Anda di halaman 1dari 13

MEMBANGUN GENERASI YANG BERKEADABAN

Julherman, S. Pd. I

Muballigh/Dai Idarah Kemakmuran Masjid Indonesia (IKMI) Kota Pekanbaru


Wakil Sekretaris I Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PII) Periode 2017-2020

Beberapa dekade terakhir ini berkecamuk beragam stigma yang dimunculkan oleh
beberapa aktivis kebudayaan yang anti terhadap Islam dianggap sebagai penghalang
aktivitas-aktivitas kebudayaan yang ada dibeberapa belahan nusantara ini, hal tersebut
dapat kita lihat bahwa semakin semaraknya indikasi isu ras,suku, dan agama menjadi hal
yang sangat sensitif untuk di bicarakan ketika konflik sedang terjadi dinegeri ini, beberapa
kasus benturan antara budaya dengan islam adalah kasus poso, ambon, pelarangan simbol
agama dibeberapa daerah hingga hukuman cambuk di aceh dan masih banyak contoh kasus
lain yang masih belum terkuat yang mendapat kecaman dari berbagai kalangan tertentu di
suatu daerah, suku, bangsa dan agama nasional dan internasional. Belum reda isu tersebut
muncul kemudian yang membuat hati dan pikiran kita semua terganggu dan risih dengan
keadaan dimana para pemangku kebijakan sedang mati-matian menghalau beragam
ancaman yang muncul untuk menghancurkan bangsa ini, kemudian jantung kita digegerkan
dengan kasus anak Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah menengah Pertama (SMP) Di Kendari
Sulawesi Tenggara dengan menikmati pesta narkoba jenis pil PCC yang menimbulkan korban
jiwa, ini adalah sekelumit contoh riil yang terjadi bangsa kita masih banyak lagi kasus yang
bahkan belum terungkap di media. Hal ini tentu menjadi pertanyaan tersendiri bagi kaum
awam yang memang mengenal islam melalui budaya dan kebiasaan yang terjadi ditengah
masyarakat acuh dengan kondisi yang semakin parah ini diperparah lagi dengan semakin
banyaknya kaum awam dibuat bingung dengan beragam statement bahwa berbicara budaya
jangan bawa-bawa agama, tidak bisa kita pungkiri bahwa sila pertama dalam pancasila
merupakan aspek keagaamaan bathiniyah dan karakteristik bangsa ini akan dihilangkan
kemana. Inilah yang terkadang menjadi pemicu kerasnya gelombang kontroversial di tengah
masyarakat indonesia yang mayoritas muslim namun phobia dengan keislamannya sendiri
pemandangan dan kondisi demikian seolah dianggap hal yang biasa.

Kerap kali kita mendengar bahkan menyaksikan dengan mata yang sangat terbuka
tentang fenomena generasi muda yang saat ini sering terjadi yaitu tentang bobroknya
kondisi generasi hari ini komplit dengan segala problematika yang dihadapinya. Apa yang
bisa kita harapkan dengan generasi muda dan pelajar yang merupakan seorang anak yang
sedang dan akan melaksanakan proses penggalian jati diri disebuah institusi dalam sebuah
lembaga pendidikan yang disebut sebagai sekolah. Sebagai seorang yang dididik oleh sekolah
semestinya harus sadar bahwa mereka adalah orang yang terpelajar. Namun interpretasi
kata terpelajar saat ini makin bias ditelinga para pelajar sendiri, yang menjadi ironi sekali
apabila para pelajar tersebut bertingkah diluar kodratnya sebagai seorang pelajar. Pelajar
saat ini mungkin bisa dikatakan Pelajar Modern. Pelajar modern dapat diartikan pelajar
yang lekat akan digitalisasi sehingga jika tidak dekat dengan android, smartphone, gadget
bukan merupakan pelajar itu sendiri, norak, katrok, jadul dan ketinggalan zaman. Ketika
disekolah mereka tidak mengorientasikan pada proses pendidikan, namun pelajar modern
ini lebih mengutamakan orientasi lain dan menyampingkan tujuan utamanya yaitu belajar.
Pelajar ini akan lebih bangga apa bila tubuhnya lekat akan materalisme. Dengan
menggunakan barang yang bermerekbranded ia akan lebih percaya diri dan bahkan
menjadi sebuah budaya serta bengga dengan identitasnya serta status sosialnya. Kondisi
inilah yang merefleksikan keadaan yang merupakan reifikasi dan fetisisme di kalangan
pelajar.

Ketika ingin membangun sebuah peradadan yang kokoh tidak serta merta terjadi dengan
sendirinya tanpa ada persiapan yang diusahakan oleh sekelompok masyarakat yang memang
serius ingin membenahi keadaan generasinya, mengapa penulis berkata demikian hal ini
dikarenakan banyak pihak yang sengaja ingin memusnahkan generasi bangsa yang besar ini
dengan mencekokinya dengan beragam racun dunia yang akhir-akhir ini marak terjadi di
kalangan generasi muda mulai dari obat-obatan hingga gaya seks bebas yang seolah menjadi
trand pada abad 20 ini, akibatnya muncul beragam penyakit pelajar yang bermental singa
yang dibesarkan oleh sekawanan kambing, besar dan gagah kelihatannya seolah menjadi
bangsa yang besar dan hebat namun mentalnya seperti mental singa ditengah kawanan
kambing. Inilah yang harus senantiasa diantisipasi jika tidak maka indonesia bisa dipastikan
akan mengalami lost generation (Putus/kehilangan Generasi dimasa depan) yang akan
dengan mudah menghilangkan jati diri bangsa ini. Sebelum kita lebih jauh membahas
bagaimana membangun generasi yang berkeadaban terlebih dahulu kita bahas tentang
problematika yang menjangkiti para generasi muda kita di era kosmopolitan yang tidak
teratur ini, yaitu

