Anda di halaman 1dari 2

Patofisiologi

Unsur-unsur penyebab kanker (onkogen) dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok besar,
yaitu energi radiasi, senyawa kimia dan virus.10
1. Energi radiasi
Sinar ultraviolet, sinar-x dan sinar gamma merupakan unsur mutagenik dan karsinogenik.
Radiasi ultraviolet dapat menyebabkan terbentuknya dimmer pirimidin. Kerusakan pada DNA
diperkirakan menjadi mekanisme dasar timbulnya karsinogenisitas akibat energi radiasi.
Selain itu, sinar radiasi menyebabkan terbentuknya radikal bebas di dalam jaringan. Radikal
bebas yang terbentuk dapat berinteraksi dengan DNA dan makromolekul lainnya sehingga
terjadi kerusakan molekular.

2. Senyawa kimia
Sejumlah besar senyawa kimia bersifat karsinogenik. Kontak dengan senyawa kimia dapat
terjadi akibat pekerjaan seseorang, makanan, atau gaya hidup. Adanya interaksi senyawa
kimia karsinogen dengan DNA dapat mengakibatkan kerusakan pada DNA. Kerusakan ini
ada yang masih dapat diperbaiki dan ada yang tidak. Kerusakan pada DNA yang tidak dapat
diperbaiki dianggap sebagai penyebab timbulnya proses karsinogenesis.

3. Virus
Virus onkogenik mengandung DNA atau RNA sebagai genomnya. Adanya infeksi virus pada
suatu sel dapat mengakibatkan transformasi maligna, hanya saja bagaiamana protein virus
dapat menyebabkan transformasi masih belum diketahui secara pasti. Berdasarkan beberapa
penelitian, DNA merupakan makromolekul yang penting dalam proses karsinogenesis, hal ini
didasari dari:10
a. Sel kanker memproduksi sel kanker, dimana adanya perubahan esensial yang
menyebabkan timbulnya sel kanker diteruskan dari sel induk kepada sel turunan,
berhubungan dengan peranan DNA.
b. Adanya karsinogen akan merusak DNA, sehingga menyebabkan mutasi pada DNA.
c. Banyak sel tumor yang memperlihatkan kromosom yang abnormal.
d. DNA sel kanker menyebabkan transformasi sel normal menjadi sel kanker.

Rokok telah terbukti sebagai karsinogen pada percobaan terhadap binatang karena
mengandung banyak radikal bebas dan epoxides yang berbahaya. Pengaruh yang ditimbulkan oleh
rokok berupa perubahan mukosa saluran aerodigestivus. Hal ini berhubungan dengan kerusakan
gen p53, dimana jika terjadi mutasi, hilang atau rusaknya gen p53 maka resiko untuk terjadinya
kanker akibat rokok akan meningkat. Peningkatan angka kejadian keganasan berhubungan erat
dengan penggunaan alkohol dan rokok. Resiko untuk terjadinya kanker kepala dan leher pada
orang perokok dan peminum alkohol 17 kali lebih besar daripada yang tidak perokok atau
peminum alkohol.9
Menurut Hanh dkk, terdapat 6 faktor yang menyebabkan perkembangan untuk sel :
1. Berproliferasi autonom
2. Menghambat sinyal growth inhibition
3. Kemampuan menghindari apoptosis
4. Immortal
5. Angiogenesis
6. Menginvasi jaringan lain dan metastasis

Patogenesis tumor ganas merupakan proses biasanya memakan waktu yang cukup lama. Pada
tahap awal terjadi inisiasi karena ada inisiator yang memulai pertumbuhan sel yang abnormal.
Inisiator ini dibawa oleh zat karsinogenik. Bersamaan dengan atau setelah inisiasi, terjadi promosi
yang dipicu oleh promoter sehingga terbentuk sel yang polimorfis dan anaplastik. Selanjutnya
terjadi progresi yang ditandai dengan invasi sel-sel ganas ke membrane basalis. Semua proses ini
terjadi pada tahap induksi tumor dan dapat digambarkan sebagai berikut:

Patogenesis dan Patologi


Squamous sel carcinoma pada lidah sering timbul pada daerah epithelium yang tidak normal,
tetapi selain keadaan tersebut dan mudahnya dilakukan pemeriksaan mulut, lesi sering tumbuh
menjadi lesi yang besar sebelum pasien akhirnya datang ke dokter gigi. Secara histologis tumor
terdiri dari lapisan atau kelompok sel-sel eosinopilik yang sering disertai dengan kumparan
keratinasi. Menurut tanda histology, tumor termasuk dalam derajat I IV (Broder). Lesi yang agak
jinak adalah kelompok pertama yang disebut carcinoma verukcus oleh Ackerman. Pada kelompok
ini, sel tumor masuk sedikit kelamina propria, membentuk massa papileferus pada permukaan.
Tumor bersifat pasif pada daerah permukaannya, tetapi jarang meluas ke tulang dan tidak
mempunyai anak sebar. Lidah mempunyai susunan pembuluh lymphe yang kaya, hal ini akan
mempercepat metastase kelenjar getah benig regioner dan ini juga dimungkinkan oleh susunan
pembuluh lymphe yang saling berhubungan kanan dan kiri.
Tumor yang agak jinak cenderung membentuk massa papiliferus dengan penyebaran ringan
kejaringan didekatnya. Tumor paling ganas menyebar cukup dalam serta cepat ke jaringan
didekatnya dengan penyebaran permukaan yang kecil, terlihat sebagai ulser nekrotik yang dalam.
Sebagian besar lesi yang terlihat terletak diantara kedua batas tersebut dengan daerah nekrose yang
dangkal pada bagian tengah lesi tepi yang terlipat serta sedikit menonjol dan infiltrate yang dalam.
Walaupun terdapat penyebaran lokal yang besar, tetapi anak sebar biasnya berjalan melalui lymph
node sertikal. Metastase haematogenus terjadi pada tahap selanjutnya.
Faktor utama yang menyebabkan inisiasi keganasan adalah akibat ketidakmampuan DNA
untuk memperbaiki sistem yang mendeteksi adanya transformasi sel akibat paparan onkogen.
Kerusakan pada DNA meliputi hilangnya atau bertambahnya kromosom, penyusunan ulang
kromosom, dan penghapusan kode kromosom. Penghapusan atau penggandaan bagianbagian
kromosom memungkinkan untuk ditempati oleh onkogen atau gen supresor tumor. Sedangkan
penyusunan ulang kromosom dapat berubah menjadi aktivasi karsinogenik.9
Perubahan genetik pada karsinoma sel skuamosa kepala dan leher belum diketahui secara
pasti. Califano dkk mengemukakan hilangnya kromosom 9p21 atau 3p menyebabkan perubahan
dini pada mukosa kepala dan leher sehingga mengakibatkan munculnya karsinoma sel skuamosa.
Namun, teori lain menyatakan bahwa hilangnya kromosom 17p pada gen supresor tumor juga turut
berperan tethadap keganasan kepala dan leher. Selain itu, hilangnya kromosom 3p21 men
yebabkan perubahan hyperplasia dan displasia, sedangkan hilangnya kromosom 6p, 8p, 11q, 14q,
dan 4q26-28 menyebabkan terjadinya invasi ke jaringan sekitar.8,9

American Cancer Oral. Tounge Cancer; 2010.


Soepardi, dkk. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala leher. Edisi 6. Jakarta:
Balai penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2007