Anda di halaman 1dari 18

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

1.1. Cacing Tanah

1.1.1. Klasifikasi cacing tanah

Cacing tanah (Lumbricus rubellus) tergolong dalam kelompok binatang

avertebrata (tidak bertulang belakang) sehingga sering disebut binatang lunak.

(L.rubellus) dimasukkan dalam filum Annelida karena seluruh tubuhnya tersusun

atas segmen-segmen yang berbentuk cincin. Di setiap segmen terdapat rambut

yang keras berukuran pendek yang disebut setae. Segmentasi ini terjadi di luar

maupun di dalam meliputi otot, saraf, alat sirkulasi, alat ekskresi maupun alat

reproduksi (Astuti, 2001).

Gambar I.1. Cacing tanah (Lumbricus rubellus) (Hoffmeister)


Filum : Annelida
Kelas : Oligochaeta
Ordo : Haplotaxida
Subordo : Lumbricina
Famili : Lumbricidae
Genus : Lumbricus
Spesies : Lumbricus rubellus (Hoffmeister)

1.1.2. Anatomi cacing tanah

Cacing tanah berbentuk gilig dan silinder. Tubuh bagian depan silindris,

sedangkan bagian belakang memipih. Pada cacing tanah dewasa terdapat klitelum

(dari segmen 32-37). Klitelum ini berupa pembesaran permukaan tubuh yang

melingkar seperti kalung. Pada cacing muda, klitelum belum terlihat karena baru

terbentuk saat cacing mencapai dewasa kelamin yaitu sekitar 2,5-3 bulan. Alat

sirkulasi terdiri atas pembuluh darah dorsal dan pembuluh ventral yang terletak

membujur sepanjang tubuh. Alat pencernaan makanan cacing tanah berupa

saluran yang memanjang. Organ pencernaan cacing terdiri dari prostomium yang

merupakan organ syaraf perasa seperti bibir, faring esophagus, tembolok,

lambung otot (empela), usus dan anus. Prostomium terdapat pada bagian anterior

tubuh cacing (Astuti, 2001; Edwards and Bohlen, 1996:6).

Cacing tanah bersifat hermaprodit, artinya cacing tanah memiliki alat

kelamin jantan dan betina dalam satu tubuh, tetapi hewan ini tidak dapat

membuahi dirinya sendiri. Alat kelamin betina terdiri atas sepasang ovari yang

terletak pada segmen ke-13 di bagian depan, sepasang infundibulum yang masing-

masing bermuara dalam kantong telur yang terletak pada bagian depan segmen
ke-14. Dari setiap kantong telur timbul sebuah ovidak yang bermuara keluar pada

segmen 14. Alat kelamin jantan terdiri atas dua pasang testes dan dua buah

kantong testes, setiap pasang testes terletak pada segmen ke-10 dan 11. Dari setiap

kantong testes timbul sebuah vas deferens yang bermuara dalam saluran sperma

yang membujur di kanan dan kiri dan berakhir pada forus genital pada segmen 15.

Pada saat kopulasi (perkawinan), klitelum berperan penting. Fungsi klitelum

adalah sebagai organ kelamin sekunder pada cacing tanah, dan mensekresikan

lender yang berguna untuk menyelubungi pelekatan cacing pertama dengan

pasangannya, melindungi dan melancarkan jalannya spermatozoa pada saat

kopulasi serta membentuk dinding kokon (Astuti, 2001).

Pernapasan cacing tanah dibantu oleh kulit yaitu sebagai alat untuk

pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Pernapasan terjadi melalui pembuluh

kapiler yang ada di seluruh jaringan kutikula yang terdapat pada lapisan atas kulit.

Kutikula berfungsi untuk menjaga kelembaban melalui lendir yang disekresikan

oleh epidermis. Oksigen yang masuk ke dalam pembuluh darah selanjutnya

diedarkan ke seluruh tubuh melalui sirkulasi darah (Astuti, 2001).

Untuk bergerak, cacing tanah harus menggunakan otot-otot tubuhnya yang

panjang dan tebal yang melingkari tubuhnya. Adanya kelenjar pada tubuhnya

yang dihasilkan oleh kelenjar epidermis dapat mempermudah pergerakannya di

tempat-tempat yang padat dan kasar (Palungkun, 2010:14).

