Anda di halaman 1dari 6

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No.

1, (2014) 1-6 1

Penyeimbang Beban Pada Gardu Distribusi Dengan


Metode Seimbang Beban Seharian Di PT. PLN Area
Bukittinggi
Fazari Abdillah, Margo Pujiantara, Soedibjo
Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
E-mail: fazari.abdillah11@mhs.ee.its.ac.id, margo@ee.its.ac.id, soedieb@ee.its.ac.id
Abstrak Penyeimbangan beban merupakan suatu rutinitas sekali sehingga tidak efektif dan efisien dalam biaya, tenaga,
yang dilakukan oleh PLN dalam rangka manajemen sebuah dan waktu [1].
trafo distribusi. Selama ini, penyeimbangan beban dilakukan Penyeimbangan beban dengan cara konvensional hanya
pada Waktu Beban Puncak (WBP) saja. Sehingga kegiatan berdasarkan WBP. Sedangkan saat LWBP yang waktunya
penyeimbangan beban pada suatu trafo belum menjamin
lebih panjang tidak diseimbangkan. Maka perlu dilakukan
tercapainya keseimbangan beban di titik Luar Waktu Beban
Puncak (LWBP). Penyeimbangan juga dilakukan dengan trial penyeimbangan beban dengan metode Seimbang Beban
and error. Tentunya hal ini tidak efektif dan efisien baik dari segi Seharian. Melalui penggunaan software, dapat dilakukan
hasil yang diinginkan dan waktu yang digunakan. Berkaca dari simulasi terlebih dahulu. Data untuk simulasi merupakan data
hal tersebut, perlu dilakukan penyeimbangan beban WBP dan primer beban trafo selama 24 jam dengan pengukuran setiap
LWBP disertai besaran beban terukur sebagai dasar 1 jam. Datanya berupa nilai arus beban tanpa sudut fasa
penyeimbangan. Penyeimbangan dilakukan dengan metode SBS (dianggap ideal). Trafo yang akan diseimbangkan dipilih
(seimbang beban seharian) melalui proses simulasi. Dengan berdasarkan data pengukuran trafo tidak seimbang semester
menggunakan simulasi terlebih dahulu, dapat meningkatkan II tahun 2012. Trafo dikatakan tidak seimbang jika tingkat
efektifitas dan efisiensi dari kegiatan penyeimbangan beban ini.
ketidakseimbangan lebih dari 20%. Setelah dilakukan
Untuk itu perlu dilakukan pengukuran awal beban dan data
beban pada sebuah trafo distribusi yang akan diseimbangkan simulasi penyeimbangan kemudian dilakukan proses
sebagai input software simulasi. Penyeimbangan dilakukan penyeimbangan beban pada trafo. Dengan dilakukannya
merujuk pada hasil simulasi. Sehingga keseimbangan antar penyeimbangan berdasarkan data selama sehari, maka dapat
fasanya tercapai disemua titik waktu kurva beban. Secara menurunkan besarnya arus netral yang ada serta
keseluruhan setelah dilakukan penyeimbangan beban meningkatkan efektifitas dan efisiensi kegiatan
didapatkan hasil dengan menurunnya nilai arus maksimum penyeimbangan beban.
dari 101 ampere menjadi 95 ampere. Kemudian nilai arus netral
rata rata juga berhasil berkurang dari 51 ampere menjadi 30 II. JARINGAN DISTRIBUSI DAN KESEIMBANGAN
ampere. Bukan hanya 2 parameter tersebut, untuk rata rata
BEBAN
ketidakseimbangan dalam sehari juga menurut dari 14%
persen menjadi 6%.
A. Transformator dan Pembebanannya
Kata Kunci Luar Beban Puncak, Penyeimbangan, Seimbang Transformator merupakan peralatan kelistrikan yang
Beban Seharian, Software simulasi, Waktu Beban Puncak. dapat memindahkan energi listrik dari suatu rangkaian listrik
kerangkaian listrik lainnya melalui belitan dan inti besi
I. PENDAHULUAN dengan memanfaatkan induksi elektromagnetik. Prinsip
kerjanya berdasarkan hukum ampere dan hukum faraday,
Kegiatan penyeimbangan beban trafo distribusi
merupakan kegiatan rutin yang dilakukan PLN. Hal ini
dimana arus listrik dapat menimbulkan medan magnet dan
kemudian medan magnet menimbulkan arus listrik. Jika salah
dikarenakan selalu terjadi ketidakseimbangan beban antar satu kumparan diberi arus AC maka jumlah garis gaya magnet
fasa seiring dengan terus meningkatnya jumlah pelanggan. berubah ubah. Sehingga pada sisi primer akan terjadi
Jumlah pertumbuhan pelanggan PLN tidak sama disetiap induksi. Disisi sekunder menerima garis gaya magnet dari sisi
fasanya. Begitu juga jika terjadi putus langganan pengguna primer yang jumlahnya berubah-ubah pula. Maka disisi
energi listrik PLN, maka akan berbeda setiap fasa. Karena sekunder juga timbul induksi yang akibatnya antara dua ujung
keadaan beban yang terus berubah, maka perlu dilakukan sekunder terdapat beda tegangan.
penyeimbangan beban secara berkala. Jumlah gardu distribusi Pada umumnya trafo di indonesia memiliki sistem
dalam wilayah kerja PLN Ranting/Rayon/Cabang lebih pendinginan ONAN yang dibebani dengan tipe siklus. Secara
banyak dibanding dengan jumlah petugas pemeliharaan. umum dengan suhu rata-rata indonesia sekitar 30C maka
Sehingga jika penyeimbangan tetap dilakukan dengan cara suatu trafo dapat dibebani kontinu sebesar 80% kapasitasnya.
konvensional maka akan memakan waktu lama untuk proses Namun trafo juga mampu dibebani hingga 110%
penyeimbangan beban. Karena cara konvensional kapasitasnya tetapi hanya untuk waktu kurang dari 4 jam.
memungkinkan untuk dilakukan penyeimbangan lebih dari
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2014) 1-6 2