1. Generasi Yang Mudah Stress Dan Frustasi

Mungkin kalimat tersebut sangat cocok dengan kondisi pelajar saat ini.
Dengan ketergantungan di era industrialisasi ini secara otomatis sangat
mempengaruhi perilaku para pelajar. Kondisi ini berimplikasi pada krisisnya
kepercayaan diri dan krisis kesadaran di kalangan para pelajar. Orientasi mereka
sudah tidak lagi mengutamakan akal dan fikiran namun Fisik menjadi orientasi
utama. Produktivitas dapat dilakukan hanya orang-orang yang memiliki kecukupan
materi maupun fisiologi. Akhirnya sifat Arogansi pun juga sangat melekat di dirinya.
Apabila kebutuhan materialis mereka tidak terpenuhi, perilaku mereka mulai
berubah, mungkin saja kejiwaan mereka juga sudah mulai terdegradasi. Akhirnya
mereka berbuat di luar kendali mereka. Usia Pelajar sebetulnya merupakan usia
emas dimana pelajar harus memanfaatkan usianya untuk belajar dan berkarya.
Dimana kekuatan tubuh masih maksimal untuk berbuat apa saja. Dimana masa-masa
usia pelajar ini menentukan siapa dan bagaimana seseorang itu ke depan. Masa
depan sekarang mungkin akan di persulit oleh budaya modern yang saat ini terus
mendoktrin para pelajar. Namun, saya tetap yakin bahwa masih ada para pelajar
menumbuh kembangkan rasa percaya diri mereka untuk bertahan (survive), berjuang
demi masa depanya. 1

2. Generasi Serba Instan

Tidak bisa dinafikan bahwa perkembangan tekhnologi pada zaman digital saat
ini akan berimplikasi pada pola hidup yang teramat sangat bergantung pada media
serta layanan yang serba instan sehingga menjadikan bahkan membentuk pola
berfikir yang serba instan pula. Masih minimnya pola hidup yang logis mengakibatkan
1
https://www.kompasiana.com/firdausazwarersyad/problematika-pelajar modern
terhambatnya pola berfikir yang dinamis berujung kapada komsumtif terhadap
segala informasi yang diperolehnya. Contoh sederhana yang dapat kita saksikan
adalah masih banyaknya para siswa yang menggunakan sistem belajar instan tanpa
melalui sebuah proses yang membentuk serta melatih kegigihan mereka dalam
mendaatkan sesuatu, terlihat dimana mereka ingin cepat pintar namun hasil yang
didapat justru malah sebaliknya menjadikan mereka tidak pintar. Pola berpikir instan
kini dirayakan dan seolah-olah dihalalkan di segala penjuru penghidupan hasilnya
adalah manusia-manusia berkapasitas picisan yang atribut-atributnya diraih melalui
proses lintas terabas tanpa batas. Sebagai serpihan dari budaya inderawi pasif, pola
pikir instan itu pula yang menjadi benih-benih mentalitas korup. Orientasinya apalagi
jika tidak lain dan tidak bukan adalah kekuasaan karena dengan itu dia mampu untuk
memenuhi segala ketamakan dan pembucitan perut sendiri? Keinginan yang serba
cepat tidak diimbangi dengan mentalitas dan sportivitas yang tinggi akan menjadi
rantai kerakusan yang tiada henti yang diamini oleh para pemilik kekuasaan sendiri,
yang menjadi sarana utama keserakahan individual. Jika individu-individu yang
serakah, tamak dan rakus ini dijumlahkan maka akan menjadi keserakahan kelompok
pula. Stephen R. Covey dalam bukunya 7 Habits of Highly Effective people
menyatakan bahwa metode belajar instan yang dianut pelajar hari ini maupun
golongan tertentu sudah melanggar hukum alam.2 Generasi instan tentulah sangat
berbahaya bagi keberlangsungan kompetisi global dan bahkan untuk masa depan
bangsa indonesia sendiri dan tentu harus ada upaya serius bersama untuk
menanggulanginya. Tidak mudah memang untuk mengubah pola pikir yang sudah
mengakar dan bahkan membudaya yang terjadi di tengah masyarakat, tidak akan
memperoleh usaha dan hasil yang besar jika tidak diawali dengan usaha-usaha kecil
minimal untuk memberikan pandangan tentang dampak buruknya bagi masyarakat,
bangsa, dan negara.

