Anda di halaman 1dari 58

PEMANFAATAN

SARI UMBI GADUNG (Dioscorea hispidadennst) DAN


AKAR BIDURI (Calotropis gigantea L.)
SEBAGAI BIOPESTISIDA

PAPER
Disusun untuk memenuhi Persyaratan
Mengikuti Ujian Nasional/Ujian Akhir Madrasah
Madrasah Aliyah YKUI Maskumambang Gresik
Tahun Pelajaran 2015/2016

Jurusan
Ilmu Pengetahuan Alam

Oleh :
1. Atik Diniyawati (5505)
2. Dian Qonita (5512)
3. Hafshah (5531)
4. Istiqomah (5537)
5. Luluatul Usroh (5542)

MADRASAH ALIYAH YKUI MASKUMAMBANG


DUKUN GRESIK JAWA TIMUR
2015/2016
1
PEMANFAATAN
SARI UMBI GADUNG (Dioscorea hispidadennst) DAN
AKAR BIDURI (Calotropis gigantea L.)
SEBAGAI BIOPESTISIDA

PAPER
Disusun untuk memenuhi Persyaratan
Mengikuti Ujian Nasional/Ujian Akhir Madrasah
Madrasah Aliyah YKUI Maskumambang Gresik
Tahun Pelajaran 2015/2016

Jurusan
Ilmu Pengetahuan Alam

Oleh :
1. Atik Diniyawati (5505)
2. Dian Qonita (5512)
3. Hafshah (5531)
4. Istiqomah (5537)
5. Luluatul Usroh (5542)

MADRASAH ALIYAH YKUI MASKUMAMBANG


DUKUN GRESIK JAWA TIMUR
2015/2016
i
LEMBAR PENGESAHAN

Paper ini diajukan untuk memenuhi persyaratan mengikuti Ujian


Nasional/Ujian Akhir Madrasah Madrasah Aliyah YKUI Maskumambang Gresik
Tahun Pelajaran 2015/2016.

Judul : Pemanfaatan Sari Umbi Gadung (Dioscorea hispidadennst)


dan Akar Biduri (Calotropis gigantea L.) sebagai
Biopestisida
Jurusan : Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)

a. Nama Lengkap : Atik Diniyawati


b. No Induk : 5505

a. Nama Lengkap : Dian Qonita


b. No Induk : 5512

a. Nama Lengkap : Hafshah


b. No Induk : 5531

a. Nama Lengkap : Istiqomah


b. No Induk : 5537

a. Nama Lengkap : Luluatul Usroh


b. No Induk : 5542

Guru Pembimbing
a. Nama Lengkap dan Gelar : Drs. Muhaimin Jamil
b. NIP : --

Gresik, 05 Januari 2016

Kepala Madrasah Guru Pembimbing

Ahmad Sholihan S.Pd. M.Si Drs. Muhaimin Jamil


NIP : -- NIP : --
ii
PERSEMBAHAN

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan
rizki-Nya yang tak terhingga kepada kami semua. Sehingga paper yang berjudul
Pemanfaatan Sari Umbi Gadung (Dioscorea hispidadennst) dan Akar Biduri
(Calotropis gigantea L.) sebagai Biopestisida dapat terselesaikan dengan baik.
Maka kami persembahkan paper ini kepada :
1. Bapak Ahmad Sholihan, S.Pd. M.Si. selaku Kepala Madrasah Aliyah
YKUI Maskumambang
2. Bapak Drs. Muhaimin Jamil selaku guru pembimbing dalam
penyusunan paper ini.
3. Ibu Eti Asmawati, S.S., selaku murobbiyah kami yang selalu
memperhatikan setiap langkah kami dalam melakukan sesuatu, seolah
menjadi sosok pengganti ibu bagi kami.
4. Guru-guru Madrasah Aliyah YKUI Maskumambang tanpa terkecuali.
5. Ayah dan ibu kami yang senantiasa menjadi pelita hati, penumbuh
motivasi, dan selalu memberi saran serta dorongan baik moral maupun
spiritual untuk berjuang lebih giat guna tercapainya apa yang kami
cita-citakan.
6. Kakak-kakak kami yang tidak pernah lelah untuk memotivasi agar
kami tidak pernah menyerah dan senantiasa melangkah maju hingga
sampai pada tujuan.
7. Adik-adik kelas, atas doa dan semangatnya, kami mengucapkan terima
kasih. Semoga paper kami ini bisa menjadi pengetahuan dan wawasan
yang baik bagi kalian.
8. Seluruh penduduk kelas XII-C IPA.
9. Semua pihak yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu, yang telah
memberikan bantuan untuk menyelesaikan paper ini.
Semoga paper yang telah disusun dengan segenap kemampuan kami ini
dapat bermanfaat untuk kehidupan pribadi pada khususnya dan masyarakat pada
umumnya.

iii
MOTTO

Bekerjalah secara teratur dan terus-menerus, meskipun itu

sedikit, asalkan itu sesuai dengan kemampuanmu.

#pelan tapi pasti

Tidak ada segala sesuatu yang dapat dicapai dengan cara

instan, semua itu membutuhkan proses yang cukup panjang

hingga seseorang berhasil meraihnya.

Hasil bukanlah parameter terpenting dalam mengukur

keberhasilan sesorang, namun parameter terpenting itu

terletak pada proses yang dinyatakan dengan usaha.

Kesuksesan seseorang itu terukur dari kegigihan dalam

mencapai apa yang diimpikannya.

Tuhan tidak pernah melarang kita untuk bermimpi, Ia

hanya memerintahkan agar kita berusaha semaksimal

mungkin, kemudian Ia akan merubah nasib hamba-Nya

dengan satu kali ucapan karena melihat kesungguhan

usaha dan cara yang ditempuh oleh seorang hamba tersebut

dalam meraih impiannya.

iv
KATA PENGANTAR

Puji syukur patut diucapkan kepada Allah SWT, karena berkat rahmat serta
hidayah-Nya, sehingga paper dengan judul Pemanfaatan Sari Umbi Gadung
(Dioscorea hispida) dan Akar Biduri (Calotropis gigantea L.) sebagai
Biopestisida dapat terselesaikan dengan baik. Paper ini disusun dengan maksud
memenuhi persyaratan mengikuti Ujian Nasional/Ujian Akhir Madrasah Aliyah
YKUI Maskumambang Gresik Tahun Pelajaran 2015/2016.
Paper ini berisi tentang proses pembuatan biopestisida dengan inovasi baru,
yaitu kombinasi sari gadung dengan sari akar biduri sebagai bahan tambahan.
Selama ini, para petani cenderung menggunakan pestisida sintetis.untuk
membasmi hama yang dapat merusak tanaman. Hal ini mengakibatkan jumlah
penggunaan pestisida sintetis di Indonesia semakin meningkat. Pestisida sintetis
menimbulkan banyak risiko dan menyebabkan pencemaran lingkungan dalam
penggunaannya. Sehingga diperlukan pestisida alami (biopestisida) yang aman
bagi lingkungan.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang mendukung
dan membantu terselesaikannya paper ini. Antara lain :
1. Bapak Ahmad Sholihan, S.Pd., M.Si. selaku kepala MA YKUI
Maskumambang yang telah memberikan deadline sehingga paper ini
dapat terselesaikan tepat waktu.
2. Bapak Drs. Muhaimin Jamil selaku guru pembimbing yang selalu
mendampingi dan memotivasi untuk menyelesaikan paper ini.
3. Teman-teman sekelompok, yang telah bekerja keras dengan seluruh
ketabahan, kegigihan, dan keuletan, serta teman-teman kelas XII-C IPA,
yang telah membantu dan memberikan saran terhadap hasil biopestisida.
Penulis menyadari, bahwa paper ini masih terdapat banyak kekurangan.
Sehingga kritik dan saran sangat diharapkan dari pembaca untuk penyempurnaan
paper ini. Semoga paper ini bermanfaat bagi Penulis dan Pembaca.

