Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN KASUS

KANKER SERVIKS STADIUM IIIB POST EBRT + AFN + ANEMIA +


SUSPEKS RESIDIF POST RADIOTERAPI

Oleh
Suharto, S.Ked
I11107041

Pembimbing

dr. Manuel Hutapea, Sp.OG (K) Onk

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN WANITA


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
RSU DOKTER SOEDARSO
PONTIANAK
2014
LEMBAR PERSETUJUAN

Telah disetujui Laporan Kasus dengan judul:

KANKER SERVIKS STADIUM IIIB POST EBRT + AFN + ANEMIA+


SUSPEKS RESIDIF POST RADIOTERAPI

Disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan


Kepaniteraan Klinik Mayor Ilmu Kebidanan dan Kandungan

Pontianak, Juli 2014


Pembimbing Laporan Kasus, Disusun oleh :

dr. Manuel Hutapea, Sp.OG (K) Onk Suharto


NIM: I11107041

2
BAB I
PENDAHULUAN

Kanker serviks adalah kanker ginekologi yang paling sering terjadi pada
wanita. Sebagian besar dipicu oleh infeksi HPV (human papilloma virus),
walaupun tentu saja pengaruh multifaktorial dari pejamu memegang peranan
penting dalam pertumbuhan sel kanker. Kejadian penyakit ini pada umumnya
banyak terjadi di negara berkembang seperti India, Amerika latin, Afrika Selatan
dan Timur, dimana mayoritas pasien datang dengan stadium lanjut. Faktor risiko
untuk karsinoma servik adalah koitus pertama di usia muda, banyak partner seksual,
perilaku yang permisif dari pasangan pria, paparan HPV, kondisi higiene yang
jelek, status nutrisi yang jelek, penyakit menular seksual, dan defisiensi imun.1
Kanker serviks paling sering terjadi pada wanita usia kurang dari 50 tahun,
namun jarang terjadi pada wanita lebih muda dari 20 tahun. Lebih dari 20% kasus
kanker serviks ditemukan pada wanita usia lebih dari 65 tahun. Namun kanker ini
jarang terjadi pada wanita yang rutin melakukan skrining kanker pada usia kurang
dari 65 tahun.2
Penyakit ini umumnya radiosensitif dan lebih mudah diobati pada stadium
awal, baik melalui pembedahan atau radioterapi saja, karsinoma servik stadium I B
dan II A memiliki angka harapan hidup 5 tahun 75% sampai 90%. Untuk pasien-
pasien yang dalam kondisi stadium IV atau yang mengalami kekambuhan (relaps)
setelah radioterapi, tidak ada perbaikan yang konsisten pada harapan hidup yang
diobservasi lebih dari 30 tahun terakhir. Pengobatan karsinoma servik yang residif
masih sangat tidak efektif. Kualitas hidup dan perawatan suportif adalah yang
paling penting untuk membantu pasien-pasien dalam kondisi ini.3
Pada kasus berikut, kanker serviks terjadi pada usia kurang dari 50 tahun.
Terdeteksi menderita kanker pada stadium IIIB dan dilakukan radioterapi. Namun
setelah enam bulan pasca terapi timbul gejala yang mengarah pada kasus kanker
residif.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Kanker Serviks Residif


Untuk keseragaman pengertian perlu diketahui definisi sebagai berikut:
Sembuh primer post radiasi bila serviks ditutup oleh epitel normal atau
obliterasi vagina tanpa adanya ulkus atau cairan yang keluar. Pada pemeriksaan
rekto vaginal kalau ada indurasi teraba licin, tidak berbenjol. Serviks besarnya
tidak lebih dari 2,5cm, dan tidak ada metastasis jauh. Dikatakan persisten post
radiasi bila ada persisten dari tumor asal atau tumbuhnya tumor baru di pelvis
dalam 3 bulan post radiasi. Sedangkan residif post radiasi adalah bila tumor
tumbuh kembali di pelvis atau distal setelah serviks dan vagina dinyatakan
sembuh.
Bila setelah pengobatan (radiasi/operasi) tumor hilang kemudian timbul
kembali maka disebut residif. Proses residif dapat terjadi lokal yaitu, bila
mengenai serviks, vagina 2/3 atau 1/3 proksimal parametrium, regional bila
mengenai distal vagina/panggul atau organ disekitarnya yaitu rektum atau
vesika urinaria. Metastasis jauh bila timbul jauh di luar panggul.

