Anda di halaman 1dari 12

Teori Havelock

Teori ini merupakan modifikasi dari teori Lewin dengan menekankan perencanaan yang akan
mempengaruhi perubahan. Enam tahap sebagai perubahan menurut Havelock :

1) Membangun suatu hubungan


2) Mendiagnosis masalah
3) Mendapatkan sumber-sumber yang berhubungan
4) Memilih jalan keluar
5) Meningkatkan penerimaan
6) Stabilisasi dan perbaikan diri sendiri

Makalah Havelock

MAKALAH teori Havelock

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan
inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ilmiah tentang Teori
Perubahan Tentang Havelock dengan baik.

Adapun makalah Teori Perubahan Tentang Havelock ini telah kami usahakan semaksimal
mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat memperlancar pembuatan
makalah ini. Untuk itu kami tidak lupa menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini.

Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadar sepenuhnya bahwa ada kekurangan baik
dari segi penyusun bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena itu dengan lapang dada dan
tangan terbuka kami membuka selebar-lebarnya bagi pembaca yang ingin memberi saran dan
kritik kepada kami sehingga kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari makalah ilmiah tentang sirkulasi dan
pembuluh darah ini dapat diambil hikmah dan manfaatnya sehingga dapat memberikan inspirasi
terhadap pembaca.

Jombang, Oktober 2012

Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................. ........


KATA PENGANTAR ....................................................................................
DAFTAR ISI ...................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
.............................................................................................................................

A. Latar Belakang
.............................................................................................................................

B. Rumusan masalah
.............................................................................................................................

C. Tujuan .............................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
A. Konsep Pemikiran Havelock......................................................
B. Diseminasi dan Pemanfaatan dalam Konteks Organisasi..........
C. Organisasi ....................................................................................
D. Tipe Aliran ...................................................................................
E. Pola Proses Internal Informasi dalam Organisasi.........................
F. Faktor-Faktor Yang Menjadi Penghambat dan Pendukung Pada Input Throughput dan Output
....................................................................................
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.........................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagaimana dimaklumi bahwa proses penemuan untuk memajukan kualitas kehidupan
adalah suatu upaya yang dilakukan terus menerus. Berbagai uupaya yang dilakukan antara lain,
pengembangan dan penemuan-penemuan baru (pengetahuan dan keterampilan) untuk mencapai
suatu cara dan manfaat yang lebih baik bila dibandingkan dengan kondisi sebelumnya. Dalam
konteks ini proses inovasi adalah suatu hal yang mutlak dilakukan dengan daya dukung research,
baik penelitian dasar maupun penelitian terapan, sehingga didapatkan sebuah pengetahuan, yang
kemudian dapat disebarkan sebagai informasi berdasar dan dikerangkai oleh fondasi penelitian.
Sehingga nilai kegunaannya dan kepentingan dari inovasi tersebut benar-benar dapat
dipertanggung- jawabkan.Inovasi adalah sebuah entitas dengan segala karakteristiknya, apakah
itu nilai-nilai, pengetahuan, tatanan social, sumberdaya, intraksi social dan lainnya. Untuk
menyebarluaskan inovasi, maka diperlukan sebuah prroses sistematik dan terencana. Strategi
yang digunakan tentu saja akan sangat mempertimbangkan dan bahkan menjadikan sistim social,
pengetahuan, tata nilai dan sebagainya sebagai sebuah variable untuk menentukan strtaegi yang
tepat bagi proses penyebaran inovasi tersebut sehingga harapan untuk atau agar inovasi tersebut
diserap oleh masyarakat akan menjadi lebih besar.

