Anda di halaman 1dari 26

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Obat

Obat adalah suatu bahan kimia yang dapat mempengaruhi organisme hidup dan

dipergunakan untuk keperluan diagnosis, pencegahan dan pengobatan suatu penyakit.

Obat adalah suatu bahan kimia tetapi tidak semua bahan kimia adalah obat. Dengan

cara ekstraksi dari beberapa jenis tanaman, biakan mikroorganisme tertentu atau

melalui proses sintentik, banyak bahan kimia yang telah dapat dipakai sebagai obat.

Senyawa-senyawa kimia yang digunakan untuk obat ada yang berkhasiat sebagai

antihipertensi (menurunkan tekanan darah), antihipotensi (menaikkan tekanan darah

yang rendah), analgetik (menekan atau mengurangi rasa sakit tanpa menghilangkan

kesadaran penderita), antipiretik (menurunkan suhu tubuh yang tinggi kembali ke

normal), hipnotik (obat tidur yang dalam dosis pengobatan dapat mempermudah atau

menyebabkan tidur), laksansia (mempercepat atau melancarkan buang air besar),

sedatif (menenangkan pikiran gelisah atau rasa takut), antiinflamasi (melawan atau

mencegah peradangan pada tubuh), diuretika (memperbanyak pengeluaran air seni),

antitusif (meredakan atau menghilangkan batuk), spasmolitik (meredakan kejang-

kejang), antimikotik (menghilangkan atau membunuh jamur yang hidup dipermukaan

kulit) dan lain-lainnya.

2.1.1 Sejarah Obat

Kebanyakan obat yang digunakan dimasa lalu adalah obat yang berasal dari

3
tanaman dengan cara coba-mencoba secara empiris, orang purba mendapatkan

pengalaman dengan berbagai macam daun atau akar tumbuhan untuk mengobati

penyakit. Pengetahuan ini disimpan dan dikembangkan secara turun-temurun sehingga

muncul pengobatan rakyat seperti pengobatan tradisional jamu di Indonesia.

Tidak semua obat dimulai sebagai anti penyakit, adapula yang awalnya

digunakan sebagai kosmetik atau racun untuk membunuh musuh. Misalnya, strychnine

dan kurare mulanya digunakan sebagai racun panah pada penduduk pribumi Afrika dan

Amerika Selatan. Obat kanker nitrogen-mustard juga semula digunakan sebagai gas-

racun pada perang dunia pertama.

Obat alami yang digunakan dari hasil rebusan atau ekstrak dengan aktivitas dan

efek yang sering kali berbeda-beda tergantung dari asal tanaman dan cara

pembuatannya. Kondisi ini dianggap kurang memuaskan sehingga para ahli mulai

mencoba mengisolasi zat-zat aktif yang tergantung didalamnya. Sehingga

menghasilkan serangkaian zat kimia yang terkenal diantaranya yaitu efedrin dari

tanaman Ma Huang, kini dari kulit pohon kina dan masih banyak penemuan-penemuan

zat kimia lainnya.

Seiring perkembangan zaman, dengan semakin berkembangnya ilmu

pengetahuan, lambat laun tradisi konvensional ini mulai ditinggalkan. Cara-cara

sederhana seperti penggunaan bahan bahan alami tanaman dan hewan yang direbus

atau digiling tetap masih dipakai. Salah satu orang yang mulai meneliti kandungan zat

obat dari tanaman adalah Paracelsus (1541-1493 SM) yang telah mencoba membuat

obat-obatan dari bahan hasil penelitiannya. Semakin banyak ilmuan-ilmuan terdahulu

yang bekerja keras dalam hal pengobatan ini, seperti Hippocrates (459-370 SM) yang

4
dikenal sebagai bapak kedokteran pada praktek pengobatannya telah menggunakan

lebih dari 200 jenis tumbuhan. Selain itu, Ibnu Sina (980-1037) juga telah menulis buku

tentang metode pengumpulan dan penyimpanan tumbuhan obat serta cara pembuatan

sediaan obat. Masih banyak ilmuan ilmuan lain seperti Johann Jakob Wepfer (1620-

1695), Oswald Schiedeberg (1838- 1921) yang terus berupaya mengembangkan dan

menemukan obat obat baru. Pada tahun 1804, F.W.Sertuerner (1783- 1841)

mempelopori isolasi zat aktif dan memurnikannya dan secara terpisah dilakukan

sintesis secara kimia. Sejak saat itu mulai berkembang obat sintetik untuk berbagai

jenis penyakit. Saat sekarang bisa kita lihat hasil kerja keras para ilmuan obat obatan

ini dengan banyaknya jenis jenis dan bentuk obat untuk pengobatan berbagai macam

penyakit.

