Anda di halaman 1dari 37

WRAP UP SKENARIO 3

BLOK KEDOKTERAN KELUARGA

PEMBIAYAAN KESEHATAN

Kelompok: A-10

KETUA : Claraz Wanisada Erman (1102013066)


SEKRETARIS : Anggit Ekawati (1102013030)
ANGGOTA : Jajang Permana Subhan (1102012136)
Ashilah Hamidah Assegaff (1102013045)
Ayuningtyas Tri H. (1102013050)
Cintya Ristimawarni (1102013064)
Devinta Dhia Widyani (1102013077)
Farah Fakhriyah (1102013106)
Inez Talitha (1102013134)
Iqbal Yunas Alfiansyah (1102013139)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
2016/2017
SKENARIO
PEMBIAYAAN KESEHATAN

Dr. Ahmad, 31 tahun, praktek di sebuah klinik dokter keluarga yang bekerja sama
dengan BPJS. Klinik ini dikelola dengan baik sehingga dalam waktu yang relatif singkat
mengalami kemajuan yang cukup pesat dan dikenal luas di masyarakat. Suatu hari klinik ini
dikunjungi seorang pasien, Ny. A, 38 tahun dengan kehamilan trimester 1 pada G5P2A2.
Pasien ingin melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin di klinik Dr. Ahmad karena
pasien mendapat informasi bahwa pelayanan di klinik ini baik. Pasien mempunyai keluhan
sering mual, muntah, lemas, cepat lelah dan sesak. Dokter kemudian melakukan pemeriksaan
fisik bersama bidan. Pada pemeriksaan ditemukan bahwa kandungan dalam kondisi yang baik
namun ibu tampak pucat, takikardi, murmur, takipnea, dan terdapat nyeri tekan epigastrium.
Dr. Ahmad menyarankan agar pasien mengikuti pemeriksaan ANC yang teratur dan
menjelang partus kelak pasien akan dirujuk ke spesialis Obgyn yang sudah bekerja sama
dengan klinik dokter keluarga tersebut. Pasien menanyakan ke dokter tentang pilihan
pembiayaan persalinan, mengingat kemungkinan membutuhkan biaya yang lebih besar.

1
KATA SULIT :
1. ANC : Pemeriksaan kehamilan sebelum partus
2. BPJS : Bada hukum publik yang bertanggungjawab kepada presiden dan berfungsi
menyelenggarakan program jaminan kesehatan

PERTANYAAN :
1. Bagaimana sistem pembayaran di klinik keluarga?
2. Apakah syarat-syarat klinik keluarga yang ingin bekerjasama dengan bpjs?
3. Apa saja jenis-jenis pelayana kesehatan yang tersedia di klinik?
4. Bagaimana alur merujuk pasien BPJS ke dokter spesialis?
5. Bagaimana ciri-ciri klinik yang baik?
6. Siapa saja yang mendapat tanggungan BPJS?
7. Pandangan Islam terhadap pemeriksaan dengan lawan jenis?
8. Pandangan Islam terhadap BPJS?

JAWABAN :
1. Umum :
Bayar sendiri
Uang langsunng masuk ke klinik
Asuransi :
Ditanggung oleh perusahaan asuransi yang ditunjuk
2. Dokter minimal ada 2
Menyediakan pemeriksaan gula darah, asam urat dan kolesterol
Jumlah pasien yang terdaftar max 15.000
3. Klinik Pratama :
Dokter Umum + Dokter Gigi/ Bidan
Lab
Apotek
Klinik Utama :
Dokter Umum + Dokter spesialis + Dokter Gigi/ Bidan
Lab
Apotek
4. Klinik pratama Sakit apa ? Tidak bisa diatasi oleh dokter umum

Bisa diatasi oleh dokter umum Dirujuk ke dokter spesialis

Tidak dirujuk
5. Fasilitas lengkap
Lingkungan bersih
Pelayanan Berbasis BPJS
Dokter yan berkompeten
6. Peserta BPJS

2
PBI : tidak dipungut biaya
Non PBI : berkewajiban membayar iuran setiap bulan
7. Harus ada muhrim dan dengan alasan darurat
8. Nashnya belum jelas

HIPOTESIS

Seorang pasien datang ke suatu pelayanan kesahatan tingkat pratama, pasien mengetahu
bahwa klinik yang diadatangi adalah klinik pratama karena mempunyai 1 dokter umum dan 1
bidan. Pasien datang ke kelinik tersebut karena, klinik tersebut dikenal klinik yang baik yaitu
lingkungan bersihm fasilitas lengkap, pelayanan berbasis BPJS dan dokter yanng
berkompeten. Pasien merupakan anggota BPJS sehingga bisa melakkukan pemerikasaan
diklinik tersebut karena klinik melayani pembayaran dengan BPJS. Saat dilakkukan
pemeriksaan dokter dan pasien berlawanan jenis sehingga dokter meminta pasien agar
didampingin oleh muhrimnya agar tidak menimbulkan fitnah. Setelah dilakkuakn
pemerikasan ternyata penyakit pasien tidak bisa diatasi oleh dokter umum sehingga harus
dirujuk ke dokter spesialis.

3
SASARAN BELAJAR

LO.1. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN PROSEDUR PEMERIKSAAN


STANDAR KEDOKTERAN KELUARGA
LO.2. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN MANAJEMEN KLINIK DOKTER
KELUARGA
LO.3. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN SISTEM PEMBIAYAAN KESEHATAN
DI KLINIK DOKTER KELUARGA TERMASUK BPJS
LO.4. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN PERAN DOKTER SERTA MITRA
KERJANYA DALAM KEDOKTERAN KELUARGA
LO.5. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN SISTEM RUJUKAN PADA KLINIK
DOKTER KELUARGA
LO.6. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN ADAB DAN TATA CARA DOKTER
MUSLIM DALAM MELAYANI PASIEN

4
LO.1. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN PROSEDUR PEMERIKSAAN
STANDAR KEDOKTERAN KELUARGA
1) Anamnesis
Pelayanan dokter keluarga melaksanakan anamnesis dengan pendekatan pasien
(patient-centered approach) dalam rangka memperoleh keluhan utama pasien,
kekhawatiran dan harapan pasien mengenai keluhannya tersebut, serta
memperoleh keterangan untuk dapat menegakkan diagnosis
2) Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
Dalam rangka memperoleh tanda - tanda kelainan yang menunjang diagnosis atau
menyingkirkan diagnosis banding, dokter keluarga melakukan pemeriksaan fisik
secara holistik; dan bila perlu menganjurkan pemeriksaan penunjang secara
rasional, efektif dan efisien demi kepentingan pasien semata.
3) Penegakkan diagnosis dan diagnosis banding
Pada setiap pertemuan, dokter keluarga menegakkan diagnosis kerja dan beberapa
diagnosis banding yang mungkin dengan pendekatan diagnosis holistik.
4) Prognosis
Pada setiap penegakkan diagnosis, dokter keluarga menyimpulkan prognosis
pasien berdasarkan jenis diagnosis, derajat keparahan, serta tanda bukti terkini
(evidence based).
5) Konseling
Untuk membantu pasien (dan keluarga) menentukan pilihan terbaik
penatalaksanaan untuk dirinya, dokter keluarga melaksanakan konseling dengan
kepedulian terhadap perasaan dan persepsi pasien (dan keluarga) pada keadaan di
saat itu.
6) Konsultasi
Pada saat - saat dinilai perlu, dokter keluarga melakukan konsultasi ke dokter lain
yang dianggap lebih piawai dan / atau berpengalaman. Konsultasi dapat dilakukan
kepada dokter keluarga lain, dokter keluarga konsultan, dokter spesialis, atau
dinas kesehatan, demi kepentingan pasien semata.
7) Rujukan
Pada saat - saat dinilai perlu, dokter keluarga melakukan rujukan ke dokter lain
yang dianggap lebih piawai dan/atau berpengalaman. Rujukan dapat dilakukan

5
kepada dokter keluarga lain, dokter keluarga konsultan, dokter spesialis, rumah
sakit atau dinas kesehatan, demi kepentingan pasien semata.
8) Tindak lanjut
Pada saat - saat dinilai perlu, dokter keluarga menganjurkan untuk dapat
dilaksanakan tindak lanjut pada pasien, baik dilaksanakan di klinik, maupun di
tempat pasien.
9) Tindakan
Pada saat - saat dinilai perlu, dokter keluarga memberikan tindakan medis yang
rasional pada pasien, sesuai dengan kewenangan dokter praktik di strata pertama,
dan demi kepentingan pasien.
10) Pengobatan rasional
Pada setiap anjuran pengobatan, dokter keluarga melaksanakannya dengan
rasional, berdasarkan tanda bukti (evidence based) yang sahih dan terkini, demi
kepentingan pasien.
11) Pembinaan keluarga
Pada saat - saat dinilai bahwa penatalaksanaan pasien akan berhasil lebih baik,
bila adanya partisipasi keluarga, maka dokter keluarga menawarkan pembinaan
keluarga, termasuk konseling keluarga.

LO.2. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN MANAJEMEN KLINIK DOKTER


KELUARGA
Struktur Organisasi dan Fungsional Klinik Dokter Keluarga

Man
1. Medis : Dokter Keluarga, Spesialis, Paramedis
2. Non Medis : Administrasi,Teknisi, Operator komputer, dll
3. Lin-lain
Money
1. Sistem Pra Upaya
2. Sistem Sharing, individu, kolektif, dll
3. Sistem Fee for services
Material
Produk Pelayanan Dokkel : 10 paket pelayanan kesehatan dokter keluarga
Machine
Sentra : Peralihan pelatihan/pendidikan dokter keluarga
6
Pelayanan kesehatan : sub klinik DK, klinik DK type I,II
Methode
1. Organisasi : Struktur, job discription, alur kerja
2. Standarisasi : Produk Yankes-dokter keluarga
Fasilitas-klinik DK
Prosedur-pelayanan+rujukan+report
Sistem informasi-komunikasi/data
Biaya
Evaluasi
Intervensi
Organisasi : Intra klinik
Ekstra klinik : 1. Dr. Spesialis
2. Rumah sakit/klinik rujukan
3. Apotik/Lab
4. Org. Profesi kesehatan lain
Standarisasi : Module, Form : Hidup sehat, panduan, SOP, Software.

