Anda di halaman 1dari 37

BAB II

PEMBAHASAN
A. Pengertian Permeabilitas
Permeabilitas tanah adalah suatu kesatuan yang melipui infiltrasi tanah dan
bermanfaat sebagai permudahan dalam pengolahan tanah.(Dede rohmat, 2009). Permeabilitas
tanah memiliki lapisan atas dan bawah. Lapisan atas berkisar antara lambat sampai agak
cepat (0,20 9,46 cm jam-1), sedangkan di lapisan bawah tergolong agak lambat sampai
sedang (1,10 -3,62 cm jam-1).( N.Suharta dan B. H Prasetyo.2008). Beberapa pendapat
tentang permeabilitas tanah adalah sebagai berikut :
1. permeabilitas tanah adalah kemudahan media sarang mengalirkan air atau fluida lainya
melalaui pori pori tanah. ( Anonymous,2010

2. permeabilitas tanah adalah tingkat kesarangan tanah yang dilalui aliran massa air atau
kecepatan aliran air untuk melewati masa tanah. ( Hanafiah, 2005 )

3. permeabilitas tanah adalah kecepatan bergeraknya suatu cairan pada media berpori
dalam keadaan jenuh. ( Anonymous, 2010 )

4. permeabilitas tanah adalah kemampuan untuk mentransfer air atau udara. Biasanya
diukur dengan istilah jumlah air yang mengalir melalui tanah dalam waktu yang tertentu dan
ditetapkan sebagai inci/jam. ( wanihadi utomo, 1985 )
Hukum Darcy
Hukum Darcy menjelaskan tentang kemampuan air mengalir pada rongga-rongga
(pori) dalam tanah dan sifat-sifat yang memengaruhinya. Ada dua asumsi utama yang
digunakan dalam penetapan hukum Darcy ini. Asumsi pertama menyatakan bahwa aliran
fluida/cairan dalam tanah bersifat laminar. Sedangkan asumsi kedua menyatakan bahwa
tanah berada dalam keadaan jenuh.

Pengujian permeabilitas tanah dilakukan di laboratorium menggunakan metode Constant


Head Permeameter dan Variable/Falling Head Permeameter.

1) Constant Head Permeameter


Uji ini digunakan untuk tanah yang memiliki butiran kasar dan memiliki koefisien
permeabilitas yang tinggi.

Rumus:
Q = k.A.i.t
k = (Q.L) / (h.A.t)
Dengan
Q = Debit (cm3)
k = Koefisien Permeabilitas (cm/detik)
A = Luas Penampang (cm2)
i = Koefisien Hidrolik = h/L
t = Waktu (detik)

2) Variable/Falling Head Permeameter


Uji ini digunakan untuk tanah yang memiliki butiran halus dan memiliki koefisien
permeabilitas yang rendah.
Rumus :
k = 2,303.(a.L / A.L).log (h1/h2)
Dengan :
k = Koefisien Permeabilitas (cm/detik)
a = Luas Penampang Pipa (cm2)
L = Panjang/Tinggi Sampel (cm)
A = Luas Penampang Sampel Tanah (cm2)
t = Waktu Pengamatan (detik)
h1 = Tinggi Head Mula-mula (cm)
h2 = Tinggi Head Akhir (cm)

AIR TANAH, PERMEABILITAS DAN REMBESAN

[Enter Post Title Here]

BAB III
AIR TANAH, PERMEABILITAS
DAN REMBESAN

3.1. Air Tanah


Air tanah didefinisikan sebagai air yang terdapat di bawah permukaan bumi.
Salah satu sumber utama air ini adalah air hujan yang meresap kebawah lewat
ruang pori diantara butiran tanah. Air biasanya sangat berpengaruh pada sifat-
sifat teknis tanah, khususnya tanah yang berbutir halus. Demikian juga, air
merupakan faktor yang sangat penting dalam masalah-masalah teknis yang
berhubungan dengan tanah seperti: penurunan, stabilitas, pondasi, stabilitas
lereng, dan lain-lain.

Terdapat tiga zona penting pada lapisan tanah yang dekat dengan permukaan
bumi, yaitu: zona jenuh air, zona kapiler, zona sebagian. Pada zona jenuh atau
zona di bawah muka air tanah, air mengisi seluruh rongga-rongga air tanah.
Pada zona ini tanah dianggap dalam keadaan jenuh sempurna. Batas atas dari
zona penuh adalah permukaan air tanah atau permukaan freatis. Selanjutnya, air
yang berada di dalam zona ini disebut sebagai air tanah atau air freatis. Pada
permukaan air tanah, tekanan hidrostatis adalah nol. Zona kapiler terletak di
atas zona jenuh. Ketebalan zone ini tergantung dari macam tanahnya. Akibat
tekanan kapiler, air mengalami isapan atau tekanan negative. Zona yang jenuh
berkedudukan paling atas, adalah zone didekat permukaan tanah, dimana air
dipengaruhi oleh penguapan dan akar tumbuh-tumbuhan.