2.1.2 Penggolongan Obat

Penggolongan obatsecara luas dibedakan berdasarkan beberapa hal yaitu :

1. Penggolongan obat berdasarkan jenisnya

2. Penggolongan obat berdasarkan mekanisme kerja obat

3. Penggolongan obat berdasarkan tempat atau lokasi pemakaian

4. Penggolongan obat berdasarkan cara pemakaian

5. Penggolongan obat berdasarkan efek yang ditimbulkan

6. Penggolongan obat berdasarkan daya kerja atau terapi

7. Penggolongan obat berdasarkan asal obat dan cara pembuatannya

2.2 Diabetes

Diabetes Melitus (Berasal dari kata Yunani , diabanein, "tembus" atau

5
"pancuran air", dan mellitus, "rasa manis"). Diabetes mellitus umum dikenal

sebagai kencing manis: Adalah penyakit yang ditandai dengan hiperglikemia

(peningkatan kadar gula darah) yang terus-menerus dan bervariasi, terutama setelah

makan. Diabetes mellitus merupakan kelainan metabolisme yang kronis dan

terjadi karena defisiensi insulin atau resistensi insulin. DM adalah keadaan dimana

tubuh tidak menghasilkan atau memakai insulin sebagaimana mestinya. Manusia perlu

makan. Makanan itu dapat terdiri dari karbohidrat, protein dan lemak. Glukosa adalah

unit satuan karbohidrat yang terkecil. Dalam tubuh manusia, glukosa dipergunakan

untuk membentuk energi. Jika kadar glukosa berlebih maka tugas insulin untuk

menyimpan kelebihan gula dalam darah ke bentuk cadangan di hati, otot dan organ

lainnya.

Insulin adalah hormon yang membawa glukosa darah ke dalam sel-sel, dan

menyimpannya sebagai glikogen. Jika proses diatas berlangsung seimbang, maka

kelebihan glukosa dalam tubuh manusia tidak akan menimbulkan penyakit. Tapi jika

kadar insulin rendah, atau insulin tidak diproduksi maka ini dapat menyebabkan kadar

glukosa menumpuk dalam darah atau yang lebih dikenal dengan Sakit gula.

Kadar glukosa darah yang tinggi mengganggu sirkulasi dan dapat merusak saraf.

Berakibat: nyeri pada tungkai, kebutaan, gagal ginjal dan kematian.

Diabetes mellitus adalah suatu kondisi yang menyebabkan gula darah naik ke

tingkat berbahaya dimana glukosa darah puasa nilainya lebih dari 126 miligram per

desiliter (mg/dL). Sebagian besar makanan yang dimakan akan dicerna tubuh dan

dirubah menjadi glukosa, atau gula yang kemudian akan digunakan tubuh anda untuk

energi. Pankreas, organ didekat lambung, menghasilkan hormon yang disebut insulin.

6
Hormon ini diperlukan jaringan tubuh untuk dapat menggunakan gula atau glukosa

sebagai bahan bakar dasar. Peran Insulin adalah untuk mengambil gula dari darah dan

memasukkannya ke dalam sel. Ketika tubuh tidak memproduksi insulin yang cukup

dan/atau tidak efisien menggunakan insulin yang dihasilkan, kadar gula akan terus

meningkat didalam darah. Ketika hal ini terjadi, muncul dua masalah yaitu:

1. Dalam waktu cepat sel-sel tubuh akan kekurangan energi dan kelaparan karena gula

darah yang dibutuhkan tidak bisa masuk kedalam sel.

2. Seiring waktu, kadar glukosa darah tinggi dapat merusak beragam organ seperti

mata, ginjal, saraf atau jantung.

2.2.1 Jenis Diabetes

Ada dua jenis utama diabetes: diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2. Kedua jenis

diabetes ini dapat diwariskan dalam gen, sehingga riwayat keluarga dengan diabetes

dapat secara signifikan meningkatkan risiko seseorang mengembangkan kondisi

tersebut.

Diabetes tipe 1. Pada diabetes tipe 1, produksi insulin oleh pankreas sedikit atau

tidak ada sama sekali. Tanpa insulin, tubuh tidak mampu untuk mengambil glukosa

dalam darah darah dan memasukkannya kedalam sel untuk bahan bakar tubuh. Orang

dengan diabetes tipe 1 akan terus membutuhkan suntikan insulin seumur hidupnya.

Oleh karena itu, diabetes tipe ini juga disebut sebagai diabetes tergantung (insulin-

dependent diabetes). Diabetes tipe 1 sebelumnya dikenal sebagai juvenile

diabetes karena penyakit ini biasanya terdiagnosa pada anak-anak dan dewasa. Namun,

7
penyakit ini bisa menyerang pada usia berapa pun dan mereka yang memiliki sejarah

keluarga itu sangat beresiko.

Diabetes Tipe 2. Diabetes tipe 2 adalah bentuk paling umum dari diabetes.

Secara historis, diabetes tipe 2 biasanya terdiagnosis pada orang dewasa setengah baya.

Walau demikian dengan pergeseran pola hidup, secara mengkhawatirkan semakin

banyak remaja dan dewasa berpeluang terkena diabetes tipe 2. Hal ini berhubungan

dengan meningkatnya angka kejadian obesitas dan kurangnya aktivitas fisik yang

merupakan faktor risiko diabetes tipe 2.

Diabetes tipe 2 dapat terjadi ketika tubuh sering mengalami kadar gula darah

yang tinggi, misalnya akibat konsumsi makanan berlebih dan kurang berolahraga.

Sebagai respon, pankreas kemudian memproduksi insulin dalam jumlah banyak diluar

kemampuan normalnya untuk menurunkan kadar gula darah. Jika hal tersebut

berlangsung lama, sel-sel tubuh akan mengembangkan resistensi insulin dimana

efektivitas penggunaan insulin menurun dan sel-sel pankreas pun secara bertahap

mengalami kerusakan dan kehilangan kemampuannya untuk memproduksi insulin.

