Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM

KESUBURAN, PEMUPUKAN DAN KESEHATAN TANAH


LARUTAN MIKROORGANISME LOKAL (MOL)

Disusun Oleh :
1. Ahmad Zainal Abidin (13973)
2. Shelsy Lorensa (14238)
3. Vicka Larasati Purdadi (14240)
4. Wahyu Aidil Fitra (14242)
5. Wahyu Fika Arifiana P. (14243)

Gol./Kel.: A3 Sore/ 5
Asisten: Endra Eka Purnanto

LABORATORIUM KESUBURAN DAN KIMIA TANAH


DEPARTEMEN TANAH
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2017
MIKRO ORGANISME LOKAL

ABSTRAK

Praktikum Kesuburan Pemupukan dan Kesehatan Tanah acara III yang berjudul larutan
mikroorganisme lokal (MOL) dilaksanakan pada hari Rabu, 30 Agustus 2017 di Laboratorium
Kesuburan dan Kimia Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta. Tujuan dari praktikum ini adalah memahami pentingnya mikroorganisme perombakan
bahan organik, serta mengerti cara sederhana pembuatan starter mikroba (mikro organisme lokal). Alat
yang digunakan dalam pembuatan MOL adalah toples, botol air mineral, selang, balon, dan plastisin.
Sedangkan bahan yang digunakan adalah larutan gula atau molasses 2%, buah serta sayur busuk 1 kg,
dan air cucia beras. Mikroorganisme seperti bakteri, ragi, jamur yang bermanfaat dalam perombakan
sangat berperan dalam penguraian bahan organik. Banyak mikroorganisme di sekitar yang dapat
dijadikan MOL yang dapat dimanfaatkan untuk pembuatan kompos. Untuk membuat MOL sangat
sederhana, kita dapat memanfaatkan bahan-bahan yang berada di sekitar kita.

Kata kunci: bahan organik, MOL (Mikro Organisme Lokal), kompos

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pupuk kimia mulai diperkenalkan kepada petani sejak tahun 1970 an, dimana saat itu para
petani harus menggunakan pupuk kimia agar dengan tujuan mempercepat pertumbuhan dan
meningkatkan hasil dari pertanian. Kecenderungan ketergantungan petani pada penggunaan
pupuk dan pestisida anorganik sejak diterapkannya revolusi hijau menimbulkan dampak
negatif yang berkaitan dengan degradasi lingkungan. Subsidi harga dari pemerintah dan
pengaruh pupuk dan pestisida anorganik terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman ikut
mendorong preferensi petani terhadap pupuk anorganik sehingga penggunaan bahan organik
sebagai komponen pembentuk kesuburan tanah semakin ditinggalkan.
Bahan organik memiliki peranan penting sebagai sumber karbon di dalam tanah.
Penurunan kandungan bahan organik tanah menyebabkan mikroba dalam tanah mengalami
defisiensi karbon sebagai pakan, sehingga perkembangan populasi dan aktivitas mikroba
dalam tanah terhambat. Hal ini mengakibatkan proses mineralisasi hara menjadi unsur yang
tersedia bagi tanaman akan terhambat pula. Salah bahan alternatif yang dapat menyediakan
mikroba dalam tanah sekaligus penyedia nutrisi bagi tanaman adalah larutan MOL
(mikroorganisme lokal). Proses pembuatan yang sederhana serta bahan-bahan yang mudah
didapatkan membuat MOL perlu disosialisasikan ke petani secara lebih luas.

B. Tujuan
1. Memahami pentingnya mikroorganisme perombakan bahan organik
2. Mengetahui cara pembuatan starter mikroba (mikro organisme lokal).
II. TINJAUAN PUSTAKA

Bahan organik berperan besar dalam memperbaiki struktur tanah, mampu


meningkatkan kemampuan menahan air, menyeimbangkan nisbah pori mikro dan makro
guna memperbaiki aerasi tanah, meningkatkan kesuburan kimia tanah dan meningkatkan
aktivitas biologi jasad mikroorganisme tanah dalam mendokomposisi bahan organik. Bahan
organik yang lebih sukar diurai memerlukan waktu yang lebih lama untuk menunjukkan
pengaruhnya, namun efektivitas penggunaanya dapat berlangsung lebih lama pula (Brady,
1974). Salah satu sumber bahan organik lain yang paling umum digunakan sebagai bahan
kompos yaitu berasal dari kotoran sapi. Menurut analisis Laboratorium Departemen Ilmu
Tanah dan Sumber Daya Lahan, Fakultas Pertanian IPB menyatakan kandungan hara makro
dan mikro kotoran sapi sebagai berikut: N 0,94%; P 2,40%; K 7,69%; Ca 1,45%; Mg 0,36%;
C/N 35,78 (Pratiwi, dkk., 2013). Selain kotoran sapi, sisa-sisa tanaman dan sampah rumah
tangga juga dapat dijadikan sumber kompos. Kompos merupakan pupuk organik buatan
manusia yang dibuat dari proses pembusukan sisa-sisa buangan mahluk hidup (tanaman
maupun hewan). Kompos tidak hanya menambah unsur hara, tetapi juga menjaga fungsi
tanah sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik (Yuwono, 2005).

