Anda di halaman 1dari 21

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan kebutuhan primer pada saat ini, apalagi sebagian besar
masyarakat sudah menyadari pentingnya pendidikan dalam menata masa depan yang
lebih baik. Oleh karena itu setiap negara senantiasa berusaha memajukan bidang
pendidikan, disamping bidang yang lain dalam rangka mempersiapkan sumber daya
manusia yang kompetitif dan berkualitas serta berusaha mengejar kemajuan negara
lain.
Satu dari sekian banyak masalah di era global yang dihadapi Indonesia saat ini adalah
masalah di bidang pendidikan. Masalah yang belum teratasi pada saat ini terutama masalah
yang berhubungan dengan kualitas hasil pendidikan (Suyanto, 2007). Adanya kebijakan
sertifikasi guru adalah salah satu upaya nyata Pemerintah untuk meningkatkan profesionalisme
guru agar guru sebagai aktor utama dalam pendidikan umumnya dan pembelajaran khususnya
dapat meningkatkan kompetensinya.
Seorang guru penting untuk menciptakan paradigma baru untuk menghasilkan praktik
terbaik dalam proses pembelajaran (Carolin Rekar Munro, 2005). Oleh karena itu, ketika terjadi
perubahan kurikulum dan terjadi pergeseran tuntutan hasil pendidikan yang berkaitan dengan
tuntutan pasar kerja, maka gurulah yang harus berperan mewujudkan harapan itu. Ronald
Brandt (1993) menyatakan bahwa hampir semua usaha reformasi dalam pendidikan, seperti
pembaharuan kurikulum dan penerapan metode pembelajaran baru akhirnya tergantung
kepada guru. Tanpa guru yang mampu menguasai bahan ajar dan strategi belajar-mengajar,
maka segala upaya peningkatan mutu pendidikan tidak akan mencapai hasil yang optimal. Hal
ini berarti seorang guru tidak hanya diharapkan mampu menguasai bidang ilmu yang diajarkan,
tetapi juga menguasai strategi belajar-mengajar.
Ilmu Kimia merupakan salah satu cabang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang
mempelajari tentang sifat-sifat zat, struktur zat, susunan / komposisi zat, perubahan zat, dan
energi yang menyertai perubahan zat. Dengan demikian objek yang dibahas dalam ilmu kimia
adalah zat atau materi.
Ilmu kimia tidak hanya membahas tentang zat-zat secara teoretis, tetapi juga mencoba
membahas secara empiris. Hal ini disebabkan ilmu kimia merupakan ilmu yang diperoleh
melalui kerja ilmiah, sehingga dalam mempelajari ilmu kimia ada dua hal yang harus dipelajari,
yaitu aspek produk (fakta, konsep, prinsip, teori, hukum) dan aspek empiris.
*) Makalah disampaikan pada Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Kerjasama yang berjudul Pelatihan
Pengelolaan Laboratorium Kimia untuk Guru-guru Kimia Kabupaten Sleman di SMA 1 Kalasan, tanggal
15 22 Juni 2010.
**) Dosen Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA UNY Yogyakarta
Oleh karena itu selain kita mempelajari produk-produk ilmu kimia, juga sangat perlu untuk
mempelajari bagaimana proses penemuan produk ilmu kimia tersebut (proses penemuan
konsep, prinsip, teori, atau hukum).
Dalam pembelajaran kimia sangat memerlukan kegiatan penunjang berupa praktikum
maupun eksperimen di laboratorium. Hal ini dikarenakan metode praktikum adalah salah satu
bentuk pendekatan keterampilan proses. Bagi peserta didik diadakannya praktikum selain dapat
melatih bagaimana penggunaan alat dan bahan yang tepat, juga membantu pemahaman
mereka terhadap materi kimia yang diajarkan di kelas. Selain itu, bagi peserta didik yang
memiliki rasa ingin tahu tinggi, maka melalui praktikum mereka dapat memperoleh jawaban dari
rasa ingin tahunya secara nyata.
Namun demikian tidak semua SMA memiliki laboratorium yang memadai, sehingga tidak
semua konsep kimia yang diajarkan diikuti praktikum di laboratorium. Untuk melaksa-nakan
praktikum yang berkaitan dengan materi pokok yang diajarkan di kelas diperlukan seperangkat
alat dan bahan yang kadang-kadang sulit dipenuhi oleh sekolah.
Ketiadaan alat dan bahan kimia sering menjadi kendala tidak dilakukannya
praktikum, meskipun guru pengampu memiliki petunjuk praktikumnya. Oleh karena itu
sangat diperlukan kreativitas guru kimia dalam mencari alternatif bahan dan alat lain
yang dapat digunakan agar praktkum tetap dapat dilaksanakan. Dengan demikian
pelaksanaan praktikum tidak bergantung pada fasilitas laboratorium yang ada di
sekolah, tetapi cukup menggunakan bahan dan alat yang dengan mudah dijumpai
dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan kenyataan di lapangan, sebagian besar guru kimia relatif hanya
sedikit melakukan kegiatan praktikum, yaitu hanya bergantung pada alat dan bahan
yang tersedia. Padahal praktikum merupakan kegiatan wajib yang harusnya menyertai
setiap pembelajaran materi di kelas. Berkaitan dengan hal itu, maka penting bagi guru
kimia untuk dibekali pengetahuan mengenai bagaimana cara mengembangkan
praktikum yang berbasis lingkungan, sehingga kendala fasilitas laboratorium yang tidak
memadai dapat diatasi dengan baik. Pada kesempatan ini akan disajikan beberapa contoh
praktikum kimia sederhana dengan menggunakan alat dan bahan yang ada di lingkungan
sekitar.
KOMPETENSI KERJA ILMIAH
Seperti diketahui ilmu kimia menyangkut aspek empiris, sehingga seorang guru kimia
juga dituntut untuk memiliki kompetensi kerja ilmiah. Adapun kerja imiah yang dimaksud
meliputi aspek penyelidikan/penelitian, komunikasi ilmiah, pengembangan kreativitas &
pemecahan masalah, sikap dan nilai ilmiah (Depdiknas, 2003 : 2).
Dengan berlakunya KTSP saat ini, seorang guru dituntut untuk dapat menyajikan materi
ajar dengan berbagai pendekatan dan strategi yang kesemuanya diharapkan mampu
mengaktifkan peserta didik. Oleh karena itu, guru harus kreatif dan inovatif menciptakan
berbagai kegiatan yang tidak hanya dilakukan di dalam kelas, tetapi di luar kelas dan
laboratorium. Menurut John W. Hansen & Gerald G. Lovedahl (2004) belajar dengan
melakukan merupakan sarana belajar yang efektif, artinya seseorang akan belajar efektif bila ia
melakukan. Hal ini sesuai dengan yang diharapkan KTSP, dimana guru harus lebih banyak
memberikan kegiatan aktif kepada peserta didik, sehingga pemahaman peserta didik terhadap
materi ajar akan lebih efektif. Confucius menyatakan bahwa what I do, I understand (apa yang
saya lakukan, saya paham (Mel Silberman, 2002 : 1), artinya ketika seorang guru banyak
memberikan aktivitas yang bersifat keterampilan, maka peserta didik akan memahaminya
secara lebih baik.
Penelitian yang dilakukan Amy J. Phelps & Cherin Lee (2003) yang dilakukan dari tahun
1990 2000 terhadap guru-guru baru yang mengajar kimia menunjukkan bahwa semua guru
tersebut setuju bahwa mengajar kimia tidak dapat dilakukan tanpa laboratorium. Lebih lanjut
dikatakan bahwa laboratorium adalah esensial untuk mengajar sains, termasuk kimia. Namun
demikian, kompetensi kerja ilmiah seorang guru tidak hanya dapat diamati melalui cara
mengajar atau cara guru mendemonstrasikan suatu percobaan di laboratorium, tetapi juga
dapat ditinjau dari bagaimana seorang guru dapat berkomunikasi ilmiah, mencip-takan
percobaan sederhana yang dapat dilakukan peserta didik di rumah sebagai bentuk
kreativitasnya, dan juga sikap dan nilai ilmiah yang ditunjukkan dalam kesehariannya. Di
Amerika Serikat sebuah institusi penghasil guru (semacam LPTK) menetapkan standar
persyaratan bagi mahasiswanya untuk lulus dalam pelatihan laboratorium sebagai bekal ketika
mereka nanti mengajar (Aldrin E. Sweeney & Jeffrey A. Paradis, 2003).
Menurut Sylvia Kerr & Olaf Runquist (2005) seorang guru sebaiknya selalu berusaha
meningkatkan kualitas profesionalismenya. Selain memiliki bekal bagaimana mengajar sains
yang baik, guru juga perlu memiliki keterampilan laboratorium sebagai penunjang pelaksa-naan
tugas di lapangan serta kemampuan pemecahan masalah, sehingga tidak mudah menyerah
ketika menghadapi berbagai masalah yang berkaitan dengan tugas mengajarnya. Dengan
keterampilan laboratorium yang baik dan kemampuan memecahkan masalah, seorang guru
senantiasa dapat berbuat dan berkreasi merancang kegiatan praktikum bagi peserta didiknya
meskipun dalam kondisi sarana dan prasarana laboratorium yang serba kekurangan.

