Anda di halaman 1dari 57

1

JABARAN SKENARIO
Seorang perempuan berusia 35 tahun datang ke RSGM dengan keluhan sulit
mengunyah karena banyak gigi yang hilang dan gigi depannya maju sehingga wajahnya
tampak lebih tua. Pemeriksaan ektra oral: wajah asimetri, 1/3 muka bawah pendek dan profil
cembung. Pemeriksaan intraoral beberapa gigi posterior atas dan bawah banyak yang hilang
dan ekstrud. Overjet 5 mm, overbite 6 mm. Karies besar pada 14 dan 15. Malposisi palatoversi
pada 13, 14, dan 15. Multiple diastema pada gigi 12, 11, 21, dan 22. Fraktur diagonal 1/3
insisal pada gigi 11. Pemeriksaan fungsional terdapat gangguan saat gerakan rahang ke
lateral dan deviasi mandibular ke kanan saat buka mulut, disertai bunyi sendi. Hal apa saja
yang harus diperhatikan untuk menjelaskan kepada pasien tentang penanggulangan
masalahnya.

2
SASARAN BELAJAR
1. Definisi dan istilah dalam prostodonsia
2. Macam-macam perawatan dalam bidang prostodonsia
3. Klasifikasi kehilangan gigi Kennedy
4. Klasifikasi Prosthodontic Diagnostic Index (PDI)
5. Tujuan dan manfaat perawatan dengan gigi tiruan
6. Akibat kehilangan gigi yang tidak digantikan dengan gigi tiruan
7. Macam-macam gigi tiruan beserta komponennya serta indikasi dan kontraindikasinya
8. Konsep hubungan rahang
9. Konsep pergerakan mandibula
10. Etiologi gangguan sistem stomatognatik
11. Akibat gangguan sistem stomatognatik
12. Pola penatalaksanaan gangguan sistem stomatognatik
13. Pemeriksaan lengkap dan pengisian rekam medik
14. Sikap mental pasien
15. Pencetakan, pemeliharaan hasil cetakan, serta membuat model studi
16. Cara pemasangan model studi di artikulator menggunakan catatan gigit
17. Analisis model studi di artikulator

3
1. DEFINISI DAN ISTILAH DALAM PROSTODONSIA
Dibuat oleh Raudha Wardina
Sumber :

1. McGivney, Glen P., Dwight J. Castleberry. McCrackens removeable partial prosthodontic


4th ed. Mosby 2007.
2. Rosentiel, Stephen F., Land, Martin F., Fujimoto, Junhei. Contemporary Fixed
Prosthodontics. 4th Ed. Mosby, Inc. 2006.
3. Ancowitz, Stephen. Esthetic removable partial dentures. DART, Two hours of CDE credit.
April, 19, 2004.

Definisi

ADA (American Dental Association) mendefinisikan Prostodonsia sebagai ilmu kedokteran gigi
khusus/spesialistik yang mempelajari mengenai diagnosis, rencana perawatan, rehabilitasi, dan
pemeliharaan fungsi, kenyamanan, penampilan, dan kesehatan rongga mulut pasien dengan
kondisi klinis yang berhubungan dengan gigi/jaringan maksilofasial yang hilang atau berkurang
menggunakan bahan pengganti yang biokompatibel.3

Istilah dalam Prostodonsia 1,2


Retensi : ketahanan protesa terhadap gaya vertikal

Resistensi : ketahanan protesa terhadap gaya horizontal

Retainer : beberapa tipe clasp, attachment, device dan lain-lain, yang digunakan untuk fiksasi,
stabilisasi, atau retensi dari suatu protesa.

Support : resistensi terhadap perpindahan ke arah gigi dan jaringan lunak dari lengkung gigi.

Stability : kualitas protesa pada saat digunakan, harus stabil, konstan dan tahan terhadap
displacement yang disebabkan oleh functional stresses, horizontal stresses, rotational stresses. Suatu
protesa dapat dikatakan stabil apabila didapatkan resistensi yang baik pada basis protesa
terhadap pergerakan di atas denture supporting area.

Interim atau provisional denture : suatu protesa gigi yang digunakan sementara karena untuk alasan
estetik, pengunyahan, occlusal support, kenyamanan, atau untuk mengganti sementara gigi yang
hilang sebelum dibuatkan suatu protesa gigi yang final.

4
Relasi sentrik : hubungan maksilo-mandibula dimana kondilus berartikulasi dengan bagian
avaskular tipis pada masing-masing diskus, dengan posisi kompleks pada anterior-posterior
terhadap kemiringan artikulasi

Oklusi sentrik : posisi gigi saat melakukan maximum intercuspation

Maximum intercuspation : semua gigi yang bertemu atau berkontak secara maksimal dengan gigi
antagonis pada posisi condylar.

Artikulator : sebuah alat mekanis yang merepresentasikan temporomandibular joint dan rahang,
yang kemudian cetakan maksila dan mandibula dapat ditanamkan untuk menstimulasi beberapa
atau seluruh pergerakan mandibula

Istilah dalam Fixed Prosthodontics

Abutment : seluruh atau sebagian gigi (atau dental implant) yang berfungsi untuk memberikan
sokongan untuk protesa

Protesa : pengganti tiruan dari satu atau beberapa gigi dan/atau struktur yang terkait, seperti
gigi, residual ridges, dental implants, atau kombinasi

Crown : merupakan restorasi ekstrakoronal yang menutupi permukaan luar dari mahkota untuk
memproteksi dan mengembalikan fungsi, bentuk, dan estetis gigi.

- Full veneer crown : crown yang menutupi seluruh permukaan klinis mahkota.
- Partial veneer crown: crown yang tidak menutupi seluruh permukaan klinis mahkota

Laminate/facial veneer : selapis tipis prothesa yang biasanya digunakan untuk alasan estetis

Inlay : restorasi intrakoronal biasanya untuk kerusakan gigi proximoocclusal dengan ukuran medium.

Onlay : restorasi intrakoronal dengan kerusakan gigi mesio-occlusodistal

Pontik : gigi tiruan yang menggantikan gigi yang hilang dalam perawatan gigi tiran cekat (GTC)

Konektor: bagian yang menghubungkan antara pontik dan retainer

5
Istilah dalam Removable Prosthodontics

Relining : menambah permukaan basis protesa dengan material yang baru agar cekat terhadap
jaringan lunak di bawahnya.

Rebasing : proses mengganti seluruh basis protesa dengan material baru tanpa merubah relasi
oklusal gigi.

Rest : digunakan untuk berbagai desain partial denture yang diletakkan pada gigi abutment, untuk
menentukan rest seat, hal ini untuk mengurangi pergerakan protesa ke arah gingival dan
meneruskan kekuatan fungsional ke gigi.

Gigi tiruan sebagian lepasan : protesa yang menggantikan beberapa gigi dalam sebagian
lengkung rahang, dan dapat dilepaskan dari mulut dan dipasang sesuai keinginan dan kebutuhan.

Gigi tiruan lengkap : protesa gigi yang menggantikan semua gigi geligi alami dan berhubungan
dengan struktur maksila dan mandibula. Protesa ini seluruhnya didukung oleh jaringan (membran
mukosa, jaringan ikat, dan tulang)

Guiding planes : arah pasang untuk memasang dan melepas protesa dengan satu atau lebih gigi
abutment yang saling sejajar/paralel. Permukaan arah pasang atau guiding planes harus sejajar
untuk memudahkan pemasangan protesa

Extracoronal partial denture: gigi tiruan lepasan yang komponen retentifnya tidak masuk kedalam
struktur gigi

2. MACAM-MACAM PERAWATAN DALAM BIDANG PROSTODONSIA


Dibuat oleh Raudha Wardina
Sumber : Nallaswamy, Deepak. Textbook of Prosthodontics. Jaypee Brothers Medical Publisher:
New Delhi.2003

Fixed prosthodontic (gigi tiruan cekat) : perawatan prostodonsia yang berhubungan dengan
penggantian dan/atau restorasi gigi menggunakan pengganti buatan yang tidak mudah
dikeluarkan dari mulut.

Removable prosthodontic (gigi tiruan lepasan) : perawatan prostodonsia yang digunakan untuk
menggantikan gigi yang hilang dan jaringan lunak dengan protesa non-permanen yang dapat
dilepas dan dipasang oleh penggunanya.

6
Maxillofacial prosthodontic : cabang perawatan prostodontik yang memanajemen pasien yang
memiliki kelainan bawaan atau kelainan yang terdapat pada regio maxilofasial.

Prosthodontics

Fixed Removable
Maxillofacial
Prosthodontic Prosthodontic
Prosthodontic
/ GTC / GTL

Gigi Tiruan Removable


Mahkota Removable
Jembatan / Partial
Tiruan Complete
GTJ Prosthodontics / Prosthodontics
GTSL / GTP

3. KLASIFIKASI KEHILANGAN GIGI KENNEDY


Dibuat oleh Steffi Wijaya

Sumber :

1. Rosenstiel - Contemporary Fixed Prosthodontics 4th Ed (2006)


2. McCrackens Removable Partial Prosthodontics, 12th Edition

Metode klasifikasi Kennedy diberikan oleh Dr. Edward Kennedy pada tahun 1925. Kennedy
membagikan 4 lengkung gigi edentulous parsial menjadi 4 kelas dasar. Area edentulous selain ke-
4 kelas dasar dinamai sebagai modification space.

Salah satu keuntungan utama dari Metode Kennedy adalah bahwa metode ini memberikan
visualisasi segera dari tipe lengkung gigi edentulous parsial yang diklasifikasikannya serta dapat
memberikan diferensiasi antara gigi tiruan sebagian lepasan yang tooth-supported dan tooth-
tissue-supported.

