Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Keputihan di kalangan medis dikenal dengan istilah leukore atau
flour albus, yaitu keluarnya cairan dari vagina (Ababa,2003). Leukore
adalah semua pengeluaran cairan dari alat genetalia yang bukan darah
tetapi merupakan manifestasi klinik berbagai infeksi, keganasan atau
tumor jinak organ reproduksi (Manuaba, 2001).
Keputihan adalah kondisi vagina saat mengeluarkan cairan atau
lendir menyerupai nanah. Keputihan adalah nama gejala yang diberikan
kepada cairan yang dikeluarkan dari alat-alat genital yang tidak berupa
darah yang sering dijumpai pada penderita ginekologi (ilmu yang
mempelajari penyakit-penyakit sistem reproduksi pada wanita) (Sarwono,
2008)
Leukore merupakan sekresi pada vagina yang abnormal pada
wanita (Wijayanti, 2009). Keputihan adalah semacam slim yang keluar
terlalu banyak, warnanya putih seperti sagu kental dan agak kekuning-
kuningan (Sasmiyanti & Handayani, 2008). Pengeluaran cairan ini sebagai
keadaan dari saluran kelamin wanita. Seluruh permukaan saluran kelamin
wanita mempunyai kemampuan untuk mengeluarkan cairan berupa lendir
jernih, tidak berwarna dan tidak berbau busuk (Putu, 2009). Sekresi
keputihan fisiologi tersebut bisa cair seperti air atau kadang-kadang agak
berlendir, umumnya cairan yang kelur sedikit , jernih, tidak berbau, dan
tidak gatal. Sedangkan keputihan yang tidak normal disebabkan oleh
infeksi biasanya disertai dengan rasa gatal di dalam vagina dan disekitar
bibir vagina bagian luar, dan kerap pula disertai bau busuk (Muhammad
Shadine,2012).

1
2

Keputihan atau Flour Albus adalah hal yang umum di alami


wanita. Keputihan biasanya terjadi sebelum atau sesudah menstruasi atau
selama masih subur. Selain keputihan normal, wanita juga kadang-kadang
mengalami keputihan yang disebabkan oleh jamur (Astrid, 2016).
Sekitar 75% wanita di dunia pasti akan mengalami keputihan
paling tidak seumur hidup sekali dan sebanyak 45% wanita mengalami
keputihan dua kali atau lebih, sedangkan pada kaum wanita yang berada di
Eropa angka keputihan keluar sebesar 25%. Masalah kesehatan mengenai
reproduksi wanita yang buruk telah mencapai 33% dari jumlah total beban
penyakit yang menyerang para wanita di seluruh dunia. Angka ini lebih
besar dibandingkan dengan masalah reproduksi pada kaum laki-laki yang
mencapai 12,3% pada usia yang sama dengan kaum wanita. Data di atas
menunjukkan bahwa angka kejadian keputihan pada wanita di dunia, eropa
dan negara-negara di Asia cukup tinggi (WHO 2008).
Khusus pada remaja wanita, mereka harus mengetahui tentang
keputihan dan penyebabnya secara dini, karena menurut badan kesehatan
dunia (WHO 2008) pada masa peralihan anak-anak ke masa dewasa
terdapat perubahan-perubahan fisiologis wanita khususnya, daerah organ
reproduksi dan dapat menjadi masalah pada remaja jika tidak mengetahui
permasalahan seputar organ reproduksinya dan hal tersebut merupakan
pengalaman yang baru bagi remaja wanita.
Sekitar 15% remaja putri di Aceh terinfeksi terapi gejala keputihan
dan gatal-gatal terjadi hanya dalam 3%-5% pada remaja yang mengalami
keputihan, bahkan ada yang merasa sangat terganggu namun rasa malu
untuk diperiksa pada bagian tubuh yang satu ini sering kali mengalahkan
keingininan untuk sembuh belum lagi masyarakat kita yang terbiasa
memeriksa alat kelamin sendiri sehingga kalau ada gangguan tertentu
tidak bisa segera diketahui. Rasa malu untuk diperiksa ke dokter juga
menyebabkan banyak remaja untuk mengobati keputihannya sendiri
(Depkes RI, 2005), di provinsi Jawa Tengah tepatnya di daerah atang
3

persentase wanita yang mengalami keputihan sebesar 42,4% (Dinkes,


2011).
Penyebab keputihan yang sering terjadi disebabkan oleh jamur
yang sifatnya parasit. Jamur banyak tumbuh dalam kondisi tidak bersih
dan lembab. Organ reproduksi merupakan daerah yang tertutup dan
berlipat, sehingga lebih mudah untuk berkeringat, lembab dan kotor.
Perilaku buruk dalam menjaga kebersihan genitalia, seperti menggunakan
celana yang tidak menyerap keringat, jarang mengganti celana dalam dan
tak sering mengganti pembalut dapat memicu pertumbuhan jamur
(Ayuningtyas, 2011).
Jamur merupakan organisme yang uniseluler tapi kebanyakan
jamur membentuk filamen yang merupakan sel vegetatif yang dikenal
sebagai dengan sebutan miselium. Miselium adalah kumpulan hifa atau
filamen yang meyerupai tube (Tafsir, 2010). Cara hidup jamur adalah
bersimbiosis tumbuh sebagai saprofit atau parasit pada tanaman, hewan
dan manusia, salah satu jamur yang hidupnya parasit terhadap manusia
adalah Candida albicans (Sumarsih, 2003).
Candida albicans adalah kelompok flora normal terutama pada
saluran pencernaan, selaput mukosa, saluran pernafasan, vagina, uretra,
kulit dan di bawah jari-jari kuku tangan dan kaki. Di tempat-tempat ini
jamur menjadi dominan dan menyebabkan keadaan-keadaan patologis
ketika daya tahan tubuh menurun baik secara lokal maupun sistemik
(Simatupang, 2009). Genus Candida ditemukan leih dari 200 spesies dan
yang paling patogen adalah spesies Candida albicans. Jamur ini
merupakan jamur yang dapat menyebabkan keputihan (Lies, 2005). Jamur
Candida albicans membentuk pseudohifa ketika tunas-tunas terus tumbuh
tetapi gagal melepaskan diri, menghasilkan rantai-rantai sel yang
memanjang atau tertarik pada septasi-septasi sel. Jenis jamur ini juga dapat
menghasilkan hifa sejati (Simatupang, 2009). Pseudohifa pada jamur
Candida albicans berguna untuk masuk lebih dalam ke jaringan
epthalium. Candida albicans menghasilkan sekelompok spora yang
4