KIAT MEMANFAATKAN LINGKUNGAN SEBAGAI BAHAN PRAKTIKUM


Selain dituntut memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi profesional,
pedagogik, sosial, dan kepribadian, guru diharapkan juga memiliki kepekaan terhadap
fenomena yang terjadi di sekitar. Dimanapun ia berada, hendaknya mampu melihat
lingkungan sebagai sumber inspirasi yang diamati dan dapat dibawa ke ruang kelas.
Nah ... mengenai kepekaan ini, setiap guru akan memiliki tingkat kepekaan yang
berbeda, tergantung kesadaran dan keinginannya untuk benar-benar menjadi guru
secara total. Hal ini bukan berarti ada guru yang guru, guru, tetapi kesadaran
tersebut juga dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti usia, latar belakang pendidikan,
sosial budaya, psikologis, lingkungan yang kondusif. Sebagai contoh, sangat jarang
dijumpai ada seorang guru yang demikian maju pola pikirnya berada di tengah-tengah
teman dan lingkungan sekolah yang tidak kondusif. Namun demikian kita tidak perlu
berkecil hati, karena kepekaan dapat dilatih dan diasah melalui berbagai aktivitas yang
mengarah ke sana, seperti sering diskusi dengan sesama teman dari sekolah lain,
mengikuti seminar, menjalin hubungan dengan pakar di PT, membuka internet,
membaca buku, dan sebagainya.

MEMANFAATKAN LINGKUNGAN SEBAGAI SARANA PRAKTIKUM / EKSPERIMEN


Sesuai dengan anjuran Kurikulum yang sekarang dianut oleh dunia pendidikan di
negara kita, bahwasanya diharapkan peserta didik bukan lagi sebagai objek pembelajaran
tetapi juga sebagai subjek pembelajaran, maka keberadaan praktikum sebagai metode
pembelajaran bidang studi sains / IPA merupakan suatu keharusan. Melalui praktikum peserta
didik belajar menemukan konsep sendiri bersama-sama dengan teman sekerjanya dalam
kelompok, sekaligus membantu pemahaman konsep yang diajarkan di kelas.
Kekurangan atau tidak tersedianya berbagai bahan dan alat kimia seringkali menjadi
kendala tidak berlangsungnya suatu topik praktikum. Menghadapi kendala seperti ini, sudah
saatnya bagi kita yang berkecimpung di dunia pendidikan terutama mereka yang terkait dalam
proses pembelajaran, yaitu guru dan peserta didik memikirkan jalan keluarnya. Seperti
diketahui, bahwa dunia kita adalah dunia kimia, artinya segala yang ada di dunia ini tidak
terlepas dari aspek kimiawi. Hal ini memberikan inspirasi bagi kita bahwa lingkungan sekitar
sebenarnya merupakan sarana untuk belajar kimia dan untuk menunjukkan fenomena-
fenomena kimiawi seperti yang tertulis dalam materi pelajaran kimia yang diajarkan di kelas.
Berikut ini akan diberikan contoh berbagai bahan kimia yang dengan mudah dijumpai
dalam kehidupan sehari-hari, tetapi kita tidak tahu atau tidak menyadari bahwa bahan tersebut
dapat digunakan sebagai bahan praktikum sederhana.