2.2.2 Tanda dan Gejala Diabetes

Berikut gejala diabetes yang khas. Namun, beberapa orang dengan diabetes tipe

2 memiliki gejala sangat ringan sehingga mereka tidak diketahui.

Sering kencing (Toilet)

Sering merasa haus (Thirsty)

Merasa kelapar meskipun anda telah makan

Seringkali merasa kelelahan walau cukup istirahat

8
Pandangan kabur (jika telah timbul komplikasi ke mata)

Berat badan menurun meskipun Anda makan lebih (terjadi karena atrofi otot karena

glukosa yang tidak bisa masuk kedalam otot, umumnya pada tipe 1)

Kesemutan, nyeri, atau mati rasa di tangan / kaki (umumnya pada tipe 2)

2.3 Jenis Obat Antidiabetes

2.3.1 Insulin

Insulin adalah pengobatan yang dilakukan pada penderita untuk pertama kali.

Insulin berperan mengatur metabolisme karbohidrat, lemak dan protein. Insulin

merupakan hormon polipeptida dengan struktur kompleks. Ada perbedaan susunan

asam amino pada insulin hewan, insulin manusia, dan analog insulin manusia. Insulin

dapat diekstraksi dari pankreas babi atau pankreas sapi dan dimurnikan dengan

kristalisasi, tetapi insulin dari pankreas sapi sekarang jarang digunakan. Insulin untuk

manusia dibuat secara biosintetis dengan teknologi rekombinan DNA menggunakan

bakteri atau ragi atau semisintetik dengan modifikasi enzimatik insulin babi.

Semua sediaan insulin umumnya imunogenik pada manusia tetapi resistensi

imunologis terhadap kerja insulin tidak lazim terjadi. Secara teori sediaan insulin yang

sesuai dengan insulin manusia kurang imunogenik, tetapi hal ini tidak terbukti dalam

uji klinik. Insulin dirusak oleh enzim dalam saluran cerna oleh karena itu harus

diberikan melalui injeksi atau inhalasi; rute subkutan memberi hasil yang baik pada

semua kondisi. Insulin biasanya disuntikkan pada lengan atas, paha, glutea atau perut.

Umumnya injeksi subkutan insulin menyebabkan sedikit masalah, bisa terjadi

hipertrofi lemak yang dapat dikurangi dengan menyuntikkan di daerah yang berbeda.

9
Alergi lokal jarang terjadi. Insulin diperlukan oleh semua pasien dengan ketoasidosis

dan biasanya diperlukan oleh pasien dengan:

Gejala-gejala yang muncul cepat

Kehilangan banyak berat badan

Kondisi lemah

Ketonuria

Riwayat keluarga dekat (ayah-ibu) adalah penderita Diabetes Mellitus tipe 1

Jika keadaan memburuk, dapat terjadi muntah dan pasien dapat dengan cepat

mengalami ketoasidosis. Insulin dibutuhkan oleh hampir semua pasien anak penderita

diabetes. Juga dibutuhkan oleh pasien diabetes tipe 2 jika cara lain gagal

mengendalikan DM dan digunakan sementara oleh pasien yang sakit atau akan

menjalani operasi. Wanita hamil dengan diabetes tipe 2 sebaiknya diobati dengan

insulin jika upaya diet ternyata gagal.

Penanganan diabetes dengan insulin. Tujuan pengobatan diabetes adalah

untuk mengatur kadar gula darah tetap baik sehingga membuat pasien nyaman dan

menghindari hipoglikemia, diperlukan kerja sama yang baik antara pasien dan dokter

dalam menurunkan resiko komplikasi diabetes. Kombinasi sediaan insulin mungkin

dibutuhkan dan kombinasi yang tepat harus ditentukan untuk tiap pasien. Untuk pasien

dengan diabetes akut, pengobatan sebaiknya dimulai dengan memberikan

insulin soluble 3 kali sehari dan insulin kerja sedang pada malam hari. Untuk pasien

yang tidak terlalu parah, pengobatan biasanya dimulai dengan campuran insulin kerja

singkat dan sedang (biasanya 30% insulin soluble dan 70% insulin isophane) diberikan

2 kali sehari; 8 unit dua kali sehari untuk pasien rawat jalan. Proporsi sediaan insulin

10
kerja singkat dapat ditingkatkan pada pasien dengan hiperglikemia postprandial yang

berat.

Dosis insulin disesuaikan untuk setiap individu, dengan cara meningkatkan dosis

secara bertahap tetapi dengan tetap menghindarkan terjadinya hipoglikemia. Ada 3

macam sediaan insulin:

1. Insulin kerja singkat (short-acting): mula kerja relatif cepat, yaitu insulin soluble,

insulin lispro dan insulin aspart;

2. Insulin kerja sedang (intermediate-acting): misalnya insulin isophane dan suspensi

insulin seng;

3. Insulin kerja panjang dengan mula kerja lebih lambat: misalnya suspensi insulin

seng.

Lama kerja untuk tiap tipe insulin bervariasi pada tiap individu sehingga perlu dinilai

secara individual.

