Anda di halaman 1dari 6

A.

DEFINISI
Otitis Eksterna Maligna (OEM) disebut juga Otitis Eksterna Nekrotikan
atau Osteomielitis tulang temporal. OEM adalah penyakit infeksi telinga luar
yang agresif dan berpotensi kematian yang disebabkan oleh kuman
Pseudomonas Aeruginosa. Tahun 1959 Meltzer pertama kali melaporkan
adanya kasus Pseudomanal osteomyelitis tulang temporal dan Chandler
tahun 1968 pertama kali menggunakan istilahmalignant external otitis atau
otitis eksterna maligna (OEM). Otitis eksterna ini maligna karena sifat
kliniknya yang agresif, hasil terapi yang jelek dan tingginya mortality rate
pada penderita.1,2

B. ETIOLOGI DAN PATOGENESIS1,2,3


Pseudomonas aeruginosa merupakan patogen penyebab yang lazim pada
otitis eksterna maligna, meskipun sangat jarang juga dapat dijumpai S.
aureus, Proteus dan Aspergillus.
Saat ini patogenesis terj adinya OEM masi h belum j elas, infeksi
telinga ini di mulai dari liang telinga luar dan meluas ke tulang temporal
hingga ke jaringan sekitarnya. Patologi OEM melibatkan otitis eksterna yang
berat, nekrosis kartilago dan tulang dari liang telinga hingga ke struktur
sekitarnya yang meluas ke dasar tengkorak yang mengenai nervus kranial.
OEM dapat menyebabkan terjadinya lower cranial neuropathies, trombosis
sinus lateral, sakit kepala yang berat, meningitis dan kematian.
Infeksi dimulai dengan otitis eksterna yang progresif dan berlanjut
menjadi osteomielitis pada tulang temporal. Penyebaran penyakit ini keluar
dari liang telinga luar melalui Fisura Santorini untuk sampai ke dasar tulang
tengkorak. Selain itu juga dapat menyebar melalui Tuba Eustachius untuk
sampai ke fossa infratemporal dan nasofaring. Hipestesia ipsilateral dapat
terjadi jika infeksi mengenai N. V. Penyebaran ke intrakranial dapat
menyebabkan meningitis, abses otak, kejang dan kematian. Bagian
posteroinferior dapat menyebabkan flebitis dan trombosis supuratif bulbus
juguler dan sinus sigmoid. Ini dapat menyebabkan mastoiditis dan
kelumpuhan saraf fasial. Penyebaran secara inferior dapat menyebabkan
paralisis saraf glosofaringeal (IX), vagus (X), hipoglosus (XI), dan aksesorius
(XII), menyebabkan disfagia, aspirasi dan suara serak.

C. FAKTOR PRESDIPOSISI 2 , 4 , 5
Faktor predisposisinya adalah mikroangiopati diabetik, faktor imun yang
rendah, dan penyakit kronis. OEM sering didapati pada pasien usia lanjut dan
menderita penyakit diabetes serta pasien dengan disfungsi imun selular. Lebih
dari 90% kasus OEM terjadi pada penderita DM tipe 2. Mikroangiopati
diabetik dengan kronik hipoperfusi dan resistensi lokal yang menurun akan
meningkatkan risiko infeksi. OEM juga dapat terjadi pada pasien dengan
immunocompromised, seperti AIDS yang melibatkan populasi yang lebih
muda.