7
Kelas 1: kehilangan gigi bilateral di bagian posterior

Kelas 2 : kehilangan gigi unilateral di bagian posterior

Kelas 3 : kehilangan gigi unilateral dengan masih ada gigi dibagian anterior dan posterior dari
bagian edentulous

Kelas 4 : satu area edentulous yang bilateral melewati midline pada daerah anterior

8
Applegates Rules
Applegate memberikan 8 aturan yang mengatur aplikasi dari metode Kennedy
1. Klasifikasi diberikan setelah dilakukan semua ekstraksi gigi yang dapat mengubah klasifikasi
2. Bila molar 3 hilang dan tidak akan diganti, maka tidak dimasukan dalam klasifikasi
3. Bila terdapat molar 3 yang digunakan sebagai abutment, maka M3 dimasukan dalam
klasifikasi
4. Bila molar 2 hilang dan tidak akan diganti, maka tidak dimasukan dalam klasifikasi
5. Area atau beberapa area edentulous paling posterior selalu menentukan kelas utama dalam
klasifikasi
6. Area edentulous selain dari area yang menentukan kelas utama klasifikasi, termasuk kedalam
kelas modifikasi (modification space) dan ditentukan dari banyaknya area edentulous tersebut
7. Banyaknya modifikasi ditentukan oleh banyaknya ruangan tidak bergigi
8. Tidak ada area modifikasi untuk klasifikasi kelas IV

4. KLASIFIKASI PROSTHODONTIC DIAGNOSTIC INDEX


Dibuat oleh Steffi Wijaya

Sumber :

- Rosenstiel - Contemporary Fixed Prosthodontics 4th Ed (2006)


- McCrackens Removable Partial Prosthodontics, 12th Edition

American College of Prosthodontists (ACP) mengeluarkan Prosthodontic Diagnostic Index (PDI) yang
berdasarkan pada:

1. Lokasi dan luas dari area edentulous


2. Kondisi gigi abutment
3. Susunan oklusal
4. Residual ridge

9
1. Lokasi dan Luas Area Edentulous
Ideal/Minimally compromised, hanya pada satu lengkung rahang, meliputi :
- Kehilangan di anterior maksila yang tidak melibihi 2 gigi insisiv
- Kehilangan di anterior mandibula tidak melebihi 4 gigi insisiv
- Kehilangan di posterior tidak melebihi 2 premolar atau 1 premolar dan 1 molar

Moderately compromised, terjadi pada kedua lengkung rahang, salah satu kondisi di bawah
ini terjadi :
- Mencakup kehilangan di anterior maksila yang tidak melibihi 2 gigi insisiv
- Kehilangan di anterior mandibula yang tidak melebihi 4 gigi insisiv
- Kehilangan di posterior tidak melebihi 2 premolar atau 1 premolar dan 1 molar
- Kehilangan kaninus maksila atau mandibula

Substantially compromised, meliputi:


- Kehilangan di posterior maksila/mandibula melebihi 3 gigi atau 2 molar
- Daerah edentulous yang meliputi kehilangan di anterior dan posterior lebih dari 3 gigi

Severely compromised : kombinasi dari area edentulous yang membutuhkan penyesuaian lebih

2. Kondisi Gigi Abutment


Ideal/Minimally compromised
Terapi preprostetik tidak diindikasikan

Moderately compromised

- Struktur gigi tidak dapat menahan restorasi intrakoronal pada satu atau dua sektan
- Abutment memerlukan perawatan tambahan lokal (contoh: perawatan periodontal,
endodontik, atau ortodontik) pada satu atau dua sektan

Substantially compromised
- Struktur gigi tidak dapat menahan restorasi intrakoronal maupun ekstrakoronal, pada 4
atau lebih sektan

10
- Abutment membutuhkan perawatan tambahan ekstensif (contoh : perawatan periodontal,
endodontik, atau ortodontik) pada 4 atau lebih sektan

Severely compromised

Prognosis gigi abutment buruk

3. Susunan Oklusal
Ideal/Minimally compromised
- Tidak membutuhkan terapi preprostetik
- Hubungan rahang dan molar kelas 1

Moderately compromised
- Susunan oklusal membutuhkan perawatan pre prostetik lokal tambahan (Contoh :
enameloplasty pada kontak oklusal prematur)
- Hubungan rahang dan molar kelas 1

Substantially compromised
- Seluruh susunan oklusal membutuhkan penyusunan tetapi tanpa ada perubahan pada
dimensi vertikal oklusal
- Hubungan rahang dan molar kelas 2

Severely compromised
- Seluruh susunan oklusal membutuhkan penyusunan dengan perubahan pada dimensi vertikal
oklusal
- Hubungan rahang dan molar adalah kelas 2 divisi 2 dan kelas 3

4. Residual Ridge
Kelas 1 : 21 mm
Kelas 2 : 16-20 mm
Kelas 3 : 11-15 mm
Kelas 4 : 10 mm

11
Pembagian Kelas
Kelas I dicirikan dengan keadaan ideal/minimally compromised

Kelas II dicirikan dengan keadaan moderately compromised

Kelas III dicirikan dengan keadaan substantially compromised

Kelas IV dicirikan dengan keadaan severely compromised

Bila terjadi tumpah tindih penentuan kelas pada pasien, pasien dikategorikan didalam kelas
yang lebih berat. Tindakan preprostetik awal dapat merubah kelas dari suatu kasus, setelah
melakukan perawatan sebaiknya melakukan klasifikasi ulang. Adanya pertimbangan estetis dapat
mempengaruhi klasifikasi kelas 1 dan kelas 2.

12
5. TUJUAN DAN MANFAAT PERAWATAN DENGAN GIGI TIRUAN1,2
Dibuat oleh Raudha Wardina
Sumber :
1. McGivney, Glen P., Dwight J. Castleberry. McCrackens removeable partial prosthodontic
4th ed. Mosby 2007. Hal 1-7
2. Rosentiel, Stephen F., Land, Martin F., Fujimoto, Junhei. Contemporary Fixed
Prosthodontics. 4th Ed. Mosby, Inc. 2006. Hal 63, 74.

Prinsip perawatan dalam bidang prostodonsia adalah merehabilitasi sistem stomagtonatik


(gigi, lidah, dan organ-organ yang terdapat di dalam mulut, otot-otot beserta fungsinya).

Tujuan perawatan gigi tiruan adalah

- Memperbaiki fungsi mastikasi. Jika gigi posterior hilang maka menyebabkan fungsi
pengunyahan terganggu sehingga mengakibatkan pencernaan terganggu.
- Memperbaiki estetika
- Memperbaiki fungsi bicara/fonetik

Pemasangan gigi tiruan lepasan dapat meningkatkan kemampuan berbicara sehingga pasien
mampu kembali mengucapkan kata-kata dan berbicara dengan jelas, seperti

huruf labial yaitu huruf yang diucapkan oleh bibir, misalnya b, p, dan m.

labio-dental yaitu huruf yang diucapkan antara bibir bawah dengan tepi insisal gigi depan
atas, misalnya f ,v ,ph.

linguo-dental yaitu huruf yang diucapkan antara lidah dengan gigi atas depan, misalnya th
dan n.

linguo-palatal yaitu bila lidah berkontak dengan palatum keras bagian depan, misalnya t, d,
s, c, z, r ; bila lidah berkontak dengan palatum bagian belakang, misalnya sh, ch, j; bila lidah
berkontak dengan palatum keras dan lunak, misalnya y,l; bila lidah berkontak dengan palatum
lunak, misalnya k,c,g

bunyi nasal, suara sengau misalnya n, ng

13
- Memperbaiki keadaan lokal mulut
- Pencegahan migrasi gigi
Bila sebuah gigi dicabut atau hilang, gigi tetangganya dapat bergerak memasuki ruang
kosong. Migrasi ini dapat berlanjut menyebabkan renggangnya gigi yang lain. Pada ruang
yang kosong tersebut dapat terjadi penumpukan sisa makanan di daerah interdental sehingga
menyebabkan terjadinya akumulasi plak. Hal ini akan menyebabkan dekalsifikasi permukaan
proksimal gigi dan terjadi penyakit periodontal.
- Memberikan rasa nyaman
- Meningkatkan rasa percaya diri pasien
- Menjaga kesehatan jaringan serta mencegah kerusakan lebih lanjut dari struktur organ rongga
mulut.
- Menciptakan keharmonisan gigi tiruan dengan gusi, bibir dan wajah pasien

6. AKIBAT KEHILANGAN GIGI YANG TIDAK DIGANTIKAN DENGAN GIGI


TIRUAN
Dibuat oleh Raudha Wardina
Nallaswamy, Deepak. Textbook of Prosthodontics. Jaypee Brothers Medical Publisher : New
Delhi. 2003

Hilangnya gigi yang tidak diganti dengan gigi tiruan dapat berbahaya untuk gigi atau komponen
sistem mastikasi lainnya. Akibat dari hilangnya gigi seperti :

- Migrasi ataupun rotasi gigi disekitarnya

Hilangnya gigi menyebabkan gigi geligi yang berselebahan dengan gigi yang hilang akan
bergeser, miring, atau berputar sehingga gigi yang tersisa tidak menempati posisi yang
seharusnya dalam menerima beban kunyah dan dapat merusak jaringan penyangga gigi.

- Gigi antagonis mengalami ekstrusi

- Gangguan temporo mandibular joint

Gangguan pada sendi temporo-mandibula atau sendi pengunyahan disebabkan karena


kebiasaan mengunyah yang buruk. Kehilangan gigi pada satu sisi akan menyebabkan
seseorang hanya mengunyah pada satu sisi yang masih ada giginya. Hal ini akan
menyebabkan beban berlebih pada satu sisi sendi pengunyahan, dan bila sudah parah dapat
menyebabkan bunyi klik baik saat membuka maupun menutup mulut dan sakit kepala.

14
- Terjadi bone loss

Dengan hilangnya gigi dapat berakibat pada berkurangnya volume ridge, seperti lebar dan
tingginya. Hilangnya tulang (bone loss) lebih besar terjadi pada mandibula daripada maksila,
lebih menonjol pada posterior daripadi anterior.

- Perubahan pada oral mukosa

Attached gingiva pada tulang alveolar akan digantikan dengan mukosa oral yang kurang
keratin dimana akan lebih mudah mengalami trauma

- Sering terjadinya food impaction maupun food retention yang menyebabkan terganggunya oral
hygiene

- Kesulitan berbicara dan mastikasi

Dengan hilangnya banyak gigi akan mengganggu dalam pelafalan beberapa huruf yang
membuat pasien edentulous mengalami kesulitan dalam berbicara.