2.2 Diagnosis kekambuhan


Penderita karsinoma serviks dapat mengalami kekambuhan,
metastasis jauh atau kombinasi keduanya. Kurang lebih 10% -20%
penderita karsinoma serviks stadium IB IIA mengalami kekambuhan
setelah terapi bedah primer atau radioterapi tanpa adanya metastasis pada
limfonodi sebelumnya. Sebanyak 70% pasien dengan metastasis dan atau
pertumbuhan tumor yang lebih luas akan mengalami relaps.4
Bagaimanapun pengobatannya, waktu untuk rekuren biasanya
pendek, lebih dari 75% kekambuhan terjadi dalam 3 tahun sejak
terdiagnosis. Tujuan dari survei post terapi adalah untuk mendiagnosis dini
kekambuhan, mengetahui outcome, dan juga untuk perawatan komplikasi.
Protokol survei post terapi meliputi kunjungan setiap 3 bulan selama 2

4
tahun, kunjungan 4 bulan selama tahun ketiga, dan setiap 6 bulan setelah 3
sampai 5 tahun dan tiap tahun setelahnya. Riwayat penyakit, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan dalam, pap smear, dan serum tumor marker
(skuamous sel karsinoma antigen (SCC-Ag) dan karsinoembrionik antigen
(CEA) untuk skuamous sel karsinoma; CA 125 dan CEA untuk
adenokarsinoma; dan SCC-Ag, CEA, CA 125 untuk adenoskuamous
karsinoma) diperiksa setiap kunjungan.3 Foto roentgen dada setiap tahun
disarankan pada pasien-pasien asimptomatik sementara CT-MRI Scan
dilakukan setiap tahun pada tiga tahun pertama berturut-turut untuk
kelompok risiko tinggi atau yang terindikasi secara klinis (gejala/tanda
mencurigakan atau peningkatan tumor marker).3 Sitologi vagina mungkin
tidak sensitif atau cost effective walaupun ini merupakan tehnik yang paling
mungkin untuk mendeteksi kekambuhan. Kegunaan serum tumor marker
juga kontroversial. Alasan yang menentang penggunaan rutin adalah bahwa
sedikit kekambuhan dapat dideteksi dengan tumor marker saja tetapi jumlah
yang dapat disembuhkan tetap rendah pada banyak pasien. Akan tetapi,
pendapat lain mengatakan bahwa penggunaan tumor marker membantu
untuk mengidentifikasi kegagalan penyembuhan lokal atau jauh.3

2.3 Pola kekambuhan


Kurang lebih satu dari 3 pasien dengan karsinoma servik akan
berkembang menjadi residif. Pasien dengan rekurensi lokal atau dengan
penyebaran ke dinding lateral pelvis mungkin mengalami perdarahan,
discharge vagina, nyeri punggung bawah yang menjalar ke paha dan
panggul. Kejadian rekurensi lokal setelah radioterapi radikal meningkat
dengan peningkatan stadium penyakit primer: stadium I A 4,6% , stadium I
B 11,2%, stadium II A 10-20%, stadium II B 17-30%, stadium III A 28-
30%, stadium III B 45-50%. Penyebaran primer karsinoma servik adalah ke
nodus limfatikus obturator (kelompok medial dari nodus iliaka eksterna), ke
nodus iliaka eksterna lainnya dan ke nodus hipogastrika. Dari sini metastasis
meyebar ke pelvis atau nodus limfatikus paraaortica. Rekurensi karsinoma

5
servik dan pembesaran nodus pelvis dapat menginfiltrasi atau menekan
nervus sciatica, pleksus sakralis, dan jaras nervus lumbosakral. Pasien dapat
juga menunjukkan simptom sekunder metastasis keluar dari pelvis seperti
nodus paraaortica, paru-paru, liver dan otak.1
Perez et all (1995) melaporkan angka kegagalan terapi dengan
radioterapi saja pada stadium IB sebesar 10%, stadium IIA 17%, stadium
IIB 23%, 42% pada stadium III, dan 74% pada stadium IVA. Angka
kejadian metastasis jauh setelah 10 tahun adalah 3% pada stadium IA, 16%
pada stadium IB, 31% pada stadium IIA, 26% pada stadium IIB, 39% pada
stadium III dan 75% pada stadium IVA. Tempat metastasis jauh yang paling
sering terjadi berturut-turut adalah paru-paru (21%), limfonodi paraaorta
(11%), kavum abdomen (8%), limfonodi supraclavicular (7%). Metastase
ke tulang biasanya mengenai vertebra lumbal dan thorakal.4