Gresik, 05 Januari 2016


Penulis

v
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i


LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................. ii
PERSEMBAHAN .............................................................................................. iii
MOTTO .............................................................................................................. iv
KATA PENGANTAR ......................................................................................... v
DAFTAR ISI ...................................................................................................... vi
DAFTAR GAMBAR.........................................................................................viii
DAFTAR TABEL ............................................................................................... x
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................1
1.1. Latar Belakang..............................................................................................1
1.2. Rumusan Masalah ........................................................................................2
1.3. Tujuan Penelitian ..........................................................................................3
1.4. Manfaat Penelitian ........................................................................................3
1.5. Metode Penelitian .........................................................................................3
1.6. Sistematika Pembahasan ..............................................................................4
BAB II KAJIAN PUSTAKA ..............................................................................6
2.1. Tumbuhan Gadung .......................................................................................6
2.2. Klasifikasi Gadung .......................................................................................6
2.3. Kandungan Gadung ......................................................................................7
2.4. Manfaat Gadung ...........................................................................................8
2.5. Akar Biduri .................................................................................................11
2.6. Biopestisida ................................................................................................14
2.7. Hama...........................................................................................................15
BAB III METODE PENELITIAN ....................................................................24
3.1. Jenis dan Metode Penelitian .......................................................................24
3.2. Teknik Pengumpulan Data .........................................................................24
3.3. Sampel Penelitian .......................................................................................24
3.4. Variabel Penelitian .....................................................................................25
3.5. Tempat dan Waktu Penelitian ....................................................................25
3.6. Tahapan Penelitian .....................................................................................25

vi
BAB IV PELAKSAANAAN PERCOBAAN ...................................................26
4.1. Alat dan Bahan Percobaan..........................................................................26
4.2. Prosedur Penelitian .....................................................................................27
4.3. Prosedur Kerja Pembuatan Biopestisida ....................................................28
BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN HASIL PERCOBAAN................32
5.1. Analisis Data ..............................................................................................32
5.2. Hasil Penelitian...........................................................................................32
5.3. Pembahasan ................................................................................................34
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ...........................................................37
6.1. Kesimpulan .................................................................................................37
6.2. Saran ...........................................................................................................38
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................39
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ..........................................................................42

vii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1. Rumus bangun dioskorin.....................................................................7


Gambar 1. 2. Rumus kimia hidrogen sianida ...........................................................8
Gambar 1.3. Rumus kimia kumarin .......................................................................11
Gambar 1.4. Rumus kimia saponin ........................................................................13
Gambar 1.5. Serangga berdasarkan jenis mulutnya ...............................................16
Gambar 1.6. Anguina sp. ........................................................................................17
Gambar 1.7. Meloidogyne sp..................................................................................17
Gambar 1.8. Leucopholis sp. ................................................................................. 18
Gambar 1.9. Agrotis sp. ..................................................................................18
Gambar 1.10. Epilachna sp. ...................................................................................18
Gambar 1.11. Ostrinia nubiali ...............................................................................19
Gambar 1.12. Dacus dorsalis .................................................................................19
Gambar 1.13. Etiella zinkekella .............................................................................19
Gambar 1.14.Chilo sacharipagus...........................................................................19
Gambar 1.15. Helopeltis sp. ...................................................................................19
Gambar 1.16. Aphis sp. ..........................................................................................19
Gambar 1.17. Cyrtopeltis sp...................................................................................19
Gambar 3. 1. Diagram penelitian 27
Gambar 3.2. Tahap penakaran................................................................................28
Gambar 3.3. Tahap pengupasan .............................................................................28
Gambar 3.4. Gadung yang telah dicuci ..................................................................28
Gambar 3.5. Proses penghalusan gadung...............................................................29
Gambar 3.6. Tahap penyaringan ............................................................................29
Gambar 3.7. Tahap penghalusan kayu manis.........................................................29
Gambar 3.8. Tahap pencampuran serbuk kayu manis dengan sari gadung ...........30
Gambar 3.9. Akar biduri yang telah dikupas .........................................................30
Gambar 3.10. Tahap perebusan akar biduri ...........................................................30
Gambar 3.11. Sari akar biduri ................................................................................31
Gambar 3.12. Campuran sari gadung dengan sari akar biduri ...............................31
Gambar 3.13. Biopestisida variasi I .......................................................................31

viii
Gambar 3.14. Biopestisida variasi II ......................................................................31
Gambar 3.15. Biopestisida variasi III.....................................................................31
Gambar 4.1. Tahap uji variasi I lapangan terhadap semut rangrang yang
menempel pada batang pohon jambu ................................................................... 33
Gambar 4.2. Tahap uji variasi II lapangan terhadap semut rangrang yang
menempel pada batang pohon jambu .....................................................................34
Gambar 4.3. Tahap uji variasi III lapangan terhadap semut rangrang yang
menempel pada batang pohon jambu .....................................................................34

ix
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1. Variasi percobaan ..................................................................................28


Tabel 4.1. Hasil uji coba dari 3 variasi 33

x
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Indonesia merupakan salah satu negara dengan lahan pertanian yang
luas. Namun sebagian besar dari lahan pertanian tersebut diserang hama dan
mengakibatkan kegagalan maupun penurunan hasil panen yang memberikan
kerugian besar bagi para petani. Dengan demikian, jumlah penggunaan
pestisida sintetis di Indonesia semakin meningkat. Meningkatnya jumlah
penggunaan pestisida sintetis mengakibatkan produksi pestisida sintetis juga
meningkat.
Pestisida sintetis merupakan pestisida dengan bahan kimia yang
digunakan untuk membasmi hama pada tumbuhan. Akan tetapi, jika
digunakan dalam jumlah banyak dan dalam jangka waktu panjang dapat
memberikan berbagai efek negatif yang dapat merusak lingkungan. Dampak
penggunaan pestisida sintetis secara terus-menerus adalah pencemaran tanah,
air, residu pestisida, dan terbunuhnya predator alami sehingga muncul hama
baru yang lebih resisten terhadap pestisida. Berbagai jenis pestisida akan
terakumulasi di tanah dan air, sehingga akan berdampak buruk terhadap
keseluruhan ekosistem dan penurunan efektivitas pestisida. Oleh karena itu,
diperlukan pestisida alami (biopestisida) yang tidak memberikan efek negatif
bagi lingkungan.
Biopestisida adalah pestisida alami yang aman bagi lingkungan, cepat
terurai oleh komponen abiotik seperti sinar matahari, kelembaban, suhu, dan
udara, sehingga tidak menyebabkan pencemaran tanah dan air. Daya racun
pestisida bersifat selektif karena hanya mematikan organisme pengganggu
tanaman tertentu dan relatif aman bagi manusia dan hewan.
Peluang untuk mengembangkan bahan alternatif pengganti pestisida
sintesis di Indonesia relatif besar karena keanekaragaman hayati yang ada
memiliki potensi untuk dimanfaatkan. Namun, kebanyakan manusia
cenderung menggunakan bahan yang digunakan oleh masyarakat umum
tanpa memperhatikan bahan lain yang memungkinkan bisa dijadikan sebagai

1
bahan pengganti. Bahkan mereka menganggap remeh tumbuhan liar yang
ternyata memiliki manfaat yang cukup besar bagi manusia.
Salah satu tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar
pembuatan biopestisida adalah gadung (Discorea hispidadennst) pada bagian
umbi. Umbi gadung mengandung senyawa alkaloid dioskorin, hidrogen
sianida, dan saponin dioskin yang bersifat racun bagi hama namun tidak
menimbulkan pencemaran lingkungan. Umbi yang tua jika dibiarkan terus-
menerus akan berubah warna menjadi hijau dan kadar racunnya meningkat.
Selain gadung, tumbuhan yang berpotensi membasmi hama secara
alami adalah akar pada tumbuhan biduri. Hal ini dikarenakan kandungan
saponin dan kumarin yang terdapat di dalamnya dapat merusak jaringan
tubuh serangga. Berdasarkan hasil penelitian, sari akar biduri dengan
konsentrasi efektif dapat membunuh larva Aedes aegypti.
Dengan berbagai keunggulan dan kandungan yang terkandung dalam
umbi gadung dan akar biduri, kemungkinan besar gadung sebagai bahan
dasar biopestisida dengan tambahan sari akar biduri sangat berpotensi
membunuh hama dan ramah bagi lingkungan.
Berdasarkan hal yang telah diuraikan di atas, penulis terinspirasi untuk
menjadikan umbi gadung sebagai bahan dasar pembuat biopestisida dengan
campuran akar biduri agar menghasilkan bipoestisida yang unggul dan
menguntungkan bagi manusia.
1.2. Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah dipaparkan di atas, dapat dirumuskan
beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
1.2.1. Dapatkah umbi gadung (Discorea hispidadennst) dimanfaatkan
sebagai bahan dasar biopestisida?
1.2.2. Apakah akar biduri dapat digunakan sebagai bahan tambahan dalam
pembuatan biopestisida?
1.2.3. Berapa lama waktu yang diperlukan biopeptisida dalam membasmi
hama?
1.2.4. Berapa hari tumbuhan tidak didatangi oleh hama dalam satu kali
penyemprotan?

2
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini yaitu:
1.3.1. Untuk membuktikan bahwa umbi gadung dan akar biduri dapat
digunakan sebagai bahan dasar biopestisida
1.3.2. Untuk memastikan rentang waktu yang diperlukan biopestisida dalam
membasmi hama
1.3.3. Untuk memastikan lama waktu ketahanan penggunaan biopestisida
dalam mengusir hama setelah dilakukan penyemprotan pertama
1.4. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini secara teoritis yaitu:
a. Secara teori dapat memproduksi biopestisida yang ramah lingkungan,
b. Cepat terurai oleh komponen abiotik seperti sinar matahari, kelembaban,
suhu, dan udara, sehingga tidak menyebabkan pencemaran tanah dan air.
c. Daya racun pestisida bersifat selektif karena hanya mematikan organisme
pengganggu tanaman tertentu dan relatif aman bagi manusia dan hewan.
Manfaat penelitian ini secara akademis yaitu:
a. Mempertajam kepekaan terhadap potensi tanaman di lingkungan sekitar
b. Melatih dan membiasakan diri untuk berpikir sistematis dan analitis
Manfaat dari penelitian ini yaitu untuk menambah wawasan kepada
pembaca pada umumnya dan bagi penulis pada khususnya.
1.5. Metode Penelitian
Paper ini disusun setelah melalui metode analisis dan eksperimen.
Metode eksperimen dilakukan dengan cara percobaan yang berlandaskan
teori secara sistematis. Diperlukan percobaan berulang-ulang untuk
mendapatkan hasil yang maksimal. Sedangkan metode analisis yang
digunakan adalah metode analisis deskriptif, yaitu merinci atau
mendeskripsikan data hasil dari hasil percobaan. Sehingga paper yang
disusun dapat diaplikasikan dan teruji dengan baik.