- Penampilan terganggu
Dengan hilangnya gigi dan berkurangnya residual ridge dapat mengakibatkan penampilan
wajah berubah akibat berubahnya lip support dan atau berkurangnya tinggi wajah akibat
penurunan dimensi vertikal oklusal.

- Munculnya multiple diastema


- Beban berlebih pada jaringan pendukung
Kehilangan gigi akan menyebabkan daya tahan terhadap tekanan berkurang, sehingga
jaringan pendukung akan menerima beban yang lebih besar ketika mengunyah sehingga
menyebabkan gigi yang tersisa menjadi goyang.

- Atrofi tulang alveolar

- Perubahan dimensi vertikal

15
7. MACAM-MACAM GIGI TIRUAN BESERTA KOMPONENNYA SERTA
INDIKASI DAN KONTRAINDIKASINYA
Dibuat oleh Cynthia Pratiwi
Sumber :
1. Sumber: Rosesntiel SF, Land MF, Fujimoto J. Contemporary Fixed Prosthodontics. 4th ed. St
Louis, Mosby : 2006.
2. HT Shillingburg. Fundamentals of Fixed Prosthodontics, 3rd ed. Quintessence Publishing Co,
Inc: USA. 1997. p. 19-22.

16
Gigi Tiruan Cekat adalah restorasi yang direkatkan secara permanen pada gigi yang telah
dipersiapkan untuk memperbaiki sebagian atau seluruh permukaan gigi yang mengalami
kerusakan/kelainan dan untuk menggantikan kehilangan 1-4 gigi secara berurutan.

Mahkota Tiruan

Indikasi

- Gigi yang direstorasi tapi telah rusak sehingga menyebabkan diskolorasi


- Gigi yang mengalami trauma
- Gigi yang mengalami erosi dan atrisi
- Gigi yang peg-shaped
- Moderate amelogenesis imperfecta
- Dentinogenesis imperfecta
- Enamel hypoplasia
- Midline diastema yang besar
- Tetracyclin stain

Komponen crown (mahkota tiruan)


- Mahkota tiruan
- Gigi penyangga (gigi asli yang akan dibuat crown)
- Pasak dan inti (jika dowel/post and core crown)

17
1. Mahkota Tiruan Penuh

Indikasi Kontraindikasi

1. Gigi fraktur atau karies luas yang tidak 1. Mahkota gigi yang sangat pendek atau
dapat direstorasi dengan tambalan biasa tapered
2. Gigi yang mengalami perubahan warna 2. Kamar pulpa yang masih besar (pasien
3. Gigi yang mengalami cacat permukaan, masih muda)
kelainan posisi atau bentuk
4. Sebagai retainer gigi tiruan jembatan
(GTJ) atau penjangkaran gigi tiruan
sebagian lepasan (GTSL)
5. Ukuran gigi normal atau lebih dari normal
6. Perbandingan radiografis mahkota : akar
adalah 2:3 atau minimal 1:1

2. Mahkota Tiruan Sebagian


Indikasi Kontraindikasi

1. Ukuran gigi normal atau lebih dari normal 1. Mahkota klinis gigi yang pendek atau
2. Kerusakan kecil pada permukaan sangat tapered
mahkota gigi kecuali permukaan 2. Gigi yang tipis, misalnya gigi I bawah
labial/bukalnya sebagai single atau I2 atas
restoration 3. Indeks karies tinggi
3. Sebagai retainer gigi tiruan jembatan 4. Kerusakan luas pada mahkota gigi
(GTJ) pada short-span, jika gigi abutment 5. Inklinasi gigi buruk
vital dan tidak ada karies 6. Sebagai retainer gigi tiruan jembatan
(GTJ) pada long-span
7. Gigi yang sudah dilakukan perawatan
saluran akar

18
3. Mahkota Tiruan Pasak
Indikasi Kontraindikasi

1. Gigi tidak dapat lagi dibuatkan mahkota 1. Penderita dengan kebiasaan buruk dan
tiruan jenis lain kesehatan umum yang tidak baik
2. Gigi yang telah dirawat saluran akarnya 2. Gigi dengan akar yang pendek, tipis, dan
dengan kehilangan yang luas pada masih vital
struktur gigi 3. Gigi dengan karies saluran akar
3. Tidak ada kebiasaan buruk seperti 4. Gigi yang telah dilakukan perawatan
bruksisme endodonti tetapi tidak terlalu banyak
4. Jaringan pendukung gigi masih baik dan struktur gigi yang hilang dan masih dapat
sehat dan tidak ada kelainan di direstorasi dengan resin komposit
periapikal
5. Memperbaiki gigi yang mengalami
malposisi
6. Sebagai retainer gigi tiruan jembatan
(GTJ) short-span
7. Gigi dengan mahkota klinis yang pendek

Gigi Tiruan Jembatan

Indikasi :
- Gigi penyangga butuh restorasi
- Gigi penyangga perlu stabilisasi atau splint
- Diastema abnormal
- Deep bite
- Kehilangan 1 atau lebih gigi asli
- Terdapat diastema pasca perawatan orthodonti

19
Kontraindikasi :
- Jika estetis dilibatkan di bagian anterior
- Tidak ada gigi abutment
- Pasien tidak kooperatif dan oral hygiene buruk
- Kelainan jaringan periodontal
- Ada banyak edentulous space di rahang
- Diastema sangat panjang
- Pasien yang sangat tua
- Resesi gingiva yang parah
- Resorbsi alveolar yang besar pada daerah anodonsia

GTJ Konvensional - pada GTJ konvensional dilakukan tindakan seperti penghilangan jaringan
gigi, pembuangan restorasi lama, dan sebagainya. Hal ini dapat mengakibatkan terjadinya
kerusakan pada jaringan gigi dan memakan waktu dan biaya yang banyak.

GTJ Sophisticated - pada GTJ sophisticated preparasi yang dilakukan minimum. GTJ menempel
dengan bahan adhesive, tanpa retensi dari preparasi.

Komponen bridge/gigi tiruan jembatan terdiri dari :

Abutment, yaitu gigi penyangga yang merupakan


tempat melekatnya gigi tiruan sebagian cekat.

Pontic, yaitu gigi tiruan yang digunakan sebagai


pengganti gigi yang hilang, yang dihubungkan dengan retainer.
2 jenis pontic :
1. Pontic sanitary - dasar pontic tidak berkontak dengan mukosa residual ridge
- Sanitary moderate : diindikasikan pada resorbsi besar sehingga jarak serviko-oklusal lebih
besar dari normal

20
- Sanitary radical : diindikasikan pada jarak serviko-oklusal yang pendek

2. Sadle (estetis baik) dan ridge lap (self cleansing baik) - dasar pontic berkontak dengan residual
ridge

Retainer, yaitu terhubung dengan pontic dan merupakan restorasi ekstraoral yang disementasikan
ke gigi penyangga/abutment (menduduki abutment tooth).

Connectors, yaitu penghubung antara pontic dan retainer. Penghubung yang digunakan dapat
rigid/fixed ataupun non-rigid/flexible/movable. Retainer yang terhubung dengan fixed connector
disebut major retainer, sedangkan yang terhubung dengan flexible connector disebut minor
retainer.

Gigi Tiruan Lepasan adalah gigi tiruan yang menggantikan gigi asli yang hilang sebagian
atau seluruhnya dan dapat dilepas sendiri oleh pasien.

Gigi Tiruan Sebagian Lepasan


Gigi Tiruan Sebagian Lepasan (GTSL) akrilik/thermoplastic gigi tiruan yang
hanya beberapa elemen gigi dan terbuat dari akrilik atau thermoplastic

Gigi Tiruan Sebagian Kerangka Logam gigi tiruan hanya beberapa


elemen gigi, namun kerangka terbuat dari logam

21
Komponen GTSL :
- Basis dan gigi tiruan
- Major connector bagian dari GTSL yang
menghubungkan komponen GTSL dari sisi rahang
yang satu ke sisi rahang seberangnya. Berfungsi
untuk menggabungkan seluruh komponen lainnya
dari prothesa dan memberikan retensi indirek.
- Minor connector bagian yang menghubungkan
antara major connector dengan komponen lainnya.
- Rest Ekstensi logam yang memanjang di bidang
oklusal gigi penyokongnya. Biasanya terbuat dari
metal dan fungsi utamanya adalah mentransmisi
beban oklusal pada gigi tiruan.

- Direct retainer clasp atau perlekatan yang diletakan pada gigi abutment dengan tujuan untuk
mencegah perpindahan posisi dari prothesa.

22
- Indirect retainer membantu direct retainer dalam mencegah perpindahan posisi prothesa

Indikasi Kontraindikasi

1. Menggantikan beberapa gigi di kuadran 1. Kurangnya gigi yang cocok di lengkung


yang sama atau di kedua kuadran dalam rahang untuk mendukung, menstabilkan,
satu lengkung rahang dan mempertahankan protesa lepasan
2. Menggantikan gigi yang hilang dimana 2. Rampan karies atau kondisi periodontal
pasien tidak ingin digantikan dengan yang parah yang mengancam gigi yang
bridge atau implan tersisa di lengkungan
3. Setelah dilakukan ekstraksi 3. Oral hygiene yang buruk
4. Distal extension
5. Pasien dengan oral hygiene yang baik
dan terkontrol
6. Sebagai splint untuk mendukung jaringan
periodontal pada gigi yang terlibat

23
Gigi Tiruan Lengkap

Komponen komponen gigi tiruan lengkap antara lain :

Basis
Merupakan bagian gigi yang menggantikan tulang alveolar yang sudah hilang, dan berfungsi
mendukung (elemen) gigi tiruan. Di desain sesuai di atas sisa alveolar ridge dan disekitar gingiva.
Bertujuan membantu menyebarkan gaya dari gigi ke jaringan sekitar. Terbuat dari logam ataupun
akrilik.

