Anda di halaman 1dari 20

MENGUKUR DAN MENGENDALIKAN

AKTIVA YANG DIKELOLA

MALANG
20111
BAB I
PENDAHULUAN

Fokus pada laba di dalam beberapa unit usaha diukur dari selisih
antara pendapatan dengan beban. Pada unit usaha yang lain, laba
dibandingkan dengan aktiva yang digunakan untuk menghasilkan laba
tersebut. Pusat tanggung jawab yang terakhir ini disebut sebagai pusat
investasi. Perusahaan lebih sering menggunakan istilah pusat laba daripada
pusat investasi untuk menyebut pusat tanggung jawab.
Pusat investasi adalah jenis istimewa dari pusat laba dan bukan
kategori yang terpisah. Tetapi ada banyak permasalahan yang terlibat dalam
mengukur aktiva yang digunakan oleh suatu pusat laba. Untuk lebih
memahami tentang materi ini maka akan dibahas dua metode yang
menghubungkan laba dengan dasar investasi. Akan diketahui pula
keuntungan dan persyaratan dari penggunaan masing-masing metode untuk
mengukur kinerja. Yang terakhir adalah masalah perbedaan dalam
mengukur nilai ekonomi dari suatu pusat investasi sebagaimana
dibandingkan dengan manajer yang bertanggung jawab atas suatu pusat
investasi.
BAB II
MENGUKUR DAN MENGENDALIKAN
AKTIVA YANG DIKELOLA

A. Struktur Analisis
Pengukuran aktiva merupakan analogi dari tujuan pusat laba yaitu:
1. Memberikan informasi yang berguna dalam membuat keputusan
yang baik mengenai aktiva yang digunakan dan untuk memacu para
manajer agar membuat keputusan yang merupakan kepentingan
perusahaan yang nantinya bisa memberikan manfaat yang baik bagi
perusahaan.
2. Mengukur kinerja unit usaha sebagai suatu entitas ekonomi
Fokus pada laba juga harus dengan mempertimbangkan aktiva
yang digunakan untuk menghasilkan laba tersebut. Tujuan penting dari
perusahaan yang berorientasi pada laba adalah untuk menghasilkan
tingkat pengembalian (return) yang memuaskan atas modal yang
digunakan. Apabila jumlah aktiva yang digunakan tidak ikut
diperhitungkan, maka pihak manajemen akan kesulitan untuk
membandingkan kinerja laba dari suatu unit usaha dengan unit usaha
yang lain. Perbedaan laba yang besar tidak akan berarti apabila unit
usaha menggunakan sumber daya yang berbeda, karena semakin banyak
sumber daya yang digunakan maka semakin besar laba yang diperoleh.
Para manajer unit usaha memiliki dua sasaran kinerja. Pertama,
mereka harus menghasilkan laba yang mencukupi dari sumber daya
yang digunakan. Kedua, mereka dapat menggunakan sumber daya
tambahan hanya jika penggunaan tersebut menghasilkan tingkat
pengembalian yang memadai. Tujuan dari menghubungkan laba dengan
investasi adalah untuk memotivasi para manajer unit usaha guna
mencapai sasaran-sasaran tersebut di atas.
Tingkat pengembalian atas investasi (ROI) adalah suatu rasio
perbandingan. Pembilangnya (numerator) adalah laba yang dilaporkan
pada laporan keuangan, sedangkan penyebutnya (denominator) adalah
aktiva yang digunakan. Nilai tambah ekonomi (EVA) adalah jumlah
uang, bukan rasio EVA dapat diperoleh dengan mengurangkan beban
modal (capital charge) dari laba operasi bersih (net operating profit).
Beban modal diperoleh dari perkalian antara jumlah aktiva yang
digunakan dengan suatu tingkat tarif (rate).

