Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN TETAP

SATUAN OPERASI II
Pengeringan Zat Padat II

Disusun oleh : 1. Adhe Julian Pertananda


2. Dewanda Irawan
3. Dita Indah Sari
4. Dwi Ayu Pratiwi
5. Ester Necessary
6. Isma Uly Maranggi
7. Novia Sundari
8. Nuraldyla Suciaty Saputri
9. Suci Utami Putri
10. Tasya A Makaminah
Kelompok : 2 (Dua)
Kelas : 4 KIB
Dosen Pengasuh : Ir. Jaksen M Amin, M.Si

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA


2017

LAPORAN TETAP SATUAN OPERASI II


PENGERINGAN ZAT PADAT II

I. TUJUAN PERCOBAAN
Untuk mengeringkan bahan padat dan mengalirkan udara panas dan menentukan
laju alir pengeringan

II. ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN

- Termometer 2 buah - Neraca analitik 1 buah


- Plate Dryer 1 buah - Oven 1 buah
- Hot Plate 1 buah - Kemplang 1 buah

III. DASAR TEORI


Pengeringan zat padat adalah pemisahan sejumlah kecil air atau zat cair dari bahan
padat. Pengeringan biasanya merupakan langkah akhir dari sederetan operasi. Hasil
pengeringan lalu siap dikemas. Zat padat yang akan dikeringkan mungkin berbentuk biji,
serbuk, kristal, lempengan/lembaran.
Klasifikasi pengeringan meliputi pengeringan adiabatik, non adiabatik, atau
gabungan keduanya. Pengeringan adiabatik dimana zat padat bersentuhan langsung dengan
gas panas sebagai media pengeringa. Pengering non adiabatik dimana perpindahan kalor
langsung dari medium luar atau pengering tak langsung.
Udara memasuki ruang pengering jarang sekali berada dengan keadaan benar
kering. Tapi selalu mengandung air dan kelembaban relative. Air bebas adalah selisih
antara kandungan air total didalam zat padat dalam keadaan kering
X=Xt-X*
Dalam perhitungan kg menjadi pekdian adalah X, bukan Xt pada basis kering.
X=kg H2O/kg zat padat kering tulang
Dengan berjalannya waktu, kandungan kebasahan akan berkurang seperti contoh
yang ditunjukan pada gambar A. Selanjutnya saat umpan dipanaskan sampai suhu
penguapan dan sesudah itu grafik menjadi linier. Untuk kemudian melengkung lagi kearah

LAPORAN TETAP SATUAN OPERASI II


horizontal dan akhirnya mendatar. Lalu pengeringan menunjukkan laju pengeringan
kemudian melengkung kebawah.
Sesudah periode penyesuaian masing-masing kurva mempunyai segmentasi
horizontal AB kg dinamakan laju pengeringan periode konstan. Periode ini diartikan oleh
laju pengeringan yang tidak bergantung pada kandungan kebasahan.
Selama periode konstan, laju pengeringan persatuan luas adalah
()(3600)
RC= / 2

Bila udara panas mengalir sejajar permukaan zat padat, maka koefisien
perpindahan panas (h):
H= 0,002040,8
Dimana : h= W/m C dan G= kg/jam m2
Humiditi volume udara panas dapat ditaksir dengan persamaan:
Vh=(2,8 X10-3 + 4,56 X10-3 H)T
Density udara ( ) :
1+
= kg/m3

Kecepatan massa :
G= V kg/jam m2
Waktu pengeringan selama periode konstan
(1 2 )
Tc=

Bila difusi zat cair terkendali oleh laju pengeringan pada periode menurun, maka
saat laj pengeringan berkurang berlaku hukum ficks II tentang difusi
2
=DL 2

Bila diasumsi kandngan kebasahan terdistribusi merata pada saat t=0 maka integral
Bila difusi dimulai dari X1=X2 maka persamaan menjadi :
2
=8e
4 2

Sehingga waktu pengeringan adalah :


