Anda di halaman 1dari 4

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK I

PENENTUAN KANDUNGAN KARBONAT DAN HIDROGEN


KARBONAT DALAM CAMPURANNYA SECARA TITRIMETRI

Disusun Oleh :

VINI YULIANTI

1157040065

KIMIA 3-B

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2016
A. TUJUAN
1. Menentukan kandungan karbonat dan hydrogen karbonat dalam campurannya dengan
titrasi asam-basa menggunakan larutan baku HCl
2. Melakukan titrasi dengan prinsip asidi-alkalimetri
3. Menentukan konsentrasi HCl
B. PEMBAHASAN
Titrasi asam basa merupakan metode yang menggunakan sifat keasaman atau kebasaan
suatu larutan untuk menentukan kadar zat yang bersifat asam atau basa, baik organik
maupun anorganik. Prinsip umum dari titrasi adalah larutan yang akan diteliti (analit)
direaksikan secara bertahap dengan cara menambahkan larutan titran yang telah diketahui
konsentrasinya hingga titik ekivalen. Dengan mengetahui volume dan konsentrasi titran,
serta persamaan reaksi maka konsentrasi analit dapat diketahui. Digunakan juga indikator
visual, indikator visual merupakan asam atau basa lemah yang memiliki zat warna yang
berbeda dalam lingkungan asam atau basa dan mempunyai nilai pH di sekitar titik ekuivalen
dari reaksi titrasi yang diamati.
Percobaan yang dilakukan dalam praktikum kimia analitik I kali ini adalah penentuan
kandungan karbonat dan hidrogen karbonat dalam campurannya secara titrimetri. Analit
yang digunakan pada percobaan kali ini adalah asam karbonat yang merupakan asam
diprotik. Asam karbonat dapat membentuk garam karbonat dan garam hidrogen karbonat,
yang mana di dalam air kedua garam ini bersifat basa sehingga secara bertahap dapat
dititrasi dengan asam kuat. indikator yang digunakan adalah fenolftalein dan metil merah.
1. Standarisasi Larutan HCl
Pada percobaan ini, analit dititrasi menggunakan larutan HCl. Oleh karena itu, larutan
HCl ini harus distandarisasi terlebih dahulu sebelum digunakan dalam kerja analitis yang
memerlukan keakuratan. Praktikan menstandarisasi larutan HCl dengan mentitrasinya
menggunakan larutan Na2CO3 sebagai larutan baku primer yang telah diketahui
konsentrasinya secara tepat yaitu 0.0491 M. pada proses standarisasi ini, digunakan
metil merah sebagai indikator karena standarisasi HCl dengan Na2CO3 ini merupakan
titrasi asam kuat dengan garam basa kuat, trayek perubahan pH pada metil merah
berkisar pada 4.4-6.2. perlakuan pertama, Na2CO3 pada labu Erlenmeyer ditambahkan 3
tetes indikator metil merah, hasil pengamatan menunjukan terjadi perubahan warna dari
tidak berwarna menjadi kuning seulas. Larutan HCl dititasi menggunakan Na2CO3,
larutan berubah warna menjadi merah muda seulas pada volume 28.30 mL, setelah
dilakukan duplo perubahan warna terjadi pada volume 28.00 mL. peurubahan warna saat
titrasi ini menandakan proses titrasi telah mencapai titik ekuivalen dan titik akhir titrasi
dimana asam klorida bereaksi sempurna atau telah dinetralkan oleh basa Na2CO3. Dari
hasil perhitungan dari standarisasi ini, didapat konsentrasi HCl sebesar 0.0438 M.
2. Penentuan Kadar Karbonat
Sampel karbonat berupa larutan keruh berwarna putih dititrasi dengan larutan HCl
0.0438 M yang telah distandarisasi. Titrasi penentuan kadar karbonat ini menggunakan
indikator ganda, yakni indikator fenolftalein dan indikator metil merah.
Pada titrasi tahap I, larutan sampel karbonat yang ditetesi indikator fenolftalein,
warnanya berubah dari keruh putih menjadi merah muda seulas. Kemudian, larutan
sampel dititrasi dengan HCl, larutan menjadi tidak berwarna pada volume HCl sebanyak
0.10 mL. Hal ini mengindikasikan bahwa larutan berada pada trayek sekitar 8,2-10,5.
Pada tahap ini semua ion hidroksida bereaksi menghasilkan air, sedangkan ion karbonat
bereaksi dengan asam dan menghasilkan ion bikarbonat. Lalu, pada tahap II larutan
sampel ditetesi indikator metil merah, warnanya tetap atau tidak berwarna. Kemudian
dititrasi dengan HCl, hasilnya larutan berubah warna menjadi merah muda seulas pada
volume HCl sebanyak 0.15 mL. Pada saat tersebut, berarti pH larutan menjadi sekitar
4,4 sampai 6,3. Dan penambahan HCl menyebabkan ion bikarbonat hasil reaksi tahap I
berubah menjadi asam bikarbonat. Perlakuan serupa juga terjadi pada perlakuan duplo,
dengan volume HCl yang diperlukan untuk titrasi dengan indikator fenolftalein
sebanyak 0.10 mL sedangkan untuk indikator metil merah adalah 0.15 mL. Perbedaan
volume HCl yang digunakan ketika untuk mentitrasi menggunakan indikator fenolftalein
dengan metil merah adalah karena pada titrasi kedua digunakan untuk mentitrasi HCO3
yang bereaksi dan yang sudah ada dalam larutan.
Dari hasil perhitungan, didapatkan kandungan karbonat sebesar 10464 ppm dari titrasi
dengan indikator fenolftalein, dan 15696 ppm dari titrasi dengan indikator metil merah.
3. Penentuan Kadar Hidrogen Karbonat
Larutan sampel hydrogen karbonat berupa larutan tidak berwarna, titrasi dilakukan
menggunakan indikator metil merah. Larutan ini dititrasi dengan larutan HCl 0.0438 M
hingga menjadi merah muda seulas. Hal ini menandakan bahwa pH larutan berada pada
kisaran 4,2 sampai 6,3. Volume larutan HCl yang digunakan pada titrasi ini sebanyak
4.50 mL. setelah dilakukan duplo, perubahan warna dari tidak berwarna menjadi merah
muda seulas membutuhkan larutan HCl sebanyak 4.50 mL. Dari hasil perhitungan,
didapatkan kandungan hidrogen karbonat sebesar 478728 ppm.
C. KESIMPULAN