B. Mengukur Aktiva yang Digunakan

Untuk memutuskan dasar investasi ada beberapa hal yang akan


digunakan untuk mengevaluasi pusat investasi, yaitu:
1. Praktek-praktek yang akan membuat para manajer unit usaha
menggunakan aktiva mereka dengan efisien dan untuk mendapatkan
jumlah dan jenis yang tepat dari aktiva baru. Ketika laba mereka
berkaitan dengan aktiva yang digunakan, para manajer unit usaha
akan mencoba untuk meningkatkan kinerja mereka yang diukur
dengan cara ini. Manajemen senior biasanya ingin agar tindakan
yang mereka lakukan untuk tujuan ini adalah yang terbaik bagi
kepentingan perusahaan secara keseluruhan.
2. Praktek-praktek yang paling baik mengukur kinerja suatu entitas
ekonomi.
a. Kas
Mayoritas perusahaan mengendalikan kas secara terpusat karena
pengendalian pusat memungkinkan penggunaan saldo kas yang
lebih kecil daripada jika setiap unit usaha memegang saldo kas
yang dibutuhkannya untuk menyeimbangkan perbedaan antara
kas masuk dan arus kas keluar. Saldo kas unit usaha hanya akan
merupakan selisih antara penerimaan dan pengeluaran harian.
Akibatnya, saldo kas aktual pada tingkat unit usaha cenderung
jauh lebih kecil dibandingkan dengan saldo kas yang diperlukan,
ini apabila unit usaha merupakan suatu perusahaan independen.
Oleh karena itu banyak perusahaan yang menggunakan rumus
untuk menghitung kas yang akan dimasukkan dalam dasar
investasi. Salah satu alasan untuk memasukkan kas pada jumlah
yang lebih besar daripada saldo yang biasanya dipegang oleh
suatu unit usaha adalah bahwa jumlah yang lebih besar ini
diperlukan untuk memungkinkan perbandingan dengan
perusahaan luar. Namun ada beberapa perusahaan yang
mengabaikan unsur kas dalam investasi karena jumlah kas
tersebut mendekati kewajiban lancar. Jika demikian maka jumlah
piutang dalam perusahaan akan mendekati jumlah modal kerja.
b. Piutang
Tingkat piutang secara tidak langsung dapat dipengaruhi oleh
manajer unit usaha melalui kemampuan mereka untuk
menghasilkan penjualan dan secara langsung melalui penetapan
persyaratan kredit dan persetujuan atas kredit individual dan
batas kredit serta melaui wewenang mereka dalam menagih
kredit yang jatuh tempo. Untuk kemudahan, unsur piutang sering
dimasukkan pada saldo aktual di akhir periode, meskipun rata-
rata antar periode secara konsep merupakan ukuran yang lebih
baik atas jumlah yang seharusnya dikaitkan dengan laba.
Apabila unsur piutang dimasukkan ke dalam harga jual atau pada
harga pokok maka akan ada perbedaan pendapat. Suatu pihak
akan berpendapat bahwa investasi riil dari suatu unit dalam
piutang adalah hanya sebesar harga pokok penjualan dan bahwa
tingkat pengembalian yang memuaskan atas investasi ini
mungkin sudah mencukupi. Di pihak lain, adalah mungkin untuk
mengatakan bahwa unit usaha dapat menginvestasikan kembali
uang yang diperoleh dari piutang, dan karena itu piutang harus
dimasukkan pada harga jualnya.
Alternatif yang lebih sederhana yaitu memasukkan piutang pada
nilai buku yang merupakan harga jual dikurangi penyisihan atas
piutang tak tertagih. Apabila unit usaha tidak mengendalikan
kredit maupun penagihannya, maka piutang dapat dihitung
berdasarkan suatu rumus.
c. Persediaan
Untuk persediaan biasanya diperlakukan sama seperti piutang,
yaitu dicatat pada jumlah akhir periode meskipun rata-rata antar
periode lebih baik secara konsep. Metode yang dapat digunakan
adalah FIFO (First In First Out), Average, atau LIFO Costing
(Last In First Out). Jika perusahaan menggunakan LIFO untuk
tujuan akuntansi keuangan, maka metode penilaian lain biasanya
digunakan untuk pelaporan laba unit usaha, karena saldo
persediaan LIFO cenderung sangat rendah pada periode
terjadinya inflasi. Jika persediaan barang dalam proses didanai
melalui pembayaran di muka atau pembayaran cicilan dari
konsumen, ini terjadi jika barang tersebut membutuhkan waktu
produksi yang lama.Pembayaran akan dikurangi dari jumlah
persediaan kotor atau dilaporkan sebagai kewajiban.
Ada beberapa perusahaan mengurangkan utang usaha dari
persediaan dengan dasar bahwa utang mencerminkan pendanaan
atas sebagian persediaan oleh pemasok, tanpa biaya untuk unit
usaha. Modal perusahaan yang dibutuhkan untuk persediaan
adalah hanya sebesar selisih antara jumlah persediaan kotor dan
utang. Pada saat suku bunga tinggi atau kredit yang diperketat,
para manajer mungkin terdorong untuk mempertimbangkan guna
