Anda di halaman 1dari 3

PENGGABUNGAN BADAN USAHA

Pengertian dan Tujuan Penggabungan Usaha


Penggabungan badan usaha adalah usaha untuk menggabungkan suatu
perusahaan dengan perusahaan lain ke dalam suatu kesatuan ekonomis. Ada
beberapa tujuan penggabungan usaha, diantaranya: meningkatkan dana,
meningkatkan pertumbuhan perusahaan, memperluas pangsa pasar,
mengintegrasikan kemampuan teknologi kedalam sistem teknologi badan usaha
yang masih lemah.
Bentuk-Bentuk Penggabungan Badan Usaha
Dilihat dari jenis usaha perusahaan yang bergabung:
1. Penggabungan horizontal
Perusahaan yang bergabung menjalankan fungsi produksi yang sejenis.
2. Penggabungan vertikal
Perusahaan yang bergabung merupakan perusahaan yang memiliki
hubungan supplier dan customer.
3. Penggabungan Konglomerat
Merupakan kombinasi dari penggabungan horizontal dan vertikal.
Dilihat menurut kejadian hukumnya:
1. Merger
Penggabungan perusahaan dimana perusahaan yang menyerahkan harta
miliknya dibubarkan dan dengan demikian kehilangan statusnya sebagai
unit usaha yang terpisah.
2. Konsolidasi
Penggabungan perusahaan dimana perusahaan baru tercipta dan kedua
belah pihak menerima saham baru di perusahaan ini.
3. Akuisisi
Penggabungan perusahaan dimana perusahaan yang menyerahkan harta
miliknya tidak dibubarkan dan dengan demikian statusnya sebagai unit
usaha yang terpisah tetap ada.
Kasus Penggabungan Usaha

United Tractors Mengakuisisi PT Acset Indonusa Tbk


Pada akhir 2014, PT United Tractors Tbk (UNTR) mengambil langkah
strategis, yakni menandatangani perjanjian jual beli, emiten sektor konstruksi, PT
Acset Indonusa Tbk (ACST). Kemudian direalisasikan pada 5 Januari 2015,
dengan pembelian 200 juta saham atau 40% dari total saham yang ditempatkan
dan disetor penuh dalam ACST. Kemudian pada 11 Mei 2015 pembelian kembali
dilakukan terhadap 50.500.000 saham atau mewakili 10,1% dari total saham yang
ditempatkan dan disetor penuh dalam ACST. ACST beroperasi sejak 1995 dan
merupakan perusahaan konstruksi terintegrasi yang menyediakan jasa teknis dan
konstruksi di bidang pekerjaan fondasi, sipil, bangunan dan laut.
Sehingga sekarang ini ACST menjadi perusahaan konstruksi swasta yang
mengerjakan proyek dari mulai fondasi, struktur, hingga finishing. Menjadikan
ACST sebagai salah satu perusahaan konstruksi di Indonesia dengan kemampuan
memberikan jasa konstruksi secara keseluruhan. Menurut Presiden Direktur
UNTR Gideon Hasan, ada beberapa alasan bagi UNTR masuk dan menjadi
pemegang saham mayoritas di ACST. Salah satunya adalah sebagai langkah
antisipasi ke depan perseroan untuk menjaga pertumbuhan usaha. Kami juga
ingin berpartisipasi dalam mengembangkan sektor infrastruktur, katanya. Untuk
jangka panjang bisnis konstruksi bisa menutupi pendapatan UNTR dari sektor
pertambangan yang tengah lesu. Akuisisi ACST juga diperkirakan bisa
memperkuat bisnis alat berat UNTR. Sebab, dalam menggarap proyek konstruksi,
ACST bisa saja menggunakan alat berat milik UNTR.
Selain itu, ACST diharapkan bisa bersinergi dengan PT Astra
Internasional Tbk (ASII) yang merupakan induk usaha UNTR. Hal itu terlihat dari
sekitar 10-15% dari proyek yang dikembangkan ACST, di antaranya merupakan
proyek yang dimiliki ASII. Setiap tahunnya, ASII menyiapkan belanja modal di
kisaran Rp11-14 triliun untuk berbagai sektor. Sampai dengan September 2015,
ACST telah membukukan kontrak baru senilai Rp3,1 triliun atau meningkat lima
kali lipat dibandingkan dengan kontrak baru yang diperoleh tahun sebelumnya.
Dengan begitu, UNTR beryakinan ke depan ACST akan bertumbuh.
Realisasi kontribusi kontrak baru ini terhadap pendapatan bersih ACST nantinya
akan dibukukan sesuai dengan periode proyek yang akan dikerjakan sekitar 2-3
tahun ke depan. Beberapa proyek yang dikerjakan ACST antara lain Thamrin
Nine, Apartemen West Vista, Indonesia I dan Astra Biz Centre di Bumi Serpong
Damai. ACST akan mempertahankan strategi pertumbuhan dengan ekspansi
melalui joint operations dan atau aliansi strategis dengan perusahaan
multinasional. Serta meningkatkan kemampuannya untuk mengerjakan baik
pekerjaan sipil dan konstruksi dalam proyek infrastruktur dan industrial. Karena
pendapatan bersih perseroan sudah cukup besar, Gideon mengklaim kontribusi
ACST diperkirakan tidak lebih dari 5% dalam beberapa tahun ke depan atau
medium term. Namun, momentum pemerintah yang sedang fokus
mengembangkan sektor infrastruktur dan konstruksi diyakini akan berdampak
positif terhadap kinerja ACST. (www.koran-sindo.com)
Kesimpulan
Dilihat dari segi jenis usahanya penggabungan yang terjadi adalah
penggabungan vertikal. Hal tersebut dilihat dari sekitar 10-15% dari proyek yang
dikembangkan PT Acset Indonusa Tbk (ACST) di antaranya merupakan proyek
yang dimiliki PT Astra Internasional Tbk (ASII) yang merupakan induk usaha PT
United Tractors Tbk (UNTR). Sedangkan jika dilihat dari segi kejadian hukumnya
penggabungan yang terjadi adalah akuisisi karena perusahaan yang diakusisi oleh
PT United Tractors Tbk (UNTR), yaitu PT Acset Indonusa Tbk (ACST) masih
berdiri dan tidak dibubarkan.
Alasan PT United Tractors Tbk mengakusisi PT Acset Indonusa Tbk:
1. UNTR masuk dan menjadi pemegang saham mayoritas di ACST adalah
salah satu langkah antisipasi ke depan untuk menjaga pertumbuhan usaha.
2. UNTR juga ingin berpartisipasi dalam mengembangkan sektor
infrastruktur.
3. Akuisisi ACST diperkirakan bisa memperkuat bisnis alat berat UNTR.
Sebab, dalam menggarap proyek konstruksi, ACST bisa saja
menggunakan alat berat milik UNTR.