Anda di halaman 1dari 18

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ............................................................................................................... 1

BAB I Pendahuluan .................................................................................................... 2

A. Latar Belakang .............................................................................................. 2

B. Tujuan ........................................................................................................... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................................... 4

BAB III METODE PENGAMATAN ............................................................................ 12

A. ALAT DAN BAHAN ..................................................................................... 12

B. PROSEDUR PRAKTEK .............................................................................. 12

C. WAKTU DAN TEMPAT PRAKTIKUM ......................................................... 13

D. PROSEDUR PENETAPAN SAMPEL .......................................................... 13

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................................ 14

A. HASIL PRATIKUM ...................................................................................... 14

B. PEMBAHASAN ........................................................................................... 15

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................................... 17

A. KESIMPULAN ............................................................................................. 17

B. SARAN ........................................................................................................ 17

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................. 18

1
BAB I Pendahuluan

A. Latar Belakang

Di zaman modern sekarang ini begitu banyak terjadi perkembangan di

bidang industri makanan dan minuman yang bertujuan untuk menarik perhatian para

konsumen. Oleh karena itu, produsen makanan dan minuman menambahkan zat

tambahan makanan atau yang sering disebut sebagai food additive.

Dalam persaingan untuk mendapatkan konsumen, tentunya sebuah

produk minuman harus mempunyai daya tarik tersendiri. Daya tarik tersebut ada

yang memang asli, namun ada juga yang sengaja diberi tambahan agar terlihat lebih

menarik. Salah satunya dengan penambahan zat pewarna. Penambahan zat

pewarna bertujuan untuk memperbaiki kenampakan makanan dan minuman agar

memperoleh warna yang seragam dan menarik selera konsumen. Pewarna telah

lama digunakan pada bahan makanan dan minuman untuk memperbaiki tampilan

produk pangan. Pada mulanya zat pewarna yang digunakanan adalah zat pewarna

alami dari tumbuhan dan hewan. Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan

teknologi saat ini, penggunaan zat pewarna alami semakin berkurang dalam industri

pangan yang digantikan lebih banyak oleh zat pewarna sintetik. Hal ini disebabkan

bahan-bahan pewarna sintetik lebih murah dan memberikan warna yang lebih stabil

dibandingkan pewarna alami. Penggunaan pewarna sintetik untuk bahan pangan

sebenarnya bukanlah hal yang dilarang. Namun demikian, ketika harga pewarna

sintetik dianggap cukup mahal bagi produsen kecil, maka produsen beralih ke

pewarna tekstil yang lebih murah dan lebih cerah warnanya.

2
Bahan pewarna pada dasarnya ada dua jenis yaitu pewarna alami dan

zat pewarna sintetis, zat pewarna alami contohnya Anato dan Klorofil. Sedangkan

zat pewarna sintetis yang diizinkan penggunaannya contohnya Brilliant Blue dan

Eritrosin. Dan zat pewarna yang dilarang penggunaanya contohnya Rhodamin B dan

Metanil Yellow. Bahan pewarna sintetis mempunyai banyak kelebihan yaitu

beraneka ragam warna dan penyimpanannya lebih mudah dan tahan lama.

Zat pewarna sintesis merupakan zat pewarna buatan manusia. Zat

pewarna sintetis seharusnya telah melalui suatu pengujian secara intensif untuk

menjamin keamanannya. Karakteristik dari zat pewarna sintetis adalah warnanya

lebih cerah, lebih homogen dan memilliki variasi warna yang lebih banyak bila

dibandingkan dengan zat pewarna alami. Di samping itu penggunaan zat pewarna

sintetis pada makanan bila dihitung berdasarkan harga per unit dan efisiensi

produksi akan jauh lebih murah bila dibandingkan dengan zat pewarna alami. Para

konsumen pun hendaknya selalu mendapatkan informasi tentang komponen-

komponen yang terkandung dalam zat pewarna sintetis tersebut.

