Anda di halaman 1dari 14

Amebiasis pada Anak Laki-laki Berusia 10 Tahun

KELOMPOK I

0302011196 Mrizky Ferdiananda 0302012160 Marsya Andriyani V

0302012030 Ariel Ardinda 0302012190 Nimade Fika Diah I

0302012058 Citra Farisa 0302012210 Prazna Shafira Putri

0302012062 Claresta Nareswari 0302012226 Rera Ayu Ashari

0302012096 Faizal Haris Anando 0302012260 Sri Wisnu Wardana

0302012110 Flora Ratu Putri Bunda 0302012270 Tiara Anggiana Ayu

0302012128 Ira Rahmawati 0302012290 Yohanes Ardy S

0302012150 Ling Ling Meilia

Jakarta

Jumat, 10 Mei 2013


BAB I

PENDAHULUAN

Manusia merupakan hospes enam spesies ameba yang hidup dalan rongga usus besar yaitu

Entamoeba histolytica, Entamoba coli, Entamoeba hartamanni, Jodamoeba butschlii,

Dientamoeba fragilis, Endolimax nana dan satu spesies ameba yang hidup dalam mulut, yaitu

Entamoeba ginggivalis. Semua ameba ini tidak patogen, hidup sebagai komensal pada

manusia, kecuali E. histolytica yang dapat menjadi patogen. Manusia merupakan hospes

parasit ini. Penyakit yang disebabkannya disebut amebiasis.(1) Amebiasis terdapat di seluruh

dunia (kosmopolit) terutama di daerah tropis dan subtropis yang lingkungan kebersihannya

buruk. Penyakit ini endemis di Indonesia, baik di luar Jawa maupun di pulau Jawa terutama

di daerah pedesaan (rural). Di Kalimantan Selatan 12% dari tinja yang diperiksa

menunjukkan adanya Entamoeba histolytica sedangkan di Medan 6,25% dari penderita diare

adalah disentri amuba. Di daerah Kepulauan Seribu, Jakarta, 5% dari tinja anak sekolah dasar

yang diperiksa menunjukkan adanya protozoa usus ini.(2)

1
BAB II

LAPORAN KASUS

Seorang anak laki-laki umur 10 tahun datang diantar oleh ibunya ke Puskesmas tempat

saudara bekerja karena buang-buang air encer sejak tadi malam.

Pada anamnesis tambahan oleh ibu pasien dikatakan bahwa buang air besar encer bercampur

sedikit darah dan lendir, sebanyak kurang lebih 7 kali. Pasien mengeluh sakit perut setiap

akan buang air besar. Pasien juga memegang perut bawahnya karena ada rasa sakit yang

hilang timbul.

Pada pemeriksaan fisik ditemukan turgor kulit normal, nyeri tekan perut bawah positif, bising

usus meningkat.

Pada pemeriksaan darah didapatkan :

Hb : 14 g%

Lekosit : 6.500 sel/mm3

LED : 10 mm/jam

Hitung jenis : 0 / 1 / 4 / 60 / 31 /4

Pada pemeriksaan tinja ditemukan :

Makroskopis : feses bercampur darah (+), lendir sedikit

Mikroskopis :

2
BAB III

PEMBAHASAN

Dalam daur hidupnya Entamoeba histolytica mempunyai tiga stadium, yaitu : (1) bentuk

histolitika, (2) bentuk minuta, (3) bentuk kista.

Bentuk histolitika dan bentuk minuta adalah bentuk trofozoit. Perbedaan antara kedua bentuk

trofozoit tersebut adalah bahwa bentuk histolitika bersifat patogen dan mempunyai ukuran

yang lebih besar dari bentuk minuta. Bentuk histolitika berukuran 20-40 mikron (sel darah

merah 7 mikron), mempunyai inti entameba yang terdapat di endoplasma. Ektoplasma bening

homogen terdapat dibagian tepi sel, dapat dilihat dengan nyata. Pseudopodium yang dibentuk

dari ektoplasma, besar dan lebar seperti daun, dibentuk dengan mendadak, pergerakannya

cepat. Endoplasma berbutir halus, biasanya tidak mengandung bakteri atau sisa makanan,

tetapi mengandung sel darah merah. Bentuk histolitika ini patogen dan dapat hidup di

jaringan usus besar, hati, paru, otak, kulit dan vagina. Bentuk ini berkembang biak secara

belah pasang di jaringan dan dapat merusak jaringan tersebut, sesuai dengan nama spesiesnya

Entamoba histolytica (histo=jaringan, lisis=hancur).