mengorbankan diskon tunai yang ditawarkan, supaya tambahan
pendanaan disediakan oleh pemasok. Di lain pihak, menunda
pembayaran akan mengurangi aktiva lancar bersih yang mungkin
bukan merupakan kepentingan perusahaan karena hal tersebut
akan membahayakan peringkat kredit.
d. Modal Kerja Secara Umum
Perlakuan modal kerja sangatlah bervariasi. Pada satu sisi
perusahaan memasukkan seluruh aktiva lancar ke dalam dasar
investasi dengan tidak mengeliminasi kewajiban lancar.
Penggunaan metode ini dengan alasan dari sudut pandang
motivasional jika unit-unit usaha tidak dapat mempengaruhi
utang atau kewajiban lancar lainnya. Akan tetapi metode ini
menyatakan terlalu tinggi jumlah modal korporat yang
diperlukan untuk mendanai unit usaha, karena kewajiban lancar
merupakan sumber modal, seringkali dengan biaya bunga sama
dengan nol.
Di lain pihak seluruh kewajiban lancar dapat dikurangkan dari
aktiva lancar. Metode ini menyediakan ukuran yang baik atas
modal yang disediakan oleh perusahaan, karena perusahaan
menginginkan agar unit usaha memperoleh pengembalian. Akan
tetapi ini akan mengimplikasikan tidak adanya kendali para
manajer atas beberapa kewajiban lancar pada setiap unit usaha.
e. Properti, Pabrik, dan Peralatan / Aktiva Tetap
Dalam akuntansi keuangan aktiva tetap awalnya dicatat pada
biaya perolehan, dan biaya ini dihapuskan sepanjang umur
ekonomis aktiva melalui penyusutan. Hampir semua perusahaan
menggunakan pendekatan yang sama dalam mengukur
profitabilitas atas dasar aktiva dari unit usaha. Hal ini
menyebabkan permasalahan dalam penggunaa sistem sehingga
akan dilakukan analisis pada bagian-bagian berikut:
1) Akuisisi Peralatan Baru
Apabila perusahaan membeli mesin baru dapat kita lihat
dalam laporan laba rugi bahwa pembelian mesin tersebut
akan menaikkan pendapatan sebelum pajak, tetapi kenaikan
ini lebih dibandingkan dengan kenaikan beban modal
(capital charge). Dengan demikian, perhitungan EVA
menandakan bahwa profitabilitas telah menurun, walaupun
fakta ekonomi menunjukkan bahwa laba mengalami
kenaikan. Dalam kondisi yang demikian, manajer unit usaha
kemungkinan akan enggan untuk membeli aktiva tersebut,
karena telah terbukti bahwa unit usaha yang memiliki aktiva
yang sudah tua atau yang sudah sepenuhnya disusutkan, akan
cenderung melaporkan EVA yang lebih besar dibandingkan
dengan unit usaha yang memiliki aktiva yang lebih baru.
Jika profitabilitas diukur dengan ROI, maka akan terjadi
ketidakkonsistenan yang sama. Jika aktiva yang telah
disusutkan dimasukkan ke dalam dasar investasi pada nilai
buku bersih, maka profitabilitas unit usaha tersebut akan
dinyatakan secara salah (misstated) pada nilai buku bersih
dan para manajer unit usaha akan termotivasi untuk
mengambil keputusan akuisisi yang tepat.
2) Nilai Buku Kotor
Terjadinya fluktuasi dalam perhitungan EVA dan ROI dapat
dihindari dengan memasukkan unsur aktiva yang dapat
disusutkan dalam dasar investasi pada nilai buku kotornya
(gross book value) dan bukan nilai buku bersih (net book
value).
Dari cara di atas akan diketahui bahwa dalam EVA akan
menunjukkan profitabilitas unit usaha tersebut menurun,
yang pada kenyataannya tidak benar, sedangkan dalam ROI
yang dihitung berdasarkan nilai buku kotor akan selalu
menyatakan terlalu rendah tingkat pengembalian sebenarnya.
3) Disposisi Aktiva
Apabila pembelian mesin baru dianggap akan menggantikan
mesin yang telah ada dan yang masih memiliki nilai buku
yang masih belum disusutkan, maka dapat diketahui bahwa
nilai buku tersebut tidak relevan dalam analisis ekonomi atas
usulan pembelian (kecuali bahwa secara tidak langsung hal
tersebut dapat mempengaruhi pajak penghasilan).
Penghapusan nilai buku dari aktiva lama dapat
mempengaruhi perhitungan profitabilitas unit usaha secara
substansial. Peningkatan nilai buku kotor hanya sebesar
selisih antara nilai buku bersih setelah tahun pertama dari
mesin yang baru dengan nilai buku bersih dan mesin yang
lama. Dalam kedua kasus tersebut, jumlah yang relevan dari
investasi tambahan akan dinyatakan terlalu rendah,
selanjutnya EVA akan dinyatakan terlalu tinggi. Maka hal ini
akan mendorong manajer unit usaha untuk mengganti mesin
lama dengan mesin yang baru, bahkan ketika penggantian itu
tidak dibenarkan secara ekonomi, karena unit-unit usaha
yang paling banyak melakukan penggantian mesin
menunjukkan kenaikan profitabilitas yang besar.