2.4 Pendekatan Terapi


Sebagian besar kekambuhan muncul dalam waktu 2 tahun setelah
diagnosis dan prognosisnya adalah jelek dengan sebagian besar pasien
meninggal karena penyakitnya tidak terkontrol. Penelitian secara
retrospektif terhadap 500 pasien karsinoma serviks yang dirawat di
Universitas Kentucky, 31% mengalami relap, 58% nya mengalami relap
dalam waktu 1 tahun dan 76% nya dalam 2 tahun. Pada penelitian ini hanya
6% penderita selamat sampai tahun ke-3. Lima puluh sampai enam puluh
persen pasien sudah menderita perluasan penyakit sampai di luar pelvis atau
sudah mencapai dinding panggul sehingga hanya dapat diberikan terapi
paliatif.4
Pilihan terapi untuk kekambuhan pada karsinoma serviks tergantung
pada kondisi pasien, lokasi kekambuhan atau metastasis, luasnya
metastasis, dan terapi yang diberikan sebelumnya. Pasien yang kambuh
dapat mengalami gejala seperti nyeri, anoreksia, perdarahan pervaginam,
kaheksia, dan masalah psikologis.4
Pasien dengan pelvis rekuren setelah histerektomi radikal atau
rekurensi terbatas pada limfonodi paraaortica memiliki angka harapan hidup

6
yang lebih baik dengan kemoradiasi yang berkesinambungan. Ada pilihan
terapi yang sangat terbatas untuk pasien-pasien dengan rekuren atau
metastasis karsinoma servik.
1. Kemoterapi
Kemoterapi memiliki peran terbatas pada pengobatan karsinoma
servik rekuren. Agen tunggal yang paling aktif adalah cisplatin yang
dikaitkan dengan respon klinis yang lengkap berkisar antara 18-50% pada
pasien yang tidak diterapi sebelumnya. Rendahnya keberhasilan dengan
terapi agen tunggal, membuat peneliti mencoba kemoterapi kombinasi.
Studi kemoterapi kombinasi yang paling banyak digunakan adalah cisplatin
dan ifosfamide. Beberapa percobaan fase dua telah menunjukkan angka
respon 30-60% menggunakan ifosfamide saja atau kombinasi dengan
carboplatin dan atau cisplatin. Ketika pasien menginginkan kemoterapi
paliatif cisplatin dan ifosfamide relatif lebih cost effective di negara
berkembang.1 Kemoterapi saja pada dasarnya adalah bersifat paliatif. Obat
tunggal yang paling aktif digunakan masih tetap cisplatin. Obat-obat yang
lain yang juga relatif sering digunakan seperti 5-fluorouracil,
doxorubicin/epirubicin, ifosfamide, CPT-12, paclitaxel, gemcitabine, dan
lain-lain.6

2. Eksenterasi Pelvis
Ketika radioterapi atau pembedahan plus ajuvan radioterapi gagal,
eksenterasi pelvik biasanya perlu untuk mereka yang memiliki relaps sentral
pelvik dengan dinding pelvik yang masih bersih dan bebas dari metastasis.
Metastasis nodus paraaortici dan atau pelvis multipel, penyebaran tumor ke
peritoneum, upper abdomen dan metastasis jauh adalah kontraindikasi
dilakukan eksenterasi. Kadang-kadang reiradiasi adalah memungkinkan
untuk kekambuhan superfisial pada servik atau vagina. Histerektomi radikal
dengan atau tanpa diseksi nodus pelvik memungkinkan untuk kekambuhan
pada uterus yang kecil dan atau vagina. Untuk pasien-pasien dengan
stadium lebih dari atau sama dengan II B sesuai dengan FIGO, terdapat

7
angka kegagalan yang tinggi dan banyak pasien tidak dapat diselamatkan
dengan operasi eksenterasi yang lebih jauh.6

