Anda di halaman 1dari 6

CONTOH KASUS EKSPOR

Kasus Dugaan Dumping Terhadap Ekspor Produk Kertas Indonesia ke Korea

Latar Belakang

Negara-negara berkembang pada umumnya akan membantu industri domestiknya melalui


subsidi atau kebijakkan ekonomi berupa hambatan tarif atau non tarif untuk memasukkan
industrinya ke persaingan internasional apalagi dalam era Globalisasi teknologi dan informasi
seperti sekarang ini, Negara atau pemerintah akan berusaha mendorong industrinya untuk
bersaing di pasar internasional dan untuk bersaing perlu berbagai perbaikkan kualitas baik tenaga
kerja ataupun produk. Indonesia sebagai Negara berkembang pada umumnya akan memilih suatu
perusahaan domestic untuk di subsidi khususnya industri yang benar-benar menjadi ekspor
Indonesia. Dan selain itu, Indonesia juga mengambil kebijakkan ekonomi seperti penetapan
batasan impor, hambatan tariff dan non tarif dan kebijakan lainnya. Sama seperti negara lainnya,
Korea juga menetapkan kebijakan ekonomi anti dumping untuk melindungi Industri
domestiknya. Kali ini yang menjadi sasaran negara yang melakukkan dumping adalah Indonesia.

Untuk mengantisipasi terjadinya perselisihan dan kesalahan interpretasi, akibat tindakan


proteksi yang dilakukkan suatu negara dalam mendorong perekonomiannya, maka WTO
membuat aturan untuk penerapan subsidi mengingat masalah ini merupakan masalah yang sering
terjadi terkait masalah dumping dan terdapat dua macam aturan subsidi atau dukungan:

1. Dukungan atau subsidi yang membuat distorsi dimana negara anggota harus menetapkan
level maksimum dan kemudian menguranginya pada tingkat yang diperbolehkan;
2. Subsidi yang dianggap tidak mendistorsi atau non trade distorting sering disebut sebagai
Green Box, tidak ada jumlah maksimum yang ditentukan, sehingga Negara anggota boleh
menambah tanpa batas. Green Box merupakan pembayaran untuk misalnya perlindungan
lingkungan dan penelitian.

Dalam subsidi yang mendistorsi atau Subsidi Pendukung Perdagangan terdapat tiga kategori:

1. AMS aggregate measurement support atau sering disebut Amber Box, ini berkaitan
dengan intervensi harga dan dimasukkan sebagai yang paling mendistorsi.
2. De minimis, ini diperbolehkan sampai tingkat tertentu yang dihitung dari persentase dari
nilai produksi.
3. Blue Box, subsidi jenis ini dianggap mendistorsi tapi tidak sebesar Amber Box.

Selain aturan-aturan tersebut, WTO sendiri juga telah membentuk Dispute Settlement Body
(DSB) untuk mengantisipasi penyelesaian masalah yang terjadi diantara anggota-anggotanya.
Masalah terkait dengan pemberian subsidi dan kebijakkan proteksi adalah Dumping. Dumping
terjadi apabila produk-produk impor tersebut dijual dengan harga lebih rendah daripada harga
yang berlaku di pasaran. Untuk menerapkan anti dumping, badan perdagangan suatu Negara
harus membuktikan terlebih dahulu bahwa dumping tersebut menyebabkan kerugian terhadap
industri di negaranya. Mengingat relatif tingginya kasus dumping, hendaknya negara mencermati
dan mengantisipasi serta menghindari kemungkinan adanya tuduhan dumping tersebut. Dumping
dalam hal ini merupakan suatu tindakan melanggar kesepakatan yang telah disepakati dan
diratifikasi oleh subyek hukum Internasional. Yang dimaksud subyek hukum internasional disini
adalah semua subyek hukum yang mengatur aspek-aspek ekonomi baik yang sifatnya nasional
maupun internasional. Yang merupakan subyek hukum disini adalah negara yang harus
memenuhi syarat sebagai negara yakni memiliki penduduk, wilayah, pemerintah yang berdaulat,
dan kemampuan melakukan hubungan diplomatik dengan negara lain. Mengingat dumping
terjadi antar anggota WTO yang terdiri dari negara-negara berdaulat berarti terjadi pelanggaran
terhadap kesepakatan yang telah ditetapkan di WTO yang menjadi aturan bagi para anggota
WTO untuk bertindak mengingat semua yang mengajukan diri untuk menjadi anggota WTO
harus menaati kesepakatan tersebut. Kesepakatan yang terbentuk antar dua pihak atau lebih
merupakan sumber hukum internasional yang dapat menjadi sumber Hukum Ekonomi
Internasional menurut Pasal 38 Ayat 1 Statuta Mahkamah Internasional selain kebiasaan
inetrnasional, prinsip hukum yang diakui oleh negara bangsa, keputusan para hakim dan ajaran
ahli hukum.

