Anda di halaman 1dari 3

Epoxy Resin

Epoxy resin ditemukan di Eropa dan Amerika Serikat pada tahun 1930 sampai 1940
yang berawal dari meneliti reaksi bisphenol-A dengan epiklorohidrin. Jenis epoxy resin yang
dikomersialkan pada awalnya digunakan sebagai senyawa pengecoran dan pelapis. Jenis resin
yang sama kini menjadi landasan dari kebanyakan fomulasi epoxy.
Epoxy resin merupakan material thermoset yang digunakan secara ekstensif dalam
campuran struktur dan khusus karena memiliki sifat campuran unik yang tidak dimiliki
thermoset resin lainnya. Epoxy resin umumnya digunakan sebagai adhesive, coating, campuran
pengecoran, dan bahan pengikat. Dalam aplikasinya, epoxy resin diformulasi untuk
menghasilkan sifat fisik dan mekanis yang spesifik. Terdapat 3 elemen dasar dari formulasi
epoxy resin yang harus dimengerti saat memilih sistem thermoset, yaitu resin utama (base
resin), senyawa curative, dan modifier.
Base Resins
Epoxy resin merupakan polimer thermoset dimana cross linking primer terbentuk
melalui reaksi gugus epoxide. Epoxy resin merupakan molekul yang memiliki 3 cincin, yaitu
1 atom oksigen dan 2 atom karbon. Epoxy resin diproduksi dari molekul dasar yang
mengandung ikatan karbon-karbon tak jenuh. Terdapat 2 proses yang dapat digunakan untuk
mengubah ikatan ganda menjadi oxirane ring, yaitu dehidrohalogenasi halohidrin dan
epoksidasi peracid langsung. Ketika kedua proses digunakan untuk produksi epoxy resin, jalur
halohidrin banyak digunakan dan lebih banyak varietas yang dapat dihasilkan. Epoxy yang
umum digunakan dalam aplikasi campuran yaitu phenolic glicidyl ether, aromatic glicidyl
amine, dan cycloaliphatic.
Phenolic glicidyl ether dibentuk dari reaksi kondensasi antara epiklorohidrin dan gugus
fenol. Dalam jenis ini, struktur molekul yang mengandung fenol dan jumlah gugus fenol per
molekul menunjukkan perbedaan jenis resin. Epoxy resin yang pertama dikomersialkan dari
jenis ini, diglicidyl ether of bisphenol-A (DGEBA) umum digunakan saat ini. Variasi dapat
dilakukan pada hydrogenated bisphenol-A epoxy resin. Pada proses ini, epoxy resin terbentuk
dari epiklorohidrin dan bisphenol-A. Selanjutnya, cincin benzene aromatik diubah menjadi
cyclohexane, membentuk cycloaliphatic. Epoxy resin dapat diproduksi dari tetrabromo
bisphenol-A. Resin ini dapat digunakan untuk menghambat api dan umumnya digunakan
dalam peralatan listrik. Jenis epoxy resin lain yaitu diglicidyl ether of bisphenol-F. Bahan ini
memiliki viskositas yang lebih rendah dari DGEBA dan banyak digunakan untuk mengurangi
viskositas campuran ketika membatasi pengurangan suhu glass transition. Fenol dan cresol
novolac merupakan 2 jenis aromatic glicidyl ether. Resin ini diproduksi melalui 2 tahap, yaitu
mengombinasikan fenol atau cresol dengan formaldehyde menjadi polifenol yang selanjutnya
direaksikan dengan epiklorohidrin membentuk epoxy.
Glicidyl amine dibentuk dari reaksi epiklorohidrin dengan amina, dengan amina
aromatic dapat digunakan untuk aplikasi yang menggunakan suhu tinggi. Resin yang utama
dari jenis ini yaitu tetraglicidyl methylene dianiline (TGMDA). TGMDA digunakan sebagai
campuran untuk aplikasi penerbangan karena sifatnya yang bagus pada suhu tinggi. Jenis
lainnya yaitu triglicidyl p-amino phenol (TGPAP) yang memiliki 3 gugus epoksi dalam cincin
benzene, serta diglicidyl aniline dan tetraglicidyl meta-xylene diamine yang memiliki
viskositas rendah pada suhu kamar.
Cycloaliphatic dibedakan dari jenis epoxy lain dengan mengandung gugus epoxy di
dalam struktur cincin. Jenis ini memiliki viskositas yang sangat rendah pada suhu kamar dan
hasil yang baik pada suhu tinggi.
Epoxy Resin Curatives
Epoxy resin akan bereaksi dengan sejumlah senyawa yang disebut curative. Senyawa yang
umum digunakan sebagai curative adalah amina, turunan amina, dan anhidrida. Curing agent
terdapat 2 jenis, yaitu room temperature curing agent, room/elevated temperature curing
agent, dan elevated temperature curing agent..
