Anda di halaman 1dari 6

Cerita Bambu Runcing Pak Bambang

Cerpen Karangan: Riekha Dee


Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 6 October 2017

Siapa bakal mengira kalau setelah Pak Ali, guru ngaji itu, mengajarkannya ilmu baca-tulis. Maka
seminggu setelah mampu mengusainya, Jono menjadi pembaca yang aktif. Siapa juga bakal tau,
kalau Jono -Anak yang berlabel Bodoh- itu begitu cepat menyerap apa yang Pak Haji Ali
ajarkan. Semua orang pada geleng kepala mengetahui berita Jono sudah fasih membaca dalam
waktu sesingkat itu.

Awal mula mereka mereka memang tak percaya. Tapi pada hari itu -Hari dimana digelarnya
pesta untuk memperingati hari kemerdekaan- Jono membuktikannya dengan mendiklah
Pancasila di panggung hiburan di depan mereka semua. Maka seketika itu pula mereka yang
kagum dengan pencapaian Jono mengapresiasinya dengan memberi tepuk tangan banyak-
banyak.

Dan sudah menjadi teori: Dunia selalu saja menghadirkan kontradiksi diatas segala perihal yang
bahkan banyak juga di antara mereka yang baik-baik dan tiada membawa kecacatan.

Pak Bambang runcing -Nama substansinya adalah adalah Bambang Prasetyo. Karena pernah
bercerita sewaktu mudanya mengejar PKI dan membunuhnya menggunakan bambu runcing, dari
situlah muncullah silsilah baru dari namanya. Juga karena ia adalah satu satunya orang yang
masih memiliki senjata masa lampau di desa- adalah sedikit dari mereka yang menentang
kebenaran kongkret kalau Jono dapat membaca.

Boleh jadi itu semua adalah akal-akalan Pak Haji, Jono tak membaca, melainkan dilatih
melafalkan Pancasila selama dua minggu olehnya. Akal bulus itu telah membodohi banyak
orang. Barangkali dengan siasat itu ia dapat menarik lebih banyak murid mengaji, keberhasilan
ilusifnya menjadikan Jono pintar membaca tentu menjadi komoditi untuk memikat hati orang
tua Katanya di depan khalayak yang lebih banyak dari mereka sibuk memberi applaus untuk
Jono, selebihnya adalah yang membenci Pak Haji sepertinya. Dan yang membenci itu -karena
jumlahnya lebih sedikit, tepatnya hanya kerabat-kerabatnya saja- mereka berteriak teriak sendiri
mendukungnya seperti anjing menyalak berikut terkaing-kaing karena kakinya dilempar orang
dengan bambu runcing. Atau persis sebagaimana didengarnya Suara PKI yang ditelusnya
dadanya dengan bambu runcing. dan andaikata ceritanya membunuh PKI itu benar adanya. Maka
Dengan tak sadar didengarnya kembali teriakan itu melalui dirinya sendiri. Sementara orang
orang yang ramai riuh rendah mengagumkan kecerdasan Jono sesungguhnya, serta
mengagungkan Pak Haji karena kehebatannya telah merevolusi Jono itu tidak menghiraukan
Bambang beserta pengikutnya sama sekali.

Semenjak Pak Haji datang ke desa, Pak Bambang yang dulunya adalah dukun yang masyhur,
perlahan ditingalkan kemasyhurannya oleh masyarakat yang justru menghadiahi gelar itu sendiri.
Pak Haji Ali lebih membawa banyak faedah di dalam masyarakat daripada Pak Bambang. Pak
Bambang selalu memasang tarif dalam memberikan pengobatan. Adapun mereka yang berobat
hanya terkena flu atau batuk batuk ringan, yang sebetulnya juga tak butuh berobat padanya,
karena hanya akan diberi sereh saja, juga ditarifnya sama dengan mereka yang berobat pegel
linu. Sedang Pak Haji Ali tidak, Pak Haji Ali memberi kebebasan pada mereka yang berobat
untuk membayar atau tidaknya. Jika ada dari mereka yang membayar dengan uang besar, maka
Pak Haji Ali menimbang-nimbang lebih dulu untuk memberikan kembalian atau tidak. Biasanya
untuk itu beruntunglah mereka yang berbaju kusam dan dekil, karena hanya kepada mereka Pak
Haji memberi kembalian uang mereka lebih itu.

Pak Bambang, selama masa hidupnya dimasyurkan, ia tak pernah memberikan pengajaran yang
berguna kepada anak-anak. Tak seperti Haji Ali yang juga dengan suka rela membagi ilmu
pengetahuannya. Seperti mengajari anak-anak mengaji. Ibu-Ibu rumah tangga yang tak dapat
membaca, seperti Jono, diajarkan cara membaca yang benar. Dan setelah mereka dapat membaca
dengan benar lambat laun mereka akan diajarkan membaca huruf-huruf asing yang ada sama
sekali dari mereka tidak mengetahui. Sedang oleh Pak Bambang, Tak banyak yang diajarkannya,
selain daripada menyabung ayam dan berj*di tak ada lagi yang bisa diajarkannya.