B. Sistem 3 Fasa Seimbang dan Tak Seimbang C. Arus Netral


Sistem 3 fasa merupakan suatu metoda dalam penyaluran Fenomena arus netral terjadi pada semua gardu distribusi.
energi listrik yang umum digunakan. Dengan metoda ini ada Salah satu penyebab munculnya arus netral adalah
yang disertai jalur netral dan ada yang tanpa jalur netral. ketidakseimbangan beban pada sistem 3 fasa. Semakin tinggi
Sistem 3 fasa yang menggunakan jalur netral disebut 3 fasa 4 tingkat ketidakseimbangan maka arus netral yang ada juga
kawat. Sistem ini yang umum digunakan di indonesia. semakin tinggi. Arus netral dapat mengakibatkan
Persamaannya adalah sebagai berikut: menurunnya kualitas tegangan dan arus menurun. Efek
lainnya yaitu efisiensi trafo berkurang, rugi rugi energi dan
= cos 1 + sin 1 ( 2.1 ) penurunan kualitas peralatan distribusi. Berikut merupakan
akibat tingginnya arus netral berupa penurunan kualitas
= cos 2 + sin 2 ( 2.2 ) tegangan dan arus :
= cos 3 + sin 3 ( 2.3 )
= + + ( 2.4 )

Pada sistem 3 fasa diharapkan jumlah beban tiap fasa


seimbang. Sistem dikatakan seimbang jika besar arus yang
mengalir disetiap fasanya sama dan beda sudut fasa adalah
120. Sehingga persamaan arus netralnya adalah sebagai
berikut :

= ( cos 0 + cos 120 + cos 240) + ( sin 0 + sin 120


+ sin 240)
1 1 3 3

= ( ) + ( + )
2 2 2 2

= 0
Gambar.3. Pembebanan seimbang [6]