3
1.6. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan paper ini sebagai berikut :
HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN
PERSEMBAHAN
MOTTO
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR TABEL
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Rumusan Masalah
1.3. Tujuan Penelitian
1.4. Manfaat Penelitian
1.5. Metode Penelitian
1.6. Sistematika Pembahasan
BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1. Tumbuhan Gadung
2.2. Klasifikasi Gadung
2.3. Kandungan Gadung
2.4. Manfaat Gadung
2.5. Akar Biduri
2.6. Biopestisida
2.7. Hama
BAB III METODE PENELITIAN
3.1. Jenis dan Metode Penelitian
3.2. Teknik Pengumpulan Data
3.3. Sampel Penelitian
3.4. Variabel Penelitian
3.5. Tempat dan Waktu Penelitian
3.6. Tahapan Penelitian

4
BAB IV PELAKSAANAAN PERCOBAAN
4.1. Alat dan Bahan Percobaan
4.2. Prosedur Penelitian
4.3. Prosedur Kerja Pembuatan Biopestisida
BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN HASIL PERCOBAAN
5.1. Analisis Data
5.2. Hasil Penelitian
5.3. Pembahasan
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
6.2. Saran
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

5
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1. Tumbuhan Gadung


Gadung (Discorea hispidadennst) adalah salah satu tumbuhan dari
suku gadung-gadungan (Dioscoreaceae) yang tergolong tanaman umbi-
umbian. Gadung (Discorea hispidadennst) merupakan perdu memanjat yang
tingginya antara 5 10 m, mengandung racun, dan berumur menahun
(perenial).
Gadung merupakan tumbuhan berkayu, silindris, membelit, warna
hijau, bagian dalam solid, permukaan halus, dan berduri. Berdaun majemuk,
bertangkai, beranak daun tiga (trifoliolatus), warna hijau, panjang 20 25
cm, lebar 1 12 cm, helaian daun tipis lemas, bentuk lonjong, ujung
meruncing (acuminatus), pangkal tumpul (obtusus), tepi rata, pertulangan
melengkung (dichotomous), dan permukaan kasap (scaber). Berakar serabut,
berbuah lonjong, dan panjang kira-kira 1 cm.
Bunga tumbuhan ini terletak pada ketiak daun (axillaris), tersusun
dalam bulir (spica) dan berbulu. Pada pangkal batang tumbuhan gadung
terdapat umbi yang besar dan kaku yang terletak didalam tanah. Kulit umbi
berwarna gading atau cokelat muda dan daging umbinya berwarna kuning
atau putih gading. Perbanyakan tumbuhan ini dengan menggunakan umbinya.
2.2. Klasifikasi Gadung
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)
Divisi : Magnoliophyta (tumbuhan berbunga)
Kelas : Liliopsida (berkeping satu/monokotil)
Sub Kelas : Liliidae
Ordo : Liliales
Famili : Dioscoreaceae
Genus : Dioscorea
Spesies : Dioscorea hispidadennst

6
2.3. Kandungan Gadung
Bagian gadung yang dimanfaatkan sebagai pestisida alami adalah
umbi. Umbi gadung memiliki banyak kandungan kimia, diantaranya: tanin,
diosgenina, dioskorin (racun), saponin, amilum, CaC2 O4 , antidotum, besi,
kalsium, lemak, garam, fosfat, hidrogen sianida, protein, dan vitamin B1.
Namun, kandungan kimia yang sangat berpotensi untuk membasmi hama
adalah dioskorin dan hidrogen sianida.
2.3.1. Dioskorin
Dioskorin tergolong senyawa alkaloid, yang ditunjukkan
dengan sifatnya yang basa, mengandung satu atau lebih nitrogen
heterosiklik, dan umumnya beracun bagi manusia. Di alam, alkaloid
dioskorin variasinya sangat beragam dalam hal struktur, stabilitas,
kemampuan untuk menguap, dan polaritasnya. Alkaloid dioskorin
(C13 H19 O2 N) dapat diperoleh dengan cara ekstraksi dan isolasi dari
tepung gandum. Rumus bangun dioskorin dapat dilihat pada gambar1.
Dioskorin berwarna kuning kehijauan, bersifat higroskopis,
dan merupakan senyawa basa kuat yang rasanya sangat pahit.
Senyawa ini mudah larut dalam air, etanol, dan kloroform, tetapi
sukar larut dalam eter dan benzene. Kadar dioskorin dalam umbi
gadung sekitar 0,044% berat basah atau 0,221% berat kering.

Gambar 1.1. Rumus bangun dioskorin

2.3.2. Hidrogen Sianida


Di dunia ini terdapat sekitar 3.000 spesies dari 110 famili yang
dapat melepaskan hidrogen sianida melalui proses yang disebut
cyanogenesis. Salah satunya adalah gadung yang dalam umbinya

7
mengandung asam sianida dalam bentuk bebas maupun prekursornya
berupa sianogenik glukosida.
HCN disintesis secara enzimatis dari linamarin dan lotaustralin
yang umumnya terdapat dalam tanaman dengan perbandingan
kuantitatif 93% dan 7%. Pada konsentrasi tinggi, cianida terutama
dalam bentuk bebas sebagai HCN dapat mematikan. Dari umbi
gadung segar bisa dihasilkan sekitar 400 mg cianida per kg.
Keracunan bisa terjadi jika seseorang mengkonsumsi gadung segar
atau gadung yang diproses secara salah (malproses) sebanyak sekitar
0,5 kg. Jika gadung beresidu HCN rendah dikonsumsi, akibat
keracunan tidak dirasakan langsung tetapi dapat mengganggu
ketersediaan asam amino sulfur dan menurunkan ketersediaan iodium
dalam tubuh. Hal ini karena HCN dalam tubuh akan bereaksi menjadi
senyawa tiosianat dengan sulfur yang berasal dari asam amino
metionin dan sistein (asam amino sulfur) serta senyawa tiosianat yang
terbentuk akan menghambat penyerapan iodium pada kelenjar tiroid.

H CN
Gambar 1. 2. Rumus kimia hidrogen sianida

2.4. Manfaat Gadung


2.4.1. Sebagai Bahan Makanan Pokok
Manfaat pertama dari gadung adalah sebagai salah satu
sumber utama dari makanan pokok pengganti nasi. Meskipun
memiliki racun, racun dari umbi gadung dapat dinetralisir apabila
diolah dengan baik.
2.4.2. Sebagai Tambahan Energi dan Kalori
Dengan mengkonsumsi gadung, tubuh akan memperoleh
energi yang besar dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Hal ini
dikarenakan gadung merupakan salah satu jenis umbi-umbian yang
memiliki kandungan kalori yang tinggi.

8
2.4.1. Mampu Mengurangi Resiko Terkena Rematik
Meskipun menjadi salah satu tanaman atau makanan yang
beracun, banyak yang telah membuktikan bahwa dengan
mengkonsumsi makanan hasil olahan umbi gadung secara benar dapat
mengurangi resiko terkena rematik. Hal ini tentu sangat bermanfaat
mengingat rematik adalah salah satu jenis penyakit yang sering
muncul karena faktor pertambahan usia.
2.4.2. Menjaga Kesehatan Lambung
Umbi gadung mampu mencegah dan membantu
menyembuhkan kejang otot pada perut, sehingga umbi gadung sangat
bermanfaat untuk menjaga lambung tetap sehat dan bekerja dengan
baik. Selain itu, umbi gadung juga mampu menjaga kesehatan sistem
pencernaan dalam tubuh.
2.4.3. Dapat Mengurangi Resiko Penyakit Jantung
Umbi gadung mempunyai sifat alami yang mampu mengontrol
dan juga mampu membantu menurunkan kadar kolesterol dalam
darah. Hal ini tentu akan sangat berpengaruh terhadap kesehatan
jantung dan juga aman untuk dikonsumsi orang yang memiliki kadar
kolesterol tinggi.
2.4.4. Penyembuhan Penyakit Kusta
Salah satu jenis penyakit kulit yang mungkin mengerikan
adalah penyakit kusta. Namun gejala penyakit kusta dapat
disembuhkan, atau diminimalisir menggunakan umbi gadung.
2.4.5. Dapat Menyembuhkan Luka yang Bernanah
Cara ini merupakan pengobatan luar. Cukup dengan
menempelkan irisan umbi gadung pada bagian yang luka. Hal ini akan
membantu mempercepat penyembuhan luka yang bernanah.
2.4.6. Sebagai Camilan (Olahan Keripik)
Saat ini, gadung sudah banyak diolah dalam bentuk keripik,
sama seperti talas, singkong, kentang, dan jenis umbi-umbian lainnya.
Biasanya, olahan keripik dari umbi jenis gadung dan semacamnya

