Anda di halaman 1dari 2

Akibat Hukum Perbankan Syariah

Giro berdasarkan prinsip wadiah.

Merupakan simpanan dana nasabah.Wadiah merupakan titipan nasabah yangtidak memberikan


wewenang kepada penerima titipan untuk menggunakan benda yang dititipkan. Penerima titipan berhak
untuk mendapatkan upah untuk itu.Bagi bank yang menjadi pihak yangmenerima titipan dengan seijin
nasabahnyasebagai pihak yang menitipkan, bank dapatmenggunakan dana milik nasabah
denganmenjamin, bahwa bank akanmengembalikan dana itu secara utuh. Bank memiliki tanggung
jawab atas segalaresiko yang terjadi pada dana tersebut. Dalam kondisi titipan seperti ini,
titipannyadisebut dengan wadiah yad adh dhamanah . Sedangkan untuk titipan
yang penerima titipan tidak berhak untuk menggunakan benda titipan disebut dengan wadiah yad al-
amanah . Dari proses wadiah yad adh dhamanah ini,
tentunya bank tidak memperoleh upah dari nasabahatas jasa titipannya, tetapi ia berhak mendapatkan
semua keuntungan yangdiperoleh dari hasil penggunaan dananasabah tersebut. Sedangkan bagi
nasabah,selain ia mendapatkan jaminan keamananterhadap dananya, biasanya ia memperolehintensif
dari bank. Pemberian intensif oleh bank tidak diperjanjikan diawal akad dan jumlahnya tidak ditetapkan
terlebih dulu

Tabungan berdasarkan prinsip wadiah/ mudharabah

1.Tabungan adalah simpanan dananasabah di bank yang dapat diambilsewaktu-waktu oleh nasabah
denganmenggunakan buku tabungan atau alatlainnya tetapi tidak menggunakan cek.Prinsip wadiah
pada tabungandigunakan sama halnya dengan produk giro yang telah diuraikan diatas.

2.Prinsip mudharabah pada tabunganadalah antara nasabah dan bank mengadakan akad mudharabah,
yaitunasabah menyimpan sejumlah danakepada bank untuk dikelola oleh bank.Dalam hal ini, hasil yang
diperoleh dari pengelolaan dananya akan dibagikankepada nasabah sebagai pemilik
dana( shahibul maal ) dan bank sebagai pengelola dana (mudharib). Besar bagihasil (nisbah) tersebut
telah disepakatidi awal akad.

Deposito berdasarkan prinsip mudharabah

merupakan penyimpanan dana oleh nasabah kepada bank dengan ketentuan waktu penarikandana
adalah dalam jangka waktu tertentusejak penyetoran dananya, seperti 30 hari,90 hari, dan sebagainya.
Dalam hal ini, perikatan yang digunakan adalahmudharabah. Nasabah sebagai shahibulmaal dan bank
sebagai mudharib salingterikat untuk melakukan bagi hasil sesuaidengan nisbah yang telah ditentukan
diawal akad.

Prinsip jual beli :

Murabahah :

Yaitu jual-beli denganadanya tambahan dari harga asal. Nasabahyang memiliki kebutuhan benda
tertentudapat mengajukan permohonan kepadaBank Syariah untuk membeli bendatersebut. Benda
yang telah dibeli oleh bank, kemudian akan dijual kembalikepada nasabah dengan harga yang lebihtinggi
dari harga asal. Kelebihan harga initentunya didasarkan pada kesepakatandiantara keduanya.

Pembayaran yangdilakukan oleh nasabah biasanya


dalam bentuk angsuran, meskipun tidak dilaranguntuk membayar secara tunai. Sistem
ini biasanya dilakukan untuk pembiayaan barang-barang investasi seperti melalui letter of credit (L/C)
dan pembiayaan persediaan sebagai modal kerja.

Istishna:

Bank sebagai penjual ( shani) mendapat pesanan dari nasabah sebagai pembeli ( mustashni ) dengan
cara pembayaran dimuka, secara angsuran, atauditangguhkan pada waktu tertentu. Barangyang
dibutuhkan oleh nasabah tidak seketika itu ada, tetapi harus
dilakukan proses pembuatannya terlebih dahulu.Bank akan melakukan pemesanan kembalikepada
perusahaan industri untuk memperoleh barang yang dibutuhkan olehnasabah. Dalam hal jual beli yang
keduaini disebut juga dengan istishna parallel.Keuntungan yang diperoleh oleh bank adalah berupa
selisih harga dari nasabahdengan harga jual kepada pembeli. Model perikatan istishna bisa dilakukan
pada pembiayaan persediaan ( inventory financing ) sebagai modal kerja.

Salam:

Salam hampir sama denganistishna. Pembayaran harga pada salamdilakukan pada saat akad dilakukan.
Sifatakad dari salam adalah mengikat secaraasli (thabii), yaitu mengikat semua pihak sejak awal. Pada
perikatan salam, nasabah berkedudukan sebagai pembeli (muslam),sedangkan bank sebagai penjual
(muslamilaih). Bank juga dapat melakukan
salam paralel dengan produsen. Pada salam paralel bank adalah muslam dan produsenadalah muslam
alaih.