Anda di halaman 1dari 17

A.

Metode CSAMT
Merupakan metode baru dalam geofisika digunakan menentukan nilai
tahanan-jenis batuan bawah permukaan untuk mempelajari struktur geologi dengan
cara memanfaatkan gelombang elektromagnetik dan merupakan perluasan dari
metode MT, dengan beberapa kelebihan antara lain dapat memakai sumber buatan
(aktif) dan mempunyai interval frekuensi 0,1 Hz 10 KHz.
Metode CSAMT mentransmisikan sinyal yang sudah kita atur pada
frekuensi yang kita inginkan ke ground , kemudian respon yang diterima oleh
receiver berupa medan magnetik dan medan listrik . Respon yang kita terima itu
akan digunakan untuk mengkalkulasi struktur resistivitas dari bumi. Nilai
resistivitas tersebut mengacu pada kondisi geologi. Kedalaman penetrasi dari
metode CSAMT pada lingkungan yang konduktif kurang dari skin depth , dimana
skin depth diperoleh dari :

Dimana merupakan resistivitas dari ground, merupakan frekuensi angular , dan


merupakan permeabilitas magnetik .

Koreksi Data CSAMT


1. Koreksi near-field , sehingga data CSAMT memiliki karakteristik yang
mirip dengan data MT
2. Teknik relatif sederhana untuk koreksi near-field effect dengan memotong
data CSAMT sehingga hanya terdapat data far-field
3. Generalisasi hasil untuk medium homogen terhadap data CSAMT yang
benar
4. Untuk medium homogen , resistivitas semu dan data near-field yang
merpresentasikan resistivitas sebenrnya dari medium dapat dikalkulasi
Effective Depth Penetration
Effective Depth Penetration ( D ) adalah kedalaman yang dapat dicapai pada
metode CSAMT. Berikut adalah persamaan yang digunakan :
Pada metode CSAMT ini terdapat beberapa efek efek yang nantinya akan
mengakibatkan penyimpangan dan berakibat pada data yang diperoleh. Berikut
dijelaskan beberapa efek pada metode CSAMT :
1. Efek Statik
Penyimpangan data CSAMT karena adanya heterogenitas local dekat
permukaan dan factor topografi
a. Melakukan perhitungan secara teoritis
b. Menggunakan teknik processing seperti pemfilteran spatial
c. Menggunakan pegukuran yang bebas dari pengaruh efek static
2. Efek Topografi
Penyimpangan data CSAMT karena adanya factor toprogafi
a. Melakukan perhitungan untuk menghilangkan dari data
3. Efek Sumber
a. Efek nonplane wave
b. Merupakan penyimpangan dari apparent resistivity dan beda fase yang
dekat dengan sumber.
c. Efek Source Overprintu
d. Merupakan pembacaan data yang bergeser. Jika terjadi ini kita harus
melakukan normalisasi agar meminimalisir terjadinya overprint.
e. Efek Bayangan ( shadow )
f. Merupakan efek yang timbul dari filtur geologi lokal antara sumber dan
sounding.
Akuisisi Metode CSAMT

Gambar 1. Akuisisi Metode CSAMT

Peralatan yang digunakan untuk pengukuran dengan menggunakan metode


CSAMT adalah :
1. Sumber , dapat berupa baterali atau aki
2. Multi Channel Receiver
3. Antena medan magnet
4. Antena medan listrik
5. Kabel

Metode CSAMT dapat digunakan untuk :


a. Eksplorasi panas bumi (geothermal)
b. Eksplorasi mineral
c. Eksplorasi groundwater
d. Eksplorasi hydrocarbon
Contoh Data CSAMT