Dengan diagram fasor sebagai berikut: Pada gambar diatas terdapat bentuk gelombang arus
primer trafo IR , IS, IT serta gelombang arus sekunder trafo IbR
, IbS, IbT. Gelombang arus sekunder memiliki tinggi
gelombang yang sama setiap fasanya. Keadaan ini terjadi
ketika besarnya beban setiap fasa sama. Sedangkan pada
gambar dibawah merupakan keadaan dimana besarnya beban
tidak seimbang. Tinggi gelombang keluaran setiap fasanya
berbeda. Pada gambar.3 arus netral (I0) bernilai nol
Gambar.1. Diagram fasor sistem 3 fasa beban seimbang [1]
sedangkan pada gambar.4 arus netral tidak bernilai nol.
Sedangkan pada keadaan tidak seimbang terdapat
beberapa kriteria dimana ketiga vektor sama besar dan sudut
fasa tidak beda 120. Kemudian kondisi kedua seperti yang
digunakan pada penelitian ini dimana ketiga vektor tidak
sama besar tetapi sudut fasa beda 120. Dan kondisi terakhir
adalah ketiga vektor tidak sama besar dan tidak membentuk
sudut 120 antar fasanya. Dengan diagram fasor seperti
berikut :

Gambar.4. Pembebanan tak seimbang [6]

Gambar.2. Diagram fasor sistem 3 fasa beban tidak seimbang [1] Besarnya arus netral dapat diatasi dengan melakukan
pemerataan beban, memperbaiki sambungan netral,
menurunkan kapasitas trafo, dan minimisator arus netral.
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2014) 1-6 3

Untuk akibat dari arus netral terjadi penurunan efisiensi Penghantarnya berupa kabel jenis LVTC ( Low Voltage
trafo berupa rugi rugi tambahan arus eddy yang mengalir di Twisted Cable ). Ukuran LVTC adalah 2 x 10mm2, 2 x
lapisan inti besi, kemudian tambahan arus bocor pada isolasi 16mm2, 4 x 25mm2, 3 x 35mm2, 3 x 50mm2, 3 x 70mm2.
dan akan menghasilkan skin effect pada penghantar di trafo. Setiap Ukuran berbeda kegunaan, sehingga perlu dilakukan
pemilihan sesuai kebutuhan. Dimana akan berpengaruh pada
D. Karakteristik Beban Tenaga Listrik rugi daya yang dirubah menjadi panas. Hal ini karena adanya
Pada sistem distribusi terdapat berbagai macam kelompok tahanan pada kawat itu sendiri. Besarnya rugi daya adalah
beban. Secara umum diantaranya adalah sektor perumahan, sebesar arus dikuadratkan dikalikan dengan hambatan.
sektor industri, sektor komersial dan sektor usaha. Masing Penggunaan ukuran kawat yang lebih besar akan
masing sektor memiliki peralatan dan waktu penggunaan mengakibatkan kecilnya rugi rugi karena tahanan juga
energi yang berbeda beda. Beban rumah tangga dengan mengecil. Selanjutnya pemilihan ukuran kawat akan
beban lampu penerangan, kipas angin, lemari es, penyejuk berpengaruh pada kerugian tegangan dan batasan kuat arus.
udara, peralatan dapur, motor pompa air dan sebagainya. Berbeda jenis dan ukuran kawat akan menyebabkan
waktu puncak penggunaan energinya menjelang malam perbedaan besar hambatan sebuah kabel.
hingga pagi hari. Untuk beban komersial biasanya terdiri dari
penerangan reklame, kipas angin, penyejuk udara, BTS dan III. SIMULASI PENYEIMBANGAN BEBAN DENGAN
lainnya. Hotel dan perkantoran juga merupakan kelompok METODA SBS
konsumen komersial. Penggunaan daya listrik akan
meningkat mulai pagi hingga puncak di siang hari dan A. Persiapan dan Langkah Simulasi
menurun di sore hari. Berikutnya adalah beban industri, Penelitian penyeimbangan beban ini dilakukan dengan
industri skala besar pada umumnya beroperasi selama 24 jam. bebarapa langkah kerja seperti pada diagram alur seperti
Sedangkan skala kecil hanya beroperasi di siang hari. Dan dibawah ini.
terakhir beban fasilitas umum seperti lampu jalan.
START
Pengklasifikasian penting dilakukan untuk melakukan analisa
karakteristik beban pada suatu sistem yang besar dan Penentuan gardu
beragam. Empat jenis beban diatas sangat berpengaruh yang akan Print Sheet
diseimbangkan PEMINDAHAN
karena memiliki jenis dan waktu beban puncak yang berbeda
beda. Ukur beban gardu
Pengumpulan Data
sebelum
trafo
diseimbangkan
Pemindahan Beban
Masukan ke sheet Masukkan ke sheet
TRAFO JTR DATA - PLG