Table 1. Ringkasan terapi kanker residif


Residif post radiasi Residif post operatif
Lokal, kemoterapi atau operasi Regional, radiasi
histerektomi total / histerektomi radikal atau kemoradiasi.
modifikasi. Bila residif pada
Regional vesika
o Rektum/vesika/parametria (tulang urinaria/rektum
panggul bebas) dilakukan dapat
eksenterasi. dipertimbangkan
o Distal vagina/vulva, radiasi dengan untuk eksenterasi.
elektron atau interstisial. Metastasis jauh,
o Panggul didalam lapangan radiasi, pengobatan sama
dilakukan kemoterapi. pada residif post
o Panggul di luar lapangan radiasi, radiasi.
dapat diberikan kemoterapi atau
radiasi.
Jauh
o Paru, bila soliter dapat dilakukan
reseksi atau radiasi, bila multiple
diberikan kemoterapi.
o Otak/KGB/tulang, diberikan radiasi
atau kemoterapi.
o Intraabdominal, diberikan
kemoterapi.

8
2.4 Rekurensi pada beberapa kondisi
Kasus kekambuhan merupakan keadaan tanpa harapan karena 80-100%
penderita akan meninggal kurang dari setahun semenjak kekambuhan dan
sampai saat ini belum ada terapi pilihan yang efektif untuk mengatasinya.
Secara keseluruhan kelangsungan hidup lima tahun kasus berulang kurang
dari 5% dan hampir 90% terjadi dalam 2 tahun pertama. Kasus berulang
setelah mendapat terapi radiasi dapat dilakukan operasi atau kemoterapi
terutama untuk lesi kambuh berada di luar lapangan radiasi sebelumnya.
Pembedahan dilakukan bila lesi soliter seperti pada paru-paru atau daerah
sentral (central recurrence) dan masih memberikan hasil yang cukup baik.
Bila kekambuhan pasca operatif di daerah pelvis dapat diobati dengan
radiasi. Pemberian kemoterapi pada kasus berulang yang sebelumnya telah
radiasi atau operasi tidak memberikan hasil yang baik.2
1. Setelah pembedahan radikal
Bisa muncul dengan nyeri pelvis atau perdarahan. Diagnosis harus
dikonfirmasi dengan pemeriksaan dalam, biopsi jaringan, dan penyebaran
penyakit harus dievaluasi dengan parameter biokimia, radiografik,
sistoskopi, proktoskopi. Pasien-pasien yang berkembang menjadi rekuren
setelah pembedahan definitf dan yang tidak menerima terapi radiasi
sebelumnya, kemoradioterapi radikal adalah pilihan pengobatan. Angka
harapan hidup pasien-pasien yang diterapi dengan radikal radioterapi
berkisar antara 20-40%. Pasien dengan rekurensi sentral biasanya memiliki
prognosis yang lebih baik daripada rekurensi pada dinding pelvis.1
Pilihan terapi untuk pasien yang mengalami relap pada pelvis setelah
terapi bedah primer adalah radiasi radikal atau eksenterasi pelvis. Angka
harapan hidup berkisar antara 6 77%. Pasien dengan kekambuhan di
daerah sentral memiliki prognosis yang lebih baik dibandingkan dengan
pasien dengan penyebaran sampai dinding panggul. Pasien dengan
kekambuhan di daerah sentral (central recurrence) memiliki harapan hidup
10 tahun sebesar 77% untuk tumor yang non palpable, 48% untuk tumor
dengan ukuran < 3 cm, sedangkan untuk ukuran tumor > 3 cm, tidak ada
pasien yang dapat bertahan lama. Faktor prognosis yang paling menentukan

9
harapan hidup setelah terapi radiasi adalah interval bebas penyakit, lokasi
kekambuhan dan ukuran tumor. Dosis radiasi yang lebih besar dapat
diberikan dengan brachytherapy dan akan meningkatkan penekanan
pertumbuhan tumor bagi pasien dengan tumor bervolume kecil di daerah
sentral. Pasien dengan tumor bervolume besar di daerah sentral atau
penyebaran sampai dinding pelvis memiliki prognosis yang buruk.4
Saat ini telah tersedia penelitian fase II menggunakan terapi
gabungan radiasi dan kemoterapi. Tampaknya kemoradiasi memberikan
hasil yang lebih baik dibandingkan radiasi saja. Berdasarkan beberapa
penelitian uji klinis secara random terbukti keunggulan kemoradiasi dengan
cisplatin pada karsinoma serviks stadium IB2 sampai IVA.