31.1. Tekanan Kapiler.


Tekanan kapiler dapat timbul karena adanya tarikan lapisan tipis permukaan
air sebelah atas. Kejadian ini disebabkan oleh adanya pertemuan antara dua
jenis material yang berbeda sifatnya. Pada prinsipnya, tarikan permukaan adalah
hasil perbedaan gaya tarik antara molekul-molekul pada bidang singgung
pertemuan dua material yang berbeda sifatnya.

Kejadian tarikan permukaan dapat dilihat dari percobaan laboratorium pada


pipa kapiler yang dicelupkan dalam bejana berisi air. Ketinggian air dalam pipa
kapiler akan lebih tinggi dari pada tinggi air dalam bejana (Gambar 3.1.a).
Permukaan air dalam cairan membentuk sudut terhadap dinding pipa.
Tekanan pada permukaan air dalam pipa dan tekanan pada permukaan air pada
bejana akan sama dengan tekanan atmosfer. Tidak adanya gaya luar yang
mencegah air dalam pipa dalam kedudukannya menunjukan bahwa suatu gaya
tarik bekerja pada lapisan tipis permukaan air dalam pipa kapiler.
Gambar 3.1.
Bila hc adalah tinggi air dalam pipa kapiler, r adalah radius pipa, w adalah
berat volume air dan tekanan atmosfer diambil sebagai bidang referensi (yaitu
tekanan udara sama dengan nol), maka dapat dibentuk persamaan gaya vertikal
pada puncak dari kolom air sebagai berikut :

(3.1)

Dari persamaaan tersebut

(3.2)
Seperti yang telah diterangkan, u adalah negative yang berarti air didalam pipa
pada kedudukan tertarik atau terhisap. Nilai tekanan maksimum adalah whc,
terjadi pada puncak kolom. Distribusi tekanan sepanjang pipa , dapat dilihat
pada Gambar 3.1c. Persamaan ketinggian air hc di dalam pipa diperoleh
dengan cara substitusi u = -w hc ke persamaan (3.2):

(3.3)
Dari persamaan (3.2) dan (3.3) dapat dilihat bahwa u dan hc bertambah jika
radius pipa (r) berkurang.
3.1.2. Pengaruh Tekanan Kapiler
Akibat tekanan kapiler, air tanah tertarik keatas melebihi permukaannya.
Pori-pori tanah sebenarnya bukan sistem pipa kapiler, tapi teori kapiler dapat
diterapkan guna mempelajari kelakuan air pada zone kapiler. Air dalam zone
kapiler ini dapat dianggap bertekanan negative, yaitu mempunyai tekanan di
bawah tekanan atmosfer. Digram kapilaritas suatu lapisan tanah, dapat dilihat
pada gambar 3.1d. Tinggi minimum dari h c(min) dipengaruhi oleh ukuran
maksimum pori-pori tanah. Di dalam batas antara hc(min) dan hc(mak), tanah
dapat bersifat jenuh sebagian (partially saturated). Terzaghi dan Peck (1948)
memberikan hubungan pendekatan antara hc(mak) dan diameter butiran,
sebagai berikut:

(3.4)
Dengan C adalah konstanta yang bergantung pada bentuk butiran dan sudut
kontak (C bervariasi diantara 10 50 mm2), dan D10 adalah diameter efektif
yang dinyatakan dalam millimeter. Tinggi air kapiler untuk berbagai macam
tanah diberikan oleh Hansbo (1975), dapat dilihat dalam table 3.1.

Tabel 3.1. Ketinggian air kapiler (hansbo, 1975)


Kondisi
Macam Tanah Konisi padat
Longsor
Pasir Kasar 0,03 - 0,12 m 0,04 0,15 m
Pasir Sedang 0,12 0,50 m 0,35 1,10 m
Pasir Halus 0,30 2,00 m 0,40 3,50 m
Lanau 1,50 10,0 m 2,50 12,0 m
Lempung > 10 m

Pengaruh tekanan kapiler pada tanah adalah menambah tegangan efektif.


Jika tekanan kapiler membesar, maka tegangan kontak diantara partikel
membesar pula. Akibatnya, ketahanan tanah terhadap geser atau kuat geser
tanah bertambah.