Jenis Klinik Dokter Keluarga :


a. Klinik keluarga mandiri (free-standing family clinic)
- Dapat dilaksanakan secara solo
- Bersama sama dalam satu kelompok
b. Klinik keluarga merupakan bagian dari rumah sakit (satelite family clinic)

Hal hal essensial yang harus dipenuhi :


a. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan primer
b. Terletak ditempat strategis (mudah dicapai dengan kendaraan umum)
c. Bangunannya memenuhi syarat untuk pelayanan kesehatan
d. Dilengkapi dengan sarana administratif yang memenuhi
syarat
e. Dilengkapi dengan sarana komunikasi
f. Mempunai sejumlah tenaga dokter yang telah lulus pelatihan DK
g. Mempunyai sejumlah tenaga pembantu klinik dan paramedi telah lulus
pelatihan pembantu DK

7
Program menjaga mutu adalah suatu upaya yang berkesinambunagn, sistematis dan
objektif dalam memantau dan menilai pelayanan yang diselenggrakan dibandingkan dengan
standar yang telah ditetapkan, serta menyelesaikan masalah yang ditemukan untuk
memperbaiki mutu pelayanan. (Maltos and Keller, 1989)
Karakteristik program menjaga mutu ada empat macam :
1) Program menjaga mutu harus dilakukan secara berkesinambungan. Artinya
pelaksanaan program menjaga mutu tidak hanya satu kali, tetapi harus terus
menerus. Dalam kaitan perlunya memenuhi sifat berkesinambungan, program
menjaga mutu sering pula disebut dengan nama program meningkatkan mutu
berkelanjutan (continous quality improvement program).
2) Program menjaga mutu harus dilaksanakan secara simpatis. Artinya pelaksanaan
program menjaga mutu harus mengikuti alur kegiatan serta sasaran yang baku.
Alur kegiatan yang dimaksud dimulai dengan menetapkan masalah dan penyebab
masalah mutu, dilanjutkan dengan menetapkan dan melaksanakan upaya
penyelesaian masalah, untuk kemudian diakhiri dengan melakukan penilaian serta
menyusun saran-saran untuk tindak lanjut. Sedangkan sasaran yang dimaksud
adalah semua unsur pelayanan yakni lingkungan, masukan proses serta keluaran
pelayanan.
3) Program menjaga mutu harus dilaksanakan secara objektif. Artinya pelaksanaan
program menjaga mutu, terutama pada waktu menetapkan masalah penyebab
masalah dan penilaian, tidak dipengaruhi oleh berbagai pertimbangan lain.
Kecuali atas dasar data yang ditemukan. Untuk menjamin objektifitas,
dipergunakanlah berbagai standar dan indikator.
4) Program menjaga mutu harus dilakukan secara terpadu. Artinya pelaksanaan
program menjaga mutu harus terpadu dengan pelayanan yang diselengarakan,
bukanlah program menjaga mutu yang baik. Karena adanya sifat terpadu ini.
Program menjaga mutu disebut pula sebagai manajamen mutu terpadu (total
quality management).

Unsur program menjaga mutu banyak macamnya. Unsur-unsur yang dimaksud :


1) Mutu pelayanan. Mutu pelayanan yang dimaksud adalah menunjuk kepada
tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan yang diselenggrakan, yang disatu
pihak dapat menimbulkan kepuasan pada setiap pasien sesuai dengan tinkat

8
kepuasan rata-rata penduduk, serta dipihak lain tata cara penyelengaraannya
sesuai dengan kode etik dari standar pelayanan profesi yang telah ditetapkan.
2) Sasaran program menjaga mutu. Untuk melaksanakan hal ini diperkukan empat
hal :
a. Unsur masukan. Yang dimaksud adalah semua hal yang diperlukan untuk
dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan. Yang termasuk dalam hal ini
adalah tenaga pelaksana, sarana dan dana.
b. Unsur lingkungan. Yang dimakud lingkungan adalah keadaan sekitar yang
mempengaruhi pelayanana kesehatan. Untuk satu saran pelayanan kesehatan
yang terpenting adalah kebijakan (policy), struktur organisasi (organization)
serta sistem manajemen (management) yang diterapkan.
c. Unsur proses. Yang dimaksud dengan unsur proses disini adalah semua
tindakan yang dilakukan pada pelayanan kesehatan. Tindakan ini secara
umum dapat dibedakan atas dua macam. Pertama, tindakan medis (medical
procedure) mulaidari anamesis sampai dengan pengobatan. Kedua, tindakan
nonmedis (non medical procedure) seperti tata cara rekam medis, persetujuan
tindakan medis, penerimaan dan perawatan pasien dan lain selanjutnya yang
seperti ini.
d. Unsur keluaran. Yang dimaksud denganunsur keluaran adalah yang
menunjukan pada penampilan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan.
Penampilan pelyanan tersebut dibedakan atas dua macam :
a) Penampilan aspek media (medical performance) seperti misalnya
kesembuhan penyakit, kecacatan dan atau kematian.
b) Penampilan aspek nonmedis (non mediacal performance) seperti misalnya
kepuasan dan keluhan pasien.

9
Fungsi dasar manajemen :

Perencanaan (Planning) merupakan tahap awal dalam langkah - langkah


untuk mencapai suatu tujuan, visi, misi, program, dsb. Selanjutnya adalah dengan
membentu kepanitian (Organizing) untuk mengatur waktu, biaya, SDM ataupun
SDA. Tahap berikutnya adalah dengan melakukan aksi (Actuating) atas apa yang
sudah kita rencanakan serta mengontrolnya (Controling) sehingga berjalan dengan
baik. Langkah terakhir adalah dengan melakukan peninjauan (Evaluation) kegiatan
untuk mengetahui kekurangan ataupun kesalahan sehingga kita dapat
memperbaikinya. Semua hal inilah yang disebut dengan POACE.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa POACE merupakan suatu
konsep yang terdiri dari langkah - langkah yang digunakan sebagai acuan untuk
menjalankan sesuatu kegiatan sesuai yang dikehendaki. Langkah - langkahnya terdiri
dari : Planning, Organizing, Actuating, Controling dan Evaluation.
Namun apa kaitannya dengan Lingkungan Hidup ? POACE akan sangat
berguna karena dalam Lingkungan Hidup tentu membutuhkan tujuan untuk
menumbuhkan kesadaran - kesadaran pada manusia tentang pentingnya kehidupan
yang ada di muka bumi sehingga bisa merubah perilaku atau pola kehidupan manusia
ke arah yang lebih baik. Dalam hal ini tentu diperlukan adanya suatu program untuk
mengendalikan / mengubah pemikiran masyarakat sehingga bisa lebih menghargai
Lingkungan Hidup. Program - program Lingkungan Hidup terikat oleh tempat dan
waktu sehingga disinilah peran POACE akan terjadi.

Berikut langkah - langkah dalam POACE untuk pengembangan program Lingkungan


Hidup.

10
1. Planning
" Sebuah kebaikan yang tidak terencana akan kalah dengansebuah kejahatan
yang terencana dengan baik. "
Suatu kegiatan mustahil dilakukan tanpa adanya perencanaan. Untuk membuat
program diperlukan perencanaan yang matang dari segi kelemahan, kelebihan,
hambatan, tujuan dan manfaat dari program tersebut. Agar suatu program dapat
berjalan dengan sukses diperlukan perencanaan dengan pertimbangan yang
matang. Perencanaan membutuhkan suatu konseptor yang benar - benar memiliki
kemampuan dan pemahaman terhadap kegiatan yang akan diadakan. Planning
juga berperan dalam pembuatan jadwal kegiatan agar suatu program berjalan
sesuai yang diharapkan.
Dalam program Lingkungan Hidup. Planning membutuhkan sarana
manajemen yang terdiri dari 6 M, yakni :
- Men : SDM yang dimiliki oleh suatu program/organisasi. Tanpa ada
manusia tidak ada proses kerja. Oleh karena itu manajemen timbul karena
adanya orang - orang bekerja untuk mencapai tujuan. Dalam program
Lingkungan Hidup perlulah direkrut orang - orang yang memang
berkomitmen untuk menciptakan suatu tujuan yang baik dan bermanfaat
- Money : Uang merupakan suatu unsur yang tidak dapat diabaikan. Uang
digunakan untuk menggaji tenaga kerja dan membeli alat - alat yang
dibutuhkan selama menjalankan Program Lingkungan Hidup. Dalam hal
ini sebagai program yang bergerak secara independen ataupun dibawah
naungan pemerintah. Dana dapat dicari dalam bentuk hibah maupun
diajukan dalam bentuk proposal untuk mendapatkan sponsor. Dari ke-6M
sarana manajemen, Uang merupakan sesuatu hal yang paling rumit dalam
proses mewujudkan Planning
- Material : Bahan Program Lingkungan Hidup terdiri dari bahan setengah
jadi (raw material) dan bahan jadi. Dalam Program Lingkungan Hidup
untuk mencapai hasil yang lebih baik, selain manusia yang ahli dalam
bidangnya juga harus dapat menggunakan bahan/materi-materi sebagai
salah satu sarana. Bahan dapat didapatkan dengan menemukan bahan yang
telah tersedia.
- Machine : Mesin digunakan untuk memberi kemudahan
atau menciptakan efesiensi kerja dalam Program Lingkungan Hidup.

