Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN

Trauma merupakan suatu cedera atau rudapaksa yang dapat mencederai


fisik maupun psikis. Trauma jaringan lunak muskuloskeletal dapat berupa vulnus
(luka), perdarahan, memar (kontusio), regangan atau robekan parsial (sprain), putus
atau robekan (avulsi atau rupture), gangguan pembuluh darah dan gangguan saraf.
Cedera pada tulang menimbulkan patah tulang (fraktur) dan dislokasi.
Fraktur juga dapat terjadi di ujung tulang dan sendi (intra-artikuler) yang sekaligus
menimbulkan dislokasi sendi. Fraktur ini juga disebut fraktur dislokasi.
Insiden fraktur secara keseluruhan adalah 11,3 dalam 1.000 per tahun.
Insiden fraktur pada laki-laki adalah 11.67 dalam 1.000 per tahun, sedangkan pada
perempuan 10,65 dalam 1.000 per tahun. Insiden di beberapa belahan dunia akan
berbeda. Hal ini mungkin disebabkan salah satunya karena adanya perbedaan status
sosioekonomi dan metodologi yang digunakan di area penelitian.
Fraktur yang paling banyak terjadi pada pasien usia lebih dari 50 tahun
adalah fraktur femur proksimal. Fraktur femur proksimal atau secara umum disebut
fraktur hip diklasifikasikan berdasarkan lokasi anatominya. Fraktur neck femur dan
intertrokanter femur memiliki frekuensi yang hampir sama. Sembilan dari 10
fraktur hip terjadi pada pasien usia 65 tahun atau lebih. Kedua jenis fraktur ini lebih
sering terjadi pada populasi wanita sebanyak tiga kali lipat. Faktor risiko lain
terjadinya fraktur adalah ras, ganguan neurologis, malnutrisi, keganasan dan
pengurangan aktivitas fisik. Fraktur hip pada populasi tua terjadi karena jatuh pada
90% kasus. Penyebab jatuh sendiri meliputi ganguan berjalan sebelum kejadian,
berkurangnya waktu bereaksi dan penglihatan yang jelek.
Di seluruh dunia prevalensinya diperkirakan 4,5 juta, 740.000 kematian dan
1,75 juta kecacatan di dunia per tahun. Terdiri dari fraktur neck femur, fraktur
intertrochanter femur dan fraktur subtrochanter. Untuk kasus terbanyak adalah
fraktur intertrochanter femur dan lebih banyak diderita oleh kaum wanita. Di RSU
Sardjito Yogyakarta, menurut rekam medis, pada bulan januari 2009 sampai dengan
Desember 2011 ada total 111 kasus dengan fraktur proksimal femur, yang terdiri

1
dari 26 kasus fraktur collum femur, 82 kasus fraktur intertrokanter femur, dan 3
kasus fraktur subtrokanter femur.
Prinsip penanggulangan cedera muskuloskeletal adalah rekognisi
(mengenali), reduksi (mengembalikan), retaining (mempertahankan), dan
rehabilitasi. Pada fraktur trokanter femur dapat dilakukan terapi konservatif
maupun operatif, karena pendarahan di daerah ini sangat baik. Terapi operatif
memperpendek masa imobilisasi di tempat tidur. Terapi konservatif dapat ditangani
dengan traksi tulang dengan paha dalam posisi fleksi dan abduksi selama 6-8
minggu, untuk terapi operatif dapat dilakukan dengan pemasangn pelat trokanter
yang kokoh, kemudian mobilisasi segera pasca bedah.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Cruris


2.1.1 Tulang Tibia
Tulang tibia terdiri dari tiga bagian yaitu epyphysis proksimalis, diaphysis
dan epiphysis. Epiphysis proksimalis terdiri dari dua bulatan yaitu condilus
medialis dan condilus lateralis. Pada permukaan proksimal terdapat permukaan
sendi untuk bersendi dengan tulang femur disebut facies articularis superior yang
ditengahnya terdapat peninggian disebut eminentia intercondyloidea. Di ujung
proksimal terdapat dataran sendi yagng menghadap ke lateral disebut facies
articularis untuk bersendi dengan tulang fibula.
Diaphysis mempunyai tiga tepi yaitu margo anterior, margo medialis, dan crista
interosea disebelah lateral. Sehingga terdapat tiga dataran yaitu facies medialis,
facies posterior dan facies lateralis. Margo anterior di bagian proksimal menonjol
disebut tuberositas tibia. Pada epiphysis distalis bagian distal terdapat tonjolan yang
disebut malleolus medialis, yang mempunyai dataran sendi menghadap lateral
untuk bersendi dengan talus disebut facies malleolus lateralis. Epiphysis distalis
mempunyai dataran sendi lain yaitu facies articularis inferior untuk dengan tulang
(9)
talus dan incisura fibularis untuk bersendi dengan tulang fibula.

