Anda di halaman 1dari 22

HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Lengkap Praktikum Biologi Dasar dengan judul Anatomi

Hewan Vertebrata yang disusun oleh :

Nama : Nursuci Arfiany

NIM : 1516041005

Kelas : Pendidikan IPA Reguler

Kelompok : II (Dua)

telah diperiksa oleh Asisten dan Koordinator Asisten maka dinyatakan diterima.

Makassar, Januari 2016


Koordinator Asisten Asisten

Mangngemba Daeng Paropo Yulianti Hasan


NIM : 1114040057 NIM : 1214141004

Mengetahui,
Dosen Penanggung jawab

Drs. H. Hamka L, M. Si
NIP : 19621231 198702 1 005
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap mahluk hidup baik itu manusia, hewan maupun tumbuhan
memiliki ciri-ciri yang berbeda-beda. Manusia dengan manusia lain juga
masih memiliki ciri-ciri yang berbeda, hewan dengan hewan lainpun juga
memiliki ciri yang berbeda begitupun tumbuhan dan tumbuhan lainnya.
Keanekaragaman bentuk atau ciri dari makhluk hidup berkaitan dengan
keberagaman bentuk penyusun tubuh makhluk hidup tersebut. Salah satu
contoh adalah anatomi/bentuk tubuh atau organ makhluk hidup. Pada
umumnnya, anatomi setiap jenis makhluk hidup mempunyai perbedaan dan
juga persamaan. Anatomi makhluk hidup dapat dibagi menjadi dua yaitu
anatomi tumbuhan dan anatomi hewan. Pada anatomi hewan dapat dibedakan
menjadi dua kelompok besar yaitu anatomi hewan bertulang belakang
(vertebrata) dan anatomi hewan tak bertulang belakang (invertebrata).
Salah satu hewan vertebrata adalah kelas amfibi. Amfibi adalah jenis
hewan vertebrata (Hewan bertulang belakang) yang pada umumnya hidup di
dua alam, yaitu darat dan air contohnya katak atau kodok. Katak yang
merupakan ampibi memiliki sistem organ yang lengkap. Tubuh vertebrata
sangat identik dengan tubuh manusia yang dapat dilihat dari sistem organ dan
fungsinya. Hal itulah yang mempermudah dalam mempelajari sistem organ
yang ada pada manusia, dengan menggunakan tubuh hewan vertebrata
sebagai objek pengamatan berkaitan dengan susunan tubuhnya. Selain itu,
salah satu tujuan katak/kodok diciptakan oleh Allah SWT adalah sebagai
objek pengamatan untuk mempermudah kita dalam mempelajari hal-hal yang
berkaitannya.
Untuk mengetahui struktur dan fungsi organ-organ yang terdapat pada
hewan vertebrata dalam hal ini adalah katak, maka dilakukanlah percobaan
anatomi hewan vertebrata dengan mengamati bagian atau organ-organ yang
ada pada tubuh katak. Bagian-bagian luar katak dapat diamati secara langsung
seperti mulut, mata, tungkai dan lain-lain. Namun lain halnya dengan organ-
organ yang ada pada katak, kita perlu melakukan pembedahan untuk
memudahkan mengamati organ-organ pada katak berupa bentuk, kedudukan,
warna, letak organ dan hubungannya dengan organ lain. Sistem organ yang
akan diamati antara lain sistem pencernaan, sistem peredaran darah, sistem
pernapasan (respirasi), sistem pengeluaran (ekskresi), dan sistem reproduksi
untuk membedakan antara katak jantan dan katak betina atau kodok jantan
dan kodok betina.
B. Tujuan
Mahasiswa dapat mengenali bentuk, warna, dan letak organ, serta
hubungannya dengan organ lain pada suatu sistem organ.
C. Manfaat
Dengan adanya praktikum mengenai anatomi hewan vertebrata
mahasiswa dapat mengetahui organ dan sistem organ yang ada dalam tubuh
hewan vertebrata serta mengetahui bagian-bagian dari organ tersebut.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Tubuh makhluk hidup terdiri atas berbagai macam organ. Masing-masing