Room temperature curing agent terdiri dari aliphatic amine, polyamide, dan
amidoamine. Aliphatic amine merupakan curative yang umum direaksikan dengan epoxy resin.
Epoxy resin akan bereaksi dengan amina primer, sekunder, dan tersier. Pada amina primer dan
sekunder terjadi reaksi adisi dimana 1 gugus nitrogen-hidrogen bereaksi dengan 1 gugus
epoksi. Reaksi dengan amina tersier dihasilkan dari pasangan elektron pada nitrogen.
Umumnya yang digunakan sebagai amina primer adalah diethylene triamine (DETA),
triethylene tetramine (TETA), tetraethylene pentamine (TEPA), dan N-aminoethyl-piperazine
(N-AEP). Polyamide merupakan hasil kondensasi dari polyamine dan dimer acid atau fatty
acid. Polyamide umumnya digunakan untuk coating, adhesive, dan sealant. Amidoamine
merupakan senyawa yang memiliki gugus amida dan amina. Amidoamine dihasilkan dari
reaksi antara asam karboksilat dan aliphatic polyamine.
Room/elevated temperature curing agent terdiri dari BF3 dan imidazole yang aman
digunakan pada suhu kamar dan suhu tinggi. Senyawa BF3 akan bereaksi dengan epoxy resin
dengan polimerisasi katalis kationik. Senyawa BF3 akan bereaksi dengan bisphenol-A sehingga
stabilitas suhu kamar akan terbentuk ke dalam molekul melalui adduksi BF3 dengan amina.
Imidazole dapat diaplikasikan dalam campuran elektronik, adhesive, otomotif, dan
penerbangan. Imidazole umumnya digunakan sebagai akselerator reaksi antara epoxy dengan
curative lain.
Elevated temperature curing agent terdiri dari aromatic amine dan anhydride.
Aromatic amine merupakan curative berbentuk bubuk yang dicampur atau dilelehkan ke dalam
epoxy resin. Aromatic amine digunakan dalam campuran dan membutuhkan suhu tinggi untuk
meningkatkan yield dan chemical resistance yang lebih baik. Aromatic amine yang pertama
digunakan dalam industry yaitu 4,4-diaminodiphenyl methane. Anhydride merupakan curing
agent lain yang umum digunakan. Reaksi antara anhydride dengan epoxy resin sangat
kompleks. Anhydride beraksi dengan hidroksil epoksi membentuk ester. Ester yang
mengandung gugus karboksil bebas yang selanjutnya bereaksi dengan cincin epoxide, yang
membentuk hidroksil lain. Hidroksil yang baru terbentuk dapat bereaksi dengan anhydride lain
atau dengan adanya asam bebas dapat bereaksi dengan epoxy lain untuk membentuk ikatan
baru.
Modifiers
Modifier digunakan untuk memberikan kinerja fisik dan mekanis yang spesifik. Jenis
modifier yang umum digunakan yaitu karet, termoplastik, diluent, flame retardant, filler,
pigment, dan pewarna. Karet digunakan untuk meningkatkan fleksibilitas, fatigue resistance,
crack resistance, dan penyerapan energi dalam epoxy resin, serta dapat dibagi menjadi 2
kategori yaitu reaktif dan tidak reaktif. Karet cair yang umum digunakan dalam campuran
epoxy yaitu carboxyl-terminated butadiene acrylonitrile copolymer (CTBN). Termoplastik
digunakan seperti karet, untuk meningkatkan ketahanan patah dari epoxy resin. Termoplastik
yang memiliki bobot molekul rendah dapat direaksikan dengan epoxy resin. Diluent yang
digunakan pada campuran epoxy adalah resin seperi butyl glicidyl ether, phenyl glicidyl ether,
dan cresyl glicidyl ether. Flame retardant dapat ditambahkan ke dalam epoxy resin sebagai
filler. FR dapat memengaruhi pirolisis dan pembakaran polimer, fase uap, fase kondensasi, dan
penahan fisik. Filler seperti Al(OH)3 dan Mg(OH)2 efektif untuk menahan pembakaran dengan
dekomposisi endotermis. Filler dalam epoxy resin dapat digunakan sebagai pengembang dan
penguat. Kategori filler yang umum digunakan yaitu mineral, logam, serat, karbon, glass, dan
senyawa organik. Pigment dan pewarna yang digunakan dapat berjenis organik dan anorganik.
Pigment merupakan partikel tidak larut yang terdispersi dalam resin, sedangkan pewarna
merupakan molekul organik yang dapat larut. Pewarna umumnya tidak cocok untuk campuran
epoxy resin karena adanya pembatasan suhu. Senyawa aditif lain yang dapat ditambahkan
dalam epoxy resin diantaranya flexibilizer, plasticizer, antioxidant, dan antifoam.