3
Gambar: Anatomi Tulang Tibia
Sumber: Atlas Anatomi manusia sobotta Edisi 21. Extremitas bawah p.27
2.1.2 Tulang Fibula
Tulang fibula terletak disebelah lateral tibia mempunyai tiga bagian yaitu
epiphysis proksimalis, diaphysis dan epiphysis distalis. Epiphysis proksimalis
membulat disebut capitulum fibula yang kearah proksimal meruncing menjadi apex
kapituli fibula. Kapitulum fibula mempunyai dataran sendi yaitu facies artycularis
capituli fibula untuk bersendi dengan tulang fibula. Diaphysis mempunyai empat
crista yaitu Krista lateralis, Krista medialis, Krista anterior, Krista interosea.
Mempunyai tiga dataran yaitu facies medialis, facies lateralis, facies posterior.
Epiphysis distalis kebelakang agak membulat dan sedikit keluar disebut malleolus
lateralis. Disebelah dalam mempunyai dataran sendi yang disebut facies artycularis
malleolus lateralis. Disebelah luar terdapat suatu suleus disebut sulcus tendo
musculi tendo perineum dan dilalui tendo otot peroneus longus dan peroneus
(9)**
brevis.

4
Gambar: Anatomi Tulang Fibula
Sumber: Atlas Anatomi manusia sobotta Edisi 21. Extremitas bawah p.27

2.2 Definisi Fraktur

Fraktur adalah patah tulang atau terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan
ditentukan sesuai jenis dan luasnya (Smeltzer, 2002). Fraktur cruris adalah
terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya, terjadi pada
tulang tibia dan fibula. (Suratun, dkk. 2008). ***
Fraktur terbuka merupakan salah satu klasifikasi jenis fraktur. fraktur
terbuka (compound) dalah fraktur yang menyebabkan robeknya kulit (Corwin,
Elizabeth J. 2009). Secara klinis patah tulang terbuka dibagi menjadi tiga derajat/
grade (pusponegoro A.D.,2007), yaitu:
Derajat I : terdapat luka tembus kecil seujung jarum, luka ini di dapat dari
tusukkan fragmen-fragmen tulang dari dalam.

5
Derajat II : luka lebih besar disertai dengan kerusakan kulit subkutis. Kadang-
kadang ditemukan adanya benda-benda asing disekitar luka.
Derajat III : luka lebih besar dibandingkan dengan luka pada derajat II. Kerusakan
lebih hebat karena sampai mengenai tendon dan otot-otot saraf tepi.

2.3 Patofisiologi
Trauma langsung dan trauma tidak langsung serta kondisi patologis pada
tulang dapat menyebabkan fraktur pada tulang. Fraktur merupakan diskontinuitas
tulang atau pemisahan tulang. Pemisahan tulang ke dalam beberapa fragmen tulang
menyebabkan perubahan pada jaringan sekitar fraktur meliputi laserasi kulit akibat
perlukaan dari fragmen tulang tersebut, perlukaan jaringan kulit ini memunculkan
masalah keperawatan berupa kerusakan integritas kulit. Perlukaan kulit oleh
fragmen tulang dapat menyebabkan terputusnya pembuluh darah vena dan arteri di
area fraktur sehingga menimbulkan perdarahan. Perdarahan pada vena dan arteri
yang berlangsung dalam jangka waktu tertentu dan cukup lama dapat menimbulkan
penurunan volume darah serta cairan yang mengalir pada pembuluh darah sehingga
akan muncul komplikasi berupa syok hipovolemik jika perdarahan tidak segera
dihentikan.
Perubahan jaringan sekitar akibat fragmen tulang dapat menimbulkan
deformitas pada area fraktur karena pergerakan dari fragmen tulang itu sendiri.
Deformitas pada area ekstremitas maupun bagian tubuh yang lain menyebabkan
seseorang memiliki keterbatasan untuk beraktivitas akibat perubahan dan gangguan
fungsi pada area deformitas tersebut sehingga muncul masalah keperawatan berupa
gangguan mobilitas fisik. Pergeseran fragmen tulang sendiri memunculkan masalah
keperawatan berupa nyeri.
Beberapa waktu setelah fraktur terjadi, otot-otot pada area fraktur akan
melakukan mekanisme perlindungan pada area fraktur dengan melakukan spasme
otot. Spasme otot merupakan bidai alamiah yang mencegah pergeseran fragmen
tulang ke tingkat yang lebih parah. Spasme otot menyebabkan peningkatan tekanan
pembuluh darah kapiler dan merangsang tubuh untuk melepaskan histamin yang
mampu meningkatkan permeabilitas pembuluh darah sehingga muncul

6
perpindahan cairan intravaskuler ke interstitial. Perpindahan cairan intravaskuler ke
interstitial turut membawa protein plasma. Perpindahan cairan intravaskuler ke
interstitial yang berlangsung dalam beberapa waktu akan menimbulkan edema pada
jaringan sekitar atau interstitial oleh karena penumpukan cairan sehingga
menimbulkan kompresi atau penekanan pada pembuluh darah sekitar dan perfusi
sekitar jaringan tersebut mengalami penurunan. Penurunan perfusi jaringan akibat
edema memunculkan masalah keperawatan berupa gangguan perfusi jaringan.
Masalah gangguan perfusi jaringan juga bisa disebabkan oleh kerusakan
fragmen tulang itu sendiri. Diskontinuitas tulang yang merupakan kerusakan
fragmen tulang meningkatkan tekanan sistem tulang yang melebihi tekanan kapiler
dan tubuh melepaskan katekolamin sebagai mekanisme kompensasi stress.
Katekolamin berperan dalam memobilisasi asam lemak dalam pembuluh darah
sehingga asam- asam lemak tersebut bergabung dengan trombosit dan membentuk
emboli dalam pembuluh darah sehingga menyumbat pembuluh darah dan
mengganggu perfusi jaringan. 10 ***

