Anda di halaman 1dari 11

ANALISIS KEBIJAKAN KESEHATAN TENTANG GERAKAN

SAYANG IBU (GSI) SEBAGAI UPAYA DALAM MENURUNKAN


ANGKA KEMATIAN IBU (AKI)

Disusun untuk Memenuhi Tugas

Mata Kuliah: Kebijakan Pelayanan Kesehatan

Disusun oleh:

Reza Indra Wiguna NIM : 22020116410022


Siti Munawaroh NIM : 22020116410030
Ita Apriliyani NIM : 22020116410046
Arni Nur Rahmawati NIM : 22020116410049
Nur Ayun R. Yusuf NIM : 22020116410055

PROGRAM MAGISTER KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2017
Analisis Kebijakan Kesehatan tentang Gerakan
Sayang ibu sebagai Upaya dalam Menurunkan
Angka Kematian Ibu (AKI)

A. Latar Belakang
Permasalahan kesehatan ibu dan anak serta kesehatan reproduksi masih
menjadi fokus penting dalam kesehatan. Berdasarkan data dari A Global
Burden (2013), terjadi penurunan kematian ibu hamil sebesar 80%, yang
tergolong dalam penyebab kematian ibu secara langsung disebabkan karena
perdarahan (25%) biasanya perdarahan pasca persalinan, hipertensi (12%),
partus macet (8%), aborsi (13%), dan sebab lainnya (7%).
World Health Organization (WHO) menyatakan sekitar 830 perempuan
meninggal karena komplikasi kehamilan dan kelahiran anak. Dari 830
kematian ibu, 550 terjadi di Afrika, 180 di Asia Selatan dan sisanya terjadi di
negara maju. Risiko ini 33 kali lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang
tinggal di negara maju dan hampir semua kematian terjadi dikarenakan
sumber daya rendah yang sebagian besar dapat dicegah. Angka Kematian Ibu
(AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan dua indikator penting
keberhasilan pembangunan suatu negara, terutama dalam bidang kesehatan
yang menunjukkan derajat kesehatan negara tersebut (WHO, 2015).
Tiga penyebab klasik kematian ibu yang paling dikenal di Indonesia di
samping infeksi dan perdarahan ialah preeklampsia. Namun proporsinya telah
berubah, dimana perdarahan dan infeksi cenderung mengalami penurunan
sedangkan proporsi preeklampsia semakin meningkat. Lebih dari 25%
kematian ibu di Indonesia pada tahun 2013 disebabkan oleh pre eklampsia.
Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI), AKI di
Indonesia pada tahun 2012 mengalami kenaikan yang signifikan dibanding
tahun 2007, yakni dari 228 menjadi 359 kematian ibu per 100.000 kelahiran
hidup (KemenkesRI, 2015).
Tujuan negara untuk mensejahterakan masyarakat telah dilakukan
berbagai upaya pembangunan di daerah sampai tingkat desa/kelurahan. Salah
satu upaya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah melalui
penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) saat hamil, melahirkan dan masa nifas
dan Angka Kematian Bayi (AKB). Sejak tahun 1996 telah diluncurkan suatu
gerakan yaitu Gerakan Sayang Ibu (GSI) yang pencanangannya dilakukan
oleh Presiden RI pada tangal 22 Desember 1996 di Kabupaten Karanganyar,
Propinsi Jawa Tengah. Upaya ini juga merupakan komitmen internasional
dalam rangka target mencapai target Millenium Development Goals
(MDGs). Adapun target penurunan AKB adalah sebesar dua per tiga dan
AKI sebesar tiga perempatnya dari 1990-2015 (Kementerian Negara
Pemberdayaan Perempuan RI, 2008)

