Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Hadits adalah segala sesuatu yang bersumber atau disandarkan
kepada Nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan, perbuatan atau
taqrirnya. Sebagai sumber ajaran Islam setelah Al-Qur'an, sejarah
perjalanan Hadits tidak terpisahkan dari sejarah perjalanan Islam itu
sendiri. Akan tetapi, dalam beberapa hal terdapat ciri-ciri tertentu
yang spesifik, sehingga dalam mempelajarinya diperlukan pendekatan
khusus.
Hadis dapat disebut sumber hukum Islam ke-dua setelah Al-
Quran karena, hadis diriwayatkan oleh para perawi dengan sangat
hati-hati dan teliti. Tidak seperti Al-Qur'an, dalam penerimaan Hadits
dari Nabi Muhammad SAW banyak mengandalkan hafalan para
sahabatnya, dan hanya sebagian saja yang ditulis oleh mereka.
Penulisan itupun hanya bersifat dan untuk kepentingan pribadi. Dengan
demikian, hadits-hadits yang ada pada para sahabat, yang kemudian
diterima oleh para tabi'in, memungkinkan ditemukan adanya redaksi
yang berbeda-beda. Sebab ada yang meriwayatkannya sesuai atau
sama benar dengan lafadz yang diterima dari Nabi SAW, dan ada
yang hanya sesuai makna atau maksudnya saja, sedangkan redaksinya
tidak sama.
Atas dasar itulah, maka dalam makalah ini, akan dibahas lebih jauh lagi
bagaimana bentuk dinamika perkembangan hadits tersebut secara rinci dan
bentuk pemalsuan serta fungsi hadits sebagai sumber hukum kedua setelah Al-
Quran.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian hadits itu?
2. Bagaimana dinamika perkembangan hadits?
3. Bagaimana hadits sebagai sumber kedua setelah Al-Quran?

1
C. TUJUAN PENULISAN
1. Mampu memahami pengertian hadits.
2. Mampu Memahami dan mengerti tentang dinamika perkembangan
hadits.
3. Mampu memahami dan mengerti bahwa hadits sebagai sumber
kedua setelah Al-Quran.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN HADITS
Secara bahasa, hadis berasal dari bahasa Arab, yaitu: hadatsa,
hidats, hudatsa, dan huduts yang mempunyai makna yang baru (al-
jadid), yang dekat/belum lama terjadi (al-qarib), dan kabar berita (al-
khabar).1
Secara terminologi, hadis adalah sesuatu yang diriwayatkan dari
Rasulullah SAW, baik berupa perkataan, perbuatan dan ketetapannya
setelah beliau diangkat menjadi Nabi.2
Terdapat dua pandangan yang berbeda di kalangan para ulama
dalam mendefinisikan hadis. Pandangan pertama berasal dari golongan
jumhur al-muhaddisin (sebagian besar ahli hadis), yang mendefinisikan
hadis sebagai berikut:







Artinya: Segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad
SAW, baik berupa perkataan,perbuatan, ketetapan, atau yang lainnya.
Sedangkan pandangan kedua berasal dari golongan diluar jumhur al-
muhaddisin. Menurut mereka, hadis bukan hanya segala sesuatu yang
disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi segala yang
disandarkan kepada sahabat dan tabiin juga digolongkan sebagai
hadis.3
Adanya perbedaan pendapat mengenai definisi hadis ini bermula
dari perdebatan pandangan para ulama tentang permulaan terjadinya
hadis. Ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa permulaan hadis
terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW. Namun, ada pula yang

1
Khoiriyah, Memahami Metodologi Studi Islam (Yogyakarta: Teras, 2013), hlm. 63
2
Mardani, Hadis Ahkam cetakan pertama (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2012), hlm. 2
3
Ibid., hlm. 2-3
3
berpendapat bahwa hadis terjadi sebelum dan setelah masa kenabian
Muhammad SAW.

B. DINAMIKA PERKEMBANGAN HADITS


1. Masa Nabi Muhammad SAW
Membicarakan hadis pada masa Rasul SAW berarti
membicarakan hadis pada awal pertumbuhannya. Maka dalam
uraiannya akan terkait langsung dengan pribadi Rasul SAW
sebagai sumber hadis. Rasul SAW membina umatnya selama 23
tahun. Masa ini merupakan kurun waktu turunnya wahyu dan sekaligus
diwujudkannya Hadis.
Wahyu yang diturunkan Allah SWT kepadanya dijelaskannya
melalui perkataan (aqwal), perbuatan (afal), dan penetapan
(taqrir)-nya. Sehingga apa yang didengar, dilihat dan disaksikan
oleh para sahabat merupakan pedoman bagi amaliah dan ubudiyah
mereka. Rasul SAW merupakan satu-satunya bagi para sahabat,
karena ia memiliki sifat kesempurnaan dan keutamaan selaku Rasul
Allah SWT yang berbeda dengan manusia lainnya.
a. Cara Rasul SAW Menyampaikan Hadis
Ada suatu keistimewaan pada masa ini yang membedakannya
dengan masa lainnya. Umat islam secara langsung menerima
hadis dari Rasul SAW tanpa hijab. Allah menurunksan Al-
Quran dan mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai utusan-
Nya adalah sebuah paket yang tidak dapat dipisahkan, dan apa-
apa yang disampaikannya juga merupakan wahyu. Kedudukan
Nabi yang demikian itu secara otomatis menjadikan semua
perkataan, perbuatan dan taqrir Nabi sebagai referensi para
sahabat. Para sahabat secara proaktif berguru dan bertanya
kepadanya tentang segala sesuatu yang mereka tidak
mengetahuinya baik dalam urusan dunia maupun akhirat.
Oleh karena itu, tempat-tempat pertemuan diantara kedua
belah pihak sangatlah terbuka dalam banyak kesempatan. Tempat

