Anda di halaman 1dari 2

1.

Domain PKn sebagai program kurikuler merupakan program PKn yang dirancang dan
dibelajarkan kepada peserta didik pada jenjang satuan pendidikan tertentu. Domain kurikuler adalah
konsep dan praksis pendidikan kewarganegaraan dalam lingkup pendidikan formal dan nonformal.
Melalui domain ini, proses penilaian dimaksudkan untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta
didik terhadap program pembelajaran dan program pembangunan karakter.

Domain akademik adalah berbagai pemikiran tentang Pendidikan Kewarganegaraan yang


berkembang di lingkungan komunitas keilmuan. Domain PKn sebagai program akademik
merupakan program kajian ilmiah yang dilakukan oleh komunitas akademik PKn menggunakan
pendekatan dan metode penelitian ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah konseptual dan
operasional guna menghasilkan generalisasi dan teori untuk membangun batang tubuh keilmuan
PKn. Kajian ini lebih memperjelas bahwa PKn bukan semata-mata sebagai mata pelajaran dalam
kurikulum sekolah melainkan pendidikan disiplin ilmu yang memiliki tugas komprehensif dalam arti
bahwa semua community of scholars mengemban amanat (missions) bukan hanya di bidang telaah
instrumental, praksis-operasional dan aplikatif melainkan dalam bidang kajian teoritis-konseptual
yang terkait dengan pengembangan struktur ilmu pengetahuan dan body of knowledge.

Sedangkan domain sosial kultural adalah konsep dan praksis Pendidikan Kewarganegaraan di
lingkungan masyarakat (Wahab dan Sapriya, 2011) .Domain PKn sebagai program sosial kultural
pada hakikatnya tidak banyak perbedaan dengan program kurikuler dilihat dari aspek tujuan,
pengorganisasian kurikulum dan materi pembelajaran. Perbedaan terutama pada aspek sasaran,
kondisi, dan karakteristik peserta didik. Program PKn ini dikembangkan dalam konteks kehidupan
masyarakat dengan sasaran semua anggota masyarakat. Tujuannya lebih pada upaya pembinaan
warga masyarakat agar menjadi warga negara yang baik dalam berbagai situasi dan perkembangan
zaman yang senantiasa berubah.