11
- Metode : Suatu tata cara kerja yang memperlancar jalannya Program
Lingkungan Hidup. Sebuah metode dapat dinyatakan sebagai penetapan
cara pelaksanaan kerja suatu tugas dengan memberikan berbagai
pertimbangan-pertimbangan kepada sasaran, fasilitas-fasilitas yang
tersedia dan penggunaan waktu, serta uang dan kegiatan Program
Lingkungan Hidup. Perlu diingat meskipun metode baik, sedangkan orang
yang melaksanakannya tidak mengerti atau tidak mempunyai pengalaman
maka hasilnya tidak akan memuaskan. Dengan demikian, peranan utama
dalam langkah ini tetap manusianya sendiri.
- Market : Memasarkan bukan hanya dalam bentuk produk, namun juga
dapat dilakukan dengan pemberian informasi mengenai terbentuknya suatu
program sehingga bisa ditujukan kepada orang - orang yang
tepat. Pelaksanaan Program Lingkungan Hidup haruslah diketahui
masyarakat karena tujuan program ini diadakan adalah untuk masyarakat
itu sendiri. Penyebarluasan informasi tentang Program Lingkungan Hidup
dapat dilakukan dengan cara sosialisasi yang sudah terjadwal.

2. Organizing
" Jika anda gagal dalam memepersiapkan, maka anda mempersiapkan untuk
kegagalan."
Dilakukan dengan tujuan membagi suatu kegiatan besar menjadi kegiatan-
kegiatan yang lebih kecil. Pengorganisasian mempermudah manajer dalam
melakukan pengawasan dan menentukan orang yang dibutuhkan untuk
melaksanakan tugas yang telah dibagi-bagi tersebut. Pengorganisasian dapat
dilakukan dengan cara menentukan tugas apa yang harus dikerjakan, siapa yang
harus mengerjakannya, bagaimana tugas-tugas tersebut dikelompokkan, siapa
yang bertanggung jawab atas tugas tersebut, dan pada tingkatan mana keputusan
harus diambil.
3. Actuating
" Perjalanan ribuan mil dimulai dari satu langkah kecil. "
Pelaksanaan dari sebuah kegiatan merupakan puncak dari hasil kerja sama sebuah
kepanitiaan, dengan harapan sebuah tim kepanitiaan dapat saling membantu dan
memberikan solusi terhadap suatu masalah yang terjadi antara panitia satu dengan

12
yang lain. Sehingga, dalam keadaan seperti apapun, kegiatan dapat berjalan
dengan lancar dan sukses.

Untuk itu maka dibutuhkan kerja keras, kerja cerdas dan kerjasama. Semua
sumber daya manusia yang ada harus dioptimalkan untuk mencapai visi, misi dan
program kerja organisasi. Pelaksanaan kerja harus sejalan dengan rencana kerja
yang telah disusun. Kecuali memang ada hal-hal khusus sehingga perlu dilakukan
penyesuian. Setiap SDM harus bekerja sesuai dengan tugas, fungsi dan peran,
keahlian dan kompetensi masing-masing SDM untuk mencapai visi, misi dan
program kerja organisasi yang telah ditetapkan.
4. Controlling
" Lelah itu pasti, namun menyerah itu pilihan. Sesungguhnya banyak orang yang
tidak tahu betapa dekatnya mereka dengan kesuksesan saat mereka memutuskan
untuk menyerah. "
Merupakan pengendalian semua kegiatan dari proses perencanaan,
pengorganisasian dan pelaksanaan, apakah semua kegiatan tersebut
memberikan hasil yang efektif dan efisien serta bernilai guna dan berhasil guna
dalam program Lingkngan Hidup.
5. Evaluating
" Belajarlah dari pengalaman karena pengalaman adalah guru yang baik. "
Jika seluruh kegiatan telah selesai, maka yang dilakukan selanjutnya adalah
evaluasi. Mengapa hal ini diperlukan, karena dengan adanya setiap permasalahan
atau kekurangan yang terjadi dapat diketahui dan dikumpulkan sebagai arsip,
sehingga pada kegiatan serupa yang selanjutnya dapat dijadikan pelajaran dan
diharapkan untuk kegiatan yang selanjutnya tidak terulang permasalahan yang
serupa. Evaluasi minimal dilakukan sekali di akhir kegiatan. Namun, perlu juga
dilakukan evaluasi dipertengahan pelaksanaan kegiatan, tanpa mengganggu
jalannya kegiatan. Evaluasi juga merupakan salah satu sarana controling ketika
kegiatan berlangsung.

Klinik Dokter Keluarga


a. Merupakan klinik yang menyelenggarakan Sistem Pelayanan Dokter Keluarga
(SPDK)

13
b. Sebaiknya mudah dicapai dengan kendaraan umum. (terletak di tempat strategis)
c. Mempunyai bangunan yang memadai, d) Dilengkapi dengan saraba komunikasi,
d. Mempunyai sejumlah tenaga dokter yang telah lulus pelatihan DK
e. Mempunyai sejumlah tenaga pembantu klinik dan paramedis telah lulus perlatihan
khusus pembantu KDK
f. Dapat berbentuk praktek mandiri (solo) atau berkelompok.
g. Mempunyai izin yang berorientasi wilayah
h. Menyelenggarakan pelayanan yang sifatnya paripurna, holistik, terpadu, dan
berkesinambungan
i. Melayani semua jenis penyakit dan golongan umur
j. Mempunyai sarana medis yang memadai sesuai dengan peringkat klinik ybs.

Sistem Pelayanan Dokter Keluarga ( SPDK )

Untuk menunjang tugas dan wewenang nya diperlukan Sistem Pelayanan Dokter
Keluarga yang terdiri atas komponen :

14
a. Dokter keluarga yang menyelenggarakan pelayanan primer di klinik Dokter
Keluarga (KDK)
b. Dokter Spesialis yang menyelenggarakan pelayanan sekunder di klinik Dokter
Spesialis (KDSp)
c. Rumah sakit rujukan
d. Asuransi kesehatan/ Sistem Pembiayaan
e. Seperangkat peraturan penunjang.
Dalam sistem ini kontak pertama pasien dengan dokter akan terjadi di KDK yang
selanjutnya akan menentukan dan mengkoordinasikan keperluan pelayanan sekunder
jika dipandang perlu sesuai dengan SOP standar yang disepakati. Pasca pelayanan
sekunder, pasien segera dirujuk balik ke KDK untuk pemantauan lebih lanjut. Tata
selenggarapelayanan seperti ini akan diperkuat oleh ketentuan yang diberlakukan
dalam skema JPKM/asuransi.

Pelayanan yang diselenggarakan pada praktek dokter keluarga banyak macamnya.


Secara umum dapat dibedakan atas tiga macam:
1. Menyelenggarakan pelayanan rawat jalan
Pada bentuk ini, pelayanan yang diselenggarakan pada praktek dokter keluarga
hanya pelayanan rawat jalan saja. Dokter yang menyelenggarakan praktek dokter
keluarga tersebut tidak melakukan pelayanan kunjungan dan perawatan pasien di
rumah atau pelayanan rawat inap di rumah sakit. Semua pasien yang
membutuhkan pertolongan diharuskan datang ke tempat praktek dokter keluarga.
Jika kebetulan pasien tersebut memerlukan pelayanan rawat inap, pasien tersebut
dirujuk ke rumah sakit.

2. Menyelenggarakan pelayanan rawat jalan, kunjungan dan perawatan pasien


dirumah.
Pada bentuk ini, pelayanan yang diselenggarakan pada praktek dokter keluarga
mencakup pelayanan rawat jalan serta pelayanan kunjungan dan perawatan pasien
di rumah. Pelayanan bentuk ini lazimnya dilaksanakan oleh dokter keluarga yang
tidak mempunyai akses dengan rumah sakit.

3. Menyelenggarakan pelayanan rawat jalan, kunjungan dan perawatan pasien di


rumah, serta pelayanan rawat inap di rumah sakit.

15
Pada bentuk ini, pelayanan yang diselenggarakan pada praktek dokter keluarga
telah mencakup pelayanan rawat jalan, kunjungan dan perawatan pasien di rumah,
serta perawatan rawat inap di rumah sakit. Pelayanan bentuk ini lazimnya
diselenggarakan oleh dokter keluarga yang telah berhasil menjalin kerja sama
dengan rumah sakit terdekat dan rumah sakit tersebut memberi kesempatan
kepada dokter keluarga untuk merawat sendiri pasiennya di rumah sakit.