reproduktif aseksual yang disebut Blastopora dan spora pertahanan hidup


yang berdinding tebal disebut Clamydospora (Subandi, 2010).
Dalam dunia pengobatan telah berkembang penggunaan obat
tradisional sebagai pengobatan alternatif yang dianggap lebih aman
dibandingkan zat kimia lainnya. Salah satu obat tradisional yang biasa
digunakan adalah daun sirih merah (Piper crocatum Ruiz & Pav) (Syukur,
2001). Pengobatan tradisional merupakan salah satu upaya perawatan lain
di uar ilmu kedokteran (Yulianti, 2008). Pengobatan tradisional saat ini
sangat digemari. Hal ini dikarenakan banyaknya efek samping penggunaan
obat-obat modern atau sintetik. Obat tradisional yang berasal dari alam
mempunyai khasiat sebagai obat dan perlu dikembangkan serta
disebarluaskan kepada masyarakat sebagai perwujudan untuk mencapai
derajat kesehatan yang optimal (Kusmiyati, 2011).
Segala obat baik itu obat tradisional maupun obat sintetik, adalah
baik dikonsumsi bagi penderitanya. Penggunaan obat harus sesuai takaran
atau dosis. Penggunaan dosis yang berlebihan akan berakibat yang tidak
baik bagi kesehatan yang mengkonsumsi obat tersebut. Obat tradisional
mudah di dapatkan di sekitar kita, atau dapat juga menanam tanaman yang
berkhasiat obat di sekitar rumah. Obat sintetik banyak dijual di toko-toko
dan kebanyakan sudah dalam bentuk kemasan. Obat sintetik sudah jelas
dosis pemakaiannya akan tetapi jika di bandingkan dengan obat
tradisional, maka obat tradisional memiliki efek samping yang jauh lebih
sedikit. Oleh karena itu pada masa sekarang masyarakat banyak yang
memilih menggunakan pengobatan alternatif dengan memanfaatkan
tumbuhan sebagai obat (Kusmiyati, 2011).
Tanaman sirih merah berkhasiat merupakan tanaman yang tumbuh
merambat di pagar atau pohon. Permukaan daun sirih mera berwarna
merah keperakan dan mengkilap saat cahaya menerpa. Tanaman sirih
sangat banyak macamnya, dilihat dari warna daunnya tanaman sirih ada
yang berwarna hijau, merah, hitam, kuning, bahkan ada yang berwarna
perak. Tiga tahun terakhir ini sirih merah (Piper crocatum Ruiz & Pav)
5

banyak diburu orang karena khasiatnya untuk menyemuhkan berbagai


jenis penyakit dan sebagai tanaman hias. Tanaman ini memiliki nilau jual
cukup tinggi karena penampilannya yang indah khususnya pada bagian
daunnya (Haryadi, 2010).
Sirih merah (Piper crocatum Ruiz & Pav) merupakan salah satu
tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai obat. Manfaat sirih merah telah
banyak dibicarakan, namun penelitian megenai sirih merah masih sangat
sedikit (Juliantina et al., 2009). Daun sirih merah secara empirik
digunakan sebagai bahan obat, untuk mengobati berbagai penyakit seperti
batuk, asma, radang radang tenggorokan, diabetes, sariawan dan keputihan
(Haryadi, 2010).
Minyak atsiri daun sirih merah memiliki aktivitas antimikroba
terhadap Candida albicans, Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli
dan identifikasi komponen kimia minyak atsiri daun sirih merah dengan
menggunakan GC-MS diketahui mengandung senyawa kavikol, eugenol,
trans-karyopilen, beta-selin dan eugenol asetat (Sulistyani et al., 2007).
Daun sirih merah mengandung senyawa-senyawa antibakteri
seperti tanin, flavonoid, polifenol dan saponin (Haryadi, 2010). Pada
penelitian lain diketahui ekstrak sirih merah memiliki kandungan kimia
berupa alkaloid, senyawa polifenolat, tanin dan minyak atsiri (Sudewo,
2007).
Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair disebut dengan
menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok, di luar
pengaruh cahaya matahari langsung (Anonim, 2009). Ekstraksi dilakukan
menggunakan suatu metode tertentu dengan maksud mendapatkan efek
farmakologi. Ekstrak merupakan hasil ekstraksi yang tidak mengandung
hanya satu zat saja tetapi berbagai macam zat, tergantung pada bahan yang
digunakan dan kondisi dari ekstraksi (Ansel, 2005).
6

Ekstrak daun sirih merah mampu membasmi cendawan Candida


albicans penyebab sariawan; erkhasiat mengurangi sekresi pada liang
vagina, keputihan akut dan gatal-gatal pada alat kelamin; sekaligus sebagai
pembersih luka (Bambang, 2010).
Masih sedikitnya penelitian efek antijamur tentang aktiviitas sirih
merah, mendasari dilakukannya penelitian efek antijamur ekstrak etanol
96% daun sirih merah terhadap jamur penyebab keputihan Candida
albicans. Berdasarkan data yang ada keputihan masih meningkat di dalam
kehidupan masyarakat. Sehingga penelitian ini perlu dilakukan agar
menurunkan tingkat penyakit keputihan dengan menggunakan ekstrak
daun sirih merah.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas dan belum adanya laporan mengenai uji
aktivitas antijamur, maka perlu dilakukan penelitian uji aktivitas antijamur
ekstrak etanol 96% daun sirih merah terhadap jamur penyebab keputihan
(Candida albicans).

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Penelitian bertujuan untuk mengetahui aktivitas antijamur ekstrak
etanol 96% daun sirih merah terhadap jamur penyebab keputihan
(Candida albicans).

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui aktivitas antijamur ekstrak etanol 96% daun


sirih merah terhadap jamur penyebab keputihan (Candida
albicans) berdasarkan nilai konsentrasi dengan metode difusi.
7

b. Untuk mengetahui aktivitas antijamur ekstrak etanol 96% daun


sirih merah terhadap jamur penyebab keputihan (Candida
albicans) berdasarkan nilai konsentrasi dengan metode dilusi.

D. Manfaat penelitian
1. Secara Teoritis
Secara teoritis penelitian ini akan menambah khasanah ilmu
pengetahuan tentang aktivitas antijamur ekstrak etanol 96% daun sirih
merah terhadap jamur penyebab keputihan (Candida albicans) yang
nantinya akan memberi manfaat terhadap pembuatan obat baru.

2. Secara Metodologi
Secara metodologi penelitian ini menggunakan ekstrak etanol 96%
daun sirih merah (Piper crocatum Ruiz & Pav) sebagai agen antijamur
terhadap jamur penyebab keputihan dan dapat digunakan pada
penelitian selanjutnya untuk uji aktivitas lainnya.

3. Secara Aplikatif
Secara aplikatif hasil penelitian ini diharapkan dapat diterapkan
dalam usaha mendapatkan sumber obat baru yang bermanfaat bagi
ilmu pengetahuan sebagai wujud pemanfaatan sumber daya alam.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Keputihan
1. Definisi Keputihan
Keputihan adalah semua pengeluaran cairan alat genitalia yang
bukan darah. Keputihan bukan penyakit tersendiri, tetapi merupakan
manifestasi gejala dari hampir semua penyakit kandungan.
(Winkjosastro, 2008).
Keputihan (White discharge, Flour albus) adalah nama gejala yang
diberikan kepada cairan yang dari alat-alat genital yang tidak berupa
darah. Mungkin Leukorea merupakan gejala yang paling sering
dijumpai pada penderita ginekologik, adanya gejala ini diketahui
penderita karena mengotori celananya (Winkjosastro, 2008).
Keputihan yang istilah medisnya disebut leukore (leucorrhea) atau
flour albus (aliran putih) merupakan salah satu bentuk dari vaginal
discharge yaitu cairan yang keluar dari vagina (Dalimartha, 2002).
2. Tanda-tanda Keputihan
a. Keluarnya cairan berwarna putih kekuningan atau putih kelabu dari
saluran vagina. Cairan ini dapat encer atau kental, dan kadang-
kadang berbusa. Mungkin gejala ini merupakan proses normal
sebelum atau sesudah haid pada perempuan tertentu.
b. Pada penderita tertentu, terdapat rasa gatal yang menyertainya.
Biasanya keputihan yang normal tidak disertai dengan rasa gatal.
Keputihan juga dapat dialami oleh perempuan yang terlalu lelah
atau yang daya tahan tubuhnya lemah. Sebagian besar cairan
tersebut berasal dari leher rahim, walaupun ada yang berasal dari
vagina yang terineksi, atau dari alat kelamin luar. Pada bayi
perempuan yang baru lahir, dalam waktu satu hingga sepuluh hari,
dari vaginanya dapat keluar cairan.