3. Generasi Huru-Hura

Dalam kamus besar bahasa indonesia (KBBI) kata huru-hara diartikan dengan
keributan, kerusuhan, kekacauan, Keonaran.3 Sesuatu yang dikhawatirkan dan selalu
menjadi hantu tersendiri bagi ummat islam akan munculnya suatu keadaan yang
telah mencapai puncak kejahatan dan kejahilan yang hadir ditenggarai dari kerusakan
moral serta akhlak generasi muda dimana tidak adanya keinginan untuk
memperbaiki kaumnya bahkan jauh dari kata keselamatan, terkadang khawatir untuk
keluar rumah. Beberapa tahun lalu masih hangat diingatan adanya sekelompok gang
motor yang melakukan kriminalitas di kota pekanbaru dengan cara menganiaya
masyarakat umum menebar kecaman, ketakutan dan kekhawatiran akibat ulah yang
mereka lakukan, geng motor yang terdiri dari anak sekolah yang masih duduk di
bangsu SMP dan SMA tersebut dengan berutal menghabisi nyawa dan tidak segan
menjarah dan memperkosa bahkan masih banyak tindakan kriminal lain yang mereka
lakukan. Inilah keadaan dimana saat ini kita berada. Pada masa ini mengalami masa-
masa yang paling gelap dalam sejarah karena tidak punya kemampuan apa-apa.
Inilah potret problematika generasi sekarang, disaat para muballigh, ustadz, dai
2
Stephen R. Covey, 2015, The 7 Habits of Highly Effective People (Kebiasaan Manusia Yang Sangat
Efektif) :25 years, Binarupa Aksara, Hlm. 84
3
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008, Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta : Pusat
Bahasa. Hlm.
menyuarakan ummat untuk bangkit disisi lain para generasi mudanya sedang mabuk
dengan gemerlapnya dunia ini dan tak jarang bermain-main menantang dengan jelas
bentuk perlawanannya seolah ini menjadikan mereka gagah, pamer dengan jiwa
mudanya.

Sebelum penulis menguraikan solusi dan membangun generasi yang berkeadaban


maka sejenak penulis ingin mengajak ingatan kita semua tentang sejarah peradan islam
dimana Islam hadir dan sekaligus dihadapkan dengan perkembangan peradaban jahiliyah
yang semakin pesat bahkan menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari komunikasi dunia
pada waktu itu. Selanjutnya lahirnya Nabi Muhammad SAW yang membawa islam itu hingga
mampu merubah paradigma berfikir masyarakat jahiliyah pada waktu itu hingga mampu
menyebar hampir ke seluruh penjuru jagad raya. Kemudian setalah berakhirnya masa
kenabian Rasulullah SAW dan dilanjutkan oleh para sahabat yang disebut dengan masa
khulafaur rasyidin serta daulah-daulah islam yang muncul sesudahnya. Dan telah berhasil
membangun peradaban dan kedaulatan islam melalui jalur sosial,ekonomi, politik yang
mampu menandingi hegemoni dua kekuatan raksasa waktu itu yaitu Bizantium dan Persia. 4

Melalui pranalar dan penalaran dengan peristiwa sejarah awal muasal islam hadir
dimuka bumi ini memang telah dihadapkan pada kerasnya gelombang kecaman dan
penolakan akan eksistensinya, akan tetapi sejarah telah menorehkan tinta emasnya bahwa
tidak salah jika penulis mengemukakan tidak akan mungkin bisa terjadi peradaban dan
kebudayaan yang begitu macam dan ragamnya sehingga sehebat sekarang ini jika islam tidak
menorehkan bahkan mengenalkan peradaban hingga menghasilakan kebudayaan ditempat
yang spesial di kalangan masyarakat secara sempit maupun secara luas yang tidak
memandang suku, ras, bangsa disatukan dengan ketautan hati yang senantiasa tunduk
bahkan menginginkan kebaikan hidup setiap individu maupun kelompok manusia. Seorang
pemikir orientalis barat Gustave Lebon dalam bukunya yang telah diterjemahkan oleh
Samsul Munir Amin, mengatakan bahwa (orang Arablah) yang menyebabkan kita
mempunyai peradaban,kebudayaan karena mereka adalah imam kita selama enam abad
lamanya. 5

Berbicara peradaban Islam tentu akan dimaklumkan bersama bahwa peradaban itu
merupakan bagian-bagian dari kebudayaan Islam yang meliputi berbagai aspek seperti
moral, kesenian, dan ilmu pengetahuan, serta meliputi juga kebudayaan yang memilliki
sistem teknologi, seni bangunan, seni rupa, sistem kenegaraan, dan ilmu pengetahuan yang
luas. 6 Dengan kata lain peradaban yang ingin dibangun oleh islam itu merupakan bagian dari
kebudayaan yang bertujuan untuk memudahkan dan mensejahterajan hidup manusia di
dunia dan diakhirat. Sejalan dengan pemikiran tersebut islam selalu menegakkan
peradabannya tidak hanya dengan memandang satu sisi kehidupan dengan pencapaian
kebudayaan yang stagnan akan tetapi lebih dari itu islam senantiasa mengajak manusia
kepada kemakmuran yang dapat memajukan peradabannya, akan tetapi juga
memperhatikan prinsip pencapaian kebahagiaan kehidupan akhirat, dengan memberikan
ajaran dengan cara berkehidupan yang bermoral dan santun dalam memandang
keberagaman dunia. Kebudayaan akan melahirkan sebuah kebudayaan dimana hal itu
4
Abdul Karim,Muhammad, 2009, Sejarah Pemikiran Dan Peradaban Islam, cet. 2 (Yogyakarta : Pustaka
Book Publisher,, Hlm. 8.
5
Samsul Munir Amin, 2009, Sejarah Peradaban Islam, Edisi 1, Cet.1. Jakarta:Amzah. Hlm. 32
6
Sayyed Hosein Nasr,2003, Islam :Agama,Sejarah dan Peradaban. Surabaya:Risalah gusti. Hlm. Xvii
merupakan aktivitas terstruktur untuk menjadikan tatanan hidup masyarakat, kebudayaan
tidak bisa disamakan dengan dan kedalam bentuk ruang dan waktu akan tetapi yang
namanya perubahan zaman akan senantiasa terjadi setiap masanya. Kebudayaan akan hidup
dan terjaga apabila ada peradaban didalamnya bukankah kebudayaan itu adalah hasil budi
manusia, dimana manusia berfikir, kemudian timbullah bermacam-macam kebiasaan dari
kebiasaan itu muncul beragam ilmu, menusia pandai merasakan maka dari cita rasa itu
menimbulkan adat-istiadat dikalangan masyarakat. 7