4
yang biasa digunakan Rasul SAW cukup bervariasi, seperti di
masjid, rumahnya sendiri, pasar, ketika dalam perjalanan (safar)
dan ketika muqim (berada di rumah).4
Ada beberapa cara Rasul menyampaikan hadis kepada para
sahabat,yaitu :
Pertama, melalui para jamaah pada pusat pembinaaannya yang
disebut majlis al-Ilmi. Melalui ini, para sahabat memperoleh
banyak peluang untuk menerima hadis, sehingga mereka
berusaha untuk selalu mengkonsentrasikan diri guna mengikuti
kegiatan dan ajaran yang diberikan oleh Nabi.
Kedua, dalam banyak kesempatan Rasul juga menyampaikan
hadisnya melalui para sahabat tertentu, yang kemudian
disampaikannya kepada orang lain. Hal ini karena terkadang
ketika ia mewujudkan hadis, para sahabat yang hadir hanya
beberapa orang saja, baik karena disengaja oleh Rasul sendiri
atau secara kebetulan para sahabat yang hadir hanya beberapa
orang saja, bahkan hanya satu orang, seperti hadis-hadis yang
ditulis oleh Abdullah ibn Amr ibn Al-Ash
Ketiga, cara yang dilakukan Rasul adalah melalui ceramah atau
pidato di tempat terbuka, seperti ketika haji wada dan fathul
Makkah.5
b. Perbedaan para sahabat dalam menguasai hadis
Di antara para sahabat tidak sama kadar perolehan dan
penguasaan hadis. Ada yang memilikinya lebih banyak, tetapi
ada yang sedikit sekali. Hal ini tergantung kepada beberapa
hal:
1. Pertama, perbedaan mereka dalam soal kesempatan bersama
Rasul.

4
Mus thafa Al- Sibai, Al-Sunnah wa Mak anatuha fi Al -TasyriAl-Islami (Kairo: Dar Al-Salam,
1988), Cet.Ke-1,hlm. 64
5
Ibid., hlm. 64-65
5
2. Kedua, perbedaan mereka dalam soal kesanggupan bertanya
kepada sahabat lain,
3. Ketiga, perbedaan mereka karena berbedanya waktu
masuk Islam dan jarak tempat tinggal dari masjid Rasul.
c. Menghafal dan Menulis Hadis
Untuk memelihara kemurnian dan mencapai kemaslahatan
Al-Quran dan Hadis, sebagai dua sumber ajaran Islam, Rasul
menempuh jalan yang berbeda. Yaitu menghafal dan menulis.
Ada dorongan kuat yang cukup memberikan motivasi kepada
para sahabat dalam kegiatan menghafal hadis ini. Pertama,
karena kegiatan menghafal merupakan budaya bangsa Arab yang
telah diwarisinya sejak pra islam dan mereka terkenal kuat
hafalannya; kedua, Rasul banyak memberikan spirit melalui
doa-doanya; ketiga, seringkali ia menjanjikan kebaikan
akhirat kepada yang menghafal dan menyampaikannya kepada
orang lain. Rasulullah SAW memerintahkan kepada para
sahabatnya untuk menghafal dan menyampaikan /
menyebarluaskan hadisnya, dalil yang menunjukkan perintah
ini yaitu berdasarkan sabda Rasulullah SAW.
Dan ceritakanlah dari padaku. Tidak ada keberatan
bagimu untuk menceritakan apa yang didengar dari padaku.
Barang siapa berdusta terhadap diriku, hendaklah ia bersedia
menempati kediamannya di neraka.

2. Masa Sahabat Nabi


Periode kedua sejarah perkembangan hadits adalah masa
sahabat, khususnya adalah Khulafa al-Rasyidun (Abu Bakar al-
Shiddiq, Umar bin Khathab, Ustman bin Affan, dan Ali bin Abi
Thalib), sehingga masa ini dikenal dengan masa sahabat besar.6

