Anda di halaman 1dari 10

TUGAS SISTEM REPRODUKSI

Nama : Yuni Hartini Dwi Cahyani

NIM : 125070206111002

Kelas : Reguler 2

ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2014
1. IVA TEST
DEFINISI
IVA (Inspeksi Visual Dengan Asam Asetat) merupakan cara sederhana untuk
mendeteksi kanker leher rahim sedini mungkin (Sukaca E. Bertiani, 2009). IVA
merupakan pemeriksaan leher rahim (serviks) dengan cara melihat langsung
(dengan mata telanjang) leher rahim setelah memulas leher rahim dengan larutan
Asam Asetat 3% 5% (Wijaya Delia, 2010).Tes visual menggunakan larutan asam
cuka (asam asetat 3 5%) dan larutan iodium lugol pada serviks dan melihat
perubahan warna yang terjadi setelah dilakukan olesan. Tujuannya untuk melihat
adanya sel yang mengalami displasia sebagai salah satu metode skrining kanker
mulut rahim (Rasjidi, 2010).Penemu tes IVA adalah Hinselman pada tahun 1925.
PERSIAPAN ALAT
Sabun dan air untuk cuci tangan
Lampu yang terang untuk melihat serviks
Spekulum dengan desinfeksi tingkat tinggi
Sarung tangan sekali pakai atau desinfeksi tingkat tinggi
Meja ginekologi
Lidi kapas
Asam asetat 3 5% atau anggur putih (white vinegar)
Larutan iodium lugol
Larutan klorin 0,5% untuk dekomentasi instrument dan sarung tangan
Format pencatatan
PROSEDUR PELAKSANAAN
Sesuaikan pencahayaan untuk mendapatkan gambaran terbaik dari serviks.
Gunakan lidi kapas untuk membersihkan darah, mucus dan kotoran lain
pada serviks.
Identifikasi daerah sambungan skuamo-columnar (zona transformasi) dan
area di sekitarnya
Oleskan larutan asam cuka, tunggu 1-2 menit untuk terjadinya perubahan
warna. Amati setiap perubahan pada serviks, perhatikan dengan cermat
daerah di sekitar zona transformasi.
Lihat dengan cermat SCJ (Squoamosa Columnar Junction) dan yakinkan area
ini dapat semuanya terlihat. Catat bila serviks mudah berdarah. Lihat adanya
plaque warna putih dan tebal atau epitel aceto white
Bersihkan sisa larutan asam asetat dengan lidi kapas atau kasa bersih.
Lepaskan speculum dengan hati-hati.
Catat hasil pengamatan, dan gambar denah temuan.
PERAN PERAWAT
Mengedukasikan kepada klien sebelum tindakan untuk tidak melakukan
hubunga seksual 24 sebelum pemeriksaan.
Memastikan klien tidak sedang datang bulan ataupun hamil
Menerangkan prosedur tindakan, bagaimana dikerjakan, dan apa artinya
hasil tes positif. Yakinkan bahwa pasien telah memahami dan
menandatangani informed consent .
Pemeriksaan inspekulo secara umum meliputi dinding vagina, serviks dan
fornik.
2. PAP SMEAR
DEFINISI
Pemeriksaan Pap Smear merupakan prosedur klinik untuk memeriksa sel yang
berasal dan serviks. Pemeriksaaan mi adalah pemeriksaan yang aman dan murah,
pertama kali ditemukan oleh Dr. George Papanicolou. Tujuan utama dari
pemeriksaan ini untuk menilai adanya perubahan sel yang abnormal yang mungkin
berasal dan kanker serviks atau sebelum berkembang menjadi kanker (lesi
prakanker). Bahan pemeriksaan Pap smear terdiri atas sekret vagina, sekret servikal
(ektoserviks), sekret endoservikal (endoserviks), sekret endometrial dan forniks
posterior. Setiap sekret mempunyai manfaat penggunaan yang khas, dimana untuk
pemeriksaan tertentu sediaan Pap Smear yang dibaca harus berasal dan lokasi
tertentu pula.
