Anda di halaman 1dari 8

Prediabetes dan Radikal Bebas

Radikal bebas atau ROS (Reactive Oxygen Species) didefinisikan sebagai atom
atau molekul yang memiliki elektron tidak berpasangan. Radikal bebas sangat
reaktif dan memiliki paruh waktu yang sangat pendek. Radikal bebas bereaksi
dengan molekul di sekitarnya untuk mencapai kestabilan. Reaksi ini
berlangsung terus menerus di dalam tubuh, dan apabila tidak di inaktivasi,
reaksinya dapat merusak seluruh molekul seluler, termasuk struktur
karbohidrat, protein, lemak termasuk asam nukleat (Winarsih, 2007).
Rangkaian peristiwa radikal bebas tersebut juga terjadi pada prediabetes.
Telah disebutkan sebelumnya bahwa pada prediabetes telah ditemui juga
kondisi penyakit mikrovaskular (diabetes nefropati, retinopati, dan neuropati)
(Franz,2012). Hal itu menunjukkan bahwa pada kondisi prediabetes juga telah
mengalami kerusakan sel beta pancreas akibat stress oksidatif, munculnya
marker IL-1 dan NF-kB (Suyono,2011).
Stres oksidatif terjadi akibat ketidakseimbangan antara radikal bebas yang
dihasilkan dengan sistem pertahanan terhadap radikal bebas sehingga radikal
bebas cenderung meningkat. Proses terjadinya radikal bebas melalui
diantaranya protein glikosilasi, auto-oksidasi glukosa, gangguan metabolisme
glutation, penurunan enzim antioksidan, formasi lipid peroksidase, penurunan
kadar asam askorbat, serta kegagalan memperbaiki kerusakan oksidatif
(Litchford,2012).
Evans, Joseph L., et al. "Are Oxidative Stress Activated Signaling Pathways Mediators of Insulin Resistance
and -Cell Dysfunction?." Diabetes 52.1 (2003): 1-8.

Radikal bebas terbentuk secara tidak proporsional pada penderita prediabetes


oleh proses autooksidasi glukosa dan glikasi non enzimatik protein yang
menghasilkan Advanced Glycation End-Products (AGEs). Peningkatan
peroksidasi lipid dan kerusakan makroseluler organel sel disebabkan oleh
peningkatan radikal bebas. Dalam hal ini diduga ada peran kuat Asam Lemak
Bebas (Free Fatty Acid) sehingga memicu radikal bebas semakin bertambah.
Peningkatan peroksidasi lipid merusak membrane sel dengan menurunkan
fluiditas membaran dan mengubah aktivitas enzim yang terkait dengan
membrane dan reseptor. Peningkatan peroksidasi lipid ini yang diduga memicu
terjadinya aterosklerosis pada penderita prediabetes yang menjadi DM tipe II
(Mousa,2008). Glukosa dapat teroksidasi sebelum dan sesudah berikatan dengan
protein dan menghasilkan ROS. Kombinasi glikasi dan oksidasi glukosa
menghasilkan pembentukan AGEs. Berbagai sel seperti makrofag, monosit dan
endotel mampu mengenal AGEs melalui RAGE (receptor for AGE). Paparan AGE
terhadap RAGE dapat mengaktifkan faktor transkripsi NF-kB dan menurunkan
Gluthation (Evans,2003).

Peran Antioksidan terhadap Prediabetes


Antioksidan memiliki fungsi sebagai penangkap radikal bebas di dalam tubuh
serta berperan penting dalam mempengaruhi kadar glukosa darah. Kadar
glukosa darah yang tinggi diduga berperan dalam kejadian kerusakan jaringan
serta pembentukan radikal bebas. Hiperglikemia menyebabkan autooksidasi
glukosa yang mempercepat pembentukan senyawa oksigen reaktif. Hasil dari
autooksidasi glukosa berupa senyawa superoksida disertai kerusakan pada
enzim superoksida dismutase (Setiawan, 2005).
www.redlabs.be
Antioksidan berperan memutuskan rantai radikal bebas dengan
menyeimbangkan gugus hidroksil sehingga radikal bebas berubah menjadi
produk stabil. Antioksidan merupakan senyawa yang memiliki kemampuan
memperlambat atau mencegah proses oksidasi dengan mendonorkan
elektronnya ke radikal bebas sehingga tidak merusak sel atau jaringan lain.
Pertahanan radikal bebas di dalam tubuh berlangsung secara enzimatis dan non
enzimatis. Pertahanan dari radikal bebas secara enzimatis adalah disebabkan
oleh adanya enzim Super-Oxyde Dismutase (SOD), Gluttathione Peroxydase
(GPx) dan Catalase (CAT) (Moussa,2008). Pertahanan ini disebut dengan
antioksidan primer (Winarsi,2007).
Pertahanan radikal bebas dengan antioksidan primer dipengaruhi oleh faktor
asupan zat gizi mikro yaitu Cu (Tembaga), Zn (Seng), Mn (Mangan), dan Fe
(Besi).