7
8
2.4 Etiologi Fraktur

1. Trauma
Sebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan otot yang tiba-tiba dan
berlebihan, yang dapat berupa pemukulan, penghancuran, penekukan,
pemutiran, atau penarikan. Bila terkena kekuatan langsung, tulang dapat
patah pada tempat yang terkena, jaringan lunak rusak. Bila terkena kekuatan
tak langsung, tulang dapat mengalami fraktur pada tempat yang jauh dari
tempat terkena kekuatan itu, kerusakan jaringan lunak di tempat fraktur
mungkin tidak ada.
2. Kompresi
Retak dapat terjadi pada tulang, sama halnya seperti pada logam dan benda
lain, akibat tekanan tulang. Keadaan ini paling sering ditemukan pada tibia
dan fibula atau metatarsal.
3. Patologik
Fraktur dapat terjadi karena tekanan yang normal apabila tulang itu lemah
karena adanya tumor atau tulang itu rapuh karena adanya penyakit paget.(3)

Fraktur intertrokanter terjadi sebagai konsekuensi dari trauma berdaya


tinggi (jarang terjadi pada pasien laki-laki muda) atau berdaya rendah yang
sederhana (umumnya terjadi pada pasien wanita lanjut usia). Etiologi fraktur
intertrokanter berdaya rendah adalah kombinasi dari faktor-faktor berikut:
Peningkatan kerapuhan tulang pada area intertrokanter pada tulang paha.
Kelincahan menurun dan penurunan otot otot di daerah sekunder akibat penuaan.

Peningkatan kerapuhan tulang akibat osteoporosis dan osteomalacia sekunder


hingga kurangnya ambulasi yang memadai atau aktivitas antigravitasi, serta
penurunan kadar hormon, peningkatan kadar hormon demineralisasi, penurunan
asupan kalsium atau vitamin D, dan proses penuaan lainnya. Tumor jinak dan
ganas, disertai metastasis seperti multiple myeloma dan keganasan lainnya, juga
dapat menyebabkan struktur tulang yang lemah.

9
Dampak langsung atau gaya puntir yang diteruskan melalui kaki ke daerah
intertrokanter akan menyebabkan fraktur bila kekuatan tersebut lebih besar
daripada kekuatan tulang di daerah intertrokanter.

2.5 Epidemiologi

Sekitar 199 dari 1.016 pasien mengalami fraktur tulang tibia fibula yang
terjadi setiap tahun di Northern Tanzania. Laki-laki lebih sering terjadi
dibandingkan perempuan dan paling sering terjadi pada usia 21-30 tahun.
Kecelakaan lalu lintas adalah penyebab yang paling sering terjadi fracture tibia
fibula. ***

2.6 Klasifikasi

1,2,3
Klasifikasi Gustilo dan Anderson untuk fraktur terbuka

Fraktur terbuka dibagi menjadi tiga kelompok :


1. Grade I :
Fraktur terbuka dengan luka kulit kurang dari 1 cm dan bersih kerusakan jaringan
minimal, frakturnya simple atau oblique dan sedikit kominutif .
2. Grade II :
Fraktur terbuka dengan luka robek lebih dari 1 cm, tanpa ada kerusakan jaringan
lunak, flap kontusio avulsi yang luas serta fraktur kominutif sedang dan
kontaminasi sedang .
3. Grade III :
Fraktur terbuka segmental atau kerusakan jaringan lunak yang luas atau amputasi
traumatic,derajad kontaminasi yang berat dan trauma dengan kecepatan tinggi .
Fraktur grade III dibagi menjadi tiga yaitu : Grade IIIa :
Fraktur segmental atau sangat kominutif penutupan tulang dengan jaringa lunak
cukup adekuat.

10
Grade IIIb :
Trauma sangat berat atau kehilangan jaringan lunak yang cukup luas ,
terkelupasnya daerah periosteum dan tulang tampak terbuka , serta adanya
kontaminasi yang cukup berat.

Grade IIIc : Fraktur dengan kerusakan pembuluh darah.

Gambar 10 (5) Tipe fraktur dari Tibia dan Fibula6

Secara garis besar, fraktur dapat dibagi menjadi fraktur komplit dan
inkomplit. Pada fraktur komplit, tulang-tulang benar patah menjadi dua fragmen
atau lebih. Sedangkan fraktur inkomplit adalah patahnya tulang hanya pada satu sisi
saja. Selain fraktur komplit dan inkomplit, ada beberapa pembagian dari fraktur

yang disesuaikan dengan masing-masing kategori.

Fraktur Komplit :

1. Fraktur transversal
Yaitu jenis garis patahan melintang dan sering terjadi.

11
(a) (b)

Gambar. (a) klinis Fraktur transversal, (b) gambar radiologi Fraktur


transversal posisi AP/Lateral

8
2. Fraktur obliq Fraktur obliq yaitu jenis garis patahan miring. Secara khas

disebabkan oleh stress rotasi.