PERSIAPAN ALAT
Air mengalir, Spatula Ayre, Sabun cair, Pensil kaca (marker), Larutan
antiseptik, Spekulum, Lap.
Alkohol 95%, Larutan hipoklorit, Kaca benda (object glass), Lap bersih atau
tissue, Baskom berisi larutan klorin 0,5%, Handuk kecil atau tissue, Sarung
tangan steril, Formulir pemeriksaan, Tempat sampah non-medis, Tempat
sampah medis.
PROSEDUR PELAKSANAAN
Masukkan spatula Ayre ke dalam kanalis endoserviks sedalam 1 atau 2 cm
dari orifisium uteri eksternum.
Putarlah alat tersebut secara melingkar 360 derajat urituk menghapus
permukaan mukosa endoserviks dan daerah squamo columnar junction.
Oleskan sekret yang didapat pada gelas obyek secukupnya.
Fiksasi segera sediaan yang telah dibuat dengan cairan fiksasi alkohol 95%
atau hair spray.
Setelah selesai difiksasi minimal 30 menit, sediaan siap dikirim ke
Laboratorium patologi Anatomi.
PERAN PERAWAT
Meberikan informasi umum pada pasien atau keluarganya tentang
pengambilan Pap Smear, tujuan dan manfaat untuk keadaan pasien.
Meberikan jaminan tentang keamanan atas tindakan yang dilakukan serta
jaminan tentang kerahasiaan yang diperlukan pasien kepada pasien atau
keluarganya.
Meminta kesediaan pasien untuk pengambilan Pap Smear, namun barengi
dengan penjelasan tentang hak-hak pasien atau keluarganya, misalnya
tentang hak menolak tindakan pengambilan Pap Smear tanpa kehilangan
hak akan pelayanan lain.
Mengedukasikan pasien untuk mengosongkan kandung kemih dan melepas
pakaian dalam.
3. HCg
DEFINSI
HCG diproduksi oleh plasenta selama masa kehamilan, sejak terbentuknya dan
melekatnua embrio di dinding uterus. Biasanya HCG ini terdeteksi pada kehamilan 7
10 hari setelah terjadi konsepsi. Tes ini bias mendeteksi kehamilan dini sejak hari
pertama terlambat haid. Selanjutnya pada masa kehamilan kadar HCG akan
meningkat di dalam urin. Pada tes tersebut biasanya dapat terdeteksi kadar HCG 25
mlU/ml atau lebih Kadar normal pada wanita yang tidak hamil, biasanya sekitar 5,0
mlU/ml Sejak terlambat haid kadar HCG di urin sekitar 100 mIU/ml, mencapai
puncaknya mulai dari kadar 100.000 200.000 mIU/ml terlihat sampai trimester
pertama.
PERSIAPAN ALAT
Pregnancy Test Strip
PROSEDUR PELAKSANAAN
Siapkan Alat dan Bahan yang diperlukan
Tes pack dicelupkan kedalam urin sampai dengan batas yang ditentukan
Hasil dibaca setelah 1 menit.
Pada pemeriksaan dengan menggunakan stick HCG menunjukkan adanya
garis kedua.
Urin yang diujikan menunjukkan hasil positif menandakan bahwa wanita
yang memiliki urin tersebut hamil.
PERAN PERAWAT
Menerangkan kepada klien mengenai prosedur tindakan, bagaimana
dikerjakan, dan bagiamana cara membaca hasil tes.
4. TORCH
DEFINISI
Pemeriksaan TORCH adalah pemeriksaan yang bertujuan untuk mendeteksi infeksi
TORCH, yang disebabkan oleh parasit TOxoplasma, virus Rubella, Cytomegalovirus
(CMV) dan virus Herpes. Cara mengetahui infeksi TORCH adalah dengan mendeteksi
adanya antibodi dalam darah pasien, yaitu dengan pemeriksaan :
Anti-Toxoplasma IgM dan Anti-Toxoplasma IgG (untuk mendeteksi infeksi
Toxoplasma).
Anti-Rubella IgM dan Anti-Rubella IgG (Untuk mendeteksi infeksi Rubella).
Anti-CMV IgM dan Anti-CMV IgG (untuk mendeteksi infeksi
Cytomegalovirus).