Desiminasi informasi (inovasi) dan pemanfaatannya demikian penting untuk dikaji dalam
konteks keberhasilan penyebaran itu sendiri. Dalam konteks ini Havelock (1969) mengatakan,
diseminasi dan pemanfaataan dipandang sebagai sebuah transfer berbagai pesan melalui
bermacam media antara system sumber dan system pengguna.Penekanan pada desiminasi dan
pemanfaatan (Dissemination and Utilization/D&U), terutama sekali disebut sebagai sebuah
proses, serta dengan menyertakan dan terlaksana dalam system yang sangat besar. Proses
dimaksud dapat berupa proses komunikasi, proses pembelajaran, proses pembuatan keputusan,
proses penyelesaian masalah, proses manajemen konflik serta proses lainnya. System menunjuk
pada system sumber, system pengguna, subsistem-subsistem yang ada intrelasi antar system dan
dengan segala kekomplekannya.Pertimbangan semua ini akan sampai pada sebuah pemikiran
bahwa proses diseminasi sampai pemanfaatan dari pengetahuan berbasis research (inovasi)
adalah suatu yang perlu direncanakan. Merujuk pada perencanaan, maka kita mendapat sebuah
gambaran adanya strategi, program, evaluasi, dan lain-lain (manajemen) yang semua disusun
dengan cermat, sehingga tujuan dimaksud tercapai.

B. Rumusan Masalah
Inovasi adalah sebuah entitas dengan segala karakteristiknya, apakah itu nilai-nilai,
pengetahuan, tatanan social, sumberdaya, intraksi social dan lainnya.
Desiminasi informasi (inovasi) dan pemanfaatannya demikian penting untuk dikaji dalam
konteks keberhasilan penyebaran itu sendiri. Dalam konteks ini Havelock (1969) mengatakan,
diseminasi dan pemanfaataan dipandang sebagai sebuah transfer berbagai pesan melalui
bermacam media antara system sumber dan system pengguna.Penekanan pada desiminasi dan
pemanfaatan (Dissemination and Utilization/D&U), terutama sekali disebut sebagai sebuah
proses, serta dengan menyertakan dan terlaksana dalam system yang sangat besar. Proses
dimaksud dapat berupa proses komunikasi, proses pembelajaran, proses pembuatan keputusan,
proses penyelesaian masalah, proses manajemen konflik serta proses lainnya.

C. Tujuan
1. Konsep pemikiran Havelock, secara gelobal pada bukunya Dissemination and Utilization:
Planning for innovation
2. Diseminasi dan pemanfaatan dalam kontek Organisasi
3. Proses aliran pengetahuan dalam organisasi yaitu meliputi input, throughput, dan output.
4. Faktor-faktor yang menjadi fasilitator (mendukung) serta yang menghambat pada proses aliran
pengetahuan.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Pemikiran Havelock


Konsep pemikiran Havelock, secara gelobal pada bukunya Dissemination and Utilization:
Planning for innovation
Diseminasi dan pemanfaatan dipandang sebagai transfer pesan melalui bermacam-macam
media antara system sumber dengan system pengguna. Proses yang berjalan dijelaskan melalui
empat level pendekatan yaitu: individu, interpersonal, organisasi dan system social. Selain itu
disini dijelaskan juga peranan lingking (keterhubungan) system antara sumber dan pengguna,
jenis pesan, jenis media, serta fase-fase model dari proses. Dalam konteks ini (lingking system)
pemikiran yang dituangkan hampir sama dengan apa yang dikemukakan oleh Lionberger dan
Gwin (1982), bahwasanya adalah sangat penting untuk memperhatikan linkging system dalam
upaya yang sistematis, untuk mengartikulasikan hubungan antara sumber dan pengguna dalam
kerangka akselerasi pembangunan.
Secara prinsipil bahwa model diseminasi dan pemanfaatan dapat dikelompokan atas tiga
perspektif yaitu:
1. penelitian, pengembangan, dan difusi
2. interaksi social
3. penyelesaian masalah