12
(a) (b)

Gambar. (a) klinis Fraktur obliq, (b) gambar radiologi Fraktur


obliq posisi AP/Lateral

3. Fraktur spiral

8
Yaitu jenis garis patahan melingkar.

13
(a) (b)

Gambar. (a) klinis Fraktur spiral, (b) gambar radiologi Fraktur spiral posisi
AP/Lateral

4. Fraktur impaksi Fragmen fraktur yang satu tertancap kuat


bersama menjadi satu

14
(a) (b)

Gambar. (a) klinis Fraktur impaksi, (b) gambar radiologi Fraktur impaksi
posisi AP/Lateral

5. Fraktur komunitif

Terdapat lebih dari dua fragmen fraktur yang biasanya


terpecah belah.

15
(a) (b) (c)
Gambar. (a) klinis Fraktur komunitif, (b) dan (c) gambar radiologi
Fraktur komunitif posisi AP/Lateral

6. Fraktur intra-artikuler ( fraktur mengenai permukaan sendi


)

(a)

16
(b) (c)

Gambar. (a) klinis Fraktur intra artikuler, (b) dan (c) gambar radiologi
Fraktur intra artikuler posisi AP/Lateral

Fraktur Inkomplit :

1. Greenstick fracture ( fraktur ini sering ditemui pada anak )


. Pada tipe fraktur ini,
tulang melengkung disebabkan oleh konsistensinya yang
elastic. Periosteumnya tetap utuh. Fraktur ini biasanya mudah
diatasi dan sembuh dengan baik.

(a) (b) Gambar.

(a) klinis Fraktur Greenstick, (b) gambar radiologi Fraktur Greenstick


posisi oblik

17
2. Fraktur kompresi ( fraktur ini lebih sering mengenai orang dewasa dan secra
khas mengenai korpus vertebra dan calcaneus )

(a) (b)

Gambar. (a) klinis Fraktur kompresi vertebra, (b) gambar radiologi Fraktur

kompresi vertebra posisi lateral

Berdasarkan hubungan tulang dengan jarigan disekitarnya fraktur dapat dibagi


menjadi :
1. Fraktur tertutup (closed ), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang
dengan dunia luar.

2. Fraktur terbuka ( open/compound ), bila terdapat hubungan antara fragmen

18
tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan di kulit. Fraktur terbuka dibagi
menjadi tiga derajat ( menurut R.Gustillo ), yaitu :

1. Derajat I :

Luka <1 cm

Kerusakan jaringan lunak sedikit, relatif tanda luka remuk

Fraktur sederhana,transversal,oblik atau komunitif ringan

Kontaminasi minimal

2. Derajat II :

Laserasi >1 cm

Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, flap/avulse

Frakur komunitif sedang

Kontaminasi sedang

3. Derajat III :

Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas, meliputi struktur kulit, otot,
dan neurovaskuler serta kontaminasi derajat tinggi. Fraktur tebuka derajat III
terbagi atas :
a. Jaringan lunak yang menutupi fraktur tulang adekuat, meskipun terdapat

laserasi luas/flap/avulse atau fraktur segmental/sangat komunitif yang

disebabkan oleh trauma berenergi tinggi tanpa melihat besarnya ukuran

19
luka.

b. Kehilangan jaringan lunak dengan fraktur tulang yang terpapar atau

terkontaminasi.

c. Luka pada pembuluh arteri/saraf perifer yang harus diperbaiki tanpa

melihat kerusakan jaringan lunak.

Berdasarkan jumlah garis patah :

a. Fraktur komunitif : garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan

b. Fraktur segmental : garis patah lebih dari satu dan tidak berhubungan

c. Fraktur multiple :garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang berlainan

tempatnya.

d. Fraktur simple : terdiri dari satu garis patahan

2.6 Manifestasi Klinis

Tanda dan gejala fraktur adalah sebagai berikut (Lukman & Ningsih, 2011):

1. Nyeri dan terus-menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang


dimobilisasi. Spasme otot yang menyertai fraktur yang merupakan bentuk

bidai alamiah yang dirancang untuk meminimalkan gerakan antar

fragmen.

2. Setelah terjadi fraktur, bagian yang fraktur tidak dapat digunakan dan
cenderung bergerak secara tidak alamiah (gerakan luar biasa) bukannya
tetap regid seperti normalnya. Pergeseran fragmen pada fraktur lengan dan
tungkai menyebabkan deformitas (terlihat maupun teraba) ekstremitas yang

20
dapat diketahui dengan membandingkan ekstremitas normal. Ekstremitas
tidak dapat berfungsi dengan baik karena fungsi normal otot bergantung

pada integritas tulang tempat melekatnya otot.

3. Pada fraktur tulang panjang, terjadinya pemendekan tulang yang sebenarnya

terjadi karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat

fraktur

4. Saat tempat fraktur di periksa teraba adanya derik tulang dinamakan

krepitus akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya.

5. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit yang terjadi sebagai

akibat trauma dan pendarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini bisa

terjadi setelah beberapa jam atau beberapa hari setelah cidera.