9
memiliki rasa yang asin dan gurih, sehingga sangat nikmat untuk
dikonsumsi.
2.4.7. Dapat Dijadikan Pestisida, Insektisida (Biopestisida)
Tidak hanya untuk dikonsumsi atau dijadikan sebagai bahan
olahan makanan saja, para petani dapat memanfaatkan racun dari
tanaman gadung ini sebagai bahan untuk membuat pestisida dan
insektisida. Dengan demikian tanaman ini dapat dimanfaatkan dalam
bidang pertanian terutama untuk membasmi hama seperti tikus.
Racun yang terkandung dalam umbi gadung dapat
dimanfaatkan sebagai tambahan dalam berburu seperti mengoleskan
racunya pada mata kail atau pada mata panah. Sehingga hewan
buruan yang terkena akan menjadi lumpuh karena terkena racunya.
2.4.8. Dapat Dijadikan Arak
Umbi gadung dapat digunakan sebagai bahan
membuat arak dengan cara fermentasi.
2.4.9. Pengobatan
Di Indonesia dan Cina, parutan umbi gadung ini digunakan
untuk mengobati penyakit kusta tahap awal, kutil, kapalan, dan mata
ikan. Bersama dengan gadung cina (Smilax china L.), umbi gadung
dipakai untuk mengobati luka-luka akibat sifilis.
Di Thailand, irisan dari umbi gadung dioleskan untuk
mengurangi kejang perut dan kolik, dan untuk menghilangkan nanah
dari luka-luka. Di Philipina dan Cina, umbi ini digunakan untuk
meringankan arthritis dan rematik, dan untuk membersihkan luka
binatang yang dipenuhi belatung.
Umbi Dioscorea (genus umbi-umbian) mengandung lendir
kental terdiri atas glikoprotein dan polisakarida yang larut dalam air.
Glikoprotein dan polisakarida merupakan bahan bioaktif yang
berfungsi sebagai serat pangan larut air dan bersifat hidrokoloid yang
bermanfaat untuk menurunkan kadar glukosa darah dan kadar total
kolesterol, terutama kolesterol LDL (Low Density Lipoprotein).

10
2.5. Akar Biduri
2.5.1. Kandungan Kimia
Akar biduri memiliki kandungan kimia yang cukup banyak,
ada yang aman dan ada pula yang berbahaya. Kandungan akar biduri
yang aman antara lain sapogenin, kalotropin, kalotoksin, uskarin,
kalaktin, gigantin, dan harsa. Sedangkan yang berbahaya sehingga
berpotensi untuk membasmi hama adalah kumarin dan saponin.
2.5.1.1. Kumarin
Kumarin adalah suatu metabolit dari tumbuhan yang
sering dijumpai sebagai glikosidal yang terbentuk karena
hidrolisis asam glikosil-o-hidroksi sinamat secara enzimatik
dan kemudian segera terjadi siklikasi menjadi lakton,
tepatnya lakton asam-o-hidroksisinamat. Hampir semua
kumarin alam mempunyai oksigen (hidroksil atau alkosil)
pada C-7. Pada posisi lain dapat pula eroksigenasi dan sering
pula terdapat rantai samping alkil (Robinson, 1991).
Kumarin dapat disintesis dari reaksi etilasetoasetat
dengan resorsinol dan menggunakan asam sulfat pekat
sebagai katalis melalui reaksi transesterifikasi. Reaksi
transesterifikasi adalah suatu reaksi pertukaran gugus ester
dengan gugus alkohol melalui mekanisme reaksi reversibel
yang akhirnya membentuk suatu ester yang bentuknya
berbeda. Reaksi transesterifikasi adalah beranalog langsung
dengan hidrolisis asam atau basa. Hal ini dikarenakan reaksi
transesterifikasi merupakan reaksi yang reversibel, biasanya
digunakan alkohol secara berlebih (Fessenden & Fessenden,
1990).

Gambar 1.3. Rumus kimia kumarin

11
2.5.1.2. Saponin
Saponin merupakan senyawa dalam bentuk glikosida
yang tersebar luas pada tumbuhan tingkat tinggi. Saponin
membentuk larutan koloidal dalam air dan membentuk busa
yang cukup kental jika dikocok dan tidak hilang dengan
penambahan asam (Harbrone, 1996).
Saponin termasuk dalam golongan senyawa alam
yang rumit, mempunyai massa dan molekul besar dengan
kegunaan luas (Burger et.al, 1998). Saponin diberi nama
demikian karena sifatnya menyerupai sabun Sapo berarti
sabun. Saponin adalah senyawa aktif permukaan yang kuat
dan menimbulkan busa bila dikocok dengan air. Beberapa
saponin bekerja sebagai antimikroba. Dikenal juga jenis
saponin yaitu glikosida triterpenoid dan glikosida struktur
steroid tertentu yang mempunyai rantai spirotekal. Kedua
saponin ini larut dalam air dan etanol, tetapi tidak larut dalam
eter. Aglikonya disebut sapogenin, diperoleh dengan
hidrolisis dalam suasana asam atau hidrolisis memakai enzim
(Robinson, 1995).
Saponin ada pada seluruh tanaman dengan konsentrasi
tinggi pada bagian-bagian tertentu dan dipengaruhi oleh
varietas tanaman dalam tahap pertumbuhan. Fungsi dalam
tumbuh-tumbuhan sebagai penyimpan karbohidrat (weste
product) dan pelindung terhadap serangan serangga.
Sifat-sifat saponin antara lain :
a. Mempunyai rasa pahit.
b. Dalam larutan air membentuk busa stabil.
c. Menghemolisa eritrosit.
d. Merupakan racun kuat untuk ikan dan amfibi.
e. Membentuk persenyawaan dengan kolesterol dan
hidroksiteroid lainya.
f. Sulit untuk dimurnikan dan diidentifikasi.

12
g. Berat molekul relative tinggi dan analisi hanya
menghasilkan formula empiris yang mendekati
toksisitasnya.

Gambar 1.4. Rumus kimia saponin

Berdasarkan hasil penelitian uji coba oleh Zanaria


T.M, Ginting B., Hayati Z., dan Amris F., membuktikan
bahwa ekstrak akar biduri dapat menyebabkan kematian larva
Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Hal ini terjadi karena
ekstrak metanol akar biduri (Calotropis gigantea L.) yang
mengandung senyawa saponin yaitu kardiak glikosid
(kardinolid) sehingga dapat membunuh larva nyamuk v Aedes
aegypti dan Aedes albopictus instar IV.
Diduga senyawa tersebut bekerja sebagai racun
pernafasan dan sedikit sebagai racun perut, setelah racun
masuk melalui mulut larva, maka racun menganggu saraf,
saluran nafas, dan pencernaan larva. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Hostettmann et al (1995) dalam Chowdhury
(2008) bahwa senyawa saponin merusak membran pada kulit
larva dan menyebabkan larva mati.
Apabila senyawa saponin masuk ke dalam tubuh larva
maka alat pencernaan akan terganggu, senyawa ini
menghambat reseptor perasa pada daerah mulut larva. Hal ini
menyebabkan larva gagal mendapat stimulus rasa sehingga
tidak mampu mengenali makanannya. Selain sebagai racun
perut, senyawa saponin (kardiak glikosid) juga
13
mempengaruhi sistem saraf. Kardiak glikosid (kardinolid)
diduga berperan penting dalam sitotoksik sistem saraf
sehingga menganggu tramsmisi rangsang saraf melalui
penghambatan enzim N +-K +-ATPase pada tingkat intraseluler
(Kiuchi, 1998; Desai, 2000).
2.6. Biopestisida
2.6.1. Pengertian Biopestisida
Biopestisida adalah agen biologi atau produk bahan alami,
seperti tumbuh-tumbuhan yang digunakan untuk mengendalikan
organisme pengganggu tanaman atau biasa disebut dengan pestisida
hayati. Biopestisida merupakan salah satu solusi ramah lingkungan
dalam rangka meminimalisir dampak negatif akibat penggunaan
pestisida non-hayati yang berlebihan.
Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan biopestisida
berasal dari bahan hidup seperti tumbuh-tumbuhan (empon-empon,
jarak, jengkol, biji srikaya, tembakau, nimbi, dll) dan mikroba
(cendawan, bakteri, virus, dan protozoa). Berdasarkan penelitian,
sebagian tumbuhan mengandung bahan kimia yang dapat membunuh,
menarik, dan menolak serangga. Sebagian juga menghasilkan racun,
mengganggu siklus pertumbuhan serangga, sistem pencernaan, atau
mengubah perilaku serangga.
2.6.2. Macam-macam biopestisida
2.6.2.1. Pestisida dari tanaman
Pestisida dari tanaman adalah pestisida yang berasal
dari ekstrak tumbuhan. Pestisida jenis ini hanya terbatas
dalam membunuh beberapa jenis hama, seperti belalang, kutu
daun, ulat, dll. Namun, terdapat batasan penggunaan karena
efek yang lambat dari penggunaan pestisida ini.
Selain itu, penggunan ekstrak tumbuhan sebagai
pestisida banyak dilakukan tetapi di lain pihak masih terdapat
kekurangan pengembangan tumbuhan tersebut sebagai