Jika aktiva yang dimasukkan ke dalam dasar investasi pada
biaya awalnya, maka manajer unit usaha akan termotivasi
untuk menghilangkan aktiva tersebut meskipun aktiva itu
memiliki suatu kegunaan karena dasar investasi unit usaha
akan berkurang sejumlah biaya penuh dari aktiva tersebut.
4) Penyusutan Anuitas
Jika penyusutan ditentukan oleh metode anuitas, dan bukan
oleh metode garis lurus, maka perhitungan profitabilitas unit
usaha akan menunjukkan EVA dan ROI yang tepat. Hal ini
disebabkan karena metode penyusutan anuitas sesungguhnya
mengaitkan pengembalian investasi yang implisit dalam
perhitungan nilai sekarang. Hal ini dikarenakan penyusutan
anuitas merupakan kebalikan dari penyusutan yang
dipercepat, dimana jumlah penyusutan tahunan lebih rendah
pada tahun-tahun pertama ketika nilai investasinya masih
tinggi dan meningkat setiap tahunnya seiring dengan
menurunnya nilai investasi, tetapi tingkat pengembalian hasil
tetap konstan. Namun hanya sedikit manajer yang menerima
ide mengenai penyisihan penyusutan yang meningkat pada
saat umur aset semakin tua. Mereka melihat penyusutan
akuntansi sebagai cerminan dari penurunan kondisi fisik atau
kerugian dalam nilai ekonomis. Oleh karena itu mereka
percaya bahwa penyusutan dengan metode garis lurus,
ataupun yang dipercepat, merupakan metode yang paling
menggambarkan kondisi di lapangan. Akibatnya sulit untuk
meyakinkan mereka guna menerima konsep anuitas untuk
mengukur laba unit usaha. Dalam penyusutan anuitas juga
mencerminkan beberapa masalah teknis. Apabila skedul
penyusutan yang didasarkan pada estimasi pola arus kas
menyimpang, meskipun total arus kas mungkin
menghasilkan tingkat pengembalian yang sama, laba yang
diperkirakan akan lebih tinggi pada tahun-tahun tertentu dan
lebih rendah pada tahun-tahun yang lain. Metode ini biasanya
hanya diterima untuk tujuan akuntansi keuangan.
5) Metode Penilaian yang Lain
Dalam metode ini menggunakan nilai buku bersih tetapi
biasanya menetapkan batas bawah 50%, sebagai biaya awal
yang dapat dihapus. Hal ini akan mengurangi distorsi yang
terjadi dalam unit usaha yang memiliki aktiva yang tua.
Namun kesulitan dalam metode ini adalah bahwa suatu unit
usaha dengan aktiva tetap yang memiliki nilai buku bersih di
atas 50% nilai buku kotornya dapat mengurangi dasar
investasi dengan sepenuhnya membuang aktiva-aktiva yang
masih bagus. Perusahaan lain biasanya tidak menggunakan
catatan akuntansi tetapi menggunakan estimasi nilai sekarang
dari aktiva yang diperoleh dengan cara menilai aktiva secara
berkala dengan menyesuaikan biaya awal menggunakan
suatu indeks perubahan pada harga peralatan, atau dengan
menggunakan nilai asuransi.
Permasalahan utama dalam menggunakan nilai-nilai
nonakuntansi adalah bahwa nilai tersebut cenderung subjektif
dibandingkan dengan nilai-nilai akuntansi yang tampak lebih
objektif dan umumnya tidak menimbulkan pertentangan.
Akibatnya data akuntansi memiliki nilai aura realitas bagi
manajemen operasi. Masalah lain yang berkaitan dengan
penggunaan jumlah nonakuntansi dalam sistem internal
adalah bahwa profitabilitas unit usaha tidak akan konsisten
dengan profitabilitas perusahaan yang dilaporkan kepada
para pemegang saham. Meskipun sistem pengendalian
manajemen tidak harus konsisten dengan pelaporan
keuangan eksternal, namun sebenarnya beberapa manajer
memandang pendapatan bersih dalam laporan keuangan
sebagai nama dari permainan. Akibatnya mereka tidak
menyukai sistem internal yang menggunakan metode
berbeda untuk menghitung nilai tanpa mempedulikan
manfaat teoritisnya.
Persolan yang lain dalam menggunakan nilai pasar sekarang
adalah memutuskan bagaimana menentukan nilai ekonomis.
Secara konseptual nilai ekonomis dari sekelompok aktiva
sama dengan nilai sekarang dari arus kas yang dihasilkan
oleh aktiva-aktiva tersebut di masa yang akan datang.
Padahal dalam praktiknya tidak dapat ditentukan, meskipun
terbitan indeks biaya penggantian pabrik dan peralatan dapat
digunakan, sebagian besar indeks harga tidak relevan karena
tidak adanya ruana untuk dampak dari perubahan teknologi.
6) Aset-aset yang Disewagunausahakan
Dalam metode ini perusahaan akan menjual aktiva tetapnya
kemudian menyewagunausahakan aktiva tersebut. Maka
dapat kita lihat dalam laporan laba rugi bahwa laba sebelum
pajak dari unit usaha tersebut akan menurun akibat beban
sewa baru yang lebih tinggi daripada beban penyusutan yang