Simulasi Total Pengukuran gardu


setelah
penyeimbangan
SimulasiSaluran
Sekunder

Input Data BEBAN -


Kotak Kontrol SSDH
Tidak total dan saluran
Gambar.5. Kurva / profil beban [1] sekunder

E. Kabel Jaringan Tegangan Rendah Ya Evaluasi pada sheet


Kabel merupakan penghantar listrik yang terbungkus GRAFIK

bahan isolasi terpisah satu dengan yang lainnya, kemudian Tidak


Hasi simulasi
bersama sama terbungkus isolasi utama. Jaringan tegangan memuaskan

rendah ( JTR ) adalah jaringan tenaga listrik dengan tegangan


END
rendah yang mencakup seluruh bagian jaringan tersebut Ya
beserta perlengkapannya [8]. JTR berhubungan langsung
Gambar.6. Diagram alur penyeimbangan beban metode SBS
dengan konsumen tenaga listrik. Pada JTR tegangan 20/11kV
jaringan tegangan menengah diturunkan menggunakan trafo
Berdasarkan gambar.6. diatas, tindakan yang paling
distribusi menjadi 380/220V. Sistem penyaluran listrik JTM
pertama dilakukan adalah penentuan gardu yang akan
ataupun JTR dibedakan menjadi 2 macam. Pertama saluran
diseimbangkan berdasarkan data ketidakseimbangan trafo di
udara tegangan rendah ( SUTR ). Pada jenis ini digunakan
PLN. Pada penelitian ini, trafo yang dipilih adalah gardu 009
kabel telanjang tanpa isolasi seperti AAAC, kabel ACSR.
Yudi Plastik di wilayah kerja PLN rayon bukittinggi area
Kedua saluran kabel udara tegangan rendah ( SKUTR ).
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2014) 1-6 4

bukittinggi. Selanjutnya dilakukan pengumpulan data trafo. Setelah proses simulasi pada program dilakukan, hasil
Trafo 009 ini memiliki kapasitas 100 kVA dengan I maks adalah simulasi akan di evaluasi. Mulai dari data yang diinput,
144 ampere. Gardu memiliki 2 saluran sekunder yang menuju ketersedian jumlah dan jenis pelanggan yang akan dipindah
ke pelanggan. Masing masing penghantar saluran sekunder fasakan, keefektifan pemindahan beban dari suatu fasa ke fasa
berjenis LVTCAl dengan luas penampang 70mm2 KHA 185 lain, tingkat keseimbangan maksimal yang dicapai dan
ampere. Untuk saluran sekunder 1 wilayah penyebarannya ke terakhir adalah pengecekan silang sheet pemindahan dengan
daerah simpang taluak kurang lebih sepanjang 1,2 km dan hasil simulasi pada sheet saluran sekunder dan total.
saluran sekunder 2 ke daerah kapeh panji sejauh 1,5 km
terlihat pada gambar.7. Data trafo ini diinput ke program B. Perhitungan Simulasi
simulasi. Selanjutnya yang dilakukan adalah melakukan Secara garis besar terdapat 2 kelompok nilai pada program
pengukuran beban pada gardu. Pengukuran dilakukan secara simulasi. Pertama merupakan nilai hasil pengukuran sebelum
manual selama 24 jam dengan interval 1 jam. Pengukuran penyeimbangan beban dan yang kedua adalah nilai asumsi
untuk mendapatkan nilai arus fasa dan netral pada pangkal setelah dilakukan penyeimbangan beban. Nilai asumsi
saluran sekunder dan pembagiannya. didapat dengan persamaan berikut:

= + (
) ( 3.1 )

Kemudian terdapat jam WBP pada saluran sekunder


tersebut beserta besarnya arus yang mengalir pada WBP.
Selanjutnya adalah perhintungan nilai arus netral rata rata
yang terjadi selama 1 hari:

1 1 1 1
= ( )2 + ( 3 3)2 ( 3.2 )
2 2 2 2

Gambar.7. Peta penataan data pelanggan dan jaringan


Dengan nilai arus netral perjam seperti ( 3.2 ), maka nilai rata
Pengukuran seharusnya dilakukan dengan menggunakan rata sehari adalah:
alat Power Logger. Alat ini dapat mengukur perubahan arus 00 + 01 + 02 + + 23
dengan interval setengah jam. Karena pada PLN bukittinggi = ( 3.3 )
( )
tidak memiliki alat ini, sehingga pengukuran dilakukan
manual. Setelah data arus selama 24 jam didapat, data
Berikutnya adalah persamaan perhitungan
selanjutnya dimasukkan ke program simulasi pada sheet data
ketidakseimbangan saat WBP
pelanggan. Proses selanjutnya adalah melakukan simulasi
penyeimbangan beban pada program. Simulasi dilakukan + +
pada masing masing saluran sekunder dan pada sheet total. = ( 3.4 )
3

Keadaan seimbang bukan hanya dilihat dari grafik yang |% |+|% |+|% |
muncul tetapi juga pada kotak hasil simulasi. Pengenalan % Ketidakseimbangan WBP = 3
profil beban akan membantu dalam melakukan simulasi ( 3.5 )
pemindahan beban. Saat suatu fasa memiliki kelebihan beban Untuk nilai rata rata ketidakseimbangan dalam sehari
pada suatu waktu, dengan mengetahui profil beban dapat dihitung menggunakan persamaan :
ditentukan jenis beban apa yang dikurangi agar kelebihan
+ +
beban dapat ditekan. = ( 3.6 )
3

|% |+|% |+|% |

% Ketidakseimbangan jam ke-i = 3
. ( 3.7 )
% =
00 + + 23

( 3.8 )

Dengan program simulasi juga dapat diketahui keadaan


cadangan kapasitas arus dan jaringan pada trafo dan saluran
sekunder. Beberapa indikatornya adalah keadaan cukup
dimana nilai arus WBP lebih kecil dari nilai arus maksimum
trafo dikali 0.95. kemudian keadaan kritis dimana arus WBP
Gambar.8. Sheet penyeimbangan
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2014) 1-6 5