Tentu saja penerapan dari ketiga bentuk pelayanan dokter keluarga ini tidak
sama antara satu negara dengan negara lainnya, dan bahkan dapat tidak sama
antara satu daerah lainnya. Di Amerika Serikat misalnya, pelayanan kunjungan
dan perawatan pasien di rumah mulai jarang dilakukan. Penyebabnya adalah
karena mulai timbul kesadaran pada diri pasien tentang adanya perbedaan mutu
pelayanan antara kunjungan dan perawatan pasien di rumah dengan di tempat
praktek. Pasien akhirnya lebih senang mengunjungi tempat praktek dokter, karena
telah tersedia pelbagai peralatan kedokteran yang dibutuhkan.
Di beberapa negara lainnya, terutama di daerah pedesaan, karena dokter
keluarga tidak mempunyai akses dengan rumah sakit, maka dokter keluarga
tersebut hanya menyelenggarakan pelayanan rawat jalan saja. Pelayanan rawat
inap dirujuk sertakan sepenuhnya kepada dokter yang bekerja dirumah sakit.
Tetapi pengaturan rujukan untuk pelayanan rawat inap tersebut, tetap dilakukan
oleh dokter keluarga. Dokter keluarga memberikan bantuan sepenuhnya, dan
bahkan turut mencarikan tempat perawatan dan jika perlu turut mengantarkannya
ke rumah sakit.
Sekalipun pelayanan yang diselenggarakan pada praktek dokter keluarga tidak
sama, perlulah diingatkan bahwa orientasi pelayanan dokter keluarga yang
diselenggarakan tetap tidak boleh berbeda. Orientasi pelayanan dokter keluarga
bukan sekedar menyembuhkan penyakit, tetapi diarahkan pada upaya pencegahan
penyakit. Atau jika tindakan penyembuhan yang dilakukan, maka pelaksanaannya,
kecuali harus mempertimbangkan keadaan pasien sebagai manusia seutuhnya,
juga harus mempertimbangkan pula keadaan sosial ekonomi keluarga dan
lingkungannya. Praktek dokter keluarga tidak menangani keluhan pasien atau
bagian anggota badan yang sakit saja, tetapi individu pasien secara keseluruhan

16
LO.3. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN SISTEM PEMBIAYAAN KESEHATAN
DI KLINIK DOKTER KELUARGA TERMASUK BPJS
Jenis pembiayaan kesehatan berdasarkan ideologi negara di dunia, yaitu :
1. Sosialis (welfare state). Pada negara-negara tersebut, negara mempunyai kewajiban
penuh untuk memenuhi biaya kesehatan. Bisa juga disebut tanggungan negara 100%.
2. Liberalis-kapitalis. Di sini biaya kesehatan diserahkan pada mekanisme pasar atau
pemerintah tidak menanggung biaya kesehatan) sehingga pelayanan kesehatan
menjadi berorientasi pada keuntungan semata.
3. Kombinasi antara sosialis dan kapitalis. Biaya kesehatan pada negara yang mengacu
sistem pembiayaan kombinasi ditanggung oleh pemerintah, swasta, dan masyarakat.

Berdasarkan dari jenis pembiayaan kesehatan tersebut, dapat ditentukan Indonesia mengikuti
sistem kombinasi dimana pihak pemerintah, swasta, dan masyarakat sama-sama menanggung
beban pembiayaan kesehatan.

Macam-macam biaya kesehatan:


Tergantung dari jenis dan kompleksitas pelayanan kesehatan yang diselenggarakan
dan atau dimanfaatkan. Hanya saja disesuaikan dengan pembagian pelayanan kedokteran,
maka biaya kesehatan tersebut. Secara umum dapat dibedakan atas dua macam yakni:
1. Biaya pelayanan kedokteran
Biaya yang dimaksud adalah yang dibutuhkan intuk menyelenggarakan dan atau
memanfaatkan pelayanan kedokteran. Yakni yang tujuan utamanya untuk mengobati
penyakit serta memulihkan kesehatan penderita.

2. Biaya pelayanan kesehatan masyarakat


Biaya yang dimaksud adalah yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan dan atau
memanfaatkan pelayanan kesehatan masyarakat. Yakni yang tujuan utamanya untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan serta untuk mencegah penyakit.

Pembiayaan kesehatan di kedokteran keluarga


Keuangan dalam praktik DOGA tercatat secara seksama dengan cara yang umum dan
bersifat transparansi. Manajemen keuangannya dapat mengikuti sistem pembiayaan praupaya
maupun sistem pembiayaan fee for service.

Dalam pelayanan di klinik kedokteran keluarga sumber biaya utama adalah dari
pasien sebagai imbalan atas jasa pelayanan kesehatan yang mereka peroleh. Sumber-sumber

17
lainnya, misalnya donasi dari pemerintah atau hibah (charity) dari yayasan atau LSM atau
dari institusi pendidikan (klinik pendidikan).

Metode pembayaran di klinik dokter keluarga


1) Fee for service
2) Asuransi, ciri asuransi di klinik kedokteran keluarga :
a. Dokter keluarga melakukan pembinaan kesehatan pada keluarga yang menjadi
kliennya. Targetnya adalah penurunan angka kesakitan. Bentuknya berapa
kunjungan secara berkala ke rumah asien dan memberikan penyuluhan.
b. Dokter dibayar secara flat setiap bulannya, bukan berdasarkan jumlah kasus yang
ditangani.
c. Bila jumlah kasus sedikit maka dokter untung, namun bila banyak maka dokter
tidak akan memperoleh keuntungan.
d. Premi ditetapkan secara kapitasi, yaitu dihitung berdasarkan faktor resiko dari
setiap individu, frekuensi terjadinya penyakit dalam setahun, dan kemungkinan
biaya yang dibutuhkan bila ia sakit.
Biaya kesehatan dapat dilihat dari dua sudut:
1. Penyedia pelayanan kesehatan (health provider)
Besarnya dana yang harus disediakan untuk dapat menyelenggarakan upaya kesehatan
dan lebih menunjuk pada seluruh biaya investasi (investment cost) dan biaya
operasional (operational cost). Ini merupakan persoalan utama dari pihak pemerintah
atau swasta yakni pihak-pihak yang menyelenggarakan upaya kesehatan.
2. Pemakai jasa kesehatan (health consumer)
Besarnya dana yang harus disediakan untuk dapat memanfaatkan jasa pelayanan.ini
menjadi persoalan utama para pemakai jasa pelayanan.

Unsur-unsur Pembiayaan Kesehatan


1. Dana
Dana digali dari sumber pemerintah baik dari sektor kesehatan dan sektor lain terkait,
dari masyarakat, maupun swasta serta sumber lainnya yang digunakan untuk
mendukung pelaksanaan pembangunan kesehatan. Dana yang tersedia harus
mencukupi dan dapat dipertanggung-jawabkan.
2. Sumber daya
Sumber daya pembiayaan kesehatan terdiri dari: SDM pengelola, standar, regulasi dan
kelembagaan yang digunakan secara berhasil guna dan berdaya guna dalam upaya
penggalian, pengalokasian dan pembelanjaan dana kesehatan untuk mendukung
terselenggaranya pembangunan kesehatan.
3. Pengelolaan Dana Kesehatan
Prosedur/Mekanisme Pengelolaan Dana Kesehatan adalah seperangkat aturan yang
disepakati dan secara konsisten dijalankan oleh para pelaku subsistem pembiayaan
kesehatan, baik oleh Pemerintah secara lintas sektor, swasta, maupun masyarakat
yang mencakup mekanisme penggalian, pengalokasian dan pembelanjaan dana
kesehatan

Tujuan Pembiayaan Kesehatan


Tujuan utamanya adalah tersedianya pembiayaan kesehatan dengan jumlah yang mencukupi,
teralokasi secara adil dan termanfaatkan secara berhasil-guna dan berdaya-guna, untuk
menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya.

18
Pokok utama dalam pembiayaan kesehatan adalah:
a) Mengupayakan kecukupan dan kesinambungan pembiayaan kesehatan pafa tingkat
pusat dan daerah
b) Mengupayakan pengurangan pembiayaan OOP dan meniadakan hambatan
pembiayaan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan terutama kelompok miskin dan
rentan melalui pengembangan jaminan
c) Peningkatan efisiensi dan efektifitas pembiayaan kesehatan

Organisasi kesehatan dunia (WHO) memberi fokus strategi pembiayaan kesehatan yang
memuat isu-isu pokok, tantangan, tujuan utama kebijakan dan program aksi itu pada
umumnya adalah dalam area sebagai berikut:
a. Meningkatkan investasi dan pembelanjaan publik dalam bidang kesehatan
b. Mengupayakan pencapaian kepesertaan semesta dan penguatan permeliharaan kesehatan
masyarakat miskin
c. Pengembangan skema pembiayaan praupaya termasuk didalamnya asuransi kesehatan sosial
(shi)
d. Penggalian dukungan nasional dan internasional
e. Penguatan kerangka regulasi dan intervensi fungsional
f. Pengembangan kebijakan pembiayaan kesehatan yang didasarkan pada data dan fakta ilmiah
g. Pemantauan dan evaluasi.

Prinsip Subsistem Pembiayaan Kesehatan Indonesia


1. Jumlah dana untuk kesehatan harus cukup tersedia dan dikelola secara berdaya-guna,
adil dan berkelanjutan yang didukung oleh transparansi dan akuntabilitas.
2. Dana pemerintah diarahkan untuk pembiayaan upaya kesehatan masyarakat dan
upaya kesehatan perorangan bagi masyarakat rentan dan keluarga miskin.
3. Dana masyarakat diarahkan untuk pembiayaan upaya kesehatan perorangan yang
terorganisir, adil, berhasil-guna dan berdaya-guna melalui jaminan pemeliharaan
kesehatan baik berdasarkan prinsip solidaritas sosial yang wajib maupun sukarela,
yang dilaksanakan secara bertahap.
4. Pemberdayaan masyarakat dalam pembiayaan kesehatan diupayakan melalui
penghimpunan secara aktif dana sosial untuk kesehatan (misal: dana sehat) atau
memanfaatkan dana masyarakat yang telah terhimpun (misal: dana sosial keagamaan)
untuk kepentingan kesehatan.
5. Pada dasarnya penggalian, pengalokasian dan pembelanjaan pembiayaan kesehatan di
daerah merupakan tanggung jawab pemerintah daerah. Namun untuk pemerataan
pelayanan kesehatan, Pemerintah menyediakan dana perimbangan (maching grant)
bagi daerah yang kurang mampu.

