Anda di halaman 1dari 7

nergi Terbarukan Dari Limbah Pabrik

Kelapa Sawit
Posted on February 25, 2008 | 50 Comments

Naiknya harga gas Elpiji (LPG) membuat kita tersadar bahwa bahan bakar yang ditambang
dari perut bumi lambat-laun akan habis. Ketersediaan bahan bakar gas Elpiji akan semakin
menipis dan harganya pun akan semakin membumbung tinggi. Sudah saatnya kita beralih ke
sumber energi yang dapat diperbaharui. Salah satunya energi terbarukan dari limbah pabrik
kelapa sawit.

Artikel terkait: Pemanfaatan Produk Samping Kelapa Sawit Sebagai Sumber Energi
Alternatif Terbarukan

Energi dari bahan tambang seperti minyak bumi dan gas bumi diperkirakan akan habis dalam
waktu yang relatif singkat. Mau tidak mau Indonesia harus segera mencari sumber energi
yang dapat diperbaharui (renewable energi) untuk memenuhi kebutuhan energi di masa
depan. Salah satu sumber energi terbarukan yang belum banyak dimanfaatkan adalah energi
dari biomassa.
Ditjen Listrik dan Pemanfaatan Energi telah menghitung potensi energi dari biomassa yang
besarnya mencapai 50.000 MW, namun yang sudah dimanfaatkan hanya sebesar 302 MW.
Salah satu biomassa yang jumlahnya sangat besar dan belum banyak dimanfaatkan adalah
limbah pabrik kelapa sawit (PKS) yang jumlahnya mencapai ribuan ton.
Limbah pabrik kelapa sawit sangat melimpah. Saat ini diperkirakan jumlah limbah pabrik
kelapa sawit (PKS) di Indonesia mencapai 28,7 juta ton limbah cair/tahun dan 15,2 juta ton
limbah padat (TKKS)/tahun. Dari limbah tersebut dapat dihasilkan kurang lebih 90 juta m3
biogas. Jumlah ini setara dengan 187,5 milyar ton gas Elpiji. Jumlah biogas ini cukup untuk
memenuhi kebutuhan gas satu milyar KK (kepala keluarga) selama satu tahun.

BIOGAS

Biogas yang komponen utamanya gas metan (CH4) sebenarnya sudah mulai manfaatkan
sejak beberapa puluh tahun yang lalu, namun tidak banyak dipergunakan masyarakat. Biogas
yang dikenal masyarakat lebih banyak dihasilkan dari pengolahan kotoran ternak atau
kotoran manusia. Sebenarnya biogas juga bisa dihasilkan dari biomassa yang lain.
Biogas lebih ramah lingkungan daripada BBM. Pembakaran biogas (metan) akan
menghasilkan gas karbon dioksida (CO2) dan air (H2O). Kedua gas ini sama seperti gas yang
dikeluarkan dari hidung manusia. Bandingkan dengan BBM yang banyak menyebabkan
polusi udara.
Satu m3 gas metan dapat diubah menjadi energi sebesar 4700 6000 kkal atau 20 24 MJ.
Energi sebesar itu setera dengan energi yang dihasilkan oleh 0,48 kg gas Elpiji (LPG).
Penggunaan gas metan tidak hanya menghasilkan energi yang besar tetapi juga lebih ramah
lingkungan.
Gas metan adalah gas yang dihasilkan dari perombakan anaerobik senyawa-senyawa organik,
seperti limbah cair kelapa sawit. Secara alami gas ini dihasilkan pada kolam-kolam
pengolahan limbah cair PKS. Limbah cair yang ditampung di dalam kolam-kolam terbuka
akan melepaskan gas metan (CH4) dan karbon dioksida (CO2). Kedua gas ini merupakan
emisi gas penyebab efek rumah kaca yang berbahaya bagi lingkungan. Selama ini kedua gas
tersebut dibiarkan saja menguap ke udara.
Pembentukan gas metan melibatkan aktivitas mikroba yang sangat komplek. Beberapa
kelompok mikroba tersebut secara bertahap akan merombak bahan organik di dalam limbah
cair atau limbah padat hingga dihasilkan gas metan. Pertama, kelompok mikroba hidrolitik
akan memecah-mecah bahan organik menjadi senyawa yang lebih kecil. Bahan organik
komplek umumnya adalah polimer, hasil pecahannya adalah monomer-monomer. Hasil
pemecahan bahan organik komplek tersebut antara lain: glukosa, asam amino, dan asam
lemak.
Kedua, kelompok mikroba fermentasi asam. Kelompok mikroba ini akan merombak
monomer-monomer organik menjadi asam, yaitu senyawa asam-asam organik, alkohol, dan
keton. Tapap berikutnya kelompok mikroba acetogenik akan merombaknya menjadi asam
asetat, CO2, dan H2. Selanjutnya kelompok mikroba menghasil metan (metanogenik) akan
merubah asam-asam tersebut menjadi gas metan.
Perombakan bahan organik ini terjadi dalam kondisi tanpa oksigen (O2) yang disebut kondisi
anaerob. Secara alami proses pembentukan gas metan ini sangat lambat dan gas yang
dihasilkan juga sedikit. Untuk dapat merombak limbah PKS menjadi biogas dalam jumlah
besar, diperlukan sedikit rekayasa.
Limbah cair ditempatkan pada tempat khusus yang disebut bioreaktor. Bioreaktor dapat
diatur sedemikian rupa sehingga kondisinya optimum untuk memproduksi biogas. Dapat pula
ditambahkan mikroba-mikroba yang akan mempercepat pembentukan gas metan.
Bioreaktor ditutup rapat yang tidak memungkinkan gas metan yang dihasilkan keluar dari
bioreaktor. Gas metan dialirkan atau dipompa ke tangki penampungan. Gas yang sudah
tertampung dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Gas metan dapat juga
dimampatkan dan dicairkan yang kemudian ditampung di tabung-tabung yang lebih kecil,
seperti layaknya tabung elpiji.
Proses pengolahan limbah padat TKKS menjadi biogas lebih sulit dibandingkan dengan
limbah cair. TKKS adalah senyawa organik yang lebih komplek daripada limbah cair. TKKS
harus dirobak atau didekomposisi terlebih dahulu sehingga mikroba metanogenik dapat
memanfaatkannya untuk menghasilkan gas metan.