4 2 8
T=2 2

LAPORAN TETAP SATUAN OPERASI II


Drying adalah suatu proses pemisahan sejumlah kecil air atau zat laninya darei
bahan padatan, sehingga mengurangi kandungan sisa air yang masiih terikat pada zat padat
tersebut. Pengeringan ini merupakan salah satu langkah downstream dari suatu proses
yang hasilnya merupakan produk dari proses tersebut.
Pada umumnya pengeringan ini dilakukan pada slurry yang memiliki viscositas
yang sangat tinggi dapat dikeringkan dengan cara mengalirkan udara panas yang tidak
jenuh pada bahan yang akan dikeringkan. Sebagai conth lain adalah pengeringan air pada
kayu, kapas, kertas dan lainnya. Pada bahan tersebut mengandung air yang terikat yaitu air
yang ada pada suatu bahan yang sulit dipisahkan, walaupun sudah dipisahkan tetap ada.
Bond dry adalah suatu bahan yang tidak mengandung zat cair lagi.
Pada proses drying tidak merusak zat atau senyawa yang dikeringkan. Evaporasi
memiliki jumlah air diupakan lebih besar dari tadah medium pembawa air. Sedangkan
drying memiliki jumlah air diuapkan lebih sedikit karena sudah terjadi evaporasi pada
awalnya (untuk mendapatkan yang lebih pekat).
Alat pengering dapat diklasifikasikan dalam 3 kelompok:
1. Berdasarkan proses
Proses batch yaitu material dimasukkan ke dalam pengering dan dikeringkan
sampai waktu tertentu yang diinginkan. Proses continue yaitu materila dimasukkan ke
dalam pengering dan bahan kering diambil secara sinambung.
2. Berdasarkan sistem kontak
Pengeringan adiabatik yaitu bahan bersentuhan langsung dengan media pengering
uap air yang terbentuk dipindahkan oleh udara. Pengeringan nonadiabatik yaitu
perpindahan kalor berlangsung dari suatu medium diluar penyaring. Pengering adiabatik
dan nonadiabatik yaitu kombinasi antara pengering adiabatik dan nonadiabatik.
3. Berdasarkan keadaan fisik bahan yang dikeringkan:
Pengering hampa yaitu pengeringan pada tekanan rendah dan proses penguapan
berlangsung cepat. Pengering beku (freezing drying) yaitu air disublimasikan dari bahan
yang dibekukan sebgai contohnya N2 cair dan seperti silika gel tetapi menjaga bahan tetap
beku agar bahan tidak rusak seperti protein yang rentang terhadap suhu.

LAPORAN TETAP SATUAN OPERASI II


Pengeringan dan Aplikasinya
Dalam pengeringan adiabatik zat padat itu bersentuhan dengan gas menurut salah
satu cara berikut:
1. Gas ditiupkan menlintas zat permukaan hamparan atau lembaran zat padat atau
melintas satu atau kedua sisi lembaran atau film sinambung. Proses ini dapat
disebut juga pengeringan dengan sirkulasi silang.
2. Gas yang ditiupkan melalui hamparan zat padat butiran besar yang ditempatkan
diatas awak pendukung.
3. Zat padat disiramkan disiram ke bawah melalui suatu arus gas yang bergerak
perlahan-lahan ke atas, terkadang dalam hal ini terdapat pembawa ikutan yang
tidak dikehendaki dari partikel halus oleh gas.
4. Gas dialirkan melaluizat padat dan dengan kecepatan yang cukup membuat
bahan terfluidisasikan.
5. Zat padat seluruhnya dibawa ikut dengan arus gas kecepatan tinggi dan diangkat
secara pneumatik dari piranti percampuran ke pemisah mekanik.
Pengeringan adiabatik dibedakan menurut zat padatnya itu berkontak dengan
permukaan panas sumber kalor lainnya. Zat padat dihamparkan diatas
permukaan bersama dengan permukaan horizontal, yang stasioner atau bergerak
lambat dan dimasak hingga kering. Sedangkan yang satu lagi yaitu zat padat
tersebar diatas permukaan panas biasanya berbentuk silinder dengan batuan
pengaduk.
Ada beberapa Faktor yang berpengaruh terhadap laju pengeringan diantaranya
adalah sebagai berikut:
Sifat fisika dari bahan yang dikeringkan
Pengaturan geometris bahan pada permukaan alat atau media perantara
perpindahan panas
Sifat fisik lingkungan pengering.
Operasi pengeringan zat padat yang mengandung cairan (dalam hal ini air) dapat
dilakukan pada alat-alat pengering dengan udara sebagai media pengeringan. Operasi ini
dapat ditempatkan di dalam alat itu sendiri atau di luar alat pengering. Untuk pekerjaan ini
dicapai tray dryer dengan sumber energi udara panas dari electric heater yang dipasang