Sumber Biaya Kesehatan:


Pemerintah, swasta, masyarakat, sumber lain(hibah, pinjaman dari luarnegri).
1. Seluruhnya bersumber dari anggaran pemerintah
Tergantung dari bentuk pemerintahan yang dianut, ada ditemukan suatu negara yang
menanggung biaya kesehatan sepenuhnya (cuma-cuma), pada negara seperti ini tidak
ditemukan pelayanan kesehatan swasta.
2. Sebagian ditanggung oleh masyarakat
Masyarakat diajak berperan serta, baik dalam menyelenggarakan upaya kesehatan
ataupun pada waktu memanfaatkan jasa pelayanan kesehatan. Dapat ditemukan
pelayanan kesehatan swasta,dalam hal ini masyarakat diharuskan membayar
pelayanan kesehatan yang dimanfaatkannya.

19
Asuransi Kesehatan
Suatu mekanisme pengalihan resiko (sakit) dari resiko perorangan menjadi resiko
kelompok. Dengan cara mengalihkan resiko individu menjadi resiko kelompok, beban
ekonomi yang harus dipikul oleh masing-masing peserta asuransi akan lebih tetapi
mengandung kepastian karena memperoleh jaminan.

Unsur-unsur asuransi kesehatan:


4. ada perjanjian
5. ada pembelian perlindungan
6. ada pembayaran premi oleh masyarakat

Jenis-jenis asuransi kesehatan di Indonesia:


1. Asuransi kesehatan sosial (social health insurance) asuransi ini memegang teguh
prinsipnya bahwa kesehatan adalah sebuah pelayanan sosial, pelayanan kesehatan
tidak boleh semata-mata diberikan berdasarkan status sosial masyarakat sehingga
semua lapisan berhak untuk memperoleh jaminan pelayanankesehatan. contoh:
PT.askes, PT.jamsostek
Prinsip kerja:
a. Keikutsertaannya bersifat wajib
b. Menyertakan tenaga kerja dan keluarganya
c. Iuran/premi berdasarkan persentase gaji/pendapatan. Idealnya harus dihitung 5% dari
GDP
d. Premi untuk tenaga kerja ditanggung bersama (50%) oleh pemberi kerja dan tenaga
kerja.
e. Premi tidak ditentukan oleh resiko perorangan tetapi didasarkan pada resikokelompok
(collective risk sharing)
f. Tidak diperlukan pemeriksaan awal
g. Jaminan pemeliharaan kesehatan yang diperoleh bersifat menyeluruh
(universal coverage)
h. Peran pemerintah sangat besar untuk mendorong berkembangnya asuransi
kesehatansosial di Indonesia. Semua pegawai negeri diwajibkan untuk mengikuti
asuransi kesehatan
2. Asuransi kesehatan komersial perorangan (private voluntary health
insurance) jenis asuransi ini dapat dibeli preminya baik individu maupun segmen
masyarakat kelas menengah keatas.
Prinsip kerja:
a. Kepersertaan bersifat perorangan dan sukarela
b. Iuran/premi berdasarkan angka absolut, ditetapkan berdasarkan jenis tanggunganyang
dipilih.
c. Premi berdasarkan atas resiko perorangan dan ditentukan faktor usia, jenis
kelamin, jenis pekerjaan.
d. Dilakukan pemeriksaan kesehatan awal
e. Santunan diberikan sesuai kontrak
f. Peranan pemerintah relatif kecil
3. Asuransi kesehatan komersial kelompok (regulated private health insurance) ini
merupakan alternatif lain sistem asuransi kesehatan komersial
Prinsip-prinsip dasar:
a. Keikutsertaan bersifat sukarela berkelompok
b. Iuran/preminya dibayar berdasarkan atas angka absolut
c. Perhitugan premi bersifat community rating yang berlaku untuk
kelompok masyarakat

20
d. Santunan (jaminan pemeliharaan kesehatan) diberikan sesuai dengan kontrak
e. Tidak diperlukan pemeriksaan awal

LO.4. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN PERAN DOKTER SERTA MITRA


KERJANYA DALAM KEDOKTERAN KELUARGA
Hubungan kerjasama antara dokter keluarga dengan mitra kerjanya

Sistem Pelayanan Dokter Keluarga (SPDK)


Pada dasarnya sistem perlayanan dokter keluarga (selanjutnya digunakan SPDK),
haruslah menerapkan ketiga tahapan pelayanan medis sesempurna mungkin. Komponen
sistem, yang sekarang biasa disebut sebagai pemegang saham (stakeholders), paling
tidak terdiri atas:

1. DPU/DK (Sebagai Penyelenggara Pelayanan Tingkat Primer)


2. DSp (sebagai Penyelenggara Pelayanan Tingkat Sekunder)
3. DSpK (sebagai Penyelenggara Pelayanan Tingkat Tersier)
4. Dokter gigi
5. Pihak pendana (Asuransi Kesehatan, Pemerintah, dsb.)
6. Regulasi (perundangan, Sistem Kesehatan Nasional, dsb.)
7. Pasien (dengan keluarga dan masyarakatnya)
8. Farmasi (profesional dan pengusaha)
9. Staf klinik selain dokter (Bidan, perawat, dsb)
10. Karyawan non-medis
11. Dsb.

Mereka harus bekerjasama secara mutualistis mewujudkan pelayanan kesehatan


yang bermutu. Semua pemegang saham mempunyai andil, hak dan kewajiban yang sama
dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang bermutu. Yang dimaksud dengan
pelayanan kesehatan yang bermutu adalah pelayanan kesehatan yang memuaskan bagi
pasien, tidak melanggar aturan atau perundangan maupun etika profesi, dan menjamin
kesejahteraan bagi penyelenggaranya. Jika salah satu komponen sistem merusak
tatanan, menyalahi aturan main agar memperoleh keuntungan bagi dirinya, maka akibat
negatifnya akan dirasakan oleh seluruh komponen sistem termasuk, pada akhirnya, yang
menyalahi aturan itu. Oleh karena itu diperlukan kerjasama profesional yang mutualistis
di antara anggota sistem.
Dengan kata lain, dalam sistem pelayanan dokter keluarga pelayanan
diselenggarakan oleh tim kesehatan yang bahu-membahu mewujudkan pelayanan yang
berumutu. Setiap komponen sistem mempunyai tugas masing-masng dan harus
dikerjakan sungguh-sungguh sesuai dengan tatanan yang berlaku. Bidan dan perawat
membantu dokter di klinik misalnya, memberikan obat kepada pasien d ibawah
tanggung-jawab dokter. Jadi bidan dan perawat tidak memberikan obat tanpa persetujuan
dokter. Sebaliknya dokter harus memberikan perintah tertulis di dalam rekam medis
untuk setiap pemberian obat. Bidan dan perawat dibenarkan mengingatkan dokter jika
perintah pemberian obat itu tidak jelas atau belum dicantumkan. Demikian pula dokter
keluiarga yang sebenarnya dokter praktik umum dibenarkan mengingatkan dan
diharuskan bertanya langsung kepada dokter spesialis yang dikonsuli atau dirujuki jika
ada hal yang kurang jelas atau berbeda pendapat. Demikianpula komponen system yang

21
lain termasuk masyarakat pasien dibenarkan dan bahkan diharuskan saling kontrol saling
mengingatkan agat tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Dapat di lihat bentuk komunikasi atau kerjasama antara dokter dan teman
sejawatnya di lakukan dalam berbagai hal seperti:
1. Merujuk pasien
Pada pasien rawat jalan, karena alasan kompetensi dokter dan keterbatasan
fasilitas pelayanan, dokter yang merawat harua merujuk pasiennya pada teman
sejawat lainnya.
2. Bekerjasama dengan sejawat
Dokter harus memperlakukan teman sejawat tanpa membeda-bedakan jenis
kelamin, ras, usia, kecacatan, agama, status sosial atau perbedaan kompetensi
yang dapat merugikan hubungan profesional antar sejawat.
3. Bekerja dalam tim
Asuhan kesehatan selalu di ingatkan melalui kerjasama dalam tim
multidisiplin.
4. Mengatur dokter pengganti.
Ketika seorang dokter berhalangan, dokter tersebut harus menentukan dokter
pengganti serta mengatur proses mengalihkan yang efektif dan komunikatif
dengan dokter pengganti.
5. Mematuhi tugas
Seorang dokter yang bekerjapada institusi pelayanan atau pendidikan
kedokteran harus mematuhi tugas yang digariskan pimpinan institusi, termasuk
sebagai dokter pengganti.
6. Pendelegasian wewenang
Pendelegasian wewenang kepada perawat, peseta prograrm pendidikan
spesialis, mahasiswa kedokteran dalam hal pengobatan atau perawatan atas
nama dokter yang merawat, harus disesuaikan dengan kompetensi dalam
melaksanakan prosedur dan terapi yang sesuai dengan peraturan baru.