2.7 Tatalaksana

Pasien dengan fraktur intertrochanteric siap untuk melanjutkan operasi


setelah evaluasi medis atau trauma selesai dan kondisi medis telah distabilkan tanpa
penundaan yang tidak semestinya. Ada beberapa teknik operasi yang digunakan
untuk fraktur intertrokanter femur, berupa:
1. Compression hip screw (sliding hip screw)
Perangkat yang digunakan pada operasi ini terdiri dari sekrup, pin, atau paku
yang dimasukkan ke dalam lubang bor yang dibuat di leher femoralis dan kepala
dan sisi sudut pelat yang diletakkan di ujung distal dari sekrup dan dipasang dengan
sekrup ke poros femoralis proksimal.

21
Compression hip screw (sliding hip screw)

2. Cephalomedullary fixation
Cephalomedullary fixation adalah teknik pengobatan alternatif untuk fraktur
intertrokanter. Beberapa paku dengan diameter tipis (Enders nails) yang
disisipkan dari lutut dengan gaya retrograde populer di tahun 1970an dan
1980an. Teknik ini, bagaimanapun, menyebabkan rotasi eksternal yang
berlebihan dan nyeri lutut dan telah ditinggalkan.

Fraktur Intertrokanter dengan Enders nail


Penggunaan paku antegrade yang dimasukkan melalui trokanter mayor,
dengan sekrup hip kompresi dimasukkan melalui bagian proksimal paku ke kepala
femoral, teknik ini digunakan terutama untuk pola fraktur yang tidak stabil.

22
Femur dengan batang intermedula dan sekrup
Cephalomedullary fixation dapat membantu mengurangi fraktur yang tidak
stabil dan mencegah pemendekan tulang yang berlebihan, karena paku berfungsi
sebagai pengganti calcar di sisi dinding lateral untuk menopang leher femoralis.
Teknik perkutan ini berpotensi kehilangan sedikit darah dan tahan lama.

Arthroplasty
Penggantian pinggul dapat dilakukan dengan hanya mengganti sisi femoralis
(hemiarthroplasty) atau dengan mengganti kedua acetabulum dan sisi femoralis
(total hip arthroplasty). Kedua pilihan perawatan bedah ini, meski umum terjadi
pada fraktur leher femur pada lansia, namun belum menjadi bentuk terapi yang
populer untuk fraktur intertrochanteric. Keengganan untuk menggunakan pilihan
ini adalah karena hilangnya tulang pada daerah calcar pada tulang paha dan sulitnya
mempertahankan ketegangan otot abduktor yang tepat karena fraktur dari
trochanter menempel pada otot-otot ini.
Temuan klinis menunjukkan bahwa artroplasti menghasilkan hasil fungsional
yang serupa dengan sekrup pinggul kompresi atau cephalomedullary fixation
namun teknik ini dikaitkan dengan kehilangan darah lebih banyak, waktu operasi
lebih lama, dan biaya yang lebih tinggi. Namun, Pilihan pengobatan pembedahan
untuk fraktur leher femur termasuk fiksasi internal (yang tidak disarankan pada
pasien lanjut usia) dan arthroplasty.
Pada hemiartroplasti (HA) dan total pinggul artroplasti (THA) adalah metode
penggantian pinggul yang diterima secara luas untuk terapi fraktur neck femur
(FNF). Beberapa bukti menunjukkan bahwa THA mengarah pada hasil fungsional

23
lebih baik daripada HA; Namun, ada beberapa keuntungan HA dibandingkan
dengan THA seperti tingkat dislokasi yang berkurang, operasi yang kurang
kompleks, waktu operasi yang lebih singkat, kehilangan darah lebih sedikit, dan
biaya awal yang lebih rendah.

Jenis Hip Arthroplasty

Total Hip Replacement (THR) merupakan penggantian seluruh sendi coxae


(hip), yaitu acetabulum dan caput femur. Jika hanya caput femur saja yang diganti,
prosedur tersebut disebut hemiarthroplasty. Hemiarthroplasti terdiri dari dua
macam yaitu unipolar hemiarthroplasty yaitu prosthesis femur berartikulasi dengan
acetabulum, kelemahan prosedur ini yaitu kartilago acetabulum akan aus. Dan
bipolar hemiarthroplasty yaitu meletakkan prosthesis acetabulum (yang akan
berartikulasi dengan prostesis femur) pada acetabulum.

24
2.8 Penyembuhan Fraktur

Proses penyembuhan fraktur dimulai sejak terjadi fraktur sebagai usaha tubuh
untuk memperbaiki kerusakan yang dialami. Penyembuhan dari raktur dipengarui
oleh beberapa faktor lokal dan faktor sistemik, adapun faktor lokal yaitu :

1. Lokasi fraktur
2. Jenis tulang yang mengalami fraktur
3. Reposisi anatomis dan imobilisasi yang stabil
4. Adanya kontak antar fragmen
5. Ada tidaknya infeksi
6. Tingkatan dari fraktur

Adapun faktor sistemik yaitu :

