Anda di halaman 1dari 4

1.

Lokasi tersering kista dentigerous


Kista dentigerous hampir selalu melibatkan gigi geligi permanent, walaupun ada
beberapa laporan mengenai keterlibatan gigi sulung. Gigi permanent yang paling sering
terlibat adalah molar 3 mandibula dan kaninus maxilla, dimana gigi geligi tersebut yang
paling sering mengalami impaksi. Insidensi kista dentigerous pada rahang sebesar 10-
15%. Terdapat kaitan antara perkembangan gigi impaksi dengan transformasi dari epitel
email tereduksi. Investigator lainnya ada yang menyebutkan kaitan retikulum stelata
dengan pembentukan kista dentigerous. Kadangkadang berhubungan dengan gigi
supernumerari atau odontoma.
Kista yang kecil biasanya asimtomatik dan ditemukan hanya pada pemeriksaan
radiografik rutin atau saat pengambilan film untuk menentukan penyebab gigi tidak
erupsi. Secara klinis, lesi menunjukkan pembengkakan yang fluktuan dan bulat dari
alveolar ridge diatas daerah gigi yang sedang erupsi.
Kista ini terbentuk di sekitar mahkota dan perlekatannya terdapat di cementoenamel
junction gigi tersebut. Ketika telah terbentuk sempurna, mahkota berprotusi ke dalam
lumen dan akarnya memanjang keluar dari kistanya. Biasanya asimtomatik, kecuali jika
kista berkembang menjadi besar sekali atau terinfeksi. Walaupun kista biasanya hanya
melibatkan satu gigi, namun ketika kista tersebut membesar dapat melibatkan beberapa
mahkota gigi yang berdekatan, sehingga gigi dapat tergeser dari posisi normalnya,
khususnya di maksila.
Kista ini dapat tumbuh menjadi cukup besar, dan kista yang besar dapat menyebabkan
ekspansi tulang pada area sekitarnya yang disertai rasa sakit. Lebih ekstensif lagi dapat
menyebabkan asimetri wajah. Kista ini dapat terinfeksi melalui jalur hematogen, dan
dapat terkait dengan adanya rasa sakit dan bengkak. Infeksi dapat terjadi karena erupsi
gigi sebagian atau karena perluasan lesi periapikal atau periodontal yang mempengaruhi
gigi sekitar. Kista dapat mencapai ukuran yang signifikan, biasanya berhubungan dengan
perluasan tulang kortikal namun jarang mencapai ukuran yang dapat mempengaruhi
pasien hingga terjadi fraktur patologis.
Keterlibatan kista pada molar 3 rahang bawah yang tidak erupsi dapat menyebabkan
gaung pada seluruh ramus hingga prosesus koronoid dan kondil dan ekspansi plate
kortikal akibat tekanan dari lesi, menyebabkan pergerakan molar 3 ke arah yang dapat
mengkompresi inferior border mandibula. Keterlibatan kista pada kaninus rahang atas
menyebabkan terjadinya ekspansi anterior maksila dan secara superfisial mengakibatkan
sinusitis akut atau selulitis.
Shear M, Speight P. 4th ed. Blackwell Publishing Ltd; 2007. Cysts of the oral and
maxillofacial regions; p. 5978.
Jones AV, Craig GT, Franklin CD. Range and demographics of odontogenic cysts
diagnosed in a UK population over a 30-year period. J Oral Pathol Med. 2006;35:5007.
Neville BW, Damm DD, Allen CM, Bouquot JE. Odontogenic cysts and tumors. In:
Neville BW, Damm DD, Allen CM, Bouquot JE, editors. Oral and Maxillofacial
Pathology. 2nd ed. Philadelphia: WB Saunders; 2002. pp. 589642.

2. Terminologi Diagnostik

Simptom Radiografi Tes Pulpa Tes periapikal

Pulpa Tidak ada gejala Tidak ada Respon Tidak sensitif


normal perubahan
periapikal

Reversibel Ada atau tidak Tidak ada Respon Tidak sensitif


ada gejala perubahan
terhadap periapikal
stimulus termal

Ireversibel Mirip dengan Tidak terdapat Respon (nyeri Nyeri pada


reversibel juga perubahan tajam pada perkusi atau
dapat terjadi radiolusen pada stimulus palpasi bisa
nyeri spontan periapika, termal) terjadi atau tidak
atau nyeri yang kecuali pada
berat pada kondisi
stimulus termal condensing
osteitis
Nekrosis Tidak ada respon Ada gambaran Tidak ada Tergantung status
pada stimulus periapikal respon periapikal
termal

Periapikal Tidak ada gejala Tidak ada Respon Tidak sensitif


Normal perubahan
periapikal

Periodontiti Nyeri pada Tidak ada Ada atau tidak Nyeri pada
s Apikal mastikasi atau perubahan ada respon perkusi atau
Akut tekanan periapikal (tergantung palpasi
status pulpa

Periodontiti Ada nyeri ringan Radiolusen Tidak ada Nyeri ringan pada
s Apikal apikal respon perkusi atau
Kronis dan palpasi
Kista
Apikal

Abses Pembengkakan Biasanya Tidak ada Nyeri pada


Apikal atau rasa nyeri terdapat lesi respon perkusi atau
Akut yang signifikan radiolusen palpasi

Periodontiti Pengeringan Biasanya Tidak ada Tidak sensitif


s Apikal sinus atau parulis terdapat lesi respon
Supuratif radiolusen
(Abses
Apikal
Kronis)

Osteitis Bervariasi Peningkatan Ada atau tidak Ada atau tidak


Kondensing (tergantung kepadatan tulang ada respon ada nyeri pada
status pulpa dan trabekular (tergantung perkusi atau
periapikal) status pulpa) palpasi

3. Tes elektris, merupakan tes yang dilakukan untuk mengetes vitalitas gigi dengan listrik,
untuk stimulasi saraf ke tubuh.
Alatnya menggunakan Electronic Pulp Tester (EPT). Tes elektris
ini dilakukan dengan cara gigi yang sudah dibersihkan dan
dikeringkan disentuhdengan menggunakan alat EPT pada bagian
bukal atau labial, tetapi tidak boleh mengenai jaringan lunak.
Sebelum alat ditempelkan, gigi yang sudah dibersihkan diberi
konduktor berupa pasta gigi. Tes ini dilakukan sebanyak tiga kali
supaya memperoleh hasil yang valid. Tes ini tidak boleh
dilakukan pada orang yang menderita gagal jantung dan orang yang menggunakan alat
pemacu jantung. Gigi dikatakan vital apabila terasa kesemutan, geli, atau hangat dan gigi
dikatakan non vital jika sebaliknya. Tes elektris tidak dapat dilakukan pada gigi restorasi,
karena stimulasi listrik tidak dapat melewati akrilik, keramik, atau logam. Tes elektris ini
terkadang juga tidak akurat karena beberapa faktor antara lain, kesalahan isolasi, kontak
dengan jaringan lunak atau restorasi, akar gigi yang belum immature, gigi yang
trauma dan baterai habis (Grossman, dkk, 1995).
Grosman, L. I., Seymour, O., Carlos, E., D., R., 1995, Ilmu Endodontik dalam Praktek,
edisi ke sebelas, EGC, Jakarta.