Havelock menyadari bahwa proses diseminasi dan pemanfaatan pengetahuan ini bukan sesuatu
yang diterapkan secara mudah. Karena demikian banyaknya dan kompleksnya system yang
terlibat dengan proses tertentu. Namun demikian secara umum proses diseminasi dan
pemanfaatan ini dapat diterangkan dengan beberapa factor kunci berikut ini:
1. Linkage : bagaimana jumlah dan keragaman sistem sumber dan
sistem pengguna berhubungan, saling berinteraksi
mengadakan kolaborasi hubungan.
2. Struktur : tingkatan sistematik dan koordinasi, meliputi :
a. sistem sumber,
b. sistem pengguna, dan
c. sistem diseminasi dan pemanfaatan.
3. Keterbukaan : kepercayaan bahwa perubahan, sesuatu yang
diinginkan dan dimungkinkan. Kemauan dan kesediaan
untuk menerima bantuan. Iklim sosial cukup kondusif
untuk dapat berubah.
4. Kapasitas : kapasitas untuk menata berbagai sumber. Dalam hal
ini berhubungan erat dengan kesejahteraan, kekuatan,
ukuran, sentralitas, intelejensi, pendidikan,
pengalaman, kosmopolitan dan sejumlah keberadaan
dari keterhubungan.
5. Imbalan : frekuensi, keseragaman dan kebersamaan dalam
konteks perencanaan dan penyusunan pengetahuan
yang positif.
6. Proksismilitas : kedekatan waktu, jarak dan konteks, ketersesuaian,
(Jarak) keserupaan, kebaruan.
7. Sinergi : jumlah, variasi, frekuensi, dan presistensi yang dapat
dimobilisasikan untuk memproduksi sebuah efek
pemanfaatan pengetahuan.

B. Diseminasi dan pemanfaatan dalam konteks Organisasi


a. Komunikasi
Salah satu faktor peneting dalam diseminasi dan pemanfaatan adalah komunikasi. Bahkan
secara sederhana sebenarnya diseminasi dan pemanfaatan adalah transfer berbagai pesan melalui
berbagai media antara sistem sumber dan sistem pengguna (Havelock, 1969). Komunikasi pada
dasarnya adalah penyampaian (transfer) informasi dan pergantian perasaan serta nilai pada
seseorang. Ada sebuah kaidah yang disebut 5 kaidah dalam komunikasi organisasi yang
memungkinkan adanya penerimaan yang efektif dari para penerima.
b. Sistem
Diseminasi dan pemanfaatan dalam hal ini dipandang sebagai sebuah sistem. Di dalamnya
terdapat subsistem-subsistem yang saling berinteraksi. Dalam konteks sistem inipun mengacu
pada proses yang terdapat pada masing-masing sistem (Havelock,1969). Dari sekian banyak
pengertian sistem, sebenarnya dapat dibagi dua pengertian pokok, yaitu :
1. Sistem sebagai entitas
Sebagai entitas (wujud benda) menunjuk pada unsur-unsur sistem, tujuan sistem, kegiatan yang
dilakukan sistem untuk mencapai tujuan apa yang diproses serta apa hasilnya beserta ukuran
keberhasilan pemrosesan tersebut.
2. Sistem sebagai metoda
Menyangkut suatu keseluruhan cara kerja dan mekanisme tertentu.
Havelock (1969) menyatakan Entitas dari subsistem-subsistem tersebut
yang berada dalam keseluruhan sistem aliran pengetahuan dapat
diidentifikasikan sebagai penelitian dasar pengembangan dan penelitian
aplikasi praktek dan para pengguna yang berkomunikasi secara dua arah
serta juga terdapatnya saling kebergantungan antara subsistem.

c. Diseminasi dan Pemanfaatan


Havelock (1969) menyebutkan bahwa tiga model yang dikenal secara luas dalam hal
diseminasi dan pemanfaatan ini yaitu :
1. Model Penyelesaian Masalah (Problem Solver Model)
Model ini menerapkan pendekatan dengan asumsi adanya agen perubah yang berinteraksi
dengan orang yang menjadi target sasaran (client). Dalam interaksi inilah peran agen perubah
menjembatani untuk dapat menyelesaikan masalah-masalah yang timbul pada proses tersebut.
2. Model Difusi Pengembangan dan Penelitian (The R, D & D model)
Model ini ditekankan pada adanya penelitian yang kemudian hasilnya dapat disebarkan pada
masyarakat, wlaupun sebenarnya dapat saja secara implisit penelitian dimaksud kurang di respon
oleh masyarakat. Model ini berangkat juga dari asumsi bila hasil penelitian ada maka
pengunaannya pasti ada.
3. Model Interaksi Sosial (The Sosial Interaction Model)
Adalah pendekatan diseminasi dan penyebaran yang menekankan pada aspek difusi, ukuran
gerakan pesan dari person serta dari sistem ke sistem. Teori interaksi sosial dalam hal ini
biasanya tidak memandang masyarakat sebagai suatu kesatuan menyeluruh.
Dari ketiga model di atas kemudian (havelock, 1969) menyintesakan bentuk
keempat yaitu :
4. Sintesis dari Tiga Model (The Synthezing, 1969)
Adalah sebuah pendekatan dari diseminasi yang menyintesakan ketiga model di atas. Tidak ada
satu aspek yang ditekankan, tetapi dikerangkai oleh ketiga model yang sudah ada. Konsep
pemanfaatan semata-mata difokuskan pada adanya dari para pemanfaat akan tetapi tidak
menafikan adanya pengetahuan dari luar. Masayarakat sebagai satu kesatuan yang unik tentu saja
diperlukan pendekatan yang berbeda, tetapi tetap dalam kerangka bahwa masyarakat sebagai satu
kesatuan yang utuh dan menyeluruh (The Wholism). Demikian pula penelitian dasar diperlukan
sebagai keseluruhan keseluruhan totalitas diseminasi dan pemanfaatan yang mampu menjadi
penggerak kemanfaatan dari pengetahuan.