organ terdiri atas bagian-bagian yang lebih kecil lagi. Bagian terkecil dari suatu
makhluk hidup disebut sel. Sel tubuh makhluk hidup yang bentuk dan fungsinya
sama mengelompok membentuk suatu jaringan. Berbagai jaringan menjadi satu
membentuk organ (alat tubuh). Selanjutnya beberapa jenis organ saling
berhubungan dan menjalankan fungsi tertentu membentuk sistem organ. Akhirnya
seluruh sistem organ bergabung membentuk suatu organisme berupa manusia,
hewan, atau tumbuhan (Yudiarti,2004).
Tubuh hewan terdiri dari berbagai organ tubuh. Organ-organ yang bekerja
sama dalam melakukan fungsi yang lebih tinggi membentuk sistem organ.
Anatomi katak dapat memberikan gambaran umum organ-organ utama pada
hewan vertebrata (Hamka, 2015).
Amphibia (amphibian, Kelas Amphibia) kini diwakili olek sekitar 6.150
spesies salamander (Ordo Urodela, yang berekor), katak (Ordo Anura, yang tak
berekor), dan sesilia (Ordo Apoda, yang tak berkaki). Anura, yang berjumlah
sekitar 5.420 spesies, lebih terpesialisasi untuk bergerak di daratan dari pada
urodela. Katak dewasa menggunakan kaki belakangnya yang kuat untuk
melompat-lompat dilapangan. Katak menangkap serangga dan mangsa yang lain
dengan menjulurkan lidahnya yang panjang dan lengket, yang melekat ke bagian
depan mulut. Katak menunjukkan berbagai macam adaptasi yang membantunya
untuk menghindari pemangsaan oleh predator yang lebih besar (Campbell, 2008).
Ada sekitar 3000 spesies amphibia hidup di dunia, yang di kelompokkan
Dalam 3 golongan yaitu anura (katak dan kodok), caudata atau urodela
(salamander) dan gymnophiona atau apoda (caecilia). Hanya ada sekitar 60
spesies caecilia dan sekitar 200 jenis salamander. Jadi sebagian besar amphibia
terdiri atas katak dan kodok (Sukiya, 2003).
Amphibi (berasal dari kata amphibious, berarti kedua cara hidup)
mengacu pada tahap-tahap kehidupan dari banyak spesies katak yang awalnya
hidup di air kemudian di daratan. Tahap larva katak, disebut kecebong, biasanya
merupakan herbivore akuatik dengan insang, sistem gurat sisi yang menyerupai
vertebrata akuatik, dan ekor yang panjang dan bersirip. Kecebong pada awalnya
tidak memiliki kaki; ia berenang dengan mengibas-ngibaskan ekornya. Selama
metamorphosis yang menuju ke kehidupan kedua, kecembong mengembangkan
kaki, paru-paru, sepasang gendang telinga eksternal, dan sistem pencernaan yang
teradaptasi untuk cara makan karnivora. Dalam waktu yang sama, insang
menghilang; sistem gurat sisi juga menghilang pada sebagian besar spesies. Anak
kata merayap menuju ke pesisir dan menjadi pemburu terestrial. Akan tetapi,
terlepas dari namanya, banyak amphibia tidak menjalani kehidupan ganda-
akuatik dan terrestrial (Campbell, 2012).
Terminologi amphibia diterapkan pada anggota kelas ini karena
sebagian besar hewan menghabiskan tahap awal kehidupannya di dalam air, dari
bentuk larva berupa kecebong yang bernapas dengan insang luar kemudian larva
mengalami metamorfosa menjadi anak katak dengan pernapasan berupa paru-
paru, kehidupan demikian inii tidak mutlak untuk semua amfibi ,ada beberapa