6
Mohammad Nor Ichwan, Studi Ilmu Hadits (Semarang: RaSAIL Media Group, 2007), hlm.
79
6
Periode ini juga dikenal dengan zaman Al-Tasabbut wa al-
Iqlal min al-Riwayah yaitu periode membatasi hadits dan
menyedikitkan riwayat. Hal ini disebabkan karena para sahabat pada
masa ini lebih mencurahkan perhatiannya kepada pemeliharaan dan
penyebaran Al-Quran. Akibatnya periwayatan haditspun kurang
mendapat perhatian, bahkan mereka berusaha untuk bersikap hati
- hati dan membatasi dalam meriwayatkan hadits.
Kehati - hatian dan usaha membatasi periwayatan dan
penulisan hadits yang dilakukan para sahabat, disebabkan karena
mereka khawatir terjadinya kekeliruan dan kebohongan atas nama
Rasul SAW, karena hadits adalah sumber ajaran setelah Al-
Quran.7
Keberadaan hadits yang demikian harus dijaga
keautentikannya sebagaimana penjagaan terhadap Al-Quran. Oleh
karena itu, para sahabat khususnya Khulafa al- Rasyidin, dan
sahabat lainnya seperti Al - zubair, Ibn Abbas, dan Abu Ubaidah
berusaha keras untuk memperketat periwayatan hadits. Berikut
ini akan diuraikan periwayatan hadis pada masa sahabat.
Abu Bakar Al-Shiddiq
Pada masa pemerintahan Abu Bakar, periwayatan hadits
dilakukan dengan sangat hati hati. Bahkan menurut Muhammad
bin Ahmad Al-Dzahabi (wafat 748H/1347M), sahabat Nabi
yang pertama-tama menunjukkan sikap kehati- hatiannya
dalam meriwayatkan hadits adalah Abu Bakar Al-Shiddiq.
Sikap ketat dan kehati - hatian Abu Bakar tersebut juga
ditunjukkan dengan tindakan konkrit beliau, yaitu dengan
membakar catatan-catatan hadits yang dimilikinya. Hal ini
sebagaimana dinyatakan oleh Aisyah (putri Abu Bakar) bahwa
Abu Bakar telah membakar catatan yang berisi sekitar lima
ratus hadist. Tindakan Abu Bakar tersebut lebih
dilatarbelakangi oleh karena beliau merasa khawatir

7
Khus niati Rofiah, Studi Ilmu Hadits (Ponorogo: STAIN PO Pres s , 2010), hlm. 71
7
berbuat salah dalam meriwayatkan hadits Sehingga, tidak
mengherankan jika jumlah hadits yang diriwayatkannya juga
tidak banyak. Padahal, jika dilihat dari intensitasnya bersama
Nabi, beliau dikatakan sebagai sahabat yang paling lama bersama
Nabi, mulai dari zaman sebelum Nabi hijrah ke Madinah hingga
Nabi wafat.
Selain sebab - sebab di atas, menurut Suhudi Ismail,
setidaknya ada tiga faktor yang menyebabkan sahabat Abu
Bakar tidak banyak meriwayatkan hadits, yaitu:
(1) Dia selalu dalam keadaan sibuk ketika menjabat sebagai
khalifah;
(2) Kebutuhan akan hadits tidak sebanyak pada sesudahnya;
(3) Jarak waktu antara kewafatannya dengan kewafatan Nabi
sangat singkat.
Dengan demikian, dapat dimaklumi kalau sekiranya aktifitas
periwayatan hadits pada masa Khalifah Abu Bakar masih sangat
terbatas dan belum menonjol, karena pada masa ini umat Islam
masih dihadapkan oleh adanya beberapa kenyataan yang sangat
menyita waktu, berupa pemberontakan-pemberontakan yang dapat
membahayakan kewibawaan pemerintah setelah meninggalnya
Rasulullah SAW baik yang datang dari dalam (intern) maupun
dari luar (ekstern). Meskipun demikian, kesemuanya tetap dapat
diatasi oleh pasukan Abu Bakar dengan baik.
Umar ibn al-Khathab
Tindakan hati - hati yang dilakukan oleh Abu Bakar al-
Shiddiq, juga diikuti oleh sahabat Umar bin Khathab. Umar
dalam hal ini juga terkenal sebagai orang yang sangat berhati-
hati di dalam meriwayatkan sebuah hadits. Beliau tidak mau
menerima suatu riwayat apabila tidak disaksikan oleh sahabat
yang lainnya.
Hal ini memang dapat dipahami, karena memang pada masa
itu, terutama masa khalifah Abu Bakar dan khalifah Umar bi

8
Al-Khathab naskah Al-Quran masih sangat terbatas jumlahnya,
dan karena itu belum menyebar ke daerah - daerah
kekuasaan Islam. Sehingga dikhawatirkan umat Islam yang
baru memeluk Islam saat itu tidak bisa membedakan antara
Al-Quran dan Al-Hadits.
Pada periode ini menyusun catatan-catatan terdahulu juga
dilarang, karena dari catatan tersebut tidak dapat diketahui
mana yang haq dan mana yang bathil, demikian pula dengan
pencatat ilmu juga dilarang. Meskipun demikian, pada masa
Umar ini periwayatan hadits juga banyak dilakukan oleh umat
Islam. Tentu dalam periwayatan tersebut tetap memegang prinsip
kehati-hatian.
Utsman Ibn Affan
Pada masa Usman Ibn Affan, periwayatan hadits dilakukan
dengan cara yang sama dengan dua khalifah sebelumnya. Hanya
saja, usaha yang dilakukan oleh Utsman Ibn Affan ini tidaklah
setegas yang dilakukan oleh Umar bin Al-Khathab. Meskipun
Utsman melalui khutbahnya telah menyampaikan seruan agar
umat Islam berhati-hati dalam meriwayatkan hadits. Namun
pada zaman ini, kegiatan umat Islam dalam periwayatan hadist
telah lebih banyak bila dibandingkan dengan kegiatan
periwayatan pada zaman dua khalifah sebelumnya. Sebab,
seruannya itu ternyata tidak begitu besar pengaruhnya terhadap
para periwayat yang bersikap longgar dalam periwayatan
hadist. Hal ini lebih disebabkan karena selain pribadi Utsman
yang tidak sekeras pribadi Umar, juga karena wilayah Islam
telah bertambah makin luas. Yang mengakibatkan bertambahnya
kesulitan pengendalian kegiatan periwayatan hadis secara ketat.
Ali bin Abi Thalib
Khalifah Ali bin Abi Thalib dalam meriwayatkan hadits
tidak jauh berbeda dengan para khalifah pendahulunya.
Artinya, Ali dalam hal ini juga tetap berhati-hati didalam