Flange
Perpanjangan vertikal dari badan protesa ke
vestibulum dan perpanjangan vertikal sepanjang
sisi lingual dari sulkus alveololingual pada
mandibula.

Post Dam
Retensi dari gigi tiruan rahang atas yang tergantung dari suction
seal/posterior palatal seal/butterfly

Gigi tiruan
Elemen atau gigi tiruan merupakan bagian yang berfungsi menggantikan gigi asli yang hilang.

24
Indikasi Kontraindikasi

1. Pasien edentulous 1. Adanya perawatan alternatif yang


2. Gigi yang tersisa tidak dapat tersedia
diselamatkan atau dalam kondisi yang 2. Penyakit fisik atau mental yang
buruk mempengaruhi kemampuan pasien untuk
3. Gigi yang tersisa tidak dapat mendukung bekerja sama selama pembuatan gigi
gigi tiruan sebagian lepasan, dan tidak tiruan dan untuk menerima atau memakai
ada alternatif yang bisa diterima gigi tiruan
4. Pasien menolak rekomendasi perawatan 3. Pasien hipersensitif dengan material gigi
alternatif tiruan
4. Lengkung rahang yang gigi asli dan
restorasi cekatnya masih baik sehingga
tidak membutuhkan protesa lainnya

8. KONSEP HUBUNGAN RAHANG DAN OKLUSI


Dibuat oleh Cynthia Pratiwi

Sumber : HT Shillingburg. Fundamentals of Fixed Prosthodontics, 3rd ed. Quintessence


Publishing Co, Inc: USA. 1997. p. 19-22.

Relasi Sentrik

Menurut Rosenstiel, relasi sentrik merupakan hubungan maksila terhadap mandibular dimana
condyl berartikulasi dengan bagian avaskular tertipis yaitu diskus artikularis, dengan bagian
anterosuperiornya berlawanan dengan bentuk articular eminence. Relasi sentrik ini dianggap
sebagai posisi acuan/referensi karena posisi ini akan selalu ada dengan ada atau tidak adanya
kontak gigi. Jika saat pasien melakukan kontak maksimal gigi geligi RA-RB (intercuspal contact
relation/intercuspation) posisinya sama dengan relasi sentrik, maka bisa langsung dilakukan
perawatan restorasi. Namun, jika kedua posisi tersebut tidak sama maka sebelum melakukan
perawatan restorasi perlu mempertimbangkan dilakukannya corrective occlusal therapy.

25
Pada maximum intercuspation, articular disc berada pada posisi superoanterior dari condyl,
dimana condyl berada di dalam fossa

Pada initial stage saat membuka mulut, condyl berotasi pada posisinya, dengan articular disc di
posisi tetap seperti saat maximum intercuspation

Pada maximum stage saat membuka mulut, condyl translasi kedepan, dengan disc di antara
condyl dan articular eminance.

26
Dimensi vertikal adalah jarak antara dua anatomi atau titik yang telah ditentukan, salah
satunya tetap dan satunya lagi dapat digerakkan.

Dimensi vertikal terbagi menjadi dua:

1. Dimensi Vertikal Fisiologis (Rest Vertical Dimension)

Adalah jarak antara dua titik, yaitu pada maksila dan mandibula saat kepala dalam posisi
tegak, otot-otot sedang dalam keadaan istirahat (tidak kontraksi), dan condyl berada pada
posisi netral dalam fossa glenoid. Pada keadaan ini gigi tidak berkontak, serta bibir atas dan
bawah berkontak ringan. Dimensi ini bersifat konstan dan tidak dipengaruhi oleh ada atau
tidaknya gigi maupun bentuk serta posisinya, namun dipengaruhi oleh otot dan keseimbangan
otot.

2. Dimensi Vertikal Oklusi (Occlusal Vertical Dimension)


Adalah jarak vertikal antara dua titik pada maksila dan mandibula yang telah ditentukan saat
otot-otot rahang dalam keadaan kontraksi dan gigi-geligi beroklusi.

Selisih antara dimensi vertikal posisi istirahat dengan dimensi vertikal oklusi dinamakan dengan
freeway space, yang besarnya dalam keadaan normal 2-4 mm.

Jika dimensi vertikal terlalu tinggi :

- Wajah bagian bawah terlihat panjang


- Pasien sulit menutup mulut, menelan, dan berbicara
- Otot wajah terlihat tegang
- Trauma jaringan ringan
- Trauma pada TMJ (sakit dan clicking)
- Kerusakan pada residual ridge dan resorpsi tulang alveolar meningkat
- Tidak nyaman

27
Jika dimensi vertikal terlalu rendah :

- Berkurangnya tinggi wajah bagian bawah


- Dagu terlihat lebih maju
- Wajah terlihat mengkerut
- Loss of lip fullness
- Cheek biting
- Penurunan fungsi mastikasi
- Trauma pada TMJ (sakit dan clicking)

- Menyebabkan kehilangan ruang pada rongga mulut dan penurunan sudut mulut

8. KONSEP PERGERAKAN MANDIBULA


Dibuat oleh M. Satrio Prabowo
Sumber :
1. Shillingburg HT, Hobo S WL. Fundamentals of Fixed Prosthodontics. 4th ed. Vol.213.
Quitessence Publishing. 1997
2. Stephen F. Rosentiel, Martin F Land. Contemporary Fixed Prosthodontics. 4th Ed. Elsevier.
2006

1. Bilateral balanced
Inti konsep : a maximum number of teeth should contact in all excursive positions of the mandible.

Jumlah maksimum gigi-gigi harus berkontak pada semua posisi-posisi ekskursi mandibula. Pada
gerakan lateral, gigi posterior berkontak pada dua sisi yaitu working side dan balancing side.
Namun konsep ini jarang dipakai karena dapat menyebabkan frictional wear yang berlebihan.

2. Unilateral balanced/group function


Inti konsep : as much as cross-arch balance was not necessary in natural teeth, it would be best to
eliminate all tooth contact on the nonworking side.

Konsep ini menjelaskan bahwa gigi pada sisi kerja akan berkontak ketika melakukan
pergerakan mandibula ke arah lateral, gigi pada sisi kerja berkontak memiliki fungsi sebagai
distribusi beban oklusal, sebaliknya gigi pada sisi tidak kerja bebas dari kontak agar tidak
terjadi kerusakan dan mencegah adanya gaya oblique dari gigi pada sisi gigi yang tidak

28
bekerja. Konsep pergerakan mandibula ini juga memiliki keuntungan berupa melindungi centric
holding cusps seperti kuspid bukal mandibula dan kuspid lingual maksila dari wear berlebih.

3. Mutually protected/canine-protected/canine guidance/cuspid protected


Inti konsep: the anterior teeth bear all the load and the posterior teeth are disoccluded in any
excursive position of the mandible.

Hasil dari konsep ini yaitu tidak adanya frictional wear. Konsep ini juga berlaku pada gigi
anterior dimana gigi anterior melindungi gigi posterior saat melakukan pergerakan mandibula
dan gigi posterior melindungi gigi anterior pada posisi intercuspal. Hal yang perlu diperhatikan
jika ingin menggunakan konsep ini adalah kesehatan jaringan periodontal, hubungan ortodontik
maloklusi angle kelas II atau III. Konsep ini tidak bisa digunakan pada gigitan silang, kuspid
bukal RA dan RB menganggu pergerakan sisi kerja, dan kehilangan tulang alveolar bagian
anterior/kehilangan gigi kaninus.

Arah Pergerakan Mandibula

Pergerakan pada mandibula dapat dibagi menjadi 3 arah yaitu :

1. Bidang sagital arah superoinferior, dan anteroposterior


Pada bidang sagittal, mandibula mampu bergerak secara rotasi maupun translasi. Rotasi
terjadi pada sekitar terminal hinge axis, yaitu garis
imaginer horizontal yang melalui pusat rotasi pada
kanan dan kiri condyl. Pergerakan rotasi ini terbatas,
kira-kira hanya sampai 12 mm saat insisif maksila dan
mandibula terpisah, sebelum ligamen
temporomandibular dan struktur yang berada pada
anterior prosesus mastoideus memaksa mandibula
untuk bergerak secara translasi.

Animasi : https://www.youtube.com/watch?v=p4jN0iRJq9E

29
2. Bidang horizontal arah anteroposterior, dan lateral.

Beberapa sumbu vertikal. Contohnya, pergerakan lateral mandibula terdiri dari gerakan rotasi
disekitar sumbu yang terletak pada prosesus kondilaris working side, dengan sedikit gerakan
translasi yang terjadi secara bersamaan. Pergerakan kecil pada working side berupa translasi
lateral pada bidang horizontal ini disebut
laterotrusion, Bennett movement, atau mandibular
side shift. Pergerakan ini mungkin terjadi dengan
arah yang sedikit ke depan (lateroprotusion)
atau sedikit ke belakang (lateroretrusion).
Condyl yang berotasi bergerak ke depan dan
ke medial dibatasi oleh aspek medial dari fossa
mandibularis dan ligamen temporomandibular.
Selain itu, mandibula juga dapat bergerak
secara lurus ke depan (anterior).

Animasi : https://www.youtube.com/watch?v=VEyxpdRRE2w

3. Bidang vertikal/frontal arah lateral, dan superoinferior


Pada pergerakan lateral di bidang vertikal,
condyl yang tidak bekerja (mediotrusif) bergerak
ke bawah dan ke arah medial, sedangkan condyl
yang bekerja (laterotrusif) berotasi pada sumbu
sagittal yang tegak lurus terhadap sumbu frontal.
Jika dilihat dari kondil, sisi laterotrusifnya
berotasi, tapi jika dilihat dari anatomi mandibular
fossanya, sisi laterotrusifnya dapat bergerak ke
lateral dan ke atas, atau ke lateral dan ke
bawah.

Animasi : https://www.youtube.com/watch?v=XExvnR8d3uI

30
10. ETIOLOGI GANGGUAN SISTEM STOMATOGNATIK
Dibuat oleh Bernike Davitaswasti

Sumber : Okeson JP. Management of Temporomandibular Disorders and Occlusion. 6th ed. St.
Louis: Mosby Inc.