Berdasarkan latar belakang diatas maka dilakukan praktikum analisa

zat pewarna sintetis Metanil Yellow pada sampel Mie kuning, manisan manga, dan

sirup orange yang berada pada makanan jajanan anak sekolah dasar di Pontianak

Timur, yang dilakukan di ruang laboratorium Terpadu Poltekes Kemenkes Pontianak

pada tanggal 16 Februari 2017.

B. Tujuan

- Mengidentifikasi ada tidaknya zat pewarna Methanyl Yellow pada sampel mie

kuning, manisan manga, dan sirup orange.

3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

1. Zat pewarna

Pewarna adalah bahan tambahan makanan atau minuman yang dapat

memperbaiki atau memberi warna pada makanan dan minuman (Peraturan

menkes RI No.722/Menkes/Per/ix/1988).

Pewarna juga dapat digunakan sebagai indikator kesegaran atau

kematangan, baik tidaknya pencampuran atau cara pengolahan dapat

ditandai adanya warna yang seragam dan merata. Penambahan bahan

pewarna pada pangan dilakukan untuk beberapa tujuan antara lain memberi

kesan menarik, menyeragamkan warna makanan, menstabilkan warna,

menutupi perubahan warna selama proses pengolahan, dan mengatasi

perubahan warna selama penyimpanan.

Kualitas bahan makanan ditentukan antara lain oleh cita rasa, warna,

tekstur dan nilai gizi. Akan tetapi sebagian besar konsumen sebelum

mempertimbangkan cita rasa dan nilai gizi akan lebih tertarik pada tampilan

atau warna makanan serta pengolahan bahan makanan.

2. Jenis Zat Pewarna

Bahan pewarna makanan terbagi dalam dua kelompok besar yakni

pewarna alami dan pewarna buatan. Di Indonesia, peraturan mengenai

penggunaan zat pewarna yang diizinkan dan dilarang untuk pangan diatur

Menteri Kesehatan RI No.722/Menkes/Per/IX/88 mengenai bahan tambahan

pangan. Akan tetapi seringkali terjadi penyalahgunaan pemakaian zat

pewarna untuk sembarang bahan pangan, misalnya zat pewarna untuk tekstil

dan kulit dipakai untuk mewarnai bahan pangan. Hal ini jelas sangat

4
berbahaya bagi kesehatan karena adanya residu logam berat pada zat

pewarna tersebut. Timbulnya penyalahgunaan tersebut antara lain

disebabkan oleh ketidaktahuan masyarakat mengenai zat pewarna untuk

pangan.

A. Pewarna Alami

Banyak warna cemerlang yang dipunyai oleh tanaman dapat

digunakan sebagai pewarna untuk makanan. Beberapa pewarna alami

ikut menyumbangkan nilai nutrisi (karotenoid, riboflavin, dan kobalamin),

merupakan bumbu (kunir dan paprika) atau pemberi rasa (karamel) ke

bahan olahannya.

Beberapa pewarna alami yang diizinkan digunakan dalam pangan

diantaranya :

a. Karamel

Pewarna alami berwarna cokelat yang dapat digunakan untuk

mewarnai jeli (200 mg/Kg), acar ketimun dalam botol (300 mg/Kg) dan

yogurt beraroma (150 mg/kg).

b. Beta karoten

Pewarna alami berwarna merah orange yang dapat digunakan

untuk mewarnai acar ketimun dalam botol (300 mg/Kg), es krim (100

mg/Kg), keju (600 mg/Kg), lemak dan minyak makan (secukupnya)

c. Klorofil

Pewarna alami berwarna hijau yang dapat digunakan untuk

mewarnai jeli (200 mg/kg) atau keju (secukupnya)

5
d. Kurkumin

Pewarna alami berwarna kuning orange yang dapat

digunakan untuk mewarnai es krim dan sejenisnya (50 mg/Kg) atau

lemak dan minyak ikan secukupnya.

Pewarna makanan yang didapatkan secara alami dibedakan menjadi

empat kelompok yaitu :

a. Senyawa tetrapyrole yang meliputi chlorofil, heme, dan bilin

b. Derivat isoprenoid meliputi kartenoid

c. Derivat benzopyran meliputi anthocianin dan flavonoid

d. Artefak meliputi melanodine dan karamel.