Contoh dosis insulin yang dianjurkan

Insulin kerja singkat dikombinasi dengan insulin kerja sedang: dua kali sehari

(sebelum makan);

Insulin kerja singkat dikombinasi dengan insulin kerja sedang: sebelum makan pagi

Insulin kerja singkat: sebelum makan malam Insulin kerja sedang: malam sebelum

tidur;

Insulin kerja singkat: 3 kali sehari (sebelum makan pagi, makan siang dan makan

malam) dikombinasi dengan insulin kerja sedang: pada waktu sebelum tidur malam;

Insulin kerja sedang dengan atau tanpa insulin kerja singkat: cukup sekali sehari

sebelum makan pagi atau sebelum tidur malam untuk beberapa pasien dengan

11
diabetes tipe 2 yang memerlukan insulin, kadang-kadang dikombinasi dengan obat

hipoglikemik oral.

Kebutuhan insulin meningkat dengan adanya infeksi, stres, kecelakaan atau

trauma bedah, pubertas dan selama kehamilan trimester 2 dan 3. Kebutuhan mungkin

menurun pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal (lampiran 3) atau gangguan fungsi

hati dan pada beberapa pasien gangguan endokrin (misalnya Addisons disease,

hipopituarism) atau celiac disease. Selama menyusui, dosis insulin perlu disesuaikan,

pada wanita hamil kebutuhan insulin sebaiknya sering dinilai ulang oleh dokter

spesialis endokrinologi yang berpengalaman.

2.3.1.1 Mekanisme Kerja Insulin

Insulin bekerja dengan memudahkan pemasukan glukosa, asam amino dan ion-

ion terutama Ca++ dengan mempengaruhi proses didalam sel. Mekanisme kerjanya

masih belum begitu jelas meskipun diketahui bahwa insulin pada tingkat molekul dapat

berinteraksi dengan reseptor khas pada permukaan membran sel, mengatur sintesis dan

aktivitas beberapa enzim dan merangsang sintesis protein dan ARN pada beberapa

jaringan.

2.3.1.2 Struktur Insulin

Struktur molekul insulin terdiri dari 2 rantai peptida dihubungkan dengan

jembatan/ikatan disulfida. Menghubungkan struktur helix terminal N-C dari rantai

asam amino yang satu (A) dengan struktur sentral helix rantai asam amino lainnya (B).

Rantai A terdiri dari 21 asam amino dan rantai B terdiri dari 30 asam amino. Total

terdapat 51 asam amino.

12
2.3.2 Anti Diabetes Oral

Obat antidiabetes (hipoglikemik) oral adalah senyawa kimia yang dapat

menurunkan kadar gula darah dan diberikan secara oral. Obat antidiabetes juga

merupakan obat yang digunakan untuk mengatur diabetes mellitus, suatu penyakit

dimana terdapat kerusakan sebagian atau keseluruhan dari sel beta pankreas untuk

menghasilkan insulin yang cukup, salah satu hormon yang diperlukan untuk mengatur

kadar glukosa. Dalam beberapa kasus, terdapat beberapa bukti bahwa penyakit ini

disebabkan karena adanya beberapa faktor yang mempengaruhi aktifitas insulin.

Dengan kekurangan insulin, jaringan tubuh tidak mampu menangkap dan

mencerna glukosa yang terdapat dalam sirkulasi darah. Oleh karena itu, glukosa yang

sebagian besar diperoleh dari makanan yang dikonsumsi, dan secara normal dieliminasi

dan disimpan di jaringan, kadarnya meningkat dalam darah dan ginjal tidak mampu

memprosesnya.

Obat antidiabetik oral digunakan untuk pengobatan diabetes melitus tipe 2

(non-insulin dependent diabetes melitus, NIDDM). Obatobat ini hanya digunakan

jika pasien gagal memberikan respon terhadap setidaknya 3 bulan diet rendah

13
karbohidrat dan energi disertai aktivitas fisik yang dianjurkan. Obat tersebut sebaiknya

digunakan untuk meningkatkan efek diet dan aktivitas fisik yang cukup, bukan

menggantikannya.

Pada pasien yang tidak cukup terkontrol dengan diet dan obat hipoglikemik oral,

insulin dapat ditambahkan pada dosis pengobatan atau sebagai pengganti terapi oral.

Jika insulin ditambahkan pada terapi oral, insulin biasanya diberikan pada waktu akan

tidur sebagai insulin isophane; tetapi jika insulin menggantikan obat oral, biasanya

diberikan sebagai injeksi insulin bifasik dua kali sehari (atau insulin isophane dicampur

dengan insulin soluble). Peningkatan berat badan dan dapat menjadi komplikasi terapi

insulin, tetapi peningkatan berat badan mungkin dapat dikurangi jika insulin diberikan

dalam kombinasi dengan metformin.

Antidiabetik oral mungkin berguna untuk yang alergi insulin atau tidak mau

pemakaian suntik. Kemudian akhirnya ditemukan golongan obat OAD, yaitu

Sulfonilurea dan Biguanid. Pemakaian klinis OAD harus didahului dengan

pemeriksaan laboratorium dan penetapan diagnosis. Diabetes pada usia muda,

kehamilan dan diabetes berat disertai komplikasi mutlak memerlukan insulin dan tidak

dapat ditolong dengan OAD. Harus berhati-hati pula, bila penderita mempunyai fungsi

hati yang menurun, infark jantung dan gangguan hormonal lainnya.