Sistem stomatognatik adalah suatu kesatuan unit fungsional yang terdiri dari komponen gigi,
jaringan pendukung, otot, pembuluh darah, syaraf, lidah, sendi temporomandibular, maksila dan
mandibula. Sistem stomatognatik memiliki fungsi bicara, mastikasi, dan deglutisi. Karena sistem
stomatognatik merupakan kesatuan unit fungsional, maka jika salah satu unit yang mengalami
gangguan, fungsi tersebut dapat terganggu.

Etiologi gangguan pada sistem stomatognatik :

1. Genetik

2. Gangguan oklusi
Gangguan oklusi yang dapat menyebabkan gangguan sistem stomatognatik yaitu seperti
penyakit dan kelainan gigi/jaringan pendukung gigi, kehilangan gigi, dan malposisi gigi.
Kehilangan gigi dan malposisi serta ektrusi gigi akan mengakibatkan perubahan keseimbangan
sehingga mengakibatkan ketidakharmonisan oklusi. Kehilangan gigi dapat mengganggu
keseimbangan gigi geligi yang masih tersisa, gangguan dapat berupa migrasi, rotasi, ekstrusi
gigi geligi yang masih tersisa pada rahang. Malposisi akibat kehilangan gigi tersebut
mengakibatkan disharmonisasi oklusal.
Gangguan oklusi juga dapat mengganggu fungsi stomatognati yang lain, seperti penampilan
wajah yang kurang menarik, resiko terhadap karies karena susunan gigi yang abnormal, dan
gangguan pada sendi temporomandibular.
Kondisi oklusal dapat menimbulkan gangguan temporomandibular disorders melalui 2
mekanisme yaitu menyebabkan ketidakstabilan tulang dan sendi dan menyebabkan perubahan
akut pada otot yang dapat menimbulkan respon co-contraction otot yang berujung pada rasa
nyeri.

31
3. Trauma fisik
Terbagi menjadi :

Makrotrauma - semua gaya sesaat dan dapat menyebabkan adanya perubahan struktural,
contoh yaitu tabrakan langsung yang terkena di muka.

Mikrotrauma - gaya kecil yang diaplikasikan pada bagian tertentu dan dilakukan terus
menerus dengan jangka waktu yang sama, contoh yaitu trauma karena kebiasaan terus menerus
melakukan bruxism, clenching.

4. Stress emosional
Stress emosional dapat membuat otot menjadi hiperaktifitas. Hal ini akan mempercepat otot
menjadi lelah, akibatnya otot menjadi kejang. Kekejangan otot inilah yang kemudian akan
memicu terjadinya perubahan-perubahan pada pola pengunyahan, disharmoni hubungan gigi-
gigi rahang atas dan rahang bawah, ketidakseimbangan distribusi beban atau pembebanan
yang berlebihan pada sendi.
Jika berlangsung lama atau terus-menerus akan menyebabkan terjadinya gangguan bahkan
kerusakan lebih lanjut pada sendi temporomandibula dan atau daerah sekitarnya. Terdapat 2
mekanisme pelepasan stress pada manusia :
- External release stress, stress disalurkan melalui berteriak, melempar, memukul dan
sebagainya.
- Internal release stress, stress dilepaskan melalui internal yang menyebabkan hipertensi,
meningkatnya ketegangan otot di daerah kepala dan leher, asma, dan meningkatnya
fungsi nonfungsional otot seperti bruxism dan clenching.

5. Kondisi sistemik
Kondisi sistemik usia lanjut berbeda dengan dewasa karena adanya proses menua sehingga
terjadi perubahan degeneratif dan fisiologis. Rongga mulut pada usia lanjut mengalami
perubahan pada jaringan keras maupun lunak akibat dari proses menua dan penyakit sistemik
yang bermanifestasi. Penurunan kemampuan fungsi mastikasi juga dapat terjadi karena
terdapat perubahan pada temporomandibular joint, gigi serta otot mastikasi. Otot mastikasi
dapat mengalami atrofi sehingga menyebabkan kekuatan gigit menurun dan menurunkan
kemampuan fungsi pengunyahan.
Selain itu, terdapat penyakit sistemik yang dapat menyebabkan gangguan sistem
stomatognatik yaitu Fahr disease yang menyerang otak dan menyebabkan perubahan fungsi
otot sehingga menyebabkan kesulitan mengartikulasikan suara dan koordinasi motorik.

32
6. Kebiasaan buruk
Kebiasaan buruk atau pergerakan parafungsional mandibula didefinisikan sebagai kegiatan
terus menerus yang terjadi melebihi fungsi normal mastikasi, penelanan, dan berbicara.
Beberapa contohnya adalah bruxism, clenching, mengigit kuku, dan lainnya. Akibatnya terjadi
tekanan oklusal berlebih dan waktu oklusi yang lebih lama dan dapat mengakibatkan keausan
gigi berlebihan, pelebaran ligamen periodontal, kegoyangan, migrasi, atau fraktur gigi,
gangguan pada otot seperti myositis (inflamasi otot), myospasme (kontraksi otot secara
involunter dengan mendadak) , atau myalgia (sakit otot). Contohnya adalah :

- Clenching
Clenching merupakan kebiasaan menekan gigi dan rahang. Tekanan yang dihasilkan bisa
berlangsung lama diselingi periode relaksasi yang singkat. Penyebab clenching dikaitkan
dengan stress, kelelahan fisik, atau konsentrasi berlebihan pada suatu tugas.

- Kebiasaan mengunyah satu sisi


Kebiasaan ini akan menyebabkan terjadinya hipertropi otot pada sisi yang aktif, dan atrofi
otot pada sisi yang tidak aktif.

- Bruxism
Bruxism merupakan kebiasaan menggertakkan gigi secara ritmik, tidak teratur, dan
involunter. Penyebab bruxism tidak jelas, bisa terjadi karena maloklusi, gangguan
neuromuskuler, stress, atau kombinasi faktor-faktor tersebut.

11. AKIBAT GANGGUAN SISTEM STOMATOGNATIK


Dibuat oleh Bernike Davitaswasti

Sumber : Okeson JP. Management of Temporomandibular Disorders and Occlusion. 6th ed. St.
Louis: Mosby Inc.

Penurunan Dimensi Vertikal

Kehilangan gigi dan malposisi serta ektrusi gigi akan mengakibatkan perubahan keseimbangan
sehingga mengakibatkan ketidakharmonisan oklusi. Kehilangan gigi dapat mengganggu
keseimbangan gigi geligi yang masih tersisa dan disharmonisasi oklusal. Contohnya yaitu

33
kehilangan gigi anterior, khusunya gigi kaninus menyebabkan pola oklusal menjadi lebih datar
karena berkurangnya tinggi tonjolan. Hal ini menyebabkan berkurangnya tinggi gigitan dan
dimensi vertikal. Sehingga wajah pasien terlihat lebih pendek.

Gangguan Sendi Rahang


Gangguan yang terjadi dapat berupa nyeri dan disfungsi sendi. Nyeri sendi disebut arthralgia.
Nyeri yang dirasakan tajam, mendadak, dan intens ketika sendi digerakkan. Ketika sendi berhenti
digerakkan maka nyeri hilang dengan cepat. Selain itu, dapat terjadi disfungsi sendi
temporomandibular. Disfungsi ini selalu berhubungan dengan pergerakan rahang. Saat terjadi
pergerakan rahang, timbul gangguan serta suara (clicking) bahkan mungkin terjadi keadaan
rahang terkunci.

Perubahan Posisi Gigi


Terjadi kelainan fungsional gigi seperti mobilitas gigi yaitu terjadi pergerakan gigi dalam
soketnya. Hal ini dapat terjadi karena hilangnya dukungan tulang dan tekanan oklusal yang luar
biasa.

12. POLA PENATALAKSANAAN GANGGUAN SISTEM STOMATOGNATIK


Dibuat oleh Bernike Davitaswasti

Sumber : Okeson JP. Management of Temporomandibular Disorders and Occlusion. 6th ed. St.
Louis: Mosby Inc.

Prioritas utama dalam penatalaksanaan gangguan fungsi stomatognatik adalah dengan


mengurangi rasa sakit/gejala pasien lalu menghilangkan etiologi yang menyebabkan gangguan
stomatognatik. Setelah itu dapat dilakukan perawatan dengan :
1. Menghilangkan kebiasaan buruk
2. Pembuatan gigi tiruan
3. Perawatan temporomandibular diorders

34
Metode perawatan untuk temporomandibular diorders dikategorikan menjadi

Definitive treatment, yaitu metode perawatan yang ditujukan untuk mengontrol dan
mengeliminasi faktor etiologi, seperti gangguan oklusi, stress emosional, trauma, dan aktivitas
parafungsional.

Definitive treatment untuk gangguan oklusi :


Perawatan yang dianjurkan adalah terapi oklusal. Terapi oklusal ini ditujukan untuk mengubah
posisi mandibular dan/atau pola oklusal dari gigi.

Ada dua tipe terapi oklusal, yaitu:


- Terapi Oklusal Reversible
Mengubah kondisi oklusal pasien sementara dan biasanya menggunakan suatu occlusal
appliances. Appliance ini berupa suatu alat dari akrilik yang dipakaikan pada gigi dalam
satu rahang yang memiliki permukaan berlawanan. Appliance ini dapat mengubah posisi
mandibular atau mengubah pola oklusi dari gigi. Terapi ini disebut reversible karena
stabilitas muskuloskeletal hanya terjadi saat appliance dipakai. Saat terapi tidak dijalakan,
pasien akan kembali ke kondisi sebelumnya.

- Terapi Oklusal Irreversible


Terapi ini dengan selective grinding atau perawatan orthodontic. Selective grinding adalah
prosedur restoratif yang memodifikasi kondisi oklusal gigi dan orthodontic appliance yang
didesain untuk mengubah pertumbuhan rahang atau reposisi mandibula secara permanen.