8
9

c. Akibat pengaruh hormon yang dihasilkan oleh plasenta.


d. Gadis muda terkadang juga mengalami keputihan sesaat sebelum
masa pubertas, biasanya gejala ini akan hilang dengan sendirinya.
3. Klasifikasi Keputihan
Menurut Wijayanti (2009), keputihan dibagi menjadi 2, yaitu :
1) Keputihan Fisiologis
Dalam keadaan normal ada sejumlah sekret yang
mempertahankan kelembaban vagina yang mengandung banyak
epitel dan sedikit leukosit dengan warna jernih. Tanda-tanda
keputihan normal adalah jika cairan yang keluar tidak terlalu
kental, jernih, berwarna putih atau kekuningan jika terkontaminasi
oleh udara, tidak disertai rasa nyeri, dan tidak timbul rasa gatal
yang berlebih.
Hal-hal yang menyebabkan terjadinya keputihan fisiologis
antara lain bayi baru lahir hingga berusia 10 hari yang disebabkan
pengaruh hormon estrogen dari ibunya, masa sekitar menarche
atau pertama kalinya haid datang, seorang wanita yang mengalami
gairah seksual, masa sekitar ovulasi karena adanya produksi
kelenjar-kelenjar pada mulut rahim, pada wanita hamil disebabkan
karena meningkatnya suplai darah ke vagina dan mulut rahim
sehingga terjadi penebalan dan melunaknya delaput lendir vagina,
akseptor kontrasepsi pil dan IUD, serta seorang wanita yang
menderita penyakit kronik atau pada wanita yang mengalami
stress.
2) Keputihan Patologis
Gejala yang timbul pada keputihan bisa bermacam-macam
tergantung penyebabnya. Cairan yang keluar bisa sedikit atau
sedemikian banyaknya sehingga memerlukan ganti celana dalam
berulang kali atau bahkan memerlukan pembalut. Warna cairan
bisa kehijauan, kekuningan, keabu-abuan atau jernih tanpa warna.
10

Kekentalanya pun bervariasi, bisa encer, kental, berbuih atau


bergumpal kecil menyerupai susu (Dalimartha, 2002).
4. Gejala keputihan
Gejala yang timbul pada keputihan bisa bermacam-macam
tergantung penyebabnya.Cairan yang keluar bisa sedikit atau
sedemikian banyaknya sehingga memerlukan ganti celana dalam
berulang kali atau bahkan memerlukan pembalut. Warna cairan bisa
kehijauan, kekuningan, keabu-abuan atau jernih tanpa warna.
Kekentalanya pun bervariasi, bisa encer, kental, berbuih atau
bergumpal kecil menyerupai susu (Dalimartha, 2002).
Keputihan juga bisa tanpa bau, namun bisa juga berbau busuk atau
anyir yang menyebabkan penderitanya menjadi stress dan rendah diri.
Keputihan juga bisa disertai dengan keluhan gatal di kemaluan dan
lipat paha, rasa panas di bibir kemaluan, rasa pedih sewaktu kencing,
atau rasa sakit sewaktu senggama. Gatal bisa terasa kadang-kadang,
atau malam hari saja, namun bisa terasa terus menerus. Bila cairan
yang keluar cukup banyak, maka keadaan basah di sekitar lipat paha
akan menimbulkan kelembaban yang tinggi sehingga kulit mudah lecet
(ekskoriasi). Akibat rasa gatal, maka garukan di alat kelamin dan
sekitarnya akan menambah peradangan dan lecet-lecet yang
menimbulkan rasa pedih bila kencing dan tersiram air (Dalimartha,
2002).
5. Akibat yang sering terjadi karena Keputihan
Akibat yang sering ditimbulkan karena keputihan adalah sebagai
berikut :
1) Gangguan Psikologis
Respon psikologis seseorang terhadap keputihan akan
menimbulkan kecemasan yang berlebihan dan membuat seseorang
merasa kotor serta tidak percaya diri dalam menjalankan
aktifitasnya sehari-hari (Manuaba, 1998). Infeksi alat-alat genitalia,
menurut Manuaba (1998):
11

a) Vulvitis
Sebagai besar dengan gejala keputihan dan tanda infeksi
lokal, penyebab secara umum jamur. Bentuk vulvitis adalah
infeksi kulit berambut dan infeksi kelejar bartholini. Infeksi
kulit berambut terjadi perubahan warna, membengkak, terasa
nyeri, kadang-kadang tampak bernanah dan menimbulkan
kesukaran bergerak. Infeksi kelenjar bartholini terletak di
bagian bawah vulva, warna kulit berubah, membengkak, terjadi
penimbunan nanah di dalam kelenjar, penderita sukar untuk
berjalan dan duduk karena sakit.
b) Vaginitis
Vaginitis merupakan infeksi pada vagina yang disebabkan
oleh berbagai parasit atau jamur. Infeksi ini sebagian besar
terjadi karena hubungan seksual. Tipe vaginits yang sering
dijumpai adalah vaginatis candidiasis dan trikomonalis
vaginalis. Vaginatis candidiasis merupakan keputihan kental
bergumpal, terasa sangat gatal dan mengganggu, pada dinding
vagina sering dijumpai membran putih yang bila dihapus dapat
menimbulkan perdarahan, sedangkan trikomonalis vaginalis
merupakan keputihan yang encer sampai kental, kekuningan,
gatal dan terasa membakar serta berbau.
c) Serviksitis
Serviksitis merupakan infeksi dari servik uteri. Infeksi
serviks sering terjadi karena luka kecil bekas persalinan yang
tidak dirawat dan infeksi karena hubungan seksual.Keluhan
yang dirasakan terdapat keputihan, mungkin terjadi kontak saat
berhubungan seksual.
d) Penyakit Radang Panggul (Pelvic Inflammantory Disease)
Penyakit radang Panggul merupakan infeksi alat genetalia
bagian atas wanita,terjadi akibat hubungan seksual.Penyakit ini
dapat bersifat akut atau menahun atau akhirnya akan
12

menimbulkan berbagai penyulit yang berakhir dengan


terjadinya perlekatan sehingga dapat menyebabkan
kemandulan. Tanda- tandanya yaitu nyeri yang menusuk-nusuk
dibagian bawah perut, mengeluarkan keputihan dan bercampur
darah,suhu tubuh meningkat dan pernafasan bertambah serta
tekanan darah dalam batas normal. Penentuan jenis infeksi
genetalia ini lebih akurat bila dilakukan pemeriksaan untuk
memungkinkan keganasan (Manuaba, 1998:386).
6. Cara Menangani dan Mencegah Keputihan
Cara menangani dan mencegah keputihan menurut Kasdu (2005)
adalah sebagai berikut :
a. Untuk lendir normal tidak perlu diobati, tetapi dengan menjaga
kebersihan dan mencegah kelembaban yang berlebihan pada
daerah organ kelamin terutama saat terjadi peningkatan jumlah
lendir normal.
b. Menggunakan antiseptik yang sesuai dengan petunjuk dokter
untuk membersihkan vagina dari lendir keputihan yang berlebihan.
c. Melakukan perawatan pemeriksaan kesehatan organ intim enam
bulan sekali pada wanita yang pernah melakukan hubungan
seksual.
d. Melakukan deteksi dini kemungkinan adanya kanker serviks
dengan tes pap smear (Kasdu, 2005).

