Anda di halaman 1dari 2

CASE REPORT

KEHAMILAN DENGAN MOLA HIDATIDOSA

Pembimbing:

dr. Dewi Rohyati, Sp.OG

Disusun Oleh:

Ayezia Balqis

29.66.1321. 2013

KEPANITERAAN KLINIK OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

RUMAH SAKIT ISLAM JAKARTA PONDOK KOPI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA

PERIODE 14 AGUSTUS 2017- 22 OKTOBER 2017

2017
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal yang disertai dengan proliferasi
sel trofoblas secara berlebihan dan degenerasi hidrofik yang secara klinis tampak
sebagai gelembung-gelembung.
Angka kejadian mola hidatidosa banyak ditemukan di wilayah Asia, Afrika
dan Amerika dibandingkan dengan wilayah Eropa. Secara etnis dilaporkan bahwa
kejadian mola hidatidosa meningkat pada wanita Filipina, Asia Tenggara dan
Meksiko dibandingkan dengan wanita kulit putih Amerika. Di Indonesia dilaporkan
terjadi 1 kejadian mola hidatidosa dari 100 kehamilan.
Faktor risiko kejadian mola hidatidosa adalah wanita dengan usia < 20 tahun
dan > 40 tahun, riwayat kehamilan mola sebelumnya, nulipara, status ekonomi
rendah, diet rendah protein, kadar asam folat rendah, kadar karoten dalam darah
rendah dan defisiensi vitamin A.
Mola hidatidosa dibagi menjadi 2 jenis yaitu mola hidatidosa komplit (MHK)
dan Mola Hidatidosa Parsial (MHP).
Gejala klinis yang dapat ditemukan pada penderita mola hidatidosa adalah
perdarahan, ukuran uterus yang tidak sesuai dengan usia kehamilan, tidak ditemukan
adanya denyut jantung janin, preeklamsia pada kehamilan muda, hiperemesis dan
tirotoksikosis.
Penatalaksanaan mola hidatidosa terdiri dari 4 tahap yaitu melakukan
perbaikan keadaan umum, evakuasi/pengeluaran jaringan mola, terapi profilaksis
dengan sitostatika dan pemeriksaan tindak lanjut (follow up).
Komplikasi yang dapat terjadi akibat mola hidatidosa adalah perforasi dan
perdarahan selama tindakan evakuasi jaringan mola, penyakit trofoblast ganas, DIC,
emboli trofoblastik, kista teka lutein, anemia dan syok karena perdarahan dan infeksi
sekunder.