3.2. Permeabilitas
Permeabilitas didefinisikan sebagai sifat bahan yang memungkinkan aliran
rembesan dari cairan yang berupa air atau minyak mengalir lewat rongga pori.
Pori-pori tanah saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Sehingga
air dapat mengalir dari titik yang mempunyai tinggi energi lebih tinggi ke titik
dengan energi yang lebih rendah. Untuk tanah permeabilitas dilukiskan sebagai
sifat tanah yang menggambarkan bagaimana air mengalir melalui tanah.
Di dalam tanah, sifat aliran mungkin laminer atau turbulen. Tahanan
terhadap aliran bergantung pada jenis tanah, ukuran butiran, bentuk butiran,
rapat masa serta bentuk geometri rongga pori. Temperatur juga sangat
mempengaruhi tahanan aliran (kekentalan dan tegangan permukaan).
Walaupun secara teoritis, semua jenis tanah lebih atau kurang mempunyai
rongga pori, dalam praktek, istilah mudah meloloskan air (permeable) ditujukan
untuk tanah yang memang benar-benar mempunyai sifat meloloskan air.
Sebaliknya, tanah disebut kedap air (impermeable), bila tanah tersebut
mempunyai kemampuan meloloskan air yang sangat kecil.
3.2.1. Garis Aliran
Aliran air lewat suatu kolom tanah diperlihatkan dalam Gambar 3.2a.
Masing-masing partikel air bergerak dari ketinggian A ke ketinggian B yang
lebih rendah, mengikuti lintasan yang berkelok-kelok (ruang pori) diantara
butiran padatnya.
Kecepatan air bervariasi dari titik ke titik tergantung dari ukuran dan
konfigurasi pori. Akan tetapi, dalam praktek, tanah dapat dianggap sebagai satu
kesatuan. Tiap partikel air dianggap melewati sepanjang lintasan lurus yang
disebut garis aliran. (Gambar 3.2b).
Gambar 3.2.

3.2.2. Aliran Air dalam Tanah


Aliran air horizontal yang melewati tabung berisi tanah dilukiskan dalam
Gambar 3.3. ketinggian di dalam pipa piezometer menunjukan tekanan air pada
titik tersebut. Elevasi air di dalam pipa disebut elevasi piezometrik (piezometric
elevation) atau tinggi energi elevasi (elevation head), sedang tekanan air pada
kedalaman tertentu disebut tinggi energi tekanan (preasure head), yaitu
ketinggian kolom air hA atau hB di dalam pipa diukur dalam millimeter atau
meter di atas titiknya. Hal ini dapat juga dinyatakan dalam satuan tekanan
dengan menggunakan hubungan:
(3.5)
Atau

(3.6)

dengan p adalah tekanan (t/m2, kN/m2), h adalah tinggi tekanan (m) dan w
adalah berat volume air (t/m3, kN/m3). Tekanan air pori biasanya diukur
terhadap tekanan atmosfer relative. Ketinggian air dengan tekanan atmosfer nol,
didefinisikan sebagai permukaan air tanah atau permukaan freatis. Kondisi
artesis dapat terjadi jika lapisan tanah miring dengan permeabilitas tinggi diapit
lapisan tanah dengan permeabilitas rendah.
Tekanan hidrostatis bergantung pada kedalaman suatu titik di bawah muka
air tanah. Untuk mengetahui besar tekanan air pori, teorama Bernoulli dapat
diterapkan. Menurut Bernoulli, tinggi energi total (total head) pada suatu titik A
dapat dinyatakan oleh persamaan:

(3.7)
= tinggi energi total ( m )
= tekanan ( t/m2, kN/m2 )
= kecepatan ( m/det )
= berat volume air ( t/m3, kN/m3 )
= percepatan gravitasi ( m/dt2 )
= tinggi elevasi ( m )

dengan
h
p
v
w
g
z

Kecepatan rembesan di dalam tanah sangat kecil, maka faktor kecepatan


dalam suku persamaan Bernoulli dapat diabaikan. Sehingga persamaan tinggi
energi total menjadi:

(3.8)

Untuk menghitung banyaknya rembesan lewat tanah pada kondisi tertentu,


ditinjau kondisi tanah seperti dalam gambar 3.3. luas potongan melintang tanah
sebesar A, dengan debit rembesan q.
Gambar 3.3

Dari persamaan Bernoulli, kehilangan energi, h, antara dua titik A dan B oleh:

(3.9)
Persamaan (3.9), dapat dituliskan sebagai berikut:

(3.10)
Gradien hidrolik (i), diberikan menurut persamaan:

(3.11)

Dengan L adalah jarak antara potongan A dan B.


Jika kecepatan aliran air dalam tanah nol, semua ketinggian air dalam akan
menunjukan elevasi yang sama dan berimpit dengan permukaan horizontal air
tanah. Dengan adanya aliran air tanah, ketinggian air dalam pipa piezometer
akan berkurang dengan jarak alirannya.