14
komersial produknya dan seringkali ekstrak dari tumbuhan
kurang stabil sedangkan dibutuhkan pestisida yang stabil.
2.6.2.2. Pestisida dari Mikroba
Mikroba yang biasa digunakan sebagai pestisida
adalah yang mampu membunuh penyakit spesifik yang
disebabkan oleh mikroba, nematoda, dan hama serangga.
Selain itu, mampu meningkatkan pertumbuhan dari tanaman
sehingga dapat dikatakan bahwa penggunaan dari pestisida
ini potensial untuk mendapatkan pertanian yang ramah
lingkungan. Entomopatogenik virus, bakteria, fungi dan
protozoans banyak digunakan untuk melawan hama
lepidopteran. Contoh:
Viral patogen seperti NPV dan GV dapat mengontrol
dari Spilosoma, Amsacta, Spodoptera, Helicoverpa,
dll.
Bakteri seperti Bacillus thuringiensis, terkenal dalam
mengontrol Plutella dan Helicoverpa.
Cendawan seperti Trichoderma sebagai agen kontrol
dari penyakit yang disebabkan oleh beberapa fungi
dan bakteri.
2.7. Hama
Hama merupakan organisme perusak pada seluruh bagian tubuh
tumbuhan seperti akar, batang, daun, atau bagian tanaman lainnya yang dapat
menyebabkan tanaman tidak dapat tumbuh dengan sempurna atau mati,
sehingga dapat menimbulkan kerugian. Organisme dikatakan hama apabila
mengurangi kualitas dan kuantitas bahan makanan, pakan ternak, tanaman
serat dan hasil pertanian atau panen, bertindak sebagai vektor penyakit pada
tanaman, binatang dan manusia serta merusak bahan bangunan. Organisme
yang termasuk hama adalah serangga, molusca, binatang pengerat, burung,
tungau, vertebrata, virus, bakteri, gulma, dan organisme pengganggu tanaman
lainnya.

15
2.7.1. Ciri-ciri Hama
Ciri-ciri hama secara umum antara lain:
1. Dapat dilihat oleh mata telanjang.
2. Umumnya berasal dari golongan hewan (tikus, serangga, ulat, dan
lain-lain).
3. Cenderung merusak bagian tanaman tertentu sehingga
menyebabkan tanaman mati atau tetap hidup tetapi tidak banyak
memberikan hasil.
2.7.2. Macam-macam Hama pada Tumbuhan
Kerusakan yang ditimbulkan oleh hama tidak dapat lepas dari
morfologi alat mulut hama. Khusus pada serangga ada dua tipe dasar
alat mulut yaitu tipe pengunyah (mandibulate) dan penghisap
(haustellate). Kedua tipe dasar alat mulut serangga ini dapat
mengalami variasi sehingga didapatkan berbagai tipe mulut seperti
penggigit, pengunyah, pengunyah penghisap, penjilat penghisap,
penusuk, dan penghisap.
Serangga memiliki mulut yang khas, satu jenis serangga
memiliki perbedaan jenis mulut dengan jenis serangga yang lainnya.
Mulut serangga tersebut sesuai dengan makanan serangga. Bagian
mulut terdiri atas rahang belakang (mandibula), rahang depan
(maksila), dan bibir atas (labrum), serta bibir bawah (labium).

Gambar 1.5. Serangga berdasarkan jenis mulutnya

Menurut cara merusaknya, hama tanaman dapat digolongkan


dalam beberapa kelompok: hama penyebab gejala puru, hama
pemakan, hama penggerek, dan hama penghisap.

16
a. Hama Penyebab Gejala Puru
Hama penyebab gejala puru masuk melalui jaringan
tanaman yang masih muda, puru terbentuk akibat adanya sekresi
yang dikeluarkan pada waktu menghisap/merusak jaringan
tanaman. Sekresi menyebabkan pertumbuhan jaringan tanaman
paling luar terluka.

Gambar 1.6. Anguina sp.

Gambar 1.7. Meloidogyne sp.

b. Hama Pemakan
Hama golongan ini mempunyai alat mulut tipe paling
primitif, penggigit pengunyah, dan dijumpai pada belalang,
kumbang serta sebagian besar larva. Bagian tanaman yang diserang
meliputi akar (Leucopholis sp), batang (Agrotis sp), dan daun
(Epilachna sp).

17
Gambar 1.8. Leucopholis sp. Gambar 1.9. Agrotis sp.

Gambar 1.10. Epilachna sp.

c. Hama penggerek
Hama golongan ini merusak dengan cara mengebor
(menggerek) bagian tanaman tertentu dan memakannya. Hama
tersebut biasanya tinggal di dalam jaringan batang, akar, buah, biji
maupun umbi sehingga dikenal hama-hama penggerek batang,
penggerek buah, bunga dan lain-lain.
Kebanyakan hama penggerek memiliki tipe alat mulut
penggigit dan umumnya masuk ke dalam jaringan pada saat fase
larva, namun beberapa diantaranya pada fase dewasa. Hama
penggerek tersebut umumnya adalah anggota Lepidoptera,
Coleoptera, dan Diptera.

18
Gambar 1.11. Ostrinia nubiali Gambar 1.12. Dacus dorsalis

Gambar 1.13. Etiella zinkekella Gambar 1.14.Chilo sacharipagus

d. Hama penghisap
Objek yang dihisap oleh hama penghisap adalah cairan
daun, ranting, bunga, dan pentil buah dengan cara memasukkan alat
penghisap/stiletnya ke dalam jaringan tanaman. Akibatnya
pertumbuhan daun, ranting, bunga dan pentil buah terhambat,
sehingga dapat menurunkan produksi buah.

Gambar 1.15. Helopeltis sp. Gambar 1.16. Aphis sp.

Gambar 1.17. Cyrtopeltis sp.

19
2.7.2.1. Semut
Semut adalah serangga eusosial yang berasal dari
keluarga Formicidae, semut termasuk dalam ordo
Hymenoptera bersama lebah. Semut terbagi atas lebih dari
12.000 kelompok, dengan perbandingan jumlah yang besar
di kawasan tropis.
a. Ciri-ciri Semut
Semut berbeda dengan serangga lain karena memiliki
antena.
Semut memiliki kelenjar metapleural.
Pada bagian perut kedua yang berhibungan dengan
tungkai semut membentuk pinggang sempit
(pedunkel) di antena mesosoma ( bagian rongga dada
dan baerah perut) dan metasoma ( perut yang kurang
abdominal segmen dalam petiole).
Tubuh semut memiliki eksokeleton atau kerangka luar
yang memberikan perlindungan dan juga sebagai
menempelnya otot.
Semut memiliki lubang pernafasan di bagian dada
yang bernama spirakel untuk sirkulasi udara dalam
sistem repirasi.
Sistem saraf semut terdiri dari semacam otot saraf
ventral yang berada di sepanjang tubuhnya, dengan
beberapa buah ganglion dan cabang yang
berhubungan dengan setiap bagian dalam tubuhnya.
Pada umumnya semut memiliki penglihatan yang
buruk, bahkan beberapa jenis dari mereka buta.
Antena semut digunakan untuk berkomonikasi satu
sama lain dan mendeteksi feromon yang dikeluarkan
oleh semut lain, serta digunakan sebagai alat peraba
untuk mendeteksi segala sesuatu yang ada di
depannya.
20
Sebagian besar semut jantan dan betina calon ratu
memiliki sayap.
Setelah kawin, betina akan meninggalkan sayapnya
dan menjadi ratu semut yang tidak bersayap.
Sedangkan pada semut yang pekerja dan prajurit tidak
memiliki sayap.
Beberapa spesies semut juga memiliki sengat yang
terhubung dengan semacam kelenjar beracun untuk
melumpuhkan mangsanya dan melindungi sarangnya.
Sedangkan spesies semut seperti formica yessensis
memiliki kelenjar penghasil asam semut yang bisa
disemprotkan ke musuh untuk pertahanan.
b. Spesies-spesies Semut
No. Klasifikasi Keterangan Gambar Referensi
Semut betina bersayap.
Suku : Camponotini
Semut jenis ini mencari
Subfamily : Formicinae
makan pada sore hari
Keluarga : Formicidae
1. (ketika suhu tidak
Order : Hymenoptera
terlalu panas) dan
Species : Camponotus
membuat sarang di
consobrinus
dalam tanah.
Semut jenis ini
bersarang di pohon,
makanannya berupa
Ordo : Hymenoptera
hama tanaman,
Family : Formicidae
sehingga efektif
Subfamily : Formicinae
2. sebagai pembasmi
Genus : Oechophylla
hama tanaman dengan
Species : Oechophylla
tetap menjaga
smaragdina
keseimbangan
ekosistem.