2.3.1 Sulfonilurea

Kerja utama sulfonilurea adalah meningkatkan sekresi insulin sehingga efektif

hanya jika masih ada aktivitas sel beta pankreas; pada pemberian jangka lama

sulfonilurea juga memiliki kerja di luar pankreas. Semua golongan sulfonilurea dapat

14
menyebabkan hipoglikemia, tetapi hal ini tidak biasa terjadi dan biasanya menandakan

kelebihan dosis. Hipoglikemia akibat sulfonilurea dapat menetap berjam-jam dan

pasien harus dirawat di rumah sakit.

Sulfonilurea digunakan untuk pasien yang tidak kelebihan berat badan, atau yang

tidak dapat menggunakan metformin. Pemilihan sulfonilurea diantara obat yang ada

ditentukan berdasarkan efek samping dan lama kerja, usia pasien serta fungsi ginjal.

Sulfonilurea kerja lama klorpropamid dan glibenklamid lebih sering menimbulkan

hipoglikemia; oleh karena itu untuk pasien lansia obat tersebut sebaiknya dihindari dan

sebagai alternatif digunakan sulfonilurea kerja singkat, seperti gliklazid atau

tolbutamid. Klorpropamid juga mempunyai efek samping lebih banyak daripada

sulfonilurea lain (lihat keterangan di bawah) sehingga penggunaannya tidak lagi

dianjurkan.

Sulfonilurea dapat menyebabkan gangguan fungsi hati, yang mungkin

menyebabkan jaundice kolestatik, hepatitis dan kegagalan fungsi hati meski jarang.

Dapat terjadi reaksi hipersensitifitas, biasanya pada minggu ke 6-8 terapi, reaksi yang

terjadi berupa alergi kulit yang jarang berkembang menjadi eritema multiforme dan

dermatitis eksfoliatif, demam dan jaundice; jarang dilaporkan fotosensitivitas dengan

klorpropamid dan glipizid. Gangguan darah juga jarang yaitu leukopenia,

trombositopenia, agranulositosis, pansitopenia, anemia hemolitik, dan anemia aplastik.

Contoh beberapa golongan sulfonilurea:

1. Tolbutamid (Rastinon)

15
H3C SO2 NH C NH CH2CH2CH2CH3

Tolbutamide adalah obat yang digunakan dengan pola makan dan olahraga yang

sesuai untuk mengontrol gula darah tinggi pada orang dengan diabetes tipe 2. Obat ini

juga dapat digunakan bersama obat-obatan diabetes lain. Mengontrol gula darah yang

tinggi membantu mencegah kerusakan ginjal, kebutaan, masalah saraf, kehilangan

anggota gerak, dan masalah fungsi seksual. Kontrol diabetes yang sesuai dapat juga

mengurangi risiko Anda terkena serangan jantung atau stroke. Tolbutamide termasuk

dalam kelas obat-obatan yang dikenal sebagai sulfonylureas. Obat ini bekerja dengan

cara menyebabkan pelepasan insulin tubuh alami dan dapat membantu mengembalikan

respon tubuh yang sesuai terhadap insulin.

2. Klorpropamid (Diabenese)

Cl SO2 NH C NH CH2CH2CH3

Chlorpropamide adalah obat diabetes oral yang membantu mengontrol kadar

gula dalam darah. Obat ini membantu pankreas dalam memproduksi insulin. Obat

diabetes lainnya kadang digunakan dalam kombinasi dengan chlorpropamide jika

diperlukan. Tambahan obat ini terhadap diet yaitu untuk menurunkan gula darah pada

pasien yang menderita NIDDM (diabetes melitus yang tidak bergantung pada insulin)

yang hiperglikemianya tidak dapat dikontrol dengan diet saja.

3. Glikasid (Diamieron, Glikamel)

16
Gliclazide adalah obat anti diabetes mellitus tipe 2 yang termasuk ke dalam

golongan sulfonilurea. Obat ini juga bermanfaat untuk mencegah penumpukan lemak

di arteri. Gliclazide menurunkan kadar gula darah dengan cara mengikat secara selektif

reseptor sulfonilurea (SUR 1) pada permukaan sel beta pankreas. Mekanisme ini

membuat gliclazide mampu memblokir sebagian potassium chanels antara sel-sel beta

dari pulau langerhans pada organ pankreas. Dengan menghalangi potassium channels,

sel mengalami depolarisasi yang menyebabkan pembukaan voltage-gated calcium

channels. masuknya kalsium mendorong pelepasan insulin dari sel beta. Seperti

sulfonilurea lainnya, Gliclazide juga menyebabkan penurunan serum glukagon dan

mempotensiasi aksi insulin pada jaringan ekstra pankreatik. Kegunaan gliclazide

adalah untuk pengobatan diabetes mellitus tipe 2 pada orang dewasa jika diet, latihan

fisik dan penurunan berat badan saja tidak cukup mampu mengontrol kadar gula darah

seperti yang diinginkan.

