Anda di halaman 1dari 43

GERAK MENGGELINDING

Masfufa *), Nurlaela, Risman, St. Rahmawati

Laboratorium Fisika Dasar Jurusan Fisika FMIPA


Universitas Negeri Makassar

Abstrak. Pertemuan praktikum yang keempat kali ini, telah dilakukan yaitu gerak menggelinding
dengan tujuan untuk menjelaskan konsep konsep Fisika yang digunakan dalam membahas gerak
menggelinding dan menentukn momen inersia dari silinder dan bola. Adapun alat dan bahan yang
digunakan dalam praktikum kali ini adalah silinder pejal dan berongga, bola pejal, landasan
(bidang miring), stopwatch, mistar (meteran) serta Neraca Ohaus. Praktikum yang dilakukan
berupa mengukur panjang lintasan bidang miring serta ketinggiannya jangan lupa untuk mengukur
massa serta diameter benda yang akan digunakan. Kegiatan intinya ialah meletakkan benda
diposisi kesetimbangan benda dengan bidang miring kemudian dilepaskan sambil menghitung
waktu yang digunakan benda untuk sampai diujung lintasan yang juga harus setimbang dengn
benda. Lakukan beberap kali agar hasil yang didapatkan itu akurat. Selanjutnya ubah ketinggian
intasan dan kembali melakukan kegiatan inti yang tdi dijelaskan. Dari proses percobaan ini, dapat
disimpulkan bahwa semakin besar massa dan tinggi lintasan suatu benda maka semakin kecil pula
waktu yang diperlukan dan dalam bergelinding dilintasan miring.

Kata Kunci: momen inersia, silinder pejal, silinder berongga, bola 1 dan 2

RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana peran konsep konsep fisika dalam gerak menggelinding?
2. Bagaimana menetukan momen inersia dari silnder dan bola?

TUJUAN
1. Mahasiswa mampu mengetahui serta menjelaskan konsep konsep fisika dalam
penerapan gerak menggelinding
2. Mahasiswa mampu menentukan momen inersia dari silinder dan bola

TEORI DASAR

Gerak menggelinding (rolling) merupakan kombinasi antara gerak rotasi dengan


gerak translasi. Selama bergerak pada permukaan, benda akan berotasi dan sekaligus
bergerak dengan translasi. Pembahasan gerak menggelinding dapat digunakan dengan
dua cara yaitu dengan teori prinsip dinamika dan teori prinsip energy.

Gerak Menggelinding cara Dinamika

Jika sebuah roda bergerak ke kanan dengan kecepatan linear V pada permukaan
mendatar tanpa mengalami slip. Sehingga roda bererak kekanan sambil berputar dengan
kecepatan aguler . Bila roda bergerak kekanan sehingga membuat satu putaran, maka
sumbunya telah bergerak sejauh sama dengan keliling roda tersebut, besarnya:

= 2
x = 2R

x = R .... (1)

Bila roda menggelinding denga kecepatan sudut tetap () dan bergerak kekanan
dengan kecepatan linear tetap (v) dan selang waktu yang dibutuhkan untuk satu putaran
adalah t, maka besarnya;

= t = 2

x = v.t = 2R

v = R .... (2)

Bila silinder bergerak dari keadaan diam dan menggeliding dengna percepatan
sudut tetap () dan percepatan liner tetap pula (a) dan selang waktunya utuk satu kali
putaran t, maka beasarnya;
1
= 2 2 = 2

1
x = 2 2 = 2R

a = R . (3)

Jika sebuah benda kaku berotasi terhadap suatu sumbu tetap denga kelajuan sudut
, energy kinetic rotasinya dapat dituliskan,
1
KR= 2 I2 . (4)

Dimana I adalah momen inersia terhadap sumbu rotasi. Momen inersia benda
kaku dapat diperoleh melalui persamaan;

I = r2 dm . (5)

Dimana r adalah jarak dari elemen massa dm ke sumbu rotasi. Jika sebuah
benda kaku yang berotasi bebas terhadp sumbu tetap memiliki torsi luar yang bekerja
padanya, maka benda tersebut mengalami percepatan sudut , dengan

= I . (6)

Dimana beasr torsi yang berkaitan dengan gaya F yang bekerja adalah

= Fd ..... (7)

dimana d adalah lengan momen gaya yang merupakan jarak tega lurus dari
sumbu rotasi ke gasri aksi dari gaya. Torsi merupakan ukuran kecenderungan gaya
mengubah rotasi benda terhadap suatu sumbu.
Gambar 1. Silinder yang bergerak menggelinding pada bidang miring

Perhatikan gambar 1., sebuah silinder pejal diletakkan di puncak bidang miring,
ketika silinder dilepas, silinder akan bergerak menggelinding sepanjang bidang miring.
Dengan menerapkan Hukum II Newton pada gerak translasi;

F = ma .... (8)

Dan persamaan 6,. Dan 7., pada gerak rotasi akan diperoleh

a= 1 ..... (9)
+
R2

Untuk memudahkan analisis misalkan momen inersia benda tegar adalah,

I = c (mR2) .. (10)

C=
1 ... (11)

Percepatan a dapat diperoleh dengan menerapkan persamaan GLBB dan akan


diperoleh

C = 22 2 1 ... (12)

Dengan mengukur tinggi bidang miring (h), panjang bidang miring x, dan waktu
tempuh (t) benda dari puncak ke dasar bidang miring, nilai konstanta c dapat dihitung.
Maka nilai momen inersia benda ialah

I = ( 2 2 2 1) 2 ... (13)

Gerak Menggelinding cara Energi

Prinsip kekekalan enrgi akan mendasari setiap penyelesaian masalah yang


berkaitan dengan gerak menggelinding. Benda yang bergerak menggelinding mempunyai
kombinasi gerak rotasi gerak translasi. Sehingga energinya juga terbagi menjadi energy
kinetic translasi dengan energy rotasi.
Ek = Ek Translasi + Rk Rotasi
1 1
= 2 2 + 2 I02 ..... (14)

Misal sebuah roda bergerak menggelinding menuruni bidang miring, tanpa slip
seperti pada gambar. Roda dalam keasaan diam sehingga energinya hanya berbentuk
energy potensial. Pada saat bergerak turun energy kinetic translasi dan energy rotasi dari
roda.

E1 = E2
1 1 1 1
mgh1 + 12 + I02 = mgh2 + 22 + I02
2 2 2 2

1 1
m.g.xsin + 0 + 0 = 0 + 22 + I02
2 2

1 1 1 V22
m.g.x sin = 2
22 + 2
. 2 mR2 + 2

3
g.x sin = 22
4

4
22 = g.x sin ... (15)
3

Pada gerak dengan percepatan konstan;

22 = 12 + 2ax

= 0 + 2ax

Maka;
4
3
g.x sin = 2ax

2
a= 3 g sin ..... (16)

Dalam praktikum lebih baik digunakan gerak menggelinding cara dinamika.

METODE EKSPERIMEN
Dalam praktikum gerak menggelinding digunakan konsep konsep fisika berupa
Hukum kekekalan energy, yaitu energy tidak dapat diciptakan dan tidak dapat
dimusnahkan, melainkan dapat diubah dari energy satu, ke enrgi lainnya. Kegitan ini
diperlukan cukup banyak kesabaran serta ketelitian yang akurat.

Praktikum gerak menggelinding meliputi alat dan bahannya berupa bidang miring
atau penggabungan antara papan yang datar dengan beberapa buah balok sebagai variable
yang dapat diubah ubah. Kemudian mistar namun, alngkah lebih baiknya jika
menggunakan meteran, berguna untuk mengukur panjang lintasan bidang miring serta
ketinggian dari bidang miring tersebut. Adapula benda yang akan digelindingkan, yaitu
silinder pejal dan silinder berongga serta 2 buah bola pejal dengan massa yang berbeda,
sebut saja bola pejal satu dan bola pejal 2. Untuk membedakan bola pejal yang mana
lebih berat, maka gunakan neraca ohauss 311 gram untuk menimbang massa benda.
Begitupun dengan silinder pejal dan silinder berongga. Ditimbang agar massa yang
dimilik benda tersebut dapat diketahui. Sediakan pula stopwatch untuk menghitung
selang waktu yang digunakan benda untuk bergelinding dari ujung atsa bidang miring
hingga samapai ke ujung bawah bidang miring, dengan catatan bahwa benda yang akan
digelindingkan, pusat massanya harus sejajar dengan ujung atas ataupun bwaha bidang
miring tersebut, sebagai patokan yang tetap. Adapun alat yang digunakan agar kita dapat
mengetahui dimana letak titik tengah benda atau dengan kata lain yaitu jari jari benda
dengan mengukur diameternya menggunakan jangka sorong. Khusus untuk silindr
berongga, alangkah baiknya jika dihitung pula besar diameter dalamnya. Walaupun
dalam praktikum ini, diameter yang digunakan merupakan diameter luar benda tersebut.
Setelah mengukur massa dan diameter benda, saat melakukan praktikum intinya, yaitu,
menggelinding benda dengan ketinggian yang berbeda beda. Dimana ketinggiannya
diubah ubah sebanyak 5 kali. Hampir lupa, sebelum menggelindingkan benda, pastikan
dulu besar ketinggian bidang miring pertama, kedua, ketiga, keempat dan kelima. Setelah
memastikan ketinggian tersebut barulah menggelindingkan benda pertama dengan
ketinggian pertama. Serambi saat benda akan digelindingkan stopwatch siap siap
diaktivkan untuk menghitung lama waktu benda bergelinding. Setelah benda pertama tiba
diujung bawah bidang miring, catat lama waktu yng digunakan benda untuk bergelinding
hingga kebawah kedalam table ataupun catatan yang telah tersedia dimasing masing
kelompok. Lanjutkan, praktikum dengan benda kedua. Diketinggian yang sama dan
dengan cara yang sama pula. Hingga benda keempat dengan cara yang sama dan
diketinggian yang sama. Selanjtnya dengan cara yang sama, ganti ketinggia bidang
miring dengan ketinggian kedua yang telah ditentukan sebelumnya. Dan kembali dihitung
lama waktu yang diperlukan benda dalam bergelinding samapi pada benda keempat.
Kegiatan ini terus berulang hingga diketinggian kelima dan dengan cara yang sama pula.
Hal yang paling penting adalah, jangan lupa mencatat hasil yang telah diperoleh kedalam
tabel yang telah dibuat sebelumnya.