PEGEMBANGAN BIOGAS

Keunggulan gas metan terutama adalah sifatnya yang renewable (terbarukan) dan lebih
ramah lingkungan dibandingkan BBM dan BBG. Gas metan dapat dihasikan dari limbah
biomassa yang jumlahnya melimpah. Merombak limbah biomassa menjadi biogas selain
dapat mensuplai kebutuhan energi juga dapat mengurangi pencemaran lingkungan.
Potensi dan keunggulan energi biogas dari gas metan saat ini menjadi perhatian banyak
pihak. Tim peneliti yang diketuai oleh Dr. Siswanto dari Balai Penelitian Bioteknologi
Perkebunan Indonesia bekerjasama dengan salah satu PKS sedang mengembangkan
teknologi biogas dari limbah cair dan padat kelapa sawit. Perusahaan besar dari Jepang,
Mitshubishi, melakukan eksplorasi biogas dari limbah sawit secara besar-besaran di Malaysia
mulai tahun 2004. COGEN bekerjasama dengan ASEAN melakukan beberapa proyek di
biogas di beberapa negara ASEAN untuk mengembangkan energi terbarukan dari limbah
biomassa. Bank Pembangunan Asia (ADB) pada tahun 2005 memberi bantuan dana sebesar $
500.000 kepada pemerintah Indonesia untuk mengembangkan biogas dari limbah PKS.
Biogas telah dimanfaatkan secara luas di beberapa negara. Jerman mengembangkan mobil
berbahan bakar biogas, misalnya bis, taxi, truk sampah, dan mobil-mobil lain. Di India telah
beroperasi beberapa mobil roda tiga, kendaraan semacam bajaj, yang menggunakan bahan
bakar biogas. Biogas juga dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik. Di pabrik-pabrik
biogas dimanfaatkan untuk boiler atau untuk mesin pembangkit listrik.
Apabila pengembangan biogas dari limbah PKS ini berhasil di Indonesia, bukan tidak
mungkin gas elpiji yang sekarang ini harganya membumbung tinggi akan digantikan oleh
biogas yang harganya jauh lebih murah.

Gambar 1. Kolam limbah cair pabrik kelapa sawit menghasilkan gas metan
Gambar 2. Kapasitas total volume reaktor 4500 m3, dan laju pengumpanan 200 m3/hari
dihasilkan biogas 10.000 m3/hari. PMKS memproduksi limbah 650 m3/hari diolah dalam 3
reaktor yang sama => 30.000. m3/hari setara dengan 15.000 L minyak solar industri, @ Rp
5000,00 =>Rp 75 juta/ hari = Rp 22,5 M./thn

Semburan gas metan setinggi 3 -4


m dari pipa berdiameter 6 inci. Api ini tidak padam meskipun dihidupkan semalaman.
Biogas dari limbah sawit diuji coba dengan mesin kompresor. Mesin dimodifikasi sedikit
agar bisa menggunakan dua bahan bakar: bensin dan gas. Percobaan ini berjalan dengan
lancar.
[Edwi Mahajoeno & isroi]

Pak Edwi Mahajoeno, setiap hari pergi ke lapangan dengan sepeda onthel kesayangannya
untuk meneliti biogas.

edwi biogas

Pak Edwi sedang mengambil sampel kolam limbah sawit.


Beberapa anak buah Pak Edwi yang setia menemani Pak Edwi dalam meneliti Biogas. Nomor
dua dari kiri adalah mandornya, Ilham.