3.3 Analisis Kasus

Salah satu kasus yang terjadi antar anggota WTO kasus antara Korea dan Indonesia, dimana
Korea menuduh Indonesia melakukan dumping woodfree copy paper ke Korsel sehingga
Indonesia mengalami kerugian yang cukup besar. Tuduhan tersebut menyebabkan Pemerintah
Korsel mengenakan bea masuk anti dumping sebesar 2,8% hingga 8,22% terhitung 7 November
2003. dan akibat adanya tuduhan dumping itu ekspor produk itu mengalami kerugian. Ekspor
woodfree copy paper Indonesia ke Korsel yang tahun 2002 mencapai $.102 juta AS, turun tahun
2003 menjadi $.67 juta

Karenanya, Indonesia harus melakukan yang terbaik untuk menghadapi kasus dumping ini, kasus
ini bermual ketika industri kertas Korea mengajukan petisi anti dumping terhadap 16 jenis
produk kertas Indonesia antara lain yang tergolong dalam uncoated paper and paperboard used
for writing dan printing or other grafic purpose produk kertas Indonesia kepada Korean Trade
Commision pada tanggal 30 september 2002 dan pada 9 mei 2003, KTC mengenai Bea Masuk
Anti Dumping sementara dengan besaran untuk PT pabrik kertas Tjiwi Kimia Tbk sebesar
51,61%, PT Pindo Deli 11,65%, PT Indah Kiat 0,52%, April Pine dan lainnya sebesar 2,80%.
Namun, pada 7 November 2003 KTC menurunkan BM anti dumping terhadap produk kertas
Indonesia ke Korsel dengan ketentuan PT Pabrik kertas Tjiwi Kimia Tbk, PT Pindo Deli dan PT
Indah Kiat diturunkan sebesar 8,22% dana untuk April Pine dan lainnya 2,80%. Dan Indonesia
mengadukan masalah ini ke WTO tanggal 4 Juni 2004 dan meminta diadakan konsultasi
bilateral, namun konsultasi yang dilakukan pada 7 Juli 2004 gagal mencapai kesepakatan.

Karenanya, Indonesia meminta Badan Penyelesaian Sengketa Organisasi Perdagangan Dunia


membentuk Panel dan setelah melalui proses-proses pemeriksaan, maka DSB WTO
mengabulkan dan menyetujui gugatan Indonesia terhadap pelanggaran terhadap penentuan
agreement on antidumping WTO dalam mengenakan tindakan antidumping terhadap produk
kertas Indonesia. Panel DSB menilai Korea telah melakukan kesalahan dalam upaya
membuktikan adanya praktek dumping produk kertas dari Indonesia dan bahwa Korea telah
melakukan kesalahan dalam menentukan bahwa industri domestik Korea mengalami kerugian
akibat praktek dumping dari produk kertas Indonesia.

Penyelesaian Kasus

Dumping merupakan suatu tindakan menjual produk-produk impor dengan harga yang lebih
murah dari harga negara ekspor dan ini merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan WTO.