Alat dan bahan


1. Silinder pejal dan berongga = 1 Buah
2. Bola pejal = 2 Buah
3. Landasan = 1 Buah
4. Stopwatch = 1 Buah
5. Mistar (meteran) = 1 Buah
6. Neraca Ohauss 311 = 1 Buah
IDENTIFIKASI VARIABEL
1. Variabel Manipulasi : massa benda (gram)
2. Variabel Respon : waktu (s)
3. Variabel Kontrol : tinggi bidang miring (cm)

Definisi Operasional Variabel


1. Massa benda adalah berat benda yang diukur dengan menggunakan neraca
Ohauss 311 gram, dan memiliki satuan ukur (kg)
2. Waktu adalah ukuran waktu yang digunakan dalam setiap benda bereglinding
dari ujung atas lintasan hingga tiba diujung bawah lintasan dan memilik satuan
ukur (s)
3. Tinggi bidang miring adalah ukuran tinggi bidang miring yang diubah ubah
setelah pengukuran setiap beban.

Prosedur Kerja
Pertama-tama siapkan alat dan bahan. Kemudian, menimbang massa bola pejal 1,
bola pejal 2, silinder pejal dan silinder berongga dengan menggunakan neraca ohauss 311
gram. Namun, sebelum menimbang beban, pastikan Neraca Ohaus telah terkalibrasi.
Lalu, mengukur diameter setiap benda tadi dengan menggunakan jangka sorong. Setelah
itu, ukur panjang lintasan bidang miring. Ukur tinggi bidang 5 kali dengan tinggi yang
berbeda-beda. Masuk kekegiatan inti, yaitu letakkan silinder pejal tepat di atas ujung
bidang miring dengan memposisikan titik pusat silinder sejajar dengan ujung bidang
miring. Lepaskan silinder pejal. Tepat saat melepaskan silinder pejal, stopwatch
diaktivkan. Atau dengan kata lain ketika silinder pejal dilepaskan aktifkan stopwatch
untuk menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan silinder pejal bergelinding di
bidang miring dengan tinggi lintasan pertama. Dilanjutkan lagi meghitung lawa waktu
yang diperlukan oleh silinder berongga dengan cara yang sama oleh silinder peal di
ketinggian pertama. Kegiatan ini dilakukan sama dengan bola pejal satu dan bola pejal
dua. Setelah mengukur semua lama waktu yang diperlukan benda untuk bergelinding
pada bidang miring dengan ketinggian pertama, lanjutkan lagi dengan mengubah
ketinggian bidang miring dengan ketinggian kedua, dengan tujuan yang sama pada di
ketinggian pertama hingga mebggantian ketinggian dengan ketinggian kelima. Namun
tetap, dengan cara yang sama dan tjuan yang sama. Dan jangan lupa untuk selalu
mencatat data yang diperoleh dari ekperimen tadi.

HASIL EKSPRIMEN DAN ANALISIS DATA

Hasil pengamatan
TABEL HASIL PENGAMATAN
Massa silinder pejal = |50,100 0,005| gram
Massa silinder berongga = |17,500 0,005| gram
Massa bola 1 = |32,600 0,005| gram
Massa bola 2 = |66,770 0,005| gram
Diameter silinder pejal = | 2,000 0,005| cm
Diameter luar silinder berongga = |1,625 0,005| cm
Diameter dalam silinder berongga = | 1,650 0,005| cm
Diameter bola 1 = |2,000 0,005| cm
Diameter bola 2 = | 2,500 0,005| cm
Panjang bidang miring = | 194,50 0,05 | cm

Tabel 1. Momen inersia benda tegar


Tinggi bidang miring Waktu tempuh dari A ke
Nama Benda
(cm) B (s)

1. |2,3 0,1|

|26,40 0,05| 2. |2,2 0,1|

3. |2,3 0,1|

1. |2,6 0,1|

|25,40 0,05| 2. |2,6 0,1|

3. |2,6 0 ,1|

1. |2,7 0,1|
Silinder Pejal |23,40 0,05| 2. |2,5 0,1|

3. |2,7 0,1|

1. |2,5 0,1|

|23,00 0,05| 2. |2,6 0,1|

3. |2,7 0,1|

1. |2,9 0,1|

|21,30 0,05| 2. |3,2 0,1|

3. |3,2 0,1|
1. |2,6 0,1|

|26,40 0,05| 2. |2,5 0,1|

3. |2,6 0 ,1|

1. |2,6 0,1|

|25,40 0,05| 2. |2,7 0,1|

3. |2,9 0 ,1|

1. |2,9 0,1|

Silinder Berongga |23,40 0,05| 2. |2,9 0,1|

3. |3,0 0 ,1|

1. |2,7 0,1|

|23,00 0,05| 2. |2,9 0,1|

3. |2,9 0 ,1|

1. |3,4 0,1|

|21,30 0,05| 2. |3,4 0,1|

3. |3,5 0 ,1|

1. |2,3 0,1|

|26,40 0,05| 2. |2,4 0,1|

3. |2,4 0 ,1|

Bola Pejal 1
1. |2,2 0,1|

2. |2,3 0,1|
|25,40 0,05|
3. |2,4 0 ,1|
1. |2,5 0,1|

|23,40 0,05| 2. |2,4 0,1|

3. |2,4 0 ,1|

1. |2,5 0,1|

|23,00 0,05| 2. |2,6 0,1|

3. |2,6 0 ,1|

1. |2,8 0,1|

|21,30 0,05| 2. |2,9 0,1|

3. |2,9 0 ,1|

1. |2,3 0,1|

|26,40 0,05| 2. |2,4 0,1|

3. |2,4 0 ,1|

1. |2,4 0,1|

|25,40 0,05| 2. |2,2 0,1|

3. |2,2 0 ,1|

Bola Pejal 2
1. |2,5 0,1|

|23,40 0,05| 2. |2,5 0,1|

3. |2,6 0 ,1|

1. |2,5 0,1|

2. |2,6 0,1|
|23,00 0,05|
3. |2,7 0 ,1|
1. |2,9 0,1|

|21,30 0,05| 2. |2,8 0,1|

3. |2,9 0 ,1|

Analisis Data
Praktikum
1. Silinder pejal
a. 1 = |26,40 0,05| cm = |26,40 0,05| x 10-2 m
2,3+2,2+2,5
= = 2,33333 s
3

= |2,3 2,33333| = 0,03333 s

= |2,2 2,33333| = 0,13333 s

= |2,5 2,33333| = 0,16667 s

= 0,16667 s

0,16667
KR = = x 100% = 0,0714 % = 4 AB
2,33333

= |t t|

= |2,333 0,1667 |

9,8 2 0,264

C = 2 2t2 1 = 2(1,945 )2
(2,33333)2 - 1 = 0,86171


c = || + || + | |

2 2 2

22 22 22
=| 1 | + | 1 | + | 1 |

2 2
= | | +| | + | 2 |
2 2 3

2 2
22 3 2
=| | + | | + | |

2 2
22 3 3
2
22 2 22 2 22
=| 2 2
|+| 2 2
|+| 2 2
|

2 2 2 2
= | 2 22 | + |( 2 22 ) | + | 2 2 2 | c

9,8 2
(2,33333 )2
c= |9,8 0,0005 | +
2 0,264 (2,33333 )2 2(1,945 )2
2.(9,8 2
0,264 (2,33333 )2 )
|1,945(9,8 0,0005 | +
2 0,264 (2,333333)2 2(1,954)2 )
2(9,8 2
0,264 2,33333 )
|9,8 0,264 (2,33333)2 2(1,945)2 0,1 | 0,86171
2

c = |0,00409| + |0,00111| + |0,43209| 0,86171

c = 0,03768
0,03768
KR =
x 100% = 0,86171 x 100% = 4,37% = 3

DK = 100% 4,37% = 95,6 %

C = | |

C = |0,862 0,038|
1 1
I = Cm 2 = ( 2 ) = 0,8620,0501 ( 0,0004) = 0,000004
4 4


I = || + || + |2 |

( 2 ) (2 ) (2 )
I = | | + | |+ | |
2

I = | 2 | + | 2 | + |2 2 |

2 2 22

=|
| + |
| + |
|

2 2 22

= |2 | + |2 | + |2 |

2

=||+||+|
|

2
= | | + | | + |
|

0,038 0,000005 20,00005


= |0,862| + | 0,0501
| +| 0,01
| 0,000004
= |0,04408| + |0,00009| + |0,01000| 0,000004

I = 0,0000002
0,0000002
KR = | | 100% = | 0,000004 | 100% = 5,00% = 3

DK = 100% - 5,00% = 95%

I = | |

I = |0,004 103 0,002 104 |

b. 2 = |25,40 0,05| cm = |25,40 0,05| x 10-2 m


2,6+2,6+2,6
= = 2,6 s
3

= | 2,6 2,6 0000| = 0 s

= | 2,6 2,60000 | = 0s

= | 2,6 2,60000 | = 0 s

= 0,1 s ( kembali ke kesalahan mutlaknya )