1. Keadaan umum pasien


2. Umur
3. Malnutrisi
4. Penyakit sistemik

Dalam istilah-istilah histologik klasik, penyembuhan fraktur telah dibagi


atas penyembuhan fraktur primer dan fraktur sekunder

25
1. Proses penyembuhan fraktur primer
Penyembuhan cara ini terjadi internal remodeling yang meliputi upaya
langsung oleh korteks untk membangun kembali ketika kontinuitas terganggu. Agar
fraktur menjadi menyatu, tulang pada salah satu sisi korteks harus menyatu dengan
tulang pada sisi lainnya (kontak langsung ) untuk membangun kontinuitas mekanis.
Tidak ada hubungan dengan pembentukan kalus. Terjadi internal remodeling dari
haversion system dan penyatuan tepi fragmen fraktur tulang yang patah.
2. Proses penyembuhan fraktur sekunder
3. Pnyembuhan sekunder meliputi respon dalam periostium dan jaringan-jaringan
lunak eksternal. Proses penyembuhan fraktur ini secara garis besar dibedakan
atas 5 fase, yakni fase hematom (inflamasi), fase poliferasi, fase kalus, osifikasi,
dan remodeling
a. Fase inflamasi
Tahap inflamasi berlangsung beberapa hari dan hilang dengan berkurangnya
pembengkakan dan nyeri.

b. Fase proliferasi
Kira-kira 5 hari hematom akan mengalami organisasi, terbentuk benang-
benang fibrin dalam jendalan darah, membentuk jaringan untuk
revaskularisasi, dan invasi fibroblast dan osteoblast.

26
c. Fase Pembentukan Kalus
Merupakan fase lanjutan dari fase hematom dan proliferasi mulai terbentuk
jaringan tulang yakni jaringan tulang kondrosit yang mulai tumbuh atau
umumnya disebut sebagai jaringan tulang rawan.

d. Stadium Konsolidasi
Dengan aktifitas osteoklast dan osteoblast yang terus menerus, tulang yang
immature (woven bone) diubah menjadi mature (lamellar bone).
e. Stadium Remodelling.
Fraktur telah dihubungkan dengan selubung tulang yang kuat dengan bentuk
yang berbeda dengan tulang normal. Dalam waktu berbulan-bulan bahkan
bertahun-tahun terjadi proses pembentukan dan penyerapan tulang yang terus
menerus lamella yang tebal akan terbentuk pada sisi dengan tekanan yang
tinggi.

27
BAB III
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama :S
Umur : 85 tahun
No. CM : 1-13-48-77
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Darussalam
Suku : Aceh
Agama : Islam
Status : kawin
Tanggal Masuk : 12 Juli 2017
Tanggal Pemeriksaan : 28 juli 2017

II. ANAMNESIS

28
Keluhan Utama : nyeri pada kaki kiri dan sulit menggerakkan
kaki
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien dibawa ke IGD RSUDZA dengan keluhan nyeri pada kaki kiri dan
sulit menggerakkan kaki sejak 1 hari yang lalu. Awalnya pasien sedang berjalan
hendak ke kamar mandi lalu tiba-tiba pasien terpeleset dan terjatuh. Saat terjatuh
posisi pasien dalam keadaan duduk. Kaki kiri pasien tampak bengkak dan saat
dilakukan palpasi terdengar suara krepitasi. Pasien menyangkal adanya perjalaran
nyeri dan menyangkal adanya benturan kepala. Pasien mengaku tidak
mengkonsumsi obat apapun untuk mengurangi gejala sebelum masuk rumah sakit.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat terjatuh sebelumnya disangkal, riwayat penyakit lainnya disangkal.

Riwayat Pemakaian Obat


Pasien belum pernah diberikan obat apapun.

Riwayat Kebiasaan/Sosial
Pasien sudah tidak bekerja sejak 20 tahun, dulunya pasien seorang
pedagang.

III. PEMERIKSAAN FISIK


Keadaan Umum : Sakit sedang
Kesadaran : Compos Mentis
Nadi : 81 x/menit
Frekuensi Nafas : 21x/menit
Temperatur axila : 36C

STATUS INTERNUS
a. Kulit
Warna : Normal
Turgor : Normal
Ikterus : (-)
Pucat : (-)

29
b. Kepala
Kepala : Normochepali
Rambut : Warna hitam, distribusi rata, tidak mudah dicabut
Wajah : Simetris, ikterik (-)
Mata : Konjungtiva pucat (-/-)
Telinga : Normotia
Hidung : NCH (-), sekret (-)
Mulut : Bibir pucat (-), sianosis (-)

c. Leher
Inspeksi : Simetris, pembesaran KGB (-)

d.Paru
Inspeksi : Simetris, retraksi (-), laju nafas 36x/menit, reguler
Palpasi : Fremitus taktil normal
Perkusi : Sonor / Sonor
Auskultasi : Vesikuler (+/+), Whezzing (-/-), Rhonki (-/-)

e. Jantung
HR: 83 x/menit, regular (+), bising jantung (-)

f. Abdomen
Inspeksi : distensi (-)
Auskultasi : peristaltik (+)
Palpasi : Soepel, nyeri tekan (-)
Perkusi : Timpani (+) di keempat kuadran

g. Ekstremitas
Status Lokalis
a/r Hip joint dx
Look
Tertutup verban, hiperemis, edema sekitar fraktur (+)
Feel
Nyeri tekan : (-)