1. Struktur Atom dan Ikatan Kimia


Untuk membuktikan bahwa dalam atom terdapat partikel penyusun atom yang dapat bergerak,
yaitu elektron dapat dilakukan percobaan sederhana sbb :

Kertas adalah contoh sebuah materi yang terdiri dari atom-atom. Tiap atom memiliki inti atom
yang bermuatan positif dan elektron yang mengelilinginya yang bermuatan negatif. Dengan
menggosokkan balon ke rambut, maka elektron pada rambut akan terlepas, sehingga
menyebabkan balon terkena pengaruh muatan negatif elektron. Ketika balon yang bermuatan
negatif didekatkan pada potongan kertas, maka muatan positif kertas akan tertarik balon. Gaya
tarik antara muatan negatif dan positif ini mampu mengatasi gravitasi bumi sehingga potongan
kertas melompat ke atas dan menempel pada balon.
Percobaan ini sekaligus dapat menunjukkan pada kita bahwa yang dapat bergerak dan
berikatan dengan atom lain adalah elektron, bukan proton maupun neutron.

2. Keberadaan Molekul
Untuk mengetahui bahwa air terdiri dari molekul-molekul air, maka dapat dilakukan percobaan
sederhana sbb :
Letakkan 2 tusuk gigi secara berhadapan di atas permukaan air dalam sebuah mangkuk.
Celupkan tusuk gigi yang lain dalam larutan sabun, lalu celupkan diantara dua tusuk gigi yang
berhadapan tadi. Tusuk gigi yang ujungnya dicelupkan ke dalam cairan sabun mampu
mematahkan gaya tarik-menarik antar molekul air, sehingga molekul-molekul air satu sama lain
saling menjauh. Gerakan saling menjauh ini akibat tali ikatan antar molekul air putus.
Percobaan ini membuktikan bahwa meskipun molekul tidak dapat dilihat tetapi keberadaannya
dapat diamati dari gejala yang ditimbulkan.
3. Laju Reaksi
Untuk menunjukkan factor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi, yang meliputi konsentrasi,
suhu, luas permukaan, dan katalisator, maka dapat dilakukan percobaan-percobaan sbb :
a. Konsentrasi : mereaksikan asam cuka dengan soda kue, cangkang telur dengan asam
cuka, dimana konsentrasi asam cuka divariasi.
b. Suhu : mereaksikan garam inggris dengan ammonia, dimana garam inggris dipanas-
kan pada berbagai suhu.
c. Luas permukaan : mereaksikan cangkang telur yang dihancurkan dan utuh dengan asam cuka.
d. Katalisator : menyalakan gula batu dengan bantuan abu gosok/abu rokok sebagai katalisator.

4. Titrasi Asam-Basa (Asidi Alkalimetri)


Untuk melakukan titrasi asam-basa, terkadang kita tidak memilii indikator pp, maka dapat
dilakukan dengan mengunakan indikator alami, seperti daun kubis ungu, rhoeo discolor, kunyit,
secang, dsbnya. Indikator ini (terutama daun kubis ungu) memberikan perubahan warna yang
tegas ketika titik akhir titrasi tercapai, sehingga akan memberikan akurasi data yang sama
ketika menggunakan indikator pp. Peserta didik dapat melakukan titrasi alkali-metri, yaitu
menentukan kadar asam cuka di pasaran dengan pentiter NaOH.

5. Tekanan Osmosis
Untuk mengetahui terjadinya tekanan osmosis pada materi sifat koligatif larutan, maka dapat
dilakukan percobaan sbb :
Sediakan dua gelas, gelas yang satu diisi air sedangkan yang satunya diisi air garam.
Masukkan ke dalam kedua gelas wortel yang masih segar dengan ukuran sama. Amati yang
terjadi setelah 24 jam.

6. Penurunan Titik Beku


Adanya zat terlarut yang non volatil menyebabkan larutan mengalami penurunan titik beku, hal
ini dapat ditunjukkan dengan cara meletakkan es batu dalam kaleng lalu menambahkan sedikit
air dan garam. Dengan menggunakan termometer akan nampak bahwa suhu sebelum dan
sesudah ditambah garam akan mengalami penurunan.

7. Udara Mengandung Uap Air


Ketika membahas tentang korosi, kita mengatakan bahwa terjadinya korosi pada besi
diakibatkan teroksidasi oksigen di udara. Namun sebenarnya tanpa adanya uap air di udara
yang menyebabkan udara menjadi lembab, proses korosi tidak akan terjadi. Untuk
membuktikan bahwa udara mengandung uap air adalah :
Isi kaleng dengan es batu, tambahkan secangkir air. Setelah permukaan luar kaleng
mengembun, tambahkan 3 sendok garam ke dalam air es tersebut. Diamkan selama 5 10
menit. Nampak bahwa embun di luar kaleng itu membeku. Udara mengandung molekul air
dalam bentuk gas, dan akan mendingin ketika bersentuhan dengan kaleng, sehingga berubah
menjadi air (embun). Garam menurunkan suhu air es yang berakibat suhu kaleng turun dan
membekukan embun yang ada di sekeliling kaleng.