lebih kecil dari arus maksimum trafo dan keadaan overload ketidakseimbangan dalam sehari yang membaik dari 35.63%
ketika nilai arus WBP melebihi nilai arus maksimum trafo. menjadi 12.68% dengan cadangan kapasitas jaringan yang
Program simulasi juga dapat menghitung losses energi dalam kondisi cukup. Jika dilakukan penyeimbangan beban
yang terjadi pada trafo dan pada saluran sekunder 1 maupun berdasarkan hasil simulasi ini, maka diperkirakan akan
2. Dimana untuk losses energi pada trafo didapat dengan menghemat daya sebesar 716 kWh atau setara dengan 900
persamaan berikut : ribu rupiah.
Sehingga jika dilihat hasil secara keseluruhan atau pada
Energi = + pangkal saluran sekunder maka WBP akan tetap pada jam
( 3.9 ) 19.00 dengan besarnya arus yang turun dari 101 ampere
menjadi 97 ampere. Disertai dengan turunnya arus netral rata
Sedangkan untuk losses energi pada saluran sekunder rata dari 19 ampere menjadi 9 ampere. Berikutnya
didapat dengan persamaan ( 3.9 ) tetapi tanpa parameter susut ketidakseimbangan saat WBP menbaik dari 6.3% menjadi
belitan trafo. Selanjutnya dapat diperkirakan besarnya daya 3.5%. kondisi rata rata ketidakseimbangan dalam seharipun
saving dalam kW dan dalam rupiah. Dan terakhir merupakan membaik dari 13.75% menjadi 6.4% dengan cadangan
perkiraan kondisi keseimbangan hingga penyeimbangan kapasitas arus belitan masih mencukupi. Kondisi
periode berikutnya dilakukan. Kondisi diperkirakan menurun keseimbangan hasil simulasi ini dapat menghemat energi
50% dari keadaan setelah diseimbangkan kemudian akan sebesar 4217 kWh dimana setara dengan 5.1 juta rupiah. Dan
ditampilkan dalam berntuk saving daya dan dalam rupiah. kondisi keseimbangan hingga kegiatan penyeimbangan
Biaya produksi diasumsikan sebesar Rp. 1200 per kWh. berikutnya dilakukan jika diperkirakan kondisi menurun 50%
maka daya yang dihemat sekitar 3162 kWh atau setara dengan
1% 3.8 juta rupiah.
= ( 3.10 )
2
() = ()
B. Implementasi Penyeimbangan
( 3.11 ) Dari hasil simulasi yang telah ada, maka dilakukan
implementasi terhadap trafo yang diteliti. Idealnya
IV. HASIL SIMULASI, IMPLEMENTASI DAN ANALISA penyeimbangan hanya sekali dilakukan. Sebelum dilakukan
penyeimbangan beban harus disiapkan terlebih dahulu lembar
A. Hasil Simulasi penyeimbangan beban mulai dari saluran sekunder 1, 2 dan
Setelah dilakukan simulasi penyeimbangan beban, dapat total. Selanjutnya ditentukan pelanggan mana yang akan
dihitung nilai nilai yang dijadikan acuan atas kondisi dipindah dengan posisi pelanggan pada peta penataan data
keseimbangan yang akan terjadi setelah penyeimbangan pelanggan dan jaringan ( PDPJ ). Untuk kategori beban
beban. Perhitungan terbagi menjadi bagian total atau pangkal, kantor, bisnis, terpusat disekitar simpang jambu air.
saluran sekunder 1 dan 2. Nilai nilai didapat dengan Sedangkan untuk kategori rumah tangga tersebar disemua
menggunakan persamaan seperti yang telah dipaparkan pada wilayah beban gardu 009. Selanjutnya adalah validasi
BAB III. Nilai pertama yang didapat adalah nilai arus fasa dan pelanggan yang akan dipindah fasakan dengan melihat nomor
arus netral hasil simulasi. Nilai ini dipergunakan untuk pengenal pelanggan pada meteran pelanggan. Kemudian
membuat perbandingan beberapa parameter keseimbangan dilakukan proses penyeimbangan beban oleh operator sesuai
beban antara sebelum dan sesudah simulasi. Dimana pada lembar pemindahan beban. Dan proses selanjutnya adalah
simulasi saluran sekunder 1, arus WBP akan menurun dari 85 melakukan pengukuran beban hasil penyeimbangan selama
ampere menjadi 72 ampere dengan WBP bergeser dari jam 24 jam dengan interval waktu pengukuran 1 jam.
19.00 menjadi 21.00. Arus netral rata rata akan mengalami
penurunn dari sebelumnya 27 ampere menjadi 9 ampere. C. Analisa Hasil Penyeimbangan
Kemudian ketidakseimbangan saat WBP membaik dari Setelah dilakukan pengukuran beban sesudah proses
sebelumnya 20.5% menjadi 14.9%. Untuk rata rata penyeimbangan, nilai hasil pengukuran dimasukkan kedalam
ketidakseimbangan dalam 1 hari terjadi perbaikan dari program simulasi untuk analisa hasil penyeimbangan beban.
24.83% menjadi 7.52% dan cadangan kapasitas jaringan Akan diketahui apakah keadaan setelah penyeimbangan
masih dalam kondisi cukup. Diperkirakan akan dapat semakin baik atau malah sebaliknya. Data pengukuran
menekan rugi rugi hingga 3420 kWh atau setara dengan 4.1 dimasukkan kedalam sheet beban sesudah. Maka akan
juta rupiah. muncul grafik dan tabel perbandingan sebelum dan sesudah
Kemudian untuk simulasi pada saluran sekunder 2, WBP penyeimbangan dilakukan.
kemungkinan terjadi tetap pada jam 21.00, dengan arus yang
meningkat dari 35 ampere menjadi 37 ampere. Sedangkan
arus netral rata rata menurun dari 12 ampere menjadi 5
ampere. Selanjutnya adalah tingkat ketidakseimbangan saat
terjadi WBP membaik dari 26.2% menjadi 20.6%. Dan
bagian yang paling penting yaitu rata rata
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2014) 1-6 6