Gambar 2. Hasil analisis data dengan metode CSAMT


B. Metode VLF-EM (Very Low Frequency - Elektro magnetic)
Metode VLF-EM merupakan salah satu dari berbagai macam metode Geofisika
yang memanfaatkan parameter frequensi. Metode ini tergolong metode geofisika
Pasif, karena pada kerjanya metode ini hanya menangkap sinyal-sinyal frequensi
dari stasiun-stasiun yang ada diselur dunia. seperti namanya, metode ini
memanfaatkan sinyal pemancar radio berfrekuensi rendah
Metoda VLF-EM ini pada dasarnya memanfaatkan medan elektromagnetik yang
dibangkitkan oleh pemancar radio berfrekuensi sangat rendah (1530 KHz) dengan
daya sangat besar yang pada awalnya digunakan untuk keperluan sistem navigasi
kapal selam. Metoda VLF-EM ini dalam pelaksanaan pengukuran di lapangan
hanya menggunakan sinyal dari satu frekuensi saja (single frequency).
Medan EM yang diukur oleh alat ukur VLF-EM adalah medan kompleks total
(HR) yang terdiri dari komponen real (inphase), imajiner (quadrature), total-field,
dan tilt-angle. Besar nilai yang terukur keempat komponen tersebut akan sangat
tergantung kepada nilai konduktivitas benda bawah permukaannya.

Gambar. 3. Stasiun VLF di dunia (yang paling sering digunakan Indonesia adalah
stasiun jepang dan australia)

Kegiatan suvey geofisika yang menggunakan sinyal radio VLF-EM dimulai


sejak tahun 1960-an untuk penyelidikan prosfek mineral konduktif (McNeill dan
Labson, 1987; Paal, 1965), memetakan patahan dan pemetaan kontaminasi airtanah
dikombinasikan dengan metoda resistivitas (Benson dkk., 1997), studi kebencanaan
dan lingkungan (Jeng dkk., 2004), pemetaan sistem rekahan di bawah permukaan
untuk studi zona mineralisasi emas (Tijani dkk., 2009), studi pasca pondasi
(Ofomola dkk., 2009), sedangkan interpretasi VLF-EM dengan memaanfaatkan
struktur anomali 3D dengan menggunakan teknik filter linier diperkenalkan oleh
(Djeddi dkk., 1998).
Bosch & Mller (2001) mensintesakan penggunaan metoda VLF-EM untuk
berbagai keperluan, diantaranya; memetakan pencemaran, eksplorasi air bawah
tanah yang dikombinasikan dengan metoda VES (Nandakumar dkk., 1983),
delineasi zona sedimentasi (Oskooi, dan Pedersen, 1995), dan lain sebagainya.

Kelemahan Metoda (single survey):


1. Instrumen juga merekam banyak noise
2. Kondisi bawah permukaan kemungkinan tidak cukup memperlihatkan kontras
anomali
3. Overlapping anomali sulit dibedakan dalam tahap interpretasi
4. 42 transmitting stations worldwide (15-30 kHz, 10-20 km l).
5. At distance, EM field behaves as a plane wave with predictable magnetic and
electrical components.
6. Eddy currents are generated when field passes through a buried conductor,
creating a secondary magnetic field.

Medan elektromagnetik primer sebuah pemancar radio VLF-EM memiliki


komponen medan listrik vertikal Epz dan komponen medan magnetik horizontal
yang tegak lurus terhadap arah perambatan pada sumbu-x (Bosch dan Mullr,
2001). Medan elektromagnetik HPy yang dipancarkan antena pemancar radio
VLF-EM selanjutnya akan diterima stasiun penerima dalam empat macam
perambatan gelombang, yaitu; gelombang langit, gelombang langsung, gelombang
pantul dan gelombang terperangkap.
Gambar. 4. jenis-jenis penjalaran gelombang pada metode VLF