Bentuk minuta adalah bentuk pokok (esensial); tanpa bentuk minuta daur hidup tidak dapat

berlangsung, besarnya 10-20 mikron. Inti ameba ini terdapat di endoplasma yang berbutir-

butir. Endoplasma tidak mengandung sel darah merah, tetapi mengandung bakteri dan sisa

makanan. Ektoplasma tidak nyata, hanya tampak bila membentuk pseudopodium.

Pseudopodium dibentuk perlahan-lahan sehingga pergerakannya lambat.

Bentuk kista dibentuk di rongga usus besar, besarnya 10-20 mikron, berbentuk bulat atau

lonjong, mempunyai dinding kista dan ada inti entameba. Dalam tinja bentuk ini biasanya

berinti 1 atau 4, kadang-kadang terdapat yang berinti 2. Di endoplasma terdapat benda

3
kromatid yang besar, menyerupai lisong dan terdapat juga vakuol glikogen. Benda kromatid

dan vakuol glikogen dianggap sebagai makanan cadangan, karena itu terdapat pada kista

muda.

Pada kista matang, benda kromatid dan vakuol glikogen biasanya tidak ada lagi. Bentuk kista

ini tidak patogen, tetapi dapat merupakan bentuk infektif.

Jadi Entamoeba histolytica tidak selalu menyebabkan penyakit. Bila tidak menyebabkan

penyakit, ameba ini hidup sebagai bentuk minuta yang bersifat komensal di rongga usus

besar, berkembang biak secara belah pasang. Kemudian bentuk minuta dapat membentuk

dinding dan berubah menjadi bentuk kista. Kista dikeluarkan bersama tinja.

Dengan adanya dinding kista, bentuk kista dapat bertahan terhadap pengaruh buruk di luar

badan manusia.

4
Bila kista matang tertelan, kista tersebut sampai di lambung masih dalam keadaan utuh

karena dinding kista tahan terhadap asam lambung. Di rongga usus halus, dinding kista

dicernakan, terjadi ekskistasi dan keluarlah bentuk-bentuk minuta yang masuk ke rongga usus

besar.

Bentuk minuta dapat berubah menjadi bentuk histolitika dan hidup di mukosa usus besar dan

dapat menimbulkan gejala. Dengan aliran darah, bentuk histolitika dapat tersebar di jaringan

hati, paru dan otak. Infeksi terjadi dengan menelan kista matang.(1)

Berdasarkan hasil diskusi kelompok kami, dapat diketahui permasalahan yang didapatkan

pada pasien ini, antara lain:

1. Buang air encer pada anak laki-laki berumur 10 tahun.

2. Buang air encer sejak semalam.

3. Buang air encer yang bercampur dengan sedikit darah dan lendir sebanyak 7 kali.

4. Sakit perut setiap akan buang air besar.

5. Perut bagian bawah terasa sakit yang hilang timbul.

Diare yang ditimbulkan pasien ini dapat disebabkan oleh makanan yang terkontaminasi.

Seperti kita tahu biasanya anak-anak sering sekali jajan sembarangan di sekitar sekolahnya

yang biasanya para pedagang makanan disana banyak yang menjual makanan yang tidak

tertutup, terbuka begitu saja, otomatis terkena debu dan kotoran.

Air yang tercemar, biasanya dalam air untuk bahan memasak diambil dari air yang kotor dan

dimasak belum sampai mendidih. Serta terjadinya malabsorbsi, walaupun terkadang masih

dapat ditanggulangi oleh tubuh dengan adanya bakteri fisiologis, tetapi apabila orang tersebut

mengkonsumsi obat-obatan seperti antibiotik itu akan mengakibatkan bakteri tersebut mati

dan terjadilah malabsorbsi. Diare ini juga bisa disebabkan oleh bakteri, parasit maupun virus.