4. Glibenklamid (gliburil, Daonil, Eugleuon, Renabetik)

Glibenklamid adalah turunan sulfonylurea yang mempunyai efek antidiabetes

cukup kuat. Glibenkamid adalah obat yang digunakan pada pasien diabetes tipe 2 untuk

17
mengendalikan kadar gula (glukosa) darah yang tinggi. Pada diabetes tipe 2, tubuh

tidak bisa berfungsi dengan baik dalam menyimpan gula berlebih yang ada di aliran

darah. Glibenkamid menurunkan kadar gula darah dengan cara merangsang tubuh

untuk mengeluarkan lebih banyak insulin. Hormon inilah yang membantu

mengendalikan kadar gula di dalam darah agar tidak terlalu tinggi. Kondisi pada saat

tubuh tidak bisa cukup menghasilkan insulin atau tidak mampu menggunakan insulin

dengan baik disebut diabetes.

Kadar gula yang terlalu tinggi bisa menyebabkan kerusakan ginjal, kebutaan,

gangguan saraf, amputasi, atau gangguan gairah seksual. Bahkan, risiko serangan

jantung dan stroke juga meningkat jika diabetes tidak ditangani dengan baik. Sebagian

orang yang memiliki kadar gula darah tinggi bisa mengendalikannya dengan cara

mengubah menu makanan mereka. Tapi pada sebagian orang lainnya, obat antidiabetes

seperti glibenkamid dibutuhkan untuk mengatur kadar gula darah.

5. Glipizid (Minidiab)

Glipizid merupakan turunan sulfonylurea dengan efek antidiabetes yang kuat

dicapai 30 menit setelah cepat dalam saluran cerna, kadar obat dalam darah

maksimum dicapai 30 menit setelah pemberian oral.

6. Glikuidon (Glurenorm)

Glikuidon merupakan turunan sulfonylurea dengan efek antidiabetes cukup kuat.

Aktivitasnya kurang lebih 3 kali lebih besar dibanding tolbutamid.

18
2.3.1.1 Struktur Molekul

Struktur utama sulfonilurea yaitu:

R SO2 NH C NH R'

2.3.1.2 Mekanisme Kerja dan Target Molekuler Obat

Mekanisme kerjanya yaitu untuk turunan sulfonilurea dapat merangsang

pengeluaran insulin dari sel -islet pankreatik, menurunkan pemasukan insulin

endogen ke hati dan menekan secara langsung pengeluaran glukagon.

2.3.1.3 Hubungan Struktur dan Aktivitas Obat

R SO2 NH C NH R'

R= gugus alifatik (asetil, amino, kloro, metil, metiltio dan triofluorometil) akan

berpengaruh terhadap massa kerja obat dan meningkatkan aktivitas hipoglikemik. Bila

R adalah gugus -aril karboamidoetil (Ar-CONH-CH2-CH2-) seperti pada

glibenklamid dan glipizid, senyawa mempunyai aktivitas lebih besar dibandingkan

senyawa awal. Ini merupakan antidiabetes oral generasi kedua. Diduga hal ini

disebabkan oleh fungsi jarak khas antara atom N substituen dengan atom N

sulfonamide sehingga interaksi obat reseptor lebih serasi.

R= gugus alifatik lain yang berpengaruh terhadap sikap lipofil senyawa.

R= metil, senyawa relatif tidak aktif

19
R= etil, senyawa aktivitasnya lemah dan bila senyawa mengandung 3-6 atom C,

aktivitasnya maksimal. Aktivitas senyawa hilang bila mengandung atom C = 12 atau

lebih.

R dapat pula berupa gugus alisiklik atau cincin heterosiklik yang terdiri dari 5-7

atom. Bila berupa gugus aril, senyawa menimbulkan toksisitas cukup besar. Beberapa

gugus atau atom pada struktur umum dapat diganti dengan gugus atau atom

isosteriknya.

2.3.2 Biguanid

Turunan biguanida dahulu banyak digunakan sebagai antidiabetes namun karena

menimbulkan efek samping yang cukup serius yaitu asidosis laktat maka sejak tahun

1977 ditarik dari peredaran. Metformin satu-satunya golongan biguanid yang tersedia,

mempunyai mekanisme kerja yang berbeda dengan sulfonilurea, keduanya tidak dapat

dipertukarkan. Efek utamanya adalah menurunkan glukoneogenesis dan meningkatkan

penggunaan glukosa di jaringan. Karena kerjanya hanya bila ada insulin endogen, maka

hanya efektif bila masih ada fungsi sebagian sel islet pankreas. Metformin merupakan

obat pilihan pertama pasien dengan berat badan berlebih dimana diet ketat gagal untuk

mengendalikan diabetes, jika sesuai bisa juga digunakan sebagai pilihan pada pasien

dengan berat badan normal. Juga digunakan untuk diabetes yang tidak dapat

dikendalikan dengan terapi sulfonilurea.

2.3.2.1 Struktur Molekul

Struktur molekul dari biguanida yaitu:

20
NH NH
H
R CH2 N C N C NH2

R'

2.3.2.2 Mekanisme Kerja dan Target Molekuler Obat

Mekanisme kerja obat golongan biguanid ini ialah menurunkan produksi glukosa

di hati dan memperbaiki ambilan glukosa di jaringan perifer. Obat ini juga dapat

membantu menurunkan berat badan, memperbaiki profil lemak (lipid), serta

menstabilkan kadar gluksoa saat puasa.