Peradaban terambil dari dasar kata Addaba-Yuaddibu-Tadiban yang memiliki arti


tingkah laku, perangai, pola diri, disiplin, prinsip. 8 Dengan arti yang lebih luas peradaban
adalah sebuah hasil usaha manusia yang memiliki cita rasa yang tinggi dengan disiplin diri
yang baik sehingga melahirkan fisik, fikiran dan jiwa yang membuat seseorang, sekelompok
manusia itu mampu untuk mengenali dan mengakui tempat yang tepat secara hirarkis dan
sistematis. Dalam memahami peradaban dan kebudayaan islam amat penting untuk
mengingat bahwa islam tidak antipati bahkan secara totalitas menolak kedatangan
kebudayaan yang merupakan firah sebuah makhluk hidup yang memiliki keragaman seni dan
ilmu pengetahuan, tetapi juga keragaman interpretasi teologis dan filosofis pada doktrin-
doktrin Islam, bahkan pada bidang hukum Islam. Tidak ada kesalahan yang serius dari pada
pendapat yang menegaskan bahwa Islam adalah realitas yang seragam, dan peradaban Islam
tidak mengapresiasi ciptaan atau eksistensi beragam.

Meskipun kesan adanya keseragaman seringkali mendominasi segala hal yang


berkiatan dengan islam, ditinjau dari sisi keseragaman dalam bidang intrepretasi keagamaan
itu pastilah akan selalu ada tidak hanya ada dalam agama islam saja dalam agama lain juga
pasti memiliki itu jangan kemudian kita ikut-ikutan mendeskriditkan islam seolah islam
sebagai biang dalam segala keburukan yang muncul dalam kehidupan ini, sebagaimana juga
terdapat aspek beragam pada pemikiran dan kultur Islam. Banyak tentunya perjuangan yang
dilakukan islam dari sekian lamanya melakukan penyebaran kebaikan ajarannya, sehingga
mampu memimpin dunia ini hingga lebih dari 14 abad lamanya. Tentulah perjuangan yang
ditorehkan menyimpan banyak hasil yang dapat dirasakan oleh dunia saat ini walaupun
sudah tidak ada lagi kekuasaan islam yang tercabik-cabik oleh sekat-sekat kekuasaan politik
yang dengan mudahnya digoyahkan oleh adidaya yang tidak menginginkan islam itu kembali
bangkit dan bahkan cenderung mengekangnya agar dunia ini didominasi oleh pemikiran
yang merusak bahkan meracuni setiap orang untuk tidak mengerti terhadap hakikat hidup
dan penciptaan manusia itu sendiri.

Berbeda halnya ketika Islam dalam melakukan ekspansi pemikirannya, tidak hanya
mengambil keuntungan materi dari daerah yang dapat dikuasai, melainkan ikut turut serta
dalam membangun dan memajukan peradaban yang ada dan tetap toleran terhadap budaya
lokal yang ada. Hingga peradaban islam itu gemilang mampu menjadi pijakan ilmu
pengetahuan serta memberikan kontribusi yang nyata bahkan bisa dikatakan terlampau
sangat besar diberbagai bidang terutama atas kemajuan bangsa barat yang tidak lain dan
tidak bukan adalah hasil dari pemikir-pemikir islam untuk melesatariakn dunia ini menjadi
sebuah tatanan manusia yang senantiasa menjunjung tinggi naluri keingintahuan manusia
7
Husin Tasrik Makruf Nasution, 2017, Pola Kebijakan Umum Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia
(PII) Periode 2017-2020, Disampaikan pada Rapat Kerja dan Training Center di Villa DPR-RI Puncak cisarua
bogor-Jawa Barat.
8
Dr. Rohi Baalbaki,1995, Al-Mawrid, Beirut: Dar El-Ilm Lilmalayin. Hlm. 64
melalui akal dan hati yang menjadi pasangan komplit yang tidak bisa dipisahkan dalam diri
manusia seutuhnya sehinga terbentuk dan tertatalah tamadun yang hebat sehingga
manfaatnya dapat dirasakan hingga detik ini, tidak ingatkah engkau wahai bangsa barat
dengan kontribusi islam atau sengaja dengan ketamakannya ingin senantiasa menggenggam
peradaban dunia ini selamanya. Mari kita lihat kontribusi besar islam dalam memajukan
peradaban barat yang sekarang menjadi kiblat kebudayaan katanya antara lain :