yang tidak pernah meninggalkan air dan yang lainnya tidak pernah masuk
kedalam air (Sukiya, 2003).
Menurut Sukiya (2003) Sistem yang menyusun tubuh katak adalah sebagai
berikut:
1. Sistem Pencernaan
Katak air butuh sedikit kelenjar oral, karena makanan mereka bereda di
air sehingga tidak memerlukan banyak kelenjar mucus di mulut. Kelenjar-
kelenjar ini banyak terdapat pada katak dan kodok darat, khususnya pada lidah
yang digunakan untuk menangkap mangsa.Amphibi darat juga memiliki
kelenjar intermaksilari pada dinding mulutnya. Ada beberapa amphibia yang
lidahnya tidak bergerak, tetapi sebagian besar bangsa ini mempunyai lidah
yang dapat dijulurkan keluar (protrusible tongue) serta pada katak dan
kodoklidah digulung ke belakang bila tidak digunakan. Esofagus pendek dapat
dibedakan dari lambung. Usus menunjukkan berbagai veriasi, pada kodok dan
katak terdapat usus yang relatif panjang, menggulung yang membuka ke
kloaka.
2. Sistem Pernapasan
Katak mengalami metamorfosa. Awal hidupnya, katak berupa berudu
yang hidup di air dan bernafas menggunakan insang. Lalu setelah dewasa,
katak bernafas menggunakan paru-paru. Katak dewasa melakukan pertukaran
gas pernafasan melalui kulit dan paru-paru, sehingga larva harus timbul ke
permukaan air untuk menghirup udara. Paru-paru pada katak berbentuk
kantung dan luas permukaan internalnya agak diperluas oleh lipatan seperti
saku. Tetapi luas permukaan itu jauh lebih sempit jika dibandingkan dengan
vertebrata tingkat tinggi. Paru-paru diventilasi dengan pompa tekan.
Kelenturan paru-paru itulah yang menyebabkan udara keluar. Amphibi
menambah respirasi paru-paru ini dengan pertukaran udara melalui kulitnya
yang tipis dan basah.
3. Sistem Sirkulasi Darah
Sebagian besar ampibi mempunyai masalah untuk mengisi jantung
yang menerima darah dari paru-paru dan darah deoksi yang tidak mengandung
oksigen dari tubuh. Untuk mencegah banyaknya pencampuran dua jenis darah
tersebut, bahwa ampibi telah mengembangkan ke arah sistem sirkulasi
transisional. Jantung mempunyai sekat interatrial, kantong ventrikular dan
pembagian konus arterious dalam pembuluh sistemik dan pembuluh
pulmonari. Darah dari tubuh masuk ke atrium kanan dari sinus venosus
kemudian masuk ke sisi kanan ventrikel, dan dari sini di pompa ke paru-paru.
4. Sistem Urogenitalia
Sistem urogenitalia pada kotok merupakan dua sistem yang berkaitan,
yaitu sistem ekskretoris (pengeluaran) dan sistem genital (kelamin). Sistem
ekskretoris terdiri dari rongga ginjal (ren), sepasang berwarna merah
kecoklatan dan terletak pada bagian dasar dari rongga tubuh, di sebelah kiri
dan kanan dari tulang vertebrata. Pada permukaan ventral dari ren terdapat
kelenjar adrenal (glandula suprarenalis), merupakan kelenjar endokrin yang
dapat menghasilkan hormon adrenalin. Sedangkan sistem genitalia terdiri dari
alat kelamin betina dan alat kelamin jantan. Alat kelamin betina terdiri dari
saluran telur, uterus, dan badan-badan lemak. Alat kelamin jantan terdiri dari
testis, vasa efferentia, dan ductusurospermaticus.
BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat


Hari /Tanggal : Senin, 04 Januari 2016
Waktu : 10.00 - 13.00 WITA
Tempat : Laboratorium Biologi Lantai III Timur FMIPA UNM
B. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Botol Pembunuh
b. Baki Bedah
c. Alat Bedah
1) Gunting
2) Sedotan Minuman
3) Pinset
4) Jarum
5) Skalpel
2. Bahan
a. Kodok (Bufo sp).
b. Kapas
c. Kloroform/eter (pembius)
C. Prosedur Kerja
1. Pengamatan Luar
a. Mematikan Kodok
Mengambil segumpal kapas (sebesar ruas empu jari tangan), membasahi
dengan eter/kloroform, lalu memasukkannya ke dalam kotak pembunuh,
segera pula memasukkan katak ke dalam botol tersebut, tutup dengan
rapat. Membiarkan sampai kodok mati.
b. Mengeluarkan kodok yang sudah tidak bergerak dan meletakkan di atas
baki bedah. Membiarkan kapas dalam botol dan menutup rapat karena
uapnya berbahaya.
c. Mengamati bagian luar kodok
1) Mata, kelopak dan selaput tidur
2) Lubang hidung luar
3) Timpanum (i), selaput pendengar
4) Celah mulut
5) Tungkai depan :
a) Lengan atas (branchium)
b) Lengan bawah (ante branchium)
c) Telapak (manus)
6) Tungkai belakang :
a) Paha (femur)
b) Betis (crus)
c) Telapak bersatu (pes)
d) Jari-jari berselaput renang
7) Kloaka (menentukan letaknya)
8) Menggambar arah punggung dan memberi nama bagian-bagian
tersebut di atas.
2. Pembedahan
a. Meletakkan kodok pada punggungnya di atas baki bedah. Memaku
keempat kakinya dengan jarum pada lilin, sehingga tidak mudah goyang.
b. Dengan pinset menjepit membujur kulit bagian perut dekat paha,
mengangkat sedikit, menggunting melintang di bawah pingset, sehingga
terbentuk celah pada kulit perut.
c. Melalui celah itu, memasukkan ujung gunting yang tumpul dan
guntinglah kulit ke arah kepala sampai gunting tertumbuk. Membalik ke
celah tadi, menggunting ke arah pangkal kedua paha.
d. Menggunting kulit ke arah samping kiri dan kanan, sehingga kulit perut
bisa tersingkap. Memeriksa perlekatan kulit pada jaringan otot. Hanya
pada tempat tertentu kulit melekat pada otot, sehingga terbentuk
semacam kantong (saccus).
e. Memperhatikan bagian tengah otot perut. Tampak garis putih membujur
sepanjang otot perut (disebut linea alba).
f. Menjepit pinset otot perut di samping linea alba, dan menggunting
melintang, sehingga membentuk celah. Memasukkan ujung gunting yang
tumpul ke dalam celah otot perut dan mulai menggunting ke arah kepala
sampai bawah rahang. Melanjutkan pengguntingan sampai pangkal paha.
g. Menyingkap jaringan otot perut ke samping kiri dan kanan sehingga
terbuka rongga perut dan tampak jeroan.
3. Pengamatan Sistem Pencernaan
a. Membuka celah mulut dengan skalpel dan pinset, sehingga rongga mulut
terbuka. Mengamati bentuk gigi, meraba dengan jari gelig pada rahang