Adapun yang paling sering dimanfaatkan dan terukur sewaktu pengukuran


data VLF-EM di daerah survey adalah gelombang langit. Jika di bawah permukaan
terdapat suatu medium yang bersifat konduktif, maka komponen medan magnetik
dari gelombang elektromagnetik primer akan menginduksi medium tersebut
sehingga akan menimbulkan medan listrik induksi, ESx. Medan listrik induksi
tersebut akan menimbulkan medan elektromagnetik baru yang disebut medan
elektromagnetik sekunder, HS, yang mempunyai komponen horizontal dan
vertikal. Medan magnetik ini mempunyai bagian yang sefase (in-phase) dan
berbeda fase (out-of-phase/quadrature) dengan medan primernya. Adapun besar
medan elektromagnetik sekunder sangat tergantung dari sifat konduktivitas benda
di bawah permukaannya
C. METODE INDUCED POLARISASI
Metode induced polarisasi atau polarisasi terimbas adalah salah satu metode
geofisika yang pada umumnya digunakan untuk eksplorasi base metal dan logam.
Metode induced polarisasi ini termasuk di dalam metode geolistrik. Dimana
prinsipnya hampir sama yaitu dengan menginjeksika aruas melalui dua elektroda
arus. Besar arus yang diinjeksikan dicata dan dua elektroda potensial digunakan
untuk mengukur potensial yang dihubungkan dengan voltmeter.
Metode induced polarisasi ini memiliki keunggulan dibandingkan dengan
metode geolistrik yang lainnya, yaitu hasil pengukuran dengan menggunakan
metode induced polarisasi ini dapat merespon atau mengukur resistivitas dan
percent frequency effect (PFE) secara vertikal dan horizontal.
1. Fenomena Induced Polarisasi
Secara praktek, fenomena polarisasi terimbas dapat diterangkan dengan
menggunakan empat elektroda A, B, M, dan N. Dimana A dan B sebagai
elektroda arus yaitu digunakan untuk menginjeksikan arus ke dalam tanah
sedangkan M dan N sebagai elektroda potensial yang digunakan untuk
mengukur besarnya beda potensial.
Pada beberapa kasus, perbedaan potensial yang terukur tidak langsung naik
atau turun secara drastis sesaat setelah arus diinjeksikan atau di matikan. Kurva
variasi perbedaan potensial terhadap waktu yang dihasilkan berbentuk asimtotik
dengan perbedaan potensial (V) mendekati tak hingga atau nol.
2. Timbulnya Polarisasi Pada Batuan
Ada dua penyebab timbulnya polarisasi pada batuan yaitu :
a. Polarisasi Membran
Polarisasi membran terjadi pada pori-pori batuan yang mengandung
mineral lempung yang bermuatan negatif yang mengalami kontak dengan
larutan. Karena muatannya negatif, mineral lempung akan mampu menarik
ion-ion positif sehingga membentuk awan positif disekitar permukaannya dan
meluas pada elektrolit. Penumpukan muatan ini akan menghambat jalannya
arus listrik yang melaluinya sehingga terjadilah hambatan disepanjang pori-
pori batuan yang mengandung mineral lempung. Dengan terbentuknya
hambatan-hambatan berupa membran-membran, maka mobilitas ion akan
berkurang sehingga terbentuklah gradien konsentrasi ion-ion yang menentang
arus listrik yang melaluinya. Gejala ini menunjukkan adanya polarisasi.

a.

b.
(-)
(+)

Muatan Positif Muatan Positif

Gambar 5. (a) Keadaan normal ion pada batupasir porous sebelum ada arus, (b)
Polarisasi membran pada batupasir sesudah dialiri arus. Sumber: M. Telford
(1990;704)

b. Polarisasi Elektrode
Polarisasi elektrode adalah polarisasi yang terjadi jika mineralnya konduktif
dari batuan kontak dengan larutan didalam pori-pori batuan. Mineral batuan
yang mengandung mineral konduktif dipandang sebagai suatu elektrode yang
berada di dalam elektrolit, sehingga mula-mula akan terjadi proses oksidasi dan
reduksi (reaksi redoks) karena timbulnya beda potensial antara mineral
konduktif dengan larutan sampai terjadi keseimbangan. Dalam keadaan
setimbang ini akan terjadi proses penggabungan dan pelepasan muatan antara
logam dan larutan dalam jumlah yang sama, dan sama sekali tidak ada arus
yang mengalir. Apabila ada gangguan luar, misalnya pengaruh arus yang
dialirkan, maka keadaan setimbang akan terganggu sehingga akan timbul
polarisasi pada elektrolit yang dikenal sebagai polarisasi elektrode.
a.