B. Pewarna Buatan

Proses pembuatan zat warna sintetis biasanya melalui perlakuan

pemberian asam sulfat atau asam nitrat yang seringkali terkontaminasi

oleh arsen atau logam berat lain yang bersifat racun. Pada pembuatan zat

pewarna organik sebelum mencapai produk akhir, harus melalui suatu

senyawa yang kadang-kadang berbahaya dan seringkali tertinggal dalam

hal akhir, atau terbentuk senyawa-senyawa baru yang berbahaya. Untuk

zat pewarna yang dianggap aman, ditetapkan bahwa kandungan arsen

tidak boleh lebih dari 0,0004 persen dan timbal tidak boleh lebih dari

0,0001 sedangkan logam berat lainnya tidak boleh ada.

Batasan bahan pewarna makanan adalah semua bahan warna,

pigmen, atau bahan yang dibuat dengan proses sintetis, ekstraksi dan

pemisahan dari sumber sayuran, binatang, dan mineral. Bila bahan aditif

ditambahkan atau diaplikasikan pada makanan, obat, kosmetik, dan pada

6
tubuh, maka bahan pewarna tersebut akan mampu memberikan

perubahan tetentu. Bahan pewarna tambahan yang diaplikasikan pada

makanan akan mempunyai beberapa fungsi di antaranya adalah, untuk

mencegah kehilangan warna selama penyimpanan dan untuk

memperbaiki warna pada makanan.

Pewarna buatan untuk makanan diperoleh melalui proses sintesis

kimia buatan yang mengandalkan bahan-bahan kimia, atau dari bahan

yang mengandung pewarna alami melalui ekstraksi secara kimiawi.

Beberapa contoh pewarna buatan yaitu :

a. Warna kuning : tartrazin dan sunset yellow

b. Warna merah : allura, eritrosin, dan amaranth

c. Warna biru : biru berlian

Bahan pewarna sintetis yang diijinkan di Indonesia

Nama (Indonesia) Nama (Inggris) Batas


Maksimum
Penggunaan
Biru berlian Brilliant blue FCF :CI 100 mg/kg
Coklat HT Chocolate brown HT 300 mg/kg
Eritrosin Food red 2 Erithrosin : 300 mg/kg
CI
Hijau FCF Food red 14 Fast green 100 mg/kg
FCF :CI
Hijau S Food green 3 Green S : 300 mg/kg
CI Food
Indigotin Green 4 Indigon : CI 300 mg/kg
Food
Ponceau 4R Blue I Ponceau 4R : CI 300 mg/kg
Karmoisin Carmoisine 300 mg/kg

7
Merah alura Allura red 300 mg/kg
Kuning Kuinolin Quinoline yellow CI 300 mg/kg
Food yellow 13
Kuning FCF Sunset yellow FCF CI 300 mg/kg
Food yellow 3
Riboflavina Tartrazine Riboflavina Tartrazine 300 mg/kg

(sumber : Peraturan Menkes RI Nomor 722/Menkes/Per/IX/1988)

Bahan pewarna sintetis yang dilarang di Indonesia

Bahan Pewarna Warna (C.I.No) Nomor Indeks

Citrus red No.2 12156


Ponceau 3 R (Red G) 16155
Ponceau Sx (Food Red No.1) 14700

Rhodamin B (Food Red No.5) 45170


Guinea Green B (Acid Green No.3) 42085
Magentha (Basic Violet N0.14) 42510
Chrysoidine (Basic Orange No.2) 11270
Butter yellow (Solvent Oranges 11020
No.2)
Sudan I (Food yellow No.2) 12055
Methanil Yellow (Food yellow No.14) 13065
Auramine (Ext.D & C Yellow 41000
No.1)
Oil Orange SS (Basic Yellow No.2) 12100
Oil Oranges XO (Solvent Oranges 12140
No.7)
Oil Yellow AB (Solvent Oranges 11380
No.5)
Oil Yellow OB (Solvent Oranges 11390
No.6)

8
(Sumber: Peraturan Menkes RI.Nomor 722/Menkes/Per/IX/88)

1. Metanil yellow

Metanil Yellow adalah pewarna sintetis yang digunakan pada industri

tekstil dan cat berbentuk serbuk atau padat yang berwarna kuning kecoklatan.