9
meriwayatkan hadits. Dan diperoleh pula atsar yang
menyatakan bahwa Ali r.a tidak menerima hadits sebelum
yang meriwayatkannya itu disumpah.8 Hanya saja, kepada
orang-orang yang benar-benar dipercayainya, Ali tidak meminta
mereka untuk bersumpah.
Dengan demikian, fungsi sumpah dalam periwayatan
hadits bagi Ali tidaklah sebagai syarat mutlak keabsahan
periwayatan hadits. Sumpah dianggap tidak perlu, apabila
orang yang menyampaikan riwayat hadits telah benar-benar
diyakini tidak mungkin keliru.
Ali bin Abi Thalib sendiri cukup banyak meriwayatkan
hadits Nabi. Hadits yang diriwayatkannya, selain dalam bentuk
lisan, juga dalam bentuk tulisan (catatan). Hadits yang berupa
catatan, isinya berkisar tentang:
[1] hukuman denda (diyat);
[2] pembebasan orang Islam yang ditawan oleh orang kafir;
[3] larangan melakukan hukum (qishash) terhadap orang Islam
yang membunuh orang kafir.
Dalam Musnad Ahmad, Ali bin Abi Thalib merupakan
periwayat hadist yang terbanyak bila dibandingkan dengan
ketiga khalifah pendahulunya.

3. Masa Tabiin
a. Periwayatan Hadits Masa Tabiin
Pada dasarnya periwayatan yang dilakukan oleh kalangan
Tabiin tidak berbeda dengan yang dilakukan oleh para sahabat.
Hanya saja persoalan yang dihadapi mereka agak berbeda
dengan yang dihadapi para sahabat. Pada, masa ini al-Quran
sudah dikumpulkan dalam satu mushaf. Ketika pemerintah

8
Teungku Muhammad Has bi As h Shiddieqy, Sejarah & Pengantar Ilmu Hadits (Semarang:
Pus taka Rizki Putra,1999), hlm. 47

10
dipegang oleh Bani Umayah, wilayah kekuasaan Islam sampai
meliputi Mesir, Persia, Iraq, Afrika, Bashrah, Syam dan
Khurasan. Penyebaran para sahabat ke daerah-daerah tersebut
terus meningkat, sehingga masa ini dikenal dengan masa
menyebarnya periwayatan hadis (intisyar al-riwayah ila al-
amshar).
Beberapa kota sebagai pusat pembinaan dalam periwayatan
hadis, sebagai tempat tujuan para Tabiin dalam mencari
hadis. Kota-kota tersebut ialah Madinah al- Munawarrah,
Makkah Al-Mukarramah, Kufah, Basrah, Syam, Mesir,
Maghribi dan Andalus, Yaman dan Khurasan. Beberapa
orang yang meriwatyatkan hadis cukup banyak, antara lain
Abu Hurairah, Abdullah ibn Umar, Anas ibn Malik, Aisyah,
Abdullah ibn Abbas, Jaabir Ibn Abdillah dan Abi Said Al-
Khudri.9
Pusat pembinaan pertama adalah Madinah, karena di
sinilah Rasul SAW menetap setelah Hijrah. Di sini pula Rasul
membina masyarakat Islam yang di dalamnya terdiri atas
Muhajirin dan Anshar dari berbagai suku dan kabilah.
Di antara para Tabiin yang membina hadis di Makkah
yaitu, Mujtahid ibn Jabbar,Atha ibn Abi Rabah, Thawus ibn
Kaisan dan Ikrimah maulana ibn Abbas.
Di antara para tabiin yang membina hadis di Kufah yaitu
yaitu, Al-Rabi ibn Qosim, Kamal ibn Zaid Al-Nakhai dan Abu
Ishaq Al-Sabi.
Di antara para Tabiin yang membina hadis di Basrah
yaitu, Hasan Al-Bishri, Muhammad ibn Sirrin, AyubAl-
Sakhyatani, Yunus ibn Ubaid, Abdullah ibn Aun, Kahatadah
ibn Duamah Al-Sudusi dan Hisyam ibn Hasan. 10