b.
(-)
(+)

Muatan Positif Muatan Positif

Gambar 6. Efek polarisasi pada batuan. Gerak muatan di dalam elektrolit pada
pori-pori (atas). Sumbatan oleh mineral logam menyebabkan polarisasi elektroda
pori (bawah). Sumber: M. Telford (1990;704)

PERBEDAAN SETIAP METODE


A. Metode Controlled Source Audio-Frequency Magnetotelluric (Csamt)
Teknik survei konvensional magneto-telurik, seperti sumber-alam MT dan
MT frekuensi audio, memanfaatkan magnetik dan komponen listrik alami bidang
magneto-telurik dalam rangka untuk variasi peta di bawah permukaan resistivitas
untuk kedalaman hingga beberapa ratus kilometer. CSAMT adalah spesifik
penurunan sumber konvensional alam dan magneto frekuensi audio-telurik
metode yang memanfaatkan sumber buatan (Biasanya dalam kisaran 0.1Hz untuk
10kHz) di samping bidang alam. Ini menyediakan data lebih detail dan sinyal kuat
dan memungkinkan pencitraan dangkal sasaran daripada yang akan mungkin
dengan sinyal frekuensi rendah.
Detail
Variasi temporal Bumi magnetosfer dan ionosfer, yang disebabkan oleh
faktor-faktor seperti matahari dan angin variasi magnet bumi lapangan,
mengakibatkan frekuensi alami rendah magneto-telurik bidang di seluruh dunia
yang menyebabkan arus bolak telurik dalam tanah. Konvensional magneto-telurik
survei teknik, seperti sebagai MT-sumber alam dan audio MT frekuensi,
memanfaatkan magnet dan listrik komponen bidang MT dan arus untuk variasi
peta di resistivitas bawah permukaan untuk kedalaman sampai beberapa ratus
kilometer. Namun, sifat tidak menentu sumber dalam hal kekuatan dan arah
berarti bahwa sinyal harus disusun untuk jangka waktu yang lama di setiap
stasiun. CSAMT adalah turunan spesifik konvensional-sumber alam dan audio
frekuensi magneto-telurik metode, yang menggunakan sumber buatan (biasanya
dalam kisaran 0.1Hz untuk 10kHz) untuk mempercepat akuisisi data dan
menyediakan lebih detail dan sinyal yang kuat. Sumber biasanya terdiri baik loop
atau panjang dipol membumi hingga beberapa kilometer. Dipole mungkin
dikombinasikan dengan kedua ortogonal pemancar dalam rangka menyediakan
dua sumber polarisasi. Serentak pengukuran dari lima terpisah parameter yang
diambil di setiap lokasi; dua komponen medan listrik dan tiga komponen magnet
lapangan. Medan listrik pengukuran diperoleh menggunakan ortogonal dipol
sementara magnetik vektor lapangan diukur menggunakan multiturn
permeabilitas tinggi koil.
Modern instrumen CSAMT juga memungkinkan pengukuran alam dan
audiofrequensi sinyal MT dalam rangka memberikan kedalaman eksplorasi
diperpanjang rentang (yang frekuensi rendah semakin besar kedalaman
penyelidikan). Resistivitas semu adalah dikombinasikan dengan ukuran fase
perbedaan antara listrik dan magnetik komponen. Lebih dari isotropik homogen
tanah magnetik komponen akan tertinggal di belakang listrik komponen dengan
Pi / 4. Namun, jika resistivitas bervariasi dengan kedalaman perbedaan fasa
terukur akan berbeda. Bersama inversi data menggunakan kedua fase dan
resistivitas semu memberikan lebih kuat interpretasi. Data biasanya ditampilkan
sebagai resistivitas semu versus frekuensi dan beda fase versus frekuensi plot.
Hasil
Hasil mentah dari survei CSAMT adalah sering ditampilkan dalam grafik
log-log resistivitas semu dan fase terhadap frekuensi. Namun, merencanakan
sejumlah konvensi lainnya dapat diterapkan tergantung pada parameter tertentu
yang sedang diukur. Kombinasi inversi resistivitas 1D atau fase gabungan /
resistivitas inversi mengarah pembentukan 2D pseudosections dari resistivitas