Pewarna kuning metanil yellow sangat berbahaya jika terhirup, mengenai

kulit, mengenai mata dan tertelan. Penyalahgunaan pewarna metanil yellow

antara lain pada mie, kerupuk dan jajanan lain yang berwarna kuning

mencolok berpendar. Pewarna ini digunakan untuk pewarna tekstil, kertas

dan cat. Methanil Yellow merupakan zat pewarna sintetis yang dilarang untuk

produk makanan karena dalam bahan tersebut mengandung residu logam

berat yang sangat membahayakan bagi kesehatan.

1. Sifat kimia metanil yellow

Metanil yellow merupakan pewarna golongan azo, dimana dalam

strukturnya terdapat ikatan N=N. Metanil yellow dengan warna kuning

dibuat dari asam metanilat dan difenilamin

No Keterangan Penjelasan
1 BM 452.37 g/mol
2 Rumus molekul C18H14N3NaO3S
3 Nomor CAS 587-98-4
4 RTECS DB 7329500
5 Kelarutan Larut dalam air dingin
6 Sinonim Acid Yellow 36 Tropacolin G
3-{(4-(Phenylamino)phenil)azo}
benzenesulfonic acid monosodium salt

9
7 Warna Kuning
8 Bentuk fisik Serbuk atau padat
9 Titik lebur 390 (dec.)
10 Lain lain Produk degradasi lebih toksik

2. Bahaya metanil yellow terhadap kesehatan

Dampak yang terjadi dapat berupa iritasi pada saluran pernafasan,

iritasi pada kulit, iritasi pada mata, dan bahaya kanker pada kandung

kemih. Apabila tertelan dapat menyebabkan mual, muntah, sakit perut,

diare, panas, rasa tidak enak dan tekanan darah rendah. Bahaya lebih

lanjut yakni menyebabkan kanker pada kandung dan saluran kemih.

Metanil yellow juga bisa menyebabkan kanker, keracunan, iritasi paru-

paru, mata, tenggorokan, hidung, dan usus. Efek zat warna Metanil yellow

ialah selain bersifat karsinogenik, zat warna ini dapat merusak hati pada

binatang percobaan, berbahaya pada anak kecil yang hypersensitive dan

dapat mengakibatkan gejala-gejala akut seperti kulit menjadi merah,

meradang, bengkak, timbul noda-noda ungu pada kulit, pandangan

menjadi kabur pada penderita asma dan alergi lainnya.

3. Pencegahan bahaya keracunan akibat metanil yellow

Mengkonsumsi pangan yang mengandung pewarna dapat berisiko

membahayakan kesehatan. Agar terhindar dari bahaya keracunan pangan

akibat metanil yellow ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh

konsumen, yaitu:

10
a. Kenali dan hindari pangan yang mengandung metanil yellow.

Beberapa ciri pangan yang mengandung metanil yellow adalah produk

pangan berwarna kuning mencolok dan berpendar. Selain itu, terdapat

titik-titik warna akibat pewarna tidak tercampur secara homogen,

misalnya pada kerupuk.

b. Cerdas dan selektif dalam memilih produk pangan. Banyak produk

pangan yang diberi pewarna agar tampilannya lebih menarik. Namun,

sebaiknya konsumen waspada jika hendak membeli pangan yang

warnanya terlalu mencolok. Beberapa pangan yang seringkali

ditemukan mengandung pewarna berbahaya seperti metanil yellow

adalah tahu dan mie. Tahu yang berwarna kuning mengkilat sebaiknya

tidak dibeli dan dikonsumsi karena dikhawatirkan menggunakan

pewarna terlarang untuk pangan. Tahu yang diberi pewarna alami dari

kunyit biasanya berwarna kuning kusam dan warnanya tidak merata

sampai ke bagian dalam. Selain itu, sebaiknya hindarkan pula

mengkonsumsi mie yang berwarna kuning mengkilat atau pangan

jajanan lain yang berwarna kuning mencolok.

c. Mencermati label kemasan produk pangan yang akan dibeli.