C. Organisasi
Pada pembahasan ini, organisasi yang dimaksudkan (diseminasi dan pemanfaatan dalam
konteks organisasi) disini, adalah organisasi dari berbagai bidang.
Dia bisa berupa organisasi produk, jasa atau pelayanan ataupun organisasi yang lainnya
(Havelock, 1969).
Rogers (1962) menyatakan bahwa organisasi adalah sebuah sistem yang stabil dari individu yang
bekerja sama-sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan melaui sebab hirarki
kepangkatan dan pembagian kerja. Lebih lanjut Tubss dan Moss (1996) menyebutkan bahwa
organisasi dapat memberi hasil yang lebih banyak bila individu dimungkinkan melakukan
spesialisasi melalui suatu pembagian kerja. Sedangkan Bernard dalam Robert dan Kinicki (1992)
menyatakan bahwa, an organization is system of consciously coordinated activities of force of
two or more person. Elemen-elemen organisasi secara umum adalah sebagai berikut :
1. Upaya koordinasi
2. Tujuan umum
3. Pembagian kerja
4. Hirarki wewenang
Ditambahkan oleh Scott (1981) bahwa elemen-elemen dari organisasi adalah sangat
komplek. Davis dalam Scott (1981) menyatakan elemen-elemen tersebut antara lain
struktur sosial, tujuan, partisipan dan teknologi.
D. Tipe Aliran
Havelock (1969) menyatakan bahwa organisasi adalah sistem terbuka, dengan kata lain
mereka dapat menerima informasi dari luar yang diproses ketika masuk kerangka dalam
organisasi tersebut. Mungkin kita akan lebih memahami kompleksitas pertukaran tersebut
dengan membatasi pada tiga tahap yang membedakan pengelolaan informasi dalam organisasi,
yaitu :
Input
Yaitu aliran pesan dari lingkungan luar ke dalam organisasi. Beberapa faktor yang memberikan
kontribusi bagi kesiapan dan kemauan untuk menerima pengetahuan dari pihak luar adalah
kepemimpinan, pola dan susunan tertentu, struktur sosial, kebanggaan lokal, status, kondisi
ekonomi, link dan kapasitas organisasi.
Thoughput
Yaitu proses penyebaran atau pemakaian informasi dalam organisasi. Alur dari pengetahuan baru
memasuki organisasi dari satu departemen kerangka departemen lain, dari satu kelompok
kerangka kelompok lain, dari satu individu kerangka individu lain tergantung pada jenis variabel
organisasi, seperti gaya kepemimpinan, pembagian pekerjaan, definisi tugas dan pekerjaan,
definisi peran dan tingkah laku, sistem ganjaran dan pelatiham diantara anggota.
Output
Yaitu proses pengeriman pesan kembali pada lingkungan luar. Tahap ketiga dari proses aliran
informasi adalah definisi pesan kembali kelingkungan luar. Seluruh organisasi mempunyai jenis
output yang bebeda misalnya produk atau jasa untuk kelompok atau orang lain sehingga masing-
masing organisasi memiliki bentuk dan cara difusi pesan yang berbeda.
E. Pola Proses Internal Informasi dalam Organisasi
Havelock (1969) menyatakan dalam beberapa hal proses internal dari pesan
menggambarkan kehidupan organisasi sebagai sebuah sistem. Misalnya beberapa anggota
mengirim pesan kepada anggota lainnya karena berada ditempat yang sama, bekerja untuk tujuan
yang sama, dan mempunyai identitas kelompok yang sama. Pada prakteknya sesuai yang telah
disepakati sebagai internal inform harus membedakan pola proses tersebut yang meliputi :
a. Vertikal vs Horisontal
Aliran pengetahuan dipengaruhi oleh kategori yang menggolongkan level
pengirim dan penerima organisasi. Dengan melihat posisi, gelar, status, dan tanggung jawab kita
dapat menentukan dua individu dalam level yang sama atau berbeda di dalam organisasi.
Kategori tersebut adalah vertikal dan horisontal. Aliran horisontal terjadi antara anggota yang
berada dalam level yang sama, keduanya dalam sub unit yang sama atau berbeda. Aliran vertikal
menggambarkan pemilihan informasi dari atas kebawah yang digambarkan dalam struktur
organisasi.