Tujuan pengomposan adalah mempercepat kesiapan seresah atau limbah untuk


diberikan ke dalam tanah. Di daerah pertanian kompos dibuat jerami, ampas tebu, sekam
padi, kelobot jagung, pangkasan tanaman, gulma dan berbagai seresah yang disusun dalam
tumpukan setinggi 1-1,5 m.

Larutan MOL adalah larutan hasil fermentasi yang berbahan dasar dari berbagai
sumber daya yang tersedia setempat. Larutan MOL mengandung unsur hara mikro dan makro
dan juga mengandung bakteri yang berpotensi sebagai perombak bahan organik, perangsang
pertumbuhan, dan sebagai agens pengendali hama dan penyakit tanaman, sehingga MOL
dapat digunakan baik sebagai dekomposer,pupuk hayati dan pestisida organik terutama
sebagai fungisida. Keunggulan penggunaan MOL adalah dapat diperoleh dengan biaya murah
bahkan tanpa biaya. Dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada di lingkungan sekitar
seperti buah-buahan busuk (pisang, mangga, pepaya), limbah sayuran (bayam, kangkung),
rebung bambu, buah maja dan keong mas. Peran MOL dalam kompos, selain sebagai
penyuplai nutrisi juga berperan sebagai komponen bioreaktor yang bertugas menjaga proses
tumbuh tanaman secara optimal. Fungsi bioreaktor antara lain penyuplai nutrisi melalui
mekanisme eksudat, kontrol mikroba sesuai kebutuhan tanaman, menjaga stabilitas kondisi
tanah menuju kondisi yang ideal bagi pertumbuhan tanaman dan kontrol terhadap penyakit
yang menyerang tanaman (Kurnia, 2009).

III. METODOLOGI

Praktikum Kesuburan Pemupukan dan Kesehatan Tanah acara III yang berjudul larutan
mikroorganisme lokal (MOL) dilaksanakan pada hari Rabu, 30 Agustus 2017 di Laboratorium
Kesuburan dan Kimia Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta. Alat yang digunakan dalam pembuatan MOL adalah toples, botol air mineral, selang, balon,
dan plastisin. Sedangkan bahan yang digunakan adalah larutan gula atau molasses 2%, buah serta sayur
busuk 1 kg, dan air cucia beras.

Cara kerja yang dilakukan dalam pembuatan MOL (Mikro Organisme Lokal) adalah
bahan sayuran dipotong kecil-kecil/ tipis-tipis, lalu diremas-remas dengan garam. Kemudian
dimasukan di dalam toples dan ditambahkan air cucian beras hinga 1 liter. Langkah
selanjutnya toples ditutup rapat menggunakan tutup yang telah diberi selang dan
dihubungkan dengan botol mineral yang diberi air. Setelah 3-4 minggu toples dibuka, dan
cairan yang diperoleh diambil. Selanjutnya larutan gula ditambahkan seanyak 2% dari cairan
tersebut. Indikator dalam pengamatan mol meliputi warna, aroma, DHL, serta pH
Pengamatan warna dilakukan pada hari ke-7, 14, 26, dan 28. Pengamatan aroma dilakukan
pada hari ke 26 dan 26. Sedangkan pengamtan DHL dan pH dilakukan pada hari ke 28 saja.
IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

Mikro Organisme Lokal (MOL) adalah cairan yang terbuat dari bahan-bahan alami
yang disukai sebagai media hidup dan berkembangnya mikro organisme yang berguna untuk
mempercepat penghancuran bahan-bahan organik atau sebagai dekomposer dan sebagai
aktivator/ atau tambahan Nutrisi bagi tumbuhan yang disengaja dikembangkan dari mikro
organisme yang berada di tempat tersebut. Bahan-bahan tersebut diduga berupa zat yang
dapat merangsang pertumbuhan dan perkembangan tanaman (fitohormon) seperti : giberlin,
sitokinin, auxin, dan inhibitor. Adapun manfaat dari MOL adalah sebagai starter dalam
proses dekomposisi bahan organik, sebagai starter untuk pupuk organik cair bagi tanaman,
penyedia nutrisi bagi tanaman, dan membantu kelancaran penyerapan unsur hara/ nutrisi oleh
akar tanaman, karena kandungan elektrolitnya. Perbandingan 400 cc cairan MOL diencerkan
dengan 14 l air dengan dosis 4,8 l/ha.