B. Tujuan Kebijakan
Gerakan Sayang Ibu (GSI) adalah gerakan bersama antara pemerintah
dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan utamanya
dalam percepatan penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian
bayi (AKB) dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Penurunan AKI dan AKB berkontribusi dalam meningkatkan Indeks
Pembangunan Manusia (IPM) daerah dan Negara yang salah satu
indikatornya adalah derajat kesehatan. (Kementerian Negara Pemberdayaan
Perempuan RI, 2008).
Dengan adanya perubahan sistem pemerintahan dan kebijakan sektor
pemerintah, maka pelaksanaan Gerakan Sayang Ibu (GSI) perlu disesuaikan
agar dapat bersinergi dan terintegrasi dengan program dan kegiatan lain yang
ada pada daerah. Oleh karena itu diperlukan revitalisasi Gerakan Sayang Ibu
(GSI). revitalisasi Gerakan Sayang Ibu (GSI) adalah upaya pengembangan
Gerakan Sayang Ibu (GSI) melalui upaya ekstensifikasi, intensifikasi dan
institusionalisasi. Tujuan Revitalisasi Gerakan Sayang Ibu yaitu :

1. Tujuan umum
Meningkatkan jumlah dan kualitas Kecamatan Sayang Ibu
2. Tujuan khusus :
a. Mengetahui pelaksanaan revitalisasi GSI di Desa dan Kelurahan
b. Mengetahui pelaksanaan revitalisasi GSI di Kecamatan
c. Mengetahui pelaksanaan revitalisasi GSI di Kab./Kota
d. Mengintensifkan dan mengefektifkan pembinaan oleh Kecamatan,
Kabupaten/Kota, Provinsi.

C. Penilaian kelompok terhadap Implementasi KebijakanGerakan Sayang


Ibu
1. Hasil (output)
Dalam pelaksanan GSI di lapangan, kegiatan yang dilakukan
dominan pada pendataan ibu hamil, melakukan penyuluhan dan
pembinaan kepada masyarakat dalam forum pertemuan secara teratur yang
bertujuan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat, dan
membantu aspek-aspek non medis anggota masyarakat yang mengalami
kesulitan dalam persalinannya seperti menggalang dana bersalin, dan
menggalang sumbangan donor darah, menyediakan ambulan desa.
2. Dampak (outcomes)
Pengetahuan dan partisipasi masyarakat dalam mencegah kematian
dan kesakitan ibu hamil, melahirkan dan nipas semakin meningkat. Hal ini
ditandai dengan terbentuknya tabungan ibu bersalin (tabulin) dan dana
sosial bersalin (dasolin), ambulan desa serta pondok sayang ibu dan lain-
lain.
3. Manfaat (benefit)
Gerakan Sayang Ibu (GSI) telah memberikan kontribusi yang
dirasakan manfaatnya dengan adanya data,berkurangnya jumlah kematian
ibu karena hami, melahirkan, dan nifas, serta meningkatnya rujukan yang
berhasil ditangani.
4. Efek (impact)
Partsipasi masyarakat meningkat dengan keikutsertaan dalam
lomba kecamatan sayang ibu yang diselenggarakan oleh pemerintah
daerah setempat. Lomba ini mampu mendorong dan memotivasi
pelaksana-pelaksana di lapangan.
Namun demikian, GSI masih juga menemui hambatan dalam pelaksanaannya,
antara lain :
1. Secara Struktural
Berbagai program tersebut masih sangat birokratis sehingga orientasi
yang terbentuk semata-mata dilaksanakan karena ia adalah program
wajib yang harus dilaksanakan berdasarkan SK (Surat Keputusan).
2. Secara Kultural
Masih kuatnya anggapan/pandangan masyarakat bahwa kehamilan dan
persalinan hanyalah persoalan wanita.

