Anda di halaman 1dari 20

REFERAT

KEJANG DEMAM

Oleh:
Marsella Novita Karauwan
030.12.159

Pembimbing:
dr. Ade Amelia, Sp.A

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


PERIODE 27 FEBRUARI 5 MEI 2017
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARAWANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas Anugerah Keselamatan dan Belas
Kasih-Nya yang telah memampukan penulis sehingga dapat menyelesaikan tugas makalah
Referat dengan judul KEJANG DEMAM. Makalah Referat ini disusun untuk memenuhi
salah satu tugas dalam Kepaniteraan Klinik di Stase Ilmu Kesehatan Anak di Rumah Sakit
Umum Daerah Karawang.

Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak sangatlah
sulit untuk menyelesaikan Referat ini. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada dr. Ade Amelia, Sp.A selaku pembimbing yang telah
membantu dan memberikan bimbingan dalam penyusunan Referat ini, dan kepada semua
pihak yang turut serta membantu penyusunan Referat ini.

Penulis sangat terbuka dalam menerima kritik dan saran karena penyusunan Referat
ini masih jauh dari kata sempurna. Semoga ini bisa bermanfaat bagi setiap orang yang
membacanya. Tuhan memberkati kita semua.

Karawang, Maret 2017

Penulis

2
LEMBAR PENGESAHAN

Referat dengan Judul

Kejang Demam

Telah diterima dan disetujui oleh pembimbing, sebagai syarat untuk menyelesaikan
kepaniteraan klinik Ilmu Kesehatan Anak di RSUD Karawang

Periode 27 Februari 5 Mei 2017

Karawang, Maret 2017

(dr. Ade Amelia, Sp. A)

3
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................................... ii

LEMBAR PERSETUJUAN ................................................................................................ iii

DAFTAR ISI .........................................................................................................................iv

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................................... 6

BAB III KESIMPULAN...................................................................................................... 19

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................... 20

4
BAB I
PENDAHULUAN

Kejang merupakan hal yang sering terjadi pada anak. Sekitar 8% anak memiliki
setidaknya satu kali kejang sebelum usia 15 tahun.1 Kejang merupakan serangan yang tiba-
tiba, yang berupa perubahan perilaku, tingkat kesadaran, sensasi, atau fungsi otonom, sebagai
akibat dari penurunan fungsi otak yang sementara. Hasil dari perubahan fungsi otak ini
sebagian besar berupa kejang yang tonik (menjadi kaku), atau tonik-klonik (kelojotan dan
kaku).
Banyak kondisi terkait yang dapat membangkitkan kejang, dan lebih dari 50% anak
kejang berhubungan dengan demam (kejang demam) atau adanya trauma kepala pada masa
kanak-kanak. Biasanya kejang yang berlangsung hanya sebentar dapat berhenti sendiri dan
tidak memerlukan penanganan, namun kejang yang terjadi lebih dari lima menit biasanya
tidak dapat berhenti sendiri. Semakin lama kejang, semakin sulit penanganan kejang.1
Berdasarkan International League Against Epilepsy (ILAE), kejang demam
merupakan kejang selama masa kanak-kanak setelah usia 1 bulan, yang berhubungan dengan
penyakit demam tanpa disebabkan infeksi sistem saraf pusat, tanpa riwayat kejang neonatus
dan tidak berhubungan dengan kejang simptomatik lainnya.2 Kejang demam adalah jenis
yang paling umum dari kejang yang terjadi pada anak-anak.
Edukasi terhadap keluarga pun sangat penting pada penatalaksanaan kejang.3
Keluarga juga perlu diberi tahu mengenai bagaimana menangani anak bila kejang dan
penanganan apa yang bisa dilakukan sebelum sampai di rumah sakit.4 Penanganan
prehospital (sebelum tiba di rumah sakit) ini memiliki peranan penting terhadap morbiditas
dan mortalitas anak. 15% dari anak yang kejang selama 30 menit atau lebih dapat
berkomplikasi menjadi defisiensi neurologis, gangguan kognitif, masalah perilaku, atau
gangguan jalan napas.4