1. Sepanjang abad ke-12 dan sebagian abad ke-13, karya-karya kaum Muslim dalam
bidang filsafat, sains, dan sebagainya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin,
khususnya dari Spanyol. Penerjemahan ini sungguh telah memperkaya kurikulum
pendidikan dunia Barat.
2. Kaum muslimin telah memberi sumbangan eksperimental mengenai metode dan
teori sains ke dunia Barat.
3. Sistem notasi dan desimal Arab dalam waktu yang sama telah dikenalkan ke dunia
barat.
4. Karya-karya dalam bentuk terjemahan, kususnya karya Ibnu Sina (Avicenna) dalam
bidang kedokteran, digunakan sebagai teks di lembaga pendidikan tinggi sampai
pertengahan abad ke-17 M.
5. Para ilmuwan muslim dengan berbagai karyanya telah merangsang kebangkitan
Eropa, memperkaya dengan kebudayaan Romawi kuno serta literatur klasik yang
pada gilirannya melahirkan Renaisance.
6. Lembaga-lembaga pendidikan Islam yang telah didirikan jauh sebelum Eropa bangkit
dalam bentuk ratusan madrasah adalah pendahulu universitas yang ada di Eropa.
7. Para ilmuwan muslim berhasil melestarikan pemikiran dan tradisi ilmiah Romawi-
Persi (Greco Helenistic) sewaktu Eropa dalam kegelapan.
8. Sarjana-sarjana Eropa belajar di berbagai lembaga pendidikan tinggi Islam dan
mentransfer ilmu pengetahuan ke dunia Barat.
9. Para ilmuwan Muslim telah menyumbangkan pengetahuan tentang rumah sakit,
sanitasi, dan makanan kepada Eropa. 9

Inilah sebagian kecil dari sumbangsih Islam atas peradaban dunia, yang selanjutnya jusru
dijadikan sebagai pusat peradaban dunia pada saat ini. Hal ini dikarenakan kekonsistensian
Barat dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologinya. Bahkan karya-karya
besar para ilmuwan Muslim tersebut hingga kini masih dapat kita teukan di perpustakaan-
perpustakaan internasional, khususnya di Amerika, yang secara profesional dan rapi telah
menyimpannya.10 sehingga para umat Muslim di masa kini, yang ingin mempelajari lebih
banyak tentang khasanah Islam tersebut, harus pergi ke negara Barat (non Islam) agar dapat
meminta kembali permata yang sementara ini telah mereka pinjam.

Generasi terdahulu mempu menjadikan sebuah tonggak sejarah yang gemilang kita
rasakan hasilnya detik ini, namun pernahkan kita berfikir apa yang akan kita lakukan untuk
generasi yang akan datang, yang menjadi pertanyaan besar adalah mampukah kita
menyiapkan generasi yang akan datang gemilang dengan melihat potensi-potensi yang kita
miliki disisa kekuatan terakhir kita ini. Semua kita pasti akan sepakat bahwa apapun yang
9
Nakosteen Mehdi, 2003, Kontribusi Islam Atas Dunia Intelektual Barata, Deskripsi Analisis Abad
Keemasan Islam, Terjemahan. Joko S. Kahhar dan Suprayanto Abdullah, Cet. 2. Surabaya: Risalah Gusti. Hlm. 85
10
Abdurrahman Masud, Islam dan Peradaban (Sebagai Pengantar), dalam Samsul Munir Amin, 2009,
Sejarah Peradaban Islam, Ed.1, cet.1. Jakarta: Amzah, 2009), Hlm. x
terjadi kita akan tetap berjuang dengan hasil yang tentunya terukur oleh usaha kita semua,
hal ini juga telah disebutkan Allah Swt dalam firman-Nya yang berbunyi :



Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang
mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.
Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka
mengucapkan perkataan yang benar. (QS. An-Nisa, Ayat : 9)

Firman Allah Subahanahu Wataala dalam Surat Lain:




Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri
memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah
kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al-
Hasyr: 18).

Dengan dua dalil diatas penulis menyimpulkan bahwa membangun generasi yang
berkeadaban adalah dengan hal sebagai berikut :

1) Menyiapkan Mental Generasi Pejuang

Pendidikan mental sejak dini amat sangat penting hal ini mengingat bahwa
semakin menipisnya rasa tanggung jawab yang terkadang dengan mudahnya
diabaikan. Mawardi Labay El-Shulthani mengemukakan dalam bukunya yang berjudul
Mental Yang Kuat Untuk Sukses Dan Selamat bahwa pembinaan mental yang baik
yaitu dengan menanamkan Iman dan Taqwa. 11 Senada dengan hal itu Prof. Dr. Hj.
Zakiah Darajat mengemukakan dalam bukunya yang berjudul Agama dan Kesehatan Mental
bahwa pembinaan mental yang baik yaitu dengan cara mengambil nilai-nilai yang ada pada
lingkungan terutama lingkungan keluarga sendiri yaitu nilai-nilai agama moral dan social. 12
Ketika mental generasi mudah susah kokoh maka ia akan memiliki prinsip yang akan
senantiasa menjaganya dari tindakan yang bertentangan dengan norma,etika dan akhlak
islam. Islam sebagai salah satu ad-dinn yang bertujuan untuk membehagiakan dan
meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sudah barang tentu dalam ajaran-ajarannya
memiliki konsep kesehatan mental. Begitu juga dengan kerasulan Nabi Muhammad SAW
adalah bertujuan untuk mendidik dan memperbaiki dan membersihkan serta mensucikan
jiwa dan akhlak.