Cacing tanah hidup di tempat atau tanah yang terlindung dari sinar

matahari, lembap, gembur, dan mengandung banyak serasah. Habitat ini sangat

spesifik bagi cacing tanah untuk tumbuh dan berkembang biak dengan baik.
Marga Lumbricus ini sangat menyukai bahan organik yang berasal dari kotoran

ternak dan sisa-sisa tumbuhan (Palungkun, 2010:10).

1.1.3. Kandungan kimia

Cacing tanah mengandung gizi yang cukup tinggi terutama protein (64-

76% berat kering). Kandungan gizi lainnya yang terdapat pada cacing antara lain

adalah lemak 7-10%, kalsium 0,55%, fosfor 1% dan serat kasar 1,08%. Protein

yang terdapat pada cacing tanah terdiri dari 9 macam asam amino esensial dan 4

macam asam amino non-esensial. Asam amino esensial ini antara lain arginin,

histidin, leusin, isoleusin, valin, metionin, fenilalanin, lisin, dan treonin.

Sedangkan asam amino non-esensial ialah sistin, glisin, serin, dan tirosin

(Palungkun, 2010:20).

Tabel I.1. Komposisi senyawa kimia cacing tanah menurut Sabine (1983)
Tabel 1.2. Kandungan asam amino pada cacing tanah (Palungkun, 2010:21)

1.2. Protein

Protein merupakan sumber asam amino yang terdiri dari unsur C, H, O,

dan N. Protein berfungsi sebagai zat pembangun jaringan-jaringan baru, pengatur

proses metabolisme tubuh dan sebagai bahan bakar apabila keperluan energi

tubuh tidak terpenuhi oleh lemak dan karbohidrat (Meirinda, 2013).

Semua protein dibangun dari 20 asam amino yang berikatan secara

kovalen dalam urutan yang khas. Karena masing masing asam amino memiliki

rantai samping yang khusus, yang memberikan sifat kimia masing-masing

individu. Sel dapat merangkai ke 20 asam amino dalam berbagai kombinasi dan

urutan, menghasilkan peptida dan protein yang mempunyai sifat-sifat dan

aktivitas yang berbeda. Dari unit pembangun ini organisme yang berbeda dapat

membuat produk yang demikian bervariasi, seperti enzim, hormon, lensa protein
pada mata, bulu burung, jaring laba-laba, kulit kura-kura, protein susu, enkefalin,

antibiotik, racun jamur, dan masih banyak senyawa lain yang mempunyai

aktivitas biologi spesifik (Lehningher, 1982: 107-108).

Protein dapat diperoleh dari makanan baik tumbuhan (protein nabati)

maupun hewan (protein hewani). Tumbuhan membentuk protein dari CO2 dan

H2O, kemudian hewan yang memakannya, mengubah protein nabati menjadi

protein hewani. Protein juga dapat digunakan sebagai sumber energi apabila tubuh

kekurangan karbohidrat dan lemak. Komposisi rata-rata unsur kimia yang terdapat

dalam protein ialah: karbon 50%, hydrogen 7%, oksigen 23%, nitrogen 16 %,

belerang 0-3% dan fosfor 0-3% (Pujiadi, 2005).

1.2.1. Struktur protein dan fungsi protein

Ada empat tingkat struktur dari protein, yaitu struktur primer, sekunder,

tersier dan quartener.

a. Struktur primer asam amino

Struktur primer menunjukan jumlah, jenis, dan urutan asam amino dalam

molekul protein. Karena ikatan antar asam amino dihubungkan oleh ikatan peptide

maka struktur primer protein juga menunjukan ikatan peptida yang urutannya

diketahui (Insel, 2012; Barret, 2004).

b. Struktur sekunder asam amino

Pada rantai polipeptida terdapat banyak gugus C=O dan gugus N-H.