Hukum Darcy
Darcy (1956), memberikan hubungan antara kecepatan dan gradien hidrolik
sebagai berikut:

= kecepatan air cm/det)


= gradient hidrolik
= koefisien permeabilitas (cm/det)

Dengan :
v
i
k

Debit rembesan (q) dapat ditulis dengan persamaan:


Dengan A = luas penampang tanah. Koefisien permeabilitas (k) mempunyai
satuam yang sama dengan satuan kecepatan cm/det atau mm/det, dan
menunjukan ukuran tahanan tanah terhadap aliran air. Bila pengaruh sifat-sifat
air dimasukan, maka:

(3.8)

= koefisien absolute (cm2),tergantung dari sifat butiran tanah


= rapat massa air (g/cm3)
= koefisien kekentalan air(g/cm.det)
= percepatan gravitasi(cm/det2)

dengan :
K
w

g

Perhatikan bahwa kecepatan yang diberikan dalam persamaan (3.12) adalah


kecepatan air yang dihitung berdasarkan luas kotor penampang tanah. Karena
air hanya dapat mengalir lewat ruang pori, maka kecepatan nyata rembesan
lewat tanah (vs), diberikan menurut persamaan:

(3.15)
Atau

(3.16)
Dengan nilai n adalah porositas dari tanah.

Beberapa nilai k dari berbagai jenis tanah diberikan dalam Tabel 3.2.
koefisien permeabilitas tanah biasanya dinyatakan pada temperatur 20 C.

Tabel 3.2. Nilai permeabilitas tanah pada temperatur 20 C.


Jenis Tanah k (mm/det)
Butiran kasar 10 10 3
Kerikil halus, butiran kasar
bercampur pasir butiran sedang 10-2 10
Pasir halus, lanau longgar 10-2 10-2
Lanau padat, lanau berlempung 10-5 10-4
Lempung berlanau, lempung 10-8 10-5

Pada sembarang temperatur T, koefisien permeabilitas dapat diperoleh dari


persamaan:

(3.17)
Dengan
Kt,k20 = koefisien permeabilitas pada T dan 20 C
wT, w20 = berat volume air pada T dan 20 C
T , 20 = koefisien kekentalan air pada T dan 20 C

karena nilai wT/w20 mendekati 1, maka:


(3.18)

Tabel 3.3. memberikan nilai T/20 untuk berbagai kondisi temperaturnya.


Tabel 3.3. T/20

Temperature T/20
T, C
10 1,298
11 1,263
12 1,228
13 1,195
14 1,165
15 1,135
16 1,106
17 1,078
18 1,031
19 1,025
20 1,000
21 0,975
22 0,952
23 0,930
24 0,908
25 0,887
26 0,867
27 0,847
28 0,829
29 0,811
30 0,793

Ketepatan Hukum Darcy


Ketepatan hukum Darcy v = ki, hanya cocok untuk aliran laminer, yaitu bila
gradien hidrolik hanya sampai gradien hidrolik kritis (icr) dan kecepatannya
hanya sampai kecepatan kritis (vcr). Dalam Gambar 3.4, di luar L, (i > icr),
filtrasi berupa aliran turbulen dengan kecepatan rembesan
v > vcr
Beberapa studi telah dibuat untuk menyelidiki ketepatan hukum ini. Studi
yang cukup dikenal adalah yang dilakukan oleh muskat (1937). Kriteria nilai
batas diberikan oleh bilangan Reynold. Untuk aliran di dalam tanah, bilangan
Reynold (Rn) diberikan menurut hubungan :

(3.19)
= kecepatan air, cm/det
= diameter rata-rata butirantanah, cm
= berat volume cairan, g/cm
= koefisien kekentalan, g/(cm.det)

dengan :
v
D
w

Gambar 3.4

Untuk aliran laminer di dalam tanah, hasil pengamatan menunjukan hubungan


sebagai berikut:

(3.20)
Gradien hidrolik menurut persamaan Forchheimer (1902)

(3.21)
Leps (1973) memberikan persamaan kecepatan air lewat pori, sebagai berikut:

(3.22)
Dengan
vv = kecepatan rata-rata air lewat pori
C = konstanta yang merupakan fungsi bentuk dan kekasaran partikel batuan
RH = gradien hidrolik rata-rata
i = gradien hidrolik

3.2.3. Uji Permeabilitas di Laboratorium


Ada empat cara pengujian untuk menentukan koefisien permeabilitas di
laboratorium, yaitu:
a. Uji tinggi energi tetap (constant-head)
b. Uji tinggi energi turun (falling-head)
c. Penentuan secara tidak langsung dari pengujian konsolidasi.
d. Penentuan secara tidak lansung dari pengujian kapiler horizontal.

3.2.3.1. Uji energi permeabilitas dengan cara tinggi energi tetap


(constant-head)
Pengujian ini cocok untuk jenis tanah granular. Prinsip pengujian dapat
dilihat dalam Gambar 3.5. tanah benda uji diletakan di dalam silinder. Pada
kedudukan ini tinggi energi hilang adalah h. aliran air lewat tanah diatur.
Banyaknya air yang keluar ditampung di dalam gelas ukuran. Waktu
pengumpulan air dicatat. Data yang diperoleh, kemudian dimasukan kedalam
persamaan Darcy:

Dengan A adalah penampang benda uji, karena i = h/L, dengan L adalah


panjang benda uji, maka Q = k(h/L)At.