Di dalam Al-Quran sebagai dasar dan sumber ajaran islam banyak ditemui
ayat-ayat yang berhubungan dengan ketenangan dan kebahagiaan jiwa sebagai hal
yang prinsipil dalam kesehatan mental. Bukti islam menjunjung tinggi mentalitas
adalah firman Allah Subhanahu wataala sebagai berikut:
11
Mawardi Labay El-Shulthani,2001, Mental Yang Kuat Untuk Sukses Dan Selamat , Jakarta: PT. Al
Mawardi Prima.Hlm. 5
12
Prof. Dr. Hj. Zakiah Darajat, 1990, Peranan Agama Dalam Kesehatan Mental, Jakarta: PT Gunung
Agung, Hlm. 90
Dengan kejelasan ayat Al-Quran dan hadits diatas dapat ditegaskan bahwa
kesehatan mental (shihiyat al nafs) dalam arti yang luas adalah tujuan dari risalah
Nabi Muhammad SAW diangkat jadi rasul Allah SWT, karena asas, cirri, karakteristik
dan sifat dari orang yang bermental itu terkandung dalam misi dan tujuan risalahnya.
Dan juga dalam hal ini al-Quran berfungsi sebagai petunjuk, obat, rahmat dan
mujizat (pengajaran) bagi kehidupan jiwa manusia dalam menuju kebahagian dan
peningkatan kualitasnya sebagai mana yang ditegaskan dalam ayat berikut:





Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika
Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang
membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan
mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum
(kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
(QS. Al-Imran:164)

Hadits Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam yang berbunyi:

.


Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang sempurna/akhlak
yang mulia. (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.273)

Dengan kejelasan ayat Al-Quran dan hadits diatas dapat ditegaskan bahwa
kesehatan mental (shihiyat al nafs) dalam arti yang luas adalah tujuan dari risalah
Nabi Muhammad SAW diangkat jadi rasul Allah SWT, karena asas, ciri, karakteristik
dan sifat dari orang yang bermental itu terkandung dalam misi dan tujuan risalahnya.
Jika sudah demikian maka akan lahirlah generasi yang senantiasa teguh dalam meniti
karir kehidupan yaitu dengan tetap berlandaskan tuntunan dan tatanan Agama Islam
yang mulia.





Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada
kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar;
merekalah orang-orang yang beruntung (QS. Al-Imran:104)

2) Menumbuhkembangkan Budaya Literasi

Keluarga merupakan sekolah dasar sekaligus wahana pendidikan yang


kompatibel setiap zaman, kurangnya intensitas komunikasi dilingkungan keluarga
menjadikan generasi muda liar dengan pola yang dia temukan serampangan sekena
dan sekeenak hendak hatinya menentukan pilihan tanpa pola yang teratur sistematis,
oleh karenanya orang tua terutama ibu adalah peletakan peradaban jika baik,cermat,
bijak dan cerdas membentuknya maka akan melahirkan generasi yang cerdas pula.
Namun sebaliknya jika ibu membiarkan proses literasi yang berkembang dalam diri
anak maka alamatlah generasi cerdas tersebut hanyalah utopia belaka dan tunggu
saja kerepotan yang akan ditimbulkan akibatnya, seperti syair gurindam 12
(duabelas) Karya Raja Ali Haji pasal ketujuh bait keempat yang berbunyi:

Apabila anak tidak dilatih


Jika besar bapaknya letih

Bait syair tersebut menjelaskan bahwa memuat aspek pendidikan yang harus
di lakukan oleh orang tua terhadap anaknya, maknanya adalah jika seorang anak
tidak dididik dengan baik dan benar maka jika seorang anak tumbuh menjadi dewasa
maka orang tuanya akan selalu di sibukkan dengan kelakuannya yang aneh. 13
manusia dikatakan unggul apabila senantiasa meningkatkan kapasitas keilmuan dan
keterampilannya. Di era masyarakat modern haus dengan keingintahuan yang
menuntut untuk banyak membaca semakin tinggi namun berbeda halnya dengan
negara berkembang dimana tidak ada peningkatan budaya membaca di tengah-
tengah masyarakat sehingga proses transformatif informasi yang valid serta
berimbang tidak pernah berjalan dengan baik. Menurut para pakar, yang terpenting
tidak sekedar memiliki ilmu pengetahuan semata akan tetapi juga proses memilikinya
serta memanfaatkannya. Sebagaimana kita ketahui bahwa proses mendengarkan
atau transisi dari seorang guru, misalnya tetapi harus melalui membaca. Hampir 80-
90 persen pengetahuan bersumber dari membaca. Menurut Tilaar membaca adalah
sebuah proses memberikan arti kepada dunia. Dengan demikian, masyarakat yang
gemar membaca akan melahirkan generasi yang pembelajar dan gemar membaca
(learning Society).

