Anda di halaman 1dari 6

DISKUSI

1. Apakah pemberian hidrokortison saja sudah cukup untuk mengobati dermatitis


seboroik pada kasus ini ? sedangkan untuk pengobatan dermatitis seboroik ada
pengobatan sistemik (kortikosteroid dan isotretinoin) dan pengobatan topikal ?
Jawab:
Pada kasus dermatitis seboroiknya sendiri termasuk ke dermatitis seboroik
yang ringan dimana hanya dijumpai skuama-skuama yang halus, sehingga
penggunaan hidrokortison sendiri dirasa cukup untuk pengobatan dermatitis
seboroik pada kasus. Untuk kortikosteroid sendiri digunakan pada bentuk
dermatitis seboroik yang berat. Isotretinoin digunakan pada kasus yang yang
rekalsitran.1

2. Kenapa pada kasus neuralgia pascaherpetika di diagnosis banding dengan


neuralgia trigeminal? Berikan alasan ?
Jawab:
Hal yang mendasari pengambilan neuralgia trigeminal menjadi diagnosis
banding yaitu dilihat dari keluhan nyerinya. Dimana nyeri pada neuralgia
trigeminal juga mengenai daerah wajah. Jika mengenai cabang pertama dari
nervus trigeminus yaitu N.ophtalmicus maka nyeri dapat dirasakan di daerah
sekitar mata dan dahi.2
Tetapi jika ditinjau lagi nyeri pada neuralgia trigeminal berbeda dengan
neuralgia pascaherpetika, dimana rasa nyeri yang dirsakan pada neuralgia
trigeminal yaitu pada wajah atau nyeri di frontal. Sensasi yang dapat muncul
yaitu rasa nyeri, tertusuk, terbakar secara tiba tiba pada wajah, dapat muncul
secara mendadak selama beberapa detik atau menit. Setelah rasa nyeri biasa
disertai dengan periode bebas nyeri. Rasa ini dapat muncul oleh rangsangan
pada daerah sensitif tertentu di wajah (triger zone) yang biasa dilakukan pada
saat menyikat gigi, mengenakan makeup, shaving, cuci muka, bahkan pada saat
ada getaran ketika sedang berlari atau berjalan. Pada neuralgia trigeminal biasa
didapatkan sensibilitas yang terganggu pada daerah wajah.2
3. Bagaimana cara menentukan langkah tatalaksana neuralgia pascaherpetika dari
guideline pengobatan neuralgia pascaherpetika ? apakah harus berurutan dari
langkah pertama atau boleh langsung ke langkah ke 2 atau 3 ?
Jawab:
Untuk neuralgia pascaherpetika pengobatannya secara berurutan dimulai
dari langkah pertama terlebih dahulu. Pasien dinilai dulu respon pasien baik
atau tidak terhadap pengobatan tersebut. Dimulai dari langkah pertama terlebih
dahulu, jika nyeri tidak berkurang, langkah kedua dari pengobatan dapat
dilakukan yaitu penggabungan dari obat-obatan pada langkah pertama dan
tramadol.3

Gambar 1. Algoritma Pengobatan Neuralgia Pascaherpetika4


4. Kenapa dipilih hidrokortison 2,5%? Sedangkan yang biasa dipakai adalah
kortikosteroid topikal potensi menegah?
Jawab:
Pada kasus dermatitis seboroik tersebut termasuk dermatitis seboroik ringan
yang ditandai dengan adanya eritema dan skuama-skuama yang biasanya
halus.1 Sehingga dipakai kortikosteroid potensi lemah karena dirasa cukup
untuk mengobati keadaan pasien. Pada kasus dengan inflamasi yang berat dapat
dipakai kortikosteroid yang lebih kuat, misalnya betametason valerat, asalkan
jangan dipakai terlalu lama karena efek sampingnya.1

Tabel 1. Klasifikasi Potensi Kortikosteroid Topikal5


5. Kenapa penyebaran dari neuralgia pascaherpetika lebih banyak pada dermatom
regio torakal? Apakah nyerinya mengikuti daerah yang terkena sebelumnya?
Jawab:
Neuralgia pascaherpetika diartikan sebagai rasa nyeri yang timbul pada
daerah bekas penyembuhan lebih dari sebulan setelah penyakitnya sembuh.6
Nyeri yang dirasakan pada neuralgia pascaherpetika mengikuti dermatom
yang terkena atau daeras bekas penyembuhan. Misalkan pada saat mengalami
herpes zoster, dermatom yang terkena adalah T1-T2, maka nyeri neuralgia
pascaherpetika nya juga mengikuti dermatom tersebut atau daerah tersebut.
Sehingga sebenarnya daerah yang mengalami rasa nyeri tergantung dari bekas
penyembuhan dari herpes zosternya sendiri.