(3.22a)
Suku persamaan di sebelah kanan diperoleh dari hasil pengujiannya. Dengan
memasukan masing-masing nilainya,maka koefisien permeabilitas (k) dapat
diperoleh.
Gambar 3.5

3.2.3.2. Uji Permeabilitas Tinggi energi Turun (Falling-head)


Uji permeabilitas tinggi energi turun (falling-head) lebih cocok untuk tanah
yang berbutir halus. Gambar.3.6 memperlihatkan prinsip uji permeabilitas
falling head. Tanah benda uji ditempatkan di dalam tabung. Pipa pengukur
didirikan di atas benda uji. Air dituangkan lewat pipa pengukur dan dibiarkan
mengalir lewat benda uji. Ketinggian air keadaan awal pengujian (h1) pada saat
waktu t1 = 0 dicatat. Pada waktu tertentu (t2) setelah pengujian berlangsung,
penurunan muka air adalah h2. debit rembesan dihitung dengan persamaan:
Gambar 3.6
(3.22b)

= perbedaan tinggi padasembarang waktu t (m)


= Luas potongan melintangbenda uji (m2)
= Luas pipa pengukur (m2)
= Panjang benda uji (m)

dengan
h
A
a
L

3.2.3.3. Penentuan koefisien Permeabilitas dari uji konsolidasi


Koefisien permeabilitas tanah lempung dari 10 -6 sampai 10-9 cm/det dapat
ditentukan dalam sebuah falling head permeameter yang direncanakan khusus
dari percobaan konsolidasi. Pada alat ini, luas benda uji dibuat besar. Untuk
menghindari penggunaan pipa yang tinggi, tinggi tekanan dapat dibuat dengan
jalan pemberian tekanan udara. Skema alat ini ditunjukan dalam Gambar 3.7.

Penentuan koefisien permeabilitas diperoleh dari persamaan konsolidasi


sebagai berikut:

(3.23)
= koefisien konsolidasi
= waktu pengaliran
= faktor waktu
= panjang rata-rata lintasan drainase

Dengan
Cv
T
Tv
H
Persamaan koefisien konsolidasi:

(3.23)
Dengan
w = berat volume air

3.2.3.4. Uji Kapiler Horisontal


Prinsip dasar dari uji kapiler horizontal dapat dilihat pada Gambar 3.8.
Tanah dimasukan kedalam tabung dengan posisi mendatar.

Jika katup A dibuka, air dalam bak penampung akan masuk kedalam tabung alat
pengujian melalui silinder tanah secara kapiler. Jarak x dari titik 1 adalah fungsi
dari waktu t.
Pada titik 1, tinggi energi total (total head) adalah nol. Pada titik 2 (dekat
dengan permukaan basah), tinggi energi total adalah (h + hc).
Dengan menggunakan persamaan Darcy.

(3.28)
= Porositas
= derajat kejenuhan tanah
= kecepatan air rembesan lewat ronggapori

Dengan
n
S
vs

Gambar 3.9

Cara pengujian kapiler horizontal sebagai berikut :


1. Buka katup A
2. Segera sesudah air mengalir, dicatat waktu (t) yang dibutuhkan untuk
pengaliran sepanjang x.
3. Ketika air terdepan telah mengalir kira-kira setengah panjang benda uji (x =
L/2), tutup katup A dan buka katup B.
4. Lanjutkan samapai gerakan air mencapai x = L.
5. Tutup katup B. Ambil tanah benda uji dan tentukan besar kadar air dan derajat
kejenuhannya.
6. Gambarkan hubungan nilai x2 terhadap waktu t. gambar 3.10 memperlihatkan
sifat khusus dari grafik yang diperoleh. Bagian Oa adalah hasil plot dari
hembacaan data pada langkah butir (2), dan bagian ab dalam langkah butir (4).
7. Maka diperoleh
(3.31b)

Suku persamaan sebelah kiri menunjukan kemiringan dari garis lurus x2


terhadap t.
8. tentukan kemiringan garis oa dan ab missal m1 dan m2, maka.
Gambar 3.10 :

Dan

Karena n, S, h1, h2, m1 dan m2 ditentukan dari hasil pengujian, maka kedua
persamaan hanya akan mengandung 2 bilangan yang tak diketahui, yaitu k dan
hc. Dari kedua persamaan ini, nilai k dapat dihitung