2. Setelah radioterapi definitif


Gambaran klinis memperlihatkan rekurensi post radioterapi adalah
nyeri, perdarahan, bulky atau noduler servik, tumor abnormal sitologi servik
pada 6 bulan, atau adanya lesi baru pada pemeriksaan dalam. Sebagian besar
pasien yang mengalami relap di daerah lokal setelah terapi dengan
radioterapi bukan kandidat bagi radioterapi lanjut, dan terapi dengan bedah
eksenterasi adalah terapi kuratif yang dapat diambil.
Angka harapan hidup 5 tahun setelah terapi eksentererasi pelvis
sebesar 30 60%. Identifikasi terhadap faktor klinis dan histopatologis yang
dapat memperkirakan adanya kekambuhan dan harapan hidup setelah terapi
eksenterasi pelvis dapat membantu dalam pemilihan pasien yang cocok
untuk terapi eksenterasi pelvis. Faktor prognosis yang berhasil diidentifikasi
termasuk interval bebas penyakit, ukuran tumor saat kambuh, dan kekakuan
dinding pelvis sebelum operasi. Prognosisnya akan lebih bagus bila pasien
memiliki interval bebas penyakit > 6 bulan, ukuran tumor < 3 cm, dan tidak
ada kekakuan dinding pelvis. Usia tua bukan merupakan kontraindikasi
terapi eksenterasi. Infiltrasi tumor hingga dinding pelvis akan sulit dicapai
bila terjadi fibrosis hebat setelah radiasi. Trias adanya edema kaki unilateral,
nyeri skiatik dan obstruksi ureter hampir selalu menunjukkan adanya tumor

10
yang tidak mungkin lagi dilakukan eksenterasi sehingga hanya dapat
diberikan terapi paliatif.4
Semua wanita yang dicalonkan untuk dilakukan pembedahan
eksenterasi membutuhkan konseling preoperatif mengenai pembedahan dan
perawatan pasca operasi. Tindakan preoperatif salah satunya dengan cara
mengeksklusikan pasien dengan metastasis jauh, sepertiga pasien yang
menjalani terapi eksenterasi ternyata pada saat laparatomi terbukti tidak
tepat untuk dilakukan eksenterasi karena penyebaran ke peritoneum, ke
nodus limfatikus paraaorta dan dinding panggul. Angka mortalitas terapi
eksenterasi harus kurang dari 10%.4
a. Sebagian kecil pasien dengan rekurensi terbatas pada pelvis yang
tidak terfiksir pada dinding pelvis dan tanpa bukti metastasis ekstra
pelvis, dapat dipertimbangkan untuk dilakukan tindakan
penyelamatan dengan histerektomi radikal. Hasil ini
mengimplikasikan bahwa deteksi dini pada rekuren karsinoma
servik dan tindakan pembedahan penyelamatan pada rekurensi
terbatas pada servik menghasilkan angka harapan hidup yang lebih
baik.

b. Reiradiasi
Reiradiasi umumnya tidak mungkin dilakukan oleh karena
potensial radiasi merusak kandung kemih dan rektum. Kemoterapi
paliatif mungkin dapat dicoba.

c. Iradiasi Paliatif
Terapi radiasi dapat memberikan keuntungan paliatif pada
pasien-pasien yang memperlihatkan gejala-gejala penyakit yang
lanjut.

11
BAB III
PENYAJIAN KASUS

3.1 Identitas
Nama : Ny. Syamsinah
Umur : 47 tahun
Pekerjaan : IRT
Alamat : Jl. Daeng Manambon, Mempawah Timur
No. MR : 767756
Tanggal MR : 7 April 2014