atas dan gigi former pada langit-langit.
b. Dengan pinset menarik lidah keluar, mengamati bentuk dan perletakanya
(mencatatnya).
c. Melanjutkan pengamatan rongga perut yang berisi jeroan. Mengamati
bentuk dan warna:
1) Hati sebelah kanan, ada berapa lobus.
2) Lambung di sebelah kiri hati; mengangkat sedikit dan akan tampak
duodenum dan pankreas.
3) Runut terus usus halus sampa usus tebal. Perhatikan pertemuannya.
4) Rektum yang belok ke kloaka.
4. Pengamatan Sistem Peredaran Darah
a. Arah kepala dari hati, tampak jantung dalam selaput.
b. Menusuk selaput pembungkus jantung dengan jarum atau ujung scalpel
sampai pecah, mengamati bentuk dan bagian:
1) Bilik (ventrikel)
2) Serambi (atrium) kiri dan kanan
3) Pembuluh nadi utama (trunkus ateriosus) yang keluar dari ventrikel
kemudian bercabang menjadi dua aorta (kiri dan kanan).
c. Menggambar bagian jantung dan memberi nama begian tersebut di atas.
5. Pengamatan Sistem Pernafasan
a. Memperhatikan bagian sebelah kanan dan sebelah kiri lambung,
tersembul bagian paru-paru.
b. Dengan sedotan limun yang ujungnya dimasukkan kedalam lubang
pangkal tenggorok (membuka mulut), meniup pangkalnya perlahan,
menggembung paru-paru. Mengamati bentuk dan warna paru-paru,
pembuluh darah pada paru-paru.
c. Melepaskan jantung dengan guntin, sehinga tampak batang tenggorok
(trakea).
d. Membuat gambar bagan sistem pernafasan katak.
6. Pengamatan Sitem Ekskresi dan Reproduksi (Urogenitalia)
a. Melepaskan organ-organ pencernaan, memulai dari lambung sampai
pada rektum, serta masentrium (jaringan ikat) yang memegangnya.
b. Akan tampak sepasang ginjal bulat lonjong melekat pada bagian
belakang rongga perut.
c. Pada katak jantang ureter ini disebut juga ductus urospermatius, testis
terletak di sebelah atas ginjal,bulat lebih kecil berhubungan dengan
ginjalmelalui vas efferensia.
d. Pada katak betina, ada sepasang ovarium di bagian kiri dan kanan.
Mengangkat sedikit ovarium, akan tampak oviduk berupa saluran
berkelok-kelok putih, bermuara pada kloaka sedang ujungnya berupa
corong (ostium) ada di detak jantung.
e. Membuat gambar bagian sistem urogenitalia katak. Memberi nama
bagian-bagiannya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
1. Bentuk Tubuh Luar (Morfologi)
Hasil Pengamatan Keterangan
a. Dorsal Keterangan
b. 1. Hidung
2. Kelopak mata
3. Telapak tangan
4. Jari-jari
5. Selaput tidur
6. Tympanum
7. lengan
8. Paha
9. Betis
10. Selaput renang
11. Kloaka
a. Ventral Keterangan
b. 1. Kulit bagian
bawah
2. Jantung
3. Paru-paru
4. Lambung
5. Hati
6. Usus
7. Kloaka
2. Anatomi
a. Sistem Pencernaan
Hasil Pengamatan Keterangan
Gambar bagian mulut 1. Gigi rahang atas
2. Gigi Vomer
3. Lidah
4. Langit-langit