5
Adapun patofisiologi dari buang air encer ini diantaranya:

1. Diare osmotik

Terjadi akibat asupan dari bahan makanan yang tidak dapat diabsorpsi dengan baik,

tetapi bahan tersebut larut dalam air sehingga akan menyebabkan retensi air dalam

lumen usus. penyebab terbanyak adalah intoleransi laktosa dan penyerapan antasida

yang mengandung magnesium.

2. Diare sekretorik

Terjadi akibat peningkatan sekresi ion-ion dalam lumen usus sehingga terjadi

peningkatan jumlah cairan intralumen. obat-obatan, hormon, dan toksin dapat

menyebabkan aktivitas diare sekretorik ini.

3. Diare Inflamasi atau eksudat

Diare ini terjadi akibat perubahan mukosa usus sehingga proses absorpsi terganggu

dan menyebabkan peningkatan protein dan zat lain dalam lumen usus disertai retensi

cairan. Adanya darah atau leukosit dalam tinja biasanya mengindikasikan proses

inflamasi.

4. Peningkatan motilitas usus

Peningkatan motilitas usus dapat menyebabkan penurunan waktu kontak antara

makanan yang akan dicerna dengan mukosa usus sehingga terjadi penurunan

reabsorpsi dan peningkatan cairan dalam tinja.(2)

Diagnosis Banding

1. Disentri

Disentri adalah radang/ infeksi usus yang menimbulkan gejala diare dengan tinja lendir bercampur

darah dan kram perut. Disentri paling sering disebabkan oleh bakteri Shigella. Transmisinya yakni

fecal-oral, melalui : makanan/air yang terkontaminasi, person-to-person contact.

6
Gejalanya adalah kram perut, nyeri saat buang air besar (BAB), BAB disertai lendir, tinja yang

berdarah, panas dan muntah. Disentri dibagi menjadi dua jenis yakni:

a. Disentri amoeba (amebiasis), penyebabnya adalah protozoa Entamoeba histolytica. Karena

rusaknya dinding usus besar sehingga mengakibatkan ulserasi (luka pada lapisan mukosa yang

membentuk lubang). Ameba ini bisa berada di usus besar dalam waktu yang lama.

Patofisiologinya : Bentuk histolitika (trofozoit) menginvasi sel epitel mukosa usus,

enzim histolisin kemudian terbentuk. Lalu terjadi nekrosis jaringan usus yang

kemudian berlanjut invasi ke jaringan submukosa. Terjadilah ulkus ameba. Ulkus

kemudian melebar menyebabkan kerusakan permukaan absorpsi sehingga terjadi

malabsorpsi. Malabsorbsi menyebabkan peningkatan massa intraluminal dan

tekanan osmotik intraluminal lalu terjadilah diare osmotik.

b. Disentri basiler, penyebabnya adalah bakteri Shigella, Escherichia coli enterinvasif (EIEC) dan

Salmonella.

Patofisiologinya : Terjadi proses kolonisasi di ileum terminalis/kolon, terutama

kolondistal. Selanjutnya terjadi invasi ke sel epitel mukosa usus dan multiplikasi

yang dapat terjadi penyebaran intrasel dan intersel. Enterotoksin lalu diproduksi.

Kemudian terjadilah hipersekresi usus dan eksotoksin diproduksi. Infiltrasi radang

lalu menyebabkan nekrosis sel epitel mukosa dan terjadilah ulkus-ulkus kecil.

Eritrosit dan plasma kemudian keluar ke lumen usus, hal ini yang menyebabkan

tinja bercampur dengan darah.

7
2. Diare akut

Diare akut merupakan diare yang berlangsusng kurang dari 15 hari. Menurut World

Gastroenterology Organisation global guidelines 2005, diare akut didefinisikan

sebagai pasase tinja yang cair/lembek dengan jumlah lebih banyak dari normal,

berlangsung kurang dari 14 hari. Diare akut bisa disebabkan oleh bakteri, virus,

parasit, cacing, atau jamur.