dihilangkan. Meskipun demikian, EVA-nya akan naik karena
biaya yang lebih tinggi tersebut diimbangi dengan penurunan
beban modal yang dihilangkan. Oleh karena itu manajer unit
usaha lebih terdorong untuk menyewa daripada memiliki
aktiva ketika beban bunga yang terkandung dalam biaya
sewa lebih kecil daripada beban modal yang dikenakan pada
dasar investasi dari unit usaha.
Banyak perjanjian sewa guna usaha merupakan usaha
perjanjian pendanaan yaitu, perjanjian tersebut memberikan
cara alternatif untuk menggunakan aktiva yang seharusnya
didapatkan dari pendanaan dengan utang dan modal. Sewa
guna financial (yaitu sewa guna usaha jangka panjang yang
setara dengan nilai sekarang dari arus beban sewa) adalah
sama dengan utang yang dilaporkan juga dalam neraca.
7) Aktiva yang Menganggur
Jika suatu unit memiliki aktiva yang menganggur (idle asset)
yang dapat digunakan oleh unit lain, maka unit tersebut dapat
diperbolehkan untuk mengeluarkan aktiva tersebut dari dasar
investasinya. Tujuan dari izin ini adalah untuk mendorong
para manajer unit usaha guna melepas aktiva menganggur ke
unit lain yang mungkin memerlukannya. Tetapi jika aktiva
tetap tersebut tidak dapat digunakan oleh unit lain, maka
pemberian izin untuk menjual/mengganti aktiva tersebut
akan menimbulkan tindakan yang disfungsional. Misalnya
hal tersebut akan mendorong manajer unit usaha untuk
menganggurkan aktiva yang tidak menghasilkan tingkat
pengembalian yang sama dengan target laba unit usaha.
8) Aktiva Tidak Berwujud
Beberapa perusahaan cenderung melaksanakan penelitian
dan pengembangan (R&D) yang intensif, sedang lainnya
cenderung fokus pada pemasaran. Dengan menghitung aktiva
semacam ini sebagai investasi jangka panjang, manajer unit
akan memperoleh manfaat jangka pendek yang lebih sedikit
dari pengurangan atas pengeluaran untuk pos tersebut.
Apabila biaya R&D dikapitalisasi, maka setiap pengurangan
satu dolar akan mengurangi aktiva yang digunakan sebesar
satu dolar, sehingga beban modal dapat berkurang sebesar
satu dolar dikalikan biaya modal yang hanya memiliki
dampak positif yang jauh lebih kecil terhadap EVA dalam
perhitungannya.
9) Kewajiban Tidak Lancar
Kadang-kadang suatu unit usaha menerima modal
permanennya dari kumpulan dana korporat. Korporat
memperoleh dana tersebut dari pemberian pinjaman. Bagi
unit usaha jumlah total dari dana tersebut adalah relevan
tetapi tidak dengan sumber daya dari mana dana tersebut
berasal. Sehingga perlu dipisahkan antara perhitungan dana
yang dipinjam dengan perhitungan EVA-nya berdasarkan
aktiva yang diperoleh dari sumber umum korporat.
10) Beban Modal
Kantor pusat korporat menentukan tarif (rate) yang
digunakan untuk menghitung beban modal (capital charge).
Tarif tersebut seharusnya lebih tinggi daripada tarif korporat
untuk pendanaan dengan utang karena dana yang terlibat
merupakan campuran antara utang dan modal berbiaya lebih
tinggi (higher-cost equity). Biasanya tarif tersebut ditetapkan
di bawah estimasi biaya modal perusahaan sehingga EVA
atas rata-rata unit usaha berada di atas nol. Beberapa
perusahaan menggunakan tarif yang lebih rendah untuk
modal kerja daripada untuk aktiva tetap. Ini dapat
mencerminkan penilaian bahwa modal kerja lebih kecil
resikonya daripada aset tetap, karena dananya disalurkan
untuk periode yang lebih pendek. Dalam kasus lain, tarif
yang lebih rendah merupakan cara untuk menkompensasikan
fakta bahwa perusahaan tersebut memasukkan unsur
persediaan dan piutang dalam dasar investasi pada jumlah
kotor.
11) Survei-survei Praktik
Kebanyakan perusahaan memasukkan unsur aktiva tetap ke
dalam dasar investasi pada nilai buku bersih. Perusahaan-
perusahaan tersebut melakukannya karena ini merupakan
jumlah dengan mana aktiva tersebut dicatat dalam laporan
keuangan, dan oleh karenanya sesuai dengan laporan
keuangan tersebut mencerminkan jumlah modal yang
digunakan dalam divisi tersebut. Metode ini memberikan
sinyal yang menyesatkan, tetapi mereka yakin orang-orang
harus memberikan kelonggaran untuk kesalahan tersebut
pada saat menginterpretasikan laporan laba unit usaha dan
bahwa metode alternatif perhitungan dasar investasi tidak
dapat dipercaya karena sangat subjektif. Penolakan terhadap
pendekatan penyusutan anuitas dengan dasar bahwa hal itu
tidak konsisten dengan cara penghitungan penyusutan untuk
tujuan pelaporan keuangan.