Anti-HSV2 IgM dan Anti-HSV2 IgG (untuk mendeteksi infeksi virus Herpes).
PROSEDUR PELAKSANAAN
Pemeriksaan toxoplasma Sebagian besar kasus infeksi toksoplasmosis tidak
menunjukkan gejala klinik. Satu-satunya cara untuk menentukan apakah
seorang ibu terinfeksi atau tidak adalah dengan pemeriksaan serum darah
yang akan menunjukkan ada tidaknya parasit bernama Toxoplasma gondii.
IgM (Immunoglobulin M) dan IgG (Immunoglobulin G). Pada dasarnya,
tubuh akan bereaksi terhadap setiap kuman yang masuk dan menyebabkan
infeksi dengan membentuk sistem pertahanan spesifik. Pada waktu pertama
kali terinfeksi (infeksi primer), tubuh manusia akan membentuk senyawa
protein IgM (Immunoglobulin M) sebagai reaksi terhadap masuknya mahluk
asing ke dalam tubuh. Senyawa protein ini dalam waktu relatif singkat
langsung terbentuk begitu tubuh terkena infeksi. Antibodi IgM akan muncul
di minggu pertama terjadinya infeksi, mencapai puncak pada satu bulan,
kemudian mengalami penurunan. Pada beberapa individu, IgM dapat tetap
terdeteksi beberapa tahun setelah infeksi primer. Namun, secara perlahan-
lahan, IgM ini akan menghilang dalam waktu 1-24 bulan kemudian dan bisa
timbul lagi bila yang bersangkutan terinfeksi kembali.
Kira-kira 4 minggu setelah terjadinya infeksi primer akan terbentuk pula IgG
(Immunoglobulin G) yang merupakan suatu zat penangkis atau kekebalan
tubuh. IgG ini juga merupakan protein dengan berat molekul besar. Adanya
IgG menunjukkan bahwa dalam tubuh telah terbentuk kekebalan. Jadi, bila
titer/angkanya positif berarti tubuh telah membentuk kekebalan terhadap
mahluk penyebab infeksi. Secara teoretis IgG ini akan menetap di dalam
tubuh. Hanya, kadarnya dapat naik atau turun sesuai kondisi kesehatan
seseorang. Namun, pada kebanyakan kasus, IgG terus naik dan IgM
menetap. IgG dan IgM yang positif menunjukkan adanya infeksi primer. Hal
ini perlu pengobatan dan evaluasi, baik pada ibu maupun bayinya. Bila IgM
positif sedangkan IgG negatif berarti menunjukkan adanya infeksi baru. Jika
pada pemeriksaan ulang hasil IgM kemudian menjadi negatif, berarti IgM
yang terdeteksi semula tidak spesifik. Antibodi IgG yang muncul beberapa
minggu setelah respons IgM akan mencapai maksimum 6 bulan kemudian.
Angka yang tinggi dapat bertahan selama beberapa tahun, tetapi akhirnya
terjadi penurunan sedikit demi sedikit, menghasilkan kadar yang rendah dan
stabil yang mungkin bertahan seumur hidup. Jadi, ibu yang pernah terinfeksi
toksoplasmosis di masa lalu, titer IgG-nya tidak pernah nol ataupun negatif
Dugaan terhadap infeksi TORCH biasanya memang dibuktikan melalui
pemeriksaan darah dengan pengukuran titer IgG, IgM, atau sekaligus
keduanya. Kalau IgM dapat terdeteksi sekitar seminggu setelah infeksi akut
dan menetap selama beberapa minggu atau bulan, IgG bisa saja tidak
muncul sampai beberapa minggu kemudian setelah angka IgM meningkat.
Bila diduga terinfeksi tetapi nyatanya IgM negatif, maka pemeriksaan
laboratorium harus diulang 4 minggu dari tanggal pertama kali dilakukan
pemeriksaan laboratorium. Ini penting dilakukan untuk memastikan adanya
infeksi ataupun tidak. Bila pada pemeriksaan ulang IgM tetap negatif, namun
titer IgG memperlihatkan kenaikan sebanyak 4 kali, kemungkinan yang
bersangkutan memang sedang terinfeksi. Adapun bila terjadi perubahan
titer dari IgM negatif menjadi positif, kemungkinan yang bersangkutan
tengah terinfeksi kembali.