V. KESIMPULAN
Setelah dilakukan penyeimbangan beban berdasarkan
hasil simulasi maka dapat disimpukan bahwasanya :
1. Sebuah konfigurasi 3 fase 4 kawat dapat dikatakan tidak
seimbang jika arus netral tidak bernilai nol.
2. Ketidakseimbangan beban dapat mengakibatkan
penurunan kualitas arus fasa dengan munculnya arus
netral, kemudian efisiensi trafo yang rendah, dan rugi -
rugi kabel netral.
3. Pembaharuan parameter parameter simulasi membuat
hasil penyeimbangan akan semakin akurat.
4. Dengan menggunakan program simulasi serta metoda
Gambar.9. Grafik total sebelum diseimbangkan
SBS, hasil penyeimbangan akan lebih akurat serta
efektif dan efisien dalam tenaga dan waktu
penyeimbangan.
5. Penyeimbangan beban berdasarkan data selama sehari
dapat menurunkan tingkat ketidakseimbangan beban
seharian.
6. Penyeimbangan yang dilakukan juga dapat menekan
besarnya arus netral yang terlihat dari nilai arus rata
rata menurun dari 51 ampere menjadi 30 ampere.
7. Perbedaan besarnya arus tiap fasa bukan satu satunya
penyebab munculnya arus netral.

DAFTAR PUSTAKA
Gambar.10. Grafik total setelah diseimbangkan
[1]. Santoso, Sri Budi, Penyeimbang Beban Gardu Distribusi Metode
Tabel 1. SBS ( Seimbang Beban Seharian ), Sulawesi.
Perbandingan hasil penyeimbangan total [2]. PT PLN ( Persero ), Penyeimbang Beban Gardu Distribusi Metode
SBS ( Seimbang Beban Seharian ), Padang, Maret, 2013.
[3]. Suswanto, Daman, Sistem Distribusi Tenaga Listrik, Univesitas
Negeri Padang, Padang, Bab. 11, 2009.
[4]. Wibowo, Ratno.dkk, Standar Konstruksi Gardu Distribusi dan
Gardu Hubung Tenaga Listrik, PT PLN (Persero), Jakarta, 2010.
[5]. Sukmadi, Tejo, Perhitungan Dan Analisis Keseimbangan Beban
Pada Sistem Distribusi 20 Kv Terhadap Rugi-Rugi Daya, Jurusan
Teknik Elektro UNDIP, Semarang, 2009.
[6]. Micronet It Solutions, Upaya Mengurangi Arus Netral Sekunder
Dari grafik perbandingan sebelum dan sesudah Trafo Distribusi, Micronet It Solutions.
penyeimbangan terlihat bahwasanya sebelum [7]. Dahlan, Moh, Akibat Ketidakseimbangan Beban Terhadap Arus
Netral Dan Losses Pada Transformator Distribusi.
penyeimbangan pada siang hari beban di fasa R cukup tinggi
[8]. Suartika, Made.I Wayan AW, Rekonfigurasi Jaringan Tegangan
lebih dari 80 ampere. Sedangkan fasa S disekitaran 40 Rendah (JTR) Untuk Memperbaiki Drop Tegangan Di Daerah Banjar
ampere. Setelah diseimbangkan, beban fasa R, S, dan T Tulangnyuh Klungkung, Univ.Udayana, Bali.
disiang hari berada dikisaran 60 ampere. Kemudian secara [9]. Trisno, Bambang, Kabel dan Teknik Penyambungan.
[10]. Panitia Revisi PUIL, Persyaratan Umum Instalasi Listrik 2000,
lebih rinci dapat dilihat pada tabel hasil penyeimbangan.
Badan Standarisasi Nasional, Jakarta, 2000.
Terlihat bahwa nilai arus maksimum mengalami penurunan
dari 101 ampere menjadi 95 ampere. Kemudian arus netral
rata rata menurun dari 51 ampere menjadi 30 ampere.
Selanjutnya rata rata ketidakseimbangan dalam sehari
membaik dari 14% menjadi 6% serta cadangan kapasitas arus
belitan dalam kondisi cukup.