Kedua gugus ini dapat berikatan satu sama lain karena adanya ikatan hidrogen

antara atom oksigen dengan hidrogen. Apabila ikatan hidrogen terdapat dalam

satu rantai polipeptida, akan terbentuk struktur -helix (Insel, 2012; Barret, 2004).
Ikatan hidrogen juga dapat terjadi antara 2 rantai polipeptida atau lebih dan

akan membentuk konfigurasi berupa rantai sejajar yang berkelok-kelok dan

disebut struktur lembaran berlipat. Ada dua lembaran berlipat, yaitu bentuk

paralel yang terjadi apabila rantai polipetida yang berikatan melalui ikatan

hidrogen sejajar dan searah, dan bentuk anti paralel terjadi apabila rantai

polipeptida berikatan dalam posisi sejajar tapi berlawanan arah (Insel, 2012;

Barret, 2004).

c. Struktur tersier asam amino

Struktur tersier menunjukan kecenderungan polipeptida membentuk

lipatan atau gulungan, dan dengan demikian membetuk struktur yang lebih

kompleks. Struktur ini dimantapkan oleh adanya beberapa ikatan antara gugus R

pada molekul asam amino yang membentuk protein (Insel, 2012; Barret, 2004).

d. Struktur kuartener asam amino

Srtuktur kuartener menunjukan derajat persekutuan unit-unit protein.

Sebagian besar protein globular terdiri atas beberapa rantai polipeptida yang

terpisah. Rantai polipeptida ini saling berinteraksi membentuk persekutuan (Insel,

2012; Barret, 2004).


(a) (b) (c) (d)

Gambar I.2. Struktur protein (a) Primer, (b) sekunder, (c) tersier, (d) kuarterner

(Branden, C., John, T. 1999: 3)

Berdasarkan fungsi protein (Almatsier, 2004) yaitu :

a. Protein enzim

Protein enzim ini mempunyai sifat yang khas, karena hanya bekerja pada

substrat tertentu.

b. Protein pengangkut

Protein ini mempunyai kemampuan mengikat, membawa, dan melepaskan

molekul protein tertentu, misalnya hemoglobin mengangkut O2 dalam darah,

lipoprotein mengangkut lipida dalam darah dan myoglobin mengangkut O2 dalam

otot.

c. Protein pembangun

Sebagai protein pembangun dan pengganti protein yang rusak pada

organel atau jaringan. Contohnya glikoprotein, keratin, kolagen, dan elastin.

d. Protein otot

Protein yang mengontrol gerak oleh otot, misalnya myosin dalam otot

dinein dalam rambut.

e. Protein pertahanan tubuh

Protein ini dikenal immunoglobulin (Ig), dimana merupakan suatu protein

khusus yang dapat mengenal, mengikat, dan menghancurkan benda-benda asing

yang masuk dalam tubuh seperti virus, bakteri, dan sel asing, misalnya berbagai

antibody, fibrinogen (dalam proses pembentukan darah).

f. Protein hormon
Adalah hormone yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin membantu

mengatur aktifitas metabolism didalam tubuh.

1.2.2. Sifat fisikokimia protein

a. Protein globular

Pada protein globular rantai atau rantai rantai polipeptida berlipat rapat-

rapat menjadi bentuk globular atau bulat yang padat. Protein globular biasanya

larut didalam sistem larutan (air) dan segera berdifusi, hampir semua mempunyai

fungsi gerak atau dinamik. Hampir semua enzim merupakan protein globular,

seperti protein transport pada darah, antibodi, dan protein penyimpan nutrient

(Lehningher, 1982: 140).

b. Protein struktural

Protein serabut bersifat tidak larut dalam air, merupakan molekul serabut

panjang, dengan rantai polipeptida yang memanjang pada suatu sumbu dan tidak

berlipat membentuk globular. Hampir semua protein serabut memberikan peran

struktural atau pelindung. Protein serabut yang khas adalah keratin pasa rambut

dan wol, fibroin dari sutra dan kolagen dari ulat (Lehningher, 1982: 140).

(a) (b)

Gambar I.3. (a) protein globular, (b) protein struktural (Nordlund, T. M. 2011: 114-116)

1.2.3. Asam Amino


Asam amino merupakan biomolekul kecil yang merupakan monomer

penyusun protein yang dihubungkan dengan ikatan peptida.

Gambar I.5 Rumus umum asam amino (Whitford, D, 2005).

Struktur asam amino secara umum adalah satu atom C yang mengikat

empat gugus: gugus amina (NH2), gugus karboksil (COOH), atom hidrogen (H),

dan satu gugus sisa (R, dari residu) atau disebut juga gugus atau rantai samping

yang membedakan satu asam amino dengan asam amino lainnya. Asam amino

bergabung dengan formasi ikatan peptida dimana kelompok amino dari satu

molekul bereaksi dengan gugus karboksil dari yang lain ( Whitford, D, 2005: 14).