35
Definitive treatment untuk stress emosional :
Jika tingginya level stress emosional diduga menjadi faktor etiologi pada kelainan pasien,
perawatan yang ditujukan adalah merujuk pada psikiater atau terapis untuk melakukan stress
reduction therapy untuk mengurangi tingkat stress emosional berupa terapi psikologis, relaxation
therapy (pasien bersandar dan menenangkan diri dengan bantuan audio recording untuk
mencapai relaksasi otot), dan biofeedback training (terapi relaksasi otot masseter dengan
menggunakan sensor electromyographic dengan mengirimkan impuls untuk mengurangi aktivitas
otot).
Selain itu, metode efektif untuk mengurangi stress adalah membangun hubungan dokter-pasien
yang positif.

Definitive treatment untuk trauma :


- Maktrotrauma
Dalam kasus makrotrauma, definitive treatment tidak begitu bermakna karena etiologinya
sudah terjadi/tidak ada. Umumnya, definitive treatment untuk makrotrauma lebih bersifat
preventif, contohnya pemakaian mouth guard yang digunakan petinju untuk mencegah
trauma pada gigi.
- Mikrotrauma
Contoh definitive treatment pada kebiasaan buruk yaitu penggunaan night guard bagi
pasien yang memiliki kebiasaan bruxism atau clenching.

Supportive treatment, metode perawatan yang langsung mengobati gejala yang biasanya
tidak mempengaruhi etiologi, biasanya ditujukan untuk mengubah dan mengurangi gejala
yang dirasakan pasien seperti :
- Pendekatan farmakologis analgesik, NSAID, kortikosteroid, antidepresan, anxiolytics
(antianxiety), muscle relaxants, dan anastesi lokal.
- Terapi fisik thermotherapy, coolant therapy, ultrasound therapy
- Manual technique exercise, seperti muscle conditioning, joint mobilization, dan soft tissue
mobilization.

4. Perawatan ortodontik

36
13. PEMERIKSAAN LENGKAP DAN PENGISIAN REKAM MEDIK
Dibuat oleh Bilqis Nurul Azizah

Sumber : Textbook of Prostodhontic, Rosenstiel, Buku Panduan Rekam Medik Prostodonsia

Anamnesis

1. Status Umum
- Penyakit yang berhubungan dengan pembuatan gigi tiruan seperti diabetes, penyakit
jantung, kelainan darah (anemia, hemofilia, dst), alergi, penyakit gastro-intestinal, penyakit
infeksi (TBC, sifilis , hepatitis, HIV-AIDS, dst)
- Penyakit lain
- Nama/telepon dokter keluarga
Kemudian buat kesimpulan medis dari data yang diambil

2. Status Khusus
- Riwayat kegoyangan gigi (disertai lokasi dan sebab kegoyangan)
- Riwayat pendarahan rongga mulut (disertai lokasi, deskripsi (spontan/tidak) dan waktu)
- Sebab kehilangan gigi (disertai deskripsi : lubang besar/gigi goyang/benturan) , dan
riwayat pencabutan terakhir disertai regio
- Riwayat pembuatan gigi tiruan (disertai deskripsi lokasi, macam gigi tiruan, masih/tidak
digunakannya, dan pengalaman dengan gigi tiruan lama)
- Tujuan pembuatan gigi tiruan (dari pihak pasien)

37
Pemeriksaan Ekstra Oral

1. Bentuk muka : lonjong/persegi/segitiga/kombinasi


2. Profil wajah : lurus/cembung/cekung. Bentuk dan profil
muka perlu diperiksa untuk pemilihan bentuk dan susunan
elemen gigi, dan juga digunakan sebagai pedoman untuk
penetapan hubungan rahang.
3. Pupil : sama tinggi/tidak sama tinggi
4. Tragus : sama tinggi/tidak sama tinggi
5. Hidung : simetris/asimetris; pernafasan melalui hidung:
lancar/tidak
Pemeriksaan ini terutama untuk menentukan garis interpupil dan

garis camper (garis yang ditarik dari tragus ke basis hidung) pada kehilangan banyak gigi.

- Garis interpupil ditentukan untuk kesejajaran dengan bidang insisal galengan gigit anterior
- Garis camper ditentukan untuk kesejajaran dengan bidang oklusal galengan gigit posterior.

6. Rima oris : sempit/normal/besar ; panjang/normal/pendek


Rima oris yang sempit akan menghalangi penempatan sendok cetak dan bahan cetak ke dalam
mulut, maka pemilihan ukuran bahan cetak harus lebih diperhatikan.

7. Bibir atas dan bibir bawah : hipotonus/normal/hipertonus; tebal/tipis; simetris/asimetris ;


panjang/ pendek.
- Tonus dan tebal tipisnya bibir berhubungan dengan inklinasi labio-lingual gigi anterior.
- Panjang pendeknya bibir menetukan letak bidang insisial dan garis tertawa.

8. Sendi rahang
- Kanan dan kiri : bunyi/tidak
- Buka mulut : ada deviasi ke kanan atau ke kiri/tidak ada deviasi
- Trismus (kesulitan membuka mulut) : berapa mm/tidak ada

38
9. Kelainan lain yang ada di rongga mulut
Contoh : pembengkakan/celah bibir/celah langit-langit/tic doloreux/angular cheilitis/pasca
bedah maksilektomi/mandibulektomi/ THT, dll.

Pemeriksaan Intra Oral

Pemeriksaan Umum

1. Oral hygiene : buruk/sedang/baik


2. Kalkulus : ada/tidak ada
3. Stain : ada/tidak ada
4. Saliva
Kualitas dan kuantitas saliva mempengaruhi retensi terutama pada gigi tiruan lengkap.

- Kuantitas : sedikit/normal/banyak
- Kualitas : encer/normal/kental

5. Lidah
- Ukuran : kecil/normal/besar
Lidah yang terlalu besar akan menyulitkan pada waktu pencetakan dan pemasangan gigi
tiruan. Pasien akan merasa ruang lidahnya sempit, sehingga terjadi gangguan bicara dan
kestabilan protesa.

- Posisi Wright : Kelas I/II/III


Posisi kelas I : Posisi ujung lidah terletak di atas gigi anterior bawah. Posisi lidah yang
menguntungkan adalah kelas I.
Posisi kelas II : Posisi lidah lebih tertarik ke belakang
Posisi kelas III :Lidah menggulung ke belakang sehingga terlihat frenulum lingualis

39
- Mobilitas : normal/aktif Lidah yang mobilitasnya tinggi (aktif) akan mengganggu retensi
dan stabilisasi gigi tiruan.

6. Refleks muntah : tinggi/rendah mempengaruhi proses pencetakan


7. Mukosa oral : sehat/ada kelainan.
8. Gigitan : ada/tidak ada ; bila ada : stabil/tidak stabil
- Tumpang gigit (overbite) anterior : mm, posterior : mm
- Jarak gigit (overjet) anterior : mm, posterior : mm
*) Nilai overjet dan overbite normal berkisar 2-4mm. Bila lebih, oklusi yang lama tidak bisa
dipakai pedoman penentuan gigit.
- Gigitan terbuka : ada/tidak ada; regio
- Gigitas silang : ada/tidak ada; regio
- Hubungan rahang : ortognati/retrognati/prognati
Hubungan rahang ditentukan dengan meletakkan jari telunjuk pada dasar vestibulum
anterior RA dan ibu jari pada dasar vestibulum RB.

Ortognati bila ujung kedua jari terletak segaris vertikaaaaal


Retrognati bila ujung ibu jari lebih ke arah pasien
Prognati bila ujung jari telunjuk lebih ke arah pasien

9. Artikulasi
Diperiksa pada sisi kanan dan kiri, dapat berupa ada/tidaknya :

a. Cuspid protected/canine guidance/mutually protected gigi C sebagai pelindung bagi gigi


posterior, disklusi pada gigi posterior.
b. Group function/unilateral balanced occlusion kontak gigi posterior saat mandibula
bergerak ke lateral.
c. Bilateral balanced occlusion artikulasi seimbang
Pemeriksaan ada tidaknya kontak prematur dan blocking. Jika terdapat kontak
prematur, dilakukan occlusal adjustment.
Selanjutnya diperiksa gerak rahang ke lateral kiri dan kanan, ada atau tidak
hambatan.

10. Daya kunyah : normal/besar


Bila terlihat banyak gigi yang mengalami atrisi, maka dapat diprediksi tekanan kunyah pasien
besar

40
11. Pemeriksaan rontgen
- Dental : perlu/tidak, untuk gigi apa.
Jika dari foto panoramik dicuragi foto terdapat kelainan tertentu. Untuk pembuatan gigi
tiruan cekat selalu dilakukan.
Fungsi :
Melihat perluasan karies pada aproksimal
Melihat keadaan jaringan periodonsium dan tulang alveolar, struktur tulang
Melihat impaksi gigi dan kelainan periapikal
Melihat migrasi gigi apakah dapat diperbaiki atau tidak
Melihat bentuk, panjang, dan jumlah akar
- Panoramik : perlu/tidak
Sebenarnya selalu diperlukan untuk menentukan rencana perawatan, terutama untuk kasus
kehilangan banyak gigi.

- Temporomandibular joint : perlu/tidak


Jika terdapat kelainan rahang, maka pembuatan gigi tiruan harus ditunda dan didahului
oleh foto sendi rahang untuk mengetahui posisi kondilus dalam fossa.

- Interpretasi Foto

12. Kebiasaan buruk


- Bruxism/clenching
- Menggigit bibir/benda keras
- Mendorong lidah
- Mengunyah satu sisi kanan atau kiri
- Hipermobilitas rahang dll

Pemeriksaan Gigi Geligi dan Tulang Alveolar

1. Odontogram
Memeriksa keadaan gigi geligi terhadap : karies, tumpatan, sisa akar, gigi goyah, resorpsi
tulang, resesi gingiva, luas kavitas dan kedalaman, poket/sulcus gingiva, atrisi/abrasi, dan
derajat goyang.