D. Analisis kebijakan kesehatan tentang Gerakan Sayang Ibu (GSI) sebagai


upaya dalam menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) berdasarkan
teori George Edward III.
1. Faktor sumberdaya
Gerakan sayang ibu adalah gerakan yang mengembangkan kualitas
perempuan utamanya melalui percepatan penurunan angka kematian ibu
karena hamil, melahirkan dan nifas serta penurunan angka kematian bayi
yang dilaksanakan bersama-sama oleh pemerintah dan masyarakat dalam
rangka meningkatkan sumber daya manusia dengan meningkatkan
pengetahuan, kesadaran, dan kepedulian dalam upaya integrative dan
sinergis.
Mengingat bahwa tanggung jawab ibu hamil, bersalin, nifas, dan
bayi bukan hanya tanggung jawab ibu saja, tetapi tanggungjawab semua
komponen masyarakat meliputi bidan, suami, keluarga, ataupun
masyarakat yang berada di sekitarnya. Sehingga pelaksanaan GSI ini
melibatkan banyak pihak, dari pemerintah provinsi, pemerintah
kabupaten/kota, pihak swasta, lembaga kemasyarakatan dan masyarakat
sendiri. Sumber daya manusia yang berperan langsung dalam GSI ini
adalah kepala desa, bidan desa, perawat komunitas, kader kesehatan/kader
posyandu yang ada di tiap RT/RW. Kader KIE (Komunikasi, Informasi,
Edukasi) GSI ini ditunjuk dari anggota masyarakat yang mau dan mampu
untuk menjalankan tugas menjadi kader KIE GSI. Tugas kader disini
adalah melakukan pencatatan dan pelaporan mengenai data ibu hamil,
bersalin, nifas, dan bayi.

2. Faktor komunikasi
Pelaksanaan gerakan sayang ibu ini didukung dengan proses
komunikasi yang sudah direncanakan dengan baik. Dalam pelaksanaanya,
satgas GSI yang ada di tingkat kabupaten/kota dibina oleh pemerintah
provinsi, satgas GSI di tingkat kecamatan maupun desa/kelurahan dibina
oleh pemerintah kabupaten/kota, dan satgas GSI desa/kelurahan dibina
oleh satgas revitalisasi GSI tingkat kecamatan. Dimana koordinasi
pelaksanaan revitalisasi GSI ini selalu dilakukan pencatatan dan
pelaporan dari desa/kelurahan ke kecamatan tentang pendataan dan
pemetaan peta ibu hamil, pengorganisasian tabulin/dasolin,
pengorganisasian ambulance desa, pengorganisasian donor darah,
pengorganisasian kemitraan dukun bayi dengan bidan, pengorganisasian
penghubung/liason, pengembangan tata cara rujukan, pengorganisasian
suami siap antar jaga, pembentukan pondok sayang ibu, penyuluhan dan
pelatihan kader kesehatan, serta pemantauan, pencatatan, pelaporan dan
evaluasi pelaksanaan GSI.

3. Faktor Disposisi

Faktor disposisi, merupakan karakteristik atau sikap yang dimiliki


oleh pemegang kebijakan seperti komitmen, sifat demokratis. Apabila
pemerintah atau pemegang kebijakan terkait (implementor) memiliki
disposisi yang baik, maka dia akan dapat menjalankan kebijakan dengan
baik seperti apa yang diinginkan oleh pembuat kebijakan. Ketika
implementor memiliki sifat atau perspektif yang berbeda dengan pembuat
kebijakan, maka proses implementasi kebijakan juga menjadi tidak efektif.
Dalam hal ini terkait dengan program Gerakan Sayang Ibu (GSI)
dalam analisis kebijakan kelompok, melihat kebijakan tersebut saat ini
mendapatkan disposisi yang mendukung dalam hal implementasi
kebijakan Gerakan Sayang Ibu, hal tersebut dikeranakan faktor yang
sangat mendesak dan sangat penting dikarenakan kejadian angka kematian
ibu hamil yang masih tinggi di beberapa daerah di indonesia. Hal inilah
yang menjadi salah satu faktor implementasi kebijakan GSI di beberapa
daerah mendapatkan disposisi penuh top down dari pemerintah kepala
dinas kesehatan terkait di daerah.