8. Keberadaan Zat Besi pada Buah-buahan


Untuk mengetahui adanya zat besi pada beberapa buah-buahan, seperti anggur, nanas, apel,
arbei, dapat dilakukan percobaan sbb :
Siapkan jus buah-buahan yang akan diteliti, lalu tuangkan sedikit pada gelas bening.
Tambahkan sejumlah yang sama teh kental yang telah didiamkan kira-kira 1 jam. Aduk dan
biarkan sekitar 20 menit. Angkat dan lihat di dasar gelas, apakah ada endapan. Bila belum ada,
biarkan lagi beberapa saat, dan lihat kembali dasar gelas. Endapan yang terbentuk merupakan
zat besi yang terkandung dalam buah yang bereaksi dengan zat kimia dalam teh. Jumlah dan
kecepatan terbentuknya endapan menandakan banyaknya zat besi di dalam buah tersebut.

9. Koloid
Koloid merupakan campuran antara zat terdispersi dan zat pendispersi, dimana ukuran partikel
terdispersinya lebih kecil dari suspensi tetapi lebih besar dari larutan. Percobaan tentang koloud
dapat dilakukan sbb :
Isi gelas dengan susu segar, tambahkan 2 sendok makan cuka dan aduk. Biarkan 2 3 menit.
Susu merupakan contoh koloid, adanya cuka yang ditambahkan ke dalamnya menyebabkan
partikel terdispersi melekat satu sama lain membentuk benda padat yang disebut dadih yang
berwarna putih, sehingga cairannya menjadi bening.

10. Pelarut Organik Melarutkan Senyawa Organik


Alkohol adalah salah satu contoh pelarut organik (non polar) yang banyak digunakan untuk
mengekstraksi senyawa organik (non polar) di laboratorium. Untuk membuktikan bahwa sifat
pelarut non polar melarutkan senyawa non polar juga, dapat dilakukan sbb :
Letakkan sekitar 15 buah cengkeh ke dalam gelas, lalu tuangi dengan alkohol sampai
merendam seluruh cengkeh. Tutup rapat, diamkan selama 7 hari. Setelah itu cobalah
mengoleskan campuran tersebut di atas punggung tangan, biarkan sebentar, maka akan
tercium bau wangi. Bau tersebut merupakan hasil pelarutan minyak berbau harum yang
terkandung dalam cengkeh.

11. pH Buffer
Untuk membuktikan fungsi ion fosfat dalam berbagai minuman bersoda sebagai buffer, maka
dapat dilakukan dengan cara percobaan sederhana, yaitu mengukur pH minuman bersoda
tersebut sebelum dan sesudah ditambah sedikit asam, basa, maupun pengen-ceran. Jika benar
bahwa minuman bersoda mengandung buffer fosfat, maka ketika ditambah sedikit asam, basa
(hanya 1 mL), atau diencerkan (hanya 10 kali), maka harusnya tidak mengalami perubahan pH.
Pengukuran pH awal / mula-mula dari buffer fosfat dilakukan setelah busa minuman tersebut
hilang, sebab adanya busa menunjuk-kan bahwa asam karbonat (H2CO3) yang ada dalam
minuman berubah menjadi H2O dan CO2. Hal ini karena asam karbonat merupakan jenis asam
tak stabil (mudah terurai), sehingga gas CO2 terlepas ke udara dan H2O tetap tinggal di
minuman. Jadi, habisnya busa menunjukkan bahwa dalam minuman bersoda tersebut tinggal
ada buffer fosfat.

12. Uji Amilum


Untuk mengetahui ada tidaknya amilum dalam berbagai jenis makanan, dapat
dilakukan dengan menggunakan larutan iodin atau lugol. Jika dihasilkan warna biru /
ungu berarti sampel mengandung amilum.

13. Penurunan Tekanan Uap


Untuk membandingkan penguapan larutan garam dengan air dapat dilakukan
percobaan sederhana, yaitu memasukkan garam ke salah satu gelas yang berisi air
dan dibanding-kan terhadap yang hanya berisi air. Masukkan ke dalam wadah tertutup
dan simpan selama 1 hari lalu ukur volum yang ada. Ternyata setelah didiamkan 1 hari
ternyata volum larutan pada gelas 1 yang berisi larutan garam tinggal 99 ml,
sedangkan volum air pada gelas 2 tinggal 98 ml.

Demikianlah beberapa contoh praktikum yang berbasis penggunaan berbagai bahan dan alat
yang ada di lingkungan, sehingga memungkinkan untuk dilakukan di sekolah dengan kondisi
yang minim sekalipun. Harapannya, Bapak / Ibu Guru dapat mengembangkan lebih jauh
berdasarkan contoh di atas.
http://diditnote.blogspot.co.id/2013/01/praktikum-kimia-sederhana.html
TITIK BEKU LARUTAN (KELAS XII)

Tujuan : Untuk mengetahui titik beku beberapa larutan.

Alat dan Bahan :

Alat dan Bahan


1. Neraca 6. Air
2. Tabung reaksi 7. Es batu
3. Sendok 8. Urea 1 M dan 2 M
4. Pengaduk 9. Garam
5. Gelas kimia 10. NaCl 1 M dan 2 M

Cara Kerja :

1. Masukkan butiran-butiran es batu dalam gelas kimia plastic sampai kira-kira nya.
Tambahkan 4 sendok makan garam dapur. Aduk campuran ini dengan pengaduk.
Campuran ini ada campuran pendingan.
2. Isi tabung reaksi dengan air suling sebanyak 5 ml. Masukkan tabung ke dalam gelas
kimia berisi campuran pendingin sambil mengaduk campuran pendingin sampai air
membeku seluruhnya.
3. Keluarkan tabung reaksi dari campuran pendingin. Dengan hati-hati aduklah campuran
dari tabung itu dengan menggunakan termometer secara naik turun. Bacalah termometer
dan catat suhu campuran es dan air. Ulangi cara kerja 2 dan 3 dengan menggunakan
larutan urea 1 M dan 2 M, larutan NaCl 1 M dan 2 M sebagai pengganti air suling.

