Anda di halaman 1dari 1

Perkataan Ahiqar

Anakku, jika aku mendidikmu dengan pukulan, engkau takkan mati. Tapi, jika aku
membiarkanmu berbuat semaumu, engkau takkan hidup. (h. 23)
Anakku, jangan banyak omong. Jangan ucapkan sepatah kata pun sebelum engkau
memikirkannya. Sebab, ada telinga dan mata di setiap tempat . Jaga mulutmu agar tidak menjadi
penyebab kehancuranmu. Apa yang engkau dengar, kuncilah di dalam dadamu. Sebab, kata-kata itu
seperti burung. Jika dia sudah terlepas dari sangkar, sulit bagimu untuk menangkapnya kembali.
Perangkap mulut itu lebih berbahaya daripada perangkap perang. (h. 24)
Untuk apa kayu bakar melawan api, daging melawan pisau, dan rakyat melawan raja? (h. 24)
Pernah kurasakan buah maja yang pahit. Tapi, tak pernah kurasakan sesuatu yang lebih pahit
daripada kemiskinan. (h. 25)
Wadah yang baik menjaga apa yang ada di dalamnya. Wadah yang bocor, mengalir darinya
semua isinya. (h. 25)
Singa mendekati keledai lalu berkata, Hai. Keledai menjawab, Jangan dekat-dekat dan jangan
bertanya apa kabar. Aku baik-baik saja selama engkau jauh dariku. (h. 25) Banyak fabel yang
mengisahkan binatang yang buas berlagak sayang dan ramah kepada binatang kecil, dan binatang kecil
itu berkata, Menjauhlah karena aku selamat selama engkau jauh dariku. Misalnya, singa mendekati
kambing yang sedang kedinginan, lalu berkata, Ke sinilah. Kuhangatkan kamu dengan bulu-buluku.
Lalu, kambing berkata, Tuan, jangan repot-repot. Pesan fabel-fabel ini, terkadang keburukan yang
paling buruk menimpa Anda dari orang yang menampakkan kasih sayang dan kebaikan kepada Anda. (h.
26)
Aku pernah memikul pasir dan memanggul garam. Tapi, aku tidak pernah mendapati sesuatu
yang lebih berat daripada hutang. (h. 25)
Jangan terlalu manis, nanti kamu ditelan. Jangan terlalu pahit, nanti kamu dilepeh.
Jika engkau menginginkan keluhuran, maka merendahlah di hadapan Allah yang merendahkan
orang yang sombong dan memuliakan orang yang rendah hati. (h. 26)
Orang yang memeras anggur, berhak mencecap arak. (h. 26)