b. Aliran Pesan Vertikal (keatas vs kebawah)


Sejak dulu penyebaran informasi ditampilkan sebagai aliran ke bawah dalam struktur
organisasi dengan alasan kapasitas dan ketepatan aliran pengetahuan (misalnya program
pelatihan). Akhir-akhir ini banyak teori menyatakan pentingnya aliran ke atas. Mereka melihat
bahwa bawahan sering mempunyai keahlian dan pengetahuan yang penting bagi pengembangan
organisasi.

c. Aliran Pengetahuan Horisontal (dalam kelompok dan antar kelompok


Kesadaran akan pentingnya aliran vertikal juga diikuti oleh kesadaran akan pentingnya
aliran horisontal. Seseorang peneliti menelusuri aliran hal-hal tertentu pada informasi dalam
organisasi, ditemukan bahwa lebih dari separuh hal-hal atau pesan tersebut mencapai tujuan
mereka melalui cabang-cabang aliran informasi. Beberapa peneliti menemukan bahwa aliran
pengetahuan antar anggota pada level yang sama selalu berguna bagi organisasi dalam mencapai
tujuannya. Mereka menyimpulkan bahwa sistem vertikal tidak dapat dijalankan tanpa
memperhatikan cabang-cabang aliran informasi dan berdasarkan studi empiris cabang-cabang
aliran lebih berperan di banding struktur yang ditetapkan. Sub kategori dari cabang aliran
tersebut adalah antar kelompok dan dalam kelompok. Menurut model birokrasi tradisional dalam
organisasi, aliran informasi antar kelompok kadang terlihat kurang dibutuhkan.