30
Suhu kulit setempat : lebih tinggi
Krepitasi : (-)
CRT : <2 detik
Suhu : akral hangat
Movement
a/r knee joint sinistra
Fleksi Aktif : Nyeri (+), gerakan terbatas
Pasif : Nyeri (+), gerakan terbatas
Ekstensi Aktif : Nyeri (+), gerakan terbatas
Pasif : Nyeri (+), gerakan terbatas
a/r hip joint sinistra
Fleksi Aktif : Nyeri (+), gerakan terbatas
Pasif : Nyeri (+), gerakan terbatas
Ekstensi Aktif : Nyeri (+), gerakan terbatas
Pasif : Nyeri (+), gerakan terbatas
a/r ankle joint sinistra
Adduksi Aktif : Nyeri (-), gerakan normal
Pasif : Nyeri (-), gerakan normal
Abduksi Aktif : Nyeri (-), gerakan normal
Pasif : Nyeri (-), gerakan normal
Pronasi Aktif : Nyeri (-), gerakan normal
Pasif : Nyeri (-), gerakan normal
Supinasi Aktif : Nyeri (-), gerakan normal
Pasif : Nyeri (-), gerakan normal

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Hasil Laboratorium
Darah Rutin (25 Juli 2017)
Jenis pemeriksaan Hasil Pemeriksaan Nilai Rujukan
Hemoglobin 9,8 14,0- 17,0 gr/dl
Leukosit 14,8 4,5 10,5 /mm3
Trombosit 293 150 - 450 103 /mm3
Hematokrit 30 53 - 63 %

31
Eritrosit 3,4 4,7 - 6,7 106 /mm3
Hitung Jenis
Eosinofil 1% 0-6%
Basofil 0% 0-2%
Neutrofil Batang 0% 2-6%
Neutrofil Segmen 93 % 50-70%
Limfosit 4% 20-40%
Monosit 2% 2-8%

Kimia Klinik
Jenis pemeriksaan Hasil Pemeriksaan Nilai Rujukan
Ginjal Hipertensi
Ureum 48 mg/dL 13-43 mg/dL
Kreatinin 1,09 mg/dL 0,67-1,17 mg/dL
Elektrolit-serum
Natrium (Na) 134 mmol/L 132 -147 mmol/L
Kalium (K) 4,8 mmol/L 3,5 - 4,5 mmol/L
Clorida (Cl) 103 mmol/L 95 -116 mmol/L

Foto Pelvic AP

Kesimpulan : Tampak diskontinuitas intertrokanter femur sinstra

32
Kesan :
Tampak HIP prethese terpasang dengan baik, articulatio coxae dextra.
Tampak complete fracture ar 1/3 collum os femoris dextra.
Kedudukan baik, soft tissue normal.
Belum unionisasi
Tak tampak osteomielitis dan selulitis.

V. DIAGNOSA KERJA
Close fracture intertrochanter femur sinistra

VI. PENATALAKSANAAN
Non Farmakologi
IVFD futrolit 20cc/jam
Diet MB
Farmakologi
Drip paracetamol 1 gr /8 jam
Inj.keterolac 1amp /12
Operatif
Skin traksi
Bipolar Athroplasty

VII. PROGNOSIS

Quo ad Vitam : dubia ad bonam


Quo ad Sanactionam : dubia ad bonam
Quo ad Functionam : dubia ad bonam

33
BAB IV
ANALISA KASUS

Pasien dibawa ke IGD RSUDZA dengan keluhan nyeri pada kaki kiri dan
sulit menggerakkan kaki sejak 1 hari yang lalu. Awalnya pasien sedang berjalan
hendak ke kamar mandi lalu tiba-tiba pasien terpeset dan terjatuh. Saat terjatuh
posisi pasien dalam keadaan duduk. Kaki kiri pasien tampak bengkak dan saat
dilakukan palpasi terdengar suara krepitasi. Pasien menyangkal adanya perjalan
nyeri dan menyangkal adanya benturan kepala. Pasien mengaku tidak
mengkonsumsi obat apapun untuk mengurangi gejala sebelum masuk rumah sakit.

Pada pemeriksaan fisik dijumpai fraktur, nyeri dan udem pada kaki kiri.
Sesuai dengan teori ketika terjadi respon berupa mekanik, maka akan terjadi
transfer energi ke jaringan, sehingga menyebabkan sock wave kortex tulang karena
benturan dan terjadi pemindahan energy. Ketika energy yang dihasilkan melebihi
batas toleransi jaringan maka akan terjadi disfungsi jaringan sehingga
menyebabkan fraktur. Ketika terjadi trauma, aliran darah kejaringan meningkat
sehingga menyebabkan edema dan terjadi proses inflamasi, akibat terjadinya
edema maka saraf yang mempersarafi daerah sekitar jaringan yang mengalami
edema sehingga terjepit dan timbul rasa nyeri dan kebas pada daerah tersebut.
Tanda-tanda dari fraktur tulang yaitu nyeri gerak, tekan, dan pembengkakan
di sekitar fraktur. Lalu terdapat juga deformitas berupa angulasi yang disebabkan
ole kekerasan ataupun otot-otot ekstrenitas yang menarik patah tulang, pemendekan
terjadi saat tonus ekstrenitas menarik patah tulang sehingga patah tulang
menumpuk misalnya otot paha yang menarik pada patah tulang pada tulang fraktur
femur.
Tatalaksana pada pasien ini yaitu pemberian anti nyeri berupa paracetamol
dan ketorolac untuk mengurangi rasa nyeri yang dirasakan penderita. Tindakan
operasi pada pasien ini berupa skin traksi dan Bipolar Athroplasty. Pada skin traksi
digunakan untuk penanganan patah tulang berupa reduksi dan imobilisasi pada
pasien anak dan dewasa yang membutuhkan kekuatan tarikan sedang dengan beban
tidak lebih dari 5 kg serta lama pemasangan tidak lebih dari 3-4 minggu karena
dapat menyeabkan iritasi kulit.