Sikap penerimaan tersebut atau penolakan dari para pelaksana


kebijakan sangat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan
implementasi kebijakan Gerakan Sayang Ibu (GSI). Hal ini sangat
mungkin terjadi karena kebijakan yang dilaksanakan bukanlah hasil
formulasi warga setempat yang mengenal betul permasalahan dan
persoalan yang mereka rasakan. Tetapi kebijakan publik biasanya bersifat
top down, yang sangat mungkin para pengambil keputusan mempunyai
kecenderungan melihat suatu permasalahan sehinggga mendorong
disposisi untuk mengimplementasikan kebijakan GSI akan berjalan secara
efektif.

4. Faktor struktur birokrasi


Dukungan Pelaksana Kebijakan meliputi dukungan dari
pemerintah maupun secara struktural yang ada di Dinas Kesehatan dan
Bapermas menyusun hasil capaian-capaian kinerja program GSI
kemudian disusun rencananya. Bentuk dukungan yang diberikan antara
lain memberikan persetujuan maupun usulan dalam menentukan rencana
kerja yang diusulkan dari staff pelaksana bagian program. Komitment
Pelaksana Kebijakan menunjukan bahwa komitmen yang ada di level
struktural perlu di benahi baik di Bappeda, Dinas kesehatan sedangkan
untuk di dinas bapermas untuk meningkatkan pencapaian target kinerja.
Bappeda memberikan support dan komitment berupa dan dalam
menjalankan rencana program GSI dalam mempercepat target MDGs
diserahkan oleh Dinas Kesehatan sebagai penyelenggara pelayanan
dalam merancang program. SOP GSI dikembangkan dalam prosedur
menggunakan ISO kemudian Sedangkan dalam layanan KB untuk
berlaku pada tenaga kesehatan. Pembagian tugas dilakukan berdasarkan
tugas pokok dan kompetensinya namun pada kondisinya kurang merata
pada unit-unit kerja, pengaruhnya terhadap implementasi GSI MDGs
kesehatan ibu. Pembagian tugas yang dikarenakan persediaan SDM dinas
maupun di puskesmas terbatas kemudian sama halnya dengan unit kerja
masing-masing dinas. Koordinasi yang dilakukan dan dilaksanakan pada
unit kerja dalam meningkatkan kesehatan ibu secara teknis dilakukan
pada program seksi kesga melakukan koordinasi dengan seksi lain yaitu
promosi kesehatan dan seksi Pelayanan Kesehatan. Kemudian koordinasi
juga berlangsung dilakukan dengan Kepala seksi dan kepala bidang.
Kemudian kurangnya koordinasi terkait dengan terbenturnya jadwal yang
ada mempengaruhi kurangnya koordinasi antar beberapa lintas program
dan linas sektoral untuk lintas sektoral yang terkait antara lain Bappeda
dan Bapermas.

5. Faktor lingkungan

Kondisi sosial ekonomi masyarakat menyangkut dan terkait faktor


implementasi kebijakan Gerakan Sayang Ibu (GSI) terdapat faktor-faktor
akan hal keadaan suatu masyarakat secara umum, yang memiliki andil
sebuah kebijakan dapat diterima oleh masyarakat dalam sebuah aspek
lingkup lingkungan sosial masyarakat seperti, mulai dari tingkat
pendidikan masyarakat terutama pendidikan ibu hamil disuatu
masyarakat, keadaan ekonomi, dan kondisi sosialnya yang secara
sederhana dapat dikatakan kepada masyarakat dengan lingkungan sudah
terbuka akan lebih mempercepat dan melancarkan penerapan kebijakan
GSI dibandingkan dengan masyarakat yang masih tertutup atau
tradisional. Masyarakat yang sudah terbuka akan lebih mudah menerima
program-program pembaharuan.

Dukungan publik tersebut terkait dengan implementasi Gerakan


Sayang Ibu (GSI) akan lebih cenderung mendapatkan dukungan yang
masif jika ketika kebijakan yang dikeluarkan memberikan insentif
ataupun kemudahan, jika terdapat faktor faktor yang bisa memperlancar
akses masyarakat dalam mengakses urusan birokrasi dan pelayanan
kesehatan terutama kesehatan ibu hamil di suatu masyarakat.