9
Ibid., hlm.111
10
Ibid., hlm.192 dan 242.
11
Di antara para tabiin yang membina hadis di Syam yaitu
Salim ibn Abdillah al-Muharibi,Abu Idris Al- Khaulani, Abu
Sulaiman Al-Darani dan Umar ibn Hanai. 11
Para tabiin yang membina di Mesir diantaranya Amr ibn
Haris, Khair ibn Nuaimi Al-Hadrami,Yazid ibn Abi
Habib,Abdullah ibn Abi Jafar dan Abdullah ibn Sulaiman
Al-Thawil.12
Para tabiin d i Maghribi dan Andalus yaitu yaitu, Ziyad ibn
Anam Al-Muarif,Abdurrahman ibn Ziyad, Yazid ibn Abi
Mansyur,Al-Mughirah ibn Abi Burdah,Rifaaf ibn Rafi dan
Muslim ibn Yasar.
Sedang para tabiin yang terjun di Yaman yaitu, Muhammad
ibn Ziyad, Muhammad ibn Tsabit Al-Anshari dan Yahya ibn
Sabih Al-Mugri.
b. Pergolakan Politik dan Pemalsuan Hadits
Pada masa tabiin ini, terjadi pergolakan politik. Pergolakan
ini sebenarnya telah terjadi pada masa sahabat, setelah
terjadinya perang Jamal dan perang Siffin yaitu ketika
kekuasaan di pegang oleh Ali bin Abi Thalib. Langsung atau
tidak dari pergolakan politik di atas, cukup memberikan
pengaruh terhadap perkembangan hadis berikutnya. Pengaruh
yang langsung dan bersifat negatif ialah dengan munculnya
hadis-hadis palsu (maudhu) untung mendukung
kepentingan politiknya masing- masing kelompok dan untuk
menjatuhkan posisi lawan-lawannya

11
Ibid., hlm.193 dan 242
12
Ibid., hlm.193 dan 241
12
4. Masa Pembukuan Hadits
a. Periode abad ke- II H
Pada waktu Umar Bin Abdul Aziz (Khalifah ke-8 Bani
Umayyah) yang naik tahta pada tahun 99 H berkuasa, beliau
dikenal sebagai orang yang adil dan wara, tergeraklah hatinya
untuk membukukan hadits dengan motif :
1. Beliau khawatir ilmu hadits akan hilang karena belum
dibukukan dengan baik.
2. Kemauan beliau untuk menyaring hadits palsu yang sudah
mulai banyak beredar.
3. Al-Quran sudah dibukukan dalam mushaf, sehingga
tidak ada lagi kekhawatiran tercampur dengan hadits bila
hadits dibukukan.
4. Peperangan dalam penaklukan negeri negeri yang belum
Islam dan peperangan antar sesama kaum Muslimin
banyak terjadi, dikhawatirkan ulama hadits berkurang
karena wafat dalam peperangan-peperangan tersebut.
Khalifah Umar menginstruksikan kepada Gubernur
Madinah Abu Bakar Bin Muhammad Bin Amr Bin Hazm
(Ibnu Hazm) untuk mengumpulkan hadits yang ada padanya dan
pada tabiin wanita Amrah Binti Abdur Rahman Bin Saad
Bin Zurarah Bin Ades, murid Aisyah-Ummul Mukminin.
Berdasarkan instruksi resmi Khalifah itu, Ibnu Hazm minta
bantuan dan menginstruksikan kepada Abu Bakar Muhammad
Bin Muslim Bin Ubaidillah Bin Syihab az Zuhry (Ibnu Syihab
Az Zuhry) seorang ulama besar dan mufti Hijaz dan Syam
untuk turut membukukan hadits Rasulullah SAW. Secara umum
ciri-ciri yang dimaksud adalah sebagai berikut:
a. Kitab hadits dalam periode ini, belum ada pemisahan antara
hadits marfu, hadits mauquf dan hadits maqthu
b. Hadist yang ditulis dalam kitab hadits saat itu, umumnya
belum dikelompokkan dalam judul-judul (maudhu) tertentu.

13
c. Hadits-hadits yang disusun dalam kitab belum dipisah,
antara yang shahih, hasan dan dhaif.
Diantara kitab yang disusun pada abad ke -2 H, yang
terkenal diantaranya :
1. Al-Muwaththa, karya Imam Malik Bin Anas (95 H 179 H).
2. Al Masghazy wal Siyar, hadits sirah nabawiyah karya
Muhammad Ibn Ishaq (150 H).
3. Al Mushannaf, karya Sufyan Ibn Uyainah (198 H)
4. Al Musnad, karya imam Abu Hanifah (150 H)
5. Al Musnad, karya imam Syafii (204 H)
b. Periode abad ke- III H
Periode ini dimulai sejak masa akhir pemerintahan Bani
Abbas angkatan pertama (Khalifah al-Makmun) sampai awal
pemerintahan Bani Abbas angkatan ke dua (Khalifah al-
Muqtadir). Periode abad ini disebut sebagai masa
penyaringan dan seleksi hadits, karena pada masa inilah
kegiatan pentashihan hadits Nabi mulai dilakukan dengan
sitematis. Pada awal abad III H dilakukan upaya penyempunaan;
berupa kegiatan sebagain berikut:
1. Mengadakan perlawatan ke daerah-daerah yang jauh.
Kegiatan ini dilakukan karena hadits-hadits Nabi yang sudah
dibukukan pada abad II H baru terbatas pada hadits Nabi
yang ada di kota-kota tertentu saja, padahal dengan telah
tersebarnya para perawi hadits ke tempat-tempat yang jauh
(karena kekuasaan Islam telah semakin luas), maka masih
sangat banyak hadits Nabi yang belum dibukukan. Oleh
karena itu untuk melengkapi koleksi hadits Nabi,
jalan satu-satunya adalah melakukan rihlah (perjalanan)
ke tempat-tempat yang dimaksud.
2. Mengadakan klasifikasi antara hadits yang marfu(hadits
yang disandarkan kepada Nabi), mauquf (yang disandarkan
kepada Sahabat Nabi) dan yang maqthu(yang disandarkan