Allah Subahanahu Wataala Berfirman:





Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, (1) Dia telah
menciptakan manusia dari segumpal darah. (2) Bacalah, dan Tuhanmulah yang
Maha Pemurah, (3) Yang mengejar (Manusia) dengan perantara kalam, (4) Dia
mengejar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (5) (QS. Al-Alaq, Ayat 1-5)

3) Memaksimalkan Kecerdasan Bawaan

Stephen R. Covey dalam bukunya yang berjudul The 8th Habits (melampaui
Efektivitas, Menggapai Keagungan), menjelaskan bahwa kecerdasan bawaan yang
dimiliki manusia sejak lahir berbeda-beda, namun pada dasarnya setiap manusia
memiliki kecerdasaan yang merata yaitu antara lain sebagai berikut:
13
Siti Maryam Purwaningrum, 2013, Kajian Pragmatik Naskah Gurindam Dua Belas Karya Raja Ali
Haji, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Diponegoro Semarang. Hlm. 108
a. Intelligence Question (Kecerdasan Mental)

Kecerdasan Mental (yang secara teknis lebih dikenal dengan istilah


Intelligence Quotient, atau IQ), yaitu kemampuan kita untuk menganalisis,
berpikir dan menentukan hubungan sebab-akibat, berpikir secara abstrak,
menggunakan bahasa, memvisualisasikan sesuatu, dan memahami sesuatu.

b. Physical Question (Kecerdasan Fisik)

Kecerdasan Fisik (PQ) adalah sebentuk kecerdasan lain yang dimiliki oleh
tubuh kita. Kita secara tak langsung menyadari hal ini, tetapi seringkali tidak
memperhitungkannya. Coba renungkan saja apa yang bisa dilakukan oleh tubuh
Anda tanpa upaya sadar dari pihak Anda. Tanpa Anda perintah, tubuh Anda
menjalankan sistem pernafasan, sistem peredaran darah, sistem syaraf, dan
sistem-sistem vital yang lain. Tubuh kita terus-menerus memantau
lingkungannya, menghancurkan sel pembawa penyakit, mengganti sel yang rusak,
dan melawan unsur-unsur yang mengganggu kelangsungan hidup.

Sabda Rasulullah Saw sebagai berikut:

, ,
, , , ,
" : : ,
, ,
"
Menceritakan kepada kami Abu Bakar Atthalahi dari Ahmad bin Hamad bin
Sofyan , dari amru bin usman alhimsi dari ibnu iyasy dari sulaiman bin amru al-
anshari dari paman ayahnya dari Bakar bin Abdillah bin Rabi al-anshari
berkata :berkata Rasulullah SAW. ajarilah anak anakmu berenang dan
melempar lembing, termasuk juga perempuan perempuan di rumahnya
menenun, dan apabila kedua orangtuamu memanggil maka utamakan ibumu.
(HR. Ath-Thahawi)

c. Emotional Question (Kecerdasan Emosional)

Kecerdasan Emosional (EQ) adalah pengetahuan mengenai diri sendiri,


kesadaran diri, kepekaan sosial, empati, dan kemampuan untuk berkomunikasi
dengan baik dengan orang lain. Kecerdasan emosi adalah kepekaan mengenai
waktu yang tepat, kepatutan secara sosial, dan keberanian untuk mengakui
kelemahan, menyatakan dan menghormati perbedaan. Sebelum dasawarsa
sembilan puluhan, ketika EQ menjadi topik pembicaraan yang hangat, kecerdasan
emosi itu kadang-kadang digambarkan sebagai kemampuan otak kanan, se-
bagaimana terbedakan dari kemampuan otak kiri. Otak kiri dianggap lebih
analitis, tempat pemikiran linear, pusat bahasa, pemikiran berdasarkan sebab-
akibat dan logika. Sementara itu, otak kanan dianggap lebih kreatif, tempat
intuisi, pengindraan, dan bersifat holistik atau menyeluruh. Kuncinya adalah
menghormati dua belahan otak itu, dan mempraktikkan pilihan untuk
mengembangkan dan memanfaatkan kemampuannya yang unik. Penggabungan
pemikiran dan perasaan akan menciptakan keseimbangan, penilaian, dan
kebijaksanaan yang lebih baik.

d. Spiritual Question (Kecerdasan Spiritual).

Kecerdasan keempat adalah Kecerdasan Spiritual (SQ). Sebagaimana EQ,


SQ juga menjadi arus utama dalam kajian ilmiah maupun diskusi
filosofis/psikologis. Kecerdasan spiritual merupakan pusat dan paling mendasar di
antara kecerdasan yang lain, karena dia menjadi sumber bimbingan atau
pengarahan bagi tiga kecerdasan lainnya. Kecerdasan spiritual mewakili kerinduan
kita akan makna dan hubungan dengan yang tak terbatas.

Richard Wolman, penulis buku Thinking with Your Soul, mendefinisikan


kata "spiritual" sebagai berikut:

Dengan spiritual saya maksudkan kerinduan dan pencarian manusia yang abadi
dan sudah ada sejak keberadaan manusia itu sendiri, untuk terhubung dengan
sesuatu yang lebih besar dan lebih dapat diandalkan daripada ego kita sendiri
dengan kata lain, keterhubungan kita dengan jiwa kita, dengan sesama kita,
dengan kancah sejarah dan alam, dengan hembusan jiwa yang satu adanya, dan
dengan misteri kehidupan itu sendiri.

