang dilakukan pada elektron tersebut adalah:
dE = -e. e. vg. dt. (9)
Kita tahu bahwa
dE = (dE/dk) dk (10)
dan dari persamaan (3) kita tahu bahwa dE/dk = h vg, sehingga persamaan (10) menjadi:
dE = h . vg . dk (11)
Karena persamaan (9) sama dengan persamaan (11), maka Anda dapat memahami bahwa:

Sekarang cobalah substitusikan persamaan (13) ke dalam persamaan (5). Anda akan
memperoleh
hasil sebagai berikut:

Cobalah Anda amati persamaan (15)! Anda lihat bahwa karena F = gaya, dan (d/dt)vg sama
dengan percepatan, maka sisanya dari persamaan (43) haruslah sama dengan massa, supaya
memenuhi persamaan kedua Newton, yaitu F = m . a. Jadi, dari persamaan (43) kita dapat
mendefinisikan massa lain yang biasa disebut sebagai massa efektif sebagai berikut:

Ingat bahwa tidak boleh diganti menjadi dk2/d2E.

Paper Dinamika Elektron Dalam Logam


Disusun oleh Melany Putri (140310130029) dan Lisa Putri Kusuma (140310130039)
Departemen Fisika Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Padjadjaran
1.5 Permukaan Fermi
Dalam struktur metalik, elektron-elektron bebas dengan demikian harus dianggap
menempati serangkaian tingkat energi distrik (unik) dengan selang yang sangat rapat. Tiap
tingkat energi atomik yang mengurai menjadi sebuah pita memiliki banyak tingkat energi
yang sama dengan banyaknya N atom dalam sepotong logam. Seperti yang dinyatakan
sebelum ini, suatu tingkat energi tidak boleh ditempati oleh lebih dari dua elektron dengan
spin berlawanan.
Oleh sebab itu, setiap pita paling banyak hanya dapat memiliki 2N elektron. jelaslah,
dalam keadaan energi paling rendah suatu logam, semua tingkat energi rendah telah terisi.
Sela energi antara tingkat-tingkat yang berturuttan tidak tetap melainkan mengecil sejalan
dengan naiknya tingkat energi. Dari segi kerapatan keadaan elektron N (E) ini biasanya
dinyatakan sebagai fungsi energi E. Besaran N(E)dE menginformasikan banyaknya tingkat
energi dalam suatu ionterval energi dE yang sangat kecil, dan untuk elektron bebas besaran
ini membentuk fungsi parabola energi seperti yang tampak dalam Gambar 2.5.
Karena setiap tempat hanya dapat ditempati dua elektron, energi elektron yang
menempati suatu tingkat energi rendah tidak dapat diperbesar kecuali bila diberi tambahan
energi yang cukup untuk melompat ke tingkat kosong di bagian pita sebelah atas. Lebar
energi pita-pita umumnya sekitar 5 atau 6 elektron volt*, karena ini cukup besar energi yang
dibutuhkan oleh logam untuk mengeksitasikan elektronnya yang berada di tingkat bawah.
Energi sebesar itu tidak tersedia pada temperatur normal, dan hanya elektron dengan energi
mendekati yang terdapat pada bagian atas pita (disebut tingkat atau permukaan Fermi)
dapat dieksitasikan sehingga karena itu hanya sedkit elektron bebas pada logam yang dapat
ambil bagian dalam proses-proses thermal. Energi pada tingkat Fermi EF bergantung pada
banyaknya elektron N per unit volume V, dapat dihitung denga rumus (h2/8m) x (3N V)2/3.

Bila , maka jumlah tingkat energi yang terisi penuh oleh elektron
pada , n= N/2 dimana N adalah jumlah elektron dan angka 2 menunjukan spin elektron (spin
up dan spin down), sebesar :

Energi tersebut dinamakan energi Fermi, yaitu tingkat energi tertinggi yang ditempati
elektron pada suhu T = 0K (pada keadaan dasar, yang elektronnya terisi penuh).
Jika suhu T > 0K , maka:

Paper Dinamika Elektron Dalam Logam


Disusun oleh Melany Putri (140310130029) dan Lisa Putri Kusuma (140310130039)
Departemen Fisika Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Padjadjaran
elektron akan mampu bertransisi (loncat) ke tingkat energi yang lebih tinggi.
sedangkan elektron yang lainnya, pada waktu yang bersamaan, tidak dapat bertransisi
ke tingkat energi yang lebih tinggi, hal ini terjadi dikarenakan berlakunya prinsip
ekslusi Pauli.
Dari persamaan-persamaan diatas, dapat disimpulkan bahwa semakin banyak
gelombang yang terbentuk, maka akan semakin tinggi tingkat energinya.

Gambar Energi Fermi

Figure 13. The free elektron Fermi surface of Fig. 11, as viewed in the reduced zone
scheme. The shaded areas represent occupied states. Parts of the Fermi surface fall in the
second, third, and fourth zones. The fourth zone is not shown. The firs zone is shown
entirely occupied.

Paper Dinamika Elektron Dalam Logam


Disusun oleh Melany Putri (140310130029) dan Lisa Putri Kusuma (140310130039)
Departemen Fisika Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Padjadjaran
Daftar Putaka

Risdiana, Dr, M Eng. 2013. Diktat Fisika Zat Padat. Departemen Fisika Universitas
Padjadjaran. Jatinangor

Paper Dinamika Elektron Dalam Logam


Disusun oleh Melany Putri (140310130029) dan Lisa Putri Kusuma (140310130039)
Departemen Fisika Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Padjadjaran