Gambar bagian sistem pencernaan Keterangan


1. Lambung
2. Hati
3. Empedu
4. Usus halus
5. Usus besar
6. Rektum
b. Sistem Peredaran Darah
Hasil Pengamatan Keterangan
1. Atrium kiri
2. Ventrikel
3. Atrium kanan

c. Sistem Pernapasan
Hasil Pengamatan Keterangan
1. Hidung
2. Tenggorokan
3. Paru-paru
kanan
4. Paru-paru kiri

d. Sistem Eksresi
Hasil Pengamatan Keterangan
1. Testis
2. Ginjal
3. Kloaka
e. Sistem Urogenitalia jantan
Hasil Pengamatan Keterangan
1. Testis

B. Pembahasan
1. Morfologi Kodok
Tubuh kodok terbagi menjadi 2 yakni kepala dan badan, kodok
tidak memiliki leher. Kulitnya lunak, licin, basah, tidak bersisik, membran
tympani berada dekat di belakang mata, mulut besar dan lebar. Kodok
memiliki kelenjar-kelenjar yang mampu menghasilkan lendir untuk
membasahi permukaan kulit. Itulah mengapa kodok selalu basah. Pada
mata kkodok, terdapat kelopak mata, yang memiliki selaput tidur yang
menyelimuti mata kodok. Pada bagian kepala, terdapat selaput pendengar
telinga ruang yang berjumlah 2 buah.
Kodok memiliki 4 tungkai, yakni 2 tungkai didepan sebagai kaki
depan (tangan) dan dua tungkai belakang (kaki). Kaki kodok terdiri atas
sepasang kaki depan dengan jumlah jari 4 dan sepasang kaki belakang
dengan jumlah jari 4. Kaki depan terdiri atas lengan atas (brancium),
lengan bawah (antebrancium), tangan (manus), dan jari-jari (digiti)
berjumlah delapan. Pada kaki belakang terdiri atas paha (femur), betis
(crus), kaki (pes) dan jari-jari (digiti) berjumlah sepuluh. Kaki kodok itu
berselaput gunanya adalah untuk memudahkan berenang di dalam air.
2. Anatomi
a. Sistem Pencernaan kodok
Sistem pencernaan kodok terdiri atas 2 bagian, yaitu saluran
pencernaan yang terdiri dari mulut, kerongkongan, lambung, usus
halus,usus besar, rektum dan kloaka. Sedangkan kelenjar pencernaan
terdiri dari hati, empedu, dan pankreas. Pencernaan kodok dimulai dari
mulut, kerongkongan (esofagus), kemudian lambung, usus dan kloaka.
Dalam mulut kodok terdapat gigi volmer yang halus dan lidah
panjang yang lengket. Kodok memiliki lidah yang panjang dan lengket
untuk memudahkannya menangkap mangsa seperti nyamuk.
Kerongkongan merupakan saluran pendek, ventriculus
merupakan kantung yang di tengahnya melebar dan bisa menjadi
sangat besar apabila terisi makanan, di dalam lambung makanan
mengalami proses pencernaan secara kimia dengan bantuan enzim.
Hati yang berada di bawah kerongkongan berfungsi untuk
memproduksi empedu, fibrinogen dan cadangan lemak. Bahan
makanan yang keluar dari usus selanjutnya menjadi feses dan
dikeluarkan melalui kloaka.
b. Sistem Peredaran Darah
Sistem peredaran darah yang diamati adalah jantung dan
pembuluh darah disekitarnya. Jantung kodok terletak diantara 2 paru-
parunya yang berwarna merah keabu-abuan. Jantung katak terdiri dari
3 ruangan, yaitu 2 atrium dan 1 ventrikel. Dari jantung, darah mengalir
ke aorta yang berhubungan dengan seluruh tubuh dan dikembalikan
melalui vena yang berwarna biru.
c. Sistem Pernapasan
Sistem pernapasan kodok dimulai dari hidung, dimana terjadi
pengambilan oksigen dan pengeluaran karbondioksida. Dari hidung,
udara diteruskan ke faring kemudian kerongkongan dan menuju ke
paru-paru untuk mengalami pertukaran gas dari oksigen ke
karbondioksida melalui proses difusi dalam alveolus. Paru-paru pada
katak berwarna pink pucat.
d. Sistem Urogenitalia
Berdasarkan hasil pengamatan sistem ekskresi kodok terdiri
dari ginjal. alat ekskresi utama pada katak adalah sepanjang ginjal
yang terletak di kanan dan kiri tulang belakang berwarna merah
kecoklat-coklatan. Ginjal merupakan alat penyaringan yang di
keluarkan zat-zat sisa yang dapat larut (terutama urine). Pada sistem
ekskresi terdapat sepasang gijal bulat lonjong. Perpanjangan dari
ginjal ini disebut ureter yang akan meneruskan urine menuju kandung
kemik dan akhirnya ke kloaka. Testis berada di sekitar ginjal yang
berbentuk lonjong agak panjang, berwarna putih kekuningan.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan sistem organ kodok (Bufo sp) dapat
disimpulkan bahwa morfologi bufo sp terdiri atas lubang hidung, mata, jari-
jari (jari-jari tungkai depan 4 dan jari-jari tungkai belakang 4 yang berselaput
renang), lengan bawah, lengan atas, paha, betis, selaput renang, kloaka,
tungkai belakang, dan tungkai depan. Anatomi bufo sp terdiri atas jantung,
paru-paru, hati, usus besar, kloaka, dan usus halus. Selain itu, anatomi dari
bufo sp berupa berbagai sistem organ seperti sistem pencernaan, sistem
pernapasan, sistem peredaran darah, sistem reproduksi dan sistem
urogenitalia.
B. Saran
Adapun saran untuk praktikum selanjutnya adalah sebagai berikut.
1. Sebaiknya praktikan lebih berhati-hati dalam membedah kodok agar
organ-organ dalam kodok tidak terluka parah.
2. Diharapkan kepada asisten untuk selalu mengawasi praktikum yang
sedang dilakukan.
3. Diharapkan kepada laboran agar sarana dan prasarana praktikum perlu
ditingkatkan.
DAFTAR PUSTAKA