C. EVA vs. ROI

Kedua metode ini biasa digunakan oleh perusahaan untuk


mengevaluasi unit-unit usahanya. Masing-masing metode ini juga
mempunyai kelebihan.
Dalam penggunaan ROI, maka perusahaan akan memperoleh tiga
keuntungan, yaitu:
1. ROI merupakan perhitungan yang komprehensif dimana semua
mempengaruhi laporan keuangan tercermin dari rasio ini.
2. ROI mudah dihitung, mudah dipahami, dan sangat berarti dalam
pengertian absolut.
3. ROI merupakan denominator yang dapat diterapkan ke setiap unit
organisasi yang bertanggung jawab terhadap profitabilitas, tanpa
mempedulikan ukuran dan jenis usahanya.
Selain itu data ROI pesaing bersedia sehingga dapat dijadikan
sebagai dasar perbandingan.
Ada beberapa alasan yang membuat EVA lebih unggul daripada
ROI, antara lain:
1. Seluruh unit usaha memiliki sasaran laba yang sama untuk
perbandingan investasi. Sedangkan dalam pendekatan ROI
memberikan insentif yang berbeda untuk investasi di antara unit-
unit usaha.
2. Jika kinerja suatu pusat investasi diukur dengan EVA, maka
investasi-investasi yang menghasilkan laba di atas biaya modal akan
meningkatkan EVA.
Keputusan-keputusan yang meningkatkan ROI suatu pusat investasi
dapat menurunkan laba keseluruhan. Dengan penggunaan EVA
sebagai ukuran berkaitan dengan permasalahan yang berhubungan
dengan investasi aset yang ROI-nya berada di antara biaya modal
dan ROI yang sekarang dicapai oleh pusat investasi tersebut.
3. Tingkat suku bunga yang berbeda dapat digunakan untuk jenis
aktiva yang berbeda pula guna memperhitungkan tingkat resiko yang
berbeda.
Sistem pengendalian manajemen dapat dibuat konsisten dengan
kerangka kerja yang digunakan untuk pengambilan keputusan
mengenai investasi modal dan alokasi sumber daya. Selain itu tanpa
mempedulikan profitabilitas unit usaha tertentu, jenis aktiva yang
sama mungkin diharuskan untuk menghasilkan tingkat
pengembalian yang sama dalam perusahaan.
4. EVA berlawanan dengan ROI.
EVA memiliki korelasi positif yang lebih kuat terhadap perubahan-
perubahan dalam nilai pasar perusahaan. Para pemegang saham
merupakan pemilik kepentingan (stakeholder) yang penting dalam
perusahaan, hal ini dikarenakan beberapa alasan berikut:
a. Mengurangi resiko pengambilalihan (takeover)
b. Menciptakan nilai tukar untuk agresivitas dalam merger dan
akuisisi
c. Mengurangi biaya modal sehingga memungkinkan investasi
yang lebih cepat untuk pertumbuhan masa depan.
Jadi mengoptimalkan nilai pemegang saham merupakan tujuan
penting bagi suatu perusahaan. Tetapi karena pemegang saham
mengukur nilai konsolidasi perusahaan secara keseluruhan, maka
hampir tidak mungkin untuk menggunakannya. Mandat terbaik
untuk nilai pemegang saham pada tingkat unit usaha adalah meminta
para manajer unit usaha untuk menciptakan dan meningkatkan EVA.
Sehingga pendekatan EVA ini mendorong para manajer untuk
meningkatkan EVA dengan cara mengambil tindakan-tindakan yang
konsisten dengan peningkatan nilai pemegang saham. Pengukuran
dalam EVA dengan cara sebagai berikut:
EVA = Laba bersih Beban modal
dengan
Beban modal = Biaya modal x Modal yang digunakan (1)
Cara lain untuk menyatakan persamaan (1) adalah:
EVA = Modal yang digunakan (ROI Biaya modal) (2)
Ada beberapa tindakan yang bisa meningkatkan EVA berdasarkan
kedua persamaan di atas, antara lain:
a. Peningkatan ROI melalui business process reengineering dan
productivity gains, tanpa menaikkan dasar investasi
b. Divestasi aktiva, produk, dan atau bisnis yang ROI-nya kurang
dari biaya modal
c. Investasi agresif yang baru dalam aktiva, produk, dan atau bisnis
yang ROI-nya melebihi biaya modal
d. Peningkatan penjualan, margin laba, atau efisiensi modal (rasio
penjualan terhadap modal yang digunakan), atau penurunan
presentase biaya modal, tanpa mempengaruhi variabel lain dalam
persamaan.
Apabila dianalisis lebih lanjut maka akan kita temukan perbedaan
antara ROI dan EVA. Dalam penggunaan metode ROI terdapat
beberapa unit usaha yang tujuannya tidak konsisten dengan biaya
aktiva lancar perusahaan. EVA akan memperbaiki
ketidakkonsistenan tersebut. Investasi dikalikan dengan tarif yang
tepat, kemudian dikurangkan dari anggaran laba, hasilnya adalah
anggaran EVA. Secara berkala, EVA dihitung dengan
mengurangkan investasi aktual dari laba aktual dan dikalikan dengan
tarif tertentu. EVA memecahkan permasalahan mengenai perbedaan
tujuan laba untuk aktiva berbeda pada unit usaha sama. Metode ini
memungkinkan untuk memasukkan peraturan keputusan yang sama
dengan yang digunakan dalam proses perencanaan ke dalam sistem
pengukuran. Semakin rumit proses perencanaan, maka semakin
rumit juga perhitungan EVA-nya. Aktiva tetap yang dimiliki unit
usaha dapat diklasifikasikan dengan tarif, dan tarif yang berbeda
dapat diterapkan dalam mengukur kinerja. Para manajer mungkin
akan cenderung untuk enggan berinvestasi dalam perbaikan kendali
kerja, ukuran kendali polusi, atau sasaran sosial yang lain jika
mereka melihat hal itu sebagai sesuatu yang tidak menguntungkan.