Komunikasi Dokter-Profesi Lain

1. Kolaborasi
Pengertian Menurut Shortridge, et al (1986)
Hubungan timbal balik di mana [pemberi pelayanan] memegang tanggung
jawab paling besar untuk perawatan pasien dalam kerangka kerja bidang
respektif mereka.
Elemen-elemen Kolaborasi
1. Struktur
2. Proses
3. Hasil Akhir
Model Kolaboratif Tipe I
1. Menekankan Komunikasi Dua Arah
2. Masih menempatkan Dokter pada posisi utama
3. Masih membatasi Hubungan Dokter dengan Pasien
Model Kolaboratif Tipe II
1. Lebih berpusat pada Pasien

22
2. Semua Pemberi Pelayanan harus bekerja sama
3. Ada kerja sama dengan Pasien
4. Tidak ada pemberi pelayanan yang mendominasi secara terus-menerus
Hubungan perawat-dokter adalah satu bentuk hubungan interaksi yang
telah cukup lama dikenal ketika memberikan bantuan kepada pasien.
Perspektif yang berbeda dalam memandang pasien, dalam prakteknya
menyebabkan munculnya hambatan-hambatan teknik dalam melakukan
proses kolaborasi. Kendala psikologis keilmuan dan individual, factor
sosial, serta budaya menempatkan kedua profesi ini memunculkan
kebutuhan akan upaya kolaborasi yang dapat menjadikan keduanya lebih
solid dengan semangat kepentingan pasien.
Hambatan kolaborasi dokter dan perawat sering dijumpai pada tingkat
profesional dan institusional. Perbedaan status dan kekuasaan tetap
menjadi sumber utama ketidaksesuaian yang membatasi pendirian
profesional dalam aplikasi kolaborasi. Dokter cenderung pria, dari tingkat
ekonomi lebih tinggi dan biasanya fisik lebih besar dibanding perawat,
sehingga iklim dan kondisi sosial masih medukung dominasi dokter. Inti
sesungguhnya dari konflik perawat dan dokter terletak pada perbedaan
sikap profesional mereka terhadap pasien dan cara berkomunikasi diantara
keduanya.
Kolaborasi adalah suatu proses dimana praktisi keperawatan atau perawat
klinik bekerja dengan dokter untuk memberikan pelayanan kesehatan
dalam lingkup praktek profesional keperawatan, dengan pengawasan dan
supervisi sebagai pemberi petunjuk pengembangan kerjasama atau
mekanisme yang ditentukan oleh peraturan suatu negara dimana
pelayanan diberikan. Perawat dan dokter merencanakan dan
mempraktekan bersama sebagai kolega, bekerja saling ketergantungan
dalam batas-batas lingkup praktek dengan berbagi nilai-nilai dan
pengetahuan serta respek terhadap orang lain yang berkontribusi terhadap
perawatan individu, keluarga dan masyarakat.
Elemen kunci kolaborasi dalam kerja sama team multidisipliner dapat
digunakan untuk mencapai tujuan kolaborasi team :
a) Memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dengan
menggabungkan keahlian unik profesional.
b) Produktivitas maksimal serta efektifitas dan efesiensi sumber daya
c) Peningkatnya profesionalisme dan kepuasan kerja, dan loyalitas
d) Meningkatnya kohesifitas antar profesional
e) Kejelasan peran dalam berinteraksi antar profesional,
f) Menumbuhkan komunikasi, kolegalitas, dan menghargai dan
memahami orang lain
Kesuksesan kolaborasi dalam suatu pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh
faktor-faktor:
1. Faktor interaksi (interactional determinants):
Hubungan interpersonal diantara anggota tim yang terdiri dari
kemauan untuk berkolaborasi, percaya, saling menghargai dan
berkomunikasi.

23
2. Faktor organisasi (organizational determinants)
Kondisi di dalam organisasi tersebut yang terdiri dari:
Organizational structure (struktur horisontal dianggap lebih
berhasil daripada struktur hierarkis)
Organizations philosophy (nilai nilai keterbukaan, kejujuran,
kebebasan berekspresi, saling ketergantungan, integritas dan
sikap saling percaya
Administrative support (kepemimpinan)
Team resource (tersedianya waktu untuk bertemu dan
berinteraksi, membagi lingkup praktek dengan profesional lain,
bekerja dalam suatu unit yang kecil)
Coordination mechanism (pertemuan formal untuk diskusi,
standarisasi prosedur dalam bekerja)
3. Faktor lingkungan organisasi( organizations environment/ systemic
determinants) yaitu elemen diluar organisasi, seperti sistem sosial,
budaya, pendidikan dan profesional.

2. Pendekatan Praktik Hirarkis


Menekankan Komunikasi satu arah
Kontak Dokter dengan Pasien terbatas
Dokter merupakan Tokoh yang dominan
Cocok untuk diterapkan di keadaan tertentu, spt IGD
Sebelum ada model Kolaborasi, hubungan yang ada adalah Model praktik
hirarkis
Praktik Hirarkis merupakan salah satu pendekatan yang dilakukan
sebelum profesi perawat semakin berkembang.
Pendekatan ini sekarang masih dominan dalam praktek dokter di
Indonesia

Registerd
DOKTER
nurse

Pemberi
pelayanan
lain

24
Komunikasi Dokter-Apoteker

Untuk dapat berkomunikasi dengan baik, dokter perlu mengetahui apa yang menjadi
tanggung jawab profesi apoteker dalam pelayanan farmasi. Pelayanan farmasi dapat
dilakukan di berbagai tempat seperti rumah sakit, Puskesmas, Poliklinik, Apotek, dll.
Adanya pemahaman masing-masing pada profesi mitra kerjanya akan memudahkan
terjadinya komunikasi yang baik antar profesi

Empat unsur Pelayanan Farmasi


Pelayanan Farmasi yang baik.
Pelayanan profesi apoteker dalam penggunaan obat.
Praktik dispensing yang baik.
Pelayanan profesional apoteker yg proaktif dalam berbagai kegiatan yg
bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan kepada pasien.

LO.5. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN SISTEM RUJUKAN PADA KLINIK


DOKTER KELUARGA
Definisi Sistem rujukan ialah suatu sistem penyelenggaraan pelayanan kesehatan
yang melaksanakan pelimpahan tanggung jawab timbal balik terhadap satu kasus
penyakit atau masalah kesehatan secara vertikal (dari unit yang lebih mampu
menangani), atau secara horizontal (antar unit-unit yang setingkat
kemampuannya).Hal yang dirujuk bukan hanya pasien saja tapi juga masalah-masalah
kesehatan lain, teknologi, sarana, bahan-bahan laboratorium, dan sebagainya.

Secara garis besar rujukan dibedakan menjadi 2, yakni :


Rujukan medik
Rujukan ini berkaitan dengan upaya penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan
pasien. Disamping itu juga mencakup rujukan pengetahuan (konsultasi medis) dan
bahan-bahan pemeriksaan. Tujuan: untuk menyembuhkan penyakit dan atau
memulihkan status kesehatan pasien

1. Rujukan pasien (transfer of patient)


Penatalaksanaan pasien dari strata pelayanan kesehatan yang kurang mampu ke
strata pelayanan kesehatan yang lebih sempurna atau sebaliknya untuk pelayanan
tindak lanjut
2. Rujukan ilmu pengetahuan (transfer of knowledge)

25
Pengiriman dokter/ tenaga kesehatan yang lebih ahli dari strata pel.kes. Yang lebih
mampu ke strata pelayanan kesehatan yang kurang mampu untuk bimbingan dan
diskusi atau sebaliknya, untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan
3. Rujukan bahan pemeriksaan laboratorium (transfer of specimens)
Pengiriman bahanbahanpemeriksaan bahan laboratorium daristrata pelayanan
kesehatan yangkurang mampu ke strata yang lebih mampu atau sebaliknya, untuk
tindak lanjut.

Rujukan kesehatan masyarakat


Rujukan ini berkaitan dengan upaya pencegahan penyakit (preventif) dan peningkatan
kesehatan (promosi). Rujukan ini mencakup rujukan teknologi, sarana dan
operasional. Tujuan: untuk meningkatkan derajat kesehatan dan ataupun mencegah
penyakit yang ada di masyarakat.
1. Rujukan tenaga,
Pengiriman dokter/tenaga kesehatan dari strata pelayanan kesehatan yang lebih
mampu ke strata pelayanan kesehatan yang kurang mampu untuk menanggulangi
masalah kesehatan yang ada di masyarakat atau sebaliknya, untuk pendidikan dan
latihan.
2. Rujukan sarana
Pengiriman berbagai peralatan medis/ non medis dari strata pelayanan kesehatan
yang lebih mampu ke strata pelayanan kesehatan yang kurang mampu untuk
menanggulangi masalah kesehatan di masyarakat, atau sebaliknya untuk tindak
lanjut.
3. Rujukan operasional
Pelimpahan wewenang dan tanggungjawab penanggulangan masalah kesehatan
masyarakat dari strata pelayanan kesehatan yang kurang mampu ke strata
pelayanan kesehatan yang lebih mampu atau sebaliknya untuk pelayanan tindak
lanjut.

Menurut tata hubungannya, sistem rujukan terdiri dari: rujukan internal dan rujukan
eksternal.

26
1. Rujukan Internal adalah rujukan horizontal yang terjadi antar unit pelayanan di dalam
institusi tersebut. Misalnya dari jejaring puskesmas (puskesmas pembantu) ke
puskesmas induk.
2. Rujukan Eksternal adalah rujukan yang terjadi antar unit-unit dalam jenjang
pelayanan kesehatan, baik horizontal (dari puskesmas rawat jalan ke puskesmas rawat
inap) maupun vertikal (dari puskesmas ke rumah sakit umum daerah).

Tiga bentuk pelayanan sistem rujukan


1. Pelayanan kesehatan tingkat pertama (primary health care)
Pelayanan kesehatan jenis ini diperlukan untuk masyarakat yang sakit ringan dan
masyarakat yang sehat untuk meningkatkan kesehatan mereka atau promosikesehatan
. Oleh karena jumlah kelompok ini didalam suatu populasi sangat besar (lebih kurang
85%), pelayanan yang diperlukan oleh kelompok ini bersifat pelayanan kesehatan
dasar (basic health services) atau juga merupakan pelayanan kesehatan primer atau
utama (primary health care). Bentuk pelayanan ini di Indonesia adalah puskesmas,
puskesmas pembantu, puskesmas keliling, dan balkesmas.