3.2 Anamnesis
3.2.1 Keluhan Utama
BAB warna merah segar
3.2.2 Riwayat Perjalanan Penyakit
Sejak November 2011, pasien sering mengeluh nyeri perut bawah
dan keluar bercak darah dari vagina di luar waktu haid. Saat berhubungan
terasa nyeri dan berdarah. Jika BAB/BAK terasa tidak lampias. Pasien juga
sering merasa tidak nyaman di ulu hati. Pasien memeriksakan ke dokter
umum dan dirujuk ke kota Pontianak.
Pada November 2012, pasien berobat ke RS Antonius dan setelah
dilakukan pemeriksaan, pasien dikatakan menderita kanker serviks stadium
IIIB oleh dokter ahli onkologi gynekologi. Pasien lalu dirujuk ke RS.
Dharmais untuk mendapatkan terapi lebih lanjut.
Bulan Pebruari April 2013, di RS. Dharmais, pasien mendapat
terapi sinar dalam sebanyak 3 kali dan sinar luar sebanyak 25 kali.
Sebelumnya pasien dilakukan kemoterapi namun kondisi pasien memburuk
dan harus menjalani cuci darah. Setelah terapi sinar, pasien dilakukan
pemeriksaan patologi anatomi dan dinyatakan tidak ditemukan lagi
keganasan.

12
6 bulan setelah radioterapi (Oktober 2013), pasien sering
mengeluhkan nyeri ulu hati hilang timbul, dan BAB berdarah berbau karat.
Pasien berobat ke Rumah sakit Rubini dan ditransfusi.
Bulan Mei 2014, pasien masih sering mengalami BAB bercampur
darah, nyeri pada panggul, dan badan terasa lemah. Pasien berobat ke RS
Rubini dan kembali mendapat transfusi 2 kantong darah. Pasien lalu berobat
ke RS Antonius kemudian dirujuk ke RS Soedarso.

3.2.3 Riwayat Penyakit Dahulu


- Riwayat kanker lain sebelumnya disangkal
- Riwayat keputihan (+)

3.2.4 Riwayat Penyakit Keluarga


- Riwayat kanker dalam keluarga tidak diketahui

3.2.5 Riwayat Sosial Ekonomi


Pasien tidak bekerja. Suami pasien bekerja sebagai supir bus,
berobat menggunakan BPJS kelas 3.

3.2.6 Riwayat Obstetri


Pasien memiliki 4 anak, menikah umur 20 tahun. Anak pertama lahir
saat pasien berumur 21 tahun,
No. Tempat Tahun Hasil Jenis Jenis Berat Keadaan
bersalin kehamilan persalinan kelamin lahir anak
1. Klinik 1990 Aterm Spontan Perempuan 2900 gr Hidup
bidan
2. Klinik 1995 Aterm Spontan Laki-laki 3100 gr Hidup
bidan
3. Klinik 2001 Aterm Spontan Perempuan 3100 gr Hidup
bidan
4. Klinik 2007 Aterm Spontan Laki-laki 3500 gr Hidup
bidan

13
3.2.7 Riwayat Ginekologi
Pasien pertama haid usia 14 tahun, siklus haid teratur, sudah berhenti
haid sejak 1 tahun lalu setelah mendapat terapi sinar. Pasien sering
mengalami keputihan, kadang berdarah dan berbau tidak enak.

3.3 Pemeriksaan Fisik


3.3.1 Tanda-tanda Vital
Kondisi umum: baik
Kesadaran : compos mentis
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 68 x/ menit
Nafas : 20 x/ menit
3.3.2 Status generalis
a. kepala : bentuk normal, nyeri tekan (-), konjungtiva anemis (+/+)
b. leher : bentuk simetris, pembesaran limfonodi (-)
c. dada : bentuk simetris
d. jantung : bentuk normal, ukuran tidak membesar, suara S1-S2
tunggal, gallop (-), murmur (-)
e. Paru : bentuk normal, suara dasar paru vesikuler (+/+), rhonki (-/-
), wheezing (-/-)
f. abdomen : soefel, bising usus (+) normal, nyeri tekan (+) di
epigastrium, hepar-lien tidak teraba
g. punggung : bentuk normal, nyeri ketok CVA (-/-)
h. genitalia : tidak diperiksa
i. anus & rectum: tidak diperiksa
j. ekstremitas : udem tungkai (-/-),
k. limfonodi : tidak teraba membesar

3.3.3 Status Lokalis

14
3.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium (2-6-2014)
Hemoglobin : 6,8 gr/dl
Leukosit : 4.800 /ul
Trombosit : 371.000 /ul
Hematokrit : 21,4 %
Ureum : 32 mg/dl
Kreatinin : 1,43 mg/dl
GDS : 98 mg/dl