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Berdasarkan International League Against Epilepsy (ILAE), kejang demam
merupakan kejang selama masa kanak-kanak setelah usia 1 bulan, yang berhubungan dengan
penyakit demam tanpa disebabkan infeksi sistem saraf pusat, tanpa riwayat kejang neonatus
dan tidak berhubungan dengan kejang simptomatik lainnya.2 Definisi berdasarkan konsensus
tatalaksana kejang demam dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Kejang demam ialah
bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38C) yang
disebabkan oleh suatu proses eksrakranium.5 Kejang demam terjadi pada anak berumur 6
bulan sampai 5 tahun. Bila anak berumur kurang dari 6 bulan atau lebih dari 5 tahun,
mengalami kejang didahului demam, kemungkinan lain adalah infeksi susunan saraf pusat
(SSP), atau epilepsi yang kebetulan terjadi bersama demam.6

B. EPIDEMIOLOGI
Kejang demam merupakan jenis kejang yang paling sering, biasanya merupakan
kejadian tunggal dan tidak berbahaya. Berdasarkan studi populasi, angka kejadian kejang
demam di Amerika Serikat dan Eropa 27%, dan di Jepang sekitar 910%. Sedangkan di
Indonesia disebutkan kejang demam terjadi pada 2-5% anak berumur 6 bulan sampai dengan
5 tahun dan 30% diantaranya akan mengalami kejang demam berulang (SPM IDAI, 2004).
Sekitar 30% pasien akan mengalami kejang demam berulang dan kemudian meningkat
menjadi 50% jika kejang pertama terjadi usia kurang dari 1 tahun. Sejumlah 935% kejang
demam pertama kali adalah kejang demam kompleks, 25% kejang demam kompleks tersebut
berkembang ke arah epilepsi.7

C. ETIOLOGI KEJANG
Etiologi dan patogenesis kejang demam sampai saat ini belum diketahui, akan tetapi
umur anak, tinggi dan cepatnya suhu meningkat mempengaruhi terjadinya kejang. Faktor
hereditas juga mempunyai peran yaitu 8-22% anak yang mengalami kejang demam
mempunyai orang tua dengan riwayat kejang demam pasa masa kecilnya.
Semua jenis infeksi bersumber di luar susunan saraf pusat yang menimbulkan demam
dapat menyebabkan kejang demam. Penyakit yang paling sering menimbulkan kejang demam

6
adalah infeksi saluran pernafasan atas akut terutama tonsillitis dan faringitis, otitis media akut
(cairan telinga yang tidak segera dibersihkan akan merembes ke saraf di kepala pada otak
akan menyebabkan kejang demam), roseola, infeksi saluran kemih, dan infeksi saluran
cerna.6,7

Gambar 1. Etiologi Kejang

D. MEKANISME KEJANG DEMAM


Sumber energi otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi dipecah menjadi
CO2 dan air. Sel dikelilingi oleh membran yang terdiri dari permukaan dalam yaitu lipoid dan
permukaan luar yaitu ionik. Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui dengan
mudah oleh ion kalium (K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion natrium (Na+) dan elektrolit
lainnya, kecuali ion klorida. Akibatnya konsentrasi ion K+ dalam sel neuron tinggi dan
konsentrasi Na+ rendah, sedang di luar sel neuron terdapat keadaan sebalikya. Karena
perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan di luar sel, maka terdapat perbedaan
potensial membran yang disebut potensial membran dari neuron. Untuk menjaga
keseimbangan potensial membran diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K ATP-ase yang
terdapat pada permukaan sel. Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah oleh :
Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraselular
Rangsangan yang datang mendadak misalnya mekanisme, kimiawi atau aliran listrik
dari sekitarnya
Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan

7
Pada keadaan demam kenaikan suhu 1 derajat celcius akan mengakibatkan kenaikan
metabolisme basal 10-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada anak 3 tahun
sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh dibandingkan dengan orang dewasa yang
hanya 15%. Oleh karena itu kenaikan suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari
membran sel neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun ion
natrium akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya
sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel sekitarnya dengan bantuan
neurotransmitter dan terjadi kejang. Kejang demam yang berlangsung lama (lebih dari 15
menit) biasanya disertai apnea, meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi
otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat disebabkan oleh
metabolisme anerobik, hipotensi artenal disertai denyut jantung yang tidak teratur dan suhu
tubuh meningkat yang disebabkan makin meningkatnya aktifitas otot dan mengakibatkan
metabolisme otak meningkat.7,8

E. KLASIFIKASI KEJANG DEMAM


Sebelum tahun 1995 di Indonesia biasanya kejang demam di bagi atas kejang demam
sederhana dan epilepsi yang di provokasi oleh demam berdasarkan pembagian oleh
Livingstone yang di modifikasi, oleh karena tidak dapat dibuktikan bahwa epilepsi yang di
provokasi oleh demam dalam perjalanan penyakitnya tidak menjadi epilepsi sebesar yang
didapatkan oleh Livingstone, juga penentuan lamanya panas sebelum kejang sangat susah
dipastikan serta pemeriksaan EEG yang termasuk dalam kriteria Livingstone tidak tersedia di
sembarang tempat maka saat ini kejang demam di bagi atas kejang demam sederhana dan
kejang demam kompleks.9
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI, 2016) adalah sebagai berikut:5,10
Kejang demam sederhana (simple febrile seizure) yaitu:
1. Kurang dari 15 menit, umumnya akan berhenti sendiri,
2. Berbentuk umum tonik dan atau klonik,
3. Tidak berulang dalam 24 jam.
Kejang demam komplek (complex febrile seizure) yaitu:
1. Lebih dari 15 menit,
2. Berbentuk kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang
parsial,
3. Berulang atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam.

8
Menurut Livingstone, membagi kejang demam menjadi dua :9
Kejang demam sederhana
1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan dan 4 tahun
2. Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tidak lebih dari 15 menit
3. Kejang bersifat umum, frekuensi kejang bangkitan dalam 1 tahun tidak lebih 4
kali
4. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam
5. Pemeriksaan neurologi sebelum dan sesudah kejang normal
6. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya seminggu sesudah suhu normal tidak
menunjukkan kelainan
Epilepsi yang diprovokasi demam
1. Kejang lama dan bersifat lokal
2. Umur lebih dari 6 tahun
3. Frekuensi serangan lebih dari 4 kali / tahun
4. EEG setelah tidak demam abnormal
Ada pula kejang simtomatik akut, yang terjadi sekunder akibat kondisi yang lain,
misalnya ketidakseimbangan elektrolit. Jika tidak terjadi secara sekunder, maka akan disebut
kejang tanpa pencetus (unprovoked seizure). Sedangkan kejang reflek (reflex seizures) adalah
kejang yang dicetus oleh stimulus sensorik, misalnya cahaya terang.

Gambar 2. Klasifikasi Kejang Pada Anak

9
F. DIAGNOSIS
Diagnosis kejang ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan penunjang.
Sangat penting membedakan apakah serangan yang terjadi adalah kejang atau serangan yang
menyerupai kejang. Perbedaan di antara keduanya ditampilkan pada Tabel 1.11