0,1
KR = = x 100% = 0,0384% = 4 AB
2,6

= |t t|

= |2,600 01000|

9,8 2 0,254

C = 22 t2 1 = 2(1,945 )2
(2,6)2 - 1 = 1,22401

2 2 2 2
c = | 2 22 | + |( 2 2 2 ) | + | 2 22 | c

9,8 2
(2,6)2
c= |9,8 0,0005 | +
2 0,254 (2,6 )2 2(1,945 )2
2(9,8 2
0,254 (2,6 )2 )
|1,945(9,8 0.254 (2,6)2 2(1,945)2
0,0005 | +
2
2(9,8 2
0,254 2,6 )
|9,8 0,254 (2,6)2 2(1,945)2 0,1 | 1,22401
2

c = |0,00357| + |0,00263| + |0,13976| 1.22401

c = 0,17865
0,17865
KR = x 100% = x100% = 14 %
1,22401
DK = 100% 14% = 86 %

C = | |

C = |2,2 0,32|
1 1
I = Cm 2 = ( 2 ) = 2,2 0,0501 ( 0,0004) = 0,00001
4 4

2
= | | + | | + |
|

0,32 0,000005 20,00005


= | 2,2 | + | 0,0501
| +| 0,01
| 0,00001

I = 0,000001
0,000001
KR = | | 100% = | 0,00001 | 100% = 10 % = 2

DK = 100% - 10% = 90%

I = | |

I =|0,1 104 0,1 105 |

c. 3 = |23,40 0,05| cm = |23,40 0,05| x 10-2 m


2,7+2,6+2,7
= 3
=8s

= | 2,7 8| = 5,3 s

= | 2,6 8| = 5,4 s

= | 2,7 8| = 5,3 s

= 5,4 s

5,4
KR = = 8
x 100% = 0,6750% = 4 AB

= |t t|

= |8,0000 5,400|

2 9,8 2 0,234

C= t 1= (5,4 )2 - 1 =0,63669
2 2 2(1,945 )2

2 2 2 2
c = | 2 2 | + | | + | 2 2 | c
2 ( 2 2 2 ) 2
9,8 2
(8)2
c= |9,8 0,0005 | +
2 0,234 (8 )2 2(1,945 )2
2(9,8 2
0,234 (8 )2 )
|1,945(9,8 0,234 (8)2 2(1,945)2 0,0005 | +
2

2(9,8 2
0,234 8 )
|9,8 0,234 (8)2 2(1,945)2 0,1 |0,63669
2

c = |0,00225| + |0,00054| + |0,02635| 0,63669

c = 0,01855
0,01855
KR =
x 100% = 0,63669x100% = 2,91 % = 3 AB

DK = 100% 2,91% = 97,1 %

C = | |

C = |0,637 0,018|
1 1
I = Cm 2 = (4 2 ) = 0,637 0,0501 (4 0,0004) = 0,000003

2
= | | + | | + |
|

0,018 0,000005 20,00005


= |0,637| + | 0,0501
| +| 0,01
| 0,000003

I = 0,0000001
0,0000001
KR = | | 100% = | | 100% = 3,33% = 2
0,000003

DK = 100% - 3,33% = 96,7%

I = | |

I =|0,003 103 0,001 104 |

d. 4 = |23,00 0,05| cm = |23,00 0,05| x 10-2 m


2,5+2,6+2,7
= 3
= 2,6 s

= |2,5 2,6| = 0,1 s

= | 2,6 2,6| = 0 s

= | 2,7 2,6| = 0,1 s

= 0,1 s
0,1
KR = = 2,6
x 100%= 3,85% = 3 AB

= |t t|

= |2,60 0,100|

9,8 2 0,230

C = 2 2t2 1 = 2(1,945 )2
(2,60)2 - 1 = 1,01386

2 2 2 2
c = | 2 22 | + |( 2 2 2 ) | + | 2 22 | c

9,8 2
(2,60)2
c= |9,8 0,0005 | +
2 0,230 (2,60 )2 2(1,945 )2
2(9,8 2
0,230 2,(2,60 )2 )
|1,945(9,8 0,230 (2,60)2 2(1,945)2 0,0005 | +
2
2(9,8 2
0,230 2,60 )
|9,8 0,230 (2,60)2 2(1,945)2 0,1 | 1,01386
2

c = |0,00431| + |0,00102| + |0,00076| 1,01386

c = 0,00617
0,00617
KR = x 100% = x100% = 0,6085 % = 4 AB
1,01386

DK = 100% 0,6085% = 99,39 %

C = | |

C = |1,0139 0,0062|
1 1
I = Cm 2 = (4 2 ) = 1,0139 0,0501 (4 0,0004) = 0,05079

2
= | | + | | + |
|

0.0062 0,000005 20,00005


= |1,0139| + | 0,0501
| +| 0,01
| 0,05079

I = 0,00082
0,00082
KR = | | 100% = |0,05079| 100% = 1,61% = 3

DK = 100% -1,61% = 98,4%

I = | |

I =|0,051 0,082 | 102


e. 5 = |21,30 0,05| cm = |21,30 0,05| x 10-2 m
2,9+3,2+3,2
= 3
= 3,1 s

= |2,9 3,1| = 0,2 s

= |3,2 3,1| = 0,1 s

= | 3,2 3,1| = 0,1 s

= 0,2 s

0,2
KR = = 3,1
x 100%= 6,45% = 3 AB

= |t t|

= |3,10 0,200|

9,8 2 0,213

C = 2 2t2 1 = 2(1,945 )2
(3,10)2 - 1 = 1,65130

2 2 2 2
c = | 2 22 | + |( 2 2 2 ) | + | 2 22 | c

9,8 2
(3,10)2
c= |9,8 0,0005 | +
2 0,213 (3,10 )2 2(1,945 )2
2(9,8 2
0,231 2,(3,10 )2 )
|1,945(9,8 0,231 (3,10)2 2(1,945)2 0,0005 | +
2

2(9,8 2
0,231 3,10 )
|9,8 0,231 (3,10)2 2(1,945)2 0,1 | 1,65130
2

c = |0,00376| + |0,00062| + |0,10314| 1,65130

c = 0,17754
0,17754
KR =
x 100% = 1,65130x100% = 11% = 2 AB

DK = 100% 11% = 89 %

C = | |

C = |1,7 0,18|
1 1
I = Cm 2 = (4 2 ) = 1,7 0,0501 (4 0,0004) = 0,000009

2
= | | + | | + |
|
0,18 0,000005 20,00005
= | 1,7 | + | 0,0501
| +| 0,01
| 0,000009

I = 0,000001
0,000001
KR = | | 100% = |0,000009| 100% = 0,1111% = 4

DK = 100% -0,1111% = 99,89%

I = | |

I = |0,0009 0,0001|102

I1 + I2 + I3 + I4 + I5 (0,00400+0,01000+ 0,00300 + 0,05079+0,000009)gm2


I = 5
=
5

= 0,067799 gm2
1 = |I1 - I | = |0,067799 0,004000| = 0,063799 gm2
2 = |I2 - I | = |0,067799 0,010000| = 0,057799 gm2
3 = |I3 - I | = |0,067799 0,003000| = 0,064799 gm2
1 = |I4 - I | = |0,067799 0,050790| = 0,017009 gm2
2 = |I5 - I | = |0,067799 0,000009| = 0,067790 gm2
max = I = 0,067790 gm2
I 0,067790 gm2
KR = I
x 100 % = 0,067799 gm2
x 100 % = 99,9% 99 %= 2 angka berarti

DK= 100% - KR = 100% - 99 %= 1%


I = |0,067799 0,067790| x 10-3 kgm2 = |6,8 6,8| x 10-6 kgm2

2. Silinder Berongga
a. h= |26,40 0,05| cm = |26,40 0,05| x 10-2 m
(t1 +t2 +t3) s (2,6+2,5 +2,6)s
t = 3
= 3
= 2,56666 s

1 = |t1 - t | = |2,6 2,56666| = 0,03334 s


2 = |t2 - t | = |2,5 2,56666| = 0,06666 s
3 = |t3 - t | = |2,6 2,56666| = 0,03334 s
max = t = 0,06666 s
0,06666
KR = x 100 % = x 100 % = 2,597% 2,60%= 3 angka berarti
t 2,56666

DK = 100% - KR = 100% - 2,60%= 97,4%


t = |2,56666 0,06666|s

gh 2 (9,8 2)(0,264 ) 2,58720 2 /2
C = 2 2
t 1=
2 (1,945 )2
(2,56666s) 2 1 = 7,56604 2
6,58774 2 1

=1,25267
C C C
C = |h| h + |x| x + | t | t
2 2 2
22 22 22
C = | ( h
1) | h + | ( x
1) | x + | ( t
1) |

gt2 ght2 ght


C =|22 | h + | 3
| x + | 2 | t
2 2
C 22 3 2
C
=| C
| h + |
| x + | C
| t

2 2
22 3 2
C =| gh | h + |
| x + | C
| t
t1
22

gt2 2ght2 2ght


C =|ght2 2x2 h| + |x(ght2 2x2 ) x| + |ght2 2x2 t|
9,8
( 2 )(2,56666)2
C
=|(9,8/2 )(0,264)(2,56666) 2 2(1,945)2 0,0005m|+

9,8
2( 2 )(0,264)(2,56666)2
|1,945m((9,8/2 )(0,264)(2,56666)2 )2(1,945)2 0,0005m| +