3.2.4. Uji Permeabilitas di Lapangan


3.2.4.1. Uji Permeabilitas dengan Menggunakan Sumur Uji
Cara pemompaan air dari sumur uji, biasanya dipakai untuk menentukan
nilai koefisien permeabilitas (k) di lapangan. Dalam cara ini, sebuah sumur
digali dengan debit tertentu, secara terus menerus air dipompa keluar dari sumur
(gambar 3.11). bergantung pada sifat tanahm, pengujian dapat berlangsung
sampai beberapa hari, sampai penurunan permukaan air tanah akibat
pemompaan menunjukan kedudukan yang tetap. Permukaan penurunan yang
telah stabil, yaitu garis penurunan muka air tanah yang terendah, diamati dari
beberapa sumur pengamat yang digali disekitar sumur pengujian tersebut.
Penurunan muka air terendah terdapat pada sumur uji.
Untuk keperluan menghitung koefisien permeabilitas (k), diperlukan paling
sedikit dua sumur pengamat. Penurunan permukaan air disuatu lokasi,
berkurang dengan bertambahnya jarak dari sumur uji. Bentuk teoritis garis
penurunan berupa lingkaran dengan pusat lingkaran pada sumur ujinya. Jari-jari
R dalam teori hidrolika sumuran disebut jari-jari pengaruh kerucut penurunan
(radius of influence of the defression cone).

Gambar. 3.11

Aliran air ke dalam sumur merupakan aliran gravitasi, dimana muka air
tanah menderita tekanan atmosfer. Debit pemompaan pada kondisi aliran yang
telah stabil dapat dinyatakan dalam persamaan Darcy :
= kecepatan aliran (m3/det)
= luas aliran (m2)
= dy/dx = gradient hidrolik
= ordinat kurva penurunan
= absis kurva penurunan

dengan
v
A
i
dy
dx

Luas penampang pengaliran A dapat dianggap sebuah tabung vertical dengan


tinggi y dengan jari-jari x. jadi,

Bila kemiringan kurva penurunan air adalah dy/dx = I, maka persamaan


debit air yang masuk ke dalam sumur :

Dengan pemisahan variable dan integrasi, diperoleh:

Atau

(3.32)
Jika penurunan muka air maksimum pad debit Q tertentu adalah Smaks sedang
Smaks = H h, maka akan diperoleh:
(3.35)
Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh Sichardt (1930), R dapat diestimasi
dengan menggunakan persamaan :

(3.36)
= penurunan muka air maksimum (m)
= koefisien permeabilitas tanah (m/det)

Dengan
S
k

Persamaan ini memberikan nilai R yang sangat hati-hati (aman). Bila dalam
praktek R tidak tersedia, nilai R dari Sichardt tersebut dapat dipakai karena tidak
menghasilkan kesalahan yang besar.
Untuk penurunan muka air yang lebih besar, pada sumur-sumur tunggal,
Weber ( 1928) memberikan persamaan untuk lingkaran pengaruh (R), sebagai
berikut:

(3.37)
= koefisien permeabilitas tanah(m/det)
= koefisien yang nilainyamendekati 3
= tebal lapisan air (m)
= waktu penurunan (detik)
= porositas tanah n yangbervariasi dari 0,25 (pasir kasar) sampai
0,34 (pasir Halus). Nilai rata-rata n =0,30 dapat digunakan.

Dengan
k
c
H
i
n

Jumikis (1962) memberikan nilai perkiraan lingkaran pengaruh R hasil


pengumpulan dari beberapa data pada jenis tanah tertentu, seperti yang
ditunjukan dalam Tabel 3.4.

Tabel 3.4. Lingkaran pengaruh R pada berbagai jenis tanah


Tanah
R (m)
Jenis Tanah Ukuran butiran (mm)
Kerikil kasar > 10 > 1500
Kerikil sedang 2 10 500 1500
Kerikil halus 12 400 500
Kerikil kasar 0,5 1 200 400
Kerikil sedang 0,25 0,50 100 200
Kerikil halus 0,10 0,25 50 100
Pasir sangat halus 0,05 0,10 10 50
Pasir berlanau 0,025 0,05 5 - 10

3.2.4.2. Uji Permeabilitas pada Sumur Artesis


Pada pengujian ini, sumur dibangun menembus lapisan tanah yang mudah
meloloskan air, dimana lapisan ini diapit oleh dua lapisan tanah yang kedap air
disebelah atas bawahnya. Air yang mengalir dipengaruhi oleh tekanan artesis.
Sumur dapat digali sampai menembus dasar, di tengah, maupun pada batas atas
lapisan lolos air. Gambar 3.12
Debit arah radial :
(3.38)
Dengan :
q = debit arah radial (m3/det)
A = 2 x T = luas tegak lurus arah aliran (m2)
T = tebal lapisan lolos air (m)
dy/dx = i = gradient hidrolik

Gambar 3.12

Jika terdapat dua sumur pemeriksaan :

(3.41a)

Jika hanya terdapat satu sumur pemeriksaan :