Pengamatan :

Zat Tf C Tf C
Air 2 0
Urea 1 M 0 2
Urea 2 M -2 4
NaCl 1 M -2 4
NaCl 2 M -5 7

Tf = Tfp Tfl

Dasar Teori :

Titik beku adalah suhu pada P tertentu di mana terjadi perubahan wujud zat cair ke padat. Pada
tekanan 1 atm, air membeku pada suhu 0 C karena pada suhu itu tekanan uap air sama dengan
tekanan uap es. Selisih antara titik beku pelarut dengan titik beku larutan disebut penurunan titik
beku ( Tf = freezing point depression). Pada percobaan ini ditunjukkan bahwa penurunan titik
beku tidak bergantung pada jenis zat terlarut, tetapi hanya pada konsentrasi partikel dalam
larutan. Oleh karena itu, penurunan titik beku tergolong sifat koligatif.
Pengamatan dan Perhitungan :

No. Zat Terlarut Titik Beku Perbedaan Titik Beku


Rumus Massa Mol Kemolaran Air Larutan
1. CO (NH2)2 180 3 1 0 0 2
2. CO (NH2)2 180 3 2 0 -2 4
3. NaCl 117 2 1 0 -2 4
4. NaCl 117 2 2 0 -5 7

Kesimpulan :

1. Titik beku adalah suhu pada P tertentu di mana terjadi peristiwa perubahan wujud zat cair
ke padat.
2. Selisih antara titik beku pelarut dengan titik beku larutan disebut penurunan titik beku (
Tf = Tfp Tfl).
3. Penurunan titik beku tidak bergantung pada jenis zat terlarut, tetapi hanya pada
konsentarsi partikel dalam larutan.
4. Penurunan titik beku tergolong sifat koligatif.
5. Larutan elektrolit memiliki titik beku lebih rendah dibanding larutan nonelektrolit.

Daftar Pustaka

Purba, Michael. 2007. Kimia untuk SMA Kelas XII. Jakarta: Erlangga.

ELEKTROLISIS (KELAS XII)

Tujuan : Untuk mempelajari perubahan yang terjadi pada elektrolisis larutan garam Natrium
sulfat dan Kalium yodida.

Alat dan Bahan :

Alat dan Bahan Ukuran/satuan Jumlah


Tabung U 2
Elektroda karbon dan kabel 0,5 m 2/2
Baterai/catudaya 1,5 V 4/1
Jepit buaya 4
Statif dan klem 1/1
Tabung reaksi dan rak 4/1
Pipet tetes 1
Gelas kimia 100 cm3 3
Larutan Natrium sulfat 0,5 M 50 cm3
Larutan Kalium yodida 0,5 M 50 cm3
Fenoftalein Sebotol
Indikator universal
Larutan kanji/amilum

Cara Kerja :

1. Pasang alat elektrolisis.


2. Elektrolisis larutan Na2SO4.

Tambahkan 10 tetes indikator universal ke dalam 50 cm3 larutan Na2SO4 dalam gelas kimia.
Tuangkan larutan ini ke dalam tabung U sampai 1,5 cm dari mulut tabung. Celupkan elektroda
karbon ke dalam masing-masing tabung U, dihubungkan kedua elektroda dengan sumber arus
searah 6 V selama beberapa menit. Catat perubahan warna yang terjadi dalam kedua kaki tabung
U itu.

1. Elektrolisis larutan KI.


2. Masukkan larutan KI ke dalam tabung U sampai 1,5 cm dari mulut tabung. Celupkan
kedua elektroda karbon ke dalam masing-masing kaki tabung U dan hubungkan elektroda
itu dengan sumber arus searah 6 V selama 5 menit. Catat perubahan yang terjadi pada
tiap-tiap elektroda.
3. Keluarkan dengan hati-hati kedua elektroda, cium baunya dan catat.
4. Pipet 2 cm3 larutan dari ruang katoda ke dalam 2 tabung reaksi tambahkan setetes
penoftalein pada tabung 1 dan beberapa tetes larutan Amilum pada tabung 2.
5. Ulangi cara kerja ini dengan larutan dari ruang anoda. Amati dan catat yang terjadi.
1. Elektrolisis larutan Na2SO4.

Hasil larutan + indicator universal

1. Sebelum dielektrolisis?
2. Sesudah dielektrolisis

Pada ruang katoda?


Pada ruang anoda?

Pembahasan :

1. Na2SO4 2 Na+ + SO42- + 10 tetes indikator universal

A (+) : 2 H2O 4 H+ + O2 + 4 e

K (-) : 2 H2O + 2 e 2 OH + H2

Na2SO4 + 6 H2O 2 Na+ + SO42- + 4 H+ + 4 OH + O2 + 2 H2

Katoda : NaOH + gas H2

Anoda : H2SO4 + gas O2


2. KI K+ + I

A (+) : 2 I- I2 + 2 e

K (-) : 2 H2O + 2 e 2 OH + H2

2 KI + 2 H2O 2 K+ + I2 + 2 OH + H2

2 KI + 2 H2O 2 KOH + I2 + H2

Katoda : KOH + gas H2

Dasar Teori :

Sel elektrolisis merupakan kebalikan dari sel volta. Dalam sel elektrolisis, listrik digunakan
untuk melangsungkan reaksi redoks tak spontan. Sel elektrolisis terdiri dari sebuah electrode,
elektrolit, dan sumber arus searah. Electron memasuki sel elektrolisis melelui kutub negatif
(katoda). Spesi tertentu dalam larutan menyerap electron dari katoda dan mengalami reduksi.
Sedangkan spesi lain melepas electron di anoda dan mengalami oksidasi.

Reaksi elektrolisis terdiri dari reaksi katoda, yaitu reduksi, dan reaksi anoda, yaitu oksidasi.
Spesi yang terlibat dalam reaksi katoda dan anoda bergantung pada potensial elektroda dari spesi
tersebut. Ketentuannya sebagai berikut.

Spesi yang mengalami reduksi di katoda adalah spesi yang potensial reduksinya terbesar.
Spesi yang mengalami oksidasi di anoda adalah spesi yang potensial oksidasinya
terbesar.