Radiologi (CT scan abdomen)


- Liver, kandung empedu, spleen, dan kedua ginjal tak tampak kelainan.
- Tak tampak massa/nodul di liver
- Traktus digestivus tak tampak massa/obstruksi, tak tampak delesi.
- Kesan: penebalan dinding buli-buli ec. DD/
o Curiga residif tumor di buli-buli
o Cystitis post radiasi

3.5 Daftar masalah


Perdarahan per rectum
Dyspepsia
Anemia
Hematokezia
Kanker Serviks stadium IIIB

3.6 Diagnosis
Kanker Serviks stadium IIIB post ERBT dan AFN dengan anemia curiga
residif post radioterapi.

15
3.7 Tatalaksana
IVFD RL 20 tpm
Transfusi PRC hingga kadar Hb > 10 gr/dl
Asam Traneksamat 2 x 500 mg iv bolus
Diit tinggi kalori tinggi protein
Pro kemoterapi paliatif

3.8 Usulan pemeriksaan


- rectosigmoidoscopy
- colposcopy
- biopsy serviks ulang
- foto rontgen thoraks PA

3.9 Prognosis
Ad vitam : dubia ad malam
Ad functionam : malam
Ad sanactionam : malam

3.10 Follow Up
Tgl Subjektif Objektif Assessment Planning
7-6- Nyeri ulu KU: baik, Ca. cervix Cek Hb, Obs KU,
2014 hati hilang kesadaran: kompos stadium TTV, perdarahan.
timbul mentis, TD: IIIB post
BAB kadang 130/90, HR: 60 EBRT +
berdarah x/mnt, RR: 16 AFN+Anem
Riwayat x/mnt ia
transfusi 2 Konjungtiva
minggu lalu anemis (+/+)
Cor: S1-S2 tunggal,
gallop (-), murmur
(-)

16
Pulmo: vesikuler
(+/+), rhonki (-/-),
wheezing (-/-)
Abd: sufel, BU (+)
normal, nyeri tekan
(+) epigastrium
8-6- Nyeri ulu KU:baik, Kes: Ca. Cervix Inf RL:D5% 20 TPM
2014 hati (+) compos mentis, IIIB post Transfusi PRC s/d
hilang timbul TD: 110/60 mmHg, EBRT + Hb 10 g%
Perdarahan HR:60 x/mnt, RR: AFN + Inj. Kalnex
saat BAB (+) 20 x/mnt Anemia 500mg/12 jam/iv
Konjungtiva Pro CT-scan
anemis (+/+) abdomen
Cor: S1-S2 tunggal rectosigmoidoscopy
Pulmo: vesikuler Tx/ Paliatif
(+/+), rhonki (-/-), Chemoterapi
Wheezing (-/-)
Abd: soefel, BU (+)
N, NT (+)
epigastrium
Ext: anemis, CRT <
2dtk
Hb: 6,8 gr/dl
9-6- BAB KU: baik, kes: CM, Ca. cervix Observasi KU, TTV,
2014 berdarah (-), TD 140/80, HR: 88 stadium perdarahan
nyeri ulu hati x/mnt, RR: 20 IIIB post Infus RL:D5% 20
(-) x/mnt EBRT + TPM
Abd: soefel, BU AFN + Transfusi PRC,
(+), NT (+) anemia target Hb 10 gr%
Inj. Kalnex 500mg
/12 jam/iv