Sebaiknya konsumen memilih produk pangan olahan yang memiliki

nomor izin edar, baik itu dari Dinas Kesehatan (PIRT) atau dari Badan

Pengawas Obat dan Makanan (MD/ ML).

d. Perhatikan komposisi pangan olahan pada label kemasan.

11
BAB III METODE PENGAMATAN

A. ALAT DAN BAHAN

1. Alat :

- Beaker glass

- Tabung reaksi

- Batang pengaduk

- Mortar

2. Bahan :

- Mie Kuning
- Manisan Mangga
- Sirup Orange

B. PROSEDUR PRAKTEK

1. Siapkan beaker glass dan masukkan sampel makanan sebanyak 25 gr dalam

volume 50 ml aquadest dan hancurkan degan pengaduk sampai larut

seluruhnya, utuk sampel minuman yang sudah cair tidak perlu dilakukan

perlakuan awal.

2. Siapkan tabung reaksi dan masukkan 0,5 1 ml sampel serta tambahkan

reagent Methanyl Yellow 1 sebanyak 2 tetes, diamkan beberapa saat

akanterbentuk warna merah muda seulas sampai pekat (merah tajam)

menunjukkan methanyl yellow positif, bandingkan dengan deret standart

warna methanyl yellow

3. Untuk lebih meyakinkan bandingkan dengan standart methanyl yellow yang

diperlukan sebagai sampel

12
C. WAKTU DAN TEMPAT PRAKTIKUM

1. Waktu : Rabu, 16 Februari 2017 / 09.00 12.00 WIB

2. Tempat : di laboratorium Terpadu Poltekkes Kemenkes Pontianak

D. PROSEDUR PENETAPAN SAMPEL

Teknik pemilihan sampel menggunakan purposive sampling yaitu pemilihan

sampel tergantung pada kriteria sampel yang akan diambil. Pada praktikum ini,

pemilihan sampel yang diambil berdasarkan makanan jajanan yang berwarna

kuning di sekolah dasar yang ada di Pontianak Timur. Jumlah sampel yang

diambil tidak terbatas banyaknya, sehingga pada pratikum ini kami mengambil

sampel makanan jajanan anak sekolah dasar yang memiliki warna kuning

disetaip sekolah dasar yang ada di Pontianak Timur. Jadi didapatlah sampel mie

kuning, manisan manga, dan sirup orange dari seluruh sekolah dasar yang ada

di Pontianak Timur.

13
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PRATIKUM

No Nama Sampel Terjadi perubahan warna Kandungan Gambar


1 Mie kuning Tidak terjadi perubahan Negative ( - )
sampel A warna

2 Manisan Tidak terjadi perubahan Negative ( - )


manga sampel warna
B

3 Sirup orange Tidak terjadi perubahan Negative ( - )


sampel C warna

14
B. PEMBAHASAN

Penentuan mutu dan bahan makanan pada umumnya sangat bergantung

pada beberapa faktor diantaranya cita rasa, warna, tekstur, dan nilai gizinya. Faktor

warna tampil lebih dahulu dan kadang-kadang sangat menentukan. Suatu bahan

yang dinilai bergizi, enak, dan teksturnya sangat baik tidak akan dimakan apabila

memiliki warna yang tidak sedap dipandang atau memberi kesan menyimpang dari

warna yang seharusnnya. Selain sebagai faktor yang ikut menentukan mutu, warna

juga dapat digunakan sebagai indikator kesegaran atau kematangan.