Gambar I.6 Glisin dan alanin bereaksi bersama-sama untuk membentuk glisilalanine

dipeptida dengan ikatan peptida (warna merah) (Whitford, D, 2005).

Bila ditinjau dari segi pembentukannya asam amino dapat dibagi dalam

dua golongan yaitu asam amino esensial dan asam amino non esensial. Asam

amino esensial adalah asam amino tidak dapat diproduksi oleh tubuh sehingga

harus ada dalam diet. Apabila tubuh akan membentuk jaringan baru, jaringan baru
tersebut hanya terbentuk jika semua asam amino esensial tersedia dalam satu saat

bersamaan. Oleh karena itu, kekurangan hanya satu jenis asam amino esensial

sudah dapat menimbulkan keseimbangan nitrogen yang negatif. Asam amino

esensial terdiri dari: alanin, arginin, asparagin, asam aspartat, sistin, asam

glutama, glutamin, glisin, prolin. Asam amino non esensial adalah asam amino

yang dapat diproduksi dalam tubuh sehingga tidak perlu dikonsumsi atau tidak

perlu tersedia diet. Asam amino non esensial terdiri dari: histidin, isoleusin,

leusin, lisin, metionin, fenilelanin, treonin, triptofan, valin, serin dan tirosin (Devi,

2010: 34).

1.3. Antipiretik

1.3.1. Demam

Demam adalah peninggian suhu tubuh dari variasi suhu normal sehari-hari

yang berhubungan dengan peningkatan titik patokan suhu di hipotalamus

(Dinerello and Gelfand, 2005). Suhu tubuh normal berada pada kisaran 36,7-

37C. Suhu tubuh dapat dikatakan demam jika diperoleh suhu rektal 38,0C atau

suhu oral 37,5C atau suhu aksila 37,2C (Dipiro, 2011). Pengaturan suhu

tubuh memerlukan keseimbangan yang akurat antara pembentukan dan hilangnya

panas. Hipotalamus mengatur set point sehingga suhu tubuh dipertahankan

(Goodman and Gilman, 2008).

Demam terjadi karena adanya suatu zat yang dikenal dengan pirogen.

Pirogen adalah suatu zat yang menyebabkan demam. Pirogen terbagi menjadi dua

yaitu pirogen eksogen yaitu pirogen yang berasal dari luar tubuh pasien.
Contohnya produk mikroorganisme seperti toksin atau mikroorganisme

seutuhnya. Salah satu pirogen eksogen klasik adalah endotoksin lipopolisakrida

yang dihasilkan oleh bakteri gram negatif. Sedangkan jenis lain yaitu pirogen

endogen, dimana pirogennya berasal dari dalam tubuh pasien. Contoh dari pirogen

endogen antara lain IL-1, IL-6, TNF- dan IFN. Sumber pirogen ini pada

umumnya adalah monosit, neutrophil, dan limfosit, walaupun sel lain juga dapat

mengeluarkan pirogen endogen jika terstimulasi (Dinerello and Gelfand, 2005).

Proses terjadinya demam dimulai dari stimulasi sel-sel darah putih

(monosit, limfosit, dan neutrofil) oleh pirogen eksogen baik berupa toksin,

mediator inflamasi, atau reaksi imun. Sl-sel darah putih tersebut akan

mengeluarkan zat kimia yang dikenal dengan pirogen endogen (IL-1, IL-6, TNF-

dan IFN). Pirogen eksogen dan pirogen endogen akan merangsang endothelium

hipotalamus untuk membentuk prostaglandin (Dinerello and Gelfand, 2005).

Prostaglandin yang terbentuk kemudian akan memicu hipotalamus untuk

menaikan suhu tubuh dengan cara meningkatkan pembentukan panas dan

mengurangi hilangnya panas (Goodman and Gilman, 2008 dan Sherwood, 2001).

Menggigil ditimbulkan agar dengan cepat meningkatkan produksi panas,

sementara vasokontriksi kulit juga berlangsung untuk dengan cepat mengurangi

pengeluaran panas. Kedau mekanisme tersebut mendorong suhu naik. Dengan

demikian, pembentukan demam sebagai respon terhadap rangsangan pirogenik

adalah sesuatu yang disengaja dan bukan disebabkan oleh kerusakan mekanisme

termoregulasi (Sherwood, 2001).