Terjadinya kesenjangan dalam memberdayakan masyarakat telah membuat hampir semua warga
meninggalkan Pak Bambang sebagai Tokoh masyarakat itu sendiri. Dan karena merasa
dikhianati, ia pun jadi marah dengan sendirinya atas Pak Haji yang secara implisit membuatnya
tidak dihormati lagi.

Jono yang tidak pernah bersekolah itu, karena sejak kecil hidupnya sudah mandiri, dan tak
pernah ada cukup waktu baginya selain daripada untuk mengurus kehidupannya, dalam arti lain
tiada sama sekali seseorang dalam kelurganya, sebenarnya sudah memiliki kemauan untuk bisa
membaca bahkan ketika umurnya masih belum genap 5. Dengan modal kemauannya yang
menggelegak itulah Jono bisa begitu cepat menangkap apa yang Pak Haji Ali ajarkan. Maka tak
butuh waktu lama baginya untuk mengusai.

Kemarin di jalan seseorang mendapati Jono tersenyum dan tertawa-tawa sendiri sambil
memandangi sebungkus kantong plastik yang dipungutnya.
Jono membaca bungkus plastik itu, sambil dibayangkannya kata kata yang termuat di dalamnya.
:
Anti panas
Ia bayangkan plastik yang katanya anti panas itu diganyang api. Dan jika plastik itu baik baik
saja akhirnya, sedang api lelah dan mati. Maka akan betapa angkuhnya jika seseorang
mengenakan plstik itu di seluruh tubuhnya dan menganggap dirinya sebagai titisan Nabi Ibrahim
karena tak mempan dibakar.

Ibu Bapak Aku bisa membaca. Terang Jono kepada kedua orangtuanya yang sudah tiada
bersamanya lagi pada malam dimana waktu ia mulai lancar membaca.

Ibu dan Bapaknya sebenarnya secara langsung tak pernah diketahuinya bagaimana keadaan
mereka. Hanya orang-orang terdekatnya yang memberitahu, dan pertama kali diberitahu waktu,
Jono terisak-terisak oleh tangisnya yang mendadak saja datang sendiri begitu didengarnya dari
mulut orang itu perihal yang mengetarkan: bahwa Ibu bapaknya justru jauh lebih bahagia
darinya. Orang itu bilang bapak Ibunya sudah punya segalanya. Ketika ia bertanya apakah bapak
dan Ibunya itu sudah punya mobil, orang itu mengangguk.
Tak dapat dibayangkannya andaikata ia masih bersama dengan kedua orangtuanya. Ia dapat naik
benda yang dianggapnya sama derajatnya dengan kapal Nabi Nuh yang pernah Nenek tua
dongengkan padanya. dan pergi berlibur, dan kemudian menceritakan kepada kawan-kawannya
tentang apa yang dilihatnya sewaktu dalam liburan itu, sebagaimana temannya bercerita kepada
teman-temannya.

Jono sendiri, mendengar temannya bercerita yang bagus-bagus, ia malah menghindar.


Mendengarkan semua itu hanya menimbulkan rasa mengiri di dalam hatinya.

Tapi ketika Jono tanyakan pada orang yang memberitahunya itu ke mana kedua orangtuanya
berada, betapa menyesakkan jawaban yang didapatnya. Bahwa hanya saja kedua orangtuanya
berada di pulau yang tak dapat dijangkau oleh orang hidup. Karena pulau itu sendiri
diperuntukkan hanya kepada orang yang mati. Pulau Surga. Sebut Ibu itu mengawali tangisan
Jono.

Mata Jono yang terlanjur berpendaran harus mati, sebab sudah teramat dalam dibayangkannya ia
dapat menghampiri kedua orangtuanya, dan barangkali ia diterima maka ia peroleh kebahagiaan
itu, meski tak pernah diketahuinya sendiri apakah keluarganya dengan lapang dada
memerimanya. Juga tak tau apa penyebab kedua orangtuanya meninggalkannya. lantas
membiarkannya hidup bersama nenek nenek renta -yang selama ini disebutnya sebagai
pengasuh.

Kegemaran Jono membaca ternyata telah menghantarkannya dalam tingkat yang berbeda di
dalam masyarakat. Dahulu, Jono -sebab dinilai bodoh- dibuat orang orang tua sebagai
perumpaan untuk anak mereka yang bebal, malas pergi ke sekolah, atau bahkan hanya sekedar
melakukan kesalahan kecil.

Jangan malas, kelak kau mau jadi bodoh seperti Jono?