9,8
2( 2 )(0,264)(2,56666)

|(9,8/2 )(0,264)(2,56666) 2 2(1,945)2 0,1s|

0,032272 0,017043 1,328092


C =|9,477722 | + |25,584163 | + |9,477722 |

C =|0,00340| + |0,00066| + |0,14012|


C = 0,14418
C 0,14418
KR = C
x 100%=1,25267 X 100% = 11,50981% 12 = 2 angka berarti

DK = 100% - KR=100% - 12%= 88%


C = |1,25267 0,14418|
1 1
I = CmR2 = Cm (4 2 ) = 1,25267x 17,5 gram x 4 (0,01625)2 = 0,00131 g2

0,00000131 kgm2 1,31 x 10-6 kgm2



I = | |C + ||m + |2 |R
(2 ) (2 ) (2 )
I = |
|C +|
|m +|
|R

I = | 2 | C + | 2 |m + |2|R
I 2 2 22
I
= | I
|C +| I
|m +| I
|R
I 2 2 22
I
= |2 |C + |2 |m + |2 |R
I C m 2R
I
=|C|+|m|+| R
|
C m 2R
I = | C | + | m | + | R
| I
0,14418 0,005 2(0,00005)
I = | | +| | +| | 0,00131gm2
1,25267 17,500g 0,00812m

I = |0,11509| + |0,00028| + |0,01231| 0,00131 gm2


I = |0,12768|0,00131 gm2
I = 0,00016 gm2 0,00000016 kgm2 1,6 x 10-7 kgm2
I 0,00016 2
KR = I
x 100% = 0,00131g2
x 100% = 12,21374 % 12%= 2 angka berarti

DK = 100% 12% = 88%


I = |0,00131 0,00016| x 10-3 kgm2

b. h= |25,40 0,05| cm = |25,40 0,05| x 10-2 m


(t1 +t2 +t3) s (2,6+2,7 +2,9)s
t = 3
= 3
= 2,73333 s

1 = |t1 - t | = |2,6 2,73333| = 0,13333 s


2 = |t2 - t | = |2,7 2,73333| = 0,03333 s
3 = |t3 - t | = |2,9 2,73333| = 0,16667 s
max = t = 0,16667 s
0,16667
KR = x 100 % = x 100 % = 6,09769% 6,0%= 2 angka berarti
t 2,73333

DK= 100% - KR = 100% - 6,0%= 94,0%


t = |2,73333 0,16667|s

gh (9,8 2 )(0,254 ) 2,48920 2 /2
C = 2 2 t 2 1 =
2 (1,945 )2
(2,73333s) 2 1 = 7,56604 2
7,47109 2 1

=1,45793
gt2 2ght2 2ght
C=| h| + | x| + | t|
ght2 2x2 x(ght2 2x2 ) ght2 2x2
9,8
( 2 )(2,73333)2
C=|(9,8/2 )(0,254)(2,73333)

2 2(1,945)2 0,0005m|+

9,8
2( 2 )(0,254)(2,73333)2
|1,945m((9,8/2 )(0,254)(2,73333)2 2(1,945)2 ) 0,0005m| +

9,8
2( 2 )(0,254)(2,73333)

|(9,8/2 )(0,254)(2,73333) 2 2(1,945)2 0,1s|
0,036602 0,018593 1,360762
C=|11,030982 | + |21,455273 | + |11,030992 |

C=|0,00331| + |0,00086| + |0,12335|


C= 0,12752
C 0,12752
KR= C
x 100%=1,45793 X 100% = 8,74664% 8,7% = 2 angka berarti

DK= 100% - KR=100% - 8,7%= 91,3%


C = |1,45793 0,12752|
1 1
I = CmR2 = Cm ( 2 ) = 1,45793 x 17,5 gram x (0,01625)2 ) = 0,00153 gm2
4 4

0,00000153 kgm2 1,53 x 10-6 kgm2


C m 2R
I = | C | + | m | + | R
| I
0,12752 0,005 2(0,00005)
I = |1,45793| + |17,500g| + | 0,00812m
| 0,00153gm2

I = |0,08746| + |0,00028| + |0,01231| 0,00153 gm2


I = |0,10005|0,00153 gm2
I = 0,00015 gm2 0,00000015 kgm2 1,5 x 10-7 kgm2
I 0,00015 2
KR = I
x 100% = 0,00153 g2 x 100% = 9,80392% 9,8%= 2 angka berarti

DK = 100% 9,8% = 90,2%


I = |0,00153 0,00015| x 10-3 kgm2

c. h= |23,40 0,05| cm = |23,40 0,05| x 10-2 m


(t1 +t2 +t3) s (2,9+2,9 +3,0)s
t = = = 2,93333 s
3 3

1 = |t1 - t | = |2,9 2,93333| = 0,03333 s


2 = |t2 - t | = |2,9 2,93333| = 0,03333 s
3 = |t3 - t | = |3,0 2,93333| = 0,06667 s
max = t = 0,06667 s
0,06667
KR = t
x 100 % = 2,93333 x 100 % = 2,27284% 2,27%= 3 angka berarti

DK= 100% - KR = 100% - 2,27%= 97,73%


t = |2,93333 0,06667|s

gh 2 (9,8 2 )(0,234 ) 2,29320 2 /2
C= 2 2
t 1=
2 (1,945 )2
(2,93333s) 2 1 = 7,56604 2
8,60442 2 1

=1,60792
gt2 2ght2 2ght
C=|ght2 2x2 h| + |x(ght2 2x2 ) x| + |ght2 2x2 t|
9,8
( 2 )(2,93333)2
C=|(9,8/2 )(0,234)(2,93333)

2 2(1,945)2 0,0005m|+

9,8
2( 2 )(0,234)(2,93333)2

| 0,0005m| +
1,945m((9,8/2 )(0,234)(2,93333)2 2(1,945)2 )

9,8
2( 2 )(0,234)(2,93333)

|(9,8/2 )(0,234)(2,93333) 2 2(1,945)2 0,1s|

0,042162 0,019733 1,345342


C=| | +| | +| |
12,165612 23,662113 12,165612

C=|0,00130| + |0,00060| + |0,11058|


C= 0,11248
C 0,11248
KR= C
x 100%=1,60792 X 100% = 6,99537% 6,9% = 2 angka berarti

DK= 100% - KR=100% - 6,9%= 93,1%


C = |1,60792 0,11248|
1 1
I = CmR2 = Cm ( 2 ) = 1,60792 x 17,5 gram x (0,01625)2 = 0,00168 gm2
4 4
C m 2R
I = | C | + | m | + | R
| I
0,11248 0,005 2(0,00005)
I = |1,60792 | + |17,500g| + | 0,00812m
| 0,00168 gm2

I = |0,06995| + |0,00028| + |0,01231| 0,00168 gm2


I = |0,08254| 0,00168 gm2
I = 0,00013 gm2 0,00000013 kgm2 1,3 x 10-7 kgm2
I 0,000132
KR = I
x 100% = 0,00168 g2 x 100% = 7,73809 % 7,7%= 2 angka berarti

DK = 100% 7,7% = 92,3%


I = |0,00168 0,00013 | x 10-3 kgm2

d. h= |23,00 0,05| cm = |23,00 0,05| x 10-2 m


(t1 +t2 +t3) s (2,7+2,9 +2,9)s
t = 3
= 3
= 2,83333 s

1 = |t1 - t | = |2,7 2,83333| = 0,13333 s


2 = |t2 - t | = |2,9 2,83333| = 0,06667 s
3 = |t3 - t | = |2,9 2,83333| = 0,06667 s
max = t = 0,13333 s
0,13333
KR = t
x 100 % = 2,83333 x 100 % = 4,70577% 4,70%= 3 angka berarti

DK= 100% - KR = 100% - 4,70%= 95,3%


t = |2,83333 0,13333 |s

gh (9,8 2 )(0,230 ) 2,25400 2 /2
C = 2 2 t 2 1 =
2 (1,945 )2
(2,83333s) 2 1 = 7,56604 2
8,02775 2 1

=1,39154
gt2 2ght2 2ght
C=|ght2 2x2 h| + |x(ght2 2x2 ) x| + |ght2 2x2 t|
9,8
( 2 )(2,83333)2
C=|(9,8/2 )(0,230)(2,83333)

2 2(1,945)2 0,0005m|+

9,8
2( 2 )(0,230)(2,83333)2
|1,945m((9,8/2 )(0,230)(2,83333)2 2(1,945)2 ) 0,0005m| +

9,8
2( 2 )(0,230)(2,83333)

|(9,8/2 )(0,230)(2,83333) 2 2(1,945)2 0,1s|

0,039332 0,018093 1,277262


C=|10,528502 | + |20,477933 | + |10,528502 |

C=|0,00373| + |0,00088| + |0,12131|


C= 0,12592
C 0,12592
KR= C
x 100%=1,39154 X 100% = 9,04896% 9,0% = 2 angka berarti

DK= 100% - KR=100% - 9,0%= 91%


C = |1,39154 0,12592|
1 1
I = CmR2 = Cm (4 2 ) = 1,39154 x 17,5 gram x 4
(0,01625)2 = 0,00146 gm2
0,00000146 kgm2 1,46 x 10-6 kgm2
C m 2R
I = | | + | | + | | I
C m R
0,12592 0,005 2(0,00005)
I = |1,39154 | + |17,500g| + | 0,00812m
| 0,00146 gm2

I = |0,09048| + |0,00028| + |0,01231| 0,00146 gm2


I = |0,10307| 0,00146 gm2
I = 0,00015 gm2 0,00000015 kgm2 1,5x 10-7 kgm2
I 0,00015 2
KR = I
x 100% = 0,00146 g2 x 100% = 10,27397 % 10 % = 2 angka berarti