41
2. Fraktur gigi
- arah fraktur : horizontal/diagonal/vertikal
- arah garis fraktur (<1/3, 1/3, , 2/3, serviko insisal/serviko oklusal/mesio distal)
- diagnosis gigi fraktur tersebut

3. Lain-lain : gigi kerucut/mesiodens/diastema/impaksi/miring/berjejal/labio version/linguo


version/hipoplasia, dll.
4. Ketinggian tulang alveolar (sesuai dengan foto panoramik)
5. Perbandingan mahkota akar
Mahkota akar yang lebih dari 1:1 memiliki prognosis yang buruk sebagai abutment, namun
masih bisa menyangga protesa.

PEMERIKSAAN PELENGKAP (RADIOGRAFIS)


Menurut beberapa referensi, teknik radiograf yang biasa digunakan adalah teknik panoramik,
karena gambar pada radiograf panoramik mencakup maksila dan mandibula. Menurut buku
Rosenstiel, dikatakan dapat menggunakan full periapical series, panoramik, dan transkranial.

- Full periapical series untuk pasien yang akan dirawat dengan GTC.

- Panoramik untuk menilai gigi M3 dan impaksi, mengevaluasi tulang sebelum implant, dan
screening lengkung edentulous, namun ukurannya terdistorsi.

- Transkranial untuk melihat kelainan TMJ.

Yang perlu diperhatikan saat pemeriksaan radiograf:

- Rahang diperiksa untuk melihat ada tidaknya fragmen akar, gigi yang
tidak erupsi, sklerosis, kista, tumor dan TMJ disorder.

- Ada tidaknya ridge resorption

- Kuantitas dan kualitas tulang

- Karies dan perluasannya, hubungannya dengan pulpa dan jaringan


periodontal

- Evaluasi restorasi

42
- Evaluasi perawatan endodontik untuk menentukan prognosis

- Menilai keadaan jaringan periodontal

Penilaian radiografi untuk resorpsi tulang

1. Class I (Mild Resorption) : Kehilangan tulang hingga 1/3 dari ketinggian vertikal

2. Class II (Moderate Resorption): kehilangan tulang hingga 2/3 dari ketinggian vertikal

3. Class III (Severe Resorption): kehilangan tulang lebih dari 2/3 dari ketinggian vertikal

Yang harus di interpretasi :


1. Panjang, Ukuran, dan Bentuk Akar

- Gigi dengan akar yang besar dan panjang, baik untuk dijadikan gigi penyangga karena
memiliki periodontal support yang luas.

- Gigi dengan bentuk akar yang tapered atau conical tidak disarankan untuk dijadikan gigi
penyangga

- Multirooted teeth dengan akar yang konvergen lebih baik daripada gigi dengan satu akar
atau akar yang fusi apabila dijadikan gigi penyangga

- Kualitas dari dukungan alveolar penting karena gigi harus menahan tekanan besar ketika
menggunakan protesa terutama gaya horizontal

- Interproksimal akar, yaitu jarak akar dengan akar sebelahnya. Apabila jaraknya jauh,
maka itu lebih baik

2. Densitas Tulang

3. Index Area

Index area adalah area dari dukungan alveolar yang memperlihatkan reaksi tulang terhadap
tekanan tambahan.

4. Lamina Dura

5. Ruang Ligamen Periodontal

43
6. Validasi tingkat keparahan penyakit

44
14. SIKAP MENTAL PASIEN
Dibuat oleh Bilqis Nurul Azizah

Sumber : Buku Panduan Rekam Medik Prostodonsia

Sikap mental pasien prostodonsia menurut House dibagi menjadi 4 kelompok yaitu :

1. Filosofis
Tipe yang terbaik. Pasien biasanya bersikap rasional dan percaya terhadap dokter yang
merawatnya. Motivasi juga baik untuk memelihara kesehatan gigi dan penampilan. Tipe pasien ini
juga cepat untuk beradaptasi.

2. Exacting
Tipe yang hampir menyerupai tipe pertama tetapi lebih banyak tuntutannya. Sifat pasien ini
metodikal dan akurat. Ingin diikut-sertakan dalam perawatan dan minta penjelasan secara rinci.
Untuk mencapai keberhasilan yang optimal, perlu dilakukan pendekatan dan penjelasan yang lebih
baik. Cara menanangani pasien exacting, yaitu :
- Menjelaskan tujuan dan prosedur perawatan
- Menjelaskan kerugian, efek samping, potensi masalah yang dapat muncul
- Sebaiknya dokter gigi menjadwalkan waktu kunjungan ekstra

3. Indifferent
Tipe pasien yang apatis, tidak peduli akan penampilannya, tidak merasakan perlunya perawatan
gigi tiruan, jadi tidak mempunyai motivasi. Selain itu pasien juga tidak memperhatikan instruksi yang
diberikan, tidak kooperatif, dan cenderung menyalahkan dokter yang merawatnya. Untuk
memperoleh keberhasilan, diperlukan seorang pendamping atau keluarga untuk memberikan
penjelasan sehubungan dengan perawatannya. Prognosis kurang menguntungkan.

4. Histerical
Pasien yang sangat emosional, tidak stabil, mempunyai reaksi berlebihan dan sangat sensitif. Pasien
biasanya takut terhadap perawatan kedokteran gigi, dan yakin bahwa pemasangan gigi tiruan akan
berakhir dengan kegagalan. Prognosis seringkali kurang baik, dan kadang-kadang diperlukan
bantuan psikiater sebelum perawatan dimulai.

45
15. PENCETAKAN, PEMELIHARAAN HASIL CETAKAN, SERTA MEMBUAT
MODEL STUDI
Dibuat oleh Claritasha Adienda
Sumber :
1. Rosentiel SF, Land MF, Fujimoto J. Contemporary Fixed Prosthodontics, 4th ed. Louis: Mosby
Inc. 2006.
2. Carr AB, Brown DT. McCrackens Removable Partial Prosthodontics, 12th ed. Elsevier, St. Louis.
2011.
3. Powers JM and Sakaguchi RL. Craigs Restorative Dental Materials. Mosby Elsevier
4. Phillips RW. 1991. Science of Dental Materials. 9th ed. WB Saunders Co., Harcourt Barce
Jovanovich Inc., Philadelphia Powers

Cetakan terbagi menjadi 2 jenis, yaitu cetakan positif dan cetakan negatif. Cetakan negatif adalah
hasil cetakan pada model (contoh : alginat), lalu setelah cetakan tersebut digips dan menjadi model
studi/model kerja, disebut dengan cetakan positif.

Cetakan negatif menggunakan material cetak


Macam-macam material cetak :

Hidrokoloid
Reversibel (Agar)
Hidrokoloid
Hidrokoloid
Ireversibel
(Alginat)

Elastic Polysulfide

Silikon
Kondensasi
Elastomer
Material Cetak
Silikon Adisi

Gips Plaster

Polieter
Impression
Non-elastic
Compound

Pasta ZOE

46
Alat dan bahan untuk membuat cetakan negatif :

- Material cetak
- Bowl
- Spatula
- Sendok cetak/tray
- Desinfektan
- Kain lembab/tisu basah/zipper bag

Cetakan Positif model kerja/ model studi

Alat dan bahan untuk membuat cetakan positif :


- Gypsum

Dental Plaster
(Tipe I)

Plaster Model
(Tipe II)

Dental Stone
Gipsum (Tipe III)

Dental Stone
High Strength
(Tipe IV)
Dental Stone
High Strength and
High Expansion
(Tipe V)

- Bowl
- Spatula
- Lekron
- Vibrator

47
Prosedur dan Manipulasi Pembuatan Cetakan Negatif dengan Alginat
1. Siapkan alat dan bahan
2. Sesuaikan sendok cetak dengan rahang pasien
3. Takar air (sesuaikan dengan aturan pabrik) dan masukan ke dalam bowl
4. Takar bubuk alginat menggunakan sendok peres yang tersedia (sesuaikan dengan aturan
pabrik), tuang bubuk alginat yang telah sesuai ke bowl yang berisi air
5. Segera basahi seluruh bubuk alginat dengan air dan lakukan pengadukan (dengan gerakan
menekan spatula ke bowl, gerakan ini bertujuan untuk mencegah terjebaknya gelembung
udara)
6. Setelah adonan homogen, kumpulkan adonan alginat di spatula lalu letakkan pada sendok
cetak dari bagian posterior dan diratakan ke bagian anterior
7. Lakukan pencetakan pada rahang dengan menekan bagian posterior terlebih dahulu, lalu
dilanjutkan ke anterior
8. Lepaskan hasil cetakan dengan menekan sendok cetak pada bagian anterior terlebih dahulu
(lihat alginat sudah setting atau belum dengan melihat sisa alginat di bowl)

Evaluasi Hasil Cetakan Negatif


Untuk memastikan keakuratan cetakan negatif ada beberapa tanda anatomis yang dapat dilihat:

Rahang Atas
1. Palatum
2. Vestibulum labialis
3. Vestibulum bukalis
4. Frenulum bukalis

48
5. Frenulum labialis
6. Hamular notch
7. Tuberositas maksila
8. Prosesus alveolaris
9. Papilla insisivum

Rahang Bawah
- Vestibulum labial
- Vestibulum lingual
- Retromolar pad
- Frenulum labialis
- Frenulum lingualis
- Frenulum bukalis
- Mylohyoid ridge
- Buccal shelf

- Linea oblique eksterna


- Otot dasar mulut

Pemeliharaan Hasil Cetakan Negatif


- Setelah pencetakan selesai, sebaiknya cuci hasil cetakan di bawah air mengalir dan beri
desinfektan untuk mencegah penyebaran infeksi. Dapat menggunakan glutaraldehid, iodophor,
dan lain-lain.
- Kekurangan alginat yang harus diperhatikan ketika sudah setting adalah dimensinya yang
tidak stabil.

49
Jika lebih dari 10 menit cetakan terlalu lama terkena air maka akan terjadi imbibisi sehingga
alginat mengembang.

Jika dibiarkan kering di ruangan terbuka dapat terjadi penguapan air sehingga alginat
mengerut.