D. Pertimbangan Tambahan dalam Mengevaluasi Manajer

Dalam penggunaan metode ROI, kesalahan konseptual untuk


evaluasi kinerja adalah nyata dan menyebabkan timbulnya perilaku
disfungsional dari para manajer unit usaha. Tetapi cakupan dari
kesalahan tersebut tidak dapat ditentukan karena hanya sedikit jumlah
manajer yang mau mengakui adanya kesalahan tersebut dan banyak
yang tidak menyadari bahwa kesalahan tersebut terjadi.
Sedangkan penggunaan EVA sebagai perangkat pengukuran
kinerja sangat disarankan. Akan tetapi EVA tidak menyelesaikan
masalah yang berkaitan dengan penghitungan aktiva tetap, seperti yang
telah dibicarakan sebelumnya, kecuali metode penyusutan anuitas
dipergunakan. Jika nilai buku kotor dipergunakan, suatu unit usaha
dapat meningkatkan EVA-nya dengan cara mengambil tindakan yang
bertentangan dengan kepentingan perusahaan. Sedangkan jika metode
nilai buku bersih dipergunakan, maka EVA akan langsung meningkat
karena berlalunya waktu penggunaan dan EVA juga akan tertekan oleh
investasi baru karena tingginya nilai buku bersih pada tahun awal.
Seluruh unit usaha akan termotivasi untuk meningkatkan investasi
jika tingkat pengembalian dari investasi tersebut melebihi tarif yang
ditentukan sistem pengukuran. Beberapa aktiva mungkin akan
dinyatakan terlalu rendah nilainya ketika dikapitalisasi, sejumlah besar
investasi dalam biaya awal. Atas dasar beberapa pertimbangan,
terkadang perusahaan memutuskan untuk mengeluarkan unsur aktiva
tetap dari dasar investasi. Perusahaan hanya membebankan beban bunga
hanya untuk aktiva yang dapat dikendalikan dan mengendalikan aktiva
tetap dengan perangkat terpisah. Aktiva yang dapat dikendalikan pada
dasarnya merupakan modal kerja. Para manajer unit dapat membuat
keputusan sehari-hari yang mempengaruhi aktiva-aktiva tersebut.
Namun apabila keputusan yang dibuat salah, maka dampak yang serius
akan segera timbul. Contoh: jika tingkat persediaan tinggi maka akan
memasukkan pengeluaran yang tidak perlu dan resiko kerusakan akan
meningkat, sebaliknya jika persediaan terlalu rendah maka akan
menyebabkan kekurangan persediaan dan terjadi gangguan produksi.
Investasi dalam aktiva tetap dapat dikendalikan oleh proses anggaran
modal sebelum terjadinya dan oleh audit setelah penyelesaian untuk
menentukan apakah ada arus kas yang diantisipasi terwujud. Hal ini jauh
dari memuaskan karena penghematan atau pendapatan aktual dari
akuisisi aktiva tetap tidak dapat dikendalikan.