1.3.2. Antipiretik

Antipiretik merupakan golongan obat yang dipergunakan untuk

menurunkan suhu tubuh bila demam. Cara kerja antipiretik antara lain dengan

melebarkan pembuluh darah di kulit, sehingga terjadi pendinginan darah oleh

udara luar. Sebagian obat antipiretik juga merangsang berkeringat. Penguapan

keringat turut menurunkan suhu badan. Kerja obat antipiretik adalah

mempengaruhi bagian otak yang mengatur suhu badan. Bagian ini terletak didasar

otak (Suradikusumah, 2007).

1.4. Mi Kering

Mi kering adalah mi segar yang dikeringkan hingga kadar airnya mencapai

8-10%. Pengeringan umumnya dilakukan dengan penjemuran dibawah sinar

matahari atau dengan oven. Pengeringan dilakukan pada suhu 35-40C dengan

kelembaban 70-75% selama 5 jam dan proses pengukusan dilakukan pada suhu

100C selama 1-5 menit. Proses pengukusan dan pengeringan akan memodifikasi

pati sehingga tekstur mi kering yang mudah dihidrasi (Astawan, 2010).

Definisi mi kering berdasarkan SNI 8217:2015 adalah produk yang dibuat

dari bahan baku utama tepung terigu dengan atau tanpa penambahan bahan

pangan lain dan bahan tambahan pangan yang diizinkan melalui proses

pencampuran, pengadukan, pencetakan lembaran (sheeting), pembuatan untaian

(slitting), dengan atau tanpa pengukusan(steaming), pemotongan (cutting)

berbentuk khas mi digoreng atau dikeringkan.


Menurut SNI 8217:2015 syarat mutu mi kering dapat dilihat pada table

dibawah ini :

Tabel I.3. Syarat mutu mi kering

1.5. Preformulasi Zat Tambahan

1.5.1. Tepung terigu

Tepung terigu berwarna putih, berbentuk butiran kecil, memiliki tekstur

yang kasar dan beraroma gandum. Tepung terigu merupakan bahan dasar

pembuatan mi. Tepung terigu diperoleh dari gandum (Triticum vulgare) yang

digiling. Keistimewaan terigu diantara serelia lainnya adalah kemampuannya


membentuk glutein pada adonan mi menyebabkan mi yang dihasilkan tidak

mudah putus pada proses pencetakan dan pemasakan. Mutu terigu yang

dikehendaki adalah terigu yang memiliki kadar air 14%, kadar protein 8-12%,

kadar abu 0,0025-0,60% dan glutein basah 24-36% ( Astawan, 2008).

1.5.2. Tepung tapioka

Tepung tapioka berwarna putih, memiliki tekstur yang halus dan sulit larut

dalam suhu normal. Tapioka digunakan sebagai bahan pengental, bahan pengisi,

dan bahan pengikat dalam industri pangan. Tepung tapioka adalah pati yang

diperoleh dari ekstrak ubi kayu melalui proses pemarutan, pemerasan,

penyaringan, pengendapan pati dan pengeringan. Pati terdiri dari dua komponen

yang dapat dipisahkan yaitu amilosa dan amilopektin. Perbandingan amilosa dan

amilopektin secara umum adalah 20% dan 70% dari jumlah pati total. Kadar pati

pada ubi kayu yaitu 65-74,1%(Astawan, 2008).

Pati terdiri dari dua fraksi yaitu amilosa yang larut dalam air panas serta

mempunyai struktur lurus dengan ikatan 1,4-D glukosa, dan fraksi kedua adalah

amilopektin yang tidak larut dalam air panas serta memiliki cabang dengan ikatan

1,4 dan 1,6 D glukosa sebanyak 4-5% dari keseluruhan ikatan yang ada pada

amilopektin (Winarno, 2004).

1.5.3. Telur

Secara umum penambahan telur dimaksudkan untuk meningkatkan mutu

protein mi dan menciptakan adonan yang lebih liat sehingga tidak mudah

terputus-putus. Putih telur berfungsi untuk mencegah kekeruhan mi pada waktu

pemasakan. Penggunaan putih telur harus secukupnya saja karena pemakaian


yang berlebihan akan menurunkan kemampuan menyerap air (daya dehidrasi)

waktu direbus (Astawan, 2008).