Bila pada pemeriksaan ulang 4-6 minggu kemudian IgG tidak naik secara
bermakna atau tidak terdapat IgM dengan nilai positif, Anda bisa menarik
napas lega karena itu artinya Anda tidak perlu mendapat pengobatan. Akan
lebih baik lagi bila pemeriksaan ulang tersebut dilanjutkan dengan
pemeriksaan aviditas IgG untuk memastikan apakah janin juga terinfeksi
atau tidak. Aviditas IgG yang rendah menunjukkan adanya infeksi baru,
sementara aviditas IgG yang tinggi merupakan pertanda adanya kekebalan
lampau.
PERAN PERAWAT
Menjelaskan kepada klien bagaimana cara penuluraan TORCH.
Mengedukasikan kepada klien bila memelihara kucing, anjing, ataupun
burung sebaiknya untuk menjaga kebersihan hewan peliharaan tersebut.
5. TES HORMONE
DEFINISI
Pemeriksaan ini seperti juga pemeriksaan darah biasa, yaitu mengambil darah
pasien sesuai dengan kebutuhan pemeriksaan. Hanya disini sampel darah yang
diambil diperlukan untuk mengetahui kondisi hormonal tubuh yang berpengaruh
pada proses kehamilan. Fungsi pemeriksaan hormonal tersebut adalah agar dokter
dapat mendiagnosa kemungkinan gangguan hormanl yang menyebabkan infertilitas
dan melakukan penanganannya. Untuk wanita, pemeriksaan ini untuk mengetahui
kadar FSH (Follicle Stimulating Hormone), LH (Luteinizing Hormone), PRL (Prolactin),
E2 (Estradiol), dan P4 (Progesterone). Bila hasil pemeriksaan FSH yang tinggi pada
awal siklus haid (diatas 15 mIU/ml), berindikasi bahwa jumlah sel telur sudah
hampirtidak ada . Demikian juga LH, apabila LH tinggi pada awal siklus haid (diatas
12 mIU/ml), akan menghambat proses ovulasi. Selain itu, bila hormon prolaktin
tinggi atau kurang, juga mengganggu proses pembentukan telur . Pemeriksaan FSH
sangat penting untuk mengukur berapa besar pemberian obat pemicu sel telur dan
menentukan keberhasilan program .Pemeriksaan ini akan berlanjut beberapa kali
pada pasien yang melakukan program IVF. Pemeriksaan ini juga bisa dilakukan untuk
pria, yaitu untuk mengetahui kadar testosteron (hormon pria yang mempengaruhi
perkembangan seks sekunder), LH, dan FSH.Prolactin.
PERAN PERAWAT
Jika Pemeriksaan FSH, LH, E2, dan PRL umumnya dilakukan pada hari kedua
sampai hari kelima terhitung dari hari mens pertama. Apabila pasien
melewati hari tersebut, maka peran perawat meminta pasien untuk
pemeriksaan hormonal pada siklus haid bulan berikutnya. Untuk
pemeriksaan P4 biasanya dilakukan pada hari ke-21 menstruasi.
6. TES SPERMA
DEFINISI
Sperma yang sering disebut juga mani atau semen adalah ejakulat yang
berasal dari seorang pria berupa cairan kental dan keruh, berisi sekret dari
kelenjar prostat, kelenjar2 lain dan spermatozoa. Pemeriksaan sperma
merupakan salah satu elemen penting dalam penilaian fertilitas atau
infertilitas. Pemeriksaan sperma meliputi maksroskopis (hal-hal yang terlihat
dengan mata telanjang), mikrospkopis, kimia dan imunologi.
PERSIAPAN ALAT
Wadah/pot dengan penutup, Kertas Label, Gelas ukur 5 atau 10 ml, Kertas
indikator, Mikroskop binokuler, Kamar Hitung Improved Neubauer, Pipet
Leukosit, Aquadestilata, Minyak Imersi, Objective dan Cover Glass, Gelas
Bejana.