D. GEJALA DAN TANDA2,4,5


Gejala yang dialami penderita biasanya otalgi hebat, nyeri menjalar ke
leher, otore dan pendengaran menurun. Tanda khas yang dijumpai dari
otoskopi pada penyakit ini adalah otitis eksterna dengan jaringan granulasi
sepanjang posteroinferior liang telinga luar (pada bonycartilaginous junction)
disertai lower cranial neuropathies (n. VII, IX, X, XI) yang biasanya juga
disertai dengan nyeri pada daerah yang dikenai (otalgia). Eksudat pada liang
telinga dan membran timpani intak.
Terjadinya paralise fasialis dan sindrom foramen jugularis (Vernet
syndrome) merupakan tanda prognostik yang buruk. Benecke membagi OEM
atas 3 stadium, yaitu :
1. Stadium 1 (stadium kardinal) didapatkan otore purulen, otalgi, granulasi
MAE, tanpa paresis N.VII
2. Stadium 2 proses infeksi menyebar ke jaringan lunak dasar tengkorak,
osteomielitis dan menekan nervus kranial posterior (N.XI, N.XII)
3. Stadium 3 sudah terjadi ekstensi intrakranial lebih lanjut yaitu meningitis,
epidural empiema, subdural empiema atau abses otak
E. DIAGNOSIS4,5,6,7
Anamnesis
Diagnosis dapat ditegakan berdasarkan gejala dan tanda yang
dijumpai dan pemeriksaan kultur dari cairan yang didapat dari liang
telinga. Pasien yang menderita otitis eksterna nekrotikans umumnya
usia lanjut, menderita diabetes. Adanya otalgia, sakit kepala temporal,
otore purulent dapat ditemukan pada pasien ini.
Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan inspeksi dapat ditemukan adanya kulit yang
mengalami inflamasi, hiperemis, udem dan tampak jaringan granulasi
pada dasar meatus akustikus eksternus. Dan perlu dilakukan
pemeriksaan saraf kranial V XII untuk mengetahui ada tidaknya
parese.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan kultur dan tes sensitifitas dilakukan untuk mengetahui
kuman penyebab dan menentukan jenis antibiotik yang tepat.
Biopsi jaringan granulasi pada liang telinga luar perlu dilakukan
untuk menyingkirkan kemungkinan karsinoma liang telinga.
Pemeriksaan tambahan CT Scan dan MRI dapat melihat adanya
osteomielitis pada OEM. Gambaran radiologis yang didapatkan dari
X-foto mastoid yaitu adanya perselubungan air cell mastoid dan
destruksis tulang. Dengan CT Scan akan lebih teliti lagi untuk
mendapatkan gambaran penyebaran OEM pada tulang. Sedangkan
MRI lebih baik untuk melihat keterlibatan jaringan lunak sehingga
komplikasi intrakranial dapat terdeteksi. Tapi pada kondisi dini CT
Scan tidak dapat mendeteksi adanya abnormalitas. Gallium-67 scans
dapat mendeteksi OEM dini dan dapat digunakan untuk mengevaluasi
resolusi OEM. Pemeriksaan technitium bone scans juga sensitif untuk
mendeteksi adanya osteomielitis tapi tidak dapat digunakan untuk
mengevaluasi resolusi OEM.
F. DIAGNOSIS BANDING2
OEM didiagnosis banding dengan herpes zoster otikus, mastoiditis, otitis
media kronik dan tumor ganas tulang temporal.

G. TERAPI2,6,8
Prinsip terapi adalah:
1. Diagnosis dini pada populasi resiko tinggi.
2. Pemberian terapi antibiotik sesuai hasil kultur.
3. Pembersihan liang telinga luar (aural toilet)
4. Pemeriksaan klinis dan scan gallium-67 secara serial untuk menilai
perbaikan.
5. Kontrol yang ketat terhadap diabetes mellitus dan intervensi bedah.

Pada pasien dengan diabetes tatalaksana dengan kombinasi terapi diabetes,


pemberian antibiotika yang sesuai dengan hasil kultur dan debridement MAE
setiap hari memberikan angka kesembuhan yang tinggi. Antibitoik
quinolones baik peroral atau perenteral saat ini digunakan sebagai alternatif
antibiotik dan dari beberapa penelitian menunjukkan angka keberhasilan yang
tinggi. Lama pemberian antibiotik dapat dievaluasi dengan pemeriksaan serial
gallium scans periodik interval 4 minggu atau dengan melihat kondisi klinis
penderita.
Penatalaksaan pembedahan kadang-kadang juga diperlukan dalam kondisi
penderita yang buruk yaitu mastoidektomi dengan dekompresi N. VII atau
petrosektomi subtotal atau bahkan dilakukan reseksi parsial tulang temporal.