Dalam praktikum ini kami melakukan dua percobaan yaitu dengan buah busuk dan
juga dengan daun-daun kering. Untuk percobaan buah busuk bahan yang diperlukan adalah
buah-buah yang tidak termakan yang sudah busuk: Jeruk, Tomat, Pepaya Mangga, Pisang,
Apel, Salak dll 0,1kg ;Gula 0,1ons ; air kelapa0,2 liter. Cara pembuatannya yaitu pertama
buah-buahan ditumbuk/ dihaluskan, buah-buah ini dimaksud sebagai sumber bakteri,
masukan pada botol aqua kosong 1L. Lalu campurkan dengan air kelapa, air kelapa berfungsi
sebagai sumber karbohidrat. Kemudian tambahkan gula disini gula berfungsi sebagai sumber
glukosa. Tutup botol beri lubang udara dengan cara masukan jarum peniti pada tutup botol
yang befungsi sebagai pertukaran udara saat fermentasi. Biarkan selama 14 hari.Penggunaan
dari MOL dengan bahan buah busuk yaitu:

a. Campur MOL dan air dengan perbandingan 1 : 5 Liter ( 1 bagian MOL, 5 bagian
air) tambahkan gula 1 0ns. Siramkan pada bahan organik yang mau dikomposkan.

b. Penggunaan Pada tanaman Padi . Semprotkan pada tanaman dengan Konsentrasi


larutan 400 cc dicampur dengan air tawar sebanyak 14 liter, semprotkan pada umur
tanaman Akhir vegetatif ( kurang lebih umur 55 Hari- 60 hari).
Kedua yaitu pembuatan MOL dengan bahan daun-daun kering. Pada percobaan
pembuatan MOL dengan daun-daun, dibutuhkan beberapa bahan yaitu daun kering sebanyak
satu karung yang berfungsi sebagai bahan yang mudah terombak (dekomposisi), tetes tebu
dan juga EM4 yang berfungsi dalam penambahannya itu adalah untuk mempercepaat
dekomoposisi. Setelah dimasukkan dann dicampur semua bahan ke dala plastik lalu plastik
tersebut diikat supaya tidak ada udara yang masuk karena dalam percobaan ini kita memakai
perlakuan aerob. Lalu pada minggu keemoat ambil contoh untuk pengujian pH dan DHL.

V. PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Mikroorganisme seperti bakteri, ragi, jamur yang bermanfaat dalam perombakan
sangat berperan dalam penguraian bahan organik. Banyak mikroorganisme di sekitar
yang dapat dijadikan MOL yang dapat dimanfaatkan untuk pembuatan kompos.
2. Untuk membuat MOL sangat sederhana, kita dapat memanfaatkan bahan-bahan yang
ada di sekitar. Mulai dari limbah sayur, buah, dan sejenisnya, sehingga sangat
disayangkan jika tidak dimanfaatkan.
B. Saran
Saran pada praktikum ini yaitu perlu adanya tindak lanjut dalam pemanfaatan limbah
organik untuk dijadikan pupuk organik, sehingga pertanian di Indonesia tidak bergantung
pada pestisida kimia saja.
DAFTAR PUSTAKA

Amin, N. 2014. Sukses Bertani Buncis. Garudhawaca, Yogyakarta.

Brady, N.C. 1974. The Nature and Properties of The Soils. 8th ed. Macmillan Pub Co. New
York.

Hanafiah, K. A. 2005. Dasar dasar Ilmu Tanah. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Kunia, K., 2009. Mikroorganisme Lokal Sebagai Pemicu Siklus Kehidupan dalam Bioreaktor
Tanaman. Pusat Penelitian Bioteknologi ITB, Bandung.

Pratiwi, I.W.D. Atmaja, dan N. Soniari. 2013. Analisis kualitas kompos limbah persawahan
dengan Mol sebagai decomposer. E-Jurnal Agroekoteknologi Tropika 2 (4): 195-
196.
Rinsema, W.T. 1983. Pupuk dan Cara Pemupukan (Alih Bahasa oleh H.M.Saleh). Bhatara
Karya Aksara, Jakarta.

Rosmarkam, A dan N.W. Yuwono. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius, Yogyakarta.

Santi, T.K. 2006. Pengaruh pemberian pupuk kompos terhadap pertumbuhan tanaman tomat.
Jurnal Ilmiah Progressif 3 (9): 41-42.

Sastrohoetomo, A. 1968. Pupuk Buatan dan Penggunaannya. Djambatan, Jakarta.

Shepherd, R. and Y.T. Ngau. 1984. Utilization of by Product of Cocoa Bean Processing. Int.
Conf. On Cocoa and Coconut, Malaysia. 17 p.

Suparman. 2007. Model-Model Berkebun Sayuran. Palgrave Macmillan, Bekasi.

Supriyanto, A. 2006. Aplikasi Wastewater Sludge Untuk Proses Pengomposan Serbuk


Gergaji.
Http://wwwstd.ryu.titech.ac.jp/~indonesia/zoa/paper/html/paperAgusSupriyanto.ht
ml. Diakses tanggal 6 Oktober 2014.

Sutanto, R. 2002. Penerapan Petani Organik. Kanisius, Yogyakarta.

Yuwono, N. 2000. Pupuk dan Kesuburan Tanah. Jurusan Tanah fakultas Pertanian
Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Yuwono Dipo. 2005. Kompas. Penebar swadaya, Jakarta.