terhadap kedalaman. Dalam gambar daerah resistivitas rendah dit ampilkan warna
biru. resistivitas tinggi dalam merah.
B. VERY LOW FREQUENCY (VLF)
Metode elektromagnetik VLF memanfaatkan medan elektromagnetik yang
dibangkitkan pemancar-pemancar gelombang radio VLF berdaya besar yang
dioperasikan untuk kepentingan militer, terutama untuk berkomunikasi dengan
kapal selam. Medan magnetik dan medan listrik yang dibangkitkannya disebut
sebagai medan primer. Medan primer membangkitkan medan sekunder sebagai
akibat adanya arus induksi yang mengalir pada benda-benda konduktor di dalam
tanah. Medan sekunder yang timbul bergantung pada sifat-sifat medan primer, sifat
listrik benda-benda di dalam tanah dan medium sekitarnya, serta bentuk dan posisi
benda-benda tersebut. Pada daerah pengamatan VLF dilakukan pengukuran
terhadap resultan medan primer dan medan sekunder, dimana perubahan resultan
kedua medan tersebut tergantung pada perubahan medan sekunder. Sehingga
bentuk, posisi, dan sifat listrik benda-benda di bawah daerah pengamatan dapat
diperkirakan.
Metode VLF ini secara umum digunakan untuk penelitian geologi yang bersifat
dangkal. Peralatan yang dimiliki Pusat Survei Geologi untuk metode VLF ini,
adalah sebagai berikut : ENVI VLF Scintrex.
C. INDUCED POLARIZATION
Metode polarisasi terinduksi (Induced Polarization / IP) adalah metode yang
masih relatif baru dibandingkan metode lainnya. Metode IP sendiri merupakan
bagian dari metode geolistrik yang menggunakan sumber buatan. Metode IP
sesuai dengan namanya mengukur adanya polarisasi di dalam medium karena
pengaruh arus listrik yang melewatinya. Polarisasi umumnya banyak terjadi pada
medium yang memiliki kandungan mineral logam (misalnya senyawa sulfida
logam). Sehingga metode IP lebih banyak dan lebih tepat digunakan untuk
eksplorasi mineral logam.
Bila dalam medium banyak terjadi polarisasi karena pengaruh arus yang
dilewatkan padanya, maka beda potensial terukur pada elektroda potensial
tersebut tidak segera menjadi nol pada saat arus dimatikan, melainkan timbul
potential decay yang akan menjadi nol dalam waktu beberapa detik atau sampai
menit. Peristiwa ini bukan disebabkan oleh induksi elektromagnetik (karena
induksi elektromagnetik akan hilang hanya dalam beberapa mikrodetik), tetapi
disebabkan oleh proses elektrokimia yang terjadi pada daerah yang banyak
mengandung senyawa logam.
Pengukuran dengan metode IP dilakukan dalam dua cara yaitu Time
Domain IP, yaitu pengukuran polarisasi dengan menghitung harga potential
decay, dan Frequency Domain IP, yaitu pengukuran polarisasi dengan mengukur
harga resistivitas sebagai fungsi frekuensi arus yang dimasukkan ke dalam
medium.
Apabila arus listrik dialirkan ke dalam medium, maka terjadi penyimpanan
energi di dalam medium dalam bentuk energi mekanik, energi listrik atau energi
kimia. Hasil penelitian di laboratorium menunjukkan bahwa penyimpanan energi
dalam bentuk energi kimia adalah hal yang paling penting dalam metode
polarisasi. Pada saat arus listrik diputus maka energi yang tersimpan dalam
medium akan dilepaskan kembali dalam bentuk energi listrik yang dalam metode
IP terukur sebagai potential decay V(t).
Energi yang tersimpan dalam medium mengakibatkan variasi mobilitas
ion dalam larutan yang mengisi pori-pori batuan, atau variasi daya hantar listrik
ionic dan elektronik bila dalam batuan terdapat mineral logam. Efek polarisasi
yang pertama disebut polarisasi membran, sedang yang kedua disebut polarisasi
elektroda atau overvoltage.