Berikut langkah-langkah penyelesaian kasus dumping ini.


1. Indonesia meminta bantuan kepada Badan Penyelesaian Sengketa WTO dan melalui Panel
meminta agar kebijakan anti dumping yang dilakukan Korea ditinjau kembali karena tidak
konsisten dengan beberapa point artikel kesepakatan seperti artikel 6.8 yang paling banyak
diabaikan dan artikel lainnya dan Indonesia juga meminta Panel terkait dengan artikel 19.1
dari Understanding on Rules and Procedures Governing the Settlement of Disputes (DSU)
untuk meminta Korea bertindak sesuai dengan kesepakatan General Agreement on Tariffs and
Trade dan membatalkan kebijakan anti dumping impor kertas yang dikeluarkan oleh menteri
keuangan dan ekonomi nya pada tanggal 7 November 2003. Yang menjadi aspek legal disini
adalah adanya pelanggaran terhadap artikel kesepakatan WTO khususnya dalam kesepakatan
perdagangan dan penentuan tarif seperti yang tercakup dalam GATT. Sifat legal atau
hukumnya terlihat juga dengan adanya tindakan Retaliasi oleh pemerintah Indonesia karena
Korea dinilai telah bertindak curang dengan tidak melaksanakan keputusan Panel.
Sementara DSB sebelumnya atas kasus dumping kertas tersebut yang memenangkan
Indonesia dimana retaliasi diijinkan dalam WTO.
2. Sekretaris Direktorat Jenderal Kerja Sama Perdagangan Internasional Departemen
Perdagangan mengatakan dalam putusan Panel DSB pada November 2005 menyatakan
Korsel harus melakukan rekalkulasi atau menghitung ulang margin dumping untuk produk
kertas asal Indonesia. Untuk itu, Korsel diberikan waktu untuk melaksanakan paling lama
delapan bulan setelah keluarnya putusan atau berakhir pada Juli 2006. Panel DSB menilai
Korsel telah melakukan kesalahan dalam upaya membuktikan adanya praktik dumping kertas
dari Indonesia. Pengenaan tuduhan dumping kertas melanggar ketentuan anti dumping WTO.
Korea harus menghitung ulang margin dumping sesuai dengan hasil panel maka ekspor kertas
Indonesia ke Korsel kurang dari dua persen atau deminimis sehingga tidak bisa dikenakan
Bea Masuk Anti Dumping. Panel Permanen merupakan panel tertinggi di WTO jika putusan
Panel Permanen juga tidak ditaati oleh Korsel, Indonesia dapat melakukan retaliasi, yaitu
upaya pembalasan atas kerugian yang diderita. Dalam retaliasi, Indonesia dapat mengenakan
bea masuk atas produk tertentu dari Korsel dengan nilai kerugian yang sama selama
pengenaan Bea Masuk Anti-Dumping. Korean Trade Commision yang merupakan otoritas
dumping Korsel mengenakan BMAD 2,8 - 8,22 % terhadap empat perusahaan kertas, seperti
yang telah disebutkan diatas yaitu PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia, PT Pindo Deli Pulp & Paper
Mills, PT Indah Kiat Pulp & Paper, dan PT April Fine sejak 7 November 2003. Dalam
membuat tuduhan dumping, KTC menetapkan margin dumping kertas dari Indonesia
mencapai 47,7 persen. Produk kertas yang dikenakan BMAD adalah plain paper copier dan
undercoated wood free printing paper.
3. Dalam kasus ini, Indonesia telah melakukan upaya pendekatan sesuai prosedur terhadap
Korsel. Pada 26 Oktober 2006 Indonesia juga mengirim surat pengajuan konsultasi.
Selanjutnya, konsultasi dilakukan pada 15 November 2006 namun gagal. Korea masih belum
melaksanakan rekalkulasi dan dalam pertemuan Korea mengulur-ulur waktu. Tindakan Korsel
tersebut sangat merugikan industri kertas Indonesia. Ekspor kertas ke Korsel anjlok hingga 50
persen dari US$ 120 juta. Kerugian tersebut akan berkepanjangan sebab Panel juga menyita
waktu cukup lama, paling cepat tiga bulan dan paling lama enam bulan.
4. Kasus dumping Korea-Indonesia pada akhirnya dimenangkan oleh Indonesia. Namun untuk
menghadapi kasus kasus dumping yang belum terselesaikan sekarang maka Indonesia perlu
melakukan antisipasi dengan pembuatan Undang-Undang Anti Dumping untuk melindungi
industri dalam negeri dari kerugian akibat melonjaknya barang impor. Selain itu, diperlukan
penetapkan Bea Masuk Anti Dumping Sementara dalam rangka proses investigasi praktek
dumping (ekspor dengan harga lebih murah dari harga di dalam negeri) yang diajukan industri
dalam negeri.
5. Pemerintah harus mengefektifkan Komite Anti Dumping Indonesia yang merupakan institusi
yang bertugas melaksanakan penyelidikan, pengumpulan bukti, penelitian dan pengolahan
bukti dan informasi mengenai barang impor dumping, barang impor bersubsidi dan lonjakan
impor.