DK = 100% 10% = 90%


I = |0,00146 0,00015 | x 10-3 kgm2

e. h= |21,30 0,05| cm = |21,30 0,05| x 10-2 m


(t1 +t2 +t3) s (3,4+3,4 +3,5)s
t = 3
= 3
= 3,43333 s

1 = |t1 - t | = |3,4 3,43333| = 0,03333 s


2 = |t2 - t | = |3,4 3,43333| = 0,03333 s
3 = |t3 - t | = |3,5 3,43333| = 0,06667 s
max = t = 0,06667 s
0,06667
KR = x 100 % = x 100 % = 1,94184% 1,94 %= 3 angka berarti
t 3,43333

DK= 100% - KR = 100% - 1,94 %= 98,06%


t = |3,43333 0,06667 |s

gh (9,8 2 )(0,213 ) 2,08740 2 /2
C = 2 2 t 2 1 =
2 (1,945 )2
(3,43333s) 2 1 = 7,56604 2
11,78775 2 1

=2,25212
gt2 2ght2 2ght
C=|ght2 2x2 h| + |x(ght2 2x2 ) x| + |ght2 2x2 t|
9,8
( 2 )(3,43333)2
C=|(9,8/2 )(0,213)(3,43333)

2 2(1,945)2 0,0005m|+

9,8
2( 2 )(0,213)(3,43333)2

| 0,0005m| +
1,945m((9,8/2 )(0,213)(3,43333)2 2(1,945)2 )

9,8
2( 2 )(0,213)(3,43333)

|(9,8/2 )(0,213)(3,43333) 2 2(1,945)2 0,1s|

0,057752 0,024603 1,433342


C=|17,039702 | + |33,142213 | + |17,039702 |

C=|0,00338| + |0,00074| + |0,08411|


C= 0,08823
C 0,08823
KR= x 100%= X 100% = 3,91764% 3,91% = 3 angka berarti
C 2,25212

DK= 100% - KR=100% - 3,91%= 96,09%


C = |2,25212 0,08823|
1 1
I = CmR2 = Cm (4 2 ) = 2,25212 x 17,5 gram x 4
(0,01625)2 = 0,00236 gm2

0,00000236 kgm2 2,36 x 10-6 kgm2


C m 2R
I = | | + | | + | | I
C m R
0,08823 0,005 2(0,00005)
I = |2,25212 | + |17,500g| + | 0,00812m
| 0,00236 gm2

I = |0,03917| + |0,00028| + |0,01231| 0,00236 gm2


I = |0,05176| 0,00236 gm2
I = 0,00012 gm2 0,00000012 kgm2 1,2 x 10-7 kgm2
I 0,00012 2
KR = I
x 100% = 0,00236 g2 x 100% = 5,08 % = 3 angka berarti

DK = 100% 5,08% = 94,92%


I = |0,00236 0,00012 | x 10-3 kgm2

I1 + I2 + I3 + I4 + I5 (0,00131+0,00153+ 0,00168 + 0,00146+ 0,00236)gm2


I = = = 0,00166 gm2
5 5

1 = |I1 - I | = |0,00131 0,00166| = 0,00035 gm2


2 = |I2 - I | = |0,00153 0,00166| = 0,00013 gm2
3 = |I3 - I | = |0,00168 0,00166| = 0,00002 gm2
1 = |I4 - I | = |0,00146 0,00166| = 0,00020 gm2
2 = |I5 - I | = |0,00236 0,00166| = 0,00070 gm2
max = I = 0,00070 gm2
I 0,00070 gm2
KR = x 100 % = x 100 % = 42,16867% 42 %= 2 angka berarti
I 0,00166 gm2

DK= 100% - KR = 100% - 42 %= 58%


I = |0,00166 0,00070 | x 10-3 kgm2 = |1,66 0,70| x 10-9 kgm2

3. Bola Pejal 1
a. Tinggi |26,40 0,05| cm

t1 =|2,3 0,1| s

t2 =|2,4 0,1| s

t3 =|2,4 0,1| s
2,3 s+2,4 s+2,4
t = 3
= 2,36 s

1 = |t1- t| = |2,3 - 2,36| s = 0,06 s


2 = |t2- t| = |2,4 - 2,36| s = 0,04 s
3 = |t3-t| = |2,4 - 2,36| s = 0,04 s
t = max = 0,06 s
t 0,06
KR = t
x 100%= 2,36
x 100% = 0,0254% (4 AB)
Pelaporan Fisika:
t = |t t| = |2,360 0,06 | s 10-2
Nilai c
gh 2
.c = t 1
2x2

m
9,8 2 26,4x102 m
.c = s
2(194,5x102 m)2
(2,36 s)2 1

c = 1,89 1 = 0,89
c c c
.c = |h| h + |x| x + | t | t
1 ght
c gt2 h ght2 x3 x 2 t
2x2
.c = | c
|+ | c
| + |x c |

c gt2 2ght2 2ght c


= |ght2 2x2 h | + | 2 x| + |ght2 2x2 t| =
c x(ght22x ) c

9,8 2(2,36 )2

| 0,0005 m | +
9,8 226,4.102 (2,36 )2 2(1,945)2


2(9,8 226,4.102 (2,36 )2 )

| 0,0005 m| +
1,945m(9,8 226,4.102 (2,36 )2 )2(1,945m)2


2(9,8 226,4.102 .2,36 )

| 0,1 s|
(9,8 226,4.102 (2,36 )2 2(1,945m)2

c = |0,00039 + 0,00097 + 0,1784|c

c = |0,17976|10,94

c = 1,96657
c 1,96657
KR = x 100%= x 100% = 17,50% (2 AB)
c 10,94
Pelaporan Fisika
c = |c c| = |101,96657|

Momen inersia

I = c (mR2 )

I = 10,94(0,0326 kg(0,01 m)2 )

I = 0,0356 kg.m2
I I I
.I = |c| c + |m| m + |R| R

c m R
.I = | c + m
+ R|I

1,96657 0,0005 0,0005


.I = | 10,94
+ 0,0326 + 0,01 | 0,0000356 kg. m2

.I = 0,000087 kg. m2
I 0,000087
KR = I
x 100%= 0,0356
x 100% = 0,244% (4 AB)
Pelaporan Fisika
I = |I I| = |0,03560,000087| kg.m2

b. Tinggi |25,40 0,05| cm

t1 = |2,2 0,1| s
t2 = |2,3 0,1| s

t3 = |2,4 0,1| s
2,2 +2,3 +2,4
= 3
= 2,3

1 = |t1- | = |2,2 - 2,3| s = 0,1 s


2 = |t2- | = |2,3 - 2,3| s = 0 s
3 = |t3-| = |2,4 - 2,3|s = 0,1 s
t = max = 0,1 s
0,1
KR =
x 100%= 2,3
x 100% = 0,043% (4 AB)
Pelaporan Fisika
t = | | = |2,3 0,1 | s
Nilai c

. = 2 2 2 1


9,8 2 25,4.102
. =
2(1,945 )2
(2,3 )2 1

= 3,385056 1 = 2,385056

. = | | + | | + | |

1
2 2 3
22 2
. = |
|+ |
| + |
|

c gt2 2ght2 2ght c


= |ght2 2x2 h | + | 2 x| + |ght2 2x2 t| =
c x(ght22x ) c

9,8 2(2,3 )2

| 0,0005 m | +
9,8 225,4.102 (2,3 )2 2(1,945)2


2(9,8 225,4.102 (2,3 )2 )

| 0,0005 m| +
1,945m(9,8 225,4.102 (2,3 )2 )2(1,945m)2


2(9,8 225,4.102 .2,3 )

| 0,1 s|
(9,8 2 25,4.102 (2,3 )2 2(1,945m)2

= |0,004627 + 0,001256 + 0,0123342|

= |0,0182172|2,385056

= 0,043449
0,043449
KR = x 100%= x 100% = 0,018% (4 AB)
2,385056
Pelaporan Fisika
c = |c | = |2,385056= 0,043449|

Momen inersia

= ( 2 )

= 2,385056(0,0326 kg(0,01 m)2 )

= 0,000007775 kg.m2 = 7,775.10-6 kg.m2



. = || + || + ||


. = | +
+
|

0,043449 0,0005 0,0005


. = |2,385056 + 0,0326 + 0,01
| 7,775. 106

. = 0,000000649 kg.m2
0,000000649
KR =
x 100%= 7,775.106
x 100% = 0,0835545% (4 AB)
Pelaporan Fisika
I = |I | = |7,775.10-60,0835545| kg.m2

c. Tinggi |23,40 0,05| cm


t1 = |2,50,1| s

t2 = |2,40,1| s

t3 = |2,40,1| s
2,5 +2,4 +2,4
= 3
= 2,36

1 = |t1- t| = |2,3 - 2,36| s = 0,06 s


2 = |t2- t| = |2,4 - 2,36| s = 0,04 s
3 = |t3-t| = |2,4 - 2,36| s = 0,04 s
t = max = 0,06 s
t 0,06
KR = t
x 100%= 2,36
x 100% = 0,0254% (4 AB)
Pelaporan Fisika:
t = |t t| = |2,360 0,06 | s