Patofisiologinya : penyebab diare (bakteri, virus, parasit, cacing, atau jamur), dapat

menyebabkan satu atau lebih patofisiologi seperti, osmolaritas intraluminal meninggi,

sekresi cairan dan elektrolik meninggi, malabsorbsi asam empedu, malabsorpsi lemak,

defek sistem pertukaran anion/transport elektrolit aktif di dinding enterosit, motilitas

dan waktu transit usus abnormal, gangguan permeabilitas usus, inflasi dinding usus,

atau dengan menginfeksi dinding usus.

Diare akut juga tergantung kepada sistem imun pada host dan kemampuan agent

untuk memproduksi toksin yang mempengaruhi sekresi cairan usus halus serta daya

lekat kuman. Bakteri penyebab diare menginfeksi host dengan dua cara, yaitu dengan

cara mengeluarkan toksin yang terikat pada mukosa usus halus sehingga

menyebabkan sekresi aktif anion klorida ke dalam lumen usus yang diikuti oleh air,

ion bikarbonat, kation natrium dan kalium. Atau dengan cara merusak dinding usus

dan menyebabkan nekrosis dan ulserasi.(2)

Kita butuh bertanya kembali kepada ibu pasien untuk beberapa informasi tambahan yang

dibutuhkan untuk menegakkan diagnosis. Informasi yang kurang dan butuh kita tanyakan

kepada sang ibu adalah apakah buang-buang air encer sang anak diselingi demam, makanan

dan minuman apa saja yang telah dikonsumsi dalam beberapa hari kebelakang, dimana

mereka tinggal apakah di daerah endemis suatu penyakit, apakah sang anak memiliki suatu

sebagainya pada beberapa waktu ini.

8
Untuk menegakkan diagnosis yang tepat kita juga perlu melakukan beberapa pemeriksaan

penunjang diantaranya tes darah yang meliputi darah perifer lengkap, ureum, kreatinin,

elektrolit serum, analisa gas darah apabila didapatkan tanda-tanda gangguan keseimbangan

asam basa (pernafasan Kusmaull), serta immunoassay yang meliputi toksin bakteri (C.

difficile), antigen virus (rotavirus), dan antigen protozoa (Giardia, E.histolytica). Kita juga

perlu melakukan pemeriksaan feses lengkap meliputi pengamatan mikroskopis terhadap

peningkatan jumlah leukosit di feses pada inflamatory diarrhea, parasit seperti amuba bentuk

trofozoit dan hifa pada jamur. Pemeriksaan tinja makroskopis meliputi bau, warna, serta ada

tidaknya darah dan lendir.(2)

Dalam pemeriksaan fisik pasien, didapati bahwa turgor kulit normal yang menandakan pasien

belum menglami dehidrasi. Kemudian terdapat nyeri tekan perut bawah yang menandakan

pula adanya peradangan intra-abdominal. Selain itu bising usus meningkat, keadaan ini

karena adanya hiperperistaltik yang biasanya terjadi pada diare dan gastroentritis.(3)

Sedangkan pada pemeriksaan darah pasien didapatkan Hb 14 g% (normal) berarti dalam

kasus ini belum terjadi anemia hipokrom. Sedangkan leukosit sebanyak 6.500 sel/mm3

menandakan tidak adanya infeksi karena virus dan bakteri. Serta LED dan hitung jenis yang

normal.

Ditemukan lendir dan darah di feses, yang menandakan adanya kerusakan jaringan mukosa

usus oleh penyebab penyakit. Nyeri tekan dikarenakan kerusakan jaringan menjadi luka

(ulkus). Penyebab penyakit yang ditemukan dari pemeriksaan feces adalah rhizopoda

Entamoeba histolytica.

Berdasarkan pemeriksaan fisik, darah serta pemeriksaan penunjang yang dilakukan,

kelompok kami mendiagnosis bahwa pasien ini menderita amebiasis kolon akut, dimana telah

dijabarkan bahwa pasien mempunyai gejala yang khas yaitu sindrom disentri yang

9
merupakan kumpulan gejala terdiri atas diare dengan tinja berdarah dan berlendir, serta

tenesmus anus yaitu nyeri pada anus waktu buang air besar. Terdapat juga rasa sakit di perut

yang sering hilang timbul. Serta pada pemeriksaan tinja secara mikroskopis ditemukannya

bentuk histolitika dari rhizopoda Entamoeba histolytica.