Ayo lakukan pekerjaanmu, dasar bodoh persis kaya Jono!
Bukan gitu, Bodoh!! Ada baiknya kau berteman sama Jono karena sama sama tak tau apa apa!
Begitulah orang-orangtua kebanyakan mendidik anaknya. Dan karena anak anak sudah pada tau
siapa Jono -seorang jejaka yang kegiatannya hanya mengedari kampung, memasang muka melas,
berharap ada yang memberinya uang- maka tentu mereka marah disejajarkan dengannya.

Tapi kini, keadaan sudah berbalik 90 dari sebelumnya, oleh orang-orang tua itu
dipergunakannya nama Jono sebagai citra remaja yang teladan. Untuk mereka yang malas
belajar, karena logisnya telat bersekolah, maka nama Jono sudah pasti tak asing lagi
mengambang di gendang telinga mereka.
Ada baiknya kau sekolah, karena Bapakmu sudah punya uang, jangan kau jadikan umur sebagai
dalih, bahwa diumur tua otakmu mampat, dan kesulitan dalam meangkap pelajaran. lihat Jono,
bukaankah dia sudah bisa membaca tegas salah seorang Ibu kepada anaknya.

Juga bagi mereka yang suka bermalas-malasan akan diperintahkan agar lebih rajin atau jika tidak
akan kalah sama Jono dalam berbagai perihal.
Cepat kau tunaikan dulu PR mu, masa kau kalah sama Jono, dia sudah pintar
Dan mereka itu, Karena hakikatnya tak mau kalah dengan Jono, mengetahui sebelumnya Jono
hanyalah orang bodoh, maka seketika itu bangkit untuk melaksanakan halnya.

Habis sebulan sudah terlewati, kabar bermata dua mendadak saja menyeruak di Desa. Orang-
orang pada mengiri. Pak Yono -Guru ngaji pendamping Pak Haji Ali- itu berkata, Jono diangkat
menjadi anak asuh oleh Pak Haji Ali. Nenek Jono -yang mengemong ia sedari bayi- dibopong ke
panti jompo di kota. Suaminya sudah jauh hari meninggal. Bahkan sebelum bayi Jono
ditemukannya di bantaran sungai. Nenek merasa tak sanggup melanjutkan perjuangan disisa-sisa
hidupnya. Umurnya yang semakin tua dan semakin pendek pula, merapuhkan raganya.

Neberapa bulan berikutnya menyusul. Hari demi hari, jasa jasa Pak Haji Ali telah menjadi tangga
untuknya menuju kursi Kepala Desa. Sementara itu keadaan Pak Bambang kian tertindih oleh
sikap masyarakatnya yang dulu memuja-mujanya sebagai pahlawan.
Jono, Anak yang dulu bodoh itu, kini juga telah menjadi orang yang berperan penting untuk
masyarakat. Kepala Desa memberikannya kewenangan menjadi juru ketik sekaligus wakilnya.
Tak sama sekali orang keberatan akan hal itu, bahwa Jono yang tak pernah tamat sekolah, bisa
menjadi juru ketik sekaligus wakil kepala Desa. Telah disaksikan oleh mereka sendiri bahwa
Jono memang sudah layak mendapat kedudukannya di masyarakat itu. Bukan karena semata
mata ia hanya Anak asuh kepala desa. Dibawah asuhan Pak Haji Ali, kecerdasan Jono yang lama
terbalut kabut ketidak tahuan menjadi kontras. Ia dapat menggunakan mesin ketik dengan
mahirnya, juga piawai mengoperasikan komputer. Dan selain dapat membaca huruf, Jono juga
dapat membaca keadaan mana yang lebih dibenarkan oleh Tuhan.

Pada suatu ketika, di malam yang cerah akan bintang. Bulan pada waktu itu menangis dibalik
mendung, namun orang orang itu tak juga mengerti, tak juga bisa menengok.

Halaman rumah Jono kebanjiran warga. Sebagai masyarakat yang terabai orang-orang itu
beramai-ramai menuntut Jono.
Jangan kau jadi pengkhianat begini, Hipokrit!! Kau kemanakan uang-uang Desa?, Jalan desa
yang rusak parah itu sebulan lamanya belum lagi kau perbaiki!
Kau belum tuntaskan ijin pengajuan pembuatan KTP yang sudah sebulan lamanya suara massa
riuh rendah menyebut dosa dosa Jono. Selama sebulan lebih, Jono absen dari pekerjaannya. Ia
tak pernah ditemui dibalai Desa lagi, Juga keluar dari rumahnya saja tak pernah. Akibatnya
beberapa dokumen yang membutuhkan perizinan darinya terbengkalai sampai mengunggun di
mejanya. Keegoisannya berdampak buruk pada warga, meski Jono tak pernah berharap yang
demikian.