34
Pilihan pengobatan pembedahan untuk fraktur neck femur termasuk fiksasi
internal (yang tidak disarankan pada pasien lanjut usia) dan arthroplasty. Indikasi
pembedahan arthroplasty yaitu nyeri dan disfungsi progresif dan/atau penurunan
mobilitas, rawat diri, dan AKS sekalipun telah mendapat terapi konservatif. Indikasi
berdasarkan penyakitnya berupa osteoartritis, rheumatoid artritis, nekrosis
avaskular, penyakit degeneratif sendi pasca trauma (posttraumatic degenerative
joint disease), kelainan kongenital, dan infeksi dalam sendi atau pada tulang di
sekitarnya.

Bipolar arthroplasti dapat mengurangi gerakan pada asetabulum asal


(pertemuan kartilagometal), dengan cara meningkatkan pergerakan pada bagian
prosthetik yang bebas bergerak (moveable); dan dengannya mengurangi
pembebanan (stress), aus (wear), atau erosi. Penggunaan endoprosthesis bipolar
sama dengan unipolar, atau dapat pula digunakan pada arthroplasti revisi (revision
arthroplasty).

35
BAB V
KESIMPULAN

Fraktur yang paling banyak terjadi pada pasien usia lebih dari 50 tahun adalah
fraktur femur proksimal. Fraktur femur proksimal atau secara umum disebut fraktur
hip diklasifikasikan berdasarkan lokasi anatominya. Fraktur neck femur dan
intertrokanter femur memiliki frekuensi yang hampir sama. Sembilan dari 10
fraktur hip terjadi pada pasien usia 65 tahun atau lebih. Peningkatan kerapuhan
tulang akibat osteoporosis dan osteomalacia sekunder hingga kurangnya ambulansi
yang memadai atau aktivitas antigravitasi, serta penurunan kadar hormon,
peningkatan kadar hormon demineralisasi, penurunan asupan kalim atau vitamin D,
dan proses penuaan lainnya.

36
DAFTAR PUSTAKA

1. www.orthofracs.com/adult/trauma/hip/fracture-not-intertrochanteric.html#ana
2. medicine.medscape.com/article/1247210-overview
3. Apley, A.G.,L. Solomon. 1995. Buku Ajar Ortopedi Fraktur Sistem Apley.
Edisi 7. Jakarta: Widya MedikaKoval, Kenneth J. Handbook of fractures. 2nd
ed. Philadelphia. 2002. Lippincott Williams & Wilkins. P(182-190).
4. Mansjoer, Arif,. 2000. Kapita Selekta Kedokteran jilid 2 edisi 3.
MediaAesculapius : FKUI.
5. Mardhiya, W.R. 2009. Fraktur Femur. Pekanbaru : Universitas Riau. Moore,
K.L., A.M.R. Agur. 2002. Essensial Clinical Anatomy. Jakarta: Hipokrates.
6. Feng W, Haife Z. 2015. Comparison of bipolar hemiarthroplasty and total hip
arthroplasty for displaced femoral neck fractures in the healthy elderly: a
meta-analysis. BMC Muscuskeletal Disorder.

8. Suratun, dkk. (2008). Klien Gangguan System


Musculoskeletal: Seri Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC
9. Corwin, Elizabeth J. (2009). Buku Saku Patofisiologi,
Ed. 3. Jakarta: EGC

37
10. Corwin, Elizabeth J. (2009). Buku Saku Patofisiologi, Ed.
3. Jakarta: EGC

KLASIFIKASI

5.Agur AMR, Dalley AF. Grants Atlas of Anatomy 12th


edition. New York: Lippincott William Wilkins. 2009.
p. 422-5.

KLASIFIKASI

1Nalyagam S. Principles of Fractures. In: Solomon L.


Apleys System of Orthopaedics and Fractures. Ninth
edition. UK: 2010. p. 687-693.

2Bucholz, Robert W.; Heckman, James D. Fractures of


The Tibia and Fibula. In: Court-Brown, Charles M.
Rockwood & Green's Fractures in Adults, 7th Edition.
UK: Lippincott Williams & Wilkins. 2006. p. 1868-76.

3.Koval, Kenneth J.; Zuckerman, Joseph D. Handbook of


Fractures, 4th Edition. USA: Lippincott Williams &
Wilkins. 2006.p. 464-75.

4. Thompson, John C. Thigh/Hip: Netter's Concise


Orthopaedic Anatomy. 2th

38
Klasifikasi no 8

Asrizal, R.A. 2014. Closed Fracture 1/3 Middle Femur


Dextra. Jurnal.Vol.2 No.3. FK UNLAM : Lampung

39