6. Mengapa lebih memilih lidokain 5% krim dibandingkan dangan lidokain 5%


patch?
Jawab:
Lidokain 5% menjadi first-line drug dalam pengobatan topikal karena
memiliki efek analgesik yang tinggi dalam pengobatan neuralgia
pascaherpetika. Lidokain 5% sendiri teridiri dari patch dan krim.3 Pada kasus
lebih dipih krim dibanding patch karena lidokain krim lebih mudah didapatkan
di Indonesia sehingga memudahkan pasien untuk membeli atau mencari obat
tersebut.

7. Mengapa pada kasus lebih memilih pregabalin dibandingkan dengan


gabapentin?
Jawab:
Gabapentin dan pregabalin sama-sama bekerja di subunit 2 yang terdapat
pada kanal kalsium untuk menurunkan influks kalsium, sehingga menginhibisi
keluarnya neurotransmiter eksitatorik termasuk glutamat yang merupakan
neurotransmiter utama yang memelihara sensitisasi sentral.3 Pregabalin, yang
muncul setelah gabapentin, adalah analog GABA namun tidak mengikat
reseptor atau mengembangkan aktivitas GABAergic, dan mekanisme
tindakannya, walaupun tidak sepenuhnya dipahami, juga didasarkan pada
kapasitasnya untuk mengikat alpha-2-delta protein subunit pada kanal kalsium
sehingga menurunkan influks kalsium. Pregabalin lebih efektif dibandingkan
dengan gabapentin.3
Selain lebih efektif, pregabalin memiliki efek samping lebih sedikit
dibandingkan dengan gabapentin, kerjanya lebih cepat, serta pengaturan
dosisnya lebih sederhana.6

8. Mengapa anda menggunakan tramadol pada kasus ? padahal tramadol


merupakan golongan opioid dan pasien sudah lanjut usia?
Jawab:
Penggunaan tramadol pada kasus ini karena pada kasus pasien sudah
memasuki langkah ke dua dari guideline tatalaksana neuralgia pascaherpetika .
Karena nyeri yang dirasakannya sudah termasuk nyeri kronik. Golongan opioid
hanya diindikasikan pada pasien dengan nyeri sangat berat. Opioid dapat
mengurangi alodinia dan nyeri spontan.7
Untuk tramadol sendiri memiliki adverse effect yang lebih rendah dan lebih
dapat diterima dibandingkan dengan obat opioid yang lain. Tramadol juga
terbukti lebih efektif dan tidak terlalu menyababkan ketergantungan pemakain.3
dan tramadol dapat digunakan pada usia lanjut hanya saja penggunaan pada usia
tua dosis harus dikurangi.7

9. Kenapa pada kasus dapat terkena dermatitis seboroik padahal usia pasien sudah
72 tahun? Padahal usia yang biasa terjadi antara 18-40 tahun?
Jawab:
Jika ditinjau dari segi epidemiologinya, maka dermatitis seboroik sendiri
mempunyai 2 puncak usia yaitu puncak ke -1 pada bayi usia 3 bulan dan puncak
ke-2 pada usia antara dekade ke 4 sampai ke 7. Dan pada penyakit ini pria lebih
banyak terkena dibandingkan dengan wanita.8
Sehingga pada kasus tidak menutup kemungkinan terjadinya dermatitis
seboroik, karena dari segi usia sendiri, pasien termasuk ke puncak ke 2 yaitu
pada dekade ke 7.
DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda, A. 2013. Dermatosis Eritroskuamosa dalam Ilmu Penyakit Kulit dan


Kelamin. Edisi ke 6. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Jakarta, Indonesia. Hal 189-203
2. Tew, J., McMahon, N. 2013. Trigeminal Neuralgia. Mayfield Clinic. University
of Cincinnati Department of Neurosurgery, Ohio
3. Galvez,R., Redondo, M. 2012. Evidence-Based Treatment of Postherpetic
Neuralgia dalam Herpesviridae - A Look Into This Unique Family of Viruses,
Dr. George Dimitri Magel (Ed.), ISBN: 978-953-510186-4, InTech, Available
from: http://www.intechopen.com/books/herpesviridae-a-look-into-this-
unique-familyof-viruses/evidence-based-treatment-of-postherpetic-neuralgia
4. Schug, S., Arshad, A. 2016. Postherpetic Neuralgia How To Prevent It, How
To Treat It. MedicineToday. Vol 1 (4) : 23-29
5. Johan, R. 2015. Penggunaan Kortikosteroid Topikal yang Tepat. CDK. Vol.
42 (4) :308-312
6. Handoko, R. 2013. Penyakit Virus dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.
Edisi ke 6. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta,
Indonesia. Hal 110-118
7. Regina., Wijaya, l. 2012. Neuralgia Pascaherpetika. Jakarta: Jurnal Cermin
Dunia Kedokteran. Vol. 39(6) : 416-419
8. Kartowigno, Soenarto. 2012. Sepuluh Besar Kelompok Penyakit Kulit. Fakultas
Kedokteran Universitas Sriwijaya. Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan
Kelamin RSUP Dr. M. Hoesin Palembang