Penatalaksanaan :

- Apabila pasien mengalami dehidrasi, sebaiknya dirawat inap di rumah sakit atau

puskesmas untuk diberikan infus.

- Diberikan oralit untuk meminimalisir kehilangan cairan akibat diare yang dialami

pasien.

- Pemberian obat pilihan seperti metronidazol, karena efektif terhadap bentuk

histolitika dan bentuk kista. Untuk amebiasis usus dosis dewasa yang diberikan adalah

3 x 750 mg per hari selama 5-10 hari, sedangkan penderita anak diberikan

metronidazol dengan dosis 50 mg per kilogram berat badan per hari yang diberikan

selama 10 hari.

- Apabila penderita amebiasis juga mengalami infeksi sekunder, maka antibiotik

tambahan dapat diberikan.

10
Pencegahan :

Pencegahan penyakit amebiasis terutama ditujukan kepada kebersihan perorangan (personal

hygiene) dan kebersihan lingkungan (environmental sanitation). Kebersihan perorangan

antara lain adalah mencuci tangan dengan bersih sesudah buang air besar dan sebelum

makan. Kebersihan meliputi memasak air sampai mendidih sebelum diminum, mencuci

sayuran dengan bersih, atau memasaknya sebelum dimakan, diupayakan agar sistem

pembuangan tinja dan limbah rumah tidak mencemari sumber air minum atau sumur, tidak

menggunakan tinja manusia sebagai pupuk, menutup dengan bak makanan yang dihidangkan

untuk menghindari kontaminasi dengan lalat atau lipas, membuang sampah di tempat sampah

yang ditutup untuk menghindari lalat, pada waktu bekerja menangani hewan coba (terutama

primata) di laboratorium hendaknya selalu berhati-hati agar tidak tertular bahan infeksi yang

berasal dari hewan coba.(1)(4) Selain itu, pencegahan yang perlu dilakukan pada saat anak

terkena disentri yaitu, memberikan makanan yang cukup energi, protein, vitamin, dan

mineral. Lalu berikan makanan yang mengandung lactobacillus misalnya yogurt untuk

memperbaiki sistem pencernaan. Dan berikan juga makanan yang mudah ditelan, dicerna,

serta diserap oleh sistem pencernaan dengan porsi kecil tapi sering kemudian secara bertahap

kembali pada pola makan biasa.(5)

Karier amubeasis harus dapat ditemukan agar dapat sumber penularan ini dapat diobati

sampai sembuh, sehingga tidak menjadi sumber infeksi amebiasis bagi masyarakat di

sekitarnya.(4)

11
KESIMPULAN

Amebiasis merupakan penyakit radang/infeksi pada usus yang disebabkan oleh

protozoa Entamoeba histolytica. Protozoa ini bersifat invasif sehingga merusak mukosa usus

dan menyebabkan gejala khas disentri seperti diare dengan tinja berdarah dan berlendir, serta

tenesmus anus yaitu nyeri pada anus waktu buang air besar. Diagnosis dapat ditegakkan

dengan adanya gejala dan ditemukannya Entamoeba histolytica dalam tinja. Penatalaksanaan

amebiasis dilakukan dengan penggantian cairan yang hilang akibat diare baik dengan

pemberian cairan oralit maupun infus pada keadaan dehidrasi berat. Metronidazole dapat

diberikan untuk membunuh Entamoeba histolytica. Pencegahan dilakukan dengan hal-hal

mendasar seperti menjaga kebersihan diri (personal hygiene), kebersihan lingkungan, dan

kebersihan makanan yang akan dikonsumsi.

12
DAFTAR PUSTAKA

1. Gandahusada S, Ilahude DHH, Pribadi W; Parasitologi Kedokteran;Jakarta;balai

penrbit fk ui;1998.p.113-20

2. Simadibrata M, Daldiyono. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: InteraPublising;

2009.p.549-51

3. Natadidjaja H. Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik Penyakit Dalam. Jakarta: Binarupa

Aksara; 2012.p.65-175.

4. Sodarto. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran. Jakarta: Sagung Seto;2001. p.17-29.

5. Disentri. Available at: http://disentri.org/.

13