Cara menangani dan mencegah keputihan menurut Indarti (2004)


yaitu sebagai berikut:
a. Menjaga organ intim agar tidak lembab setelah buang air kecil
atau air besar, bilas sampai bersih, kemudian keringkan sebelum
memakai celana dalam.
b. Saat membersihkan vagina, membilas dilakukan dari arah depan
kebelakang untuk menghindari kuman dari anus ke vagina.
c. Menghindari pakaian dalam yang ketat.
13

d. Saat menstruasi mengganti pembalut beberapa kali dalam sehari.


e. Jika diperlukan menggunakan cairan pembersih vagina.

7. Diagnosis
Penyebab keputihan dapat didiagnosis dengan memperhatikan
umur, keluhan yang timbul, sifat- sifat dari tubuh vagina, hubungan
dengan menstruasi, ovulasi, kehamilan, kelainan setempat, dan
ditunjang dengan pemeriksaan laboratorium sederhana (Dalimartha ,
2002).
Pada pemeriksaan langsung disekitar alat kelamin luar, bisa terlihat
bibir kemaluan, muara kandung kencing, anus, dan lipat paha.
Perhatikan apakah tampak bercak kemerahan yang terasa gatal,
perhatikan juga adanya luka lecet, tonjolan-tonjolan kutil berbentuk
jengger ayam, gelembung-gelembung kecil berisi cairan yang dasarnya
kemerahan, dan cairan keputihan yang bisa ditentukan jumlahnya
(sedikit atau banyak), konsistensi (encer, agak kental. kental), warna
(putih, putih kekuningan ,kuning kehijauan), sifat (bergumpal,
berbuih), dan baunya (tidak berbau, bau amis, asam, busuk)
(Dalimartha, 2002).
Untuk pemeriksaan laboratorium, diperlukan pengambilan cairan
keputihan.Cairan keputihan yang ada lalu dihapuskan pada gelas
objek. Bisa langsung diperiksa dibawah mikroskop, atau setelah diberi
warna baru diperiksa dibawah mikroskop. Dari pemeriksaan tersebut,
bila penyebabnya infeksi akan terlihat apakah penyebabnya bakteri,
jamur, atau protozoa. Bila diperlukan, cairan keputihan bisa dibiakkan
(Dalimartha, 2002).
Dari pemeriksaan darah juga bisa diketahui apakah penderita
terinfeksi oleh penyakit kelamin seperti melalui pemeriksaan Venereal
Desease Research of Laboratory (VDRL) dan Trephonema Pallidum
Hemaglutination Test (TPHA) (Dalimartha, 2002,).
14

Pemeriksaan dalam dilakukan pada perempuan yang telah menikah


dengan menggunakan alat untuk melebarkan saluran vagina yang
disebu tspekulum. Dengan alat ini bisa dilihat saluran vagina dan leher
rahim (serviks), apakah ada peradangan (kemerahan), erosi, atau
bercak putih. Juga bisa terlihat bila ada benda asing yang tertinggal
disaluran vagina, tumor, papiloma atau pun kecurigaan adanya kanker
serviks (Dalimartha, 2002).
Pemeriksaan dapat dilanjutkan dengan melakukan biopsy atau
pengambilan sel-sel yang lepas dengan cara mengeroknya pada selaput
lendir leher rahim. Pengerokan menggunakan spatel khusus untuk
pemeriksaan Pap-Smear (Dalimartha, 2002).
8. Pengobatan Keputihan
Pengobatan keputihan tergantung penyebabnya. Bila keputihan
hanya timbul pada waktu sebelum haid, saat ovulasi, sewaktu hamil,
atau ketika sedang minum pil KB, pengobatan cukup dengan
konseling. Namun, bila penyebabnya infeksi, tentukan apakah akibat
bakteri, jamur, parasit atau virus. Menurut (Dalimartha, 2002).
Pengobatan yang dilakukan antara lain sebagai berikut:
1) Larutan Antiseptik
Digunakan untuk membilas cairan keputihan yang keluar
dari liang senggama. Larutan ini hanya untuk membersihkan,
karena tidak dapat membunuh penyebab infeksi maupun
menyembuhkan keputihan akibat penyakitlainnya.
2) Obat obatan
Sebagai contoh Asiklovir yang berupa tablet atau krim.
Obat ini digunakan bila penyebab keputihannya adalah virus
herpes. Kondilomo bisa diobati dengan larutan Podofilin25%
atau larutan asam trikloroasetat 40%-50%, atau salep asam
salisilat 20%-40% yang dioleskan topikal ditempat kutil tersebut
berada. Obat cacing bila penyebabnya cacing keremi.
Metronidazole bila penyebabnya Trichomonas vaginalis atau
15

Gardnerella. Pada kand id iasis, pengobatan pervag inal dengan


Nistatin, Mikonazol dan Klotrimazol, atau per oral dengan
Fluconazol. Pengobatan dengan antibiotika dan anti jamur bisa
peroral (diminum) ditambah dengan pengobatan lokal berupa
tablet atau krim pervaginal bagi yang sudah menikah.
3) Hormon Estrogen
Tablet atau krim yang mengandung hormon estrogen
diberikan pada perempuan menopause atau usia lanjut yang
mempunyai banyak keluhan.
4) Operasi kecil
Hal ini dilakukan bila penyebabnya tumor jinak seperti
papiloma, atau bila ada kelainan condiloma.
5) Pembedahan, penyinaran (radioterapi) atau sitostatik
(khemoterapi)
Tindakan ini dilakukan bila penyebabnya kanker serviks
atau kanker kandungan lainnya, tergantung stadiumnya.
(diminum) ditambah dengan pengobatan lokal berupa tablet
atau krim pervag inal bagi yang sudah menikah.
6) Hormon Estrogen
Tablet atau krim yang mengandung hormon estrogen
diberikan pada perempuan menopause atau usia lanjut yang
mempunyai banyak keluhan.
B. Penyebab Keputihan
Dengan memperhatikan cairan yang keluar, terkadang dapat
diketahui penyebab keputihan. Penyebab keputihan tersebut antara lain
(Wijayanti, 2009) :
1) Infeksi Gonore meng hasilkan cairan kental, bernanah dan berwarna
kuning kehijauan.
2) Parasit Trichomonas Vaginalis menghasilkan banyak cairan, berupa
cairan encer berwarna kuning kelabu.
3) Keputihan yang disertai bau busuk dapat disebabkan o leh kanker.
16

4) Kelelahan yang berlebihan.