21
Semut ini membangun
sarang di dalam tanah,
memiliki keunikan
yaitu memiliki rambut
berwarna emas pada
Suku : Camponotini
bagian abdomennya,
Subfamily : Formicinae
dalam mencari
Keluarga : Formicidae
3. makanan tidak seperti
Order : Hymenoptera
spesies lain yang
Species : Camponotus
senang membuat rantai
sericeus
panjang bersama
kawanannya, spesies
ini lebih senang
berkelompok antara 5-6
individu saja.
Semut ini
Suku : Camponotini
penyebarannya di Asia
Subfamily : Formicinae
Timur Tengah dan
Keluarga : Formicidae
4. Rusia, membangun
Order : Hymenoptera
sarang di pangkal
Species : Camponotus
pohon, sering memakan
compressus
madu bunga.
Suku : Camponotini Semut ini panjang
Subfamily : Formicinae tubuhnya + 7mm,
Keluarga : Formicidae antara sarang satu
5.
Order : Hymenoptera kelompok dengan
Species : Polyrhachis kelompok yang lain
hookeri saling berdekatan.
Suku : Plagiolepidini Semut jenis ini
Subfamily : Formicinae bersarang di dalam
6.
Keluarga : Formicidae tanah pada pangkal
Order : Hymenoptera rumput, memiliki kaki

22
Species : Paratrechina yang panjang dan
longicornis antena yang meluas.
Semut ini bersarang di
dalam tanah dan
mampu bertahan pada
Suku : Melophorinii
suhu tinggi, hal ini
Subfamily : Formicinae
ditunjukkan dengan
Keluarga : Formicidae
7. adaptasi tingkah
Order : Hymenoptera
lakunya, yaitu dapat
Species : Melophorus
makan pada saat suhu
bagoti
bumi tinggi sekitar
50C.

Semut Rangrang
Semut rangrang merupakan salah satu jenis
musuh alami. Semut ini memiliki cara hidup yang
khas yaitu merajut daun-daun pada pohon untuk
membuat sarang. Semut rangrang menyukai udara
yang segar sehingga tidak mungkin ditemukan di
dalam rumah. Hal itu pula yang menyebabkan semut
rangrang tidak membuat sarang di dalam tanah
melainkan pada pohon. Selain perilakunya yang khas
dalam membuat sarang, tubuh semut rangrang lebih
besar dan perilakunya lebih agresif daripada semut
lainnya.

23
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Jenis dan Metode Penelitian


Jenis penelitian ini adalah analisis dan eksperimen. Metode
eksperimen dilakukan dengan cara percobaan yang berlandaskan teori secara
sistematis. Diperlukan percobaan berulang-ulang untuk mendapatkan hasil
yang maksimal. Sedangkan metode analisis yang digunakan adalah metode
analisis deskriptif, yaitu merinci atau mendeskripsikan data hasil dari hasil
percobaan.
3.2. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini yaitu:

Studi Literatur

Teknik Lapanga
Pengumpulan Eksperimen
Data

Tinjauan
Literatur

a. Studi Literatur
Studi literatur dilakukan dengan cara mencari informasi dan
literatur terkait pestisida kimia dan alami serta tanaman-tanaman dengan
kandungan tertentu yang dapat dimanfaatkan menjadi pestisida alami.
b. Studi Eksperimen
Eksperimen dilakukan dengan cara percobaan yang berlandaskan
teori secara sistematis. Percobaan dilakukan secara berulang-ulang dan
dilakukan pencatatan terhadap hasil dan hipotesis pada setiap percobaan.
c. Tinjauan Literatur
Hasil eksperimen/percobaan ditinjau ulang melalui kajian literatur.

3.3. Sampel Penelitian


Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti
(Suharsimi,1993). Sampel dalam penelitian ini adalah sari umbi gadung
24
(Discorea hispidadennst) yang dicampur dengan sari akar biduri (Calotropis
gigantea).
3.4. Variabel Penelitian
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
3.2.1. Variabel Bebas
Variabel bebas yaitu variabel yang diselidiki pengaruhnya
terhadap variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah
sari umbi gadung (Discorea hispidadennst).
3.2.2. Variabel Terikat
Variabel terikat yaitu variabel yang menjadi titik pusat
penelitian. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah campuran sari
umbi gadung (Discorea hispidadennst) dan sari akar biduri
(Calotropis gigantea).
3.5. Tempat dan Waktu Penelitian
3.3.1. Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium IPA MA YKUI
Maskumambang.
3.3.2. Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada tanggal 24 September-14 November
2015.
3.6. Tahapan Penelitian
Tahapan penelitian secara singkat yaitu :
1. Studi literatur terkait biopestisida, kandungan akar biduri dan umbi
gadung, serta hama.
2. Eksperimen membuat pestisida menggunakan umbi gadung.
3. Eksperimen membuat pestisida dengan variasi umbi gadung dan
akar biduri.
4. Membandingkan hasil percobaan pestisida umbi gadung dan
pestisida variasi akar biduri dengan umbi gadung.
5. Uji lapangan pestisida umbi gadung dan pestisida variasi akar
biduri dengan umbi gadung.
6. Penarikan kesimpulan hasil biopestisida terbaik.

25
BAB IV
PELAKSAANAAN PERCOBAAN

4.1. Alat dan Bahan Percobaan


4.1.1. Alat yang digunakan untuk membuat biopestisida yaitu:
a. Kompor listrik
b. Spatula
c. Gelas beker
d. Neraca Ohauss
e. Sendok
f. Penyaring
g. Sarung tangan
h. Mangkuk aluminium
i. Botol minuman plastik
j. Sprayer
k. Parutan
l. Lumpang-alu
m. Cutter
4.1.2. Bahan untuk membuat biopestisida yaitu:
a. 299 gram umbi gadung + 120 ml air
b. 10 gram akar widuri + 100 ml air
c. 3 gram kayu manis

26
4.2. Prosedur Penelitian
4.2.1. Diagram Penelitian

Umbi gadung

Dikupas kulitnya

Dicuci

Diparut

Ditambahkan air

Diperas

Disaring

Variasi I Variasi II Variasi III

1. Didiamkan selama 1. Ditambahkan kayu 1. Ditambahkan sari


satu malam manis yang telah akar biduri
2. Dimasukkan ke dihaluskan 2. Didiamkan selama
dalam sprayer 2. Didiamkan selama satu malam
satu malam 3. Dimasukkan ke
3. Dimasukkan ke dalam sprayer
dalam sprayer

Gambar 3. 1. Diagram penelitian

27
Variasi komposisi bahan yang digunakan untuk pembuatan
biopestisida dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Tabel 3.1. Variasi percobaan

Bahan Variasi I Variasi II Variasi III


Umbi gadung 100 gram 100 gram 100 gram
Air
(untuk pengenceran sari 40 ml 40 ml 40 ml
gadung)
Kayu manis - 3 gram -
Akar biduri - - 10 gram
Air
- - 50 ml
(untuk sari akar biduri)

4.3. Prosedur Kerja Pembuatan Biopestisida


Prosedur kerja yang digunakan dalam pembuatan biopestisida untuk
semua jenis variasi pada tabel di atas adalah sebagai berikut:
4.3.1. Variasi I
1. Umbi gadung ditimbang sesuai takaran, kemudian dikupas dan
dicuci hingga bersih.

Gambar 3.2. Tahap Gambar 3.3. Tahap Gambar 3.4. Gadung


penakaran pengupasan yang telah dicuci

28
2. Gadung yang telah dicuci dihaluskan dengan parutan sedikit
demi sedikit.

Gambar 3.5. Proses penghalusan gadung

3. Setelah itu, umbi gadung yang telah dihaluskan ditambahkan air


sesuai dengan takaran, kemudian diperas dan disaring untuk
diambil sarinya.

Gambar 3.6. Tahap penyaringan

4.3.2. Variasi II
1. Kayu manis ditumbuk halus dengan
lumpang-alu hingga benar-benar
halus seperti tepung.

Gambar 3.7. Tahap


penghalusan kayu manis

2. Serbuk kayu manis ditambahkan ke dalam sari umbi gadung


yang telah dibuat pada variasi I, kemudian diaduk hingga
tercampur rata.
29
Gambar 3.8. Tahap pencampuran serbuk kayu manis dengan sari gadung

4.3.3. Variasi III


1. Akar biduri dikupas untuk menghilangkan lapisan epidermis akar,
kemudian ditimbang sesuai takaran.

Gambar 3.9. Akar biduri yang telah dikupas

2. Akar biduri dimasukkan ke dalam air bersih, kemudian dipanaskan


di atas kompor listrik hingga mencapai suhu 1000 C (mendidih).

Gambar 3.10. Tahap perebusan akar biduri

30
3. Setelah +3 menit, air akan berwarna kekuningan dan kompor listrik
dimatikan. Tahap ini dilakukan untuk mengambil sari akar biduri.

Gambar 3.11. Sari akar biduri

4. Sari akar biduri didinginkan hingga mencapai suhu ruangan.


5. Sari akar biduri ditambahkan ke dalam sari umbi gadung yang
telah dibuat pada variasi I, kemudian diaduk hingga tercampur rata.