E. Kesimpulan dan saran


1. Kesimpulan
Hasil dari Implementasi Program GSI indikator yang digunakan untuk
meningkatkan kesehatan ibu dalam penggunaan indikator RAD MDGs
belum digunakan belum selaras. Intensitas dalam pemberian informasi
kalangan stakeholder dan organisasi profesi, serta hambatan dan
tantangan sumber daya kemudian integrasi arahan pemerintah, system
yang belum terstruktur, dan kurangnya dalam alokasi pendanaan. Dalam
hal komunikasi, kendala yang ada tingkat padatnya jadwal pelaksana
sehingga koordinasi yang dilakukan secara efektif melalui suatu
pertemuan rapat struktural baik top manager, middle manager dan low
manager. Tersedianya Sumber daya jumlah staff mendukung berjalannya
roda dalam suatu kebijakan yang ada didinas kesehatan maupun di
Bapermas terbatas, namun yang perlu dibenahi yaitu secara kualitas,
masih rendah perlu adanya peningkatan pelatihan kemudian untuk dana
yang di anggarkan masih menggunakan prioritas. Dukungan yang
diberikan Kepala Seksi, Kepala Bidang dan staff pelaksana alam RAD
MDGs khususnya program GSI melalui rencana kerja dengan
memberikan masukan serta persetujuan dari usulan kegiatan. Komitmen
perlu diperlukan dari semua level struktural, melalui penetapan indikator.
Koordinasi yang dilakukan melalui komunikasi dari rapat dinas, rapat
koordinasi melalui pertemuan dengan Bappeda serta pelaporan data
melalui email. Dalam Koordinasi yang dilakukan terkendala pada SDM
koordinasi antar SDM terkendala dengan jadwal.

2. Saran
a. Meningkatkan intensitas perencanaan antar lintas sektor dan
melibatkan stakeholder terutama LSM dan organisasi profesi yang
mengandung unsur kesehatan.
b. Penyelarasan antara indikator kinerja yang ada di Program GSI,SPM,
maupun di Renstra Dinas sehingga ada kesesuaian dalam penggunaan
indikator
c. Optimalkan penggunaan anggaran berdasarkan pola berbasis kinerja
sehingga dapat meningkatkan kinerja masing-masing pelaksana unit.
d. Penggunaan SOP ISO GSI dimasing-masing lintas program dapat
meningkatkan komitmen dan prosedur kerja.
DAFTAR PUSTAKA

Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal),Volume 3, Nomor 1, Januari 2015


(ISSN: 2356-3346)http://ejournal-1.undip.ac.id/index.php/
Kemenkes RI. (2015). Profil Kesehatan Indonesia tahun
2014.RetrievedNovember 6, 2016 from :www.depkes.go.id/.../profil-
kesehatan-indonesia/profil-kesehatan indonesia-2014.pdf.
Kemenkes RI. (2013). Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan;
Riset Kesehatan Dasar 2013. Jakarta
Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan RI. (2008). Panduan
Penilaian Kecamatan Sayang Ibu pada Pelaksanaan Revitalisasi
Gerakan Sayang Ibu. JakartaRetrieved Maret 29, 2017from
:http://storage.jak-
stik.ac.id/ProdukHukum/MenPAN/index.phpoption=com_docman&t
ask=doc_download&gid=19&Itemid=68.pdf
Preeclampsia and Maternal Mortality : a Global Burden. (2013). Retrieved
November 5,2016 from http://.preeclampsia.org/health-
information/149-advocacy awarenes/332-preeclampsia-and-
maternal-mortality-a-global-burden.
WHO.(2015). Global Health Observatory (GHO)Data Maternal
Mortality.Retrieved November 18, 2016 from
:http://www.who.int/gho/maternal_health/mortality
/maternal_mortality_text/en/.