Tabel 1. Perbedaan antara kejang dan serangan yang menyerupai kejang11


Parameter Kejang Menyerupai Kejang
Onset Tiba-tiba Mungkin gradual
Lama serangan Detik/menit Beberapa menit
Kesadaran Sering terganggu Jarang terganggu
Sianosis Sering Jarang
Gerakan ekstremitas Sinkron Asinkron
Stereotipik serangan Selalu Jarang
Lidah tergigit atau luka lain Sering Sangat jarang
Gerakan abnormal bola mata Selalu Jarang
Fleksi pasif ekstremitas Gerakan tetap ada Gerakan hilang
Dapat diprovokasi Jarang Hampir selalu
Tahanan terhadap gerakan pasif Jarang Selalu
Bingung paska serangan Hampir selalu Tidak pernah
Iktal EEG abnormal Selalu Hampir tidak pernah
Paska iktal EEG abnormal Selalu Jarang

Hal hal yang perlu ditanyakan saat anamnesis yaitu 11 :


- Adanya kejang, jenis kejang , kesadaran, lama kejang
- Suhu sebelum/saat kejang, frekuensi dalam 24 jam, interval, keadaan anak pasca
kejang
- Penyebab demam di luar infeksi susunan saraf pusat (gejala infeksi saluran napas
akut/ISPA, infeksi saluran kemih/ISK. Otitis media akut/OMA, dll)
- Riwayat perkembangan, riwayat kejang demam dan epilepsi dalam keluarga
- Singkirkan penyebab kejang yang lain (misalnya diare/muntah yang mengakibatkan
gangguan elektrolit, sesak yang mengakibatkan hipoksemia, asupan kurang yang
dapat menyebabkan hipoglikemia)

Pemeriksaan fisik yang dilakukan antara lain 11:


- Kesadaran : apakah terdapat penurunan kesadaran
- Suhu tubuh: apakah terdapat demam

10
- Tanda rangsang meningeal: kaku kuduk, Bruzinski I dan II, Kerniq, Laseq dan
pemeriksaan nervus cranial
- Tanda peningkatan tekanan intrakranial: ubun ubun besar (UUB) membonjol, papil
edema
- Tanda infeksi di luar susunan saraf pusat seperti infeksi saluran pernapasan, faringitis,
otitis media, infeksi saluran kemih dan lain sebagainya yang merupakan penyebab
demam
- Pemeriksaan neurologi: tonus, motorik, reflex fisiologis, reflex patologis11

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Untuk menentukan faktor penyebab dan komplikasi kejang pada anak diperlukan
beberapa pemeriksaan penunjang, yaitu:
a. Laboratorium : pemeriksaan laboratorium pada anak dengan kejang ditujukan selain
untuk mencari etiologi kejang, juga untuk mencari komplikasi akibat kejang yang
lama. Pemeriksaan penunjang untuk pasien dengan kejang pertama kali adalah kadar
glukosa darah, elektrolit, hitung jenis, dan protrombin time. Beberapa peneliti lain
menganjurkan standar pemeriksaan laboratorium yaitu: darah tepi lengkap, elektrolit
serum, glukosa, ureum, kreatinin, kalsium, dan magnesium. Bila dicurigai adanya
meningitis bacterial, lakukan pemeriksaan kultur darah, dan kultur cairan
serebrospinal.
b. Pungsi lumbal : Dapat dilakukan dalam 48 jam atau 72 jam untuk memastikan adanya
infeksi SSP. Jika didapatkann kelainan neurologis fokal ada adanya peningkatan
tekanan intrakranial, maka dianjurkan memeriksakan CT scan terlebih dahulu, untuk
mencegah terjadinya resiko herniasi. Menurut American Academy of Pediatrics,
pungsi lumbal sangat dianjurkan pada serangan pertama kejang disertai demam pada
anak di bawah usia 12 bulan, karena meningitis pada kelompok usia ini dapat
menunjukkan gejala klinis yang minimal atau bahkan tidak ada. Pada anak usia 12-18
bulan pungsi lumbal dianjurkan, sedangakan usia lebih dari 18 bulan pungsi lumbal
dilakukan bila ada kecurigaan adanya infeksi intrakranial (meningitis).11 Bila yakin
bukan meningitis, secara klinis tidak perlu dilakukan pungsi lumbal.
Leung dan Lane, memberikan kriteria indikasi pungsi lumbal, yakni: adanya klinis
meningitis, umur kurang dari 2 tahun atau lebih 5 tahun, kejang demam kompleks,
pulih dari kejang lebih lama dari biasanya, anak terlihat tidak seperti anak sehat (look