LAPORAN TETAP SATUAN OPERASI II


diluar alat percobaan, sebagai penghembus udara dipakai blower yang terpasang satu unit
dengan electric heater itu. Alat itu memakai x tray yang nantinya untuk menempatkan zat
yang akan dikeringkan secara batch. Saat pengeringan berlangsung, permukaan kontak
antara permukaan dengan udara yang selalu basah dengan cairan sampai cairan habis
teruapkan seluruhnya.

IV. PROSEDUR KERJA


1. Mengeringan zat padat dengan ukuran tebal tertentu dalam oven 2 jam hingga
tidak mengandung air lagi, dinginkan lalu timbang ini adalah zat padat kernig
tulang
2. Merebus zat padat dalam air mendidih selam 15 menit dan dinginkan hingga
suhu ruang timbang beratnya
3. Selisih berat zat padat basah kering tulang dengan zat padat kering adalah kadar
air awal zat padat yang akan dikeringkan
4. Menyiapkan alat pengering, menghidupkan blower dan elemen pemanas hingga
suhu konstan 70C
5. Mencatat volume humidity suhu bola basah udara masuk ruang panggang
menentukan dew point udara dengan menggunakan humidity chart
6. Membaca tekanan uap air dari tabel tekanan uap dengan temperatur dew point
7. Mancatat laju alir udara
8. Menetukan laju alir udara kering masuk ruang pengering dengan persamaan :

(Nt-Nh2O) X BM adalah massa udara kering masuk ruang panggang


9. Mencatat relative humidity setiap 15 menit
10. Mengulangi percobaan diatas
11. Laju alir udara dan suhu pengering selama percobaan dijaga konstan