Gambar 3.12. Campuran sari gadung dengan sari akar biduri

Berikut ini hasil masing- masing variasi biopestisida :

Gambar 3.13. Biopestisida Gambar 3.14. Biopestisida Gambar 3.15. Biopestisida


variasi I variasi II variasi III

31
BAB V
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
HASIL PERCOBAAN

5.1. Analisis Data


Dalam penelitian pembuatan biopestisida yang berbahan dasar umbi
gadung ini, ada beberapa hal yang perlu di perhatikan, yaitu:
1. Pemakaian umbi gadung yang digunakan sebaiknya menggunakan gadung
yang busuk. Karena umbi yang tua jika dibiarkan terus-menerus akan
berubah warna menjadi hijau dan kadar racunnya meningkat. Sehingga
bisa ditarik hipotesis bahwa umbi gadung yang telah membusuk memiliki
kandungan racun yang paling tinggi dibandingkan dengan kondisi umbi
gadung yang lain. Disamping itu, dapat mengurangi limbah gadung.
2. Akar pohon biduri yang akan digunakan sebaiknya dikeringkan dibawah
sinar matahari langsung selama beberapa hari untuk mengurangi kadar air
yang terkandung di dalamnya.
3. Kayu manis yang digunakan harus benar-benar lembut, agar tidak
menyumbat saluran sprayer.
4. Formulasi dan takaran bahan harus sesuai prosedur pembuatan yang telah
dituliskan di atas.
5.2. Hasil Penelitian
Hasil penelitian terdiri dari hasil pengamatan peneliti atau observasi
secara objektif untuk mengetahui respon semut rangrang terhadap zat serta
perubahan warna yang dihasilkan ketika mengenai kulit batang. Untuk lebih
jelasnya, hasil penelitian di atas dapat dilihat pada tabel berikut:

32
Indikator Variasi I Variasi II Variasi III
Warna cairan Putih kecoklatan,
Putih kecoklatan Coklat muda
yang dihasilkan sedikit jernih
Efek kulit batang
Terdapat bekas Terdapat bekas
(Setelah Tidak ada bekas
putih putih pudar
penyemprotan)
Menjauh dalam
Menjauh dalam Menjauh dalam
Respon rangrang waktu 240 detik
waktu 52,5 detik waktu 52,9 detik
(4 menit)
Reaksi Lambat Cepat Cepat
Efektivitas 4 hari 6 hari 1-2 minggu

Tabel 4.1. Hasil uji coba dari 3 variasi

Gambar 4.1. Tahap uji variasi I lapangan terhadap semut


rangrang yang menempel pada batang pohon jambu

33
Gambar 4.2. Tahap uji variasi II lapangan terhadap semut rangrang yang menempel pada
batang pohon jambu

Gambar 4.3. Tahap uji variasi III lapangan terhadap semut rangrang yang menempel pada
batang pohon jambu

5.3. Pembahasan
Biopestisida yang dihasilkan dari percobaan di atas dalam bentuk
cairan. Setelah cairan tersebut didiamkan selama satu malam, dilakukan uji
coba pada salah satu jenis batang pohon yang dipenuhi dengan semut
rangrang. Uji coba dilakukan dengan cara penyemprotan tertentu dan secara
merata pada batang pohon yang telah dipenuhi semut rangrang.

34
5.3.1. Biopestisida Variasi I
Uji coba pertama dengan biopestisida variasi I, dilakukan
penyemprotan pada bagian batang pohon jambu yaitu tepat di tempat
semut rangrang berkumpul. Setelah 240 detik, semut rangrang
berhamburan menjauhi batang pohon yang telah disemprot. Beberapa
jam setelah penyemprotan, tampak bekas penyemprotan yang sangat
kontras, yaitu warna putih tepung yang berasal dari sari pati gadung.
4 hari setelah dilakukan percobaan, semut rangrang tidak
kembali menempati batang pohon tersebut. Hal ini membuktikan
bahwa semut rangrang tidak cairan tersebut. Namun setelah 4 hari,
semut rangrang kembali menempati batang pohon tersebut. Ini
menunjukkan bahwa efektitivas biopestisida variasi I hanya bertahan
selama 4 hari.
5.3.2. Biopestisida Variasi II
Pada uji coba yang kedua, yaitu penyemprotan menggunakan
biopestisida variasi II, dilakukan tindakan sama persis seperti pada uji
coba pertama, namun didapatkan hasil yang berbeda. Pada biopestisida
variasi II ini, perbedaan waktu sangat terlihat karena hanya 52,4 detik
yang dibutuhkan untuk membuat semut rangrang pergi meninggalkan
batang tersebut. Meskipun waktu penyemprotan biopestisida variasi II
ini sangat cepat, masih terdapat bekas warna putih pada permukaan
pohon, akan tetapi warnanya lebih pudar dari warna biopestisida
variasi I.
Setelah dilakukan penyemprotan, batang pohon akan bertahan
selama 6 hari untuk tidak ditempati semut rangrang. Setelah 6 hari,
semut rangrang akan kembali menempati batang pohon tersebut. Ini
menunjukkan bahwa efektitivas biopestisida variasi I hanya bertahan
selama 6 hari.
5.3.3. Biopestisida Variasi III
Uji coba yang terakhir menggunakan biopestisida variasi III
yang dilakukan pada pohon yang sama dan dengan cara penyemprotan
yang sama pula. Pada biopestisida variasi III, hasil yang diperoleh

35
sangat berbeda dari biopestisida variasi I dan II, baik dari segi waktu
maupun perubahan bekas warna yang ditimbulkan.
Waktu yang dibutuhkan dapat digolongkan pada kategori cepat.
Hanya sekitar 52,9 detik yang dibutuhkan untuk membuat semut
rangrang meninggalkan batang tersebut. Sedangkan perubahan warna
yang ditimbulkan, biopestisida variasi III ini tidak menimbulkan bekas
warna putih sedikitpun. Sehingga tidak mengubah warna batang pohon
setelah dilakukan penyemprotan ketiga.
Setelah dilakukan penyemprotan, batang pohon akan bertahan
selama 1-2 minggu untuk tidak ditempati semut rangrang. Ini
menunjukkan bahwa efektitivas biopestisida variasi III paling baik
daripada kedua variasi sebelumnya.

36
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan
Berdasarkan Hasil Percobaan dan analisis berlandaskan pada kajian
pustaka di atas, maka penulis membuat kesimpulan sebagai berikut:
1. Umbi gadung dan akar biduri dapat digunakan sebagai bahan untuk
membuat biopestisida karena umbi gadung mengandung dioskorin
dan hidrogen sianida, sedangkan akar biduri mengandung kumarin
dan saponin.
2. Semakin tua gadung, semakin banyak kandungan racun yang
terkandung di dalamnya. Sehingga untuk pemakaian umbi gadung
yang digunakan sebaiknya menggunakan gadung yang busuk.
Disamping untuk mengurangi limbah gadung, hal ini dibuktikan
dengan beberapa kajian pustaka dan hasil uji coba biopestisida
yang harus didiamkan selama satu hari terlebih dahulu sebelum
digunakan untuk meningkatkan kadar racun agar biopestisida dapat
bereaksi lebih efektif dan efisien.
3. Perlakuan terhadap batang pohon untuk ketiga variasi adalah sama,
yakni disemprotkan dengan biopestisida. Hanya saja biopestisida
yang disemprotkan berbeda variasi. Perbedaan variasi tersebut
menimbulkan hasil yang berbeda pada indikator: efek kulit batang
setelah penyemprotan, waktu respon rangrang, kecepatan reaksi,
dan efektivitas.
4. Dari ketiga variasi yang telah dibuat, variasi paling ampuh untuk
mengusir rangrang berdasarkan uji coba yang telah dilakukan
adalah biopestisida variasi III, yakni sari gadung dikombinasikan
dengan sari akar biduri dengan hasil sebagai berikut: tidak
menimbulkan bekas pada batang pohon setelah penyemprotan,
semut rangrang menjauh dalam waktu 52,9 detik, reaksi cepat, dan
efektivitas selama 1-2 minggu.

37
6.2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian di atas, penulis berharap kepada pembaca
supaya tidak menggunakan biopestisida kimia karena akan merusak tanaman.
Oleh karena itu, penulis menyarankan agar menggunakan biopestisida secara
alami yaitu menggunakan umbi gadung dan akar biduri yang mudah
ditemukan karena tumbuh di sembarang tempat.
Pemanfaatan sari gadung dan sari akar biduri ini hanya dapat penulis
aplikasikan pada semut rangrang. Penulis berharap agar pembaca dapat
tertarik untuk melanjutkan pengaplikasian tersebut pada hama yang beragam
jenis.
Dalam pemilihan bahan untuk membuat biopestisida diharapkan
memilih umbi gadung yang busuk. Sebab umbi gadung yang telah membusuk
memiliki kandungan racun yang paling tinggi dibandingkan dengan kondisi
umbi gadung yang lain. Disamping itu, dapat mengurangi limbah gadung.
Selain itu, dalam proses pembuatannya pun diharapkan sesuai dengan
prosedur yang telah dituliskan agar mendapatkan hasil yang maksimal.