14
kepada Tabiin). Dengan usaha ini, maka hadits Nabi telah
terpelihara dari percampuran dengan fatwa sahabat dan fatwa
tabiin.
3. Para ulama mulai mengadakan seleksi kualitas hadits antara
hadits yang shahih dan yang dhaif.
4. Menghimpun kritik yang dilontarkan para ahli ilmu kalam
dan lain-lain, baik kritik yang ditujukan kepada pribadi
perawi maupun pada matan hadits.
5. Menyusun kitab hadits hadits berdasarkan tema dan masalah,
sehingga kitab tersebut memiliki bab-bab sesuai dengan
masalah tertentu. Metode ini dikenal dengan istilah metode
Mushannaf.
Sistem pembukuan (kodifikasi) hadits pada periode ini
dapat diklasifikasikan ke dalam tiga bentuk :
1. Kitab Shahih, yaitu kitab hadits yang disusun dengan cara
menghimpun hadits-hadits yang berkualitas shahih, sedang
hadits-hadits yang berkualitas tidak shahih tidak
dimasukkan ke dalam kitab. Contohnya kitab al-Jami
al-Shahih, karya al-Bukhari
2. Kitab Sunan, yaitu kitab hadits yang dususun, selaim
memuat hadits-hadits yang berkualitas shahih, juga mengikut
sertakan hadits yang berkualitas hasan dan dhaif, dengan
catatan tidak berkualitas hadits mungkar dan terlalu lemah.
Contohnya adalah Kitab Sunan Abu Dawud
3. Kitab Musnad, yaitu kitab hadits yang disusun dengan
menggunakan nama-nama perawi pertamanya (rawi dari
kalangan shahabat Nabi) sebagai bab. Kitab musnad ini
berisi hadits yang berkualitas shahih dan tidak shahih, tetapi
tidak dijelaskan kualitasnya oleh sang penyusun. Contoh
Kitab Musnad , karya Ahmad bin Hambal, Kitab Musnad.13

13
Fathurrahman, Ik htisar Mushthalah Hadits ( Bandung : al-Maarif, 1985) hlm. 39
15
Pada masa ini, juga terjadi penyusunan enam kitab
induk hadits (kutubus sittah), yaitu kitab-kitab hadits yang
diakui oleh jumhur ulama sebagai kitab-kitab hadits yang
paling tinggi mutunya, sebagian masih mengandung hadits dhaif
tapi ada yang dijelaskan oleh penulisnya dan dhaifnya pun
yang tidak keterlaluan dhaifnya, ke enam kuttubus shittah itu
adalah:
1. Sahih Bukhori
2. Sahih Muslim
3. Sunan Abu Dawud
4. Sunan An Nasai
5. Sunan At-Turmudzy
6. Sunan Ibnu Majah
c. Periode abad ke- IV H (periode menghafal dan
mengisnadkan hadits)
Para ulama hadits berlomba-lomba menghafalkan hadits
yang sudah tersusun pada kitab- kitab hadits.
Para ulama hadits mengadakan penelitian hadits-hadits
yang tercantum pada kitab-kitab hadits.
Ulama hadits menyusun kitab-kitab hadits yang bukan
termasuk kuttubus shittah.
d. Periode abad ke- V H sampai 656 H
Pada abad 5 H dan seterusnya adalah masa memperbaiki
susunan kitab Hadits seperti menghimpun yang terserakan
atau menghimpun untuk memudahkan mempelajarinya dengan
sumber utamanya kitab-kitab Hadits abad 4 H. Hal yang
dilakukan pada masa ini meliputi:
1. Mengklasifikasikan hadits dan menghimpun hadits-hadits
yang sejenis.
2. Menguraikan dengan luas (mensyarah) kitab-kitab hadits.
3. Memberikan komentar (takhrij) kitab-kitab hadits.
4. Meringkas (ikhtisar) kitab-kitab hadits.

16
5. Menciptakan kamus hadits.
6. Mengumpulkan (jami) hadits-hadits bukhori-Muslim
7. Mengumpulkan hadits targhib dan tarhib.
8. Menyusun kitab athraf, yaitu kitab yang hanya menyebut
sebagian hadits kemudian mengumpulkan seluruh sanadnya,
baik sanad kitab maupun sanad dari beberap a kitab.
9. Menyusun kitab istikhraj, yaitu mengambil sesuatu hadits
dari sahih Bukhori Muslim umpamanya, lalu meriwayatkannya
dengan sanad sendiri, yang lain dari sanad Bukhari atau
Muslim karena tidak memperoleh sanad sendiri.
10. Menyusun kitab istidrak, yaitu mengumpulkan hadits-hadits
yang memiliki syarat-syarat
11. Bukhari dan Muslim atau syarat salah seorangnya yang
kebetulan tidak diriwayatkan atau di sahihkan oleh
keduanya.
e. Periode dari tahun 656 H sampai sekarang
Periode ini terjadi mulai dari jatuhnya Baghdad oleh Hulagu
Khan dari Mongol tahun 656 H sekarang ini. Hal-hal yang
dilakukan meliputi:
1. Menertibkan, menyaring dan menyusun kitab kitab takhrij.
2. Membuat kitab-kitab jami
3. Menyusun kitab-kitab zawaid, yaitu mengumpulkan hadits-
hadits yang tidak terdapat dalam kitab-kitab yang
sebelumnya kedalam sebuah kitab yang tertentu.