PROSEDUR PELAKSANAAN
Pasien diminta selama 3 5 hari tidak melakukan kegiatan sexual.
Pengeluaran ejakulat sebaiknya pagi hari.
Sperma dikeluarkan secara masturbasi
Air mani ditampung di dalam gelas atau plastik bermulut lebar
(sebelumnya dibersihkan dan dikringkan terlebih dahulu) dan diberi label
yang tertulis: Nama, Waktu (Jam) pengeluaran air mani dicatat serta segera
diantar ke laboratorium.
PERAN PERAWAT
Mengedukasikan kepada klien tidak boleh mengalami ejakulasi baik melalui
aktivitas seksual, masturbasi ataupun pengeluaran sperma pada saat mimpi
dalam waktu 5 hari sebelum pemeriksaan karena akan mempengaruhi
kuantitas dan kualitas sperma.
Mengedukasikan kepada klien untuk banyak beristirahat supaya pada hari H
klien tidak mengalami keletihan.
Menjelaskan kepada klien supaya tidak melakukan masturbasi dengan
bahan pelicin seperti sabun, minyak dll.
7. AMNIOCENTESIS
DEFINISI
Amniocentesis adalah tes untuk mengetahui kelainan genetik pada bayi dengan
memeriksa cairan ketuban atau cairan amnion. Di dalam cairan amnion terdapat sel
fetal (kebanyakan kulit janin) yang dapat dilakukan analisis kromosom, analisis
biokimia dan biologi. Ultrasonografi digunakan untuk memastikan posisi kandungan,
plasenta, dan janin serta jumlah cairan amnion yang mencukupi.
PROSEDUR PELAKSANAAN
Ibu berbaring telentang
Perut ibu dibersihkan
Dokter menggunakan ultrasonografi untuk melihat bayi, dan untuk mencari
area yang aman dalam air ketuban. Ultrasonografi adalah gambar dari bayi
Anda yang ditangkap dengan menggunakan gelombang suara.
Kemudian jarum dimasukkan ke dalam uterus untuk mengambil cairan
amnion.
Dokter mengambil sejumlah kecil cairan kemudian mengeluarkan jarum.
Jarum berada di dalam selama kurang dari 1 menit.
Sebuah layar diletakkan di sebelah perut ibu selama 15-30 menit untuk
memantau detak jantung bayi ..
Hasil pemeriksaan bisa didapatkan dalam waktu sekitar 2 minggu.
Amniocentesis dini
Pemeriksaan dilakukan antara usia gestasi 11 sampai 14 minggu.
Cairan yang diambil lebih sedikit 1 mL per setiap minggu gestasi.
Risiko keguguran dan komplikasi lebih tinggi.
Amniocentesis trimester kedua
Untuk diagnostik genetik biasanya dilakukan pada usia gestasi 15-20
minggu.
Tindakan dipandu dengan bantuan USG realtime
Jarum spinal no. 20 sampai 22 dimasukkan ke dalam kantong
amnion, sambil menghindari plasenta, tali pusat dan janin.
Cairan yang diambil sebanyak 20 mL
Jarum dikeluarkan dan diamati apakah ada perdarahan pada bekas
tusukan jarum.
PERAN PERAWAT
Meberikan informasi umum pada pasien atau keluarganya tentang
pemeriksaan, tujuan dan manfaat untuk keadaan pasien.

DAFTAR PUSTAKA

Nuranna L. Penanggulangan Kanker Serviks dengan Model Proaktif-VO (Proaktif-


Koordinatif dengan IVA dan Krioterapi). Disertasi FKUI, Jakarta, 2005.
Belinson JL, Pretorius RG, Zhang WH. Cervica cancers screening by simple visual
inspection after acetic acid. Obstet Gynecol 2001: 98(3): 44144.
University of Zimbabwe/JHPIEGO Cervical Cancer Project Visual inspection with
acetic acid for cervical cancer screening: test qualities in a primary-care setting.
Lancet 1999; 353(9156): 86987.
Cunningham F. Gary dkk, Obstetri Williams,Edisi 21, Jakarta, EGC; 2006 berbagai