Anda di halaman 1dari 3

SITTI RAHMAH MUSTAKIN

PO.71.4.203.15.1.042

D-IV ANALIS KESEHATAN

1. Bombay Blood

Pada tahun 1978 telah ditemukan 2 kasus golongan darah O Para Bombay di
Indonesia. Kasus ini terungkap ketika ada pasien yang akan menjalani operasi di Jakarta
pada saat itu mempunyai golongan darah O tetapi ketika di tes cross dengan golongan
darah O normal mengalami aglutinasi/penggumpalan (tes cross biasa dilakukan sebelum
dilakukan transfusi untuk melihat kompatibilitas darah donor dan resipien). Pada akhirnya
PMI Pusat jakarta berhasil mendapatkan bantuan darah bergolongan O Bombay dari PMI
Australia.
Prosentase kemunculan golongan darah ini adalah 1:250.000 yang artinya tiap
250.000 orang hanya ada satu orang bergolongan darah Bombay. Jika anda mempunyai
golongan darah Bombay sebaiknya anda segera ke PMI dan menyimpan darah anda agar
tidak kesulitan jika sewaktu-waktu anda membutuhkan. Yang jelas PMI akan sulit untuk
mendapatkan darah dengan tipe ini. Menurut penelitian BHATIA dan SANGHVI pada
tahun 1962, Bombay Blood telah banyak ditemukan pada orang-orang berbahasa Marathi
yang letaknya di sekitar kota Bombay frekwensinya mencapai satu dalam 13.000. Sampai
tahun 1969 sudah ditemukan hampir 30 kasus Bombay Blood di seluruh dunia (tidak
termasuk kota Bombay).
Dalam sistem ABO, terdapat 4 golongan darah, yaitu A, B, O dan AB. Berdasarkan
sistem penggolongan darah tersebut, orang tua yang bergolongan darah AB tidak
dimungkinkan memiliki anak dengan golongan darah O. Akan tetapi hal ini mulai
terbantahkan ketika ditemukannya jenis golongan darah baru yaitu O Bombay (Oh).
Golongan darah O Bombay merupakan golongan darah yang sangat jarang ditemukan.
Pertama kali golongan darah ini ditemukan di Bombay (India Timur) tahun 1950.
Golongan darah bombay ini merupakan golongan darah yang tidak memiliki ekspresi
antigen sistem ABO di permukaan sel darahnya. Jika diperiksa dengan sistem biasa maka
akan muncul golongan darah O namun tidak bisa menerima transfusi dari golongan O
karena memang sebenarnya berbeda. Golongan darah type Bombay adalah golongan darah
dengan fenotipe hh atau mereka tidak mengekspresikan antigen H / substansi H (antigen
yang terbaca sebagai golongan darah O).
Suatu kejadian langka karena presentasi kejadian ini sangat kecil, mengingat
substansi H adalah sangat dominan dibanding h. Orang-orang bertipe golongan darah
bombay hanya dapat mendapat donor darah dari orang yang memiliki golongan darah type
bombay juga, kalau tidak akan terjadi aglutinasi di dalam darah. Perbandingan
kemungkinan ditemukannya individu bergolongan darah O Bombay (Bombay Phenotype)
di India sekitar 1:13.000. Pada tipe darah ini tidak ditemukan antigen H yang merupakan
prekursor antigen A dan B. Sehingga ketika dilakukan tes darah, hasilnya menunjukkan
golongan darah tipe O tetapi ketika di cross dengan golongan darah O normal akan
mengalami aglutinasi (penggumpalan). Kejadian ini dikenal sebagai Bombay Phenotype.
Individu dengan phenotype Golongan darah Bombay hanya dapat di transfusi
dengan darah dari individu lain dengan Phenotype Bombay. Kasus ini jarang terjadi,
seseorang dengan golongan darah ini untuk keperluan transfusi tidak segera dapat
ditanggulangi seperti biasa, karena tidak adanya stok darah yang tersedia. Untuk itu
perlunya penyediaan stok pada unit transfusi darah tertentu. Kondisi ini sangat sulit
membantu bagi mereka yang mengalami kasus perdarahan dan kasus yang memerlukan
darah dalam jumlah banyak.
Pasien dengan golongan darah O mungkin memiliki genetik Golongan darah O
Bombay, hal ini karena diturunkan memiliki resesif allel pada gen H dan tidak
memproduksi H karbohidrat yang menjadi prekursor antigen A dan B. Secara umum
penyebaran golongan darah O Bombay ini dapat terjadi karena proses perkawinan dalam
satu keluarga. Golongan O biasanya mengandung H substance yang paling banyak.
Karena itu sel O bereaksi paling kuat dengan anti H, tetapi Bombay Blood Oh justru sama
sekali tidak memberikan reaksi dengan anti H. Sel Oh Bombay Blood ini tidak bereaksi
dengan anti A, anti B dan anti H. Biasanya nonsecretor dengan phenotype Lewis Le a+b-
hanya satu kasus yang Le a-b- Serum dari Oh dapat bereaksi dengan semua golongan O
pada suhu 4 sampai 37 dan dapat pula melysis sel, tetapi aktivitas ini dapat dinetralkan
oleh saliva yang secretor (mengandung H substance). Saliva dari Oh adalah non secretor
Le a+b-, tidak mengandung A, B, H, tetapi Lea substance. Sedangkan saliva dari Oh yang
Lea-b- selain tidak ada A, B, H juga tidak mempunyai LE- WIS substance.
Genotype Bombay Blood berarti tidak mempunyai H gene walaupun ada A atau B
gene. Karena tidak ada H gene maka tidak terbentuk antigen A, B atau H. Demikian pula
bila seorang yang Se gene dengan genotype yang hh, juga tidak akan ada A, B atau H
substance dalam salivanya, tetapi se dengan genotype Hh atau HH baru ada, A, B dan H
substance dalam saliva (non Bombay Blood). LEVINE, ROBINSON dan CALANS pada
tahun 1955 mengatakan orang Bombay mempunyai A dan G gene normal yang dapat
dilihat dari keluarga lainnya, mereka paling tidak membawa satu H gene (Hh): Anak yang
keturunan dari hh X.