11
right). Hati-hati bila ditemukan tanda-tanda TIK yang sangat tinggi, perlu dilakukan
CT Scan sebelumnya untuk menentukan adanya SOL (Space Occupying lesion).9
c. Neuroimaging : dilakukan pada anak dengan kecurigaan trauma kepala, infeksi SSP,
tumor, atau perdarahan intrakranial.12
d. Elektroensefalografi : tidak dapat memprediksi berulangnya kejang, atau
memperkirakan kemungkinan kejadian epilepsi pada pasien kejang demam. Oleh
karenanya tidak direkomendasikan untuk kejang demam. Dilakukan segera setelah
kejang dalam 24-48 jam. Beratnya kelainan EEG tidak selalu berhubungan dengna
beratnya manifestasi klinis.10,12

H. PENATALAKSANAAN
Protokol kejang pada anak dapat dilihat di Gambar 3. Langkah pertama pada
penatalaksanaan pasien yang sedang kejang adalah menilai dan menunjang jalan napas
(airway), pernapasan (breathing), dan sirkulasi. Hal ini dapat meyakinkan penolong bahwa
kejang tidak mengganggu oksigenasi ke otak dan tidak berkomplikasi pada hipoksia dan/atau
iskemia.1,3
a. Airway
Jalan napas yang bersih merupakan hal yang penting. Jika jalan napas tertutup, harus
dibuka dan dipertahankan dengan head tilt, atau chin lift, atau dengan jaw thrust
ketika anak berada dalam posisi supine. Bahkan jika jalan napas bersih sekalipun,
kadang memerlukan pengisapan terhadap secret di orofaring.
b. Breathing
Nilai pernapasan dengan metode look, listen, dan feel. Apakah ada bunyi grunting
pada saat bernapas, gerakan dada saat bernapas, saturasi oksigen, perubahan warna
kulit, frekuensi nadi, dan sebagainya. Jika napas tidak adekuat, maka perlu diberi
bantuan napas berupa oksigen dengan bag. Biasanya pada kejang yang
berkepanjangan, atau pemberian obat anti-kejang yang berulang dapat menuju
depresi pernapasan dan juga termasuk pemasangan intubasi.
c. Sirkulasi
Nilai keadaan kardiovaskular sebagai berikut:
Nadi: jika terdapat bradikardia bisa dicurigai adanya peningkatan tekanan
intracranial.

12
Volume pulsasi: nilai kecukupan sirkulasi dengan palpasi nadi sentral (femoral,
brakial)
CRT (Capillary Refill Time): normalnya dua detik atau kurang yang dinilai
dengan menekan pertengahan dari sternum selama lima detik.
Tekanan darah: peningkatan TD yang signifikan (>97 persentil) mengindikasikan
adanya peningkatan tekanan intracranial.
Apakah adanya pucat, sianosis, atau akral dingin.

Berikan NaCl 0,9% intravena 20ml/kgBB, secepatnya, kepada pasien dengan tanda-
tanda shock atau sepsis.1

13
Di rumah: diazepam 5-10 mg/rektal, maks. 2x, 0-10 menit
jarak 5 menit

Usahakan akses 10-20 menit


Pasien datang. Monitor: tanda vital (EKG, gula darah,
Bebaskan jalan napas intravena.
elektrolit [Na, K, Ca, Mg, Cl], AGD, pulse
dan beri oksigen. oksimetri)
Periksa ABC
Akses vena
didapat?