LAPORAN TETAP SATUAN OPERASI II


V. DATA PENGAMATAN
VI. perhitungan

LAPORAN TETAP SATUAN OPERASI II


LAPORAN TETAP SATUAN OPERASI II
11. 110 menit 13. 130 menit

0,079304081392 2 (6062) 3600 0,079625170146 2 (6061) 3600

= =
2352,952381 / 2355,47619 /

= -0,121695398 KJ/jam m2 = -0,242669333 KJ


/jam m2

12. 120 menit 14. 140 menit



0,079304081392 2 (6062) 3600 0,079541286472 2 (5961) 3600

= =
2352,952381 / 2355,47619 /

= -0,243134388 KJ/jam m2 = -0,242669333 KJ


/jam m2

6.7 Menghitung free moisture (X)



X*= 0,03 XT =
*
X= XT - X
Pada 10 menit Pada 50 menit

(14,768,90) (11,738,90)
XT = = 0,6584 XT = = 0,3179
8,90 8,90

X = 0,6584-0,03 = 0,6284 X = 0,3179-0,03 = 0,2879


Pada 20 menit Pada 60 menit

(13,318,90) (11,408,90)
XT = = 0,4955 XT = = 0,2809
8,90 8,90

X = 0,4955-0,03 = 0,4655 X = 0,2809-0,03 = 0,2509


Pada 30 menit Pada 70 menit

(12,648,90) (11,038,90)
XT = = 0,4202 XT = = 0,2393
8,90 8,90

X = 0,4202-0,03 = 0,3902 X = 0,2393-0,03 = 0,2093


Pada 40 menit Pada 80 menit

(12,128,90) (10,768,90)
XT = = 0,3618 XT = = 0,2089
8,90 8,90

X = 0,3618-0,03 = 0,3318 X = 0,2089-0,03 = 0,1789

LAPORAN TETAP SATUAN OPERASI II


Pada 90 menit Pada 120 menit

(10,488,90) (108,90)
XT = = 0,1775 XT = = 0,1236
8,90 8,90

X = 0,1775-0,03 = 0,1475 X = 0,1236-0,03 = 0,0936


Pada 100 menit Pada 130 menit

(10,308,90) (9,888,90)
XT = = 0,1573 XT = = 0,1101
8,90 8,90

X = 0,1573-0,03 = 0,1273 X = 0,1101-0,03 = 0,0801


Pada 110 menit Pada 140 menit

(10,198,90) (9,848,90)
XT = = 0,1449 XT = = 0,1056
8,90 8,90

X = 0,1449-0,03 = 0,1149 X = 0,1056-0,03 = 0,0756

6.8 Menghitung Nilai Tc (Waktu Pengeringan)


( 0)
Tc= A= d2 = . 3,14 (7,5)2 = 44,15625 cm2 = 44,15625x10-4 m2

10 menit 50 menit
(0,076180,01476 ) ( 0,012120,01173)
=44,15625x104 m2 1,9739 /2 = 44,15625x104 2 0,3689/2

=1,0467 jam = -0,2394 jam


20 menit 60 menit
(0,014760,01331 ) ( 0,011730,01140)
=44,15625x104 m2 1,9806 /2 = 44,15625x104 2 0,2432/2

=0,1657 jam = -0,3074 jam


30 menit 70 menit
( 0,013310,01264) ( 0,011400,01103)
= 44,15625x104 2 = 44,15625x104 2 0,2408/2
1,25536/2

=0,1209 jam = -0,3479 jam


40 menit 80 menit
( 0,012640,01212) ( 0,011030,01076)
= 44,15625x104 2 = 44,15625x104 2 0,3654/2
0,4823/2

=0,2442 jam = -0,1673 jam

LAPORAN TETAP SATUAN OPERASI II


90 menit 120 menit
( 0,010760,01048) ( 0,010190,01)
= 44,15625x104 2 0,4930/2 = 44,15625x104 2 0,2427/2

= -0,1286 jam = -0,1773 jam


100 menit 130 menit
( 0,010480,01030) ( 0,010,00988)
= 44,15625x104 2 0,2436/2 = 44,15625x104 2 0,1217/2

= -0,1673 jam = -0,2233 jam


110 menit 140 menit
( 0,010300,01019) ( 0,009880,00984)
= 44,15625x104 2 0,2427/2 = 44,15625x104 2 0,2431/2

= -0,1026 jam = -0,0372 jam

6.9 Menghitung Neraca Massa


Uap air (C)

Umpan(76,18 gr) Produk(9,04 gr)


Dryer
X=...? A B X=...?
Y=...? Y=...?
Mencari umpan yang dihasilkan(C)
A = B+C
76,18 gr = 9,84 gr + C
C = 66,34 gr
Mencari dry basis
66,34
= 100% = 100% = 674,19%
9,84

Mencari kandungan air dalam umpan


X= 674,19% 76,18 = 513,6979
Berat kemplang umpan(y) = (76,18-513,6979)gr
= -437,4179 gr = 574,19%
Mencari kandungan air dalam produk
X= air umpan air uap Y=(9,84-447,2579) gr
=(513,5979-66,34)gr = =447,2579 gr = -437,4179 gr

LAPORAN TETAP SATUAN OPERASI II


6.10 Menghitung Neraca Panas
Mencari panas umpan(Qf) Panas uap air(Qv)
Qf = m.cp. Qv =( m.cp.) + m.
= 76,18 gr . cp . 0 = 9,84gr x4,18 J/gr x (61-
= 0 J = 0 KJ 59) + 2355,47 J/gr x 9,84 gr
Panas kemplang(Qp) = 23218,0872 J
Qp = m.cp. Panas alat(Qt)
= 9,84x10-3gr x 1,3 J/gr x (61-59) Qt+Qf = Qp+Qv
= 0,4093 J = 4,093x10-4 kJ Qt = Qp+Qv- Qf
Qt = 0,4093 + 2310,0872 0
Qt = 2310,4965 J
Latent Heat and Saturation Temperature of Water
Absolute Pressure(kPa) Latent Heat of Vaporization Saturation Temperature()
1 2485 kJ/kg 7
2 2460 kJ/kg 18
5 2424 kJ/kg 33
10 2393 kJ/kg 46
20 2358 kJ/kg 60