Proses Aliran Pengetahuan dalam Organisasi


Menurut Havelock (1969) aliran pengetahuan dalam organisasi dibagi menjadi tiga kategori
yaitu Input (aliran masuk), Throughput ( proses transfer informasi internal) dan Output (aliran
keluar). Sama juga dengan Scott (1965) bahwasanya bagaimanapun suatu aliran pengetahuan
melalui mekanisme Input, Throughput dan Output. Beberapa hal yang penting dalam mekanisme
koordinasi organisasi dalam kaitannya dengan aliran informasi adalah:
Jadwal (schedule), dalam ini digunakan untuk mengkompatibelkan semua aktivitas organisasi
sehingga menjadi sebuah sinergi.
Departementalisasi, sebagai upaya untuk menjembatani kesulitan tugas yang sangat besar dan
peran yang dimainkan beserta wewenangnya.
Hirarki keorganisasian digunakan sebagai respon atas meningkatnya informasi yang diterima
organisasi
Delegasi, dimaksudkan sebagai kejelasan wewenang sehingga tugas yang rumit dan banyak
dapata didistribusikan.
Karakteristik struktural dan keinovativan organisasi dalam hal ini terdapat tiga hal yang
memprngaruhi terhadap keinovatifan organisasi yaitu :
1. Karakteristik individu (pimpinan) meliputi sikap untukberubah
2. Karakteristik struktur organisasi internal meliputi :
Sentralisasi, dimana kekuasaan dan kontrol berada dalam sebuah sistem yang terkonsentrasi
hanya pada sedikit individu. Dalam hal ini sentralisasi berhubungan secara negatif dengan
keinovasian.
Komplekstisitas, yaitu tergambar dalam anggotanya dengan kemampuan sangat tinggi dari
penguasaan pengetahuan yang didapatkan dari training.Faktor ini mempunyai pengaruh positif
dengan keinovasian.
Fromalisasi, yaitu tingkat dimana organisasi menekankan akan kepatuhan pada aturan dan
prosedur yang telah ditetapkan. Hal ini berkorelasi negatir dengan keinovasian.
Saling keterhubungan, yaitu rekatnya interaksi antar sistem sosial yang di bangun oleh jaringan
interpersonal. Variabel ini menyebabkan kemudahan bagi aliran pengetahuan.
Kelenturan organisasi, dalam hal ini kelenturan diartikan sebagai kemampuan untuk
mengantisipasi keadaan, sehingga korelasinya sangat positif dengan keinovasian.
3. Karakteristik kondisi eksternal organisasi, misalnya keterbukaan sistem.
Proses inovasi dalam organisasi terdiri dari lima tahap, dimana kalau satu tahap belum
terlampaui tahap berikutnya tidak akan terlewati, tahap tersebut diantaranya :
1. Agenda Setting
Dalam hal ini masalah-masalah organisasi yang mungkin mengkreasi sebuah penerimaan
kebutuhan untuk inovasi dari sekian banyak nilai-nilai potensil organisasi.
2. Matching
Masalah-masalah yang muncul dari yang telah diagendakan oleh organisasi dipertimbangkan
bersama dengan konteks inovasi, sehingga kelayakannya direncanakan dan di desain.