Nilai c

. = 2 2 2 1


9,8 2 23,40.102
. =
2(1,945 )2
(2,36 )2 1
= 1,688094408 1 = 0,688094408

. = | | + | | + | |

1
2 2 3 2
22
. = |
| +|
|+| |

c gt2 2ght2 2ght c


= |ght2 2x2 h | + | 2 x| + |ght2 2x2 t| =
c x(ght22x ) c

9,8 2(2,36 )2

| 0,0005 m | +
9,8 223,40.102 (2,36 )2 2(1,945)2


2(9,8 223,40.102 (2,36 )2 )

| 0,0005 m| +
1,945m(9,8 223,40.102 (2,36 )2 )2(1,945m)2


2(9,8 223,4.102 .2,36 )

| 0,1 s|
(9,8 223,40.102 (2,36 )2 2(1,945m)2

= |0,005242 + 0,001315 + 0,207905|

= |0,214462|0,688094408

= 0,147570102
0,147570102
KR =
x 100%= 0,688094408
x 100% = 0,214% (4 AB)
Pelaporan Fisika
c = |c | = |0,688094408 0,147570102|

Momen inersia

= ( 2 )

= 0,688094408(0,0326 kg(0,01 m)2 )

= 0,000002243 kg.m2 = 2,243.10-6 kg.m2



. = || + || + ||


. = | + + |

0,147570102 0,0005 0,0005


. = |0,688094408 + 0,0326 + 0,01
|2,243.10-6

. = 0,000000593 kg.m2 = 5,93.10-7


5,93.107
KR =
x 100%= 2,243.106
x 100% = 0,264 % (4 AB)
Pelaporan Fisika
I = |I | = |2,2430,593| 10-6kg.m2

d. Tinggi |23,00 0,05| cm


t1 = |2,50,1| s

t2 = |2,60,1| s

t3 = |2,60,1| s
2,5 +2,6 +2,6
= = 2,56
3

1 = |t1- t| = |2,5 - 2,56| s = 0,06 s


2 = |t2- t| = |2,6 - 2,56| s = 0,04 s
3 = |t3-t| = |2,6 - 2,56| s = 0,04 s
t = max = 0,06 s
t 0,06
KR = x 100%= x 100% = 0,023% (4 AB)
t 2,56
Pelaporan Fisika:
t = |t t| = |2,56 0,06| s

Nilai c

. = 2 2 2 1


9,8 2 23,00.102
. =
2(1,945 )2
(2,56 )2 1

= 1,952381282 1 = 0,952381282

. = || + || + | |

1 2
2 2 3 2
. = |2
|+|
|+| |

c gt2 2ght2 2ght c


= |ght2 2x2 h | + | 2 x| + |ght2 2x2 t| =
c x(ght22x ) c

9,8 2(2,56 )2

| 0,0005 m | +
9,8 223,00.102 (2,56 )2 2(1,945)2


2(9,8 223,00.102 (2,56 )2 )

| 0,0005 m| +
1,945m(9,8 223,00.102 (2,56 )2 )2(1,945m)2


2(9,8 223,00.102 .2,56 )

| 0,1 s|
(9,8 223,00.102 (2,56 )2 2(1,945m)2

= |0,004456 + 0,001053 + 0,0800|

= |0,085509|0,952381282
= 0,081437171
0,081437171
KR =
x 100%= 0,952381282
x 100% = 0,085% (4 AB)
Pelaporan Fisika
c = |c | = |0,952381282 0,081437171|

Momen inersia

= ( 2 )

= 0,952381282(0,0326 kg(0,01 m)2 )

= 0,000003104 kg.m2 = 3,104.10-6 kg.m2



. = || + || + ||


. = | +
+
|

0,081437171 0,0005 0,0005


. = |0,952381282 + 0,0326 + 0,01
|3,104.10-6

. = 0,00000042 kg.m2 = 4,2.10-7


4,2.107
KR =
x 100%= 3,104.106
x 100% = 0,13 % (4 AB)
Pelaporan Fisika

I = |I | = |3,104 0,42| 10-6 kg.m2

e. Tinggi |21,30 0,05| cm


t1 = |2,80,1| s

t2 = |2,90,1| s

t3 = |2,90,1| s
2,8 +2,9 +2,9
= 3
= 2,86

1 = |t1- t| = |2,8 - 2,86| s = 0,06 s


2 = |t2- t| = |2,9 - 2,86| s = 0,04 s
3 = |t3-t| = |2,9 - 2,86| s = 0,04 s
t = max = 0,06 s
t 0,06
KR = t
x 100%= 2,86
x 100% = 0,020% (4 AB)
Pelaporan Fisika:
t = |t t| = |2,86 0,06| s

Nilai c
2
. = 1
2 2


9,8 2 21,30.102
. =
2(1,945 )2
(2,86 )2 1

= 2,256672509 1 = 1,256672509

. = | | + | | + | |

1 2
2 2 3 2
. = |2 |+| |+| |

c gt2 2ght2 2ght c


= |ght2 2x2 h | + | 2 x| + |ght2 2x2 t| =
c x(ght22x ) c

9,8 2(2,86 )2

| 0,0005 m | +
9,8 221,30.102 (2,86 )2 2(1,945)2


2(9,8 221,30.102 (2,86 )2 )

| 0,0005 m| +
1,945m(9,8 223,00.102 (2,86 )2 )2(1,945m)2


2(9,8 221,30.102 .2,86 )

| 0,1 s|
(9,8 221,30.102 (2,86 )2 2(1,945m)2

= |0,008890 + 0,000923 + 0,125577|

= |0,13539|1,256672509

= 0,170140891
= 0,170140891
KR =
x 100%= 1,256672509
x 100% = 0,135% (4 AB)
Pelaporan Fisika
c = |c | = | 1,256672509 0,170140891|

Momen inersia

= ( 2 )

= 1,256672509(0,0326 kg(0,01 m)2 )

= 0,000004096 kg.m2 = 4,096.10-6 kg.m2



. = || + || + ||


. = | +
+
|
0,170140891 0,0005 0,0005
. = |1,256672509 + 0,0326 + 0,01
|4,096.10-6

. = 0,000000759kg.m2 = 7,59.10-7
7,59.107
KR =
x 100%= 4,096.106 x 100% = 0,185 % (4 AB)
Pelaporan Fisika

I = |I | = |4,096 0,759| 10-6 kg.m2

I1 + I2 + I3 + I4 + I5 (35,60000+0,00777+ 0,00224 + 0,00310+ 0,00409)gm2


I = 5
= 5
=7,12344 gm2

1 = |I1 - I | = |35,60000 7,12344 | = 28,47656 gm2


2 = |I2 - I | = |0,00777 7,12344 | = 7,11567 gm2
3 = |I3 - I | = |0,00224 7,12344 | = 7,12120 gm2
1 = |I4 - I | = |0,00310 7,12344 | = 7,12034 gm2
2 = |I5 - I | = |0,00409 7,12344 | = 7,11935 gm2
max = I = 28,47656 gm2
I 28,47656 gm2
KR = x 100 % = x 100 % = 3,99 x 100 % 4,0 %= 2 angka berarti
I 7,12344gm2

DK= 100% - KR = 100% - 4,0 %= 96%


I = |7,12344 28,47656 | x 10-3 kgm2

4. Bola Pejal 2
a. h= |26,40 0,05| cm = |26,40 0,05| x 10-2 m
(t1 +t2 +t3) s (2,3+2,4 +2,4)s
t = 3
= 3
= 2,36666 s

1 = |t1 - t | = |2,3 2,36666| = 0,06666 s


2 = |t2 - t | = |2,4 2,36666| = 0,03334 s
3 = |t3 - t | = |2,4 2,36666| = 0,03334 s
max = t = 0,06666 s
0,06666
KR = t
x 100 % = 2,36666 x 100 % = 2,816% 2,82%= 3 angka berarti

DK = 100% - KR = 100% - 2,82%= 97,18%


t = |2,36666 0,06666|s

gh 2 (9,8 2)(0,264 ) 2,58720 2 /2
C = 2 2
t 1=
2 (1,945 )2
(2,36666s) 2 1 = 7,56604 2
5,60107 2 1

=0,91528
C C C
C = |h| h + |x| x + | t | t
2 2 2
22 22 22
C = | ( h
1) | h + | ( x
1) | x + | ( t
1) |

gt2 ght2 ght


C =| | h + | | x + | | t
2 2 3 2
2 2
C 22 3 2
C
=|
C
| h + |
| x + | C
| t

2 2
22 3 2
C =| gh | h + |
| x + | C | t
t1
22

gt2 2ght2 2ght


C =| h| + | x| + | t|
ght2 2x2 x(ght2 2x2 ) ght2 2x2
9,8
( 2 )(2,36666)2
C =|(9,8/2 )(0,264)(2,36666)

2 2(1,945)2 0,0005m|+

9,8
2( 2 )(0,264)(2,36666)2

| 0,0005m| +
1,945m((9,8/2 )(0,264)(2,36666)2 )2(1,945)2

9,8
2( 2 )(0,264)(2,36666)

|(9,8/2 )(0,264)(2,36666) 2 2(1,945)2 0,1s|

0,027442 0,014493 1,224602


C =| | +| | +| |
6,925032 13,46913 6,925032

C =|0,00396| + |0,00107| + |0,17683|


C = 0,18186
C 0,18186
KR = x 100%=0,91528 X 100% = 19,86932,% 19 = 2 angka berarti
C

DK = 100% - KR=100% - 19%= 81%


C = |0,91528 0,18186|
1 1
I = CmR2 = Cm (4 2 ) = 0,91528x 66,77 gram x 4 (0,025)2 = 0,00954 g2
0,00000954 kgm2 9,54 x 10-6 kgm2

I = | |C + | |m + | 2 |R

(2 ) (2 ) (2 )
I = |
|C +|
|m +|
|R

I = | 2 | C + | 2 |m + |2|R
I 2 2 22
= | |C +| |m +| |R
I I I I
I 2 2 22
=| |C +| |m +| |R
I 2 2 2
I C m 2R
I
=|C|+|m|+| R
|
C m 2R
I = | C | + | m | + | R
| I
0,18186 0,005 2(0,00005)
I = |0,91528| + |66,770g| + | 0,00015m
| 0,00954gm2