Kecerdasan spiritual juga membantu kita mencerna dan memahami


prinsip-prinsip sejati yang merupakan bagian dari nurani kita, yang dilambangkan
dengan kompas. Kompas merupakan gambaran fisik yang bagus sekali bagi prinsip,
karena dia selalu menunjuk ke arah utara. Kunci untuk mempertahankan otoritas
moral yang tinggi adalah terus-menerus mengikuti prinsip "utara yang
sesungguhnya". 14

Rasulullah saw telah sukses dalam mengkader dan menyiapkan generasi setelah
beliau tiada terbukti dengan adanya sahabat seperti sekretaris pribadi rasulullah zaid bin
tsabit yang menulis wahyu al-quran disusul dengan abdullah ibnu Abbas yang cerdas
pemahaman agamanya, Ali bin Abi tholib sebagai gerbangnya ilmu yang arif dan bijaksana,
masih banyak lagi para sahabat-sahabat rasulullah yang ketika usia mudanya dihabiskan
dengan belajar untuk memikirkan apa yang akan dia ukir untuk generasi setelahnya.
Generasi terbaik umat ini adalah para sahabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Mereka
adalah sebaik-baik manusia. Lantas disusul generasi berikutnya, lalu generasi berikutnya.
Tiga kurun ini merupakan kurun terbaik dari umat ini. Dari Imran bin Hushain radhiyallahu
anhuma, bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:



14
Stephen R. Covey, 2015, The 8th Habits of Hightly Effective People (melampaui Efektivitas,
Menggapai Keagungan), Binarupa Aksara, Hlm. 74-85
Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka
(generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka. (Shahih Al-Bukhari, no. 3650)

Mereka adalah orang-orang yang paling baik, paling selamat dan paling mengetahui dalam
memahami Islam. Mereka adalah para pendahulu yang memiliki keshalihan yang tertinggi
(as-salafu ash-shalih).

Karenanya, sudah merupakan kemestian bila menghendaki pemahaman dan pengamalan


Islam yang benar merujuk kepada mereka (as-salafu ash-shalih). Mereka adalah orang-orang
yang telah mendapat keridhaan dari Allah Subhanahu wa Taala dan mereka pun ridha
kepada Allah Subhanahu wa Taala. Firman Allah Subhanahu wa Taala:






Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang
Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha
kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka
surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-
lamanya. Itulah kemenangan yang besar. (At-Taubah: 100)

Kita yang berada di zaman yang tentu jauh dari masa rasulullah setidaknya
mengambil itibar untuk mengusahakan dengan serius dan sungguh-sungguh dengan
menyiapkan kader yang akan membawa kemashlatan ummat menuju masyarakat yang
madani di naungi rahmat dan keberkahan Allah Swt. Amin ya robbal Alamin

SUMBER:

Abdul Karim ,Muhammad, 2009, Sejarah Pemikiran Dan Peradaban Islam, cet. 2 (Yogyakarta :
Pustaka Book Publisher,, Hlm. 8.
Baalbaki, Rohi ,1995, Al-Mawrid, Beirut: Dar El-Ilm Lilmalayin. Hlm. 64
Darajat, Zakiah ,1990, Peranan Agama Dalam Kesehatan Mental, Jakarta: PT Gunung Agung,
Hlm. 90
Husin Tasrik Makruf Nasution, 2017, Pola Kebijakan Umum Pengurus Besar Pelajar Islam
Indonesia (PII) Periode 2017-2020, Disampaikan pada Rapat Kerja dan Training
Center di Villa DPR-RI Puncak cisarua bogor-Jawa Barat.
Labay El-Shulthani, Mawardi, 2001, Mental Yang Kuat Untuk Sukses Dan Selamat , Jakarta:
PT. Al Mawardi Prima.Hlm. 5
Maryam Purwaningrum, Siti , 2013, Kajian Pragmatik Naskah Gurindam Dua Belas Karya
Raja Ali Haji, Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya. Universitas
Diponegoro Semarang. Hlm. 108
Masud, Abdurrahman,2009, Islam dan Peradaban (Sebagai Pengantar), dalam Samsul
Munir Amin, 2009, Sejarah Peradaban Islam, Ed.1, cet.1. Jakarta: Amzah.Hlm. x
Mehdi, Nakosteen, 2003, Kontribusi Islam Atas Dunia Intelektual Barata, Deskripsi Analisis
Abad Keemasan Islam, Terjemahan. Joko S. Kahhar dan Suprayanto Abdullah, Cet. 2.
Surabaya: Risalah Gusti. Hlm. 85
Munir Amin, Samsul, 2009, Sejarah Peradaban Islam, Edisi 1, Cet.1. Jakarta:Amzah. Hlm. 32
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008, Kamus Bahasa Indonesia, Jakarta :
Pusat Bahasa. Hlm.
R. Covey, Stephen , 2015, The 8th Habits of Hightly Effective People (melampaui Efektivitas,
Menggapai Keagungan), Binarupa Aksara, Hlm. 74-85
R. Covey, Stephen, 2015, The 7 Habits of Highly Effective People (Kebiasaan Manusia Yang
Sangat Efektif) :25 years, Binarupa Aksara, Hlm. 84
Sayyed Hosein Nasr,2003, Islam :Agama,Sejarah dan Peradaban. Surabaya:Risalah gusti. Hlm.
Xvii
https://www.kompasiana.com/firdausazwarersyad/problematika-pelajar modern