Polarisasi membran
Polarisasi membran banyak terjadi pada batuan yang pori-porinya terisi
dengan elektrolit dimana pori-pori tersebut juga terdapat mineral lempung.
Mineral lempung umumnya bermuatan negatif, sehingga disekitarnya akan
terkumpul ion-ion positif. Pada saat batuan dialiri arus listrik ion-ion akan
bergerak, ion positif kearah katoda dan ion negatif kearah anoda. Adanya ion
negatif dari lempung yang tidak dapat bergerak menyebabkan gerakan ion-ion
tertahan, setelah arus diputus ion-ion akan kembali ke posisi seimbang
memerlukan waktu beberapa detik. Sering kali polarisasi membran terjadi kontak
permukaan mineral lempung bermuatan negatif akan menarik ion-ion positif
sehingga membentuk awan ion positif disekitar permukaan mineral lempung dan
meluas pada larutan. Jika pada kondisi ini kemudian dialiri arus listrik, maka akan
terjadi penumpukan ion positif dan negatif di dekat permukaan mineral.
Terbentuknya membran-membran tersebut akan mengurangi kemampuan
mobilitas ion-ion secara signifikan.

Polarisasi elektroda atau overvoltage


Polarisasi elektroda merupakan sumber polarisasi terbesar disebabkan
oleh keberadaan mineral logam dalal medium batuan. Penghantaran arus dalam
medium batuan yang mengandung mineral logam dilakukan secara elektronik
maupun elektrolitik. Reaksi kimia berupa reaksi reduksi-oksidasi dan
kemungkinan pertukaran ionik akan terjadi pada bidang batas mineral dengan
elektrolit sampai terjadi keadaan setimbang. Apabila arus dialirkan ke dalam
medium, akan timbul gangguan kesetimbangan berupa polarisasi pada bidang
batas mineral logam yang berfungsi sebagai elektroda dan air pada medium batuan
yang berfungsi sebagai eletrolit.
Bila dalam pori-pori batuan terdapat mineral logam dan elektrolit, maka
pada bidang batas antara mineral logam dan elektrolit terjadi susunan muatan yang
berlawanan membentuk suatu susunan kapasitor yang disebut dengan lapisan
kembar listrik (electrical double layer). Pada saat batuan dialiri arus listrik ion-ion
akan bergerak dan sebagian tertahan oleh adanya mineral logam. Pada bidang
batas antara mineral logam dan larutannya akan terjadi reaksi-reaksi kimia yang
menimbulkan potensial ekstra yang disebut dengan overvoltage. Besarnya
overvoltage dipengaruhi oleh besarnya arus dan lama arus yang melewatinya,
overvoltage dapat bernilai positif atau negatif. Pada saat arus melewati butir-butir
mineral logam, maka mineral akan terpolarisasi, karena efek elektrokimia maka
satu sisi menjadi kutub positif sedang sisi lain menjadi kutub negatif, seperti dua
buah elektroda, maka polarisasi ini disebut juga sebagai polarisasi elektroda.
Overvoltage akan hilang secara perlahan-lahan pada saat arus dimatikan, sehingga
menimbulkan potential decay yang terukur pada elektroda potensial.
Lapisan kembar listrik didefinisikan sebagai susunan muatan antar bidang
batas mineral logam dengan air pada medium batuan. Susunan muatan ini dapat
dianggap sebagai suatu kapasitor lempeng dengan rapat muatan .
DAFTAR PUSTAKA

https://www.scribd.com/doc/91641541/Metode-Control-Source-AMT
http://berkaryaselalu.blogspot.co.id/
https://www.scribd.com/doc/70480185/Metoda-IP
https://www.scribd.com/document/95632295/CSAMT-IP#