I = |0,19869| + |0,00007| + |0,66666| 0,00954 gm2


I = |0,86542|0,00954 gm2
I = 0,00825 gm2 0,00000825 kgm2 8,25 x 10-6 kgm2
I 0,00825 2
KR = I
x 100% = 0,13068g2
x 100% = 6,31313 % 6,3%= 2 angka berarti

DK = 100% 6,3% = 93,7%


I = |0,00954 0,00825| x 10-3 kgm2

b. h= |25,40 0,05| cm = |25,40 0,05| x 10-2 m


(t1 +t2 +t3) s (2,4+2,2 +2,2)s
t = 3
= 3
= 2,26666 s

1 = |t1 - t | = |2,4 2,26666| = 0,13334 s


2 = |t2 - t | = |2,2 2,26666| = 0,06666 s
3 = |t3 - t | = |2,2 2,26666| = 0,06666 s
max = t = 0,13334 s
0,13334
KR = t
x 100 % = 2,26666 x 100 % = 5,88266% 5,9%= 2 angka berarti

DK= 100% - KR = 100% - 5,9%= 94,10%


t = |2,26666 0,13334|s

gh 2 (9,8 2 )(0,254 ) 2,48920 2 /2
C= 2 2
t 1=
2 (1,945 )2
(2,26666s) 2 1 = 7,56605 2
5,13774 2 1

=0,69029
gt2 2ght2 2ght
C=|ght2 2x2 h| + |x(ght2 2x2 ) x| + |ght2 2x2 t|
9,8
( 2 )(2,26666)2
C=|(9,8/2 )(0,254)(2,26666)

2 2(1,945)2 0,0005m|+

9,8
2( 2 )(0,254)(2,26666)2

| 0,0005m| +
1,945m((9,8/2 )(0,254)(2,26666)2 2(1,945)2 )

9,8
2( 2 )(0,254)(2,26666)

|(9,8/2 )(0,254)(2,26666) 2 2(1,945)2 0,1s|

0,025172 0,012783 1,128432


C=|5,222812 | + |10,158373 | + |5,222812 |

C=|0,00481| + |0,00125| + |0,21605|


C= 0,22211
C 0,22211
KR= x 100%= X 100% = 31,78664% 32% = 2 angka berarti
C 0,69029

DK= 100% - KR=100% - 32 %= 68%


C = |0,69029 0,22211|
1 1
I = CmR2 = Cm (4 2 ) = 0,69029 x 66,77 gram x 4
(0,025)2 ) = 0,00720 gm2

0,00000720 kgm2 7,2 x 10-6 kgm2


C m 2R
I = | C | + | m | + | R
| I
0,22211 0,005 2(0,00005)
I = |0,69029| + |66,770g| + | 0,00015
| 0,00720gm2

I = |0,32176| + |0,00007| + |0,66666| 0,00720 gm2


I = |0,98849|0,00720 gm2
I = 0,00711 gm2 0,00000711 kgm2 7,11 x 10-6 kgm2
I 0,00711 2
KR = x 100% = x 100% = 98,75% 98%= 2 angka berarti
I 0,00720 g2

DK = 100% 98% = 2,0%


I = |0,00720 0,00711| x 10-3 kgm2

c. h= |23,40 0,05| cm = |23,40 0,05| x 10-2 m


(t1 +t2 +t3) s (2,5+2,5 +2,6)s
t = = = 2,53333 s
3 3

1 = |t1 - t | = |2,5 2,53333| = 0,03333 s


2 = |t2 - t | = |2,5 2,53333| = 0,03333 s
3 = |t3 - t | = |2,6 2,53333| = 0,06667 s
max = t = 0,06667 s
0,06667
KR = t
x 100 % = 2,53333 x 100 % = 2,63171% 2,63%= 3 angka berarti

DK= 100% - KR = 100% - 2,63%= 97,37%


t = |2,53333 0,06667|s

gh (9,8 2 )(0,234 ) 2,29320 2 /2
C = 2 2 t 2 1 =
2 (1,945 )2
(2,53333s) 2 1 = 7,56604 2
6,41776 2 1

=0,94516
gt2 2ght2 2ght
C=|ght2 2x2 h| + |x(ght2 2x2 ) x| + |ght2 2x2 t|
9,8
( 2 )(2,53333)2
C=|(9,8/2 )(0,234)(2,53333)

2 2(1,945)2 0,0005m|+

9,8
2( 2 )(0,234)(2,53333)2

| 0,0005m| +
1,945m((9,8/2 )(0,234)(2,53333)2 2(1,945)2 )

9,8
2( 2 )(0,234)(2,53333)

|(9,8/2 )(0,234)(2,53333) 2 2(1,945)2 0,1s|

0,031442 0,014713 1,161882


C=| | +| | +| |
7,151152 21,05891 7,151152

C=|0,00439| + |0,00069| + |0,16247|


C= 0,16755
C 0,16755
KR= C
x 100%=0,94516 X 100% = 17,727% 17% = 2 angka berarti

DK= 100% - KR=100% - 17%= 83,%


C = |0,94516 0,16755|
1 1
I = CmR2 = Cm ( 2 ) = 0,94516 x 66,77 gram x (0,025)2 = 0,00986 gm2
4 4
C m 2R
I = | C | + | m | + | R
| I
0,16755 0,005 2(0,00005)
I = |0,94516 | + |66,770g| + | 0,00015m
| 0,00986 gm2

I = |0,17727| + |0,00007| + |0,66666| 0,00986 gm2


I = |0,84400| 0,00986 gm2
I = 0,00832 gm2 0,00000832 kgm2 8,32 x 10-6 kgm2
I 0,008322
KR = I
x 100% = 0,00986 g2 x 100% = 84,38133 % 84%= 2 angka berarti

DK = 100% 84% = 16%


I = |0,00986 0,00832 | x 10-3 kgm2

d. h= |23,00 0,05| cm = |23,00 0,05| x 10-2 m


(t1 +t2 +t3) s (2,5+2,6 +2,7)s
t = 3
= 3
= 2,60000 s

1 = |t1 - t | = |2,5 2,60000| = 0,10000 s


2 = |t2 - t | = |2,6 2,60000| = 0,00000 s
3 = |t3 - t | = |2,7 2,60000| = 0,10000 s
max = t = 0,10000 s
0,10000
KR = t
x 100 % = 2,60000 x 100 % = 3,84615% 3,84%= 3 angka berarti

DK= 100% - KR = 100% - 3,84%= 96,16%


t = |2,60000 0,10000 |s

gh 2 (9,8 2 )(0,230 ) 2,25400 2 /2
C= 2 2
t 1=
2 (1,945 )2
(2,60000s) 2 1 = 7,56604 2
6,76000 2 1

=1,01387
gt2 2ght2 2ght
C=|ght2 2x2 h| + |x(ght2 2x2 ) x| + |ght2 2x2 t|
9,8
( 2 )(2,60000)2
C=|(9,8/2 )(0,230)(2,60000)

2 2(1,945)2 0,0005m|+

9,8
2( 2 )(0,230)(2,60000)2

| 0,0005m| +
1,945m((9,8/2 )(0,230)(2,60000)2 2(1,945)2 )

9,8
2( 2 )(0,230)(2,60000)

|(9,8/2 )(0,230)(2,60000) 2 2(1,945)2 0,1s|

0,033122 0,015233 3,047402


C=| | +| | +| |
7,670992 22,069993 7,670992

C=|0,00431| + |0,00069| + |0,39726|


C= 0,40226
C 0,40226
KR= C
x 100%=1,01387 X 100% = 39,67569% 39% = 2 angka berarti

DK= 100% - KR=100% - 39%= 61%


C = |1,01387 0,40226|
1 1
I = CmR2 = Cm (4 2 ) = 1,01387 x 66,77 gram x 4
(0,025)2 = 0,04231 gm2

0,0000423 kgm2 4,23 x 10-5 kgm2


C m 2R
I = | C | + | m | + | R
| I
0,40226 0,005 2(0,00005)
I = |1,01387 | + |66,770g| + | 0,00015m
| 0,04231 gm2

I = |0,39675| + |0,00007| + |0,66666| 0,04231 gm2


I = |1,06348| 0,04231 gm2
I = 0,04499 gm2 0,000044 kgm2 4,4x 10-5 kgm2
I 0,04499 2
KR = I
x 100% = 0,04231,g2 x 100% = 106,33 % 10 % = 2 angka berarti

DK = 100% 106% = -6%


I = |0,04231 0,04499 | x 10-3 kgm2

e. h= |21,30 0,05| cm = |21,30 0,05| x 10-2 m


(t1 +t2 +t3) s (2,9+2,8 +2,9)s
t = 3
= 3
= 2,86666 s

1 = |t1 - t | = |2,9 2,86666| = 0,03334 s


2 = |t2 - t | = |2,8 2,86666| = 0,06666 s
3 = |t3 - t | = |2,9 2,86666| = 0,03334 s
max = t = 0,06666 s
0,06666
KR = t
x 100 % = 2,86666
x 100 % = 2,32535% 2,32 %= 3 angka berarti

DK= 100% - KR = 100% - 2,32 %= 97,68%


t = |2,86666 0,06666 |s

gh 2 (9,8 2 )(0,213 ) 2,08740 2 /2
C= 2 2
t 1=
2 (1,945 )2
(2,86666s) 2 1 = 7,56604 2
8,21773 2 1