Beberapa hari sebelum Jono mulai Absen. Pak Haji Ali pergi meninggalkan Desa.
Aku percayakan semuanya padamu Jono, Anakku maafkan, bapak angkatmu ini harus pergi.
Banyak orang yang belum menemukan kebenaran di negeri ini. Untuk kebaikan dan ketentraman
negeri ini, Bapak musti menuntun mereka. Ya Jadilah kau Kepala Desa yang baik, kau boleh
sembunyikan perasaanmu sedalam-dalamnya, asal jangan sekali kau sembunyikan uang yang
bukan hakmu sampai ke dalam perutmu. Layani mereka yang membutuhkan dengan sebaik-
baiknya sebagaimana ajaran yang telah kau telaah
Begitulah Pesan terakhirnya pada Jono diwaktu tengah malam ketika ia beranjak mengangkat
kakinya dari desa pada lain desa.

Kepergian pak Haji Ali dari desa, sungguh memukul batinnya. Bagi Jono, pak Haji Ali yang baru
beberapa hari saja bersedia menjadi Bapaknya, menafkahinya dengan makan serta penuh kasih
sayang yang tak pernah didapatkannya sebelum itu, Kejadian itu seolah olah membuat Tuhan
dihadapan matanya sebagai pencipta yang tak berdemokrasi. Namun pengetahuan yang
diselipkan Pak Haji Ali di dalam ingatannya itu terlanjur melekat, dan terkadang merubah
asumsinya tentang Tuhan. bahwa bagaimanapun dan apapun juga fenomena yang terjadi.
konsekuensinya tetap saja sama, Tuhan itu maha adil.

Samahalnya dengan yang jono Alami, bedanya Jono berada di puncak ekstriminitas, kepergian
Pak Haji juga mengharu biru seluruh warga yang merasakan ketentraman serta kedamaian baru
yang dibawakannya itu.

Jono tak mengerti kenapa ia dituduh pengkhianat, penikmat uang haram dari tunjangan Desa
yang disantunkan oleh Pemerintah.
Selama ini aku tak pernah keluar rumah! Bantahnya kemudian.

Massa telah menemukannya duduk berdanguk di atas ranjang persegi panjang yang sempit di
kamarnya. Sebelum itu pintu rumah Jono dihempas oleh mereka. Barang seisi rumahnya
diporak-porandakan tanpa sepengetahuannya. ia hanya mendengar suaranya: piring pecah, benda
benda berat yang jadi humbalang, televisi yang terpelanting, kursi kursi yang dipatahkan paksa.
Disaat saat seperti yang diketahuinya itu ia malah diam-diam saja, tak sedikit ia terpancing akan
keadaan yang sudah seharusnya membuatnya gusar.

Bukankah disebut pengkhianat seseorang yang lari dari tanggung jawabnya!


Dan ke mana uang Desa selama ini!
Bukankah dia sudah kupasrahkan menjadi Kepala Desa tempo hari yang lalu, Jono menunjuk
provokator massa. Bambang runcing yang dituding-tudingnya menyela-nyela kebenaran.
Bohong!!! Bohong!!
Memang tak ada saksi waktu itu, pada malam kita bertemu kau jabat tanganku dan kau pinta
aku untuk turun jabatan. Aku bersedia. Dan kesediaanku itu aku anggap saja sebagai
pengorbanan.
kenapa bisa begitu? Tanya seseorang menengahi.
Kalau dibiarkan saja dia tanpa menjadi kepala desa, egonya akan menjelma sebagaimana
bambu runcing!
Khianaattttt!!! Seseorang dari jurusan lain memekik. Merendam suara orang orang yang pada
sibuk beraspirasi. Hening menyatu pada suasana sementara waktu. Kemudian terjadilah huru
hara yang tiada disangka-sangka bakal terjadi. Beberapa pasang mata garang itu mulai berkisar
pada Pak Bambang.
Bagaimana? Bukankah aku sudah memblokade kurir-kurir koran untuk masuk? Tanya Pak
Bambang dalam hati, kebingungan.
Semua orang di situ terkecuali pak Bambang saling berebutan selembar kertas yang ditemukan
tersampir di hulu almari Jono. Sambil tanpa disadari airmata mereka menetes ditengah amuknya
setelah membaca koran itu.

Sehelai koran dengan berita utama: Seseorang bersorban ditemukan telah lama mati di
perbatasan desa dengan kondisi yang mengenaskan, di lehernya terdapat luka sabitan clurit, dan
di perutnya berongga luka bekas tusukan benda tajam yang disinyalir adalah bambu runcing.
Masih belum jelas siapa pembuhnya.

END

Cerpen Karangan: Riekha Dee


Facebook: m.facebook.com/syahrul.irfan.

Cerpen Cerita Bambu Runcing Pak Bambang merupakan cerita pendek karangan Riekha Dee,
kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru
buatannya.