Menurut Maulana (2008), keputihan yang keluar dari mu lut
rahim dikenal dengan serviks sensitis atau radang mulut rahim.
Hal ini sering menyerang wanita usia reproduksi dan biasanya
akibat jamur ( kandidiasis), bakteri (vaginosis), parasit (trikomo
niasis) , atau bakteri lain seper ti ber bagai kokus (coccen). Bakteri
vaginosis merupakan infeksi vag inal yang sering disebabkan oleh
bakteri seperti Grandnerella vaginalis. Ini disebabkan oleh banyaknya
bacterial dengan vagina, melalui hubungan seksual, ataupun karena
kebersihan yang kurang. Sering kali bacterial vaginosis ini disebabkan
oleh teknik membersihkan alat kelamin yang salah, bahkan
menyemprotkan air kearah vagina memungkinkan terjadinya bacterial
vaginosis. Biasanya dicirikan dengan adanya noda putih hingga
kekuningan dengan bau kurang sedap, dan terasa gatal pada daerah
kemaluan.
Keputihan karena par asit sepeti Trichomonas vaginalis bisa
menyerang wanita maupun pria. Trichomonas biasanya berpindah
melalui hubungan seksual, juga dapat berpindah jika seseorang
bergantian mengunakan handuk atau underwear. Biasanya keputihan
akibat Trichomonas ini terlihat seperti busa dan memiliki bau tak
sedap dan mungkin ada sed ikit rasa gatal dan kemerahan di sekitar
vagina.
Keputihan yang disebabkan oleh jamur Candida, biasanya
bukan karena ditularkan oleh hubungan seksual, meskipun hal itu bisa
saja terjadi. Hal ini disebabkan karena ketidakseimbangan flora vagina.
Dalam keadaan normal vagina terdiri atas sedikit jamur dan bakteri
perusak, namun jika keduanya tidak seimbang, akan menyebabkan
jamur terlalu banyak tumbuh dan menyebabkan peradangan vagina
(vaginitis). Ketidakseimbangana ini bisa jadi karena yang bersangkutan
sedang hamil, memiliki penyakit diabetes, meminum pil KB, antibiotik,
atau sering melakukan pembersihan vagina dengan cairan pembersih
17

yang sekarang dijual bebas. Keputihan yang disebabkan jamur ini


terlihat agak tebal dan kental atau bisa juga terlihat lebih tipis dan
seperti susu putih yang basi. Keputihan ini bisa jadi kehijauan, dapat
menimbulkan rasa gatal, kemaluan bisa berwarna merah dan bengkak.

Penyebab terjadinya keputihan yang lainnya menurut adalah :


a) Penggunaan celana dalam yang tidak menyerap keringat
Jamur tumbuh subur pada keadaan yang hangat dan lembab.
Celana dalam yang terbuat dari nilon tidak menyerap ker ingat
sehingga menyebabkan kelembaban. Campuran keringat dan sekresi
alamiah vagina sendiri mulai bertimbun, sehingga membuat
selangkangan terasa panas dan lembab. Keadaan ini menjadi
tempat yang cocok untuk pertumbuhan jamur Candida dan bakteri
lain yang merugikan.
b) Penggunaan celana panjang yang ketat
Celana panjang yang ketat juga dapat menyebabkan keputihan
karena merupakan penghalang terhadap udara yang berada disekitar
daerah genetalia dan merupakan perangkap ker ingat pada daerah
selangkangan. Bila pemakaian jeans digabungkan dengan celana
nilon di bawahnya, efek nya sangat membahayakan.
c) Penggunaan Deodoran Vagina
Deodoran vagina sebenarnya tidak perlu, karena dapat mengiritasi
membran mukosa dan mungkin menimbulkan keputihan. Deodoran
tidak dapat bekerja semestinya karena deodoran tidak mempengaruhi
kuman-kuman di dalam vagina. Deodoran membuat vagina menjadi
kering dan gatal serta dapat menyebabkan reaksi alergi. Mandi dengan
busa sabun dan antisepik sebaiknya dihindari karena alasan yang sama.
Keduanya dapat mematikan bakteri alamiah dalam vagina dengan cara
yang mirip dengan antibiotika.
18

d) Asupan g izi
Diet memegang peranana penting untuk mengendalikan infeksi
jamur. Dengan makan makanan yang cukup gizi kita bisa membantu
tubuh kita memerangi infeksi dan mencegah keputihan vagina yang
berulang. Hindari makanan yang banyak mengandung karbohidrat
dengan kadar gula tinggi seperti, tepung, sereal dan roti. Makanan
dengan jumlah gula yang berlebihan dapat menimbulkan eek negatif
pada bakteri yang bermanfaat yang tinggal di dalam vagina. Selaput
lendir dinding vagina mengeluarkan glikogen, suatu senyawa gula.
Bakteri yang hidup di vagina disebut lactobacillus (bakteri baik)
meragikan gula ini menjadi asam laktat. Proses ini menghambat
pertumbuhan jamur dan menahan perkembangan ineksi vagina. Gula
yang dikonsumsi berlebihan dapat menyebabkan bakteri lactobacillus
tidak dapat meragikan semua gula ke dalam asam laktat dan tidak dapat
menahan pertumbuhan penyakit, maka jumlah gula menjadi meningkat
dan jamur atau bakteri perusak akan bertambah banyak. keputihan tetap
terkendali bila makanan yang dikonsumsi adalah karbohidrat dengan
kadar gula yang rendah misalnya kol, wortel, kangkung, bayam, kacang
pajang, tomat dan seledri. Makanan ini rendah dalam kalori dan banyak
mengandung vitamin dan mineral

Penyebab keputihan sangat bervariasi. Berikut ini adalah penyebab-


penyebab keputihan (Dalimartha, 2002).
1) Infeksi
Keputihan karena infeksi dapat disebabkan oleh beberapa jenis jasad
renik yaitu : bakteri, jamur, parasit dan virus.
1) Bakteri ( kuman)
a) Gonococcus
Ada beberapa macam bakteri go longan coccus. Salah
satunya Neisseria gonorrhea, suatu bakteri yang bila dilihat
dengan mikroskop diplopok (berbentuk biji kopi) intraseluler
19

dan ekstraseluler, bersifat tahan asam, dan bersifat gram


negatif. (Dalimartha, 2002)
b) Chlamydia trachomatis
Bakteri sudah lebih dahulu dikenal sebag ai penyebab
penyakit mata yang disebut trakoma, namun ternyata bisa
juga ditemukan dalam cairan vagina dan menyebabkan
penyakit uretritis non spesifik (non gonore). Keputihan
yang ditimbu lkan oleh bakteri ini tid ak begitu banyak dan
lebih encer bila dibandingkan dengan penyakit gonorea.
(Dalimartha, 2002)
c) Gardnerella vaginali
Bakteri ini sering ditemukan dalam vagina, maka kerap
dianggap sebagai bagian dari jasad renik normal. Peradangan
yang ditimbulkan oleh bakteri ini disebut vaginosis bacterial.
Keputihan yang timbul warnanya putih keruh keabu-abuan,
agak lengket dan berbau amis seperti ikan, disertai rasa gatal
dan panas pada vagina. Sering kali infeksi ini tanpa gejala
(Dalimartha, 2002)
2) Jamur candida
Candida merupak an penghu ni nor mal rongga mulut,
usus besar, dan vagina. Bila jamur cand ida di vagina terdapat
dalam jumlah banyak, dapat menyebabkan keputihan yang
dinamakan kandidosis vaginalis. Kira- kira 40% keputihan
disebabkan oleh jamur Candida, paling sering spesies
albicans. Jamur ini bisa menyerang semua umur , mulai dari
bayi, dewasa, sampai usia lanjut. Namun, perempuan di usia
subur lebih sering terkena infeksi jamur ini. Suasana asam
di vagina yang beru bah menjadi bisa memud ahkan
terjadinya infeksi dengan jamur candida (Dalimar tha,
2002).
20