antioxidantsgroup.wordpress.com
Keempat mikronuteient ini penting sebagai kofaktor SOD dalam menjalankan
tugasnya. GPx merupakan enzim pendukung aktivitas enzim SOD bersama enzim
katalase dalam mempertahankan konsentrasi oksigen agar stabil dan tidak
berubah menjadi pro-oksidan.
Selain antioksidan primer, terdapat juga antioksidan sekunder, dan tersier.
Antioksidan sekunder merupakan antioksidan dengan fungsi menangkap radikal
bebas (radical scavenger) dan mencegah reaksi berantai. Contoh antioksidan
sekunder adalah vitamin A,C,E dan beta karoten. Antioksidan tersier
merupakan antioksidan yang berfungsi memperbaiki sel rusak akibat radikal
bebas, contohnya sulfoksida reduktase (Winarsi,2007).
Hiperglikemia pada prediabetes ini menyebabkan peningkatan stress oksidatif
dan penurunan antioksidan endogen (yang diproduksi tubuh), oleh sebab itu
tubuh memerlukan antioksidan eksogen. Antioksidan eksogen dapat diperoleh
dengan meningkatkan asupan antioksidan seperti vitamin A, beta karoten,
vitamin C, vitamin E, polifenol (flavonoid, isoflavon dan oleoresin). Asupan
antioksidan merupakan proteksi terhadap progresivitas prediabetes dengan
menghambat reaksi peroksidasi yang merusak sel beta pancreas (Pramitasari,
2010).
Kandungan antioksidan alami yang ada di dalam kedelai dan jahe berupa
senyawa polifenol (flavonoid dan fenol) (Lacroix et al, 2014). Beberapa
penelitian menunjukkan pemberian antioksidan dari jahe maupun kedelai
mampu menstabilkan reaksi radikal bebas dan bersifat preventif pada organ
hati (Pramitasari, 2010).

Pengukuran Aktivitas Antioksidan Pangan


Metode untuk identifikasi aktivitas antioksidan pada pangan adalah metode
DPPH (1-1-diphenyl-2-picrylhydrazyl), metode ABTS (2,2 aziobis 3-
etilbenzothiazoline-6-asam sulfonat) dan metode Tiosianat. Metode DPPH dan
ABTS dilakukan dengan mekanisme penyerapan spektrum, yang akan stabil
pada radikal bebas ketika telah menerima elektron dari antioksidan. Metode
tiosianat berdasarkan kemampuan senyawa radikal bebas reaktif dengan cara
melihat jumlah peroksida yang terbentuk pada emulsi selama inkubasi sel yang
diukur menggunakan spektofotometri. Spektofotometri digunakan untuk
mengukur tingkat absorbansi peroksida pada panjang gelombang 500 nm.
Semakin tinggi nilai absorbansi semakin tinggi konsentrasi peroksida (Kuncahyo
et al,2007;Molyneux,2004). Metode DPPH merupakan metode paling efektif
dibanding metode ABTS dan Tiosianat. Metode DPPH lebih mudah, sederhana,
cepat, dan hanya memerlukan jumlah sampel sedikit dalam waktu yang
singkat. DPPH merupakan radikal bebas yang stabil pada suhu kamar, dan
sering digunakan untuk pengujian aktivitas antioksidan beberapa senyawa atau
ekstrak bahan alami. Radikal DPPH yang mengandung electron bebas
memberikan serapan yang kuat pada panjang gelombang maksimum 515,5 nm
dan berwarna ungu. Ketika larutan DPPH dicampurkan dengan zat antioksidan,
maka zat antioksidan akan mendonorkan elektronnya pada DPPH. Radikal bebas
DPPH yang telah berpasangan ditandai dengan perubahan warna larutan dari
ungu menjadi kuning pucat. Perubahan warna yang terjadi dapat diukur secara
stoikiometri sesuai jumlah electron atau atom hydrogen yang diambil oleh
molekul DPPH menjadi DPPH-H (Kuncahyo et al,2007; Molyneux,2004).

Pustaka:
Ali BH, G. Blunden, MO Tanira and A. Nemmar. 2008. Some phytochemical,
pharmacological and toxicological properties of ginger (Zingiber officinale
Roscoe): A review of recent research. Food and Chemical Toxicology; 46 : 409
420.