Kuning telur dipakai sebagai pengemulsi karena dalam kuning telur

terdapat lechitin. Selain sebagai pengemulsi, lechitin juga dapat mempercepat

hidrasi air pada tepung dan untuk mengembangkan adonan. Penambahan kuning

telur juga akan memberikan warna yang seragam (Astawan, 2008).

1.6.2. CMC-Na

CMC-Na digunakan sebagai pengikat. Merupakan serbuk putih hingga

hampir putih, tidak berbau, tidak berasa, bersifat higroskopis. CMC-Na sering

digunakan dalam sediaan oral dan topikal, terutama sebagai penambah viskositas.

CMC-Na bersifat stabil, walaupun higroskopis. Pada kondisi kelembaban yang

tinggi, CMC-Na mampu menyerap air dalam jumlah banyak (>50%). Larutan

encer stabil pada pH 2 10, dapat terjadi pengendapan pada pH di bawah 2 dan

viskositas larutan dapat berkurang dengan cepat pada pH di atas 10. Umumnya

larutan menunjukkan viskositas dan stabilitas maksimal pada pH 7 9. Larutan

encer yang disimpan dalam durasi lama harus mengandung pengawet antimikroba

(Rowe dkk, 2009).

Dalam pembuatan mi, CMC berfungsi sebagai pengembang . CMC dapat

mempengaruhi sifat adonan, meperbaiki ketahanan terhadap air, mempertahankan

keempukan selama penyimpanan (Widyaningsih dan Murtini, 2006). Menurut PP.

No.235/MENKES/PER/VI/1979 tentang bahan tambahan makanan, penggunaan

CMC-Na yang di Indonesia sebagai bahan penstabil, pengental, pengembang dan

pembentuk gel dalam produk pangan adalah 1-2%.


1.6.3. Natrium benzoat

Natrium benzoat digunakan sebagai bahan pengawet. Berupa serbuk

butiran atau kristal putih, sedikit higroskopis. Tidak berbau, atau sedikit berbau

benzoin dan memiliki rasa manis yang tidak menyenangkan dan rasa saline.

Larutan natrium benzoat juga sering diberikan secara oral atau intravena untuk

menentukan fungsi hati. Dalam jumlah banyak harus disimpan dalam wadah

tertutup baik di tempat sejuk dan kering. Aktivitas pengawet dapat berkurang jika

berinteraksi dengan kaolin atau surfaktan non-ionik. Inkompatibel dengan

senyawa kuartener, gelatin, garam ferri, garam kalsium, dan garam logam berat,

termasuk perak, timbal dan merkuri. Penggunaan natrium benzoate sebagai

pengawet pada kosmetik, makanan, dan obat adalah 0,055-0,5%. (Rowe dkk,

2009).

1.6.4. Garam

Garam dapur selain untuk memberi rasa juga meperkuat tekstur mi,

meningkatkan elastisitas dan fleksibilitas mi, serta untuk mengikat air. Garam

dapur akan menghambat aktivitas enzim amylase sehingga mi tidak bersifat

lengket dan tidak mengembang secara berlebihan (Astawan, 2008).

Penggunaan garam 1-2% akan meningkatkan kekuatan lembaran adonan

dan mengurangi kelengketan. Di Jepang dalam pembuatan mi pada umumnya

ditambahkan 2-3% garam ke dalam adonan mi. jumlah ini merupakan control

terhadap -amilase jika aktivitas rendah (Widyaningsih dan Murtini, 2006).


1.6.5. Air

Air berfungsi sebagai media reaksi antara gluten dengan karbohidrat,

larutan garam dan membentuk sifat kenyalgluten. Air yang digunakan sebaiknya

memiliki pH 6-9. Makin tinggi pH air maka mi yang dihasilkan tidak mudah patah

karena absorpsi air meningkat dengan meningkatnya pH. Air yang digunakan

harus memenuhi persyaratan sebagai air minum, diantaranya tidak berwarna, tidak

berbau, dan tidak berasa (Astawan, 2008).

Jumlah air yang ditambahakan pada umumunya sekitar 32-38% dari

campuran bahan yang akan digunakan. Jika lebih dari 38% adonan akan menjadi

sangat lengket dan jika kurang dari 28% adonan akan menjadi sangat rapuh

sehingga sulit di cetak (Widyaningsih dan Murtini, 2006).