3) Parasit
Banyak parasit yang bisa hidup di tubuh manusia.
Satu diantaranya protozoa dari kelas Mastigophora yang
bernama Trichomonas vaginalis. Parasit ini hidup dalam
vagina dan uretra baik pada laki-laki maupun perempuan.
Parasit ini menimbulkan penyakit yang dinamakan
Trikomoniasis. Kira-kira 15% keluhan keputihan disebabkan
oleh parasit ini. Penularannya sebagian besar melalui senggama.
Infeksi akut ak ibat parasit ini menyebabkan keputihan yang
ditandai oleh banyak nya keluar cairan yang encer, berwarna
kuning kehijauan, berbuih menyerupai air sabun, dan baunya
apek. Keputihan ak ibat par asit ini tidak begitu gatal, namun
vagina tampak merah, nyeri bila kencing. Kadang-kadang
terlihat bintik-bintik perdarahan seperti buah strawberi. Bila
keputihan sangat banyak, bisa timbul iritasi dilipat paha dan
sek itar bibir kemaluan. (Dalimartha, 2002)
3) Virus
Keputihan akibat infeksi virus sering disebabkan oleh
Virus Herpes Simplex (VHS) tipe-2 dan Human Papilloma
Virus (HPV). Infeksi HPV telah terbukti dapat meningkatkan
timbu lnya kanker ser viks, penis dan vulva. Sedangkan Virus
Herpes Simplex tipe-2 dapat menjadi faktor pendamp ing.
(Dalimartha, 2002)
C. Jamur
1. Definisi Jamur
Fardiaz (1989) mendefinisikan jamur sebagai suatu
mikroorganisme eukariotik yang mempunyai ciri-ciri spesifik yaitu
mempunyai inti sel, memproduksi spora, tidak mempunyai klorofil,
dapat berkembang biak secara aseksual dan beberapa jamur
mempunyai bagianbagian tubuh berbentuk filamen- filamen dan
sebagian lagi bersifat uniseluler. Beberapa jamur meskipun saprofitik,
21

dapat juga menyerbu inang yang hidup lalu tumbuh dengan subur
sebagai parasit dan menimbulkan penyakit pada tumbuhan, hewan,
termasuk manusia, tidak kurang dari 100 spesies yang patogen
terhadap manusia (Pelczar dan Chan, 1986).
2. Penanaman Jamur
Jamur dapat ditanam pada medium padat atau cair dalam tabung
atau petri. Pertumbuhan jamur pada umumnya lambat dibanding
pertumbuhan bakteri, sehingga jika dalam penanaman terdapat bakteri
dan jamur, maka bakteri akan menutupi permukaan media sebelum
jamur sempat tumbuh. Pada dasarnya jamur mempunyai keasaman
yang lebih besar dibanding dengan bakteri (Budimulya, 1983).

D. Candida Albicans
1. Klasifikasi
Menurut Frobisher and Fuert's (1983), C. albicans dapat
diklasifikasikan sebagai berikut :
Divisi : Thallophyta
Anak divisi : Fungi
Kelas : Ascomycetes
Bangsa : Moniliales
Suku : Crytoccocaceae
Anak suku : Candidoidea
Marga : Candida
Jenis : Candida albicans

2. Sifat Umum Candida Albicans


Candida albicans adalah suatu ragi lonjong, bertunas yang
menghasilkan pseudomisellium baik dalam biakan maupun dalam
jaringan dan eksudat. Ragi ini adalah anggota flora normal selaput
22

mukosa saluran pernafasan, saluran pencernaan dan genital wanita


(Jawetz et al., 1996).
C. albicans memperbanyak diri dengan membentuk tunas,
sehingga spora jamur disebut blastospora atau sel ragi (sel khamir).
Jamur membentuk hifa semu yang sebenarnya adalah rangkaian
blastospora yang juga dapat bercabang cabang. Berdasarkan bentuk-
bentuk jamur tersebut maka dikatakan bahwa Candida menyerupai ragi
(Suprihatin, 1982).
C. albicans dianggap spesies terpatogen dan menjadi penyebab
utama kandidiasis. Jamur ini tidak terdapat di alam bebas, tetapi dapat
tumbuh sebagai saproba pada berbagai alat tubuh manusia, terutama
yang mempunyai hubungan dengan dunia luar, misalnya rongga usus
(Suprihatin, 1982).
Pada media agar Sabouroud yang dieramkan pada suhu kamar,
jamur Candida membentuk koloni lunak berwarna krem dan
mempunyai bau seperti ragi. C. albicans dapat meragikan glukosa dan
maltosa, menghasilkan asam dan gas, serta menghasilkan asam dari
sukrosa dan tidak bereaksi dengan laktosa (Jawetz et al., 1996).

3. Infeksi yang disebabkan oleh Candida Albicans


C. albicans dapat menimbulkan serangkaian penyakit pada
beberapa tempat, antara lain :
1) Mulut : infeksi mulut (sariawan), terutama pada bayi, terjadi
pada selaput mukosa pipi dan tampak sebagai bercak-bercak putih.
Pertumbuhan Candida di dalam mulut lebih subur bila disertai
kadar glukosa tinggi, antibiotika, kortikosteroid dan
imunodefisiensi.
2) Genitalia wanita : vulvovaginitis menyerupai sariawan tetapi
menimbulkan iritasi, gatal yang hebat dan pengeluaran sekret.
3) Kulit : infeksi kulit terutama terjadi pada bagian-bagian tubuh
yang basah, hangat, seperti ketiak, lipatan paha, skrotum atau
23

lipatan di bawah payudara. Infeksi paling sering terjadi pada orang


yang gemuk dan diabetes. Daerah-daerah itu menjadi merah dan
mengeluarkan cairan dan dapat membentuk vesikel.
4) Kuku : rasa nyeri, bengkak kemerahan pada lipatan kuku yang
dapat mengakibatkan penebalan dan alur transversal pada kuku
sehingga pada akhirnya dapat kehilangan kuku.
5) Paru-paru dan organ lain : infeksi Candida dapat menyebabkan
invasi sekunder pada paru-paru, ginjal dan organ lain yang
sebelumnya telah menderita penyakit lain (misalnya tuberkulosis
atau kanker).
6) Kandidiasis monokutan menahun : kelainan ini merupakan tanda
kekurangan kekebalan seluler pada anak-anak (Jawetz et al., 1996).

E. Sirih Merah
1. Taksonomi Tanaman Daun Sirih Merah
Sirih merah secara ilmiah dikenal dengan nama Piper crocatum
yang termasuk dalam familia Piperaceae. Nama lokal dari sirih
merah yaitu sirih merah (Indonesia). Sedangkan nama daerah
tanaman sirih yaitu suruh, sedah (jawa), seureuh (Sunda), ranub
(Aceh), cambai (Lampung), base (Bali), nahi (Bima), mata (Flores),
gapura, donlite, gamjeng, perigi (Sulawesi) (Mardiana, 2004).
Adapun kedudukan tanaman sirih merah menurut Sudewo
(2010) dalam sistemik taksonomi tumbuhan di klasifikasikan sebagai
berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Magnoliopsida
Sub-kelas : Magnolilidae
Orde : Piperales
Family : Piperaceae
24

Genus : Piper
Spesies :Piper crocatum

Gambar 1. Daun Sirih Merah (Sudewo, 2016)

2. Ciri-ciri Tanaman Daun Sirih Merah


Ciri dari tanaman yang termasuk dalam famili Piperaceae yaitu
tumbuhan mejalar. Batangnya bulat berwarna hijau keunguan dan
tidak berbunga. Daunnya bertangkai membentuk jantung dengan
bagian atas meruncing bertepi rata dan permurkaan mengkilap dan
tidak berbulu. Panjang daunnya bisa mencapai 15-20 cm. Warna
daun bagian atas hijau bercorak putih keabu-abuan.
Bagian bawah daun berwarna merah hati cerah. Daunnya
berlendir, berasa pahit, dan beraroma wangi khas sirih. Batangnya
berjalur dan beruas dengan jarak buku 5-10 cm di setiap buku
bakal akar (Sudewo, 2005). Sirih merah merupakan tanaman yang
tumbuh merambat dan sosoknya mirip tanaman lada.
Tinggi tanaman biasanya mencapai 10 m, tergantung pertumbuhan
dan tempat merambatnya. Batang sirih berkayu lunak, beruas-ruas,
beralur dan berwarna hijau keabu-abuan. Daun tunggal berbentuk
25

seperti jantung hati, permukaan licin, bagian tepi rata dan


pertulangannya menyirip (Syariefa, 2006).