LAPORAN TETAP SATUAN OPERASI II


VII. ANALISA DATA
Dalam praktikum pengeringan kedua ini sampel yang digunakan berupa kemplang
mentah. Pengeringan dilakukan sebanyak 14 kali dengan selang waktu 10 menit. Proses
drying dilakukan untuk mengurangi atau memisahkan kadar kandungan air dalam zat
padat(kemplang).
Jenis dryer yang digunakan ialah plate dryer. Penggunaan plate dryer ini
dikarenakan struktur dari zat padat yang dikeringkan berupa lempengan. Pengering ini
diklasifikasikan sebagai pengering adiabatik(pengering langsung), dimana zat padat yang
dikeringkan langsung berkontak dengan udara panas yang dihembus dari blower. Pada
kondisi ini diasumsikan tidak ada panas yang hilang atau bertambah.
Proses perpindahan panas pada dryer ini menggunakan konsep konveksi dan
konduksi. Konduksi, dimana casing dryer terbuat dari bahan yang memiliki konduktivitas
yang tinggi, yaitu besi sehingga dapat membuat uap panas yang dihembuskan blower
dapat menyebar keseluruh casing dan menjaga panas dalam dryer, yang menyebabkan
tidak ada panas yang hilang. Konveksi, perpindahan panas terjadi pada uap panas yang
berhembus merambat kontak langsung dengan sampel pada permukaan zat padat.
Proses pengeringan dilakukan selama 140 menit dengan temperatur blower 60.
Semakin lama waktu pengeringan, humiditas semakin besar. Hal ini disebabkan dengan
adanya waktu pengeringan, uap panas yang masuk ke dalam ruang pengeringan semakin
banyak. Uap panas tersebut membuat air yang terkandung pada sampel menguap semakin
banyak, sehingga kelembapan udara(humiditas) meningkat. Dengan meningkatnya air
yang menguap dari zat padat, menyebabkan pengembunan pada bola basah. Sehingga,
semakin lama waktu pengeringan, temperatur bola basah semakin meningkat pula. Pada
bola kering, temperatur semakin meningkat seiring lama waktu pengeringan. Hal ini
disebabkan, semakin banyak uap panas yang berhembus.
Kecepatan massa udara semakin lama semakin konstan. Hal ini dipengaruhi oleh
adanya keseimbangan thermal pada dryer, dimana kandungan air pada sampel semakin
berkurang. Panas laten yang dihasilkan dari proses pengeringan semakin meningkat,
berbanding lurus dengan waktu pengeringan. Namun, hal tersebut tidak terjadi pada laju
pengeringan, free moisture dan waktu pengeringan periode konstan terhadap waktu
pengeringan. Ini disebabkan, semakin lama waktu pengeringan, kandungan air yang

LAPORAN TETAP SATUAN OPERASI II


terkandung dalam sampel semakin berkurang, sehingga ketika sudah tercapai
kesetimbangan dimana uap air telah menguap secara keseluruhan laju reaksi mencapai
0(nol) dan berat sampel mulai konstan. Adapun faktor yang mempengaruhi proses
pengeringan yaitu temperatur, humiditas, dan lama waktu dyring.

VIII. KESIMPULAN

Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa:

Parameter yang harus diperhatikan adalah kelembaban udara, laju, jenis bahan,
waktu dan suhu
Blower digunakan untuk mengeluarkan udara lembab diruang pendingin
Panas laten semakin meningkat seiring dengan lamanya waktu pengeringan
Laju pengeringan, free moisture dan waktu pengeringan semakin menurun seiring
dengan meningkatnya waktu pengeringan

IX. DAFTAR PUSTAKA

Tim penyusun. 2017. Penuntun Praktikum Satuan Operasi II. Palembang: Politeknik
Negeri Sriwijaya
Dwiyanti, Krisna dkk. 2011Pengaruh Ukuran Partikel Terhadap Laju Reaksi
Anonim.2005.Chapter II. Pengeringan(dryer). http://respitory.usu.ac.id/

LAPORAN TETAP SATUAN OPERASI II


Gambar Alat:

Seperangkat Alat Dryer

Tampak Depan

Tampak Dalam

Hot Plate Neraca Analitik Termometer

LAPORAN TETAP SATUAN OPERASI II