H. KOMPLIKASI2,3
Komplikasi OEM yang dapat terjadi meliputi lower cranial neuropathies,
meningitis, abses otak dan kematian.
I. PROGNOSIS8,9
OEM dapat kambuh kembali setelah satu tahun pengobatan komplit.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Chandler, rata rata kematian sekitar
50% tanpa pengobatan. Kematian berkurang sampai 20% dengan
ditemukannya antibiotik yang cocok. Penelitian terbaru melaporkan bahwa
angka kematian turun sampai 10%, tetapi kematian tetap tinggi pada pasien
dengan neuropati atau adanya komplikasi intrakranial.

KESIMPULAN
Otitis eksterna maligna adalah infeksi telinga luar yang dapat menyebabkan
kematian. Penyakit ini biasanya ditemukan pada pasien diabetes atau pasien
dengan immunocompromised state. Otalgia adalah gejala yang paling sering
terjadi dan pada otoskopi ditemukan otitis eksterna dengan jaringan granulasi
sepanjang posteroinferior liang telinga luar. Pemeriksaan scan tulang dengan
technetium Tc 99m dan Ga 67 scan diperlukan untuk menegakkan diagnosa.
Diagnosis dini penyakit, terapi yang adekuat dan kontrol yang ketat terhadap
diabetes mellitus harus dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Nawas, M. T., Daruwalla, V. J., Spirer, D., Micco, A. G., & Nemeth, A. J.
(2013). Complicated necrotizing otitis externa. American journal of
otolaryngology, 34(6), 706-709.
2. Aboet A. (2006). Otitis Eksterna Maligna. Majalah Kedokteran Nusantara
Volume 39(3), 317-318.
3. Sylvester, M. J., Sanghvi, S., Patel, V. M., Eloy, J. A., & Ying, Y. L. M. (2016).
Malignant otitis externa hospitalizations: Analysis of patient
characteristics. The Laryngoscope.
4. Hobson, C. E., Moy, J. D., Byers, K. E., Raz, Y., Hirsch, B. E., & McCall, A. A.
(2014). Malignant otitis externa: evolving pathogens and implications for
diagnosis and treatment. Otolaryngology--Head and Neck Surgery, 151(1),
112-116.
5. Courson, A. M., Vikram, H. R., & Barrs, D. M. (2014). What are the criteria for
terminating treatment for necrotizing (malignant) otitis externa?. The
Laryngoscope, 124(2), 361-362.
6. Glikson, E., Sagiv, D., Wolf, M., & Shapira, Y. (2017). Necrotizing otitis
externa: diagnosis, treatment, and outcome in a case series. Diagnostic
microbiology and infectious disease, 87(1), 74-78.
7. Muhleman, M., Al-Faham, Z., & Wu, D. (2016). The Value of Tc99m-MDP
Bone Scan and SPECT-CT in the Diagnosis of Necrotizing (Malignant) Otitis
Externa. Journal of Nuclear Medicine, 57(supplement 2), 1266-1266.
8. Chen, C. N., Chen, Y. S., Yeh, T. H., Hsu, C. J., & Tseng, F. Y. (2010).
Outcomes of malignant external otitis: survival vs mortality. Acta oto-
laryngologica, 130(1), 89-94.
9. Soudry, E., Joshua, B. Z., Sulkes, J., & Nageris, B. I. (2007). Characteristics
and prognosis of malignant external otitis with facial paralysis. Archives of
OtolaryngologyHead & Neck Surgery, 133(10), 1002-1004.