2. Pelayanan kesehatan tingkat kedua (secondary health services)


Pelayanan kesehatan jenis ini diperlukan oleh kelompok masyarakat yang
memerlukan perawatan inap, yang sudah tidak dapat ditangani oleh pelayanan
kesehatan primer. Bentuk pelayanan ini misalnya rumah sakit tipe C dan D, dan
memerlukan tersedianya tenaga-tenaga spesialis.

2. Pelayanan kesehatan tingkat ketiga (tertiary health services)


Pelayanan kesehatan ini diperlukan oleh kelompok masyarakat atau pasien yang
sudah tidak dapat ditangani oleh pelayanan kesehatan sekunder. Pelayanan sudah
kompleks dan memerlukan tenaga-tenaga super spesialis, contoh di Indonesia: rumah
sakit tipe A dan B

2. Karakteristik

a. Ruang lingkup kegiatan


Konsultasi memintakan bantuan profesional dari pihak ketiga. Rujukan,
melimpahkan wewenang dan tanggung jawab penanganan kasus penyakit yang
sedang dihadapi kepada pihak ketiga
b. Kemampuan dokter
Konsultasi ditujukan kepada dokter yang lebih ahli dan atau yang lebih
pengalaman.Pada rujukan hal ini tidak mutlak.
c. Wewenang dan tanggung jawab
27
Konsultasi wewenang dan tanggung jawab tetap pada dokter yang meminta
konsultasi.Pada rujukan sebaliknya.

3. Manfaat
a) Dari sudut pandang pemerintah sebagai penentu kebijakan
Membantu penghematan dana, karena tidak perlu menyediakan berbagai macam
alat kedokteran pada setiap sarana kesehatan.
Memperjelas system pelayanan kesehatan, kemudian terdapat hubungan antara
kerja berbagai sarana kesehatan yang tersedia.
Memudahkan pekerjaan administrasi, terutama pada aspek perencanaan
b) Dari sudut masyarakat sebagai pemakai jasa pelayanan
Meringankan biaya pengobatan, karena dapat dihindari pemeriksaan yang sama
secara berulang-ulang
Mempermudah masyarakat dalam mendapatkan pelayanan, karena telah
diketahui dengan jelas fungsi dan wewenang setiap sarana pelayanan kesehatan
c) Dari sudut tenaga kesehatan
Memperjelas jenjang karir tenaga kesehatan dengan berbagai akibat positif,
semangat kerja, ketekunan dan dedikasi.
Membantu peningkatan pengetahuan dan ketrampilan melalui jalinan kerjasama
Memudahkan/ meringankan beban tugas, karena setiap sarana kesehatan
mempunyai tugas dan kewajiban tertentu

4. Tata Cara
Tata cara rujukan
Terbatas hanya pada masalah penyakit yang dirujuk saja
Tetap berkomunikasi antara dokter konsultan dan dokter yg meminta rujukan
Perlu disepakati pembagian wewenang dan tanggungjawab masing-masing pihak

Pembagian wewenang & tanggungjawab


1. Interval referral
pelimpahan wewenang dan tanggungjawab penderita sepenuhnya kepada dokter
konsultan untuk jangka waktutertentu, dan selama jangka waktu tersebut dokter tsb
tidak ikut menanganinya

28
2. Collateral referral
menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan penderita hanya untuk
satumasalah kedokteran khusus saja
3. Cross referral
menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan penderita sepenuhnya
kepada dokter lain untuk selamanya
4. Split referral
menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan penderita sepenuhnya
kepada beberapa dokter konsultan, dan selama jangka waktu pelimpahan wewenang
dan tanggungjawab tersebut dokter pemberi rujukan tidak ikut campur.

LO.6. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN ADAB DAN TATA CARA DOKTER


MUSLIM DALAM MELAYANI PASIEN
5S
Aa Gym mengatakan 5S merupakan kunci keberhasilan menuju kepribadian
yang menawan. Seperti halnya Rasul yang tersenyum kepada umatnya. begitu juga
segala tingkah laku, tindak tanduk beliau membiaskan pesona yang tembus ribuan
kilometer, ribuan tahun sampai hari kiamat.
Untuk itu sudah selayaknya kita umat manusia meneladeni kepribadian beliau.
Dengan cara mengamalkan 5S tersebut.
- Pertama adalah Senyum, setiap orang dapat tersenyum, macamnyapun
beragam, ada yang karena senyuman orang menjadi teriris hatinya. Ada
juga 'senyum menggoda' yang membuat orang yang melihatnya terjerumus
ke lembah maksiat. Tetapi ada juga senyuman yang membuat hati kita
tergetar melihatnya yaitu 'senyum ketabahan' . Serta ada senyum yang
sebaiknya diamalkan setiap saat yaitu 'senyum tulus' yang lahir dari hati
yang paling dalam, lahir dari kerinduan ingin membahagiakan. Dalam hal
ini Rasulullah saw, telah mempraktekkan senyuman yang tulus di hadapan
para sahabat. Keuntungan senyum ada banyak seperti dapat menambah
daya tarik seseorang, dari segi kesehatan orang yang murah senyum akan
jauh dari stress, jantungnya akan berdetak normal, ketiga dari hubungan
sosial, bagi yang ahli senyum pergaulan akan terasa menyenangkan.

29
- S kedua dari 5S adalah 'Salam' . Bagi orang Islam salam mengandung
makna yang dalam, selain merupakan doa yang tulus dari seorang muslim
kepada muslim lainnya, salam oleh sebagian ulama diartikan dengan,
"Semoga engkau dalam penjagaan Allah" atau ada juga yang mengartikan
"Selamat. Semoga keselamatan dari Allah tetap bagimu."
- S ketiga yiatu 'Sapa.' Aa Gym mengatakan mengapa, untuk menyapa orang
yang berada di samping kita terasa berat sekali. Padahal kalau kita melihat
kenyataan, saat kita duduk bersebelahan dalam bis, saat naik kereta api, itu
merupakan kesempatan untuk bertegur sapa. Dengan menyapa secara
hangat kebekuan akan mencair dan kita akan merasa nyaman sepanjang
perjalanan
- Kemudian S Keempat adalah 'Sopan.' Orang yang sopan akan dapat
mencuri hati siapapun yang melihatnya. setidaknya kita menjadi hormat
pada orang yang bersikap sopan. Selain itu kesopanan merupakan sikap
menentukan nilai orang tersebut, semakin tinggi nilai sikap kesopanan,
maka makin tinggi derajatnya. Serta kesopanan yang muncul dari
kemuliaan akhlak merupakan tanda-tanda kedalaman pemahaman agama
seseorang. Jadi apalah artinya jika mempunyai ilmu agama yang luas,
gelar yang panjang, kedudukan yang tinggi, kalau memiliki sikap yang
tidak sopan. Oleh karena itu adabaiknya kita evaluasi kembali kesopanan
sikap kita, kata Aa Gym.
- Terakhir adalah 'Santun.' Penyantun adalah orang yang bisa memaafkan
atau Ia bisa membalas keburukan dengan kebaikan. Dalam arti orang yang
penyantun adalah orang yang mampu menekan ego dirinya untuk
mengalah demi kemashlahatan bersama. Jadi bila ingin mempunyai
pribadi yang simpatik lagi menawan, harus menjauhi sekuat-kuatnya sikap
egois

Adab-adab yang bersifat khusus diantaranya:

1. Berusaha menjaga kesehatan pasien sebagai konsekuensi amanah dan tanggung


jawabnya dan berusaha menjaga rahasia pasien kecuali dalam kondisi darurat atau
untuk tindakan preventif bagi yang lainnya.
Rosulullah sholallohu 'alaihi wasalam bersabda :

30
"Barangsiapa yang menutup (aib) seorang muslim maka Allah akan menutup
(aibnya) pada hari kiamat. " (HR. al-Bukhari 2442 dan Muslim 7028).
2. Senantiasa menyejukkan hati pasien, menghiburnya dan mendo'akannya.
Salah satunya ialah dengan mengucapkan "Tidak mengapa, insyaallah ini adalah
penghapus dosa", atau meletakkan tangan kanan di tempat yang sakit seraya berdo'a :
" Wahai Robb manusia, hilangkanlah penyakit tersebut, sembuhkanlah, Engkau
adalah penyembuh, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan
yang tidak ditimpa penyakit lagi. " (HR. Muslim 2191 dan yang lainnya).
3. Hendaknya memberitahukan kepada pasien bahwa yang menyembuhkan hanya Allah
Ta'ala sehingga hatinya bergantung kepada Allah, bukan kepada dokter.Nabi
sholallohu 'alaihi wasalam berkata kepada Abu Rimtsah (seorang dokter ahli) :
" Allah adalah dokter, sedangkan kamu adalah orang yang menemani yang sakit. "
(HR. Abu Dawud 4209, ash-shahiihah 1537).
4. Seorang dokter tidak boleh membohongi pasiennya.
Misalnya tatkala stok obat habis ia memberikan obat yang tidak sesuai dengan
penyakitnya atau memberikan obat yang di dalamnya terkandung bahan-bahan yang
diharamkan.
5. Hendaknya profesi dalam bidang kedokteran bertujuan untuk memuliakan manusia.
Oleh karena itu tidak diperkenankan bagi seorang dokter atau petugas kesehatan
lainnya untuk membakar potongan tubuh pasien, namun hendaknya diberikan kepada
sang pasien atau keluarganya untuk dikubur. Selain itu tidak diperbolehkan
memperjualbelikan darah pasien, mengadakan operasi-operasi plastik untuk
mengubah wajah, telinga, alis, hidung dan lainnya, karena hal itu termasuk mengubah
ciptaan Allah yang diharamkan dalam Islam. Allah Ta'ala berfirman :
(Setan berkata) : "Dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-
benar mereka mengubahnya. " (QS. an-Nisa' (4) : 119).
Di samping itu, tidak diperbolehkan ta'awun dalam kejelekan, seperti menjual obat-
obat penggugur kehamilan sehingga melariskan perzinaan.
6. Seorang dokter, perawat, mantri, bidan, apoteker dan petugas kesehatan lainnya
hendaknya betul-betul meningkatkan dan menekuni pekerjaanya.
Rosulullah sholallohu 'alaihi wasalam :
"Barangsiapa yang menerjuni kedokteran sedangkan tidak diketahui orang itu ahli
kedokteran, maka ia menanggung (kerugian pasien)." (HR. Abu Dawud 4586, ash-
shahiihah 635).