3. Habitat Tanaman Daun sirih Merah


Sirih merah tidak dapat tumbuh dengan subur pada daerah yang
panas, tetapi dapat tumbuh subur pada daerah yang dingin, teduh, dan
tidak terlalu banyak terkena sinar matahari dengan ketinggian 300-
1000 m. Tanaman sirih merah sangat baik pertumbuhannya
apabila mendapatkan sekitar 60-75% cahaya matahari (Sudewo,
2010).

4. Kandungan Kimia Daun Sirih Merah


Daun sirih mempunyai aroma yang khas karena mengandung
minyak atsiri 1-4,2%, air, protein, lemak, karbohidrat, kalsium,
fosfor, vitamin A, B, C, yodium, gula dan pati. Dari berbagai
kandungan tersebut, dalam minyak atsiri terdapat fenol alam yang
mempunyai daya antiseptik 5 kali lebih kuat dibandingkan fenol
biasa (Bakterisid dan Fungisid) tetapi tidak sporasid. Minyak atsiri
merupakan minyak yang mudah menguap dan mengandung aroma
atau wangi yang khas. Minyak atsiri dari daun sirih mengandung
30% fenol dan beberapa derivatnya. Minyak atsiri terdiri dari
hidroksikavikol, kavibetol, estragol, eugenol, metileugenol,
karbakrol, terpen, seskuiterpen, fenilpropan,dan tannin. Kavikol
merupakan komponen paling banyak dalam minyak atsiri yang
memberi bau khas pada sirih. Kavikol bersifat mudah teroksidasi
dan dapat menyebabkan perubahan warna. Minyak atsiri berperan
sebagai anti bakteri dengan cara mengganggu proses terbentuknya
membran atau dinding sel sehingga tidak terbentuk atau terbentuk
tidak sempurna (Ajizah, 2004). Dalam kadar yang rendah maka akan
terbentuk kompleks protein fenol dengan ikatan yang lemah dan
segera mengalami peruraian, diikuti penetrasi fenol ke dalam sel
26

dan menyebabkan presipitasi serta denaturasi protein. Pada kadar


tinggi fenol menyebabkan koagulasi protein dan sel membran
mengalami lisis (Parwata, 2008).
Sedangkan mekanisme fenol sebagai agen anti bakteri berperan
sebagai toksin dalam protoplasma, merusak dan menembus dinding
serta mengendapkan protein sel bakteri. Senyawa fenol bermolekul
besar mampu menginaktifkan enzim essensial di dalam sel bakteri
meskipun dalam konsentrasi yang sangat rendah. Fenol dapat
menyebabkan kerusakan pada sel bakteri, denaturasi protein,
menginaktifkan enzim dan menyebabkan kebocoran sel ( Hyne, 1987).
Selain itu sirih merah mengandung beberapa senyawa kimia seperti
flavonoid, alkaloid, dan tannin yang bersifat bakterisid. Flavonoid
merupakan senyawa fenol yang dapat menyebabkan denatur asi
protein yang merupakan substansi penting dalam struktur bakteri.
Apabila komponen sel seperti protein terdenaturasi maka proses
metabolisme bakteri akan terganggu dan terjadi lisis yang akan
menyebabkan kematian bakteri tersebut (Jawetz et al ., 2005).
Alkaloid memiliki kemampuan sebagai antibakteri. Mekanisme
yang diduga adalah dengan cara mengganggu komponen penyusun
peptidoglikan pada sel bakteri, sehingga lapisan dinding sel tidak
terbentuk secara utuh dan menyebabkan kematian sel tersebut
(Robinson, 1991). Tanin memiliki aktivitas antibakteri, karena efek
toksisitas tanin dapat merusak membran sel bakteri, senyawa
astringen tanin dapat menginduksi pembentukan kompleks
senyawa ikatan terhadap enzim atau subtrat mikroba dan
pembentukan suatu kompleks ikatan tanin terhadap ion logam yang
dapat menambah daya toksisitas tanin itu sendiri (Akiyama, 2001).

5. Manfaat Ekstrak Daun Sirih Merah


Kegunaan sirih merah di lingkungan masyarakat dalam
menyembuhkan beberapa penyakit seperti, diabetes mellitus,
27

jantung koroner, tuberkulosis, asam urat, kanker payudara, kanker


darah (leukemia), ambeien, penyakit ginjal, impotensi, eksim atau
eksema atau dermatitis, gatal-gatal, luka bernanah yang sulit sembuh,
karies gigi, batuk, radang pada mata, radang pada gusi dan
telinga, radang prostat, hepatitis, hipertensi, keputihan kronis, Demam
Berdarah Dengue (DBD), penambah nafsu makan, penyakit kelamin
(gonorrhea,sifilis, herpes, hingga HIV/AIDS), sebagai obat kumur
dan manfaat bagi kecantikan (Amalia, 2002).

F. Ekstrak
Ekstrak adalah sediaan kental yang diperoleh dengan mengekstraksi
zat akti dari simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut
yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut dan masa atau
serbuk yang tersisa diperlakukan sehingga memenuhi baku yang telah
ditetapkan (Soesilo, 1995)

1. Pengertian Ekstraksi
Ekstraksi adalah pemisahan bahan aktif dari jaringan tumbuha
ataupun hewan menggunakan pelarut yang sesuai melalui prosedur
yang telah ditetapkan (Tiwari et al., 2011). Selama proses ektraksi,
pelarut akan berdifusi sampai ke material padat dari tumbuhan dan
akan melarutkan senyawa dengan polaritas yang sesuai dengan
pelarutnya. Efektivitas ekstraksi senyawa kimia dari tumbuhan
bergantung pada (Tiwari et al., 2011) :
a. Bahan-bahan tumbuhan yang diperoleh
b. Keaslian dari tumbuhan yang digunakan
c. Proses ekstraksi
d. Ukuran partikel
Macam-macam perbedaan metode ekstraksi yang akan
mempengaruhi kuantitas dan kandungan metabolit sekunder dari
ekstrak, antara lain (Tiwari et al., 2011) :
28

a. Tipe ekstraksi
b. Waktu ekstraksi
c. Suhu ekstraksi
d. Polaritas ekstraksi
Beberapa metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut dibagi
menjadi dua cara, yaitu cara panas dan dingin (Ditjen POM, 2000).