Campbell, A Nell. 2008. Biologi Edisi Kedelapan Jilid 2 . Jakarta : Erlangga

Hamka. 2015. Penuntun Praktikum Biologi Umum. Makassar: Jurusan Biologi


FMIPA UNM

Sukiya.2003. Biologi Vertebrata (Common Text Book). Yogyakarta: Jurusan


Biologi FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta.

Yudiarti,dkk. 2008. Organisasi Kehidupan,


http://www.cs.unsyiah.ac.id/~frdaus/PenelusuranInformasi/File-
Pdf/organisasi-kehidupan.pdf Diakses pada tanggal 24 desember 2015

Waluyo, Joko. 2010. Biologi Umum. Jember : Universitas Jember.


LAMPIRAN JURNAL
JAWABAN PERTANYAAN

1. Mengapa katak digolongkan kedalam kelas amfibi?

Jawab: Karena dapat hidup di darat dan di air.


2. Mengapa warna katak mudah berubah-ubah? Faktor apakah yang biasa
perubahan itu?
Jawab: Karena adanya stimulasi lingkungan, misalnya panas dan dingin.
Faktor yang menyebabkan perubahan ini adalah:
a. Faktor dalam, yaitu kelenjar epifisis dan kelenjar hipofisis
b. Faktor luar, yaitu suhu dan cahaya
3. Di manakah melekat pangkal lidah katak? Apakah manfaat bagi katak dengan
meletakkan lidah seperti itu?
Jawab: Lidah katak melekat pada ujung anterior dan rahang bawah.
Manfaatnya, yaitu untuk memudahkan katak menangkap mangsanya.
4. Hati dan pankreas, bukan saluran pencernaaan, tetapi termasuk dalam sistem
pencernaan. Mengappa demikian?
Jawab: Karena hati dan pankreas menghasilkan enzim yang bermanfaat dalam
proses pencernaan makanan. Hati yang terdiri atas lobus dan zat
empedu yang dihasilkan ditampung sementara dalam fesikala fellael
yang kemudian dituangkan dalam intestinum melalui ductus
cholydosus yang merupakan saluran gabungan dengan saluran dari
pankreas dan bahan makanan yang merupakan sistem dalam infostinus
major menjadi feses selanjutnya dikeluarkan melalui anus.
5. Apa sebabnya katak tidak dapat melakukan pernafasan perut? Bagaimanakah
cara katak menarik dan mengeluarkan nafas?
Jawab: Karena system respirasi pada katak terdiri dari paru-paru dan cautan
dan katak tidak memiliki diafragma. Cara katak menarik dan mengeluarkan
nafas melalui tiga tahap, yaitu aspirasi, inspirasi dan ekspirasi.
6. Jelaskan mengapa dikatakan darah bersih dan darah kotor dalam jantung katak
bercampur ketika ketika meninggalkan jantung?
Jawab: Karena jantung katak memiliki satu bilik (ventrikel) sehingga darah
yang ada dalam bilik jantung tidak dapat membedakan darah bersih
dan darah kotor.
7. Pada katak terjadi fertilisasi internal dan eksternal? Jelaskan mengapa
demikian.
Jawab: Karena pembuahan terjadi di luar tubuh induknya sehingga embrio
yang ada tidak berkembang biak di dalam tubuh induknya.

Anda mungkin juga menyukai