Ya Tidak

Diazepam 0,2-0,5mg/kg IV (kec. 2mg/menit,


Diazepam rektal 1 kali
maks. 10 mg)

masih kejang masih kejang


20-30 menit

Fenitoin 20mg/kg/IV (50mg/mnt, maks Ulangi pencarian akses


1000 mg) intravena

Berhenti masih kejang


30-60 menit

tambahkan 5-10mg/kg IV dg fenobarbital 20mg/kg IV (30 menit,


pengenceran maks 1000 mg)

berhenti Refrakter
5-7mg/kg/hari iv dengan
pengenceran 12 jam
kemudian
tambahkan 5-10mg/kg/iv bolus
ICU
langsung

Midazolam bolus 100-200


4-5 mg/kg/hari IV 12 jam kemudian mcg/kg IV (max 10 mg)

Tiopental 5-8mg/kg/iv

Propofol bolus 1-3


mg/kg/iv

Gambar 3. Algoritma Penanganan Kejang pada Infan dan Anak12

14
Pengobatan Rumatan
Pengobatan rumatan hanya diberikan bila kejang demam menunjukkan ciri sebagai
berikut (salah satu):
1. Kejang lama > 15 menit
2. Adanya kelainan neurologis yang nyata sebelum atau sesudah kejang, misalnya
hemiparesis, paresis Todd, cerebral palsy, retardasi mental, hidrosefalus.
3. Kejang fokal
4. Pengobatan rumat dipertimbangkan bila:
a. Kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam
b. Kejang demam terjadi pada bayi kurang dari 12 bulan
c. Kejang demam lebih atau sama dengan 4 kali per tahun.8

Pengobatan ini dibagi atas dua bagian, yaitu:


Profilaksis intermitten
Disarankan pada pasien dengan kejang demam kompleks yang rekuren, tidak
disarankan pada pasien kejang demam simpleks. Caranya adalah ketika pasien demam lagi
dikemudian hari (>38.5C) dan orang tua sangat khawatir akan terjadi kejang, berikan
diazepam oral 0.3 mg/KgBB setiap 8 jam atau sampai 3x sehari (1 mg/Kg/24 jam), yang
dapat diberikan sampai 2-3 hari selama anak masih demam, disamping antipiretik. Dapat pula
berupa diazepam rektal 5 mg (BB < 10 kg) atau 10 mg (BB > 10 kg). Cara ini relative aman,
dengan efek samping yang minor seperti letargi, iritabilitas, dan ataksia yang dapat dikurangi
dengan menurunkan dosis. Antipiretik yang diberikan adalah paracetamol dengan dosis 10-15
mg/kg/kali diberikan 4 kali sehari atau ibuprofen dengan dosis 5-10 mg/kg/kali, 3-4 kali
sehari. Profilaksis intermitten ini sebaiknya diberikan sampai kemungkinan anak untuk
menderita kejang demam sangat kecil yaitu sampai sekitar umur 4 tahun.
Profilaksis jangka panjang atau terus-menerus
Dilakukan dengan mengkonsumsi antikonvulsan setiap hari, namun penggunaannya
harus hati-hati mengingat efek samping dari antikonvulsan yang digunakan. Berdasarkan
IDAI 2006, terdapat 2 kategori rekomendasi profilaksis terus-menerus:
Dianjurkan, bila:
- Terdapat kelainan neurologis nyata sebelum atau sesudah kejang (misalnya serebral
palsi, paresis Tods, hidrosefalus)
- Kejang berlangsung lama > 15 menit
- Kejang fokal atau parsial
15
Dipertimbangkan, bila:
- Kejang berulang dalam satu episode demam
- Kejang pada bayi usia < 12 bulan
- Kejang demam kompleks berulang 4 kali dalam satu tahun
Antikonvulsan yang menjadi pilihan untuk profilaksis terus-menerus adalah:
1. Fenobarbital 3-4 mg/KgBB/hari, dibagi 2x sehari. Efek sampingnya dapat
mengurangi fungsi kognitif pada pemakaian jangka panjang; atau
2. Sodium Valproate 15-40 mg/KgBB/hari, dibagi 2-3x dosis. Efek sampingnya dapat
menyebabkan hepatitis pada anak diatas 2 tahun. Obat ini adalah obat pilihan utama.
Antikonvulsan diatas diberikan secara terus-menerus selama 1 tahun sejak kejang demam
terakhir, dan diberhentikan perlahan-lahan dalam 1-2 bulan.
Lama pengobatan rumat adalah selama 1 tahun bebas kejang, kemudian dihentikan
secara bertahap selama 1-2 bulan.5

