Anda di halaman 1dari 4

Text Ahli Kepailitan Termohon

Kuasa hukum termohon : jelaskan mengenai filosofi dari undang-undang kepailitan ?

Ahli : undang-undang kepailitan merupakan suatu alat sosial, politik


dan juga kebijakan ekonomi, bukan hanya sekedar alat
sederhana untuk menyelesaikan msalah utang piutang antara
kreditur dan debitur (dalam hal ini bukan hanya siapa yang dapat
memailitkan siapa, melainkan lebih dari pada itu). Dalam hal ini,
hukum kepailitan diharapkan mampu memberikan penyelesaian
secara adil, seimbang, bermanfaat, dan memberikan jaminan
kepastian hukum. Kepentingan masyarakat yang dalam hal ini
adalah kreditur dan debitur pun semestinya dapat diseimbangkan
melalui suatu sistem peradilan yang adil dan bersih. Dimana
maksudnya ialah pengadilan diijinkan untuk
mempertimbangkan apa saja yang berkaitan dengan masalah
dalam kepailitan. Tetapi sayangnya undang-undang 37 tahun
2004 tentang kepailitan dan pkpu tidak dapat melihat hal-hal
tersebut, salah satu contohnya adalah ketiadaannya insolvensi
test, dimana insolvensi test sangat diperlukan untuk dapat
melihat dan mempertimbangkan apakah suatu badan hukum (
perusahaan maupun badan hukum lainnya) dalam keadaan sehat
ataupun tidak. Dengan ketidak adaan hal tersebut, perusahaan
yang sehat dan yang memiliki prospek yang bagus dalam
menunjang ekonomi negara di masa depan, bisa saja dipailitkan
dengan mudah.

Kuasa hukum termohon : lalu mengenai akibat dari dipailitkannya perusahaan yang
sehat?

Ahli : Fakta menunjukan bahwa permohonan pailit yang


diajukan terhadap perusahaan solven kerap terjadi
sejak diberlakukannya Undang-Undang No. 1 Tahun
1998 tentang Undang-Undang Kepailitan. Namun
demikian, tercatat bahwa putusan pailit yang
dijatuhkan oleh Pengadilan Niaga, Jakarta terhadap
dua perusahaan asuransi, PT Asuransi Jiwa Manulife
Indonesia (AJMI) dan PT Prudential Life Insurance
(Prudential), Walaupun Mahkamah Agung telah
menganulir putusan pailit terhadap AJMI dan
Prudential,
Seharusnya perusahaaan sehat (solven) dan memiliki
prospek yang bagus tidak boleh dipailitkan, melainkan
dapat dilakukan perlindungan, karena akan banyak
sekali dampak domino yang ditimbulkan apabila
perusahaan yang sehat dan memiliki prospek bagus
dipailitkan, terlebih lagi dalam hal menyangkut BUMN,
dimana kita mengetahui bahwa BUMN dalah badan
usaha milik negara yang merupakan objek vital bagi
indonesia.
Tentunya dapat dipahami bahwa rasio di balik
perlindungan" terhadap perusahaan-perusahaan
sebagaimana dikemukakan dalam Pasal 2 ayat (5)
UU No.37/2004 antara lain untuk melindungi
beberapa jenis sektor usaha yang berpengaruh
sangat besar terhadap kondisi perekonomian
masyarakat dan negara. Sehingga, pemailitannya
hanya dapat diajukan oleh Menteri Keuangan.
Dengan demikian, hak subjek hukum untuk
mengajukan gugatan tidak diingkari, namun
diarahkan untuk tidak digunakan secara keliru dengan
cara mengajukan permohonan pailit terhadap debitor
solven.
Sebagaimana lazimnya dalam sistem
hukum common law yang menerapkan pemeriksaan
pendahuluan (preliminary examination)--
termasuk discovery process--sebelum mengajukan
permohonan pailit, kreditor/pemohon wajib terlebih
dahulu mengajukan statutory demand yang isinya
berupa permintaan agar debitor membayar utangnya

Kuasa hukum termohon : bumn objek vital?

Ahli : mengenai badan usaha milik negara, dalam undang-undang 19


tahun 2003 tentang bumn, bumn terbagi atas dua , yaitu perum
dan persero, perlu kita ketahui bersama bahwa tidak hanya
perum saja yang bergerak di bidang kepentingan publik,
melainkan perseroan pun dapat bergerak dibidang kepentingan
publik, banyak sekali contohnya, dimana salah satunya adalah
pt.kai. perseroan yang bergerak dibidang industri pun akhir
akhir ini telah menerima sebuah sertifikat dari menteri atas
persetujuan presiden yang berupa sertikat objek vital ( atau biasa
disebut dengan ovni) yang dimana sertifikat tersebut dapat
menunjukan bahwa persero atau perusahaan industri tersebut
bergerak di objek vital negara.

Kuasa hukum termohon : sertifikat ovni?

Ahli : sertifiat ovni adalah serifikat objek vital negara indonesia yang
dikeluarkan berdasarkan SK MENPERIN Nomor 466/ 2014
yang mengacu pada keputusan presiden nomor 63 tahun 2004
dimana sertifikat tersebut diberikan kepada industri yang
memiliki prospek bagus bagi ekonomi negara.

Contohnya saja PT. RAPP, PT SEMEN BOSOWA, PT. LEN


dan masih banyak lagi, yang apabila perusahaan tersebut
dipailitkan / diajukan permohonan pailit, maka akan
mengganggu sistem vital negara, dan hal ini dapat kita katakan
masuk dalam pengkualifikasian BUMN yang bergerak dibidang
kepentingan publik sesuai dengan yang terdapat pada pasal 2
ayat 5 undang undang 37 tahun 2004 tentang kepilitan dimana
yang dapat memailitkan bumn yang bergerak dalam kepentingan
publik adalah menteri keuangan.
Kuasa hukum pemohon : konsisten?

Ahli : menurut pengetahuan saya , putusan tersebut talah sesuai


(konsisten) dalam menerapkan peraturan yang ada, seperti kita
ketahui bahwa dalam pasal 2 ayat 5 undang-undang 37 tahun
2004, dimana hal tersebut telah sesuai dengan keadaan
pt.dirgantara indonesia.

Kuasa hukum pemohon : termohon masuk pengkualifikasian bumn?

Ahli : sebelum saya menjawab nya, saya akan menjelaskan sedikit hal
penting terkait undang-undang kepailitan dan sistem hukum
negara kita, telah kita ketahui bersama bahwa banyak sekali
perdebatan pro kontra pada inkonsistensi undang-undang 37
tahun 2004 itu sendiri, dimana contohnya pada pasal 2 ayat 5
mengenai siapa saja yang berhak mengajukan permohonan pailit
terhadap bumn, dimana dalam penjelasan pasal tersebut, badan
usaha milik negara yang bergerak dikepentingan publik dilihat
berdasarkan besaran saham yang dimilikinya , tanpa
memperhatikan faktor faktor lainnya, seperti apa yang telah saya
jelaskan pertama kali yang mulia, bahwa banyak perseroan yang
sahamnya tidak 100% dimiliki negara bergerak dalam bidan
kepentingan publik, dalam hal tersebut dapat dibuktikan dengan
adanya sertifikat objek vital yang sudah saya jelaskan
sebelumnya. Dan menurut saya hal tersebut sudah sangat jelas.