3. Redefining/Restrukturisasi
Pemodifikasian kembali yang diupayakan agar secara spesifik inovasi sesuai dengan kondisi
daro organisasi. Sebaliknya pula dilakukan penyesuaian yang dapat berupa perubahan dari
organisasi atau yang lain untuk mengakomodasi inovasi.
4. Klarifikasi
Pada tahap ini secara jelas telah didefinisikan hubungan antara inovasi dengan organissi dalam
kerangka penggunaan organisasi.
5. Perutinan
Tahap terakhir menjadi suatu tahap dimana inovais benar-benar melebur dengan organisasi dan
secara rutin digunakan dan tidak terasa.
Tahap satu sampai dua dikelompokkan ke dalam inisiasi, yaitu pengumpulan semua
informasi, konseptualisasi, perencanaan adopsi inovasi, kepemimpinan untuk
keputusan pengadopsian.
F. Faktor-Faktor Yang Menjadi Penghambat dan Pendukung Pada Input Throughput dan
Output
Input untuk Organisasi
Adanya inovasi yang diserap menyebabkan pekerjaan berubah, karyawan berubah, situasi kerja
berubah. Ini mengakibatkan adanya kebutuhan akan pegawai denga kualitas tertentu dan paling
tidak adanya pengaturan ulang dimensi ruang dan waktu.
Havelock (1969) menyatakan sepuluh faktor yang menghalangi input dibawah ini telah
dikelompokkan dalam urutan yang logis dan sering diperlihatkan dalam literatur yang relevan
dengan masalah tersebut diantaranya :
1. Kebutuhan akan stabilitas, disebutkan bahwa inovasi mengancam keseimbangan yang dinamis
yang ditandai dengan hubungan orang dan kelompok dan sejak keuntungan dari menerima dan
menggunakan pengetahuan mungkin lebih sedikit dibandingkan dengan keraguan yang
diakibatkan terganggunya keseimbangan, masuknya pengetahuan mungkin akan dicegah.
2. Koding Scheme Barrier, sebuah kelompok berdiri dengan identitas serta yang tentu hanya
dimilikinua melalui uoaya memperluas keunikannya. Salah satu cara untuk melakukan hal
tersebut adalah memberikan arti sebuah perbendaharaan khas kepada kelompok.
3. Hubungan sosial, penghalang lain bagi informasi adalah keberadaan pola tingkah laku sosial
yang kekal dalam organisasi. Pola ini menjadi penghalang masuknya pengetahuan karena
perubahan dianggap mengancam akan berubah struktur sosial yang sudah ada.
4. Rasa takut pada kecemburuan sosial, garis batas yang memisahkan organiasi dengan
lingkungannya mendorong pembentukan mitos organisasi yang menolong anggot untuk setuju
dengan ketidakpastian dan kemajuan pada perubahan yang dibawa dari luar. Dengan demikian
pengetahuan dianggap sebagai ancaman tetapi juga sebagai tuduhan langsung bagi organisasi
dan anggotanya.
5. Ancaman personal, anggota takut pada pihak luar yang kelihatannya akan kehilangan
kemampuan dan kecakapannya dengan adanya pengetahuan.
6. Kebanggan lokal, organisais menginginkan anggota untuk menyadari organisasi sebagai tempat
bekerja yang menarik. Hal ini menunjukkan bahwa semangat dari kebanggaan dalm organisasi
dapat merintangi aliran pengetahuan ke dalam organisasi.
7. Perbedaan status antar organisai, selisih status antara organisasi dapat menciptakan
ketidakpercayaan dan rintangan bagi aliran pengetahuan.
8. Kondisi ekonomi, jika organisai memiliki situasi keuangan yang sangat menguntungkan, ia akan
sanggup mencari penemuan baru dan informasi untuk percobaan.
9. Pelatihan bagi pendatang untuk menerima cara lama, banyak sikap dan asumsi dari anggota
bahwa mereka akan diajarkan secara berulang-ulang selama pelatihan dalam orgamisasi, ketika
seseorang harus berfikir untuk mempercayai atau tidak pada pihak luar, kesempatan pertama
untuk mengajarkannya adalah di awal masa jabatannya.
10. Ukuran organisasi, organisasi yang besar lebih cepat mengadopsi ide-ide baru dan teknologi
baru dari pada yang kecil.
Penghambat Output diantaranya :
Kebutuhan stabilitas organisasi enggan untuk mengganti apa yang mereka kerjakan apabila
mereka merasa hal tersebut merupakan ancaman bagi stabilitas dan kemampuan sistem mereka.
Kelambanan ini sering terjadi menjadi alasan mengapa produk cepat kurang terlihat inovatif,
misalnya disebabkan oleh tradisi, suatu pola rutinitas perilaku.
Kepuasan dan kebanggaan lokal, rasa cepat puas dan bangga menjadi penghalang output karena
membatasi kesadaran akan kebutuhan pengembangan.
Rentan, organisasi cepat terpengaruh oleh tekanan lingkungan luar sehingga ada kecenderunga
sulit untuk berimprovisasi.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dari uraian yang telah kami sampaikan sebelumnya dapat kami simpulkan:
1. Diseminasidan pemanfaatan dapat dipandang sebagai sebuah transfer berbagai
pesan melalui bermacam media antara sistem sumber dan sistem pengguna
2. Organisai sebagai sebuah institusi terdiri atas:
a. Elemen formal: seperti, hiraki kepangkatan, wewenang dan tanggungjawab,
departemen (unit kerja), prosedur dan sebagainya.
b. Elemen informal: disebut juga kelompok/organisasssi informal yang
mempunyai suatu nilai/norma yang disepakati (konform)yang cukup
berperan dalam aliran pengetahuan (inovasi) dalam organisasi.
3. Proses aliran pengetahuan dalam organisasi melalui suatu alur input, trugput,
dan output.
4. Terdapat faktor-faktor yang ikut mendukung (fasilitator), dan juga penghambat
(inhibitor) pada proses input, trougput, output dalam aliran pengetahuan
(inovasi) dalam organisasi.

DAFTAR PUSTAKA

http://ernitaarif.blogspot.com/
Posted by Hera Septia at 4:43 PM
Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest

No comments:

Post a Comment

Newer Post Older Post Home


Subscribe to: Post Comments (Atom)
Blog Archive
2013 (1)

2012 (8)
o December (8)
Makalah Caring
Kumpulan Puisi Islami
Menghilangkan Noda Hitam Bekas Jerawat

Anda mungkin juga menyukai