Tabel 3. Obat yang sering digunakan pada tatalaksana serangan kejang12


Diazepam Fenitoin Fenobarbital Midazolam
Dosis 0,3-0,5 mg/kg 20mg/kg 20mg/kg 0,2mg/kg bolus
inisial 0,02-0,1mg/kg drip
DM awal 10mg 1000mg 1000mg -
Dosis 5 menit dapat Bila kejang Bila kejang Dapat diulang 10-
ulangan diulang kembali, berhenti, 15 menit
10mg/kg kengan kembali
10 mg/kg
Lama kerja 15-4jam Sampai 24 Sampai 24 jam 1-6 jam
jam
Pemberian IV, rektal IV perlahan IV atau IM IV perlahan 0,2
kec. 50 mcg/menit dan
mg/menit titrasi dengan infus
diencerkan 0,4-0,6 mcg/kg/
dengan NaCl menit
0,9%
Catatan Dilanjutkan Hindari Monitor tanda
dengan fenitoin pengulangan vital
atau AED sebelum 48
jam
Efek Somnolen, Bingung, Hipotensi, Hipotensi, depresi
samping ataxia, depresi depresi napas depresi napas napas
napas aritmia

16
I. EDUKASI KELUARGA
Kejang selalu merupakan peristiwa yang menakutkan bagi orang tua. Pada saat kejang
sebagian besar orang tua beranggapan bahwa anaknya telah meninggal. Kecemasan ini harus
dikurangi, dengan cara di antaranya:
Memberitahukan cara penanganan kejang
Memberikan informasi mengenai kemungkinan kejang kembali
Pemberian obat unutk mencegah rekurensi memang efektif tetapi diingat adanya
efek samping obat.
Beberapa hal yang harus diingatkan kepada orang tua apabila kembali kejang, yaitu:
1. Tetap tenang dan tidak panik
2. Kendorkan pakaian yang ketat terutama di sekitar leher
3. Bila tidak sadar, posisikan anak terlentang dengna kepala miring. Bersihkan
muntahan atau lendir di mulut atau hidung. Walaupun kemungkinan lidah tergigit,
jangan memasukkan sesuatu ke dalam mulut
4. Ukur suhu (bila kejang demam), observasi dan catat lama dan bentuk kejang,
5. Tetap bersama pasien selama kejang
6. Berikan diazepam rektal, jangan diberikan bila kejang telah berhenti.
7. Bawa ke dokter atau rumah sakit bila kejang berlangsung lebih dari 5 menit atau
lebih.5

J. VAKSINASI
Perlu diedukasikan kepada orang tua bahwa tidak ada kontraindikasi untuk melakukan
vaksinasi terhadap anak yang mengalami kejang demam. Kejang setelah demam karena
vaksinasi sangat jarang. Angka kejadian paska vaksinasi DPT adalah 6-9 kasus per 100.000
anak yang divaksinasi sedangkan setelah vaksinasi MMR 25-34 per 100.000. Dianjurkan
untuk memberikan diazepam oral maupun rektal bila anak demam, terutama setelah vaksinasi
DPT atau MMR. Beberapa dokter anak merekomendasikan parasetamol pada saat vaksinasi
hingga 3 hari kemudian.5,10