2. Keterkaitan antara 3 domain citizen education (domainakademik, domain akademik, dan domain
sosiokultural) adalah sama sama memiliki tujuan utama yang bermuara pada upaya pengembangan
warga negara yang baik (good citizens), yang memiliki pengetahuan kewarganegaraan (civic
knowledge), nilai, sikap dan watak kewarganegaraan (civic disposition), dan keterampilan
kewarganegaraan (civic skill). Jika dilihat dari domain PKn sebagai program akademik
merupakan program kajian ilmiah yang dilakukan oleh komunitas akademik PKn menggunakan
pendekatan dan metode penelitian ilmiah untuk memecahkan masalah-masalah konseptual dan
operasional guna menghasilkan generalisasi dan teori untuk membangun batang tubuh keilmuan
PKn. Setelah PKn dikaji menggunakan domain akademik lalu hasil kajian ilmiah yang dilakukan
oleh komunitas akademik tersebut disalurkan pada domain PKn sebagai program kurikuler yaitu
program PKn yang dirancang dan dibelajarkan kepada peserta didik pada jenjang satuan pendidikan
formal dan nonformal dan menghasilkan proses penilaian yang dimaksudkan untuk mengetahui
tingkat penguasaan peserta didik terhadap program pembelajaran dan program pembangunan
karakter. Yang terakhir yaitu domain sosial kultural yang dimaksud yaitu bahwa PKn disalurkan di
lingkungan masyarakat yang tidak beda jauh dari domain kurikuler. Perbedaannya hanyalah pada
aspek sasaran, kondisi, dan karakteristik peserta didik. Program PKn ini dikembangkan dalam
konteks kehidupan masyarakat dengan sasaran semua anggota masyarakat. Tujuannya lebih pada
upaya pembinaan warga masyarakat agar menjadi warga negara yang baik dalam berbagai situasi dan
perkembangan zaman yang senantiasa berubah.
3. Teori PKn ( 3 teori terdahulu dan 1 teori terbaru)
Tiga teori terdahulu adalah teori liberalisme, teori komunitarianisme, dan teori replublikanisme
sedangkan teoriterbaru adalah teori Neo-republikanisme.
Tiga teori terdahulu antara lain :
a. Teori liberalisme
Teori ini berpendapat bahwa warga negara sebagai pemegang otoritas untuk menentukan
pilihan dan hak. Teori kewarganegaraan liberal menekankan pada konsep kewarganegaraan
yang berbasis pada hak. Menurut Locke individu dianugerahi dan dihiasi oleh Tuhan dengan
hukum alam dan berupa hak-hak alamiah. Teori Locke tentang kepemilikian (Lockes theory
of property) menyebutkan ada tiga elemen sentral bagi kewarganegaraan liberal. Pertama,
individu dapat menciptakan kekayaan atau kepemilikan dan menambah dominasi
kepemilikan itu melalui kerja. Kedua, perlidungan terhadap kepemilikanmerupakan fungsi
utama hukum dan pemerintahan dan Ketiga, pelaksanaan yang sah menurut hukum atas hak-hak
kepemilikan secara alamiah mengasilkan ketidakmerataan yang adil. Menurut Peter H Suchuk
ada 5 Prinsip Dasar Teori Liberal Klasik. Pertama, mengutamakan kebebasan individu
yang dipahami sebagai kebebasan dari campur tangan negara, Kedua, proteksi yang luas
terhadap kebebasan berpikir, berbicara dan beribadah, Ketiga, kecurigaan yang dalam
terhadap kekuasaan negara dalam mengatasi individu, Keempat, pembatasan kekuasaan
negara pada bidang atau aktivitas individu dalam berhubungan dengan yang lain, serta
Kelima, anggapan yang kuat dapat dibantah mengenai kebaikan hati dalam hal masalah
pribadi seta bentuk lain yang mendukung pribadi.
b. Teori komunitarianisme
Fokus utama komunitarianisme dalam kajian kewarganegaraan ialah peran serta warga negara
dalam komunitas. Komunitarianisme bukanlah merupakan reaksi terhadap liberalism Klasik,
namun kepada kewarganegaraan yang berdasarkan Dimensi sosial, kewarganegaraan (civic) dan
politik dari komunitas Politik. Perspektif komunitarian menekankan pada kelompok etnis
atau kelompok budaya, solidaritas diantaranya orang-orang yang memiliki sejarah atau tradisi
yang sama, kapasitas kelompok tersebut untuk menghargai identitas orang-orang yang
dibiarkan teratomisasi oleh kecenderungan yang mengakar pada masyarakat liberal. Teori
kewarganegaraan komunitarian sebagai reaksi dari teori kewarganegaraan liberal, kalau teori
kewarganegaraan liberal yang berpendapat bahwa masyarakat terbentuk dari pilihan-pilihan
bebas individu, sedangkan teori ini berpendapat justru masyarakatlah yang menentukan dan
membentuk individu baik karakternya, nilai keyakinan- keyakinannya. Komunitarianisme
menekankan pentingnya komunitas dan nilai sosial bersama.
c. Teori replublikanisme
Kewarganegaraan republican menekankan pada ikatan-ikatan sipil (civic bonds) suatu hal
yang berbeda dengan ikatan-ikatan individual (tradisi liberal) ataupun ikatan kelompok
(tradisi komunitarian). Teori kewarganegaraan republikan baik yang klasik maupun yang
humanis merupakan paham pemikiran kewarganegaraan yang berpendapat, bahwa bentuk
ideal dari suatu negara didasarkan atas dua dukungan, yakni civic virtue wargannya dan
pemerintahan yang republic karena ini merupakan hak yang esensial, sehingga disebut civic
republic. Jadi kewarganegaraan ini menekankan pentingnya kewajiban (duty), tanggun jawab
(responsibility) dan civic virtue (keutamaan kewarganegaraan) dari warganegaranya. Civic
virtue dalam republik Romawi berarti kesediaan mendahulukan kepentingan publik.
d. teori Neo-republikanisme
Pengertian teori kewargane-garaan alternatif atau Neo-republikanisme menurut Abdul Azis
Wahab dan Sapriya, (2011: 191), adalah: Teori ini meliputi unsur-unsur pemikiran yang ada
dalam teori kewarganegaraan komunitarian, republikan, dan liberal individualis. Dengan kata
lain, teori ini merupakan kombinasi atau gabungan dari unsur-unsur tiga teori kewarganegaraan
sebelumnya.