(3.41b)
Dengan
= penurunan muka air padasumur pengujian
= penurunan muka air padasumur pemeriksaan 1
= penurunan muka air padasumur pemeriksaan 2
= jari jari pipa sumurpengujian
= jarak dari sumur pengujianke sumur pemeriksaan

Smak
S1
Smak
ro
r1,r2

3.2.4.3. Uji Permeabilitas dengan menggunakan Lubang Bor


Pengujian lapangan yang lain adalah pengujian dengan menggunakan lubang
bor (USBR, 1961). Cara pertama, air diizinkan mengalir dengan tinggi energi
yang tetap, ke dalam atau ke luar dari lapisan yang diuji, lewat ujung dari
lubang pipa bor. Skema pengujiannya, dapat dilihat pada Gambar 3.13. Ujung
terbawah lubang bor harus lebih dari 5d, diukur dari lapisan atas dan bawah,
dengan d adalah diameter lubang pipa. Ketinggian air di dalam lubang bor
dipelihara konstan, pebedaan tinggi air dalam lubang dan muka air tanah = h.
Debit q yang konstan, untuk memelihara ketinggian air supaya konstan, diukur.
Besar koefisien permeabilitas, dihitung dengan persamaan yang dikembangkan
dari percobaan analogi elektris sebagai berikut:
(3.42)
= diameter dalam pipa
= beda tinggi air
= debit untuk memeliharatinggi energi yang sama

Dengan :
d
h
q

Gambar 3.13

3.2.4.4. Uji permeabilitas Menggunakan Lubang Bor dengan Cara


Tinggi Energi Berubah-ubah (Variable-head)
Dalam pengujian dengan tinggi energi berubah-ubah (variable-head), debit
yang mengalir dari lapisan ke dalam lubang bor diukur dengan mencatat waktu
(t) pada ketinggian air relative di dalam lubang yang diukur terhadap ketinggian
muka air tanah, pada perubahan tinggi pada h1 ke h2. Hvorslev memberikan
rumus untuk menentukan permeabilitas dalam sejumlah lubang bor, dua
contohnya diberikan dalam persamaan dibawah ini.
Cara pertama, pipa bor dengan diameter dalam d, ditekan pada jarak yang
pendek D (tak lebih dari 1,5 m) di bawah muka air pada lapisan yang dianggap
mempunyai tebal tak terhingga (Gambar 3.14a). Aliran yang terjadi, lewat
lubang di ujing pipa bor. Koefisien permeabilitas untuk kondisi ini diberikan
menurut persamaan :

(3.43)

Cara kedua, sebuah lubang bor dengan pipa (casing) yang dilubangi pada
bagian bawahnya, dengan panjang L (biasa dengan pipa atau tanpa pipa), diman
L > 4a, di dalam lapisan yang dianggap berkedalaman yang tak terhingga
(Gambar 3,14b). koefisien permeabilitas dalam kondisi ini diberikan menurut
persamaan :
Gambar 3.14

(3.44)
3.2.4.5. Uji Permeabilitas dengan Pengukuran Kecepatan Rembesan
Permeabilitas tanah berbutir kasar, dapat diperoleh dari pengujian kecepatan
rembesan di lapangan. Cara ini meliputi penggalian lubang tanpa pipa (trial-pit)
pada titik A dan B (Gambar 3.15), dimana aliran rembesan berjalan dari A ke B.
Gambar 3.15

Gradien hidrolik (i), ditentukan dari perbedaan muka air yang tetap pada
lubang bor A dan B, dibagi dengan jaraknya AB. Pada lubang A dimasukan
bahan warna. Waktu perjalanan bahan warna dari A ke B dicatat. Kecepatan
rembean dihitung dari panjang AB dibagi dengan waktunya. Selanjutnya
porositas tanah dapat ditentukan dalam percobaan laboratorium. Nilai koefisien
permeabilitas dihitung dengan persamaan:

(3.45)

3.2.5. Hitungan Koefisien Permeabiltas Secara Teoritis


Telah disebutkan bahwa aliran yang menembus lapisan yang lebih halus dari
kerikil kasar adlah laminer. Hubungan antara pori-pori di dalam tanah, dapat
dibayangkan sebagai jumlah pipa-pipa kapiler yang memungkinkan air lewat.
Menurut Hagen dan Poiseuille, banyaknya lairan air dalam satuan waktu (q)
yang lewat pipa dengan jari-jari R, dapat dinyatakan dengan persamaan:
(3.46)
= berat volume air
= koefisien kekentalanabsolute
= luas penampang pipa
= gradien hidrolik

Dengan:
w

a
S

Jari-jari hidrolik RH dari pipa kapiler dapat dinyatakan dengan:

(3.47)

Dari persamaan (3.46) dan 3.47), diperoleh hubungan

(3.48)