2.3.2.3 Hubungan Struktur dan Aktivitas Obat

Metformin memiliki subsituen 2 metil memberikan lipofilitas lebih rendah

daripada rantai sisi feniletil di phenformin, sehingga metformin memiliki sifat yang

kurang non polar dibanding phenformin. Pada phenformin memiliki 10 atom karbon

yang mengikat fenil dan etil. Buformin memiliki 6 atom carbon dan mengikat metil

dan etil. Metformin memiliki 4 atom karbon dan mengikat 2 metil. Bila diurutkan mulai

dari senyawa polar hingga non polar, yaitu metformin, buformin dan phenformin.

2.3.3 Inhibitor-Glukosidase

Arcabose merupakan salah satu obat yang dapat menghambat alfa-glukosidase,

yaitu memperlambat penyerapan gula di usus. Meskipun memperlambat penyerapan

gula di usus namun obat ini tidak mempengaruhi ambilan glukosa maupun sekresi

insulin. Biasanya obat ini diberikan setelah makan. Efek samping yang timbul akibat

penggunaan obat ini adalah mengakibatkan diare, tinja yang dikeluarkan lembek, perut

kembung dan kentut.

21
2.3.3.1 Struktur Molekul

Salah satu struktur molekul dari golongan inhibitor -Glukosidase yaitu:

2.3.3.2 Mekanisme Kerja dan Target Molekuler Obat

Senyawa-senyawa inhibitor Glukosidase berkerja menghambat enzim alfa

glukosidase yang terdapat pada dinding usus halus. Enzim-enzim Glukosidase

(Maltase, Isomaltase, glukomaltase dan sukrase) berfungsi untuk menghidrolisis

oligosakarida, pada dinding usus halus. Inhibisi kerja enzim ini secara efektif dapat

pencernaan karbohidrat kompleks absorpsinya, sehingga dapat mengurangi

peningkatan kadar glukosa post prandial pada penderita diabetes.

2.3.3.3 Hubungan Struktur dan Aktivitas Obat

Secara struktural miglitol berbeda dengan acarbose miglitol 6 kali lebih kuat

dalam menghambatsucrase.Meskipun afinitas ikatan kedua senyawa tersebut berbeda,

sasaran dari baik acarbose maupun miglitol adalah -glukosidase : sucrose, maltase,

glycoamylase, dextranase, dan isomaltase (hanya miglitol) dan memiliki sedikit efek

pada amylase- (hanya acarbose) atau pada glukosidase b (hanya miglitol), yang

22
memecah gula yang pada posisi beta seperti seperti laktosa. Miglitol lebih kuat dari

acarbose karena adanya p-nitrofenil Dglukopiranosida menjadi paranitrofenol yang

berwarna kuning dari glukosa sehingga meningkatkan kerja miglitol sebagai

inhibitor -glukosidasedan pada glukosidase b pada berbagai enzim seperti yang

telah dijelaskan diatas. Sedangkan pada acarbose tidak terdapat paranitrofenol, namun

hanya terdapat banyak gugus OH pada hampir tiap atom C sehingga acarbose lebih

hanya pada sasaran minimal terhadap enzim amylase-..Berdasarkan kepolarannya

acarbose lebih polar dari miglitol sehinga acarbose memiliki masa kerja obat leih cepat.

2.4 Hipertensi

Hipertensi adalah suatu keadaan medis di mana terjadi peningkatan tekanan

darah melebihi normal (tekanan sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan diastolik

lebih besar dari 90 mmHg).

Tujuan pengobatan hipertensi adalah untuk mencegah terjadinya morbiditas

dan mortalitas akibat TD tinggi. Ini berarti TD harus diturunkan serendah mungkin

yang tidak mengganggu fungsi ginjal, otak, jantung, maupun kualitas hidup, sambil

dilakukan pengendalian faktor-faktor resiko kardio vascular lainnya.

2.5 Anti Hipertensi

Obat antihipertensi adalah obat yang digunakan untuk menurunkan tekanan

darah tingggi hingga mencapai tekanan darah normal. Dikenal lima kelompok obat lini

pertama (first line drug) yang digunakan untuk pengobatan awal hipertensi yaitu :

diuretik, penyekat reseptor beta adrenergik (-blocker), penghambat angiotensin

23
converting enzyme (ACE-inhibitor), penghambat reseptor angiotensin (Angiotensin-

receptor blocker, ARB), dan antagonis kalsium.

2.5.1 DIURETIK

Mekanisme kerja : Diuretik menurunkan tekanan darah dengan menghancurkan

garam yang tersimpan di alam tubuh. Pengaruhnya ada dua tahap yaitu :

(1) Pengurangan dari volume darah total dan curah jantung; yang menyebabkan

meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer;

(2) Ketika curah jantung kembali ke ambang normal, resistensi pembuluh darah perifer

juga berkurang.

Contoh antihipertensi dari golongan ini adalah Bumetanide, Furosemide,

Hydrochlorothiazide, Triamterene, Amiloride, Chlorothiazide, Chlorthaldion.

Furosemide

Nama paten : Cetasix, farsix, furostic, impungsn, kutrix, Lasix, salurix,

uresix.