31
7. Profesi dalam bidang pengobatan termasuk pekerjaan yang mulia sehingga
diharapkan bagi para dokter untuk menggapai ridha Allah dalam setiap aktivitasnya.
Nabi sholallohu 'alaihi wasalam bersabda : "Sebaik-baik manusia adalah yang paling
bermanfaat bagi manusia yang lain." (Dikeluarkan oleh ad-Daruqutni, ash-shahiihah
426).
Di samping adab-adab tersebut di atas, ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh para
petugas kesehatan tentang rumah sakit, klinik, apotek maupun tempat praktiknya, yaitu :

1. Hendaknya mengkhususkan satu ruangan untuk shalat, baik bagi laki-laki maupun
perempaun, mengingat pentingnya masalah sahalat.
2. Menjadi kewajiban dan PR kita bersama untuk menjadikan rumah sakit terhindar dari
ikhtilath (bercampurnya laki-laki dan perempuan yang bukan mahram).
3. Tidak diperkenankan menggantung gambar makhluk bernyawa di tembok atau
dinding.
4. Hendaknya tidak menyediakan asbak bagi para pengunjung rumah sakit karena itu
adalah bentuk ta'awun dalam kejelekan.
5. Hendaknya memisahkan antara ruangan pasien yang berpenyakit menular dengan
yang tidak menular, demikian pula agar para pengunjung tidak kontak langsung
dengan si pasien tersebut sehingga penyakitnya tidak menular- dengan izin Allah-
kepada yang lainnya. Rosulullah sholallohu 'alaihi wasalam bersabda : "Jangan
sekali-kali mencampur yang sakit dengan yang sehat." (HR. al-Bukhari 5328). Hal itu
dikuatkan juga dengan sabda beliau tentang wabah penyakit menular : "Jika kalian
mendengar (ada wabah) di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya." (HR.
al-Bukhari 5287 dan Muslim 5775).
6. Hendaknya kamar mandi atau WC tidak menghadap ke arah kiblat atau
membelakanginya, sebagaimana sabda Nabi sholallohu 'alaihi wasalam : "Jangan
menghadap kiblat tatkala buang air besar dan kencing dan jangan pula
membelakanginya." (HR. al-Bukhari 144, Muslim 264, at-Tirmidzi 8, Abu Dawud 9).
7. Dianjurkan untuk mengubah kantornya ke arah kiblat dan duduk menghadap kiblat,
berdasarkan hadits Abu Hurairah, bahwa Rowulullah sholallohu 'alaihi wasalam
bersabda : "Sesungguhnya segala sesuatu memiliki tuan, dan tuannya majelis adalah
arah kiblat." (HR. ath-Thabrani dalam al-Ausath 2354, dan dihasankan Syaikh al-
Haitsami 8/114, as-Sakhawi (102) dan Syaikh al-albani dalam ash-Shahiihah (2645)
dan Shahiih at-Targhib (3085) ).

32
Adab pemeriksaan terhadap pasien

Jika dokter laki-laki (dikarenakan tidak terdapat dokter perempuan) dengan dalih
mengobati dan atau pekerjaan-pekerjaan yang berkaitan dengan pekerjaan di atas
(memandang dan menyentuh) seperti; mendeteksi denyut nadi, mengambil darah dan
memijit, dimana dokter tidak memiliki cara lain kecuali terpaksa memandang badan yang
bukan mahramnya atau menyentuh badannya (dan tidak memungkinkan dia menggunakan
kaos tangan atau semacamnya, dengan maksud menyentuh secara tidak langsung), dalam hal
ini menyentuh dan memandang tidak ada masalah.
Akan tetapi jika dalam masalah ini dokter mampu mengobati hanya dengan
memandang saja dan atau hanya dengan menyentuh pasien yang bukan mahramnya tersebut
maka dokter harus mencukupkan dengan memandang saja atau menyentuh saja (itupun
sebatas darurat) dan lebih daripada itu tidak boleh. Dokter perempuan dalam hal memandang
dan menyentuh pasien laki-laki yang bukan mahramnya juga berlaku hukum demikian.
Begitu para ulama mengatakan.
Karena orang yang sakit sengaja menemui dan menaruh kepercayaan terhadap dokter,
para terapis atau ahli medis harus memberikan pelayanan dan perlindungan yang terbaik bagi
pesiennya. Namun harus tetap menjaga syariat. Misalnya tidak boleh memberikan obat yang
haram. Juga harus menjaga hubungan lawan jenis. Jika pasiennya bukan muhrimnya,
hendaklah ada pihak ketiga yang menemani. Jangan hanya berdua didalam kamar
pengobatan.
Telah di nukil dari Imam Musa ibnu Jafar yang mengatakan: Seorang lelaki buta
dengan lebih dahulu meminta izin telah memasuki rumah Fatimah (sepertinya dia perlu
dengan Rasulullah SAW) Fatimah mengambil kerudungnya dan beliau bersembunyi di
dalam kerudung tersebut (mengambil hijab), Nabi SAW berkata: Putriku mengapa engkau
menutup dirimu sedangkan dia tidak melihatmu? Beliau berkata: Apabila dia tidak melihat
saya, tapi saya melihat dia dan dia (jika tidak melihat dan buta) tetapi dia mencium bau
wanita. Rasulullah SAW sedemikian gembiranya sambil berkata: Saya bersaksi bahwa
engkau adalah belahan jiwaku. (Hayaatu Al-Imam Husain,Khutbah Hadrat Zaenab)
Lihatlah begitu diagungkannya urusan hijab oleh Rasulullah SAW.
Allah Ta`ala menyebutkan dalam firman-Nya surat al-An'am/6 ayat 119:

33
"Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya
atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya".
Bila memang dalam keadaan darurat dan terpaksa, Islam memang membolehkan
untuk menggunakan cara yang mulanya tidak diperbolehkan. Selama mendatangkan
maslahat, seperti untuk pemeliharaan dan penyelamatan jiwa dan raganya.
Meskipun dibolehkan dalam kondisi yang betul-betul darurat, tetapi harus mengikuti
rambu-rambu yang wajib untuk ditaati. Tidak berlaku secara mutlak. Keberadaan mahram
adalah keharusan, tidak bisa ditawar-tawar. Sehingga tatkala seorang muslim/muslimah
terpaksa harus bertemu dan berobat kepada dokter yang berbeda jenis, ia harus didampingi
mahramnya saat pemeriksaan. Tidak berduaan dengan sang dokter di kamar praktek atau
ruang periksa.
Syarat ini disebutkan Syaikh Bin Baz rahimahullah untuk pengobatan pada bagian
tubuh yang nampak, seperti kepala, tangan, dan kaki. Jika obyek pemeriksaan menyangkut
aurat wanita, meskipun sudah ada perawat wanita misalnya, maka keberadaan suami atau
wanita lain (selain perawat) tetap diperlukan, dan ini lebih baik untuk menjauhkan dari
kecurigaan.
Adab pergaulan antara laki-laki dan perempuan berguna agar kaum Muslim tidak
tersesat di dunia. Adab-adab tersebut antara lain:

a. Menundukkan pandangan terhadap lawan jenis


Allah berfirman: Katakanlah kepada laki-laki beriman: Hendaklah mereka
menundukkan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Dan katakalah kepada
wanita beriman: Hendaklah mereka menundukkan pandangannya dan memelihara
kemaluannya. (QS. An-Nur: 30-31)
b. Tidak berdua-duaan
Rasulullah saw bersabda: Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan (khalwat)
dengan wanita kecuali bersama mahromnya. (HR. Bukhari dan Muslim)
c. Tidak menyentuh lawan jenis
Di dalam sebuah hadits, Aisyah ra berkata, Demi Allah, tangan Rasulullah tidak
pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun saat membaiat (janji setia
kepada pemimpin). (HR. Bukhari)
Hal ini karena menyentuh lawan jenis yang bukan mahromnya merupakan salah satu
perkara yang diharamkan di dalam Islam. Rasulullah bersabda, Seandainya kepala

34
seseorang ditusuk dengan jarum besi, (itu) masih lebih baik daripada menyentuh
wanita yang tidak halal baginya. (HR. Thabrani dengan sanad hasan)

35
DAFTAR PUSTAKA

Anies. 2006. Kedokteran Keluarga & Pelayanan Kedokteran yang Bermutu. Semarang.

Gani A. Pembiayaan Kesehatan. FKM UI. 1996

Sistem Pembiayaan Kesehatan Indonesia. 2010

Tristantoro L. Prinsip-Prinsip Asuransi Kesehatan Untuk Mahasiswa Kedokteran Dan


Residen. FK UGM.

http://www.pelita.or.id/baca.php?id=21313

http://maktabahabiyahya.wordpress.com/2012/09/04/akhlak-dokter-dan-perawat-muslim/

http://franzsinatrayoga.blogspot.com/2011/11/klinik-dokter-keluarga-sistem.html

36