Sel elektrolisis terbagi menjadi 2, yaitu:

1. Elektrolisis larutan elektrolit.


2. Elektrolisis larutan non elektrolit.

Elektroda dalam sel elektrolisis terbagi menjadi 2, yaitu:

1. Elektroda inert/tidak aktif (elektroda karbon, platina, dan emas)


2. Elektroda selain inert/aktif.

Kesimpulan :

1. Reaksi elektrolisis terdiri dari reaksi katoda (reduksi) dan reaksi anoda (oksidasi).
2. Sel elektrolisis terbagi menjadi 2, yaitu elektrolisis larutan elektrolit dan elektrolisis
leburan elektrolit.
3. Elektroda dalam sel elektrolisis terbagi menjadi 2, yaitu elektroda inert dan elektroda
selain inert.
Daftar Pustaka

Purba, Michael. 2007. Kimia untuk SMA Kelas XII. Jakarta: Erlangga.

HALOGEN (KELAS XII)

Tujuan : Mempelajari daya oksidasi halogen terhadap Fe2+ dan daya reduksi ion halide terhadap
Fe3+.

Alat dan Bahan :

Alat dan Bahan Ukuran/satuan Jumlah


Tabung reaksi 8
Rak tabung reaksi 1
Pipet tetes 9
Larutan Klorin 1 ml
Larutan Bromin 1 ml
Larutan Iodin 1 ml
Larutan Besi (II) sulfat 0,1 M 2 ml
Larutan Besi (III) sulfat 0,1 M 2 ml
Larutan Natrium klorida 0,1 M 1 ml
Larutan Natrium bromide 0,1 M 1 ml
Larutan Kalium Iodida 0,1 M 1 ml
Larutan Kalium tiosianat
0,1 M 2 ml
(KSCN)

Cara Kerja :

1. Membedakan ion Fe2+ dan ion Fe3+.

Ambil dua tabung reaksi, masukkan 10 tetes larutan FeSO4 0,1 M ke dalam tabung pertama dan
masukkan 10 tetes larutan Fe2(SO4)3 0,1 M ke dalam tabung kedua. Tambahkan 5 tetes larutan
KSCN 0,1 M pada masing-masing tabung, guncangkan tabung, amati, dan catat pengamatan
Anda.

1. Daya oksidasi halogen.


2. Siapkan tiga tabung reaksi bersih dan masukkan ke dalam tabung reaksi berturut-turut 10
tetes larutan Klorin pada tabung pertama, 10 tetes larutan Bromin pada tabung kedua, 10
tetes larutan Iodin pada tabung ketiga, dan amati warna tabung masing-masing larutan.
Kemudian tambahkan pada masing-masing tabung reaksi 10 tetes larutan FeSO4 0,1 M.
3. Apakah pada ketiga tabung di atas terjadi oksidasi ion Fe2+ ujilah dengan larutan KSCN
0,1 M masing-masing 3 tetes. Catat warna setelah ditambah dengan larutan KSCN 0,1 M.
untuk mengetahui banyak sedikitnya ion Fe3+ yang ada dalam tabung dapat dilakukan
dengan menambah aquades pada tabung reaksi yang berisi ion Fe3+ hingga penuh.
1. Daya reduksi halida.
Ambil tiga tabung reaksi dan masukkan 10 tetes larutan Fe2(SO4)3 0,1 M ke dalam masing-
masing tabung reaksi, kemudian 10 tetes larutan NaCl 0,1 M ke dalam tabung 1, 10 tetes larutan
NaBr 0,1 M ke dalam tabung 2, 10 tetes larutan KI 0,1 M ke dalam tabung 3, bandingkan warna.
Cermati dan catat mana yang terjadi reduksi ion Fe3+.

Hasil Pengamatan :

1. Membedakan ion Fe2+ dan ion Fe3+

Perubahan Warna setelah Penambahan


Larutan Senyawa Besi
Larutan KSCN
FeSO4 atau Fe2+ Pekat
Fe2(SO4)3 atau Fe3+ Lebih pekat

1. Daya pengoksidasi halogen

Perubahan Warna setelah Penambahan


Larutan Halogen
Larutan FeSO4 Larutan Fe2(SO4)3
Cl2 Bening Coklat kemerahan
Br2 Bening Coklat oranye
I2 Coklat Coklat pekat

1. Daya reduksi halide

Warna Larutan Fe2(SO4)3 Ditambah Larutan Perubahan yang Terjadi


Bening NaCl Kuning muda
Bening NaBr Kuning oranye
Bening KI oranye

Dasar Teori :

Halogen berasl dari bahasa Yunani yang berarti pembentuk garam. Dinamai demikian karena
unsure-unsur tersebut bereaksi dengan logam membentuk garam. Unsure-unsur halogen
mempunyai 7 elektron valensi pada subkulit ns2 np5. Konfigurasi elektron yang demikian
membuat unsur-unsur halogen bersifat sangat reaktif. Halogen cenderung menyerap 1 elektron
membentuk ion bermuatan negatif satu.

Dalam bentuk unsur, halogen (X) terdapat sebagai molekul diatomik (X2). Molekul X2
mengalami disosiasi menjadi atom-atomnya. X2(g) 2 X(g). Pada suhu kamar, fluorin dan klorin
berupa gas, bromin berupa zat cair yang mudah menguap, sedangkan iodin berupa zat padat yang
mudah menyublim. Halogen mempunyai warna dan aroma tertentu. Fluorin berwarna kuning
muda, Klorin berwarna hijau muda, Bromin berwarna merah tua, Iodin padat berwarna hitam,
sedangkan uap Iodin berwarna ungu. Semua halogen berbau rangsang dan menusuk, serta
bersifat racun. Kata Klorin, Iodin, dan Bromin berasal dari bahasa Yunani yang artinya berturut-
turut adalah hijau, violet (ungu), dan bau pesing (amis). Larutan halogen juga berwarna. Larutan
Klorin berwarna hijau muda, larutan Bromin berwarna coklat merah, dan larutan Iodin berwarna
coklat. Dalam pelarut tak beroksigen, seperti Tetraklorida (CCl4) atau Kloroform, Iodin berwarna
ungu.