TANGGAPAN:

1. Korea terlalu cepat menilai Indonesia melakukan praktek dumping tanpa berfikir panjang
dengan tidak berusaha menghitung ulang margin dumping pada produk kertas Indonesia
dan tidak meneliti kembali kesepakatan perdagangan antara Korea dan Indonesia.
2. Dalam kasus inipun dimenangkan oleh Indonesia, telah terlihat bahwa Indonesia telah
melakukan dengan prosedur yang benar. Hanya saja pihak Korea Selaan yang terlalu
cepat mengambil kesimpulan. Sehingga, banyak kerugian yang di alami Indonesia karena
waku yang mereka ulur yang seharusnya 3 bulan melainkan sampai 6 bulan lamanya.
SARAN:

Setiap negara yang melakukan ekspor impor sebaiknya menghitung margin dumping dengan
teliti dan berusaha menyepakati perjanjian-perjanjian yang ada dengan baik.

Setiap negara yang melakukan ekspor impor perlu melakukan antisipasi dengan pembuatan
Undang-Undang Anti Dumping untuk melindungi industri dalam negeri dari kerugian akibat
melonjaknya barang impor. Selain itu, diperlukan penetapkan Bea Masuk Anti Dumping
Sementara dalam rangka proses investigasi praktek dumping yang diajukan industri dalam
negeri.

KESIMPULAN

Penjualan barang oleh eksportir keluar negeri dikenai berbagai ketentuan dan pembatasan serta
syarat-syarat khusus pada jenis komoditas tertentu termasuk cara penanganan dan
pengamanannya. Setiap negara memiliki peraturan dan ketentuan perdagangan yang berbeda-
beda. Produk yang akan dipasarkan haruslah memiliki standar mutu yang baik sehingga dapat
memuaskan konsumen serta pengiriman barang yang tepat waktu yang dapat berdampak
terhadap pemesanan secara reguler. Disamping itu eksportir haruslah mengerti selera konsumen
negara tujuan ekspor. Kegiatan ekspor yang lancar akan ikut menyumbang pendapatan negara
dari sektor pajak ekspor disamping tentunya akan berdampak positif berupa keuntungan yang
diperoleh eksportir tersebut. Sementara itu untuk kasus dumping Indonesia Korea Selatan pada
akhirnya dimenangkan oleh pihak Indonesia. Namun untuk menghadapi kasus-kasus dumping
yang belum terselesaikan sekarang maka indonesia perlu melakukkan antisipasi dengan
pembuatan Undang-Undang Anti Dumping untuk melindungi industri dalam negeri dari kerugian
akibat melonjaknya barang impor.