Jadi, untuk aliran laminer, aliran lewat sembarang penampang dapat dinyatakan
oleh persamaan umum:

(3.49)
Gambar 3.16

Dengan Cs adalah faktor bentuk. Kecepatan rata-rata aliran dinyatakan dengan


persamaan:

(3.50)
Dalam kenyataannya, hubungan antara pori dapat dianggap sebagai sluran
yang berkelok- kelok (Gambar 3.16). pada persamaan (3.49), S dapat
dinyatakan sebagai h/L1. Selanjutnya

(3.51a)
Jika volume tanah total adalah V dan porositas = n, maka volume pori Vv = nV.
Dengan mengambil Sv = luas permukaan persatuan volume tanah, dan
persamaan (3.51a),

(3.51b)
Substitusi persamaan (3.51b) ke dalam persamaan (3.50) dengan mengambil va
= vs (dimana vs adalah kecepatan air nyata lewat rongga pori), diperoleh

(3.52)
Gradient hidrolik (i) yang digunakan dalam persamaan ini, adalah gradient
mikroskopis. Faktor S dalam persamaan (3.52) adalah gradien mikroskopis
untuk aliran lewat tanah. Dari Gambar 3.16, i = h/L dan S = h/L1. maka:

(3.53)

Atau

Dengan T adalah L1/L. Persamaan kecepatan rembesan dalam tanah,

(3.55)

Dengan v = kecepatan aliaran. Substitusi persamaan (3.55) dan (3.54) ke dalam


persamaan (3.52), akan diperoleh:

Dengan vs adalah kecepatan air lewat rongga pori. Bila akan dihitung kecepatan
air lewat luas kotor dari penampang tanah:
(3.56)

Dalam persamaan (3.56), Sv adalah luas permukaan persatuan volume tanah. Jik
didefinisikan Ss sebagai luas permukaan persatuan volume tanah padat, maka

(3.57)
Dengan Vs adalah volume padat tanah dalam volume V, yaitu

(3.57)
maka

(3.58)

Persamaan permeabilitas absolute dinyatakan oleh:

(3.61)
Maka

(3.62)

Persamaan Kozeny-carman baik untuk tanah berbutir kasar seperti pasir dan
beberapa tanah lanau. Ketidakcocokan yang serius terjadi pada penggunaan
persamaan ini untuk tanah lempung. Untuk tanah granuler, faktor bentuk Cs
mendekati 2,5 dan factor belokan T mendekati 2.

2.6. Hubungan Permeabiltas dengan Angka Pori Tanah Pasir


Koefisien permeabilitas dapat didekati dengan persamaan:

(3.63)
Atau

(3.64)
Dimana k1 dan k2 adalah koefisien permeabilitas tanah yang diberikan pada
keadaan e1 dan e2.
Beberapa hubungan yang lain dari koefisien permeabilizas dan angka pori
telah diusulkan, antara lain:

(3.65)

(3.66)
Untuk pembanding ketepatan hubungan tersebut, beberapa hasil penganatan
pengujian laboratorium constand-head, pada tanah pasir seragam dari Madison
diberikan dalam Tabel 3.5.
A.Hasen (1911), memberikan persamaan empiris untuk koefisien
permeabilitas,

(3.67)

Dengan k dalam cm/det dan D10 adalah ukuran diameter efektif butir tanah
dalam cm. persamaan diatat diperoleh dari pengujian Hasen, dimana ukuran
efektif tanah bervariasi dari 0,1 ke 3 mm dan koefisien keseragaman (Cu)
untuk tanah yang kurang dari 5. koefisien 100 adalah nilai rata-ratanya.
Pengujian yang tersendiri memperlihatkan variasi koefisien, dari 41 sampai 146.
walaupun persamaan Hazen hanya pendekatan, tapi memeperlihatkan kesamaan
dengan persamaan (3.66).

Tabel 3.5. Koefisien permeabilitas pasir seragam Madison, dari uji constant-
head; D10 = 0,2 mm.

Nomor
e K20 (mm/det) e3 / 1 + e e2 / 1 + e e2
pengujian
1 0,797 0,504 0,282 0,353 0,635
2 0,704 0,394 0,205 0.291 0,496
3 0,606 0,303 0,139 0,229 0,367
4 0,804 0,539 0,288 0,358 0,646
5 0,688 0,356 0,193 0,280 0,473
6 0,617 0,286 0,144 0,235 0,381
7 0,755 0,490 0,245 0,325 0,570
8 0,687 0,436 0,192 0,280 0,472
9 0,582 0,275 0,125 0,214 0,399

Casagrande juga mengusulkan hubungan empiris untuk nilai k pada tanah pasir
bersih:
k = 1,4 k 0,85 e2 (3.68)
dengan k0,85 adalah koefisien permeabilitas pada e = 0,85.

Anda mungkin juga menyukai