1) Reaksi halogen dengan logam.

X2 + L I A LX

II A LX2

III A LX3

2) Reaksi halogen dengan hidrogen.

H2 + X2 2 HX

3) Reaksi halogen dengan nonlogam dan metalloid tertentu. Reaksi dengan Fosfarus, Arsen,
dan Antimon menghasilkan trihalida jika halogennya terbatas, atau pentahalida jika halogennya
berlebihan.

P4 + 6 Cl2 4 PCl3

P4 + 10 Cl2 4 PCl5

4) Reaksi halogen dengan air.

X2 + H2O HX + O2

5) Reaksi halogen dengan basa Klorin, Bromin, dan Iodin mengalami reaksi disproporsional
dalam basa.

6) Reaksi antarhalogen.

X2 + n Y2 2 XYn

Hasil Pengamatan :

1. Membedakan ion Fe2+ dan ion Fe3+

Larutan Senyawa Besi Perubahan Warna + Larutan KSCN


FeSO4 atau Fe2+ Merah coklat
Fe2(SO4)3 atau Fe3+ Merah coklat (lebih tua)

1. Daya oksidasi halogen

Larutan Halogen Perubahan Warna setelah Penambahan


Larutan FeSO4 Larutan Fe2(SO4)3
Cl2 Putih bening Lebih tua
Br2 Kuning jernih Agak muda
I2 Merah betadine Lebih muda

1. Daya reduksi halide

Warna Larutan Fe2(SO4)3 Ditambah Larutan Perubahan Warna yang Terjadi


Bening NaCl Lebih tua dibanding Cl2
Bening NaBr Lebih tua dibanding Br2
Bening KI Lebih muda dibanding I2

Kesimpulan :

1. Daya reduksi halogen dari Cl ke I makin bertambah terlihat dari warna larutan yang
semakin tua sehingga mendekati larutan Fe2(SO4)3 padahal warna yang diharapkan
menuju FeSO4.
2. Daya oksidasi halogen dari Cl ke I makin berkurang terlihat dari warna larutan yang
semakin muda sehingga mendekati larutan FeSO4 padahal warna yang diharapkan
menuju Fe2(SO4)3

Daftar Pustaka

Purba, Michael. 2007. Kimia untuk SMA Kelas XII. Jakarta: Erlangga.

UJI PROTEIN (KELAS XII)

Tujuan :

1. Mengetahui adanya ikatan peptida dalam protein dengan tes biuret.


2. Mengetahui adanya inti benzena dengan uji Xanthoproteat.
3. Mengetahui adanya ikatan belerang (S) dengan uji Timbal asetat.

Alat dan Bahan :

Alat dan Bahan


Gelas kimia Agar-agar
Pipet tetes Gelatin
Tabung reaksi Kapas
Penjepit tabung Larutan Tembaga (II) asetat 1% (CuSO4)
Kaki 3 dan kasa Larutan Natrium hidroksida 6 M (NaOH)
Spatula kaca Larutan Natrium hidroksida 3 M (NaOH)
Gelas Ukur Larutan Timbal (II) asetat {Pb (CH3COO)2}
Susu Larutan CH3COOH 3 M
Cara Kerja :

1. Uji biuret

Jika positif (+) akan berwarna ungu.

Masukkan 1 ml putih telur ke dalam tabung reaksi. Tambahkan 2-3 tetes CuSO4.
Kemudian masukkan 1 ml NaOH 0,1 M. amati perubahan yang terjadi.
Ulangi cara kerja tersebut menggunakan susu, gelatin, agar-agar, dan kapas. Bila ada
yang tidak larut setelah ditambahkan NaOH, panaskan dahulu beberapa menit hingga
semua larut, lalu dinginkan.

1. Tes Xanthoproteat

Untuk mendeteksi ada tidaknya inti benzena.

Jika positif (+) berwarna kuning jingga.

Masukkan 1 ml putih telur ke dalam tabung reaksi. Tambahkan 2 tetes HNO3 pekat,
panaskan selama 2 menit. Kemudian dinginkan, setelah dingin masukkan NaOH 6 M
tetes demi tetes hingga berlebih. Amati perubahan yang terjadi.
Ulangi cara kerja tersebut dengan menggunakan susu, gelatin, agar-agar, dan kapas.

1. Uji Timbal asetat

Untuk menguji ada tidaknya ikatan belerang (S).

Jika positif (+) akan berwarna kehitaman.

Masukkan 1 ml putih telur ke dalam tabung reaksi. Tambahkan 0,5 ml NaOH 6 M dan
panaskan 2 menit. Kemudian dinginkan, setelah itu masukkan 2 ml CH3COOH 3 M.
tutup tabung reaksi dengan kertas saring yang sudah dibasahi dengan Pb(CH3COO)2.
Panaskan 2 menit. Amati perubahan yang terjadi.
Ulangi langkah kerja tersebut menggunakan susu, gelatin, agar-agar, dan kapas.