38
DAFTAR PUSTAKA

Djaafar, Titiek F., dkk. 2009. Pengaruh Blanching dan Waktu Perendaman dalam
Larutan Kapur terhadap Kandungan Racun pada Umbi dan Ceriping
Gadung. Penelitian Pertanian Tanaman Pangan. 28 (3), 192-198.
Hasanah, Misroul, dkk. 2012. Daya Insektisida Alami Kombinasi Perasan Umbi
Gadung (Dioscorea hispida dennst) dan Ekstrak Tembakau (Nicotiana
tabacum l.). Jurnal Akademika Kimia. 1 (4), 166-173
Hidayat, Anwar. 2001. Mengidentifikasi Jenis dan Sifat Hama. Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional Proyek Pengembangan Sistem Dan
Standar Pengelolaan SMK Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan.
http://pertanian-peternakan.umm.ac.id/id/umm-news-2875-sehatkan-tanaman-
dengan-biopestisida.html
http://fazilamris.blogspot.co.id/2012/10/ekstrak-metanol-akar-biduri-
calotropis.html
https://signaterdadie.wordpress.com/2009/05/29/kumarin/
https://id.wikipedia.org/wiki/Kumarin
https://nadjeeb.wordpress.com/2009/10/31/saponin/
https://id.wikipedia.org/wiki/Biopestisida
Iskandar, Yusuf. 2007. Karakterisasi Zat Metabolit Sekunder dalam Ekstrak
Bunga krisan (Chrysanthemum cinerariaefolium) sebagai Bahan
Pembuatan Biopestisida. Skripsi. Semarang: Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.
Koswara, Sutrisno. Teknologi Pengolahan UmbiUmbian Bagian 3: Pengolahan
Umbi Gadung. USAID.
S Fajar, Yuli, dkk. 2013. Gadung sebagai Obat Pembasmi Hama pada Tanaman
Padi. Mekanika. 12 (1), 17-22.
Suhara. 2009. Semut Rangrang (Oecophylla smaradigna). Skripsi. Bandung:
Fakultas Pendidikan Matematika dan IPA Universitas Pendidikan
Indonesia.

39
Syafii, Imam, dkk. 2009. Detoksifikasi Umbi Gadung (Dioscorea hispida denst)
dengan Pemanasan dan Pengasaman pada Pembuatan Tepung. Jurnal
Teknologi Pertanian. 10 (1), 62-68.
Winarno, Vandi Cahya. 2013. Efektivitas Pestisida Nabati (Mimba, Gadung,
Laos, dan Serai), terhadap Hama pada Tanaman Kubis (Brassica oleracea
l.). Skripsi. Surabaya: Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan
Nasional Veteran Jawa Timur.
Yahya, Harun. 2003. Menjelajah Dunia Semut.

40
41
DAFTAR RIWAYAT HIDUP (1)

Nama : Atik Diniyawati


Tempat, Tanggal Lahir : Gresik, 05 Februari 1998
Kelas : XII C IPA
NIS : 5505
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Nama Orangtua
a. Ayah : Mohammad Zaini (alm)
b. Ibu : Aliyah
Alamat : Pantenan Panceng Gresik
No. telp : 085706638562
Alamat E-mail : lucy_hajidah@yahoo.co.id
Asal Sekolah : MA YKUI Maskumambang
No. Telp Sekolah : 031-3941757
Pendidikan :
a. TK ABA Pantenan
b. SDN Pantenan, Panceng-Gresik
c. MTs.YKUI Maskumambang
d. MA YKUI Maskumambang
Pengalaman : Secret, not for public

42
DAFTAR RIWAYAT HIDUP (2)

Nama : Dian Qonita


Tempat, Tanggal Lahir : Gresik, 31 Maret 1998
Kelas : XII C IPA
NIS : 5512
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Nama Orangtua
a. Ayah : Munir
b. Ibu : Asifah
Alamat : Gopaan, Dukun-Gresik
No. telp : 085731765665
Alamat E-mail : qonitadian9@gmail.com
Asal Sekolah : MA YKUI Maskumambang
No. Telp Sekolah : 031-3941757
Pendidikan :
a. TK Bina Nurani Wonocolo-Jemur Ngawinan-
Surabaya
b. SDN Sembunganyar Dukun-Gresik
c. MTs.YKUI Maskumambang
d. MA YKUI Maskumambang
Pengalaman :

a. Wakil Koord. Bidang Keamanan, Ketertiban, dan Kedisiplinan IPRI


Periode 2015-2016
b. Peserta Seminar Menara Hati Internasional (MHI), oleh M. Najmi Fathoni
c. Peserta Seminar Cara Cerdas Menjadi Orang Sukses, oleh Oktastika Badai
Nirmala
d. Peserta Olimpiade Biologycal Opus Fair (BOF) ITS 2015
e. Peserta Olimpiade Biology Environmental and Smart Competition (BESC)
UNAIR 2015

43
DAFTAR RIWAYAT HIDUP (3)

Nama : Hafshah
Tempat, Tanggal Lahir : Surabaya, 11 November 1997
Kelas : XII-C IPA
NIS : 5531
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Nama Orangtua
a. Ayah : Bambang Tri Sasongko
b. Ibu : Vibriati Isra Fitria
Alamat : Krembangan, Taman-Sidoarjo
No. telp : 085608906658
Alamat E-mail : hafsha_cca@yahoo.com
Asal Sekolah : MA YKUI Maskumambang
No. Telp Sekolah ` : 031-3941757
Pendidikan :
a. TK Muslimat, Taman-Sidoarjo
b. MI Darul Mutaallimin, Taman-Sidoarjo
c. SMP Negeri 3 Taman-Sidoarjo
d. MA YKUI Maskumambang, Dukun-Gresik
Pengalaman :
a. Wakil Ketua IPRI MA YKUI Maskumambang 2014/2015
b. Tim Redaksi Majalah SEMangat edisi 2015 & 2016
c. Sekretaris OPPPM 2014/2015
d. Juara I Olimpiade MIPA se-Karasidenan Bojonegoro 2014
e. Juara II English Debate UMG 2015
f. Juara IV English Debate Kemendiknas Gresik 2015
g. Peserta MEDSPIN FK UNAIR 2015
h. Peserta BESC UNAIR 2015
i. Peserta MLC (Math and Logic Competition) UNAIR 2014 & 2015

44
DAFTAR RIWAYAT HIDUP (4)

Nama : Istiqomah
Tempat, Tanggal Lahir : Gresik, 24 Februari 1998
Kelas : XII-C IPA
NIS : 5537
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Nama Orangtua
a. Ayah : Hasan
b. Ibu : Nur Hakimah
Alamat : Padang Bandung, Dukun-Gresik
No. telp : 085745173319
Alamat E-mail : iis.dhieta@yahoo.com
Asal Sekolah : MA YKUI Maskumambang
No. Telp Sekolah ` : 031-3941757
Pendidikan :
a. TK ABA 07 Padang Bandung
b. SD Muhammadiyah 02 Padang Bandung
c. MTs. YKUI Maskumambang, Dukun-Gresik
d. MA YKUI Maskumambang, Dukun-Gresik
Pengalaman :
a. Koord.Keamanan, ketertiban, dan kedisipilinan IPRI MA YKUI
Maskumambang 2015/2016
b. Tim Redaksi Majalah SEMangat edisi 2015 & 2016
c. Peserta BESC UNAIR 2015
d. Peserta MLC (Math and Logic Competition) UNAIR 2014 & 2015
e. Peserta Seminar Menara Hati Internasional (MHI), oleh M. Najmi Fathoni
f. Peserta Seminar Cara Cerdas Menjadi Orang Sukses, oleh Oktastika Badai
Nirmala
g. Peserta Olimpiade Biologycal Opus Fair (BOF) ITS 2015

45
DAFTAR RIWAYAT HIDUP (5)

Nama : Luluatul Usroh


Tempat, Tanggal Lahir : Gresik, 04 September 1997
Kelas : XII-C IPA
NIS : 5542
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Nama Orangtua
a. Ayah : Munaim
b. Ibu : Sukayanti
Alamat : Sambogunung, Dukun-Gresik
No. telp : 087701284997
Alamat E-mail : luluausroh97@gmail.com
Asal Sekolah : MA YKUI Maskumambang
No. Telp Sekolah ` : 031-3941757
Pendidikan :
a. Roudhotul Athfal YKUI Sambogunung,
Dukun-Gresik
b. MI YKUI Sambogunung, Dukun-Gresik
c. MTs. YKUI Sambogunung, Dukun-Gresik
d. MA YKUI Maskumambang, Dukun-Gresik
Pengalaman :

a. Bendahara IPRI MA YKUI Maskumambang periode 2015-2016


b. Peserta Seminar Menara Hati Internasional (MHI), oleh M. Najmi Fathoni
c. Peserta Seminar Cara Cerdas Menjadi Orang Sukses, oleh Oktastika Badai
Nirmala
d. Peserta Olimpiade KSM 2015

46
47