Pada praktikum kali ini, kami melakukan pengujian methanyl yellow pada

makanan jajanan anak sekolah dasar di kota Pontianak. Beberapa ciri pangan

yang mengandung metanil yellow adalah produk pangan berwarna kuning

mencolok dan terdapat titik-titik warna kuning yang tidak menyatu dengan bahan

pangan.

Kelompok kami yaitu kelompok 7 mendapatkan sampel yaitu mie kuning,

manisan manga, dan sirup orange. Pengujian methanyl yellow ini dilakukan secara

kualitatif, yaitu dengan cara di teteskan dengan reagent methanyl yellow-1

sebanyak 2 tetes. Untuk sampel yang padat seperti mie kuning dan manisan

magga, terlebih dahulu kami hancurkan dengan 50 ml aquadest, sedangkan untuk

sampel cair seperti sirup orange tidak perlu dilakukan penghancuran lagi. Setelah

persiapan sampel, sampel masing-masing diambil sebanyak 1 ml kemudian

dimasukkan kedalam tabung reaksi, setelah itu baru diteteskan reagent methanyl

yellow-1 sebanyak 2 tetes. Tunggu beberapa saat, Jika terjadi perubahan warna

menjadi warna merah muda sampai pekat berarti menandakan sampel tersebut

positif mengandung zat pewarna methanyl yellow dan jika tidak terjadi perubahan

warna berarti menandakan sampel tersebut negative dan baik untuk dikonsumsi.

15
Dari sampel yang kami uji, masing-masing sampel mie kuning, manisan

manga, dan sirup orange tidak terjadi perubahan warna setelah diteteskan reagent

methanyl yellow. Hal itu menandakan bahwa sampel yang kami ujikan negative

mengandung zat pewarna methanyl yellow dan baik untuk dikonsumsi.

Bahaya methanyl yellow jika dikonsumsi secara terus-menerus akan

berakibat bisa menyebabkan kanker, keracunan, iritasi paru-paru, mata,

tenggorokan, hidung, dan usus. Efek zat warna Metanil yellow ialah selain bersifat

karsinogenik,

Dalam praktikum yang dilakukan, kami tidak mengalami kesulitan baik dalam

persiapan sampel sampai dengan pengamatan sampel setelah ditetesi reagent

metahnyl yellow.

16
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa:

A. Zat Pewarna adalah bahan tambahan makanan yang dapat memperbaiki

warna makanan yang berubah atau menjadi pucat selama proses pengolahan

atau untuk memberi warna pada makanan agar kelihatan lebih menarik.

B. Metanil Yellow merupakan zat warna sintetis berbentuk serbuk padat

berwarna kuning kecoklatan, larut dalam air, agak larut dalam aseton. Metanil

yellow bersifat sangat stabil. Metanil yellow biasa digunakan untuk mewarnai

wool, nilon, kulit, kertas, cat, alumunium, detergen, kayu,dan bulu. Metanil

yellow tidak boleh digunakan untuk minuman, makanan, obat-obatan,

kosmetik karena dalam paparan waktu lama dapat menyebabkan kanker

pada saluran kemih dan kandung kemih.

C. Sampel yang diujikan yaitu mie kuning, manisan manga, dan sirup orange

dinyatakan negatif atau tidak mengandung Zat Metanil Yellow.

B. SARAN

1. Diharapkan kepada praktikan agar lebih bisa memanfaatkan waktu seefektif

mungkin pada saat praktikum

2. Alat pelindug diri pada praktikan harus benar-benar diperhatikan

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Menteri Kesehatan RI. 1985. Nomor : 239/Menkes/Per/V/85 tentang zat

warna tertentu yang dinyatakan sebagai bahan berbahaya.

2. Anonim.2008.zat berbahaya dalam makanan dikunjungi

www.doktercantik.com di akses pada pada tanggal 16 Februari 2017.

3. http://analiskesehatankupang.blogspot.co.id/2014/03/laporan-praktikum-

identifikasi-methanil.html

Pontianak, 16 Februari 2017

Praktikan

Husnul Khotimah Abdurrahman

NIM : 20142320072

18