E. Mengevaluasi Kinerja Ekonomi suatu Entitas

Laporan-laporan manajemen dibuat bulanan atau kuartalan,


sementara laporan kinerja ekonomi biasanya dibuat dengan selang waktu
yang tidak tetap. Berdasarkan alasan yang telah dinyatakan sebelumnya,
laporan manajemen cenderung menggunakan informs historis atas biaya
aktual yang terjadi, sedangkan laporan ekonomi menggunakan informasi
yang cukup berbeda.
Laporan ekonomi memberikan indikasi apakah strategi unit usaha
yang sekarang sudah memuaskan dan jika tidak, keputusan apa yang
harus diambil. Analisis ekonomi atas suatu unit usaha dapat
memperlihatkan bahwa rencana yang sekarang atas produk atau strategi
baru yang lain, bila dilihat secara keseluruhan tidak akan menghasilkan
laba yang memuaskan di masa depan. Laporan ekonomi juga dapat
dijadikan dasar untuk memperoleh nilai perusahaan secara keseluruhan.
Nilai ini disebut breakup value yaitu estimasi jumlah yang akan diterima
oleh para pemegang saham jika masing-masing unit usaha dijual.
Breakup value bermanfaat bagi organisasi luar yang sedang akan
membuat penawaran pengambilalihan perusahaa, dan laporan ini juga
berguna bagi manajemen dalam menilai suatu tawaran. Laporan ini
menunjukkan unit usaha yang menarik dan dapat mengindikasikan
bahwa manajemen senior salah mengalokasikan waktu mereka yang
terbatas yaitu menghabiskan waktu yang terlalu banyak untuk unit usaha
yang cenderung tidak banyak memberikan kontribusi kepada
profitabilitas total perusahaan.
Jarak antara profitabilitas yang sekarang dengan breakup value
menunjukkan perubahan yang harus dilakukan, dengan kata lain
profitabilitas yang sekarang dapat tertekan oleh adanya biaya yang akan
memperbesar profitabilitas di masa yang akan datang seperti
pengembangan produk baru dan iklan.
Laporan ekonomi lebih terfokus pada profitabilitas di masa depan.
Nilai buku dari aktiva dan penyusutan berdasarkan biaya historis dari
aktiva tersebut digunakan dalam laporan kinerja para manajer, meskipun
keterbatasannya diketahui. Informasi ini tidak relevan untuk laporan
yang memperkirakan masa depan karena dalam laporan ini,
penekanannya adalah pada biaya penggantian. Nilai unit usaha
merupakan hasil dari pendapatan di masa depan. Hal ini dihitung dengan
mengestimasi arus kas untuk setiap tahun di masa depan dan
mendiskontokan setiap arus kas pada tarif laba yang telah ditentukan.
BAB III
PENUTUP

Pusat investasi menimbulkan permasalahan baru mengenai bagaimana


cara mengukur aktiva yang digunakan, bagaimana menilai aktiva tetap dan
lancar, metode penyusutan apa yang akan digunakan untuk aktiva tetap,
aktiva perusahaan mana yang harus dialokasikan, dan kewajiban mana yang
harus dikurangi.
Suatu tujuan penting dari suatu organisasi bisnis adalah untuk
mengoptimalkan tingkat pengembalian atas ekuitas pemegang saham.
Sangat tidak praktis untuk menggunakan pengukuran semacam ini guna
mengevaluasi kinerja para manajer unit usaha per bulanan atau kuartal.
Menghitung tingkat pengembalian adalah pengukuran yang paling baik atas
kinerja para manajer unit usaha. Nilai tambah ekonomis secara konsep lebih
unggul daripada tingkat pengembalian investasi dalam mengevaluasi kinerja
para manajer unit usaha. Ketika menentukan tujuan laba tahunan, harus ada
tarif bunga eksplisit terhadap saldo yang diproyeksikan atas pos modal kerja
yang dapat dikendalikan. Ada perdebatan yang cukup alot mengenai
pendekatan yang tepat bagi manajemen dalam mengendalikan aktiva tetap.