2. Jenis Sel T dan Fungsinya

Sel T merupakan sebuah jenis sel darah putih yang merupakan kunci penting untuk
sistem kekebalan tubuh dan merupakan inti dari imunitas adaptif, sistem yang secara
khusus dirancang menanggapi kekebalan tubuh terhadap patogen tertentu. Limposit /Sel T
mendapatkan nama mereka karena mereka dikembangkan dalam kelenjar thymus.
Sel-sel ini dibedakan dari limfosit lain dengan molekul reseptor khusus sel T yang
terletak pada permukaan sel. Molekul ini penting dalam imunitas karena mengakui antigen
dan mampu mengikat mereka.
Berbeda halnya dengan sel B yang berfungsi membuat antibodi, sel T bekerja
dengan cara berinteraksi langsung dengan sel-sel lainnya. Sel T mampu mengenali sel
yang terinfeksi oleh antigen yang masuk. Sel T dapat dibedakan menurut fungsinya
menjadi tiga bagian, yaitu:
a. Sel T sitotoksik
Sel T sitotoksik bekerja dengan cara membunuh sel yang terinfeksi. Sel T sitotoksik
dapat membunuh virus, bakteri, dan parasit lainnya bahkan setelah masuk ke dalam sel
inang. Sel T sitotoksik dapat berperan juga dalam penghancuran sel kanker.
b. Sel T pembantu
Sel T pembantu berperan sebagai pengatur, bukan pembunuh. Sel ini mengatur respons,
kekebalan tubuh dengan cara mengenali danmengaktifkan limfosit yang lain, termasuk
sel B dan sel T sitotoksik.
c. Sel T supressor
Fungsi sel T supressor adalah mengurangi produksi antibodi oleh sel-sel plasma dengan
cara menghambat aktivitas sel T pembantu dan mengurangi keaktifan dari sel T
pembunuh. Dalam keadaan normal, sel ini berfungsi setelah infeksi mereda. Peran sel T
supressor sangat penting karena antibodi dan sel T pembunuh yang terlalu aktif
kemungkinan besar dapat merusak sel-sel tubuh yang sehat.