17
C. HADITS SEBAGAI SUMBER HUKUM KEDUA
Al-Quran dan al-Hadits merupakan pedoman hidup serta sumber
hukum dalam ajaran Islam. Sehingga tidak dapat dipisahkan antara satu
dengan yang lainnya. Al-Quran sebagai sumber pertama, memuat
ajaran-ajaran yang bersifat umum dan global. Sedangkan hadits sebagai
sumber ajaran kedua tampil untuk menjelaskan (bayan) keumuman isi
Al-Quran tersebut. Hal ini sesuai dengan firman Allah QS.An-Nahl:44


..
Artinya: Dan Kami turunkan kepadamu Al-Quran agar kamu
menerangkan kepada umat manusia (QS.An-Nahl:44)

Allah SWT menurunkan Adz-Dzikr, yaitu Al-Quran sebagai


peringatan bagi manusia. Agar manusia bisa lebih mudah memahami
ayat Al-Quran yang diturunkan Allah, maka Dia mengutus rasulullah

Berikut akan dibahas mengenai fungsi hadits secara garis besar:

1. Bayan al-Takid
Secara bahasa bayan, berarti statement (pernyataan), tipe
(syle) dan penjelasan. Sedangkan takid berarti penetapan atau
penegasan. Maksud dari hadits sebagai bayan al-takid adalah
hadits berfungsi menetapkan atau menegaskan hukum yang
terdapat di dalam Al-Quran. Hal ini menunjukkan bahwa masalah-
masalah yang terdapat dalam Al-Quran dan hadits sangat penting
untuk diimani dan dijalankan oleh setiap muslim.
Di antara masalah-masalah yang ada dalam Al-Quran dan
disampaikan pula oleh Rasulullah di dalam hadits ialah tentang
ketentuan awal puasa Ramadhan, di antaranya terdapat dalam Al-
Quran surat al-Baqarah ayat 185;


)185 :(.
Artinya: Barang siapa yang menyaksikan bulan maka
berpuasalah.(QS.Al-Baqarah: 185).
Hal ini ditegaskan dalam Hadits:

18




) ( .
Artinya: Jika kalian melihatnya (bulan) maka berpuasalah, dan
jika kalian melihatnya (bulan) maka berbukalah (hari Raya Fitri),
namun jika bulan tertutup mendung yang menyulitkan kalian
untuk melihatnya, maka sempurnakanlah sampai 30 hari.(HR.
Muslim)
Dengan kata lain, Hadis dalam hal ini hanya
mengungkapkan kembali apa yang telah dimuat dan terdapat
dalam Al-Quran, tanpa menambah atau menjelaskan apa yang
termuat di dalam ayat-ayat tersebut.
2. Bayan al-Tafsir
Tafsir secara bahasa berarti penjelasan, interpretasi atau
keterangan. Maksud dari Hadits sebagai bayan al-tafsiradalah
Hadits/Sunnah berfungsi sebagai penjelasan atau interpretasi
kepada ayat-ayat yang tidak mudah dipahami. Hal ini dikarenakan
ayat-ayat tersebut bersifat mujmal (umum) sehingga perlu
penjelasan yang bisa menjelaskannya lebih terperinci. Sebagai
contoh ayat al-Quran kewajiban shalat dalam surat al-Baqarah
ayat 43;

)43:(
.
Artinya: Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukulah
bersama orang-orang yang ruku.(QS.Al-Baqarah: 43). Hal ini
dirincikan tata cara pelaksanannya dalam Hadits berikut;

)(
.
Artinya: Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku
shalat. (HR.al-Bukhari)
Dalam ayat diatas hanya ada perintah melaksanakan shalat,
namun tidak dijelaskan secara rinci bagaimana cara melaksanakan
shalat. Sehingga datanglah hadits yang menjelaskan bahwa cara

19
melaksanan shalat adalah sebagaimana yang dicontohkan oleh
Rasulullah.
3. Bayan al-Takhshish al-Amm
Takhshis berarti pengkhususan, pembatasan atau spesifikasi.
Dalam hal ini Hadits berfungsi mengkhususkan keumuman makna
yang sebutkan Al-Quran. Prof. Ramli Abdul Wahid dalam
buku Studi Ilmu Hadits menyatakan bahwa maksud takhshish
disini adalah sebagai keterangan yang mengeluarkan atau
mengecualikan suatu masalah dari makna umum ayat. Contohnya
ayat al-Quran tentang hukum warisan, yaitu;


)11: (.

Artinya: Allah telah mewasiatkan kepadamu tentang bagian
anak-anakmu, yakni laki-laki sama dengan dua orang anak
perempuan. (QS.an-Nisa:11)
Ayat tersebut bersifat umum bahwa semua anak mewarisi
harta orang tuannya. Selanjutnya datang hadits yang
mengecualikan anak atau seseorang yang tidak bisa mewarisi,
yaitu:

)( .