Untuk mencegah kedua hal tersebut, hasil cetakan dapat ditutup dengan handuk/kain lembab,
tisu basah, simpan di dalam kantung plastik tertutup, atau masukan ke humidor yang mempunyai
kelembapan atmosfir 100%.

Pengecoran Model Studi (Cetakan Positif)


1. Siapkan alat dan bahan. Gipsum yang digunakan adalah tipe III (dental stone, untuk gigi tiruan
penuh) dan IV (dental stone high-strength, untuk gigi tiruan jembatan)
2. Tuang air lalu gipsum yang sesuai dengan ketentuan pabrik. Aduk dengan spatula selama satu
menit atau hingga homogen
3. Letakkan tray yang berisi cetakan negatif di atas vibrator
4. Tuangkan gipsum sedikit demi sedikit ke cetakan negatif, biarkan gipsum mengalir ke seluruh
bagian cetakan negatif
5. Basis pada model studi dapat dibuat dengan gipsum yang sama dengan ketebalan 16-18 mm
6. Setelah seluruh cetakan negatif terisi gipsum, diamkan pada suhu ruangan selama 30 menit
atau sampai mencapai initial setting
7. Lepaskan cetakan positif yang telah mengeras di bawah air mengalir
8. Trim bagian yang berlebih.

50
16. CARA PEMASANGAN MODEL STUDI DI ARTIKULATOR
MENGGUNAKAN CATATAN GIGIT
Dibuat oleh Claritasha Adienda
Sumber :
1. Nallaswamy D. Textbook of Prosthodontics. India: Jaypee Brothers Medical Publisher;
2003.
2. Phoenix R, Cagna D, DeFreest C. Stewart's clinical removable partial prosthodontics. 3rd
ed. Chicago: Quintessence; 2008.

Operator harus membuat catatan gigit pasien guna mendapatkan relasi mandibula terhadap
maksila pada artikulator yang sama kedudukannya seperti pada kondisi asli pasien. Pembuatan
catatan gigit dapat dilakukan dengan cara pembuatan galangan gigit dan lempeng gigit.

Galangan gigit digunakan sebagai guidance gigi tiruan yang akan dibuat, lokasi pencatatannya
sesuai lokasi kehilangan gigi. Sedangkan lempeng gigit berperan sebagai basis.

Pembuatan catatan gigit dilakukan setelah preparasi dan sebelum pemasangan restorasi
sementara. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan wax merah dengan berpedoman pada
oklusi sentris. Untuk membuat galangan gigit, lunakkan permukaan oklusal wax di atas spiritus, lalu
masukkan ke mulut pasien dan pasien diinstruksikan untuk oklusi sentris. Setelah wax kembali
mengeras, akan terlihat jejas-jejas gigitan pada galangan gigit.

Prosedur Pemasangan Model Studi pada Artikulator


1. Me-reset Artikulator
- Hilangkan segala hambatan yang dapat mengganggu pergerakan artikulator.
- Incisal pin harus terletak dengan pas
- Condylar guidance harus diset dengan inklinasi 30o

2. Tanam model atas dan bawah pada cetakan basis karet khusus gips putih.
3. Setelah mengeras, model dibuka dari cetakan basis karet
4. Buat garis tengah model
5. Fiksasi kedudukan model maksila dan mandibula menggunakan catatan gigit menggunakan
karet gelang, tusuk gigi, atau batang korek api, lalu rekatkan dengan sticky wax
6. Siapkan artikulator rata-rata (average articulator), letakkan model atas dan bawah yang
terfiksasi dengan bantuan plastisin sehingga bidang oklusal model sejajar dengan garis lurus

51
lengan artikulator (ditarik dari tengah lengan vertikal sisi kiri dan kanan). Incisal pin berjarak
1-2 mm dari permukaan insisal midline.
7. Fiksasi model terhadap lengan atas artikulator menggunakan gips putih
8. Setelah gips mengeras, buang plastisin
9. Balik artikulator untuk memfiksasi model terhadap lengan bawah dengan gips putih
10. Setelah gips mengeras, rapikan permukaan gips.

17. ANALISIS MODEL STUDI DI ARTIKULATOR


Dibuat oleh Claritasha Adienda
1. Nallaswamy D. Textbook of Prosthodontics. India: Jaypee Brothers Medical Publisher;
2003.
2. Phoenix R, Cagna D, DeFreest C. Stewart's clinical removable partial prosthodontics. 3rd
ed. Chicago: Quintessence; 2008.

Tujuan
1. Menghitung kedalaman dan luas dari undercut
2. Mengevaluasi tuberositas yang besar
3. Mengevaluasi adanya restorasi yang buruk terutama pada gigi yang direncanakan menjadi
penjangkaran
4. Mengevaluasi relasi rahang atas dan rahang bawah (oklusi)
5. Mengevaluasi kontak oklusal geligi atas dengan geligi yang bawah, gigi yang ekstrud, gigi
malposisi
6. Mengevaluasi bidang oklusi, kurva spee, overjet, overbite
7. Mengevaluasi ruang protesa
8. Mendapatkan kestabilan model (pada kasus oklusi ada yang tidak stabil)
9. Mengedukasi pasien
10. Menentukan jalan insersi denture
11. Mengidentifikasi dan merencanakan pengobatan
12. Mencoba prostesis maksilofasial
13. Menentukan jumlah pembedahan preprostetik yang diperlukan
14. Mengevaluasi ukuran dan kontur arch
15. Mengidentifikasi retensi dan stabilitas jaringan
16. Mengevaluasi sisa gigi yang akan dijadikan penjangkaran sesuai dengan desain GTSL/GTC
17. Menentukan diperlukannya elemen retentif tambahan seperti over denture abutment, implant
abutment, dll.

52
Analisis Model Studi
Model studi yang dipasang di artikulator dapat menyediakan informasi penting yang sulit didapat
dengan pemeriksaan intraoral yang karena adanya bibir, pipi, dan tengkorak mengakibatkan
tidak adanya akses visual yang baik atas keadaan gigi dalam mulut. Model studi mampu
menyediakan akses visual dari seluruh sisi dan memudahkan dokter gigi untuk membuat analisis
mendetail akan oklusi pasien.

53
Hal-hal yang harus dianalisis :

1. Interarch Distance jarak antar lengkung rahang maksila dan mandibula secara vertikal.
Masalah yang paling sering dijumpai adalah kurangnya interarch distance untuk peletakan gigi
prostesa. Biasanya, masalah ini diakibatkan oleh tuberositas maksila yang terlalu besar.
Pengurangan tuberositas secara bedah mungkin diperlukan.

2. Occlusal Plane bisa saja irreguler akibat ekstrusi dari satu atau beberapa gigi. Keadaan
ini membutuhkan prosedur korektif bila ingin mencapai oklusi yang baik.
- Irregular Occlusal Plane
Pengobatan tergantung dari tingkat keparahan ekstrusi dan kondisi gigi. Enameloplasti
dapat digunakan untuk mengurangi gigi yang terekstusi sedang, sekitar 2 mm enamel dapat
dibuang dengan prosedur ini. Biasanya, pengurangan ini dapat mengoreksi kesenjangan
di occlusal plane. Jika ekstrusi lebih besar dari 2 mm atau gigi tidak memungkinkan untuk
dilakukan enameloplasti, pemasangan crown mungkin dapat dilakukan. Apabila ukuran
pulpa dapat mencegah pengurangan gigi yang diperlukan, terapi endodontik harus
dilakukan sebelum preparasi. Apabila panjang mahkota klinis kurang, diperlukan prosedur

54
pemanjangan mahkota sebelum dilakukan preparasi. Gigi dengan ekstrusi parah mungkin
memerlukan pencabutan dan rekonturing tulang di sekitarnya.

55
- Malpositioned Occlusal Plane
Dapat terjadi pada kasus gigi P dan M yang kehilangan gigi antagonisnya pada satu atau
dua sisi dental arch. Gigi tersebut akan terekstrusi dan dapat mendekati residual ridge yang
akan menyebabkan masalah ruang dan malposisi occlusal plane. Pengobatan yang dapat
dilakukan berupa pencabutan gigi yang terekstrusi dengan alveolektomi ekstensif.

3. Malrelasi Rahang Malrelasi rahang yang parah dapat mengakibatkan terhalangnya


restorasi fungsi dan estetika yang baik sehingga diperlukan prosedur osteotomi maksila dan
mandibula.

4. Gigi yang Tipping atau Malposisi Gigi posterior biasanya tipping secara anterior ketika
ada ruang edentulus mesial dari gigi tersebut, dan dibutuhkan prosedur ortodontik.

5. Oklusi Masalah yang umum dijumpai adalah gangguan oklusal. Lebih dari 90% pasien
memiliki kesenjangan relasi sentris dan posisi interkuspal maksimal. Pasien yang edentulus
sebagian memiliki kemungkinan lebih besar untuk memiliki kontak oklusal yang tidak baik.
Biasanya, pasien dapat beradaptasi sehingga tidak menyebabkan terjadinya trauma, namun
ada batas terhadap adaptasi fisiologis ini. Akibatnya, mungkin saja terjadi respons otot
berlebih yang menyebabkan bruxism. Bruxism parah dapat melukai gigi, jaringan periodontal,
dan temporomandibular joint.

6. Peran Ekuilibrasi Oklusal grinding selektif atau pembentukan ulang mahkota gigi dengan
tujuan menghasilkan kontak oklusal yang baik, meminimalisir gaya non-aksial, dan
mengharmoniskan relasi kuspal. Ekuilibrasi oklusal ekstensif sebaiknya tidak dilakukan pada
pasien dengan disfungsi temporomandibular joint akut. Untuk menentukan kemungkinan dan hasil
dari proses ini, ekuilibrasi sebaiknya dilakukan pada model studi terlebih dahulu. Percobaan
ekuilibrasi dapat menjadi rancangan untuk penyesuaian intraoral dan semua langkah harus

56
dicatat sebagai pedoman. Ekuilibrasi juga dapat mengindikasikan kebutuhan ekstraksi, terapi
ortodontik, dan pemasangan restorasi, atau kombinasi prosedur tersebut.

57