Hasil Pengamatanm :

Bahan Uji Biuret Uji Xanthoproteat Uji Timbal asetat


Putih telur Ungu (+) Oranye (+) Tidak hitam (-)
Susu Ungu (+) Oranye (+) Hitam (+)
Gelatin Ungu (+) Kuning (+) Hitam (+)
Agar-agar Ungu (+) Oranye (+) Hitam (+)
Kapas Biru (-) Putih bening (-) Hitam (+)

Kesimpulan :
1. Ikatan peptida bereaksi dengan larutan biuret akan berwarna ungu. Sedangkan yang tidak
berwarna ungu berarti mengandung glikosida.
2. Inti benzena bereaksi dengan larutan Xanthoproteat akan berwarna kuning jingga.
3. Ikatan S bereaksi dengan larutan Timbal asetat akan berwarna hitam pada kertas saring.

https://vidtrie.wordpress.com/kimia-sma/praktikum-kimia-xii/

CONTOH PERCOBAAN KIMIA YANG MENARIK

Selama ini jika kita melakukan praktikum selalu hanya mendasarkan pada petunjuk
praktikum yang sudah ada dimana dari tahun ke tahun sama, seperti membaca sebuah resep
masakan lalu kita mempraktikkannya di laboratorium. Hal ini sangat monoton dan
membosankan, karena terkadang praktikum yang kita lakukan sudah pernah dilakukan
sebelumnya. Oleh karena itu, agar pembelajaran praktikum sebagai bagian pembelajaran kimia
secara utuh dapat menarik, kita perlu menciptakan percobaan-percobaan baru yang berkaitan
dengan kehidupan dan bahkan kalau memungkinkan dapat dipraktikkan tanpa harus di
laboratorium.
Bagaimanakah cara kita menciptakan suatu percobaan baru sehingga kita tertantang
dan tertarik untuk melakukannya ? Suatu materi ajar dapat dikonstruksi menjadi percobaan
dengan mengikuti langkah-langkah berikut ini :

1. Pelajari secara mendalam materi ajar tersebut, lalu coba cari hubungan setiap konsep yang ada
dengan fenomena yang ada dalam kehidupan sehari-hari.
2. Setelah kita menemukan suatu fenomena, cobalah berpikir bagaimana mengangkat fenomena
tersebut menjadi suatu rancangan percobaan sederhana dengan mencari hubungannya dengan
konsep kimia tertentu.
3. Buatlah langkah-langkah pengujian / pembuktiannya.
4. Ujicobalah sesuai dengan rancangan yang dibuat.
5. Tulis rancangan kita dengan format prosedur sederhana yang mudah dipahami.

Untuk dapat menemukan fenomena yang berkaitan dengan materi ajar mungkin dirasa
sulit oleh kita, namun sebenarnya semakin banyak membaca buku dan membuka internet,
semakin besar kepekaan kita terhadap fenomena kimia di sekitarnya. Berikut ini contoh-contoh
percobaan sederhana yang idenya muncul dari fenomena kimia yang ada di sekitar kita yang
ada kaitannya dengan materi ajar di kelas.
1. Untuk menunjukkan adanya ikatan hidrogen antar molekul air, letakkan 2 batang tusuk gigi
secara berhadapan. Adanya molekul-molekul air dapat ditunjukkan dengan mematahkan ikatan
antar molekulnya menggunakan 1 batang tusuk gigi yang dicelupkan ke dalam air sabun dan
kemudian diletakkan diantara 2 batang tusuk gigi tadi, sehinggga secara spontan kedua batang
akan saling menjauh sebagai akibat patahnya ikatan antar molekul air. Hal ini dapat dimodifikasi
dengan menggunakan air susu yang ditetesi beberapa warna di tengah-tengah, lalu dengan
cara yang sama tusuk gigi yang telah dicolekkan pada sabun colek diletakkan di tengah-tengah
warna tersebut, maka secara spontan warna-warna tersebut akan menepi.
2. Untuk menunjukkan ciri-ciri reaksi kimia, dapat dilakukan dengan cara mudah, yaitu :
a. Pembentukan gas : mereaksikan asam cuka dengan soda kue, cangkang telur dengan asam
cuka.
b. Pembentukan endapan : mereaksikan uang logam dengan asam cuka, garam inggris dengan
ammonium hidroksida (dapat dibeli di apotik).
c. Perubahan warna : daging apel dengan oksigen di udara, roti tawar dengan larutan iodin, kertas
dengan larutan iodin (tulisan ajaib).
d. Perubahan suhu : mereaksikan soda kue dengan asam sitrat.
3. Untuk menunjukkan pengaruh konsentrasi, luas permukaan, dan suhu kita dapat menggunakan
reaksi soda kue + cuka dengan berbagai variasi konsentrasi dari salah satunya (soda kue /
cuka), cangkang telur (digerus dan dipotong-potong) dengan cuka, dan garam inggris
(dipanaskan pada berbagai suhu) dengan ammonia.
4. Untuk menunjukkan tekanan osmosis, kita dapat melakukan percobaan : sediakan dua gelas,
gelas yang satu diisi air sedangkan yang satunya diisi air garam. Masukkan ke dalam kedua
gelas wortel yang masih segar dengan ukuran sama. Amati yang terjadi setelah 24 jam.
5. Kita dapat membuktikan adanya ion fosfat dalam minuman bersoda (sprite, coca-cola, fanta)
sebagai buffer yang mampu mempertahankan pH dengan cara menambah sedikit asam, basa,
dan pengenceran.
6. Untuk mengetahui adanya zat besi pada beberapa buah-buahan, seperti anggur, nanas, apel,
arbei, dapat dilakukan percobaan : Siapkan jus buah-buahan yang akan diteliti, lalu tuangkan
sedikit pada gelas bening. Tambahkan sejumlah yang sama teh kental yang telah didiamkan
kira-kira 1 jam. Aduk dan biarkan beberapa saat, catat waktu terjadinya endapan pada dasar
gelas. Endapan yang terbentuk merupakan zat besi yang terkandung dalam buah yang
bereaksi dengan zat kimia dalam teh. Jumlah dan kecepatan terbentuknya endapan
menandakan banyaknya zat besi di dalam buah.

Semua bahan dan alat yang digunakan dalam percobaan tersebut dapat dengan mudah
diperoleh dan harganya murah, tetapi mampu menunjukkan pembuktian suatu konsep.
Percobaan-percobaan tersebut pasti menarik bagi kita, karena selain mudah dilakukan juga
merupakan percobaan yang baru karena belum pernah dijumpai sebelumnya.
http://yi2ncokiyute.blogspot.co.id/2013/06/contoh-percobaan-kimia-yang-menarik.html