2. Ekstraksi dengan menggunakan pelarut


a. Cara Dingin
1) Maserasi
Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan
menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau
pengadukan pada temperatur kamar (Ditjen POM, 2000).
Keuntungan ekstraksi dengan cara maserasi adalah
pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana,
sedangkan kerugiannya yaitu cara pengerjaannya yang lama,
membutuhkan pelarut yang banyak dan penyarian kurang
sempurna. Dalam maserasi (untuk ekstrak cairan), serbuk halus
atau kasar dari tumbuhan obat yang kontak dengan pelarut
disimpan dalam wadah tertutup untuk periode tertentu dengan
pengadukan yang sering, sampai zat tertentu dapat terlarut.
Metode ini paling cocok digunakan untuk senyawa yang
termolabil (Tiwari et al., 2011).
2) Perkolasi
Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru
sampai penyarian sempurna (exhaustive extraction) yang
umumnya dilakukan pada temperatur ruang. Proses terdiri dari
tahapan pengembangan bahan, tahap maserasi antara, tahap
perkolasi sebenarnya (penetesan/penampungan ekstraksi), terus
29

sampai diperoleh ekstrak (perkolat) yang jumlahnya 1-5 kali


dari bahan (Ditjen POM, 2000).
Proses perkolasi terdiri dari tahap pengembangan bahan,
tahap perendaman, tahap perkolasi antara, tahap perkolasi
sebenarnya (penetesan/penampungan ekstraksi), terus sampai
diperoleh ekstrak (perkolat). Untuk menentukan akhir dari pada
perkolasi dapat dilakukan pemeriksaan zat secara kualitatif
pada perkolat akhir. Ini adalah prosedur yang paling sering
digunakan untuk mengekstrak bahan aktif dalam penyusunan
tincture dan ekstrak cairan (Ditjen POM, 2000).

b. Cara Panas
1) Sokletasi
Sokletasi adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selain
baru, dengan menggunakan alat soklet sehingga terjadi
ekstraksi kontinyu dengan jumlah pelarut relatif konstan
dengan adanya pendingin balik (Ditjen POM, 2000).
2) Refluks
Refluks adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut pada
temperatur titik didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah
pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin
balik (Ditjen POM, 2000).
3) Infusa
Infusa adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur
90C selama 15 menit. Infusa adalah ekstraksi menggunakan
pelarut air pada temperatur penangas air dimana bejana infus
tercelup dalam penangas air mendidih, temperatur yang
digunakan (96-98C) selama waktu tertentu (15-20 menit)
(Ditjen POM, 2000). Cara ini menghasilkan larutan encer dari
30

komponen yang mudah larut dari simplisia (Tiwari et al.,


2011).
4) Dekok
Dekok adalah infus pada waktu yang lebih lama (30C)
dan temperatur sampai titik didih akhir air (Ditjen POM, 2000).
Dekok adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur
90C selama 30 menit. Metode ini digunakan untuk ekstraksi
konstitun yang larut dalam air dan konstituen yang stabil
terhadap panas dengan cara direbus dalam air selama 15 menit
(Tiwari et al., 2011).
5) Digesti
Digesti adalah maserasi kinetik pada temperatur lebih
tinggi dari temperatur suhu kamar, yaitu secara umum
dilakukan pada temperatur 40-45C (Ditjen POM, 2000).
Digesti adalah maserasi dengan pengadukan kontinyu pada
temperatur lebih tinggi dari temperatur ruang (umumnya 25-30
C). Ini adalah jenis ekstraksimaserasi dimana suhu sedang
digunakan selama proses ekstraksi (Tiwari et al., 2011.

G. Penentuan Aktivitas Antijamur


Potensi dari suatu antimikroba diperkirakan dengan membandingkan
zona hambat pertumbuhan terhadap mikroorganisme yang sensiti dari hasil
penghambatan suatu konsentrasi larutan uji dibandingkan dengan
antibiotik (Anonim, 2001).
Penentuan aktivitas antimikroba dapat dilakukan dengan dua metode,
yaitu metode difusi dan metode dilusi. Pada metode difusi termasuk di
dalamnya metode disk diffusion (tes Kirby & Baur), E-test, ditch-plate
techique, cup-plate technique. Sedangkan pada metode dilusi termasuk di
dalamnya metode dilusi cair dan dilusi padat (Pratiwi, 2008).
31

1. Metode Difusi menurut Pratiwi (2008) diantaranya


a. Metode disk diffusion (tes Kirby & Baur) menggunakan piringan
yang berisi agen atimikroba, kemudian diletakkan pada agar yang
sebelumnya telah ditanami mikroorganisme sehingga agen
antimikroba dapat berdifusi pada media agar tersebut. Area jernih
mengindikasikan adanya hambatan pertumbuhan mikroorgnisme
oleh agen antimikroba pada permukaan media agar.
b. Metode E-test digunakan untuk mengestimasi Kadar Hambat
Minimum (KHM), yaitu konsentrasi minimal satu agen antimikroa
untuk dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Pada
metode ini digunakan strip plastik yang mengandung agen
antimikroba dari kadar terendah sampai tertinggi dan diletakkan
pada permukaan media agar yang telah ditanami mikroorganisme
sebelumnya. Pengamatan dilakukan pada area jernih yang
ditimbulkan yang menunjukkan kadar agen antimikroba yang
menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada media agar.
c. Metode ditch-plate techiqu. Pada metode ini sampel uji berupa
agen antimikroba yang diletakkan pada parit yang dibuat dengan
cara memotong media agar dalam cawan petri pada bagian tengah
secara membujur dan mikroba uji (maksimum 6 macam)
digoreskan kearah parit yang berisi agen antimikroba tersebut.
d. Metode cup-plate technique. Metode ini serupa dengan titik ,
dimana dibuat sumur pada media agar yang telah ditanami dengan
mikroorganisme dan pada sumur tersebut diberi agen antimikroba
yang akan diuji.

2. Metode Difusi menurut Pratiwi (2008) diantaranya


a. Metode dilusi cair / broth dilution test (serial dilution). Metode ini
digunakan untuk mengukur Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)
dan Kadar Bunuh Minimum (KBM). Cara yang dilakukan adalah
dengan membuat seri pengenceran agen antimikroba pada medium
32

cair yang ditambahkan dengan mikroba uji. Larutan uji agen


antimikroba pada kadar terkecil yang terlihat jernih tanpa adanya
pertumbuhan mikroba uji ditetapkan sebagai KHM. Larutan yang
ditetapkan sebagai KHM tersebut selanjutnya dikultur ulang pada
media cair tanpa penanaman mikroba uji ataupun agen
b. antimikroba, dan diinkubasi umumnya selama 18-24 jam. Media
cair yang tetap terlihat jernih setelah dinkubasi ditetapkan sebagai
KBM.
c. Metode dilusi padat (solid dliution test). Metode ini serupa dengan
metode dilusi cair namun menggunakan media padat (solid).
Keuntungan metode ini adalah satu konsentrasi agen antimikroba
yang diuji dapat digunakan untuk menguji beberapa mikroba uji.
33

F. Kerangka Konsep

Keputihan
Leukore adalah kondisi vagina Jamur Candida Albicans
saat mengeluarkan cairan atau
lendir menyerupai nanah.

Daun Sirih Merah (Piper Crocatum)

Ektraksi etanol 96% Daun Sirih


Merah (Piper Crocatum)

Uji aktivitas antijamur 1. Uji Difusi


2. Uji Dilusi

Zona bening =
Kadar Hambat
Minimum (KHM).