Seorang muslim tidak boleh mewarisi harta si kafir dan si kafir
pun tidak boleh mewarisi harta si muslim. (HR.Jamaah)
Berdasarkan ayat di atas diketahui bahwa semua anak baik
laki-laki maupun perempuan berhak mewarisi harta orang tuanya.
Selanjutnya datang Hadits yang mengecualikan bahwa jika anak
itu kafir atau berbeda keyakinan dengan orang tuanya maka ia
tidak bisa mewarisi harta orang tuanya, demikian juga sebaliknya.

4. Bayan al-Tasyri
Hadits sebagai bayan tasyri berarti hadits dijadikan sebagai
dasar penetapan hukum yang belum ada ketetapannya secara
eksplisit di dalam Al-Quran. Hal ini tidak berarti bahwa hukum
dalam Al-Quran belum lengkap, melainkan Al-Quran telah
20
menunjukkan secara garis besar segala masalah keagamaan.
Namun hadirnya Hadits untuk menetapkan hukum yang lebih
eksplisit sesuai dengan perintah yang ada dalam al-Quran surat an-
Nahl ayat 44.
Salah satu contoh di antaranya tentang haramnya
memadukan antara seorang perempuan dengan bibinya.
Sementara al-Quran hanya menyatakan tentang kebolehan
berpoligami, yaitu;


.

Artinya: Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu
senangi: dua, tiga, atau empat. (QS.al-Nisa: 3)
Hadits berikut ini menetapkan haramnya berpoligami bagi
seseorang terhadap seorang wanita dengan bibinya.

.
Artinya: Tidak boleh seseorang mengumpulkan (memadu)
seorang wanita dengan bibinya (saudari bapaknya) dan seorang
wanita dengan bibinya (saudari ibunya). (HR. Bukhari
Muslim)
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Hadits di atas
menetapkan hukum syariat yang melarang berpoligami dengan
bibi dari wanita yang telah dinikahi.
5. Bayan Nasakh
Nasakh berarti penghapusan atau pembatalan. Maksudnya
adalah mengganti suatu hukum atau menghapuskannya. Hadits
juga berfungsi menjelaskan mana ayat yang menasakh
(menghapus) dan mana ayat yang dimansukh (dihapus).
Contohnya QS. al-Baqarah: 180





Artinya: Diwajibkan atas kamu, apabila maut hendak
menjemput seseorang di antara kamu, jika dia meninggalkan

21
harta, berwasiat untuk kedua orang tua dan karib kerabat dengan
cara yang baik, (sebagai) kewajiban bagi orang-orang yang
bertakwa.
Ayat di atas menjelaskan tentang berlakunya wasiat terhadap
ahli waris. Namun selanjutnya datang Hadits yang memansukhkan
hukum tersebut, yaitu;



Artinya: Tidak ada wasiat bagi ahli waris14

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Hadist ialah sesuatu yang berasal dari Rasululloh SAW, baik berupa
perkataan, perbuatan, maupun penetapan pengakuan. Sedangkan Al- Quran
adalah firman Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW dalam

14
https://awildannul.wordpress.com/2014/10/13/pengertian-hadits-khabar-dan-atsar-2/
22
bahasa arab yang diriwayatkan secara mutawatir dan membacanya adalah
ibadah.
Hadits merupakan sumber hukum kedua setelah al-Quran. Sehingga
hadits memiliki berbagai fungsi, yaitu sebagai bayan taqrir, bayan tafsir,
bayan tasyri, juga bayan nasakh. Meskipun demikian, hadits dan al-Quran
memiliki beberapa perbandingan. Diantaranya, al-Quran merupakan kalam
Allah yang disampaikan secara mutawatir, sedangkan hadits adalah dari
nabi yang tidak semuanya diriwayatkan secara mutawatir

B. SARAN
Penulis berharap dengan penulisan makalah ini, hendaknya pembaca lebih
t e r m o t i v as i d a l a m m e m p e l a j a r i tentang sejarah hadits pada masa
Nabi hingga masa sekarang ini, supaya bisa membedakan dan
mengetahui perkembangan hadits dari masa ke masa.

DAFTAR PUSTAKA

Al- Sibai, Mus thafa. 1988. Al-Sunnah wa Mak anatuha fi Al -TasyriAl-Islami.


Kairo: Dar Al-Salam.
As h Shiddieqy, Teungku Muhammad Has bi. 1999. Sejarah & Pengantar Ilmu
Hadits. Semarang: Pus taka Rizki Putra,

Fathurrahman. 1985. Ik htisar Mushthalah Hadits. Bandung : al-Maarif


23
Ichwan, Mohammad Nor. 20017. Studi Ilmu Hadits. Semarang: RaSAIL Media
Group

Khoiriyah. 2013. Memahami Metodologi Studi Islam. Yogyakarta: Teras


Khumaidi, Irham. 2008. Ilmu Hadis Untuk Pemula. Jakarta: CV. Artha Rivera

Mardani. 2012. Hadis Ahkam cetakan pertama. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada
Rofiah, Khus niati. 2010. Studi Ilmu Hadits. Ponorogo: STAIN PO Pres s

https://awildannul.wordpress.com/2014/10/13/pengertian-hadits-khabar-dan-
a`1tsar-2/ , diakses pada tanggal 4 Oktober 2017 jam 10.02

24