Asif M, Acharya M. 2013. Phytochemicals and nutritional health benefits of soy


plant. Int J Nutr Pharmacol Neurol Dis;3:64-9.

Asman Manaf. 2010. Prediabetes. Available at :


repository.unand.ac.id/89/1/Pre_Diabetes.pdf.

Evans JL, Goldfine ID, Maddux BA, Grodsky GM. 2003. Perspective in Diiabetes :
Are Oxidative Stress-Activated Signaling Pathways Mediators of Insulin
Resistance and -Cell Dysfuction?. Diabetes 52 : 1 - 8

Food and Drug Administration. 2013. Guiandce for industry: A food labeling
guide (11. Appendix C: Health claim). US Departemen of Healty Service;.
Available at: www.fda.gov

Franz J. Marion. 2012. Medical nutrion therapy for diabetes mellitus and
hypogicemia of nondiabetic origin. In: Mahan LK, Selvia, Reymond LJ. Krauses
food and nutrition process care. 13th ed. United State America : Elsivier
Sauders;p.676-708.
Kuncahyo, Ilham dan Sunardi. 2007. Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Blimbing
Wuluh (Averrhoa bilimbi, L.) Terhadap 1,1-Diphenyl-2-2 Picrylhidrazyl (DPPH).
Universitas Setia Budi.

Lacroix ME, Eunice C.Y. 2014. Overview of food products and dietary
constituents with antidiabetic properties and their putative mechanism of
action: A natural approach to complement pharmacotherapy in the
management of diabetes. Mol. Nutr. Food Res., 58, 6178.

Molyneux,P. 2004. The use of stable free radical diphenylpicryl-hydrazyl (DPPH)


for estimating antioxidant activity. Songklanakrin J. Sci. Technol. 26 : 211-219.

Moussa, SA. 2008. Oxidative Stress in Diabetes Mellitus. Romanian J. Biophsy.


18(3): 225 236.

Newsholme Philips, Lorraine Brennan, and Katrin Bender. 2006. Amino acid
metabolism, -cell fungtion, and diabetes. American Diabetes
Association;Vol.55(2); 39-47.

Oh Susan, Rita Rastogi K, and Adrian Dobs. 2014. Nutritional management of


diabetes mellitus. In: Ross A. Catherine, Benjamin Caballero, Robert J,
Katherine LT, and Thomas RZ (editor). Modern nutrition in health and
disease.11th ed. New York : Lippincott Williams and Wilkins;.p.808-824.

Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. 2011. Konsensus pengelolaan dan


pencegahan diabetes melitus tipe 2 di Indonesia 2011. Jakarta: PB. PERKENI;.p.
30-62.

Pramitasari Dika, Baskoro KA, Gusti Fuza. 2010. Penambahan ekstrak jahe
(Zingeberne officinale rocs.) dalam pembuatan susu kedelai bubuk instan
dengan metode spray drying: komposisi kimia, sifat sensori dan aktivitas
antioksiand [skripsi]. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

Randox. 2009. Total Antioxidant Status (TAS). UK : Randox Lab Limited.

Setiawan Bambang, Eko Suharto. Stres oksidatif dan peran antioksiand pada
diabetes melitus. Maj Kedokteran, Vol:55, Nomor:2, 2005: 86-90.

Soewondo P and Pramono LA. 2011. Prevalence, characteristics, and predictors


of prediabetes in Indonesia. Med J Indonesia.;20(4): 283-94.

Sukardji, Kartini. 2011. Penatalaksanaan Gizi pada Diabetes Mellitus. Dalam :


Sidartawan S, Pradana S, Imam S, editor. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus.
Jakarta : Badan Penerbit FKUI. H.47-53.

Winarsi, Heri. 2007. Antioksidan Alami dan Radikal. Yogyakarta : Kanisius

Winarsi, Heri. 2010. Protein kedelai dan kecambah manfaatnya bagi kesehatan.
Yogyakarta:Kanisus;.p. 5-80

Yang Bin, et al. 2011. Systematic review and meta-analysis of soy products
consumtion in patients with type 2 diabetes mellitus. Asia Pac J Clin Nutr; 20
(4):593-602

Yunir Em, Suharko Soebardi. 2006. Terapi non farmakologis pada diabetes
melitus. In: Sudoyo Aru W, Bambang Setiyohadi, Idrus Alwi (editor).Buku ajar
ilmu penyakit dalam Jilid III. edisi IV. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran, Universitas Indonesia;.p.1864-67.