Nama IUPAC : 4-chloro-2-[(furan-2-ylmethyl)amino]-5-

sulfamoylbenzoic acid

Rumus kimia Formula Molekul : C12H11ClN2O

24
Sediaan obat : Tablet, Kapsul, injeksi.

Mekanisme kerja : Obat furosemide adalah obat yang dibuat dari

turunan asam antranilat. Obat Furosemid bekerja pada glomerulus ginjal untuk

menghambat penyerapan kembali zat natrium oleh sel tubulus ginjal. Furosemid akan

meningkatkan pengeluaran air, natrium, klorida, dan kalium tanpa mempengaruhi

tekanan darah normal. Setelah pemakaian oral furosemid akan diabsorpsi sebagian

secara cepat dengan awal kerja obat terjadi dalam sampai 1 jam, dengan lama kerja

yang pendek berkisar 6 sampai 8 jam, kemudian akan diekskresikan bersama dengan

urin dan feses. Dengan cara kerjanya tersebut obat furosemid dapat digunakan untuk

membuang cairan yang berlebihan dari di dalam tubuh

2.5.2 PENYEKAT RESEPTOR BETA ADRENERGIK (-Blocker)

Berbagai mekanisme penurunan tekanan darah akibat pemberian -blocker

dapat dikaitkan dengan hambatan reseptor 1, antara lain :

(1) penurunan frekuensi denyut jantung dan kontraktilitas miokard sehingga

menurunkan curah jantung;

(2) hambatan sekresi renin di sel jukstaglomeruler ginjal dengan akibat penurunan

Angiotensin II;

(3) efek sentral yang mempengaruhi aktivitas saraf simpatis, perubahan pada

sensitivitas baroresptor, perubahan neuron adrenergik perifer dan peningkatan

biosentesis prostasiklin. Contoh antihipertensi dari golongan ini adalah Metoprolol,

Atenolol, Betaxolol, Bisoprolol, Pindolol, Acebutolol, Penbutolol, Labetalol.

Metoprolol

25
Nama paten : Cardiocel, Lopresor, Seloken, Selozok

Sediaan obat : Tablet

Mekanisme kerja : bekerja dengan memengaruhi respons saraf-saraf organ tubuh,

terutama jantung. Proses tersebut akan membantu memperlambat frekuensi detak

jantung, mengurangi tekanan pada jantung, serta menurunkan tekanan darah.

Indikasi : hipertensi, miokard infard, angina pectoris

Kontraindikasi : bradikardia sinus, blok jantung tingkat II dan III, syok kardiogenik,

gagal jantung tersembunyi

Efek samping : lesu, kaki dan tangan dingin, insomnia, mimpi buruk, diare

2.5.3 PENGHAMBAT ANGIOTENSIN CONVERTING ENZYME (ACE-

Inhibitor)

Mekanisme kerja : secara langsung menghambat pembentukan Angiotensin II

dan pada saat yang bersamaan meningkatkan jumlah bradikinin. Hasilnya berupa

vasokonstriksi yang berkurang, berkurangnya natrium dan retensi air, dan

meningkatkan vasodilatasi (melalui bradikinin). Contoh antihipertensi dari golongan

ini adalah Kaptopril, Enalapril, Benazepril, Fosinopril, Moexipril, Quianapril,

Lisinopril.

Lisinopril

Nama paten : Zestril

26
Rumus molekul C21H35N3O7

Sediaan obat : Tablet

Mekanisme kerja : Lisinopril adalah salah satu obat antihipertensi golongan

Angiotensin Converting Enzyme (ACE) inhibitor yang berkerja dengan cara

menghambat perubahan angiotensin I menjadi Angiotensin II. Lisinopril mengatur

mekanisme fisiologik yang spesifik yaitu pada sistem renin angiotensin aldosteron.

Awal kerja Lisinopril di dapat setelah 2 jam setelah meminum obat tersebut/peroral,

dan efek maksimal dicapai setelah 7 jam. Dari penelitian diketahui penghentian

penggunaan lisinopril tidak serta merta akan membuat peningkatan tekanan darah.

Lisinopril dapat juga mengurangi kemungkinan timbulnya hipokalemia dan

hiperuresemia akibat penggunaan tiazid. Sediaan paling umum dari lisinopril adalah

tablet 5 mg dan 10 mg

2.5.4 PENGHAMBAT RESEPTOR ANGIOTENSIN

Mekanisme kerja : inhibitor kompetitif dari resptor Angiotensin II (tipe 1).

Pengaruhnya lebih spesifik pada Angiotensin II dan mengurangi atau sama sekali tidak

ada produksi ataupun metabolisme bradikinin. Contoh antihipertensi dari golongan ini

adalah Losartan, Valsartan, Candesartan, Irbesartan, Telmisartan, Eprosartan,

Zolosartan.

2.5.5 ANTAGONIS KALSIUM

Mekanisme kerja : antagonis kalsium menghambat influks kalsium pada sel otot

polos pembuluh darah dan miokard. Di pembuluh darah, antagonis kalsium terutama

menimbulkan relaksasi arteriol, sedangkan vena kurang dipengaruhi. Penurunan

27
resistensi perifer ini sering diikuti efek takikardia dan vasokonstriksi, terutama bila

menggunakan golongan obat dihidropirin (Nifedipine). Sedangkan Diltiazem dan

Veparamil tidak menimbulkan takikardia karena efek kronotropik negatif langsung

pada jantung.19 Contoh antihipertensi dari golongan ini adalah Amlodipine, Diltiazem,

Verapamil, Nifedipine.18,19

28