17
K. PROGNOSIS
Kejadian kecacatan sebagai komplikasi kejang demam tidak pernah dilaporkan.
Kematian akibat kejang demam juga tidak pernah dilaporkan. Perkembangan mental dan
neurologis umumnya tetap normal pada pasien yang memang sebelumnya normal. Penelitian
lain secara retrospektif melaporkan kelainan neurologis pada sebagian kecil kasus dan
kelainan ini biasanya terjadi pada kasus kejang yang lama atau kejang berulang baik fokal
atau kejang umum.5
Kejang demam akan berulang kembali pada sebagian kasus. Faktor resiko
berulangnya kejang yaitu riwayat kejang demam dalam keluarga, usia saat kejang pertama <
12 bulan, temperatur yang rendah saat kejang (<40C) dan timbulnya kejang yang cepat
setelah demam. Bila semua faktor tersebut terpenuhi maka resiko berulangnya kejang demam
80 % sedangkan bila tidak terdapat faktor tersebut resikonya 10-15%. Kemungkinan
berulangnya kejang paling besar pada tahun pertama.5

18
BAB III
KESIMPULAN

Kejang demam merupakan jenis kejang yang sering terjadi, terbagi atas kejang
demam sederhana dan kejang demam kompleks. Kejang demam merupakan suatu kondisi
yang patut diperhatikan, dan tatalaksana yang tepat dapat mengatasi kondisi kejang dan
mengatasi kausanya. Sebagian besar kejang demam tidak menyebabkan penurunan IQ,
epilepsi, ataupun kematian. Kejang demam dapat berulang yang kadang menimbulkan
ketakutan dan kecemasan pada keluarga. Diperlukan pemeriksaan sesuai indikasi dan
tatalaksana menyeluruh. Edukasi orang tua penting karena merupakan pilar pertama
penanganan kejang demam sebelum dirujuk ke rumah sakit.

19
DAFTAR PUSTAKA

1. Office of Kids and Families. Infants and Children: Acute Management of Seizures.
NSW Government. Sydney. 2016.
2. De Siqueira LFM. Febrile seizures: Update on diagnosis and management. Rev Assoc
Med Bras. 2010;56(4):489-92.
3. Mohamad A, Mikati, Abeer. Seizures in Childhood in Nelson Textbook of Pediatrics
20th ed. Philadhelpia, 2016: Elsevier. p. 2823-2848.
4. John M, Carey, Manish, Shah. Pediatric Prehospital Seizure Management. Elsevier
2014;15(1):59-66.
5. Hardiono D, Dwi P, Sofyan I editors. Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam.
Jakarta: Badan Penerbit IDAI. 2006.
6. Lumbantobing S.M. Kejang Demam (Febrile Convulsions). Jakarta: Balai Penerbit
FKUI. 2004.
7. Nelson, Behrman, Kliegman, et al. Kejang-Kejang pada Masa Anak dalam Nelson
Ilmu Kesehatan Anak, Volume 3, edisi 15. Jakarta: EGC;2000: 2059-2063.
8. Arief R.F. Penatalaksanaan Kejang Demam. Jakarta: Ikatan Dokter Indonesia (IDI).
42(9):658-61.
9. Syarif Iskandar. Kejang Demam. Majalah Kedokteran Andalas. 1998;22(2):50-54
10. Hardiono D, Dwi P, Sofyan I editors. Rekomendasi Penatalaksanaan Kejang Demam.
Jakarta: Badan Penerbit IDAI. 2016.
11. Nia K. Kejang pada Anak. Bandung 2007.
12. Irawan M. Status Epileptikus Konvulsivus pada Anak in Penata Laksana Berbagai
Keadaan Gawat Darurat pada Anak. Jakarta 2013: Departemen Ilmu Kesehatan Anak
FKUI-RSCM. p. 21-32.
13. Lilihata Gracia, Handryastuti Setyo. Kejang Demam. In: Kapita Selekta Kedokteran.
Jilid 1. Jakarta: Media Aesculapius. 2016.

20