17
BAB IV
PEMBAHASAN

Wanita, usia 47 tahun datang dengan keluhan BAB bercampur darah segar
berbau karat setelah menjalani radioterapi untuk kanker servik stadium IIIB.
Keluhan dirasakan sejak 6 bulan setelah dilakukan terapi sinar. Selain itu pasien
juga sering merasakan nyeri pada panggul dan ulu hati. Kejadian residif setelah
radioterapi pada kanker serviks berkisar antara 26-64%.
Kejadian perdarahan setelah terapi radioterapi dapat terjadi akibat iritasi
saluran cerna dan kandung kemih. Selain itu ada kemungkinan residif post radiasi.
Untuk memastikan penyebab perdarahan dapat dilakukan rangkaian pemeriksaan
seperti CT scan abdomen, kolonoskopi, biopsy serviks, dan kolposkopi. Selain itu
juga perlu dilakukan rontgen thoraks untuk menilai metastasis jauh ke paru-paru.
Hasil CT scan abdomen pasien ini menunjukkan adanya penebalan dinding
vesika urinaria yang mengarahkan pada kasus residif tumor dengan diagnosis
banding cystitis post radioterapi. Sementara untuk saluran cerna tidak ditemukan
kelainan, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan kolonoskopi, namun pasien
menolak. Untuk menegakkan diagnosis dapat disarankan dilakukan biopsy dinding
vesika urinaria maupun pemeriksaan marker tumor.
Pasien ini juga mengalami anemia akibat perdarahan yang berlangsung
kronis. Anemia yang berlangsung lama dapat menyebabkan komplikasi lain seperti
gagal jantung. Sehingga perlu dilakukan tatalaksana segera dengan transfusi packed
red cell (PRC) untuk mengembalikan fungsi hemodinamik.
Pada kasus kanker serviks residif terapi yang dapat lakukan adalah terapi
paliatif baik dengan radioterapi maupun kemoterapi. Namun pilihan terapi
tergantung pada lokasi residif. Untuk kasus residif di vesika urinaria atau rektum
dapat dilakukan eksenterasi tanpa harus dilakukan kemoterapi atau radioterapi.
Namun saat ini terapi kombinasi kemoterapi dan radioterapi memiliki hasil yang
lebih baik dibandingkan terapi tunggal. Untuk di Rumah sakit dr. Soedarso sendiri
radioterapi tidak mungkin dilakukan karena tidak tersedia fasilitas tersebut.

18
Secara umum prognosis untuk kejadian residif adalah buruk. Sehingga
pendekatan curative tidak banyak membantu meningkat harapan hidup pasien.
Rata-rata penderita kanker serviks residif hanya bertahan hidup satu tahun setelah
diagnosis residif ditegakkan. Sehingga, kualitas hidup dan perawatan suportif
adalah yang paling penting untuk membantu pasien-pasien dalam kondisi ini.

19
BAB IV
KESIMPULAN

Kasus kanker serviks residif setelah dilakukan terapi bervariasi tergantung


stadium penyakit dan modalitas terapi. Untuk residif post radioterapi pada stadium
IIIB angka kekambuhan mencapai 50 persen. Baik kambuh di area radiasi maupun
di luar area radiasi.
Serangkaian pemeriksaan diperlukan untuk menentukan pola kekambuhan
yang terjadi sehingga dapat diberikan terapi yang tepat. Namun demikian, harapan
hidup untuk kasus-kasus kanker residif rendah. Pendekatan terapi paliatif
setidaknya masih bisa dipakai untuk memberikan harapan kepada penderita. Terapi
suportif dan kualitas hidup pasien adalah pertimbangan penting dalam tatalaksana
karsinoma serviks residif.

20
DAFTAR PUSTAKA

1. DiSaia P, Creasman W. Invasive cervical cancer. In: Clinical gynecology


oncology. Elsevier-Mosby; 2007. p.56115.
2. Kumar V, Abbas A, Fausto N. Cervix, disease of organ systems. In:
Pathologic basic of disease. Elsevier Saunders; 2005. p.10729.
3. Suryanti dkk. : Metastasis Ovarium dari Kanker Serviks Stadium IAIIB
yang Dilakukan Radikal Histerektomi di RSU Dr. Soetomo Tahun 2003
2005. Majalah Obstetri & Ginekologi, Vol. 17 No. 2 Mei - Agustus 2009:
83 86
4. Lee Hsueh Ni, et all. The oncologic management of carcinoma cervix after
primary treatment failure, Indian J Palliative Care I Vol 11 no 2 December
2005
5. Anonim, Buku Acuan Nasional Onkologi Ginekologi, Yayasan Sarwono
Prawirohardjo, Jakarta, 2006.
6. Chyong-Huey Lai, MD, Management of Recurrent Cervical Cancer, Chang
Gung Med J Vol. 27 No. 10 October 2004
7. Michael Friedlander, Guidelines for the Treatment of Recurrent and
Metastatic Cervical Cancer The Oncologist 2002; 7: 342-347
www.TheOncologist.com

21