Anda di halaman 1dari 11

Phthiraptera

Kelompok 5
Anggota kelompok:
Agatha Sada Ua (1609010043)
Frezensi D. Meze (1609010005)
Theresia O. Bara (1609010009)
Debora I. Weki(1609010036)
Kefin E. Tahun (1609010027)
Theresia B. Paulino (1609010016)
Deswandy S. Berri (1609010013)
Marito Britos Gomes (1609010050)
Gregorius Mau Kuru (1609010011)
Monycha Bumbungan (1609010033)
INFESTASI KUTU PADA KERBAU
ALBINO (Bubalus bubalis)
DI DESA SUKAMAJU KECAMATAN
CIAMPEA KABUPATEN BOGOR
Abstrak
Kutu yang dikoleksi dipreservasi ke dalam preparat kaca
untuk proses identifikasi. Total kerbau albino yang diteliti
sebanyak 10 ekor dengan pembagian 8 regio tubuh yang
terdiri atas regio I (kepala), II (leher), III (dada), IV
(abdomen 1), V (abdomen 2), VI (punggung), VII (ekor),
dan VIII (kaki). Jenis kutu yang diperoleh hanya satu jenis
yaitu Haematopinus tuberculatus (Phthiraptera:
Haematopinidae). Infestasi kutu sebelum berkubang
terdapat pada regio VIII (kaki) sebesar 21.89%. Penurunan
infestasi kutu tertinggi akibat aktivitas berkubang terdapat
pada regio VI (punggung) sebesar 8.34%. Hasil analisis
Wilcoxon menunjukkan penurunan derajat infestasi kutu
yang signifikan sebelum dan sesudah berkubang.
Metode penelitian
Koleksi kutu menggunakan metode pengambilan secara
manual dan pengukuran derajat infestasi kutu berdasarkan
jumlah kutu pada beberapa regio tubuh kerbau yang dilakukan
sebelum dan sesudah berkubang. Pengukuran derajat dan
sebaran kutu dilakukan setiap seminggu sekali pada satu ekor
kerbau albino. Jumlah Kerbau albino yang digunakan
sebanyak 10 ekor dengan waktu penelitian selama 10 minggu
(1 ekor kerbau/minggu). Koleksi kutu dilakukan secara manual
dengan mengambil 5 kutu tiap regio tubuh. Pengambilan kutu
menggunakan pinset kemudian kutu yang didapat pada
masing-masing regio tubuh di masukkan ke dalam botol kecil
berisi alkohol dan diberi label pada setiap botol.
Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan kutu yang diidentifikasi hanya diperoleh satu
jenis kutu yang ditemukan pada peternakan kerbau di Desa
Sukamaju Kecamatan Ciampea Kabupaten Bogor termasuk
dalam famili Haematopinidae yaitu Haematopinus
tuberculatus. H. tuberculatus memiliki ukuran tubuh relatif
besar sekitar 5.5 mm. Pengukuran kutu betina yang diteliti
sekitar 4.8 mm sedangkan ukuran kutu jantan sekitar 3.9
mm. Ukuran tubuh betina relatif besar dibandingkan
dengan jantan. Ciri morfologi pada H. Tuberculatus memiliki
rambut berjumlah lima atau lebih pada paratergal plate.
Sternal plate pada bagian ventral H. tuberculatus yang
khas seperti lempeng yang terdapat penonjolan kearah
kranial.
Perbedaan kutu jantan dan betina
H. tuberculatus
Perbedaan kutu jantan dan betina H. tuberculatus
terdapat pada bagian kaudal. Bagian kaudal
H.tuberculatus betina seperti penjepit , sedangkan
H. tuberculatus jantan berbentuk lancip.
Berdasarkan hasil identifikasi 400 kutu yang
diambil dari tiap regio tubuh kerbau albino pada
peternakan kerbau di Desa Sukamaju Kecamatan
Ciampea hanya satu jenis yaitu H. tuberculatus.
Peternakan kerbau tersebut terletak pada dataran
tinggi sehingga kutu H. tuberculatus dapat
bertahan hidup pada suhu dingin. Kerbau
merupakan inang bagi H. tuberculatus.
H. tuberculatus Betina
H. Tuberculatus jantan
Akibat infestasi kutu H. tuberculatus

Infestasi kutu H. tuberculatus menyebabkan


kulit yang terinfestasi kutu menjadi gatal dan
menimbulkan erythematosa. Selain itu, kerbau
menjadi gelisah, akibat lesi pada kulit sehingga
dapat menyebabkan anoreksia, cachexia, serta
mengurangi produktivitas
Simpulan

Jenis kutu yang menginfestasi kerbau albino di


peternakan di Desa Sukamaju Kecamatan
Ciampea Kabupaten Bogor adalah Haematopinus
tuberculatus. Derajat infestasi tertinggi kerbau
terdapat pada regio kaki. Penurunan tertinggi
infestasi kutu setelah berkubang terdapat pada
regio punggung. Aktivitas berkubang terbukti
efektif menurunkan infestasi kutu pada kerbau
albino.