=1,26719
gt2 2ght2 2ght
C=|ght2 2x2 h| + |x(ght2 2x2 ) x| + |ght2 2x2 t|
9,8
( 2 )(2,86666)2
C=|
0,0005m|+
(9,8/2 )(0,213)(2,86666)2 2(1,945)2

9,8
2( 2 )(0,213)(2,86666)2

| 0,0005m| +
1,945m((9,8/2 )(0,213)(2,86666)2 2(1,945)2 )

9,8
2( 2 )(0,213)(2,86666)

|(9,8/2 )(0,213)(2,86666) 2 2(1,945)2 0,1s|

0,040262 0,017153 1,196772


C=|9,587632 | + |18,647953 | + |9,587632 |

C=|0,00419| + |0,00091| + |0,12481|


C= 0,12991
C 0,12991
KR= C
x 100%=1,26719 X 100% = 10,25181% 10,2% = 3 angka berarti

DK= 100% - KR=100% - 10,2%= 89,80%


C = |1,26719 0,12991|
1 1
I = CmR2 = Cm ( 2 ) = 1,26719 x 66,77 gram x (0,025)2 = 0,05288 gm2
4 4

0,00005288 kgm2 5,288 x 10-5 kgm2


C m 2R
I = | C | + | m | + | R
| I
0,12991 0,005 2(0,00005)
I = |1,26719 | + |66,770g| + | 0,00015m
| 0,05288 gm2

I = |0,10251| + |0,00007| + |0,66666| 0,05288 gm2


I = |0,76924| 0,05288 gm2
I = 0,04067 gm2 0,00004067 kgm2 4,06 x 10-5 kgm2
I 0,04067 2
KR = I
x 100% = 0,05288 g2 x 100% = 76,9 % = 3 angka berarti

DK = 100% 76,9% = 23,1%


I = |0,05288 0,04067 | x 10-3 kgm2

I1 + I2 + I3 + I4 + I5 (0,00954+0,00720+ 0,00986 + 0,04231+ 0,05288)gm2


I = = = 0,12179 gm2
5 5

1 = |I1 - I | = |0,00954 0,12179| = 0,11225 gm2


2 = |I2 - I | = |0,00720 0,12179| = 0,11459 gm2
3 = |I3 - I | = |0,00986 0,12179| = 0,11193 gm2
1 = |I4 - I | = |0,04231 0,12179| = 0,07948 gm2
2 = |I5 - I | = |0,05288 0,12179| = 0,06891 gm2
max = I = 0,11459 gm2
I 0,11459 gm2
KR = I
x 100 % = 0,12179 gm2 x 100 % = 94,088% 94 %= 2 angka berarti

DK= 100% - KR = 100% - 94 %= 6%


I = |0,12179 0,11459 |x10-3 kgm2

Teori
1. Momen Inersia Silinder Pejal
1
I = 2 mR2
1 1
I = 0,0501 kg ( 4 (0,02m)2)
2

I = 0,02505 kg x 0,0001m2
I = 2,505x10-6 kgm2

1
I = 2 mR2
I I
I = |m| m + |R| R
1
I R2 mR2
= |12 2
| m + |1 | R
I mR mR2
2 2

m 2R
I=| m | + | R
| I
, 2(,)
I=|, | + | (0,0001 | 2,505x10-6 kgm2

I=|0,09980| + |100| 2,505x10-6 kgm2


I=|100,09980| 2,505x10-6 kgm2
I=250,74999 x 10-6 kgm2
I=0,00025 kgm2
I 0,00025
KR= I
x 100% = 0,000002505 x 100% = 9980 %

DK=100% - KR = 100% - 9980% = -9880%


I = |0,000002505 0,00025| kgm2 = |0,02505 2,5| x 10-4 kgm2

2. Momen Inersia Silinder Berongga


I = mR2
1
I = 0,0175 kg ( 4 (0,00162m)2)
I = 0,0175 kg x 6,516 x10-7 m2
I = 0,11403 x10-7 kgm2

I I
I = |m| m + |R| R
I R2 2mR2
I
= |mR2 | m + | mR2 | R
m 2R
I=| m | + | R
| I
, 2(0,005)
I=|0,0175 | + |6,516 x107 | 0,11403 x10-7 kgm2

I=|0,28571| + |15346,83855| 0,11403 x10-7kgm2


I=|15347,12426| 0,11403 x10-7 kgm2
I=1750,03257 x 10-7 kgm2
I=0,0001750 kgm2
I 0,0001750
KR= I
x 100% = 0,00000011403 x 100% = 153468,3855 %

DK=100% - KR = 100% - 153468% = -153368%


I = |0,00000011403 0,0001750 | kgm2 = |0,011403 17,5| x 10-5 kgm2

3. Momen Inersia Bola Pejal 1


2
I = 5 mR2
2 1
I = 5 0,0326 kg ( 4 (0,02m)2)

I = 0,01304 kg x 0,0001 m2
I = 1,304 x10-6 kgm2
2
I= 5
mR2
I I
I = |m| m + |R| R
m 2R
I= | | +| | I
m R
0,005 2 (0,005)
I=|0,0326 | + | 0,0001 | 1,304 x10-6 kgm2

I=|0,15337| + |100| 1,304 x10-6 kgm2


I=|100,15377| 1,304 x10-6 kgm2
I=130,60051 x 10-6 kgm2
I=0,00013 kgm2
I 0,00013
KR= I
x 100% = 0,000001304 x 100% = 9969,32515 %

DK=100% - KR = 100% - 9969% = -9869%


I = |0,000001304 0,00013 | kgm2 = |0,01304 1,3| x 10-4 kgm2

4. Momen Inersia Bola Pejal 2


2
I = 5 mR2
2 1
I = 5 0,06677 kg ( 4 (0,025m)2)

I = 0,02670 kg x 1,5625 x 10-4 m2


I = 4,17186 x10-6 kgm2
2
I= 5
mR2
I I
I = |m| m + |R| R
m 2R
I= | m | + | R
| I
0,005 2 (0,005)
I=|0,06677 | + |0,00015625 | 4,17186 x10-6 kgm2

I=|0,07488| + |64| 4,17186 x10-6 kgm2


I=|64,07488| 4,17186 x10-6 kgm2
I=267,31142 x 10-6 kgm2
I=0,00026 kgm2
I 0,00026
KR= x 100% = x 100% = 6500%
I 0,000004

DK=100% - KR = 100% - 6500% = -6400%


I = |0,000004 0,00026 | kgm2 = |0,04 2,6| x 10-4 kgm2
Tabel 2. Perbandingan Momen Inersia antara analisis praktikum dengan analisis
teori

No Jenis Benda Praktikum Teori

1 Silinder Pejal |6,8 6,8| x 10-6 kgm2 |0,02505 2,5| x 10-4 kgm2
2 Silinder Berongga |1,66 0,70| x 10-9 kgm2 |0,011403 17,5| x10-5kgm2
3 Bola Pejal 1 |7,123448,47656 |x 10-3 kgm2 |0,01304 1,3| x 10-4 kgm2
4 Bola Pejal 2 |0,12179 0,11459 |x10-3 kgm2 |0,04 2,6| x 10-4 kgm2

PEMBAHASAN

Dalam praktikum kali ini dilakukan percobaan kali ini dilakukan pekrcobaan
dimana bergantung pada ketinggian, massa benda, dan waktu. Dengan kata lain
ketinggian merupakan variabel control bersatuan cm, untuk massa benda merupakan
variable manipulasi dengan satuan gram sedangka waktu merupakan variable respon
bersatuan sekon. Hasil analisis yang kami cakup tidak akurat. Dikarenakan bidang
yang digunakan pada saat prkatikum tidak rata. Tepatnya disebelah kanan bidang lebih
rendah. Permukaan bidang yang condong bergelombang, atau sedikit cekung. Tapi
cekung kearah kanan. Sehingga waktunya juga tidak terbilang konstan apabila benda
bergelinding. Terkadang benda bergelinding lurus bila keadaannya bidang
mendukung, dalam artian bahwa permukaan benda dan permukaan bidang bergesek
dengan baik. Faktornya juga karena benda yang digunakan, luas permukaannya
berbeda. Bila bertemu dengan bidang yang sama dengan permukaan bidang yang
berbeda maka gerak menggelinding itu berbeda. Misalnya saja gerak menggelinding
yang dialami oleh bola pejal 1 maupun 2 dan silinder berongga. Bola pejal lebih
condong bergerak lurus, dimana ini juga diakibatkan karena massanya. Sedangkan
silinder berongga lebih condong untuk selalu bergerak kearah kanan yang juga
dipengaruhi oleh massanya sendiri. Dengan keadaan seperti itu, maka hasil praktikum
yang kami juga dapatkan seperti itu.

KESIMPULAN
Ada dua konsep fisika yang digunakan dalam praktikum gerak menggelinding kali ini,
yaitu konsep gerak translasi dan konsep gerak rotasi. Penggunaan persamaan I = c (mR2)
adalah penggunaan jika ditinjau dari ketinggian, waktu rata-rata dan yang lainnya, karena nilai

c tersebut adalah C = 2 1 dimana h merupakan ketinggian, g merupakan gaya gravitasi
2 2
bumi, x merupakan panjang llintasan dan t merupakan perubahan terhadap waktu. Sedangkan
1
dalam teori, digunakan I = mR2 dimana nilai konstantanya sudah ditentukan yaitu untuk
2
2
silinder dan untuk bola.
5

REFERENSI
Herman.2015.Penuntun Pratikum Fisika Dasar.Makassar:Unit Laboratorium Fisika
Dasar Jurusan Fisika UNM